Damanic's present
-o0o-
With the world of imagination
"Replay"
Green
.
.
.
.
Sesosok namja tegap bertumpu pada sisi samping sebuah makam. Senyum simpul ia keluarkan kala menatap tulisan pada batu marmer.
"Annyeong..." Ucapnya pelan.
Ia meletakan sebuket bunga lily putih pada nisan itu.
"Doyoon-ah... Sudah 5 tahun, ne?"
Angin berhembus pelan, membuat sosok namja itu merasakan kenyamanan dan kelembutan angin yang menerpa raganya.
Setelah berdiam diri beberapa saat, lelaki itu beranjak lantas menuju ke arah mobil hitam yang terparkir rapi di setapak area pemakaman.
Apa yang ia lakukan? Tentu saja melanjutkan perjalanan dengan sebuket bunga mawar putih di kursi samping kemudi.
Tak lama perjalanan yang ia lalui, terpangpang dengan jelas nama rumah sakit besar di kawasan yang baru ia masuki.
Sebuket mawar putih ada di genggamannya kini.
Ia meregangkan dasinya dan membuka dua kancing teratas kemejanya. Kacamata hitam yang ia gunakan juga ia lepas menampakan sepasang mata berwarna coklat gelap.
Tok.. tokk... tokkk...
Cklekk...
"Appa!"
"Ouuh… Kau kangen appa eoh? Aegya appa ini semakin tinggi saja."
Seungcheol, pria itu kini mengangkat seorang bocah cilik ke gendongannya. Ia tersenyum lebar sambil mencium pipi sang bocah.
"Adikmu dimana?" Tanya Seungcheol kini.
"Grandma..." Jawabnya sambil tersenyum kecil.
"Aigoo... Kau sangat tampan, Junhwi. Like appa, em?"
Bocah dengan nama Junhwi itu mengangguk pelan.
"Bagaimana keadaan eomma? Junhwi menjaganya dengan baik kan?"
Sosok Junhwi mengangguk semangat.
Seungcheol dan Junhwi yang tetap ada di gendongannya kini menghampiri sosok namja cantik yang telah terbaring selama 5 tahun ini.
Wajah cantiknya amat sangat tenang dan entahlah… Tak bisa tergambarkan.
"Eomma, look! Appa in here!"
Seungcheol tertawa renyah. Ia mengacak rambut hitam anaknya itu lalu mencium dahi Jeonghan.
"Kau disini Seungcheol?"
Suara familiar itu membuat Seungcheol menolehkan kepalanya.
"Ne, eomma. Aku baru saja pulang dari Big Apple. Sebulan disana aku jadi merindukan segalanya disini." Jawab Seungcheol.
Nyonya Choi menganggukan kepalanya.
"Seungkwan... Wake up..."
Nyonya Choi mengguncang pelan sosok bocah yang ada di gendongannya.
"Emmh?"
Laki-laki cilik bernama Seungkwan itu kini membuka matanya. Wajahnya datar menatap sang nenek yang membangunkannya.
"Why?" tanyanya.
"Appa in here..." Jawab Nyonya Choi.
Seungkwan mengalihkan kepalanya menuju sosok Seungcheol yang kini tersenyum lembut.
"Kau rindu, Appa?" Tanya Seungcheol.
Seungkwan mengangguk dan sedikit meronta di gendongan Nyonya Choi. Saat kakinya menyentuh tanah, Seungkwan masih disangga oleh Nyonya Choi di kedua sisi badannya.
Ia dengan perlahan berjalan bersama Nyonya Choi menuju ke arah Seungcheol sambil merentangkan tangannya.
Seungcheol meletakan Junhwi di ranjang Jeonghan dan kini merentangkan tangannya menyambut Seungkwan.
"Kau sehabis terapi, ehm?" Tanya Seungcheol.
Seungkwan mengangguk. Tanpa ekspresi kembali. Sedangkan Seungcheol tersenyum menanggapi Seungkwan.
'Bersabarlah... nae aegya...'
"Appa! Eomma menangis!" Pekik Junhwi dengan suara kagetnya.
Seungcheol refleks menengok. Yang ia lihat saat ini adalah setetes air mata yang mengalir dari mata yang tertutup itu.
Seungcheol meletakan Seungkwan di sisi Jeonghan, di tempat yang sama dengan Junhwi.
Seungcheol meletakan tangannya di dahi Jeonghan.
"Kau harus bangun Hannie... Lihat aegya kita dan jadilah sosok eomma untuk mereka dan pasangan untukku..."
Seungcheol menyatukan dahi mereka dan mencium jejak air mata yang mengalir.
Diam- diam Nyonya Choi melakukan kebiasaannya sejak Jeonghan koma. Memotret segala hal dan mendokumentasikannya.
"Semoga kalian bahagia..." hanya bisikan kecil yang keluar dari bibir seorang eomma.
.
.
.
.
.
.
"Hello everyone... Seungkwan is back." Ucap Junhwi yang kini menemani dongsaengnya terapi.
Dokter tampan spesialis saraf bernama Mingyu atau dr. Kim itu menyambut Junhwi dan Seungkwan beserta Nyonya Choi dengan senyumannya.
"Hyung, kau yang berbicara tapi menyebutkan namaku." Ucap Seungkwan dengan datar.
Junhwi tak menghiraukannya dan malah asyik berkeliling di ruang terapi itu.
"Mari kita lihat..."
Mingyu kini mengecek hal- hal yang sudah seharusnya dilakukan.
"Kau sudah bisa merasakan kakimu, Seungkwan-ah?" Tanya sang dokter.
Seungkwan mengangguk.
"Sepertinya sudah mulai ada peningkatan."
Nyonya Choi hanya duduk menunggu di samping Seungkwan sambil mengamati kedua cucunya.
Sembari menulis perkembangan Seungkwan, dr. Kim teringat akan pesan Nyonya Choi kemarin.
'Tolong kuatkan jiwa dan mental Seungkwan juga Junhwi. Mereka masih terlalu kecil untuk menunggu sesuatu yang tidak pasti...'
"Kau mau berkenalan dengan seseorang, Seungkwan-ah?" Tanya dr. Mingyu.
"Siapa?"
Seorang bocah dengan ukuran tubuh yang hampir sama dengan Seungkwan digendong seorang suster masuk dari salah satu ruangan yang ada di ruangan itu.
"Siapa dia?" Tanya Seungkwan tanpa ekspresinya.
"Namanya Wonwoo, Kim Wonwoo dan dia adalah aegyaku."
Seungkwan menatap namja yang seusianya itu yang kini diletakan tepat di sampingnya.
"Annyeong..." sapa Seungkwan walau ia tak mengeluarkan ekspresinya.
Wonwoo menoleh dan tersenyum ke arahnya.
"Berapa umurmu?" Tanya Junhwi yang tiba- tiba muncul.
Wonwoo tersenyum kembali.
"Kenapa tak menjawab?" Tanya Junhwi kembali.
Wonwoo menampakan senyumnya lagi namun kali ini mengacungkan empat jarinya.
"Junhwi -ah, Seungkwan -ah, perlu kalian tahu bahwa Wonwoo tak bisa berbicara namun ia bisa mendengar dengan jelas." Jawab dr. Mingyu atas kebingungan Junhwi dan Seungkwan.
"Wae?" Tanya Seungkwan.
Dr. Mingyu tersenyum lembut.
"Wonwoo sama seperti kalian. Lahir disaat eommanya koma dan itu membuatnya menderita kelainan. Jika Seungkwan tak bisa berjalan, maka Wonwoo tak bisa berbicara." Jawab dr. Mingyu.
"Lalu, eommanya Wonwoo dimana sekarang?" Tanya Junhwi.
Dr. Mingyu masih tersenyum.
"Nama eomma Wonwoo sama sepertinya. Namun dengan marga Jeon. Aku memberinya nama yang sama seperti sang eomma agar aku bisa mengenangnya."
"Wae?" Tanya Junhwi dengan kening menyerit.
"Ia sudah hidup di alam lain dekat dengan Tuhan. Jadi Junhwi... Seungkwan... Jangan putus asa ne. Kalian masih memiliki raga dan hati eomma kalian. Fighting!"
Nyonya Choi ikut tersenyum.
Obat-obatan penunjang kehidupan memang sangat berpengaruh terhadap kehamilan. Tentu obat- obatan itu obat yang keras.
Wonwoo berjalan menuju ke arah dr. Mingyu dan memeluknya. Sepertinya mereka sangat merindukan sosok Wonwoo eomma.
"Jadi aku dan Seungkwan masih beruntung?" tanya Junhwi.
Sang dokter mengangguk sambil tersenyum.
"Beruntung?"
.
.
.
.
.
.
.
.
Trakk...
Hening.
Junhwi yang kini memasuki kamar eommanya mematung di tempat. Buku dan alat tulis yang dibawanya juga jatuh bersamaan dengan matanya yang membulat besar.
"Eomma!"
Junhwi berlari ke arah ranjang sang eomma dan dengan menggunakan kursi naik ke ranjang Jeonghan. Junhwi lalu memeluk sosok yang sangat dicintai olehnya.
Dengan kepala ranjang yang naik 50 derajat, membuat Junhwi dengan jelas menatap sosok yang baru ia ketahui memiliki mata karamel yang cantik.
Junhwi itu pintar. Dengan segera ia menekan tombol merah untuk memanggil dokter.
"Wae? Ada masal..."
Dongho membatu di tempatnya.
"Suster! Cepat!"
.
.
.
.
.
.
.
"Appa! Eomma sadar!"
Junhwi berteriak sepanjang koridor rumah sakit menuju tempat Seungkwan terapi. Seungcheol saat ini menemani Seungkwan bersama Nyonya Choi.
Brakkk...
"APPA! EOMMA BANGUN!"
Suara keras nan melengking dikeluarkan Junhwi. Dokter Mingyu bahkan sampai menenangkan Wonwoo yang tiba- tiba menangis.
"Apa yang kau katakan?" Tanya Seungcheol.
Tidak cukupkah suara melengking Junhwi yang bisa membuatnya mendengar?
"Eomma bangun, Appa!" ucap Junhwi.
Anak umur 4 tahun itu cukup merasa geregetan juga.
"Benar itu?"
Secerah harapan muncul di wajah Seungcheol.
"Kau tidak bohong kan Junhwi?" Tanya Nyonya Choi.
"Eomma, jaga Junhwi dan Seungkwan. Aku akan mengecek." Jawab Seungcheol lalu berlari keluar ruangan.
"Grandma... Junhwi ikut..." Rengek Junhwi.
"Aku juga!" jawab Seungkwan.
Dr. Mingyu tersenyum.
"Kita selesaikan dulu terapimu, Seungkwan..."
Nyonya Choi mengangguk setuju.
"Kita selesaikan dulu, ne. Junhwi, Seungkwan, eomma tidak akan kemana- mana.."
"Promise?"
Nyonya Choi mengangguk sambil tersenyum.
.
.
.
Tbc~
.
.
"4 tahun. Mereka lahir tanggal 16 Mei, pukul 12 malam, 9 bulan setelah kau koma."
.
.
.
'Mianhe... Aku telah merebut Seungcheol... Mianhe...'
