Sasuke memperhatikan ruangan yang rapih itu untuk beberapa saat sambil menunggu kopinya datang. Tak lama kemudian, suster tadi kembali membawakan kopi untuknya dan segera undur diri.
Ia mulai merasakan kantuk sekarang. Sejak pulang menjemput Sakura di Konoha Tower tadi, ia tidak bisa tidur dan memutuskan untuk berkeliling sekitar komplek ruamah dengan mobilnya tadi untuk sekedar mencari angin.
Diambilnya cangkir kopi itu dan diseruput isinya sedikit, untuk menghilangkan rasa kantuk. Tanggung pikirnya jika tidur sekarang, toh sebentar lagi pagi. Dan tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka menampilkan sosok pria berambut merah dengan mata coklat.
"Sakura? Kau dipanggil juga?" tanya pria itu. Sasori.
Segera Sasuke mengalihkan perhatiannya kearah pintu, "Sasori?" gumam Sasuke bingung.
"Loh? Sasuke?" Sasori menatap kaget pada Sasuke yang tengah memegang cangkir itu melihat kearahnya. 'Kenapa Sasuke ada di sini? Di ruangan Sakura?' batinnya.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
*KURAKE IN LOVE*
#Chapter 7: Pemikiran Negatif#
Created By: Beby-chan.
Genre: Romance/Drama/Humor(maybe)
Rate: T
Language: Indonesian
Warning: AU, OOC, EYD masih berantakan, Typo (mudah-mudahan gak ada), Minim deskrip dan lain-lain.
Don't Like, Don't Read..! .
.
.
.
"Kau… sedang apa, Sasuke? Kenapa… kau bisa ada di sini?" Sasori bertanya dengan ragu, mencoba untuk menghilangkan pikiran 'negatif' tentang Sasuke yang melayang-layang dalam otaknya.
Sasuke meletakkan cangkir kopi dalam genggamannya pada meja, lalu kembali menatap Sasori dengan wajah stoicnya. "Aku—"
"Maaf dokter, anda harus bergegas!" sela seorang perawat yang berdiri di belakang pria berkepala merah itu.
"Ah, i-iya." Sasori mengangguk singkat pada suster itu, kemudian kembali menatap Sasuke, "Sasuke, kita teruskan nanti ya, sampai jumpa!"
"Hn."
~Kurake In Love~
Arloji pada pergelangan tangan Sakura telah menunjukan pukul setengah enam pagi. Ia baru saja selesai dengan operasi dadakan itu dengan beberapa dokter yang lain. Cepat-cepat Ia melangkah menuju ruangan pribadinya yang sejak tadi dihuni Sasuke. Hatinya merasa takut tidak karuan saat melihat kekasihnya Sasori juga ada di Rumah Sakit Konoha ini saat di ruang UGD tadi. Apa Ia bertemu dengan Sasuke tadi? Apa mereka sempat mengobrol? Pikirnya, kalau iya, Sasori bisa berpikir negatif nantinya. Karena itu Ia harus segera memastikannya dengan bertanya pada Sasuke langsung sekarang. Sebelum Sasori datang.
"Aa… Sasuke, kau—" kalimat Sakura terputus saat mendapati Sasuke telah raib (?) dari ruangannya. "Kemana dia? Apa sudah pulang?" meletakkan beberapa berkas pasien di mejanya, Sakura segera menyambar ponselnya untuk menghubungi Sasuke. Ingin memastikan apa pria itu memang sudah pulang atau belum. Jarinya hampir saja menyentuh tanda call pada ponselnya saat pintu ruangannya kembali terbuka menampakkan sosok 'merah' yang sangat di kenalnya.
"Sasuke!" panggil Sasori –sosok merah tersebut- saat membuka ruangan itu tanpa seijin pemiliknya. "Loh? Kemana dia?" tanyanya pada Sakura saat tak mendapati sosok yang ia cari dalam ruangan itu.
Bagus! Mereka memang sudah bertemu." Pikir Sakura panik.
"Sa…sasuke?" Tanya Sakura dengan nada kikuk, "kenapa kau bisa kenal Sasuke?" lanjutnya.
Sasori melangkah masuk dan menutup pintu ruangan itu. "Iya, Sasuke. Dia adik salah satu temanku di Akatsuki., kau ingat?" melihat Sakura mengangguk, Ia meneruskan "Saat sampai di sini dini hari tadi, aku langsung keruangan mu ini, ku pikir kau pasti juga di panggil." Jelas Sasori. Kemudian ia duduk di sofa di tengah-tengah ruangan itu, "dan aku bertemu Sasuke. Tapi kami belum sempat mengobrol, aku sudah di suruh bergegas oleh perawat yang membimbingku tadi. Jadi kami sepakat akan mengobol setelahnya. Tapi dia malah tidak ada, dasar bocah itu!"
Sakura mendengarkan penjelasan Sasori dengan wajah panic, tapi setidaknya Sasori belum sempat mengobrol dengan Sasuke. Ia jadi merasa seperti wanita yang ketahuan berselingkuh oleh pacarnya, walaupun Sasori menjelaskan hal tadi dengan nada santai, tapi tetap saja kan? Apa Ia harus mengatakannya pada Sasori sekarang? Tidak! Tidak boleh! Sebaiknya jangan sekarang, dirinya masih belum siap membicarakan ini dengan pria itu, setidaknya Ia harus membicarakan dan menyelesaikan urusan perjodohan itu dengan Sasuke dulu.
Degup jantungnya pun mulai bekerja tiga kali lebih cepat. Dengan gugup Sakura meletakkan ponselnya yang Ia genggam dengan kuat sejak tadi, kemudian menuju arah dispenser di sudut ruangan itu. Berniat membuatkan secangkir teh pada kekasihnya.
"Oh iya, kenapa Sasuke bisa ada di sini? Apa kau mengenalnya, Sakura?" lanjut Sasori.
Sakura meletakkan cangkir teh tersebut pada meja di depan Sasori dengan tangan sedikit bergetar. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai muncul pada pelipisnya. "Eng… iya, aku beru mengenal Sasuke beberapa hari yang lalu, Sasori-kun."
Sasori yang menyadari sikap aneh Sakura mengernyitkan alisnya bingung. Sakura begitu terlihat gugup di matanya, dan suaranya yang terdengar ragu-ragu tadi semakin menguatkan pikirannya kalau pasti terjadi sesuatu di sini selama Ia berada di luar negri untuk menambah pengalamannya sebagai seorang dokter selama dua tahun kemarin. "Benarkah? Bagaimana kalian saling mengenal?" lanjutnya menghilangkan suasana canggung yang sempat tercipta beberapa saat yang lalu. Mencoba menghilangkan sarat menyelidik dari nada suaranya.
Sakura sedikit tersentak. Ia merasakan jari jemarinya mulai mendingin karena gugup. "I...itu…" Sakura tampak berpikir sejenak, kemudian mengambil posisi duduk di hadapan Sasori. "Saat pertemuan keluarga. Ya! Pertemuan keluarga, eng… keluarga kami ternyata sudah saling mengenal sejak lama."
"Begitu?" Sasori mengambil cangkir teh tadi dan menyeruput isinya sedikit, "tapi kenapa kalian baru saling kenal? Maksudku, kau bilang tadi keluarga kalian sudah saling mengenal sejak lama?" Ia mencoba meggali informasi sehalus mungkin sembari meletakan cangkir teh itu kembali.
"Eng, iya. Tapi aku baru mengenal mereka bebapa hari ini. Dari yang ibuku bilang, keluarga Uchiha baru saja kembali dari London dua bulan yang lalu." Sakura sudah mulai rileks sekarang. Hei dia mengatakan yang sebenarnya kan, bukan kebohongan, jadi kenapa harus gugup? Ibunya memang sempat menjelaskan tentang keluarga Uchiha padanya saat setelah makan malam kedua keluarga tersebut. Jadi tidak ada yang perlu dirisaukan lagi bukan?
"Lalu kenapa tadi dia ada di sini?" Tanya Sasori lagi. Ia tidak habis pikir, kalau memang baru saling mengenal beberapa hari yang lalu kenapa bisa tiba-tiba Sasuke ada di ruang kerja pribadi kekasihnya tanpa rasa canggung? Dini hari pula? Dan menyadari ekspresi Sakura yang kembali gugup Ia pun melanjutkan. "Kau sedang tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan, Saku? Apa kalian memiliki hubungan khusus?"
"A..apa? tentu saja tidak! Kenapa kau berpikir begitu? Aku dan Sasuke tidak memiliki hubungan apapun, sungguh!" sergah Sakura. 'Setidaknya bukan saat ini, kupikir kami sekarang masih teman'kan?' tambahnya dalam hati. "Kau tidak percaya padaku?" tambah Sakura. Kali ini matanya menampakan keseriusan.
Demi tuhan! Sasori merasa bodoh! Kenapa Ia bisa merasa ragu pada kekasihnya sendiri? Mereka sudah menjalin hubungan selama empat tahun! Di usia hubungan yang sudah selama itu seharusnya mereka sudah bisa saling mengerti satu sama lain dan saling memberi kepercayaan bukan? sehingga mereka bisa bertahan sampai selama ini? Dan mereka memang bisa menjalaninya! Hei, bahkan terpisah jauh selama dua tahun dengan minim komunikasi karena kesibukan masing-masing sekalipun hubungan mereka masih baik-baik saja, setidaknya sampai beberapa menit yang lalu. Tapi kenapa hanya dengan membicarakan seorang 'Sasuke' semuanya jadi begini?
Sasori mulai bangkit dari sofa yang Ia duduki dan mendekati Sakura yang sudah menundukan kepala. Menahan air matanya. Tanpa sepatah katapun Ia langsung menarik sang kekasih hingga berdiri dan merengkuhnya dengan erat. "Maaf, Saku." Ucapnya dan menenggelamkan wajahnya pada helaian rambut merah muda Sakura.
~Kurake In Love~
Mikoto baru saja selesai menyiapkan sarapan untuk keluarganya dibantu oleh beberapa pelayannya. Puas melihat dekorasi di meja makan itu, Ia mengalihkan pandangannya pada jam tua di dinding ruangan tersebut. Sudah pukul tujuh pagi, tapi anggota keluarganya yang lain masih belum muncul satupun. Sang suami memang tengah pergi ke luar kota untuk urusan bisnis sejak kemarin malam, tapi kemana kedua putranya dan gadis merah muda yang tengah menginap di sana? Putra sulungnya Uchiha Itachi belum pulang sejak kemarin pagi yang pergi bersama Konan. Rumah hari minggu ini benar-benar terasa sepi baginya. Akhirnya Ia pun memutuskan untuk naik kelantai dua untuk membangunkan putra bungsunya dan calon anak perempuannya -Sakura. Baru setengah perjalanan menaiki undakan tangga, Mikoto menghentikan langkahnya dan berbalik saat tiba-tiba saja Ia mendengar pintu utama mansion itu terbuka, memunculkan sosok Sasuke yang sangat berantakan karena sama sekali tidak tidur semalaman.
"Aku pulang." Sahut Sasuke saat melihat ibunya berdiri di tangga menuju lantai dua.
Mikoto kembali menuruni tangga menghampiri putra bungsunya itu. "Sasuke, kau dari mana?" tanyanya bingung. "Kau berantakan sekali, nak." Lanjutnya, kemudian mengusap kepala Sasuke. Bermaksud merapihkan helaian rambut ravennya.
"Hn. Aku dari rumah sakit." Ucapnya. Kedua mata onyx Sasuke terlihat sayu. Sepertinya dia sudah sangat mengantuk.
"Apa! Kau terluka? Dibagian mana yang sakit?" sifat alami seorang ibu pun keluar dari dalam diri wanita paruh baya itu, meneliti setiap sudut tubuh putranya. Khawatir pemuda itu terluka serius.
Sasuke menghentikan kedua tangan ibunya yang sibuk meneliti tubuhnya itu. "Aku tidak terluka, Bu. Hanya mengantar Sakura." Ucapnya. Melihat raut wajah ibunya yang masih panik dan hendak membuka mulut untuk menanyakan sesuatu lagi, Sasuke segera memotongnya. "Dia juga tidak terluka. Aku hanya mengantarnya kesana. Dia mendapat penggilan darurat dini hari tadi, kebetulan bertemu denganku di gerbang depan."
"Begitu? Syukurlah. Pantas saja Sakura-chan belum terlihat sejak tadi."
"Hn," Sasuke menjawab asal, Ia sudah tidak memperhatikan lagi kata-kata ibunya. Saat ini yang ada di pikirannya hanyalah tidur sepuasnya di atas kasurnya yang empuk. "Aku mau tidur dulu,"
Mikoto segera menarik lengan Sasuke yang akan menaiki tangga. "Sarapan dulu, setelah itu baru kau boleh tidur sepuasnya!" Sasuke sedikit tidak ikhlas. 'Ayolah~ yang kuinginkan saat ini hanya tidur.' Gerutunya dalam hati. Tapi setelah ibunya bilang tidak ada orang lain yang menemaninya sarapan, mau tidak mau Ia menurutinya. Mana tega Ia membiarkan ibunya sarapan seorang diri? Lagipula makan dulu sebelum tidur juga kedengarannya tidak terlalu buruk, dengan begitu tidurnya akan lebih nyeyak lagi nantinya'kan?
Ia pun mulai memakan sarapannya bersama Mikoto. Mengobrol sedikit untuk menghilangkan kesunyian di rumah besar yang sepi itu. Sampai tiba-tiba ponsel Mikoto yang berada di atas meja makan itu berdering menandakan panggilan masuk. Ibunya segera mengambil ponsel itu dan menekan tombol dial setelah melihat nama Haruno Sakura tertera pada layar ponselnya.
"Halo, Sakura-chan?" sapa Mikoto. Membuat gerakan Sasuke yang sedang menikmati sarapannya terhenti dan menatap ibunya.
"Iya, Bibi Mikoto, ini aku Sakura." Jawab Sakura di seberang sana. "Aku mau memberi tahu Bibi, aku ada di rumah sakit sekarang. ada panggilan mendadak dini hari tadi. Maaf tidak memberi tahu lebih awal, kuharap Bibi tidak marah. Aku tidak ingin merepotkan Bibi di tengah malam." Jelasnya dengan nada menyesal.
"Iya, tidak apa-apa Saku-chan. Bibi sudah dengar dari Sasu-chan, kok, khukhukhu..." Jawab Mikoto sambil melirik Sasuke dengan pandangan jahil saat menyadari putranya itu sedang memperhatikannya. Sementara Sasuke hanya bisa meruntuk dalam hati karena ibunya senang sekali memanggilnya 'Sasu-chan', bahkan pada seorang gadis! Dan melanjutkan kembali acara makannya sambil tetap mencuri dengar pembicaraan ibunya bersama Sakura itu.
"Eh? Sasuke ada di sana?" Tanya Sakura.
"Iya, dia ada di sini, kami sedang sarapan. Memangnya dia tidak pamit padamu, Sakura-chan?" Tanya Mikoto bingung. "Anak ini benar-benar." Lanjut wanita paruh baya itu sambil kembali menatap Sasuke. Kali ini dengan pandangan kesal.
Sasuke? Jangan di Tanya, Ia pura-pura tidak menyadari pandangan kesal ibunya itu dan cepat-cepat menyelesaikan sarapannya agar bisa cepat menghindar dari ceramah ibunya yang super panjang kalau sudah marah.
"Eh? Tidak apa-apa, Bi. Sasuke pasti lelah." Ucap Sakura cepat-cepat menjelaskan, "sampaikan terima kasihku saja kalau begitu." Lanjutnya lagi.
"Baiklah, akan Bibi sampaikan. Apa kau sudah Sarapan, Sakura-chan?" Tanya Mikoto lagi. Maksudnya jangan sampai hanya karena urusan pekerjaan gadis itu jadi lupa makan'kan?
"Iya, aku baru saja selesai. Maaf aku jadi mengganggu sarapan Bibi."
Mikoto bisa mendengar dengan jelas nada sungkan dalam suara gadis di seberang sana itu. "Tidak mengganggu kok, jangan sungkan begitu. Saku-chan."
"Eng, baiklah. Maaf, masih ada yang harus ku kerjakan lagi, Bi. Nanti aku akan menghubungi Bibi lagi."
"Baiklah. Oh iya kalau kau butuh sesuatu, hmm… seperti supir misalnya, segera hubungi Bibi ya? Akan Bibi suruh Sasuke untuk jadi supir mu." Mikoto terkikik geli melihat Sesuke yang tersedak air teh panas yang sedang diminumnya. "Selamat bekerja Saku-chan." Dan sambungan telfon pun terputus. Menyisakan Sakura di seberang sana yang sedang membayangkan tampang cemberut Sasuke saat menjadi supirnya dan Mikoto ke Haruno Style kemarin. Kasihan.
Melihat Sasuke yang akan beranjak, Mikoto segera membuka suaranya. "Saku-chan bilang terima kasih, loh, Sasu-chan."
"Hn." Dengan cuek Sasuke segera beranjak menuju kamarnya di lantai dua. Matanya sudah benar-benar tidak bisa diajak berkompromi untuk tetap terbuka. Saat sampai di kamarnya ia langsung melepas kausnya asal. Tubuhnya terasa lepek, tapi Ia terlalu lelah untuk mandi terlebih dahulu. Setelah menutup tirai jendela dan mematikan lampu ia segera menghidupkan pendingin ruangan dan menghempaskan tubuh polosnya pada ranjang. Baru kali ini Ia merasa rindu pada tempat tidur kesayangannya itu. Baru lima menit memejamkan mata, Ia merasakan getar dari ponsel di saku celananya. Tanda pesan masuk.
Haruno Sakura
Time/date: 07.43 AM/ xx/xx/xxxx
+ 08572803xxxx
"Terima kasih, maaf merepotkanmu. :) "
Sasuke sedikit menyeringai. 'Ya, setidaknya gadis itu kini ingat untuk menghubungi ibunya.' Batin pemuda itu. dengan cepat Ia membalas pesan nona Haruno itu dengan satu kata ambigu andalannya 'Hn', dan segera menuju alam mimpi yang telah menantinya sejak tadi.
~Kurake In Love~
Angin sepoi-sepoi hari menjelang siang itu menerbangkan helaian rambut merah pendek seorang pemuda, yang sama sekali tidak mengganggu dirinya walau terkadang helaian ponynya menusuk mata coklat caramelnya. Akasuna Sasori -pemuda itu- saat ini tengah berada di atap gedung rumah sakit Konoha seorang diri. Sejak beberapa menit yang lalu mata coklatnya terus menatap kosong kearah langit biru berawan gelap di siang hari itu. Sepertinya sebentar lagi langit akan menurunkan tangisnya.
Otaknya tak berhenti berputar sejak tadi, memikirkan sesuatu yang mengganggu ketenangan hatinya.
Kedekatan Sakura dengan Sasuke.
Sakura bilang baru beberapa hari mengenal pemuda itu, tapi kenapa bisa begitu akrab? Ada di ruangan Sakura di pagi buta? Itu tidak masuk akal! Ayolah~ semua orang yang punya mata pasti tahu kalau Sasuke itu bukan pemuda yang biasa, wajahnya yang berkarisma tinggi sudah pasti digilai dan disukai kaum wanita disegala umur. Apa Sakura akan berpaling padanya? Tidak! Ia mengusap wajahnya kasar. Sakura tidak mungkin seperti itu pikirnya.
Memorinya pun berputar saat dirinya masih menginjak usia delapan belas tahun, saat Ia menjadi senior tingkat tiga di Konoha Art High School.
Flashback
Pada musim semi hari itu adalah tahun ajaran baru bagi sekolah KAHS, dan hari itu pula Ia melihat sosok yang unik itu, sosok seorang gadis cantik berambut pink sebahu dengan mata emerald yang indah menurutnya, menjadi murid baru tingkat satu di sana. Entah kenapa tiba-tiba saja sosok itu telah memenuhi seluruh ruang dalam otaknya hanya dalam beberapa detik mereka berpapasan, mungkinkah Ia jatuh cinta pada pandangan pertama? Tidak! Ia tidak mempercayai hal bodoh seperti itu! Menurutnya cinta pada pandangan pertama tidak pernah ada!
Beberapa bulan berlalu, Ia terus memperhatikan gadis cantik itu dari jauh, tanpa sadar! Semuanya reflex terjadi begitu saja. Ia seperti kecanduan untuk terus memperhatikan gadis itu, seperti akan kehilangan oksigen untuk bernafas bila tidak melihatnya sehari saja, tanpa memiliki keberanian untuk sekedar menyapanya atau mengajak berkenalan. Sampai pada suatu hari, Ia tidak sengaja melewati aula musik, Ia melihat gadis itu di atas panggung, duduk manis di hadapan sebuah grand piano seorang diri dan mulai memainkan tuts piano dengan jemari lentiknya, menciptakan nada-nada indah yang membuatnya terasa seperti terhipnotis. Ia semakin mengagumi gadis itu. Ia harus mengenal gadis itu! sekarang atau tidak sama sekali!
Dimodali tekat yang kuat, Ia mulai memasuki ruangan aula musik itu perlahan, menuruni undakan tangga diantara deretan kursi-kursi kosong yang terjejer rapih satu persatu. Setelah hampir mendekati panggung, nada-nada itu terhenti seketika, menyadarkan dirinya yang terasa terhipnotis dengan mata emerald gadis itu yang terkejut menatap dirinya. Sasori pun mencoba tersenyum lembut walau Ia tahu dirinya benar-benar gugup saat itu.
Tapi keberaniannya hari itu membuahkan hasil, Ia akhirnya mengetahui nama gadis itu dan mulai berteman akrab dengannya. Walau belum menjadi gadisnya .
Sejak hari itu, Sasori tahu Ia memiliki hobby baru, yaitu mennikmati permainan musik gadis itu, dan hari itu juga sepertinya Ia harus menarik kata-katanya kembali. Soal cinta pada pandangan pertama. Ya, Ia memang harus mengakuinya sekarang. Dirinya, Akasuna Sasori memang jatuh cinta pada pandangan pertama, pada Haruno Sakura.
Bulan demi bulan pun berlalu, Ia dan Sakura menjadi semakin akrab, apa lagi mereka memiliki cita-cita yang sama. Menjadi seorang dokter. Yah~ walau mereka masuk sekolah seni, sekolah seni ini hanya tuntutan dari orang tua mereka, satu lagi kesamaan dari keduanya. Mereka sering melakukan aktifitas sehari hari bersama, seperti; makan siang di atap sekolah, saling membantu dimata pelajaran keunggulan masing-masing, pulang sekolah bersama dan sebagainya. dan tiba saatnya untuk Sasori menghadapi kelulusan. Tidak! Ia belum siap! Bukan belum siap menghadapi materi bahan ujian, dia sudah cukup pintar untuk menghadapi itu. Yang membuatnya tidak siap adalah, Ia belum mau berpisah dengan gadis itu, Sakuranya.
Ia ingin menyatakan perasaanya pada gadis itu sebelum pergi untuk melanjutkan studinya. Tapi Ia takut. Takut karena gadis itu pernah bilang padanya bahwa Ia senang bisa memiliki sahabat pria seperti dirinya. Ya, gadis itu hanya menganggapnya sahabat. Itu benar-benar membuat hatinya merasa miris. Pada akhirnya Ia lulus dan melanjutkan studi kedokteran di Universitas Konoha, meninggalkan gadis itu tanpa ada perubahan status mereka. Tetap Sahabat.
Dua tahun pun berlalu. Ia sama sekali tidak pernah berhubungan lagi dengan gadis itu setelah hari kelulusan. Entah bagaimana kabarnya dan seperti apa wajahnya sekarang. Apakah bertambah cantik?
Dan tepat pada hari itu, hari dimana Sasori sedang asik duduk bersandar pada sebatang pohon sakura yang bermekaran di taman Universitasnya seorang diri untuk melepas lelah, Ia melihat gadis itu lagi, melangkah tenang kearahnya dengan senyum manis. Apa Ia salah lihat? Mungkinkah hanya halusinasinya saja? Kata orang, bila duduk terlalu lama di bawah pohon sakura bisa membuat orang berhalusinasi, mungkinkah Ia merasakan hal itu sekarang?
Pertanyaannya pun terjawab dengan gadis itu yang sudah berdiri dihadapannya dan menyapanya. Ya Tuhan! Ini benar-benar nyata pikirnya. Cinta pertamanya tengah berdiri dihadapannya, dan gadis itu terlihat semakin cantik dengan rambut pink yang telah panjang terurai sampai punggungnya. Dan betapa senangnya Sasori saat gadis itu bilang bahwa dia akan melanjutkan studi untuk menjadi dokter di Universitas ini.
Mulai saat ini Sasori bertekat, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan lagi!
Satu tahun mereka bersama di universitas itu, Sasori pun mengumpulkan keberaniannnya untuk menyatakan perasaannya di hari ulang tahun gadis itu yang ke Sembilan belas. Dewi fortuna pun berpihak kepadanya! Gadis itu, Haruno Sakura pun mengaku memiliki perasaan yang sama padanya, sejak Ia sudah tidak bersamanya lagi di KAHS, dan memutuskan untuk masuk Univeritas yang sama. Hanya Tuhan yang tahu seberapa besar kebahagiaan Sasori saat itu!
Dan Ia bersumpah apapun yang terjadi, Ia tidak akan pernah melepaskan gadisnya.
End flashback.
Tetesan gerimis air hujan mengenai wajahnya. Membuat Sasori tersadar dari lamunan singkatnya tadi. Yah, Ia percaya pada Sakura, gadis itu tidak mungkin berpaling darinya begitu saja. Seseorang seperti Sasuke tidaka akan Ia biarkan merebut gadisnya, jika memang itu tujuan pemuda itu.
Tidak akan pernah!
"Kau harus mengalahkan ku dulu, Sasuke!" desisnya diiringi kilatan petir.
TO BE CONTINIUED…
Waw, itu bagian akhirnya sinetron banget ya? (=_=)a
sudahlah…
Halo semuaaaa~ gak kerasa setengah tahun ini fic terlantar, kasian kau nak *pelukin ini fic
Abaikan!
jangan Tanya kenapa baru update sekarang, (emang ada yang mau Tanya?) karena alesannya banyak banget. Dan yaaa chap ini kayaknya focus banget sama Sasori ya? Untuk kelancaran chap selanjutnya sih, hehehe…
gak banyak ngomong dulu deh, maaf aku gak bisa bales ripiu dulu sekarang, waktunya gak cukup jadi,
Special thanks to:
Haza ShiRaifu, Sindi 'Kucing Pink, WonderWoman Numpak Rajawali, Uchiha Hime Is Poetry Celemoet, Kuraudo umika yamachii JUMP, Miho Yulatha, Kamikaze Ayy a.k.a UchihArlinz, uchiha kyunna, NenSaku, Via, Laura Pyordova males login.
Oh iya, Terima kasih bagi semua yang udah sempat membaca fic ini dan meninggalkan jejak review, semoga tidak mengecewakan. Juga untuk silent reader. Terima kasih banyak. Juga yang udah nge-fav fic aku ini dan meng-alert-nya. Arigatou *lagi*. :D
Terimakasih juga buat yang udah R&R Chap sebelumnya. ARIGATOU GOZAIMASU!
Oke, cukup cuap-cuapnya.
masih adakah yang mau meripiu?
REVIEW PLEASE?
