Naruto © Masashi Kishimoto

*KURAKE IN LOVE*

#Chapter 6#

Created By: Beby-chan.

Genre: Romance/Drama/Humor(maybe)

Rate: T

Language: Indonesian

Warning: AU, OOC, gaje, aneh dan lain-lain.

Don't Like, Don't Read..!

Dor… dor… dor…
Duaaaarrr~

Terdengar suara gemuruh pistol dan ledakan-ledakan yang keluar dari speaker Tv flat 42'' di ruangan rekreasi lantai dua kediaman Uchiha.
Sasuke -sang pelaku pembuat suara tersebut- tengah serius memainkan game action favotitnya itu pada game player kesayangannya seorang diri. Dengan lihai ia mengarahkan tokoh pria dalam game itu untuk menembak 'musik-musuhnya' dengan aneka macam senapan. Saat sedikit lagi mencapai check point, karakter tokoh yang ia mainkan ter-tembak peluru oleh musuh yang lengah dari pengawasannya, mengakibatkan tokoh itu 'tewas' dan ia harus mengulangnya lagi dari check point yang sebelumnya.

"Sial!" Sasuke membanting stick game playernya kesal dan langsung merebahkan tubuhnya pada bantal berwarna merah besar yang terletak pada permadani coklat tempat ia duduk. Meregangkan sedikit ototnya yang terasa kaku akibat bermain game selama berjam-jam, tiba-tiba saja ia merasakan haus pada tenggorokannya. Dengan sekali hentakan salto, ia berdiri tegap dan langsung menuruni tangga menuju dapur untuk mengambil sebotol air dingin di kulkas.

Sasuke sedikit terhenyak melihat ibunya, Uchiha Mikoto tertidur di sofa ruang keluarga dengan tv yang masih menyalah. Ia tahu, sejak tadi ibunya tengah menunggu Sakura yang tidak kunjung pulang ataupun memberi kabar. Ibunya sengaja tidak menelfon gadis itu, karena pikirnya Sakura pasti ada pekerjaan mendadak di rumah sakit, atau semacamnya, dan ia tidak ingin mengganggu lalu memutuskan untuk menunggu gadis itu pulang saja. Segera ia tolehkan kepalanya pada jam tua di dinding ruangan tersebut dan mendapati jam itu telah menunjukkan pukul sembilan malam lewat delapan menit, yang berarti ibunya telah menunggu gadis itu selama dua jam lebih. Dengan perasaan kesal segera ia kembali ke lantai atas tempat ia bermain game tadi, menghiraukan rasa haus di tenggorokannya yang tiba-tiba saja menghilang dan menyambar ponselnya yang tergeletak asal pada salah satu sofa di sana.

Dengan cepat ia mencari nama gadis itu pada kontak ponselnya dan menghubunginya.
'Kau harus punya alasan yang masuk akal karena sudah membuati ibuku menunggu begitu lama, nona.' desisnya kesal, menunggu panggilanya terhubung.

~Kurake In Love~

"Kau yakin tidak mau ku antar? Ini sudah sangat malam," wajar saja bukan bila seorang pria menanyakan hal itu pada seorang wanita? Apalagi gadisnya. Sakura adalah seorang gadis, dan seorang gadis tidak baik pulang sendirian pada malam hari. Apa lagi sekarang sudah jam sembilan malam.

"Iya Sasori~ aku sangat yakin," jawab Sakura gemas. Entah sudah berapa kali kekasihnya itu menanyakan hal yang sama berulang-ulang padanya, dan sudah berulang-ulang juga ia menjawab dengan jawaban yang sama, "kau juga pasti lelah kan? Belum sempat pulang dari pagi tadi." Ujarnya, "lagi pula kau harus mengembalikan mobil temanmu, ingat?" Sakura mengingatkannya sambil melirik mobil merah di sebelahnya. Milik Deidara.

Saat ini mereka berdua tengah berada di halaman parkir Konoha Tower. Menara yang terkenal sebagai simbol kota Konoha dan salah satu objek wisata yang digemari turis mancanegara atau pun local, walau pada dasarnya menara itu berfungsi sebagai menara antena pemancar TV analog, TV lokal digital, dan radio. Selain itu, perusahaan KA East Konoha Railway pun menggunakan menara ini untuk meletakkan antena radio sistem darurat kereta api, dan sejumlah instrumen pengukuran dipasang oleh Kantor Lingkungan Hidup Metropolitan Konoha.

Konoha Tower sendiri memiliki tinggi keseluruhan 332,6 m. Tingkat pertama dan kedua dapat diakses dengan tangga dan lift. Sebuah loket tiket menjual tiket ke anak tangga yang dimulai di tempat itu. Dari platform pertama atau kedua tangga dibuka bagi semua orang yang naik dan turun tergantung apabila mereka telah membeli tiket lift atau tiket tangga. Apabila kita keluar lift di tingkat ketiga terdapat 15 anak tangga naik menuju platform untuk menikmati pemandangan kota tersebut.

Dan pada malam hari seperti ini, Konoha Tower terlihat sangat indah dengan pancaran sinar keemasan yang melapisinya dari dasar hingga ke puncak. Tidak hanya itu, taman bertahtakan rerumputan hijau yang terawat dengan bangku-bangku khas taman kota, kios-kios penjual makanan atau aksesoris dan lampu-lampu penerang juga tersedia di sana. Memberikan suasana yang pas untuk para pengujung yang ingin membagi kehangatan bersama keluarga, teman atau pun kekasih mereka.

"Baiklah kalau begitu," ucapnya pasrah, "kau hati-hati di jalan yah, Saku." Sasori mengecup dahi Sakura singkat kemudian segera memasuki mobilnya dan meninggalkan tempat itu.

Setelah mobil yang dikendarai kekasihnya sudah tidak terlihat lagi, Sakura segera menghempaskan kembali tubuhnya pada salah satu bangku taman di sana. Ia mengingat kembali pertemuannya dengan Sasori sore tadi saat di taman kota, dari sana mereka pergi ke kafe untuk tea time, dan sampailah di tempat ini untuk makan malam dan melihat pemandangan kota Konoha.

"Haaah~" Ia menghela nafas lelah, "bukannya aku tidak mau diantar pulang, tapi masa Sasori harus mengantar ku pulang ke rumah bibi Mikoto? Harus bicara apa aku nanti?" gumamnya pada diri sendiri. "Tunggu dulu, bibi Mikoto?" herannya, "ah! Bibi Mikoto!" dengan segera Sakura merogoh tas tangan yang sendari tadi di genggamnya dan mengambil ponselnya.

"Bodoh sekali aku sampai lupa tentang bibi, dia pasti khawatir." Gadis itu dirubungi rasa bersalah dan berniat menghubungi Mikoto sampai sebuah panggilan dengan nomor tak dikenal menghentikannya, "Halo?" jawabnya.

"Dimana kau?" tanya sebuah suara di seberang sana dengan nada… err? Marah?

Sakura kenal suara itu, "Sa…Sasuke?" ujarnya ragu.

"Hn, dimana kau?" nada bicara pria itu terdengar sangat dingin, dan Sakura tidak nyaman akan hal itu.

"A… aku di Konoha Tower, aku akan kembali sekar-" tiba-tiba Sasuke memotong kalimatnya.

"Tunggu di situ!"

"Eh? Tapi aku-" (tuuttt… tuuttt…) "haaah~ sudah diputus," Sasuke memutuskan telefonnya secara sepihak, "seenaknya saja, masa aku harus menunggunya disini? Mana udaranya dingin sekali." Gadis itu mengeluh dan mulai mengusap usap lengannya untuk menghangatkan diri.

~Kurake In Love~

Sesampainya di Konoha Tower, Sasuke langsung mengedarkan pandangannya mencari seseorang berambut pink. Tidak butuh waktu lama untuk menemukannya, mengingat orang yang memiliki warna rambut seperti itu sangat jarang. Ia melihat Sakura duduk membelakangi dirinya di bangku taman sambil memeluk kedua lengannya, segera ia langkahkan kakinya kesana sambil melepaskan sweeater biru tua yang ia kenakan.

Sasuke menyodorkan sweeaternya itu tepat dihadapan wajah Sakura. "Ah!" Gadis itu tersentak saat tiba-tiba pandangannya terhalang dengan sesuatu yang berwarna biru gelap, dilihatnya tangan yang memegang sesuatu seperti baju itu dan mendapati Sasuke tengah memandangnya datar. "Sasuke?"

"Hn, pakai." Ujarnya dengan nada perintah. Segera Sakura raih sweater itu dan memakainya, "terimakasih,"

"Ayo pulang," tanpa menunggu respon dari lawan bicaranya, pria itu segera berbalik menuju arah tempat ia memparkirkan mobilnya diikuti gadis pink itu.

.

.

.

.

.

Keadaan di dalam mobil itu sangat hening, tidak kalah dengan jalanan yang dilalui sedikit pengendara saat ini. Suasana canggung itu membuat Sakura merasa tidak nyaman dan memutuskan untuk memecahkannya. "Emm, Sasuke? Kurasa kita harus membicarakan soal perjodohan itu, maksudku-"

"Aku sedang tidak ingin bicara," potong pria itu cepat.

Sakura berfikir sejenak. "Kau marah padaku?" tanyanya sambil melirik Sasuke yang masih menampilkan ekspresi dingin.

Tentu saja Sasuke marah! Pergi ke Konoha Tower karena urusan pekerjaan itu tidak mungkin, pasti untuk bertemu teman atau yang lainnya pikir pria itu. Dan gadis itu tidak memberi kabar pada ibunya! Siapa yang tidak kesal? Ia merasa ibunya tidak dihormati, walaupun bukan begitu maksud gadis merah muda itu.

"Kau pikir sudah berapa lama kau membuat ibuku menunggu? Dia menghawatirkanmu, kau tahu?" jawabnya sinis. Gadis itu terkejut melihat sisi lain pemuda itu yang sedang marah, tiba-tiba saja perasaan bersalah kembali mengerubungi dirinya.

"Ma… maafkan aku, aku tidak bermaksud-"

"Sudahlah." Potong pemuda itu (lagi), "jelaskan saja pada ibuku nanti," lanjutnya.

Dan mobil itu kembali di selimuti suasana hening yang lebih dingin dari sebelumnya.

~Kurake In Love~

"Sakura? Sasuke?" sapa Mikoto saat pintu rumahnya terbuka dimasuki oleh gadis itu dan anak bungsunya, "akhirnya kau pulang juga, bibi khawatir." Ujar wanita paruh baya itu dengan senyum hangat memperhatikan wajah Sakura yang pucat dan ekspresi tidak peduli Sasuke yang langsung meninggalkan tempat itu menuju kamarnya di lantai atas.

Sakura segera memeluk wanita itu dan terisak. "Maafkan aku bi, hiks… aku tidak bermaksud membuat bibi khawatir, sungguh, hiks… ma… maafkan aku…" Ujarnya terbata.

"Tidak apa-apa, sayang. Bibi mengerti kok, kau pasti ada urusan yang sangat penting," Wanita itu mengelus lembut punggung Sakura untuk menenangkannya dan melonggarkan pelukannya, "sudah jangan menangis lagi," lanjutnya menghapus sisa-sisa air mata pada pipi gadis itu.

"Tapi aku merasa bersalah pada bibi, maafkan aku." Sakura menggengam tangan ibu itu.

"Sudah tidak apa-apa," Mikoto meyakinkan, "sekarang masuklah ke kamarmu dan istirahat, kau pasti lelah, bibi juga sudah mau tidur, hehehe..." lanjutnya mencoba mencairkan suasana lalu mengecup dahi lebar Sakura sekilas.

Gadis itu mengangguk. "Eng, terima kasih, bibi," dan segera menaiki tangga menuju lantai atas.

Sakura berhenti di depan pintu kamar Sasuke. Di pandanginya pintu itu dengan pandangan sendu, perasaan bersalah pun tak luput pada pemuda itu. 'Aku juga harus minta maaf padanya nanti,' gumamnya kemudian kembali berjalan kearah kamarnya.

.

.

.

.

.

Drrrttt… drrrttt… drrrttt

Drrrttt… drrrttt… drrrttt

"Engh?" Sakura terbangun akibat suara getaran ponselnya pada meja disamping tempat tidur. Diliriknya jam pada kamar itu yang menunjukkan puk dua pagi, "siapa yang telefon malam-malam begini sih?" gerutunya.

Diambilnya ponsel yang masih setia bergetar heboh itu dan menjawab panggilannya. "Iya~?" suaranya masih terdengar gamang.

"Nona Haruno! Keadaan darurat! Tolong segera ke rumah sakit sekarang! Ada kecelakaan lalulintas dan banyak pasien yang harus segera dioperasi." Ujar suara diseberang sana panic.

"Apa!" seketika mata Emerald itu melebar, "baik, aku segera kesana," dengan scepat gadis itu bangun dan merapihkan dirinya seadanya lalu segera turun menuju teras rumah keluarha Uchiha. Memperhatikan sekitar, gadis itu langsung menepuk jidatnya keras.

PLAK

"Sial! Aku kan tidak bawa mobil!" gadis itu sibuk uring-uringan menyadari kebodohannya sambil berjalan kearah pagar. 'beruntung kalau ada taksi' pikirnya. Tiba-tiba saja terdengar suara mobil yang berhenti tepat di depan pagar rumah itu, mobil Sasuke.

Pemuda itu turun sambil menatap heran Sakura yang terkejut dengan kedatangan mobil itu.

"Dewi fortuna berpihak kepadamu!" Teriak innernya heboh.

"Dari mana kau, Sasuke?" tanyanya berbasa basi.

"Cari angin," jawab pemuda itu sekenanya. "Ada apa denganmu?" herannya, "kau mau kabur dari rumah yah?" lanjutnya curiga.

"E… enak saja!" jawab Sakura kesal, "Eh, Sasuke aku pinjam mobilmu boleh ya? Aku dapat panggilan harus segera ke rumah sakit. Boleh ya?" rayunya. Dia tahu ini tidak sopan, baru kenal sudah berani pinjam mobil. Tapi ini kan keadaan darurat, mau bagaimana lagi?

Sasuke menaikkan sebelah alisnya berfikir sejenak. "Naiklah. Biar aku yang antar."

"Benarkah? Terima kasih banyak!" jawab gadis itu riang dan keduanya segera memasuki mobil tersebut.

~Kurake In Love~

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Sasuke tidak henti-hentinya melirik Sakura, melupakan rasa kesalnya pada gadis itu beberapa jam yang lalu. Gadis itu tengah sibuk mengarahkan anak buahnya di rumah sakit melalui telefon. Ia begitu cekatan menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan padanya dari seberang sana. Sasuke berfikir, berat juga tugas seorang dokter inti seperti Sakura. Harus siap kapan saja saat dibutuhkan, bahkan di dini hari seperti saat ini untuk menyelamatkan banyak jiwa. Pasti sangat melelahkan.

Setelah tiga puluh menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di Rumah Sakit Konoha dan langsung disambut beberapa orang wanita berpakaian suster. Salah satu dari mereka memakaikan jas putih khas seorang dokter ber name tag Mrs. Haruno pada si pinky girl itu dan seorang lagi memberikan sesuatu seperti daftar keadaan pasien kepadanya, meninggalkan Sasuke pada loby rumah sakit itu menatap Sakura yang menghilang di tikungan.

Seorang wanita paruh baya dengan serangam suster menghampiri Sasuke. "Permisi tuan, nona Haruno meminta saya untuk mengantarkan anda pada ruangannya." Sapa wanita itu sopan.

"Ah, iya." Sasuke pun mengikuti wanita itu yang memandunya. 'Kupikir dia lupa keberadaanku.' Batin Sasuke, mengingat sibuknya gadis itu tadi.

Tak lama kemudian sampailah Sasuke pada ruangan sakura yang di dominasi warna hitam dan hijau muda itu. Dihempaskan tubuhnya pada sofa hitam di sana untuk meregangkan ototnya setelah menyetir mobil.

"Anda ingin minum sesuatu, tuan?" tanya suster itu lagi.

"Hn, kopi hitam saja," jawab Sasuke sekenanya.

"Baik, tolong tunggu sebentar," dan suster itupun keluar mengambilkan kopi untuk pria tampan itu.

Sasuke memperhatikan ruangan yang rapih itu untuk beberapa saat sambil menunggu kopinya datang. Tak lama kemudian, suster tadi kembali membawakan kopi untuknya dan segera undur diri.

Ia mulai merasakan kantuk sekarang. Sejak pulang menjemput Sakura di Konoha Tower tadi, ia tidak bisa tidur dan memutuskan untuk berkeliling sekitar komplek ruamah dengan mobilnya tadi untuk sekedar mencari angin.

Diambilnya cangkir kopi itu dan diseruput isinya sedikit, untuk menghilangkan rasa kantuk. Tanggung pikirnya jika tidur sekarang, toh sebentar lagi pagi. Dan tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka menampilkan sosok pria berambut merah dengan mata coklat.

"Sakura? Kau dipanggil juga?" tanya pria itu. Sasori.

"Sasori?" gumam Sasuke bingung.

"Loh? Sasuke?" Sasori menatap kaget pada Sasuke yang tengah memegang cangkir melihat kearahnya. 'Kenapa Sasuke ada di sini? Di ruangan Sakura?' batinnya.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINIUED…

Haloo~ aku balik lagi *nebarin bunga sakura-plak
hehehe… adakah yang ingat fic ini? Pasti enggak. Udah terlantar banget. Maafin emak ya? *ngelus-ngelus ini fic. *buagh

oke, fic ini aku edit ulang dari capter pertama, karena typonya bener-bener bikin sakit mata! Sekarang udah mendingan kan? Walau aku masih belum yakin sama EYD nya, jujur bikin mataku jereng.

Tapi untung di ada ChezaHana-Chan yang sabar ngajarin aku XD, hehehe makasihh Chezaa~ *peluk cium-di lempar.
Dan buat eet gitu yang udah nagih ini fic di fb, kalo enggak aku bakal males lanjutinnya hehe *plak

Soal konflik, kayanya baru muncul chapter depan ya? Aku sampe lupa soal itu.
terus tentang Konoha Tower sendiri, aku ngarang dengan cari-cari referensi dari menara Tokyo dan Eifel di om google. Dan tingginya itu aku samain sama menara Tokyo *gak kreatif-dihajar masa.

Bales ripiu dulu nyook ?

Sindi 'Kucing Pink: Hola juga~ inget dong, hehehe… sekarang banyak gak nih scene Sasusakunya? Btw, thanks ripiunya

Risle-coe: Ni udah update, makasih

Miho Yulatha: hehehe… iya ni udah update, maaf gak kilat listriknya abis *plak

Green YupiCandy Chan: Makasih Yupii~ *peluk cium-ditendang. Kasian Sasori ya? Gapapa dia mah *di cekek Sasori*

AnnZie-chan Einsteinette: iya, aku emang payah dalam EYD, udah aku edit nih, tapi kayaknya masih ada yang salah deh *pundung.
bagus? Makasiihh, *peluk AnnZie. Makasih juga fav nya

Hello!: ini udah di lanjut~
yah kurang lebih gitu deh, hehehe… mau Sasori? Teken kontrak dulu, pasti mau kok dia, *plak.

Fuyuki Namikaze: wahh iya nih, hehehe… maaf gak update soon (?)

Sakura Haruno 1995: Haloo~ lama tak bersua kita, ^^
gimana UAN SMP nya? Lulus gak? Lulus dong pastinya? (udah jaman baheula woi!)
Makasiiihh~ *peluk cium kamu* waw meneteskan air mata? Hohoho…
Ya gitu deh, kali ini gimana Sasusakunya? Belom ada feel ya? *pundung*
konan ma itachi nikah kayaknya dikit lagi nih, tapi gak tau juga *plak
endingnya mau happy ending? Gimana entar ya? *doble plak. Dan maaf baru update sekarang ^^

Nu-Hikari Uchiha: Halo Hikari~ *lambai-lambai… salam kenal ^^. Iya, sama-sama ya n makasih ripiunya.

Aurellia Uchiha: Chap 6 datang~ *plak

Just Ana: Ini udah update, hehehe makasih Fav nya ^^

Meyrinkyuchan: Makasih~ , kenapa? Karena udah tuntutan scenario. *dilempar Mey.

Resty neo haruno : Nih udah update, ripiu lagi? ^^

Uchiha 'Pytha' No Aka Suna: keren? Makasiiihhh~
nih udah aku update. Fav? Boleh bangeett .

sakura ithu aQ: Makasihh~ maaf updatenya lama ^^a

Kuraudo umika yamachii JUMP : Hehehehe… maaf maaf, jangan mati penasaran gitu dong,, ni udah di update, semoga suka ^^

Oh iya, Terima kasih bagi semua yang udah sempat membaca fic ini dan meninggalkan jejak review, semoga tidak mengecewakan. Juga untuk silent reader. Terima kasih banyak. Juga yang udah nge-fav fic aku ini dan meng-alert-nya. Arigatou *lagi*. :D

Terimakasih juga buat yang udah R&R Chap sebelumnya. ARIGATOU GOZAIMASU!

Oke, cukup cuap-cuapnya.
masih adakah yang mau meripiu?

R

E

V

I

E

W

P

L

E

A

S

E

?