Naruto © Masashi Kishimoto
*KURAKE IN LOVE*
#Chapter 5#
^ Dunia Memang Kecil ^
Created By: Beby-chan.
Genre: Romance/Drama/Humor(maybe)
Rate: T
Language: Indonesian
Warning: AU, OOC, gaje, aneh dan lain-lain.
Don't Like, Don't Read..!
Cuiiiit…. Cuiiiiit…. Cuiiiit….
"Hmm... jam berapa sekarang?" gumam Sakura pada dirinya sendiri saat ia terjaga dari mimpi indahnya saat mendengar suara kicauan burung, lalu ia melihat kearah jam dinding di kamar itu. Pukul setengah enam.
"He~ tumben sekali aku bisa bangun pagi tanpa alarm, ini karena kicauan burung itu, tapi suara burung-burung itu indah sekali aku ingin lihat, apa di rumah ini memelihara burung yah?" Sakura membereskan tempat tidurnya, lalu menuju balkon kamar tamu Uchiha itu.
Setelah membuka gorden dan pintu kaca balkon tersebut, Sakura langsung terkagum melihat teras kecil yang disuguhi pemandangan taman belakang kediaman Uchiha yang indah dan cantik dari sana. Taman yang berisikan bunga dengan berbagai macam jenis dan warna yang tertata sangat rapih, pohon pohon buah yang besar dan rindang, pagar beton yang ditutupi tanaman rambat, juga pohon yang di bentuk seperti patung, err… ayam? Dan semua itu di perlengkap dengan air mancur berukuran sedang berwarna putih dengan burung burung Parkit bermain di sekitarnya.
"Wah~ indah sekali! Tapi pohon yang seperti ayam itu jadi mengingatkanku pada seseorang, hahaha…" setelah beberapa menit puas melihat taman itu dari balkon, Sakura segera menuju kamar mandi untuk merapihkan dirinya, sepuluh menit kemudian ia langsung keluar kamarnya dan menuruni tangga yang berakhir di ruang tamu. Ternyata di sana sudah ada Mikoto yang sedang merangkai bunga pada vas besar di depan pintu utama Mansion itu.
"Ah… selamat pagi Sakura-chan, sudah bangun rupanya. Apa tidurmu nyenyak?" Mikoto yang menyadari kehadiran Sakura langsung menyapa dengan senyum hangatnya.
"Selamat pagi bibi Mikoto, tidurku nyenyak sekali." jawab Sakura sambil berjalan ke samping Mikoto, "banyak sekali bunganya?" lanjutnya saat melihat banyak bunga.
"Oh ini, bibi sengaja memesan banyak bunga karena pagi ini calon istri Itachi akan datang untuk sarapan bersama kita." jawab Mikoto dengan mata berbinar-binar, "dia sangat suka bunga, apa Sakura-chan juga suka bunga?"
"Iya aku suka," Ia mengangguk sekilas dengan senyum tipis. "Kak Itachi sudah punya calon istri?" lanjutnya.
"Iya, mereka akan menikah bulan depan, kau akan segera bertemu dengannya sebentar lagi kok, khukhukhu…" Sakura hanya tersenyum mendengarnya.
"Eng… boleh aku bantu, bi?" tanya Sakura.
"Oh tentu," Mikoto lalu memberikan beberapa tangkai bunga kepada Sakura, "hati hati ya, durinya tajam." nasehatnya.
"Ngomong ngomong, bibi memesan bunga ini di mana? Bunganya terlihat bagus." tanya Sakura sambil mulai merangkai.
"Di Yamanaka's Flower Shop, bunga-bunga di sana memang sangat bagus." jawab Mikoto sambil terus merangkai bunga bunga itu dengan teliti, "kau tau?" lanjutnya.
"Yamanaka? Aku tau sekali, anak perempuan keluarga Yamanaka itu adalah sahabatku sejak kecil, namanya Yamanaka Ino. Sasuke juga mengenalnya kok." jawab Sakura antusias.
"Benarkah? Bagaimana bisa? Sasuke itu'kan jarang mau mengenal anak perempuan."
Sakura menerawang. "Entahlah, mungin karena Ino kekasihnya teman Sasuke."
"Oh begitu, khukhukhu… ternyata dunia memang kecil yah?" tanya Mikoto entah pada siapa dan Sakura hanya tersenyum menanggapinya.
Beberapa saat kemudian merekapun selesai merangkai bunga. "Nah akhirnya selesai juga, terimakasih ya Sakura-chan. Bibi mau ke dapur dulu, mau melihat apa sarapanya sudah selesai atau belum."
"Iya, bi." jawab gadis itu menganggukkan kepalanya.
Sakura melihat punggung Mikoto yang perlahan menjauh, ia mulai merasakan perasaan yang berbeda saat berbicara dengan Mikoto dibandingkan sebelumnya. 'Sepetinya aku mulai menyukai Bibi Mikoto.' batinnya. Sakura kembali melihat sekeliling ruangan itu kemudian ia mendapati jam yang telah menunjukkan pukul tujuh kurang limabelas menit.
"Sudah jam segini? Benar-benar tidak terasa, sebaiknya aku mandi karena akan ada tamu. Aku jadi penasaran sama calon istrinya Kak Itachi," gumamnya, kemudian ia kembali menaiki tangga. Saat memasuki lorong, Sakura melihat ada dua orang pelayan yang berada di depan kamar Sasuke. Sakura mengamati pelayan itu sejenak, kemudian ia mengenali salah satu diantaranya. Anko.
Merasa ada seseorang, Anko dan pelayan yang satunya menengok dan memberi hormat pada Sakura. Sakura yang tersadar pun langsung tersenyum canggung lalu melewati mereka untuk menuju kamarnya yang memang berada di sebelah kamar Sasuke. Ketika Sakura mau memutar knop pintu, salah satu dari pelayan itu memanggilnya.
"Ano… maaf nona Haruno," panggil Anko sopan.
"Iya?" tanya Sakura bingung dan masih dengan posisinya.
"Boleh kami minta tolong?" tanya Anko lagi dengan ragu.
"Huh? Tentu saja!" Sakura melangkah mendekati Anko dan pelayan yang satunya, "apa yang bisa kubantu?"
"Begini Nona, hmm… Apa nona mau membangunkan tuan muda Sasuke? Kalau kami membangunkannya, kami pasti kena marah." ucap Anko yang di tambah tatapan memohon dari pelayan yang satunya.
"MEMBANGUNKANNYA?" teriak Inner Sakura.
'Bagaimana mungkin setelah sikap bodohku semalam, sekarang aku di mintai tolong membangunkannya? Haah apa boleh buat, kasihan juga'kan mereka kalau dimarahi. Eh tunggu dulu, DIMARAHI? Apalagi aku yang orang luar?' pikir Sakura dalam hati, sepertinya ia benar benar takut.
Anko yang bingung dengan sikap Sakura yang melamun sesaat lalu menggeleng-gelengkan kepalanya tanda frustasi kemudian angkat bicara. "Apa nona tidak apa-apa?"
Sakura tersadar dari lamunannya. "Eh? Hahaha… tidak kok, tidak apa-apa hehe… Akan kucoba membangunkannya." jawabnya asal.
"Apa yang kukatakan tadi! Kenapa aku terima?" teriak Innernya sambil menangis gaje.
'Tenang Sakura, tidak apa-apa. Setidaknya ada mereka berdua yang menemanimu.' batinnya menguatkan diri.
"Terimakasih nona, kami tertolong. Kalau begitu kami permisi." ucap kedua pelayan itu dan pergi meninggalkan Sakura yang mematung di depan kamar Sasuke sendirian.
"Apa-apaan ini? Mereka pergi? Haaah~ sepertinya aku harus membangunkannya sendiri." gumamnya putus asa.
TOK TOK TOK…
Sakura mulai mengtuk pintu kamar itu. "Sasuke? Sudah bangun belum? Ayo bangun." panggil Sakura pelan.
HENING…
Sakura terus mencoba sampai berkali-kali, tapi tetap tidak ada perubahan. Masih hening.
'Siapa saja tolong aku~' batinnya. –LEBAY-
"Butuh pertolongan?" Sakura mengenali suara itu, kemudian ia berbalik. "Kak Itachi~" Sakura menatap wajah Itachi dengan wajah berbinar-binar, bagaikan tengah bertemu dengan seorang malaikat penolong.
Itachi Sweatdroop
"Hahaha,.. ayo kita masuk saja." Itachi pun membuka pintu kamar Sasuke dan masuk kedalam di ikuti Sakura, "gelap sekali." gumamnya, lalu ia menyalahkan lampu kamar tersebut dan membuka gorden jendelanya.
Sekarang terlihatlah Sasuke yang sedang tertidur pulas dengan wajah tampannya yang polos saat tidur itu dibalik bed cover biru tuanya, Sakura yang melihatnyapun jadi blushing.
"Ayo bangunkan dia." kata Itachi sambil mendorong pelan Sakura ke samping tempat tidur Sasuke.
"Kakak saja ya?" Sakura menatap Itachi dengan puppy eyes no jutsunya, sedangkan Itachi hanya menyeringai kecil, tanda Sakura harus melakukannya sendiri.
'Apa boleh buat.' "Sasuke-kun… Sasuke-kun…" Sakura memanggil nama Sasuke seperti berbisik dengan jari telunjuk kanannya mendorong lengan Sasuke. Maksudnya sih untuk mengguncang-guncangkan tubuh Sasuke, tapi tidak mungkin'kan tubuh Sasuke akan terguncang dengan cara seperti itu? dan benar saja, Sasuke benar-benar tidak bereaksi.
"Hempp~" Itachi pun berusaha menahan tawanya melihat tingkah Sakura.
"Jangan tertawa, kak~!" Sakura mengembungkan pipinya.
Itachi mendekati Sakura. "Mau kuberi saran?" tanyanya bak seorang Salesman. Sakura menatapnya dengan tatapan 'apa itu?'
Itachi membisikkan sesuatu Ketelinga Sakura. "…."
"Apa? Tomat?" tanyanya dengan volume yang agak keras atau kaget?
"Hn? dimana?" Sasuke langsung terbangun dan mengambil posisi duduk di tengah ranjangnya. Dengan baju dan rambut yang berantakan ia memandang Sakura dan Itachi dengan wajah Innocentnya. Khas orang baru bangun tidur dan suara yang masih gamang.
Sakura hanya bisa membatu sedangkan Itachi sibuk tertawa terbahak-bahak. 'Hanya menyebutkan kata tomat, dia langsung bangun? YANG BENAR SAJA?'
Sasuke yang menyadari kebodohannya langsung menatap Itachi dengan deathglarenya. Merasa diperhatikan seperti itu oleh adiknya, Itachi langsung mengambil langkah seribu karena merasakan firasat buruk yang akan membahayakan dirinya dan meninggalkan Sakura sendiri.
Sasuke mengalihkan pandangannya kearah Sakura yang masih mematung bingung. "Sedang apa kau di situ?" tanya-nya.
"Eh? Hehe…" Gadis berambut pink itu hanya tertawa canggung dengan degup jantungnya yang menjadi tiga kali lipat lebih cepat serta menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, sehingga membuat si rambut emo menaikkan sebelah alis hitamnya, "ano… itu… tadi pelayanmu minta tolong padaku untuk membangunkanmu karena mereka takut dan Kak Itachi hanya membantuku. Tidak ada maksud lain kok sungguh." jawabnya jujur dan polos karena takut Sasuke mencurigainya dengan hal yang tidak-tidak.
"Hn, sekarang aku sudah bangun, lalu?"
"Lalu?"
"Hn, maksudku kenapa mereka ingin membangunkanku pagi-pagi? Ini hari sabtu, mereka pasti tahu itu."
"Mana aku tahu, mereka tidak bilang alasannya." Sakura memalingkan wajahnya, kemudian ia seperti teringat sesuatu, "ah! Mungkin karena calon istri Kak Itachi akan datang untuk sarapan pagi ini." Sakura menjetikkan jari di depan wajahnya seraya melihat Sasuke lagi.
"Hn, mengganggu saja." keluh Sasuke sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak boleh begitu, kau tidak boleh menganggap tamu adalah pengganggu, apalagi kalau dia calon kakak iparmu." Sakura menasehati Sasuke seperti Ino yang sedang menasehati Shikamaru.
"Terserah." sahut pemuda itu cuek.
"Sebaiknya kau siap-siap." Ujar Sakura seraya berlalu keluar dari kamar itu.
'Sepertinya dia tidak memperdulikan kebodohanku yang semalam, syukurlah~."
~Kurake In Love~
Bandara Internasional Konoha di pagi ini masih terlihat ramai seperti biasanya, mulai dari orang-orang yang akan berangkat maupun yang baru datang dan juga ramai oleh orang-orang yang datang hanya sekedar untuk menjemput rekannya yang baru pulang, seperti kedua orang yang sedang berada di salah satu Terminal Kedatangan diantara sekumpulan orang lain itu, seorang berambut pirang panjang dan seorang yang memakai topeng lollipop. Mata mereka jeli mempehatikan para penumpang yang baru saja datang untuk menemukan seseorang yang mereka tunggu sejak tadi.
"Heee~ Sasori-senpai lama sekali." si topeng lollypop memulai pembicaraan karena merasa bosan.
"Sabar Tobi, sebentar lagi juga terlihat un." jawab Si pirang pada si lollypop yang ternyata bernama Tobi.
"Tapi Tobi sudah capek Deidara-senpai~" rengek Tobi pada si pirang. Deidara.
"Kau ini cerewet sekali sih un?" Deidara mendelik.
"Biarin, habisnya Dei-senpai pagi-pagi sudah mengajak Tobi kemari, Tobi kan belum sarapan, lapar tahu!"
"Iya, setelah Sasori datang kita langsung makan nanti, mengerti un?"
"Tobi mau sekarang senpai~" Tobi semakin menjadi-jadi.
"Kau ini mau aku hajar yah un?" Deidara semakin hilang kesabaran.
"Huweee~ senpai jahat~"
"Berisik!"
"Hei… kalian ini, apa tidak malu di lihat orang banyak?" tanya seseorang dari belakang mereka.
"Kami tidak perduli pendapat orang lain!" bentak Deidara dan Tobi secara bersamaan pada orang yang menegur mereka tadi.
"Beraninya kalian berteriak di depan wajahku, dasar baka!" Ucap orang itu dan menghadiahkan jitakan indah untuk Tobi dan Deidara.
"Lho, Sasori un? Sejak kapan un?" tanya Deidara setelah menyadari siapa yang menegurnya itu.
"Senpai~ Tobi kangen~" tanpa aba-aba Tobi langsung menubruk Sasori dan memeluknya.
"Hei! Tobi! Lepaskan aku! malu ah! Jangan seperti anak kecil, nanti orang lain berfikiran aneh pada kita.!"
"Tidak mau, Tobi kangen sama senpai~" jawab Tobi dengan nada manja.
"Sudahlah Tobi, tadi kau lapar kan un? Ayo sekarang kita sarapan un."
"Iya~ Tobi anak baik lapar, ayo kita makan~" Tobi langsung melesat ke restaurant terdekat dan meninggalkan Sasori juga Deidara begitu saja sambil bernyanyi-nyanyi ria.
"DASAR AUTIS..!" teriak mereka berdua marah.
~Kurake In Love~
"Ibu~, apa kabar?" seorang gadis berambut biru dengan hiasan origami berbentuk bunga di kepalanya datang bersama Itachi, menghampiri Mikoto yang tengah menata meja makan.
"Konan-chan, kau sudah datang? Ibu rindu sekali padamu." Mikoto memeluk gadis itu. Konan yang tak lain dan tak bukan adalah calon istri Itachi.
"Iya. Itachi menjemputku tadi." jawabnya sambil melirik Itachi.
"Hn, begitulah."
"Oh iya bu, terimakasih bunganya yah, semuanya indah." Konan tersenyum lebar karena ia tahu calon Ibu mertuanya itu sengaja menyiapkan banyak bunga untuknya, walaupun Mikoto sendiri belum bicara. Ia sudah hafal sifat Mikoto sepertinya.
"Konan sudah menyadarinya yah? Syukurlah kalau kau suka, khukhukhu…"
"Dimana Ayah?" tanya Konan lagi.
"Merindukan ayah?" tanya Fugaku yang baru memasuki ruangan itu.
"Tentu hehe…" jawabnya seraya memeluk Fugaku singkat, "lalu mana si anak ayam itu?" Konan menanyakan sosok Sasuke pada Itachi.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu!" Ucap Sasuke tiba-tiba sambil mendelik kesal dan memasuki ruangan itu bersama Sakura karena mereka bertemu saat hendak turun kelantai bawah.
"Eh? Kau tidak pernah berubah yah 'anak ayam' hehe…" lanjut Konan, Sasuke mengendus kesal.
'Anak ayam? Sepertinya aku pernah mendengar itu, tapi kapan?' batin Sakura.
"Lho? Sakura-chan? Kau Haruno Sakura'kan?" tanya Konan yang kaget melihat Sakura.
"Eh? Maaf? Kakak mengenalku?" tanya Sakura bingung karena tiba-tiba saja sosok gadis berambut biru dengan aksen bunga kertas mengenali dirinya, begitupun dengan keluarga Uchiha.
Konan mendekati Sakura. "Ini aku loh Konan, ingat?" tanya Konan sambil menunjuk dirinya sendiri dan gadis bermata Emerald itu hanya menautkan kedua alisnya.
"Kau kenal Sakura?" tanya Itachi pada tunangannya itu.
"Konan menolehkan kepalanya dan mengangguk. "Hm, dia adik kelasku di Konoha Art High School."
Mata Emerald itu terbelalak saat mendengar kata 'Konoha Art High School'. "Ah iya! Konan-senpai yang dari club Sastra!" tunjuk Sakura padanya.
"Akhirnya kau ingat juga!" Ucap Konan senang lalu memeluk gadis itu.
"Maaf senpai, kita kan sudah lama tidak bertemu hehe… Bagaimana kabarmu?"
"Panggil aku Kakak saja oke? Jangan senpai! Kabarku baik, senang kita bisa bertemu lagi." Sakura hanya tersenyum.
"Jadi kalian sudah saling kenal ya?" tanya Fugaku. Sakura dan konan mengangguk mengiyakan. "Baguslah, kalau begitu ayo kita sarapan." kata Fugaku lagi dan langsung duduk di meja makan.
"Khukhukhu…. Benarkan kalau aku bilang dunia itu kecil?" tanya Mikoto entah pada siapa dan mengikuti jejak suaminya tercinta yaitu duduk di meja makan. *dasar aneh.*
"Jadi, kenapa Sakura-chan ada disini?" tanya Konan saat mereka semua telah berkumpul di meja makan.
"Sakura juga akan jadi bagian dari keluarga ini sepertimu, dia akan bertunangan dengan Sasuke." jawab Itachi.
Konan benar-benar terkejut, itu terlihat jelas dari tatapan matanya. 'Yang benar saja? Bukankah Sakura bersama dengan Sasori? Setahuku hubungan mereka baik-baik saja.' batinnya. Ia memandang Sakura yang menunduk diam seperti menutupi sesuatu, raut canggung terlihat jelas diwajah cantiknya, kemudian beralih pada Sasuke yang tidak menghiraukan pembicaraan ini sama sekali, Sasuke hanya sibuk dengan sarapannya. Konan ingin sekali membuka suaranya, menanyakan hal yang menganjal dalam hatinya pada Sakura saat ini, tapi ia menahannya. Ya dia harus menahannya, ia akan menanyakannya nanti. Saat tidak ada keluarga Uchiha disekitarnya. Maka dari itu ia menjawab…
"Oh begitu, berarti kita akan menjadi keluarga ya, Sakura-chan. Senang rasanya," jawab Konan Ber-acting.
DEG
'Apa Kak Konan, tidak menyadarinya?' heran Sakura, kemudian ia hanya tersenyum canggung.
"Uhuukk… uhuuk…" tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja Sasuke tersedak roti panggang yang sedang ia nikmati karena kata-kata Konan tadi. Sakura yang ada di sebelah kirinya reflek menepuk-nepuk punggung Sasuke dan memberikan air. "Terima kasih." gumam pemuda itu. 'Dia terlalu seenaknya bicara, bahkan aku dan Sakura saja belum membicarakan hal itu secara serius.' batinnya kesal.
"Kau kenapa Sasuke?" tanya Fugaku dan Mikoto serempak melihat tingkah anak bungsunya.
"Ehem… tidak apa-apa." jawabnya stay cool.
"Hahaha, dia pasti terlalu senang sampai tersedak begitu hahaha…" Itachi mulai tertawa terbahak-bahak lagi, dia memang senang meledek adik kesayangannya itu, karena menurutnya wajah Sasuke yang sedang kesal begitu lucu.
"Tidak lucu!" wajah Sasuke merona.
"Hahahahaha…." Semuanya tertawa melihat tingkah Sasuke, termasuk Sakura.
"Jadi kau pasti sudah menjadi penyanyi terkenal di Konoha yah, Sakura-chan?" Konan mengalihkan topic pembicaraan setelah bisa mengontrol tawanya.
"Penyanyi?" tanya Fugaku, Mikoto dan Itachi seraya menatap Sakura, sedangkan Sasuke hanya menaikkan sebelah alis hitamnya.
Sakura yang di perhatikan seperti itupun menjadi salah tingkah dan semburat merah muncul di pipi putihnya. "Eh? Ti… tidak kok tidak kak, aku dokter." sanggah Sakura cepat tapi Konan menghiraukannya dan menjelaskan maksud pertanyaannya pada keluarga Uchiha itu.
"Iya, dulu Sakura selalu menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti lomba maupun mengisi acara dengan beberapa anak yang lain walaupun ia masih kelas satu saat itu, bakat seninya sungguh luar biasa! Apalagi saat dia benyanyi sambil memainkan Grand Pianonya, aku sangat suka itu. " jawab Konan panjang lebar pada para Uchiha itu dengan antusias.
"Kakak terlalu berlebihan, aku tidak sehebat itu," jawab Sakura malu.
"Kapan-kapan menyanyilah untuk kami yah." kata Fugaku sambil tersenyum.
"Benar." Mikoto dan Itachi menyetujui.
Sakura tersenyum menanggapi mereka, dan tanpa ada yang menyadari ternyata Uchiha Sasuke tengah menyeringai kecil, entah apa yang ia anggap lucu atau menarik, author sendiri tidak tahu.
~Kurake In Love~
"Kita mau kemana?" tanya Sasori pada Deidara yang sedang mengndarai mobilnya.
"Ke Base Camp kita senpai!" Ucap Tobi si anak baik.
"Tidak un! Kita keliling Konoha saja dulu un." sambung Deidara setelah memberikan Deathglarenya pada Tobi yang duduk di jok belakang.
"Kenapa berkeliling Konoha? Kurang kerjaan, antar aku pulang saja." pinta Sasori.
"Memangnya kau tidak rindu Konoha un? Pokoknya kita tetap akan berkeliling un, iya'kan Tobi?"
"Iya! Tobi anak baik akan menjadi Tour guide Sasori-senpai!" sahut si topeng Lollypop itu bersemangat.
"Hah~, kalau kau yang jadi pemanduku, pasti aku akan hilang di jalan yang entah apa namanya." jawab Sasori seraya mengalihkan pandangannya ke jendela mobil.
"Benar itu un." Deidara mengiyakan.
"Ya sudah kalau begitu Tobi mau tidur saja, pinjam bantal dan gulingnya yah Dei-senpai~" Tobi mengambil posisi tidur di jok belakang yang kebetulan di sana ada bantal dan guling milik Deidara yang sengaja ia simpan di mobil, untuk berjaga-jaga bila ia mengantuk saat di jalan.
"Jangan diilerin un!" protes Deidara, tapi Tobi tidak menjawabnya karena ia sudah tertidur.
"Cepat sekali?" Sasori dan Deidara berdecak kagum.
"Kemana yang lainnya, Dei?" Sasori memulai pembicaraan.
"Yang lainnya yang mana un?" Deidara memperhatikan Sasori sekilas.
"Tentu saja Akatsuki, baka!" jawab Sasori kesal sambil menatap Deidara.
"Oh, habisnya bicaramu tidak jelas sih un hehe… Siang nanti mereka semua akan berkumpul di Bace camp kok un." jelas Deidara.
"Bagitu ya." Sasori kembali memandang pemandangan di luar jendela mobil dengan tatapan kosong, sepasang mata coklatnya menerawang jauh seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kau kenapa un? Kenapa melamun?" Deidara menyadarkan Sasori dari lamunannya dengan meninju lengan kiri pria itu pelan.
"Hah? Ti… tidak apa-apa."
"Dasar aneh un."
~Kurake In Love~
"Jadi, kau sudah tidak ada hubungan dengan Sasori lagi?" tanya Konan pada Sakura. Saat ini mereka tengah berada di teras depan Mansion Uchiha itu. Mereka berdua sengaja memisahkan diri dari yang lainnya. Mungkin sebagian orang akan bingung mengapa Konan mengetahui hal ini, tentu saja karena Sasori, Konan dan Sakura berada di SMA yang sama dulu dan Konan ingat betul bagaimana Sasori selalu bercerita tentang Sakura dengan antusias.
"Itulah yang membuatku bingung, kak, aku tidak tahu harus bicara apa. Aku belum bertemu dengan Sasori karena ia sedang berada di luar negri, aku juga tidak tahu cara menolak ini, bibi Mikoto dan yang lainnya begitu baik padaku. Aku juga belum membicarakan ini dengan Sasuke, dia terlihat tidak peduli tapi sepertinya dia juga keberatan dengan hal ini. Semuanya begitu tiba-tiba bagi kami." jelas Sakura.
"Begitu ya? Susah juga kalau seperti itu. Lalu apa kau menyukai Sasuke? Dan apa yang akan kau katakana pada Sasori nanti?" Konan bertanya sambil memandangi para pelayan yang sedang menyirami tanaman di depan mereka.
"Entahlah," Gadis bermata Emerald itu menerawang jauh ke langit biru, "kakak jangan katakan ini pada siapapun dulu yah?" pintanya.
Konan tersenyum. "Tenang saja Adik-ku hehehe… Tapi nasehatku, kau harus segera buka suara untuk menyelesaikan masalahmu itu sebelum terjadi hal yang tidak mengenakkan. Itachi juga mengenal Sasori loh, mereka berteman baik dan Sasori juga mengenal Sasuke sejak kecil. oke?"
Terlihat sedikit ekspresi terkejut di wajah Sakura. 'Benar apa yang dikatakan Bibi Mikoto, Dunia memang kecil.'
"Hm! Terima kasih kak,"
"Ayo kita berangkat Konan, yang lainnya sudah menunggu." tiba-tiba saja Itachi keluar dari rumahnya menghampiri Konan yang diikuti Mikoto di belakangnya.
"Ah kau ini, Konan-chan kan baru saja datang kenapa kau sudah mengajaknya pergi lagi?" tanya Mikoto.
"Ibu, kami ada urusan dengan Akatsuki." jawab Itachi.
"Lagi-lagi Akatsuki, sudah ibu bilang berkali-kali kalau kalian ini sudah besar, berhentilah bermain-main." jelas Mikoto, sepertinya ia kesal.
"Heee.. ibu jangan begitu, lagi pula Tobi selalu bisa membuat Ibu tertawa'kan?" kali ini Konan memulai aksinya yang biasa di sebut dengan 'Gurauan maut Konan' oleh teman-temannya di Akatsuki.
"Kau ini bisa saja." Mikoto mencubit pelan lengan Konan. Sepertinya 'Gurauan maut Konan' berhasil.
'Sepertinya aku harus berguru pada Kak Konan' batin Sakura sambil tersenyum melihat pemandangan harmonis itu.
"Baiklah kami berangkat dulu Bu, Sakura-chan." pamit Itachi.
"Sampai jumpa." Ucap Mikoto dan Sakura berbarengan. Setelah itu Mobil Itachi langsung melesat pergi bersama Konan.
"Sakura-chan, apa hari ini kau akan pergi ke Rumah Sakit?" tanya Mikoto.
Sakura menggeleng. "Ini hari sabtu, jadi aku libur." jawabnya.
"Kalau begitu, kau mau tidak mengantar bibi? bibi ingin melihat-lihat rancanganmu di Haruno Style."
Sakura mengangguk. "Iya tentu,"
"Baiklah kalau begitu, bibi mau bersiap-siap dan memanggil Sasu-chan dulu untuk menjadi supir kita hari ini khukhukhu…"
"Hee? Supir? Kasian…" gumam Sakura.
~Kurake In Love~
"Dei, antar aku pulang saja. Aku bosan kalo harus terus melihat jalanan seerti ini, kepalaku sakit." Sasori mula memijat-mijat pelipisnya, karena sejak tadi Deidara selalu saja berputar di jalan yang sama.
"Sabar sedikit un! Memangnya aku juga tidak bosan un!" keluh Deidara, yah sebenarnya dia juga tidak ingin begini, ini semua dia lakukan untuk kelancaran pesta kedatangan Sasoriyang dibuat oleh kelompok mereka yang dibentuk saat mereka kuliah itu.
"Kalau kau memang bosan kenapa tidak pulang saja! Lagi pula nanti bensinmu habis, aku tidak mau bertanggung jawab." hardik si kepala merah itu.
"Itu karena yang lain ingin bertemu denganmu nanti siang un, kalau kau pulang dulu, aku yakin kau akan malas keluar lagi un. Lagi pula kalau bensin habis ada Kakuzu ini un." Si pirang menjelaskan.
"Kakuzu?" tanya Sasori dengan nada tidak yakin.
Seketika itu juga raut wajah mereka berdua berubah kusut. Mana rela si pemegang uang kas dalam kelompok itu mengelurakan uang kasnya hanya untuk mengisi bensin Deidara? Kalau ini dalam film Anime, pasti sudah muncul tanda keringat besar turun ke bawah di belakang kepala mereka masing-masing.
~Kurake In Love~
"Kuenya sudah siap?" tanya leader Akatsuki pada para anggotanya, sambil menggenggam sebuah catatan dan pensil. Pein
"Sudah! Dan dijamin akan sangat enak." jawab Konan dan sang Leader menceklis catatannya.
"Ruangannya?"
"Beres, Der!" jawab seseorang yang seperti ikan. Kisame
"Minuman dan makan siangnya?"
"Oke!" kali ini seseorang yang berwajah hitam-putih yang menyahut. Zetsu.
"Orangnya?"
"Hee? Orangnya?" tanya keenam orang itu.
"Tentu saja Sasori. Mana Deidara dan Tobi? Mereka belum kembali?" tanya sang leader.
Mereka semua menggeleng. "Hah~ cepat hubungi mereka." kata Pein lagi.
"Hei Kakuzu, cepat telfon Deidara." perintah Hidan, si penganut Dewa Jasin.
"Tidak mau, pulsa mahal tahu! Untuk acara ini saja uang kas kita sudah berkurang banyak." jawab Kakuzu sang bendahara Akatsuki sambil memeluk koper uangnya. Sepertinya ia benar-benar tidak rela mengeluarkan uang kas lagi.
"Ya sudah, biar aku saja." akhirnya malaikat penolong kita turun tangan. Yah siapa lagi yang disebut sebagai malaikat penolong oleh gadis berambut pink kita selain Itachi?
"Dei, kau dimana?" tanya Itachi saat Deidara menjawab telfonnya.
"Di jalan un, bersama Sasori dan Tobi yang tidur un. Ada apa un?"
"Hoi! Aku bosan duduk selama tiga jam di mobil.!" Sasori merebut handphone Deidara.
"Heh? Sasori? Ya sudah kemarilah sekarang, yang lainnya sudah menunggu kalian."
"Hm."
Dan sambungan telefon pun terputus.
"Mereka akan segera kemari." jelas Itachi pada yang lainnya.
.
.
.
Satu jam kemudian….
"Sssstt…! Mereka sudah datang." Konan memberikan instruksi pada teman-temannya saat melihat mobil Deidara dari jendela Base camp mereka.
"Ayo semuanya siap-siap." perintah Pein.
Pintu terbuka. "SELAMAT DATANG SASORI…!" Ucap mereka serempak.
"Eh? Maaf?" ternyata bukan Sasori, melainkan penjaga Base camp mereka yang masuk. Kabuto.
"Salah sasaran." Ucap Hidan kesal.
"Hah~" mereka semua menghela nafas.
"Kalian kenapa?" tanya…. Sasori?
Semuanya kembali memasang wajah Ceria. "SELAMAT DATANG SASORI…!"
"Mana oleh-olehnya Senpai?" tanya Tobi yang tiba-tiba ada di belakang Sasori menadahkan tangannya.
"TELAT UN!" bentak Deidara kesal. Sepertinya bawaan karena habis menyetir mobil selama 4 jam? *Gak kebayang.*
~Kurake In Love~
Kalau di sebut lelah mungkin iya, tapi dia juga terlihat kesal. Ya! Uchiha Sasuke kesal karena sudah berjam-jam menunggu dua orang wanita yang sedang berbelanja dengan banyak kantung belanjaan dikedua tangannya, Mikoto dan Sakura di Haruno Style. Lebih tepatnya sih Mikoto, karena Sakura hanya mengantarnya, tidak mungkin'kan dia membeli rancangannya sendiri? Yap, Sakura merancang beberapa baju, tas dan pernak-pernik lainnya jika sedang memiliki waktu senggang. Bagaimanapun juga, walau dia seorang dokter dia tetap akan menjadi pewaris Haruno Style kelak, bukan?
Sasuke berdiri agak jauh dari mereka, sudah kesal karena tangannya pegal, kekesalannya bertambah lagi karena banyak gadis-gadis yang menggoda dan berbisik-bisik tentangnya. 'Menyebalkan! Kenapa aku jadi seperti pelayan.' batinnya.
"Kau kenapa di sini Sasuke?" tanya Sakura yang sudah ada di sampingnya.
Sasuke sedikit terkejut, tapi ia masih bisa mengendalikan dirinya. "Hn, Tidak apa-apa."
"Kau bosan ya?"
"Lumayan." padahal sangat bosan.
Drrrrtttt…. Drrrrtttt…..
Handphone Sakura bergetar, tanda pesan masuk.
From: Sasori-Akai-kun
08xxxxxxxxx
14.00, xx xx xxx
'Sekarang, di tempat biasa.
Aku menunggumu!
Sakura terbelalak kaget, ia membaca pesan itu sekali lagi. 'Sasori sudah pulang?' batinnya tidak percaya.
Tanpa memandang Sasuke yang menatapnya heran, Sakura segera pergi, tapi ia teringat pada Mikoto. Lalu ia melihat salah satu karyawannya dan menghampirinya. "Yui, tolong layani Nyonya Mikoto dan anaknya yah, aku pergi dulu."
"Baik Nona." jawab pegawai itu mengerti, kemudian segera menghampiri Mikoto yang sudah berada di samping Sasuke, "permisi nyonya, nona Sakura menyuruh saya melayani anda."
"Sakuranya kemana?" tanya Mikoto bingung.
"Entahlah nyonya, nona Sakura tidak bilang apa-apa pada saya selain menyuruh saya melayani keperluan anda dan anak anda. Sepertinya ia terburu-buru." jelas Yui.
"Oh, baiklah kalau begitu." angguk Mikoto mengerti, sedangkan Sasuke masih terus memperhatikan arah tempat Sakura tadi dengan pandangan yang sulit diartikan.
~Kurake In Love~
Sasori P.O.V.
Sudah satu jam aku duduk menunggu sambil memejamkan mataku di Taman Kota Konoha ini, tempat biasa aku bertemu dengan Sakura selain di Rumah Sakit. Sakura akan datang tidak sih? Kenapa dia tidak memberi kabar? Apa dia sibuk? Hah~, baiklah kalau dalam lima detik dia tidak muncul juga, aku akan menyusulnya.
Satu..
Dua…
Tiga….
Empat…..
Lima…
Baiklah aku akan menyusulnya.
End Sasori P.O.V.
Sasori membuka matanya lalu melihat kearah pintu masuk Taman Konaha. Ia melihat sesuatu. Sesuatu yang berwarna Pink, tidak! Bukan sesuatu, tapi seorang gadis berambut pink! Berdiri dengan nafas yang terengah-engah menatap kearahnya. Sasori mengenalinya, sangat mengenalinya. Ia menarik sedikit sudut bibirnya sehingga terlihat senyuman tipis yang manis yang serasi dengan wajahnya.
Perlahan ia mulai bangkit dari duduknya, berdiri tegak menatap sang gadis, gadis yang ditunggunya sejak satu jam yang lalu. Begitupun si gadis, Haruno Sakura perlahan mulai melangkah mendekati kekasihnya, Sasori . Dengan mata Emeraldnya yang terus menatap Sasori, sampai akhirnya jarak diantara mereka hanya setengah meter. Saling menatap, melepaskan rindu diantara mereka.
"Tidak pernah menghubungiku, begitukah sifatmu pada kekasihmu sendiri?" Sasori memulai pembicaraan dengan nada yang serius.
"…."
"Saat aku menghubungimu, ponselmu tidak aktif." Sasori memandang lekat mata Emerald milik Sakura, begitupun sebaliknya.
"….."
"Kenapa tidak menjawab?"
"…." Sakura mulai merasakan sesuatu yang hangat di matanya.
"Apa kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu? Atau malah kau telah melupakanku, hah?" Sasori terus menghujani Sakura dengan pertanyaannya.
GREP….
Sasori terkejut bukan main saat Sakura memeluknya secara tiba-tiba, beberapa detik kemudian ia merasakan bajunya mulai basah dan mendengar isak tangis dari kekasihnya itu. Ya, Sakura menumpahkan semua air matanya yang sudah susah payah ditahannya pada dada bidang Sasori, terisak dan memeluknya kuat dengan tubuhnya yang bergetar.
"He… hei, Kau menangis?"
"Hiks… Hiks…"
"Hei, aku hanya bercanda. Aku tidak bersungguh-sungguh kok, berhentilah menangis yah? Aku hanya ber-acting. Maaf ya?" Sasori terlihat sangat gugup, dia merasa bersalah karena perkataannya tadi. Sejujurnya ia hanya bercanda tadi. Sama sekali tidak lucu!
"Bodoh, hiks… a…aku menangis bu…bukan karena pertanyaanmu itu…"
"Bukan?"
"Aku merindukanmu, hiks…"
"Maaf Sakura…" Sasori balas memeluk Sakura, kedua tangannya membelai lembut punggung dan rambut merah muda Sakura untuk menenangkannya. "Aku sudah di sini sekarang."
.
.
.
.
TBC
Akhirnya Apdet juga hehehe….*tampang Innocent*
Lama yah? *Reader: Banget..!*
Gomen-gomen, setelah tugas drama kesenian selesai sekarang malah mengambil nilai dengan membuat film dan aku dapet tugas untuk buat skenarionya berdua sama temanku. Dan saat aku mau nerusin fic ini kayaknya feelnya jadi ilang deh, kalian ngerasa gak?
Tapi semangatku kembali karena banyak yang nagih hehe… *kepedean*
Tapi lagi nih, maaf kalo ceritanya gak sesuai harapan reader, kayaknya aku harus membiasakan diri lagi dan merasakan feel fic ini saat aku pertama publish dulu deh, hihihihi…
Oke, cukup cuap-cuapnya.. sekarang waktunya balas Review…..
LuthMelody: Ini Udah apdet.. makasih reviewnya, hehehe…
Amethysy Is Aphrodite: Yup, Sasori hehehe.. Tenang, bukan Hinata atau Ino kok, hehe.. Thanks Reviewnya. review lagi? *Buagh*
rIInda: Nih udah apdet, ripiu lagi? Hehe….
Hello: Makasih. hehehe ayo tebak, kalo bisa tebak aku kasi mangkok cantik. *Plak* Review lagi yah.
Nakamura Kumiko-chan: Udah apdet nih hehe… maaf lama.
Haruchi Nigiyama: *Kena deathglare Haruchi* ampun –sujud"- tapi nih udah di apdet hehehe… Review?
Uchiha Ry-chan: Hehehe… lama lagi nih Ry-chan, review lagi?
Argi Kartika 'KoNan': Ni udah apdet, hihihi
UchiHaruno Sasusaku: Makasih. ni udah apdet, maaf lama. Review?
Resaya Kosui Ryou: Hap.. makasih laptopnya hehehe salam kenal juga.. mau review lagi? *plak*
Green YupiCandy Chan: Makasih… Yang ini suka gak? Hehehe penasaran? Review dulu… hihihi…
Atarashii Hikaru: makasih~ huhuhu senangnya… ia, Sasori pacarnya Sakura. Hehehe
-MariaVivine-UchiMasu-: ini dilanjut, makasih… review?
Sakura Nomia: maaf lama apdet hehehehe, Semangat masa muda…! *?*
Imuri Ridan Chara: lama yah? Maaf, maaf… ni udah apdet.. review lagi yah.. n_n
Uchiha lacus: Makasih ya… n_n review?
Nah sesi balas review udah beres…
Terimakasih buat yang udah Review dan baca, aku seneng banget…
Dan satu lagi,
R
E
V
I
E
W
P
L
E
A
S
E
?
