Damanic's present

-o0o-

With the world of imagination

"Replay"

Orange

.

.

.

.

Lampion berwarna redup, bunga-bunga cantik berwangi semerbak, untaian kristal di setiap titik. Indahnya latar pernikahan ini.

Pernikahan Choi Seungcheol dan Yoon Jeonghan berjalan dengan sederhana dan mewah. Bagai ciri khas sosok kedua mempelai.

Kalian tahu bagaimana ekspresi Jeonghan dan Seungcheol saat ini? Mereka terlihat bahagia. Walau dapat dikatakan Seungcheol menunjukan ekspresi setengah.

Mereka tengah bertegur sapa dengan para tamu. Kemanapun Seungcheol, Jeonghan pasti setia berada di samping Seungcheol. Dan begitu pun sebaliknya. Disaat Jeonghan meminta untuk kesana-kemari menyapa teman-temannya, Seungcheol akan mengikuti arah Jeonghan menyeret lengannya.

"Seungcheolie, bukannya itu Dongho hyung?" Tanya Jeonghan saat matanya menangkap sosok seorang namja yang berdiri sendirian di tengah banyaknya orang di area taman ini.

Seungcheol menolehkan kepalanya lalu tersenyum kecil. Dengan sigap ia menarik halus tangan Jeonghan dan menghampiri orang itu.

"Waahhh... Tak menyangka aku akan dihampiri Raja dan Ratu." Kata namja bernama Dongho itu dengan senyumannya.

Jeonghan balas tersenyum dan menunjukan cengirannya.

"Hyung... Entah kenapa… Tapi aku ingin sekali melihat hyung dan Doyoon menikah." Ucap Jeonghan penuh ketulusan.

Ketulusan di setiap ucapan Jeonghan bermakna lain bagi kedua sosok ini. Seungcheol dan Dongho hanya saling menatap canggung.

Ya, Dongho mengetahui keadaan yang sebenarnya namun ia tak bisa berbuat banyak. Yang Jeonghan tahu, Dongho sangat mencintai Doyoon. Cukup sampai disana.

Dongho sebenarnya adalah paman Seungcheol yang merupakan saudara dari Tuan Choi. Namun karena umurnya hanya lebih tua 5 tahun dari Seungcheol, maka Seungcheol biasa memanggilnya hyung.

"Entahlah Jeonghan-ah... Aku tak tahu apa itu akan menjadi nyata..." ucap Dongho dengan senyuman tipisnya.

"Pasti! Hyung pasti bisa!"

Tawa Seungcheol dan Dongho terdengar. Mereka tak habis pikir, bagaimana sosok sedewasa Jeonghan menyemangatinya seperti anak kecil.

"Sudahlah Hanie... Oh iya, dimana Doyoon? Aku tak melihatnya dari tadi?" Kata Seungcheol melihat sekeliling.

"Aku tak tahu. Sudah dari tadi aku mencarinya." Balas Jeonghan.

Dongho tersenyum tipis, lagi.

"Aku pamit duluan... Semoga pernikahan kalian selalu bahagia."

Dongho menjabat tangan Seungcheol lalu menjabat tangan Jeonghan. Tak lupa ia mencium tangan Jeonghan yang terbalut sarung tangan putih.

"Kau sangat cantik Jeonghan." kata Dongho sambil mengedipkan salah satu matanya.

"Yakk!"

Dongho terkekeh dan langsung menjauh sebelum terkena amukan Seungcheol.

"Hei, tak baik membentak orang, Seungcheolie." Ucap Jeonghan.

Seungcheol berdeham sebentar lalu tersenyum.

"Jja, kita ke kumpulan temanku dari London."

.

.

.

.

.

.

.

Tak terasa satu minggu sudah terlewati. Hanya satu minggu dan suasana penuh kebahagiaan sirna sudah.

Seungcheol berjalan –berlari- dengan tergesa-gesa melewati koridor rumah sakit. Sudah berapa orang yang ia tabrak dan hampir ia tabrak.

Tak lupa dalam hati ia terus mengeluarkan kata-kata mutiara yang mungkin jika sampai terdengar oleh orang lain sangatlah tidak mengenakan telinga.

Brrakk...

Pintu salah satu kamar terbuka dengan kasar.

"S..Seungcheol?" Suara parau Nyonya Jang terkejut melihat kedatangan Seungcheol.

"Aunty, Doyoon kenapa?" tanya Seungcheol.

Nyonya Jang menolehkan kepalanya menuju arah ranjang Doyoon.

"Oh God."

Seungcheol kini menghampiri ranjang itu.

"Seungcheol, aunty pulang dulu. Nanti aunty akan kesini lagi. Tolong jaga Doyoon sementara ya..." ucap Nyonya Jang seolah tahu bahwa mereka perlu waktu untuk berdua.

Seungcheol mengangguk tanpa berpikir lama.

Seperginya Nyonya Jang, Seungcheol duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang Doyoon. Ia mengenggam tangan Doyoon yang kini sangat tirus.

"Doyoon-ah..." Panggil Seungcheol dengan nada lembut.

Doyoon sedang tertidur. Dengan perlahan ia membuka matanya yang terasa berat.

"S..Seungcheol?! Kenapa kau disini?" Tanya Doyoon lirih.

"Wajahmu sangat pucat Doyoon..."

Seungcheol mengatup pipi Doyoon. Oh Tuhan, amat sangat rapuh sekali sosok cantik ini.

Dinaikannya kepala ranjang Doyoon dengan remote control dan ia bisa menatap manik kelam milik sang pemilik hati.

"Dongho hyung baru memberitahuku. Penyakitmu semakin parah. God, kau membuatku khawatir chagi." Ucap Seungcheol.

Doyoon tersenyum lemah.

"Seharusnya ia tak memberitahumu. Kau jadi meninggalkan Jeonghan di rumah kan?" Jawab Doyoon.

Sungguh, Seungcheol tak habis pikir apa yang ada di dalam otak Doyoon.

"Kau masih memikirkan orang lain disaat keadaanmu seperti ini?! Ayolah Doyoon-ah, khawatirkan dirimu sendiri!" Suara Seungcheol mulai meninggi.

"Apa yang kau pikirkan hingga kau tak meminum obat penambah darahmu selama 3 hari?! Kau ingin membuatku mati karenamu yang tak menentu?!" Ucap Seungcheol lagi.

Doyoon hanya bisa menatap Seungcheol dengan mata berkaca- kaca sebagai jawaban.

Suasana kembali hening.

"Saat itu..."

Doyoon menghela nafasnya.

"Uncle Baekho sudah mengatakan bahwa kau akan menikah denganku. Namun keputusan itu aku tak mau menerimanya..."

Seungcheol menatap Doyoon tajam.

"Kita akan bahagia jika kau menerima tawaran appaku. Kenapa kau menolaknya dan malah menggunakan Jeonghan sebagai alasan?!"

Doyoon menggeleng lemah.

"Itu bukan alasan. Itu kenyataan, Seungcheol. Jeonghan mencintaimu dan aku tak akan bisa bahagia denganmu disaat orang lain tersakiti... Jeonghan sering bercerita tentangmu dan bahkan ia mencintaimu sangat dalam. Aku mulai mencintaimu disaat kita High School namun Jeonghan mencintaimu dari kecil. Hargai perasaannya..."

"Bagaimana aku bisa meliriknya disaat hatiku hanya untukmu?!"

"Seungcheol... Aku mencintaimu... Sangat... Namun Jeonghan lebih mencintaimu..."

Seungcheol menggelengkan kepalanya keras.

"Kau egois Doyoon! Kau mementingkan perasaan Jeonghan namun tidak dengan perasaanku!"

"Seungcheol! Aku mementingkanmu juga!"

"Kapan?! Kau terlalu EGOIS!"

Air mata Doyoon mulai membasahi pipinya. Kondisinya tidak stabil dan kini Seungcheol memulai sebuah perdebatan panjang yang tak akan ada jalan keluarnya.

Tangan Seungcheol mengenggam erat. Ingin sekali Seungcheol menghapus tetes bening yang mengalir namun permasalahan di antara mereka belum usai.

"Jika kau menikah denganku, kau tak akan bahagia." jawab Doyoon di sela tangisnya.

"Aku akan bahagia dengan cintamu! Kenapa kau tak peduli sama sekali?!"

"Jika saja kita menikah, kau bukannya akan hidup dalam kehidupan yang sangat kau impikan tapi kau akan menderita! Setiap hari merawatku di rumah sakit dan bahkan aku akan meninggal!"

Deg.

Seungcheol tercekat.

"Meninggal?" lirihnya.

"Ne. Seungcheol... hisk... Jika saja aku tak memiliki... penyakit ini, aku pasti akan menerimamu. Nam..namun a…aku hisk... Kau lebih baik jangan mengurusku lagi, Seungcheol. Kau menambah beban di hatiku..."

Doyoon memalingkan wajahnya dari pandangan sendu Seungcheol.

"Ingatkah ketika kita di University? Kau selalu mengatakan bahwa setelah kau menikah, kau akan selalu bangun pagi dan memeluk istrimu dari belakang saat ia memasakan sarapan untukmu. Kau akan menuruti apa pun perkataan istrimu disaat ia tengah mengandung. Kau akan memiliki dua orang putra tampan dan juga akan mengadakan pesta besar disaat putramu berumur 17 tahun... Aku ingin bersamamu... Namun aku tak bisa..."

Dengan sekali sentakan, Seungcheol memaksa wajah Doyoon menghadapnya dan langsung mencium Doyoon. Tepat dibibirnya.

"Ss..Seung..cheol… Lepaskhhan..."

Doyoon menangis kembali.

Pertama, ia sudah berrubah menjadi sosok perebut lelaki yang sudah beristri. Kedua, ciuman Seungcheol masih seperti biasanya, dan Doyoon tak bisa menolak. Ia menginginkannya. Ia menginginkan ciuman yang lembut dan penuh perasaan ini menjadi miliknya seutuhnya.

Doyoon tak memungkiri bahwa ia rindu dengan ciuman Seungcheol, pelukan yang selalu berikan saat ia membutuhkan, canda tawa yang tanpa batas. Semuanya.

'Tuhan... Jika ini untuk yang terakhir kalinya, biarkan terus seperti ini...' bathin Doyoon dalam hatinya.

Hatinya sakit. Sangat malah.

Melepaskan orang yang begitu kau cintai bukan karena ia meninggalkanmu tapi karena kau yang memintanya. Bahkan kau memintanya untuk menikah dengan orang lain.

It's hurt.

.

.

.

.

"Aku mengerti sekarang... Ia tak pernah mencintaiku..."

.

.

.

.

.

.

Suasana sudah gelap saat Seungcheol kembali ke apartemennya.

Setelah mengganti pantofel dengan sandal rumahan, ia langsung menuju ruang kerjanya dan mengerjakan beberapa tumpuk dokumen.

Didudukinya kursi empuk di belakang meja kerja dan memulai membaca juga menandatangani dokumen-dokumen itu.

Tak beberapa lama Seungcheol meregangkan badan lalu memejamkan matanya, mencoba melepas lelah walau hanya sejenak.

"Seungcheolie..."

Seungcheol membuka matanya. Suara lembut Jeonghan membuat Seungcheol bangkit dari posisi rilexnya.

"Waeyo Jeonghanie?" Tanya Seungcheol sambil menandatangani beberapa lembar kertas, melanjutkan tujuan utamanya yang sempat tertunda.

Jeonghan tersenyum kecil. Oh lihatlah, di tanganya terdapat secangkir kopi kesukaan Seungcheol. Tentu saja Jeonghan membuatnya untuk Seungcheol.

"Aku akan kembali ke Korea untuk mengambil beberapa dokumen kelulusan. Kau akan sendirian disini. Gwechana?"

Jeonghan berkata sambil meletakan secangkir kopi itu di meja Seunghceol.

"Kapan?"

"Sekarang. Ini aku sudah bersiap. Seungcheolie, jaga dirimu ne. Hanya sebentar kok..."

Pantas saja Jeonghan berpakaian rapi. Dengan celana jeans hitam, sweater rajut berwarna putih dan tas selempang kulit ditemani sepatu boot berwarna senada.

Satu kata, cantik.

Tanpa kata dan tanpa menunggu reaksi Seungcheol, Jeonghan segera berjalan ke arah pintu. Ia menarik kopernya dengan cepat seolah dikejar oleh waktu.

Cklekk...

"Jeonghan!"

Tepat sebelum ia berhasil menarik kopernya keluar, Seungcheol menarik tubuhnya dan ya, sebuah kecupan ia dapat dari Seungcheol.

Seungcheol meletakan satu tangannya di pundak Jeonghan dan satunya mengelus kepala Jeonghan.

"Jaga dirimu..."

Jeonghan tersenyum dan membalik badannya.

.

.

.

'Aku tak menginginkannya...'

.

.

.

.

Tbc~

.

.

.

.

"Aku pamannya dan sekarang, cepat bawa ia keruang operasi!"