Damanic's present

-o0o-

With the world of imagination

"Replay"

Blue

.

.

.

.

"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Dongho sambil mengecek tekanan darah Jeonghan.

"Cukup baik, hyung. Tapi tubuhku mati rasa. Ini beruntung aku sudah bisa menggerakan leherku." Kata Jeonghan.

Dongho hanya tersenyum maklum. Bagaimana pun Jeonghan harus menjalani terapi untuk membuat syaraf-syaraf di tubuhnya berfungsi seperti semula.

Saat ini posisi kepala ranjang berada di 60 derajat sehingga Jeonghan dapat duduk walau ia benar-benar mati rasa.

"Aku merindukanmu hyung..." Ucap Jeonghan sambil tersenyum.

"Aku pun. Dan kau pasti merindukannya dan mereka yang imut-imut itu."

Mendengar ucapan Dongho, Jeonghan hanya menyeritkan dahinya.

Jeonghan mengharapkan balasan namun yang ada Dongho malah tersenyum jahil padanya.

"Kau tidak tahu bahwa kau telah memberikan Seungcheol kebahagian yang tiada tara."

Mendengar nama Seungcheol, Jeonghan menyerit kecil karena merasakan dadanya nyilu. Namun tenang saja, Jeonghan adalah aktor yang handal.

"Apa maksud hyung?" Tanya Jeonghan.

"Sudahlah, aku kembali dulu. Aku akan menghubungi semuanya bahwa kau sudah sadar..."

Dongho mengacak rambut Jeonghan lembut lalu meninggalkan ruang inap Jeonghan.

Saat menutup pintu ia tersenyum hangat ketika melihat namja di depannya dengan wajah seribu ekspresi.

"Tak ingin masuk hm?"

"Entahlah hyung..."

"Kau pasti ingin menemuinya kan Seungheolie?"

"Tentu saja hyung... Tapi aku tak tahu apa yang akan aku lakukan di dalam..."

Dongho tersenyum kembali.

"Kau namja dewasa, Seungcheol-ah. Kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan..."

Setelah memberikan tepukan pada bahu Seungcheol, Dongho meninggalkan Seungcheol di tempat.

Menepuk-nepuk dadanya sendiri, Seungcheol lantas tersenyum kecil kala menyemangati dirinya sendiri.

Krieet...

Manik matanya bisa melihat sosok Jeonghan yang kini menatap keluar jendela.

Lihatlah rambut yang sudah memanjang itu. Lihat juga wajah sedikit pucat yang masih amat sangat cantik. Lihat pula mata karamel yang menerawang.

Benar-benar cantik.

"Jeonghanie..."

Jeonghan terdiam. Tubuhnya menegang dan nafasnya terhenti seketika. Dalam hitungan detik, ia memutar kepalanya ke arah Seungcheol.

"Seung..cheol?"

Seungcheol mendekat.

Grepp...

Seungcheol membawa tubuh ramping Jeonghan ke pelukannya.

Mata Jeonghan membelalak seketika. Dengan keadaan Jeonghan yang belum mampu bergerak banyak, tubuhnya langsung terjatuh ke dalam pelukan hangat Seungcheol.

"Aku merindukanmu Jeonghanie. Jangan pergi lagi..." Suara Seungcheol terdengar lirih.

Jantung Jeonghan terasa berdetak 10 kali lebih cepat.

"Aku tak pergi kemana- mana Seungcheolie…"

Seungcheol mengangguk dan mengeratkan pelukannya.

Ingin rasanya Jeonghan memeluk balik Seungcheol namun tangannya tak bisa diangkat.

"APPA! EOMMA!"

Bisa kalian bayangkan suara melengking Seungkwan dan suara keras Junhwi digabungkan seperti apa?

Seungcheol melepaskan pelukannya dan membawa Jeonghan kembali menyandar di kepala ranjang.

Bisa dilihat Junhwi yang mendorong kursi roda dan Seungkwan yang duduk disana.

Sejujurnya dari posisi Seungcheol dan Jeonghan, sosok kecil Junhwi tidak terlihat.

"Nugu?" Tanya Jeonghan.

Sejujurnya banyak tanda tanya di benak Jeonghan.

"Mau tidak mau harus, kau menerima mereka..." Jawab Seungcheol.

"Wae? Siapa mereka?" Tanya Jeonghan.

Seungcheol mengangkat Seungkwan dan meletakannya di pangkuan Jeonghan.

Jeonghan menerimanya dan heran ketika Seungkwan malah memeluknya erat.

Setelah itu Seungcheol juga menaikan Junhwi dan duduk di pinggir ranjang.

"Junhwi, Seungkwan, kenalkan diri kalian..."

"Annyeonghaseyo... Choi Junhwi. Panggil Junhwi!"

"Choi Seungkwan imnida. Panggil Seungkwan. My name is Seungkwan Choi, just call me Seungkwan."

"Ne?" Tanya Jeonghan.

"Mereka aegya kita, Jeonghan."

Mata sayu Jeonghan membulat lebar.

"Aegya? Kapan... Bagaimana bisa?" Tanya Jeonghan.

"Kau hamil ketika kau koma. Aku ingin kau menghentikan kehamilanmu karena itu bisa memperburuk kesehatanmu namun... Eommamu dan eommaku menegaskan untuk tidak menggugurkan kandunganmu dan ternyata... Kau bisa menjalaninya."

"Umur mereka sama?" Tanya Jeonghan.

Seungcheol mengangguk.

"4 tahun. Mereka lahir tanggal 16 Mei, pukul 12 malam, 9 bulan setelah kau koma."

Jeonghan menatap takjub.

Ia menatap Seungkwan dan Junhwi satu persatu.

"Kalian merindukan eomma?" Tanya Jeonghan dengan lembut.

"Ne..." jawab Junhwi dan Seungkwan malu- malu.

"Welcome... Eomma..."

.

.

.

.

.

.

Setelah sebulan penuh di rumah sakit, Jeonghan dapat menyelesaikan segala urusannya dengan masalah kesehatannya.

Dan kini ia sudah diperbolehkan pulang.

Tubuh Jeonghan disangga oleh Seungcheol untuk dapat berjalan memasuki apartemen mereka.

Kala pertama kali masuk ke apartemennya lagi, Jeonghan menatap sekeliling dengan senyum tipis.

'Tidak berubah...'

"Eomma! Ke kamarku..." Ajak Junhwi sambil menarik ujung pakaian Jeonghan.

"Seungcheolie, temani aku ne..." pinta Jeonghan.

"Aniyo. Ini sudah malam, Jeonghanie. Junhwi, Seungkwan, kalian kembali ke kamar. Ingat, besok kalian mulai masuk sekolah."

Junhwi cemberut dan kini bersama dengan Seungkwan yang menaiki kursi roda otomatis menuju ke kamar Seungkwan.

Oh mereka tidak sekamar. Junhwi dan Seungkwan memiliki kamar masing- masing. Hanya saja Junhwi pasti membantu Seungkwan untuk berbaring di ranjangnya.

Setelah kepergian kedua anak mereka, Seungcheol membawa Jeonghan ke kamar mereka.

Dengan hati-hati Seungcheol membaringkan Jeonghan.

"Hei... Selama aku koma, apa kau tidur sendiri di kasur ini?" Tanya Jeonghan.

Suara yang ia keluarkan amat sangat lirih.

Seungcheol yang berbaring di samping Jeonghan kini membalikan tubuhnya ke arah Jeonghan.

"Tentu saja. Siapa lagi yang akan menemaniku disini?"

"Doyoon..."

Deg.

Seungcheol melupakan satu fakta, bahwa Jeonghan belum tahu jika Doyoon telah tiada 5 tahun yang lalu. Ia juga belum mengetahui segala hal yang telah berubah.

Selama sebulan setelah Jeonghan bangun dari koma, Jeonghan sama sekali tidak menanyakan kabar Doyoon dan para orang tua serta Seungcheol juga tak ada yang menyinggung nama Doyoon.

Seungcheol memeluk Jeonghan. Membenamkan wajah Jeonghan di dadanya.

"Ranjang ini milik kita. Selain aku dan kau, hanya Junhwi dan Seungkwan yang boleh menaikinya." Jawab Seungcheol.

Tangannya mengelus surai Jeonghan perlahan.

"Aku akan menanyakan segala hal. Dan kau harus menjawabnya."

"Ne. Tanyakanlah."

Hening sesaat.

"Bagaimana keadaanmu dan yang lainnya saat aku koma?"

"Sangat buruk."

"Benarkah?"

"Ne. Kau tak tahu bagaimana berantakannya kami. Namun disaat si kembar lahir, perlahan muncul kecerahan di hidup kami..."

"Siapa yang memberi aegya kita nama? Apa eomma appamu? Appa eommaku? Atau bahkan uncle dan aunty?"

Seungcheol terkekeh.

"Kenapa appa mereka tak disebutkan? Aku yang memberi mereka nama."

"Seriously? Lalu... Kenapa Seungkwan belum bisa berjalan?"

Nada Jeonghan sedikit menurun kala mengucapkannya.

"Kau sedih melihat Seungkwan seperti itu?" Tanya Seungcheol.

Jeonghan mengangguk perlahan.

"Aku ingin menangis melihatnya selalu berusaha keras untuk berjalan. Bahkan membicarakannya saja membuat air mataku jatuh..."

Seungcheol langsung menatap Jeonghan. Benar saja, tetesan air mata jatuh dari manik Jeonghan.

"Baiklah... Aku akan menceritakannya namun kau tidak boleh menyalahkan diri sendiri."

Jeonghan mengangguk sambil mengahapus air matanya.

"Satu hari setelah kau koma, Dongho hyung mengatakan bahwa ada kehidupan di dalam perutmu. Dan itu cukup membuat semuanya kaget. Dongho hyung membuat kami semua memilih. Mempertahakan atau merelakan. Atas perdebatan yang panjang, kami memilih untuk mempertahankan.

Kau tau, banyak sekali obat- obatan yang masuk ke dalam tubuhmu. Sebelum kelahiran, dokter mengatakan bahwa mungkin akan ada suatu hal yang akan menimpa aegya kita. Dan hal itu menimpa Seungkwan. Ia kesulitan untuk berjalan karena sarafnya kurang berfungsi. Jeonghanie... jangan menangis lagi..."

Kembali air mata menghiasi pipi Jeonghan.

"Kalau kau bisa berbicara di dalam keadaanmu yang seperti itu, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Seungcheol.

Sebenarnya dari dahulu, sejak awal kehamilan, Seungcheol selalu bertanya apakah jalan ini jalan yang akan Jeonghan tempuh seandainya ia mampu berbicara.

Jeonghan mengangguk dengan pasti.

"Junhwi dan Seungkwan... Aku pasti akan mempertahankannya. Mereka hartaku. Bahkan harta yang aku sendiri tak bayangkan kehadirannya."

Seungcheol kembali terkekeh ringan.

Ternyata jalan yang ia tempuh tidak salah.

"Besok aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Kau mau?" Tanya Seungcheol.

Jeonghan mengangguk lalu menguap.

"Kita antar Junhwi dan Seungkwan ke sekolah mereka lalu kita menuju tujuan kita..."

Jeonghan tersenyum.

Detik berikutnya matanya mulai terpejam.

"Jja... Good night, Jeonghanie..."

.

.

.

.

.

.

.

.

"Bye Appa... Bye Eomma..." kata Junhwi dan Seungkwan bersamaan sambil melambaikan tangan mereka.

Junhwi berjalan beriringan dengan Seungkwan yang duduk di kursi roda otomatis.

"Apa mereka baik- baik saja? Terutama Seungkwan?" tanya Jeonghan.

Seungcheol tersenyum lalu mengenggam tangan Jeonghan.

"Jangan khawatir. Junhwi selalu ada untuk Seungkwan. Ia sosok hyung yang benar- benar bertanggung jawab."

Mobil Seungcheol melaju dengan kecepatan sedang.

Disaat mobil itu memasuki area pemakaman, Jeonghan mulai merasa tidak enak.

Jeonghan tidak bodoh atau bahkan pura- pura tak mengerti. Ia mampu memikirkan segala kemungkinan.

Satu hal lagi, Jeonghan tahu bahwa Doyoon memiliki penyakit berbahaya.

Dan disaat tangan Seungcheol menuntunnya di depan batu nisan berukiran nama Doyoon, Jeonghan mencoba menarik nafasnya yang dalam.

"Doyoon…?"

Jeonghan menatap Seungcheol dan Seungcheol mengangguk.

Jeonghan berlutut dan kini ia menatap nisan itu dengan nanar.

"Seungcheolie... kenapa bisa?"

Seungcheol menceritakan segalanya.

Bahkan sampai menceritakan dirinya yang bimbang di ambang pintu rumah sakit tempat Jeonghan dirawat dan Dongho bekerja.

'Aku tahu kau mencintai Doyoon... Aku tak tahu Doyoon sampai meninggal...'

Kini air mata Jeonghan kembali tumpah.

Sejak ia sadar, entah sudah berapa banyak air mata yang ia keluarkan.

Jeonghan menyentuh nisan Doyoon.

'Mianhe... Aku telah merebut Seungcheol... Mianhe...'

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kini hari minggu cerah menghampiri daratan Canada.

Dengan ngebut di hari sebelumnya (dalam mengerjakan urusan perusahaan), Seungcheol akhirnya bisa mengajak keluarganya berekreasi.

Mereka sekeluarga berjalan-jalan di sekitar kebun binatang.

Tentu saja Seungkwan selalu digendong entah itu oleh Jeonghan maupun Seungcheol.

"Hihi... Itu mirip Appa!" Tunjuk Junhwi.

Gelak tawa penuh persetujuan terdengar dari Jeonghan dan Seungkwan.

"Aish…"

Yang dikatakan 'itu' oleh Junhwi adalah segerombolan unta yang sedang menikmati makan paginya.

Mereka melakukan berbagai macam hal disana. Benar- benar rekreasi yang membuat semua beban pikiran melayang.

Menuju siang hari, mereka memutuskan beristirahat di taman luas yang ada di kebun binatang. Terdapat pula bunga-bunga cantik di sisi- sisinya.

"Appa… eomma… bisakah aku berjalan dengan lancar?" Tanya Seungkwan secara tiba- tiba.

Mereka yang tengah berfoto ria langsung terdiam.

Bahkan Junhwi yang sibuk menggambar langsung terdiam.

Jeonghan tersenyum lalu mengangkat Seungkwan menuju pangkuannya.

"Percaya pada eomma, appa, dan hyungmu. Kau pasti bisa..."

"Tapi Seungkwan putus asa eomma. Appa selalu menggendongku kemanapun. Bahkan eomma jadi ikut- ikutan repot. Junhwi hyung pun pasti menjagaku seakan aku ini barang yang mudah pecah. Aku merasa tak berguna..."

"Yakk! Neo! Jeongmal Baboya!"

Suara melengking Junhwi bagaikan petir di siang hari yang cerah.

Bahkan dapat mengagetkan appa dan eommanya.

"Kau bisa. Dan pasti bisa. Aku akan menunggumu seberapa pun lamanya. Jika aku harus menjagamu sampai mati, aku akan melakukannya. Seungkwan, kau dongsaengku dan aku sangat mencintaimu."

Suara Junhwi terdengar dengan tegas. Untuk bocah seumurannya, Junhwi benar- benar terlalu dewasa.

"Hei... hei... Jangan bertengkar, ok..."

Suara Seungcheol terdengar bersamaan dengan tubuh Junhwi yang melayang dan duduk di pangkuan Seungcheol.

Seungkwan menundukan kepalanya.

"Arraseo..."

Jeonghan tersenyum.

"Jangan putus asa, ne... Ini salah eomma juga. Seandainya eomma tidak koma, Seungkwan pasti sehat... Maafkan eomma, ne?"

Seungkwan tertegun.

Begitu pula dengan Junhwi.

"Aniyo!"

Kompak. Junhwi dan Seungkwan berkata bersamaan.

"Ini bukan salah eomma. Seungkwan akan berusaha. Tunggu saja ne, appa, eomma, hyungie. Aku pasti bisa."

.

.

.

.

Tbc~

.

.

.

'18th and you go to altar'

.

.

.

"Appa! Aku bukan anak kecil lagi! Aku perlu penjelasan appa!"