Damanic's present
-o0o-
With the world of imagination
"Replay"
Indigo
.
.
.
.
Sesosok namja berjalan dengan langkah pasti ke sebuah ruangan.
Tuxedo peach yang ia kenakan membuatnya tampak sangat manis. Ditambah dengan kemeja orange dan dasi hitamnya juga bunga mawar orange yang diselipkan di saku jasnya. Kacamata cokelat yang ia kenakan terlihat menyatu dengan wajah tampannya.
Dua orang namja yang ada di ambang pintu menunduk dan membukakan pintu untuknya.
Terlihat sudah banyaknya orang di dalam ruangan itu.
Ia langsung menarik perhatian dan membuat seluruh orang di ruangan itu tersenyum sambil menepuk tangannya.
Dilepasnya kacamata yang membingkai manik matanya dan ia berjalan sambil menunduk sesekali ke beberapa orang.
Sampai ia di depan para namja yang berkumpul di hadapan sebuah kue besar, ia langsung memeluk satu orang.
"Happy Birthday..."
"Gee. Darimana saja kau?!"
"Hehe... Mianhe hyungie... Aku harus mengantar Hansol ke airport. Ia kembali ke America tadi..."
"Aku membencimu, Seungkwan!"
"Aku menyayangimu juga, hyungie."
Wajah kesal masih terpangpang di wajah tampan Junhwi.
"Hei... Sudahlah, ini hari ulang tahun kalian. Dan kalian sudah mulai dewasa, jangan banyak bertengkar lagi."
Dengan suara yang masih tetap lembut, Jeonghan datang dan merangkul keduanya.
"Eomma... Aku merindukanmu..."
Seungkwan langsung memeluk Jeonghan dan dibalas Jeonghan dengan pelukan erat.
"Jinjayo... Tak ada yang ingin memeluk appa?"
Suara Seungcheol membuat Junhwi langsung memeluknya.
"Hohoho... Kau sangat cepat, Junhwi." Kata Seungcheol.
"Sudahlah appa." Balas Junhwi.
"Oh iya, eomma dan appa sudah menyiapkan pilihan untuk kalian sebagai hadiah ulang tahun kalian yang ke 17. Dan kalian dipersilakan untuk memilih..." kata Jeonghan.
"Benarkah?" Tanya Seungkwan antusias.
"Dan jangan lupa bahwa kalian hanya boleh memilih 1 hal." Lanjut Seungcheol.
Dengan segera tirai merah di belakang mereka terbuka dan yang terlihat sungguh menakjubkan.
Terdapat 4 mobil disana.
Sebuah Metalic Mercedes Benz s 550, sebuah Black Bugatti Veyron, sebuah Red Lamborghini Reventon, sebuah Dark Blue Porsche Carrera GT.
Dan semua mata menatap takjub.
"Ini akan susah untuk ditentukan appa, eomma." Jawab Seungkwan.
"Ditambah jiwa kami yang hampir memiliki selera sama, sepertinya akan terjadi beberapa pertarungan." Kata Junhwi.
Seungcheol dan Jeonghan tersenyum dan kini mereka mengantar Junhwi dan Seungkwan menuju Showroom dadakan tersebut.
"Aku akan memilih yang Seungkwan pilihkan padaku." Kata Junhwi saat selesai memutari keempat mobil itu.
"Kalau begitu, hyung harus memilihkanku juga." Jawab Seungkwan.
Mereka terdiam dan saling melirik.
"Black for you, Seungkwan."
"And Red for you, hyung..."
"Baiklah para hadirin, kedua bintang kita sudah memilih dan sekarang saatnya mereka untuk berjuang mendapatkan kuncinya..." Suara penuh semangat sari sang MC membuat suasana semakin meningkat.
Tepuk tangan penuh antusias terdengar ricuh. Terdengar pula beberapa ungkapan dari para tamu yang hadir.
Sedangkan Junhwi dan Seungkwan saling memandang dengan tatapan aneh.
"Dimohon seluruh partisipasi dari seluruh undangan. Para pelayan akan memberikan selembar kertas dan sebuah pulpen kepada kalian semua. Tugas para hadirin adalah menuliskan sebuah pertanyaan yang bisa berhubungan dengan kehidupan mereka berdua. Yang jelas, mereka harus saling mengetahui."
Disaat sang MC menjelaskan, para maid membagikan selembar kertas dan pulpen.
Sedangkan Junhwi dan Seungkwan sibuk mengoceh.
"Eomma... pasti ulah appa." rengek Seungkwan.
Junhwi dan Seungkwan kini merangkul Jeonghan sambil merengek.
"Itu ide eomma juga, chagi..." balas Seungcheol.
Dan seketika wajah merengek Seungkwan dan Junhwi semakin memburuk.
Para maid kembali muncul dengan 2 buah keranjang di tangannya.
Tamu undangan diminta meletakan pulpen di keranjang sisi kanan sedangkan kertasnya disisi kiri.
Seluruh isi keranjang dengan kertas itu dimasukan ke sebuah silinder kaca bening yang ada di podium.
"Baiklah, jadi aturan mainnya adalah, Junhwi dan Seungkwan harus bisa menebak total 10 pertanyaan. Batas lembar yang diambil adalah hanya 15 pertanyaan. Jika mereka kurang dari 10 pertanyaan dijawab benar, maka akan dianggap gugur..."
"Baiklah, dipersilakan Tuan Choi untuk mengambil pertanyaan pertama..."
Seungcheol mendekat dan memasukan tangannya ke celah kecil yang ada di silinder kaca besar itu.
"That is..."
"Untuk Junhwi dan Seungkwan, dipersilakan untuk berdiri saling berjauhan tapi berhadapan."
Junhwi dan Seungkwan saling melirik kembali lalu melakukan apa yang diperintahkan sang MC.
Lalu muncul 2 maid yang membawa sebuah ipad berukuran sedang.
2 benda itu diserahkan kepada Junhwi dan Seungkwan.
"Pertanyaan pertama. 'Apa nama kontak Tuan Seungcheol, Nyonya Jeonghan, dan Junhwi di handphone Seungkwan' Itulah pertanyaannya. Waktu kalian 10 detik untuk memikirkan jawabannya."
Dari pertanyaannya saja sudah diketahui bahwa pertanyaan itu memberatkan posisi Junhwi.
"Baiklah Junhwi, buka Ipadmu..."
Junhwi membukanya dan yang tertulis adalah :
aaAppa3
aaEomma3
aaHyungie3
Dan Seungkwan membuka padnya.
"Yak... Jawabannya tepat sekali."
Tepuk tangan bergemuruh.
Kali ini Jeonghan yang mengambil lembaran kertas di tabung kaca.
"Ini agak privasi tapi aku akan tetap membacakannya. 'Kalian pasti pernah kisskan? Siapa yang mendapatkan first kiss Junhwi kecuali Eomma dan Appa kalian.' Itulah pertanyaannya.
Seungkwan membuka papannya dan yang tertulis 'Pertanyaannya payah sekali. Kenapa tak menulis 'kecuali keluarga?' Tentu saja jawabannya adalah aku.'
Seluruh tamu undangan menampakan ekspresi yang berbeda- beda. Namun kebanyakan yang tertawa dan terkikik geli. Bahkan sampai Seungcheol dan Jeonghan terkekeh.
"Yang dikatakan Seungkwan benar. Dan aku menulis seperti apa yang ia tulis."
Tentu saja, bahkan sampai titik komanya sama.
.
.
.
.
.
.
.
Kini Seungkwan dan Junhwi sama- sama membaca pertanyaan dan jawaban yang dipastikan benar semua.
Mereka ada di mobil sang appa.
Ne, mereka sekeluarga pulang bersama.
Q : Posisi Junhwi di Kesiswaan?
A : Coordinator of Student
Q : Warna sepatu Seungkwan saat sekolah?
A : Monday : black, Tuesday : red, Wednesday : dark blue, Thursday : dark choco, and Friday : grey..
Q : Apakan buah kesukaan Junhwi?
A : . Lemon.
Q : Playlist music ke 21 di handphone Seungkwan?
Pertanyaan yang entah penting atau tidak.
A : Seventeen - No F.U.N
Seungkwan dan Junhwi yang ada di bangku belakang hanya bisa terkikik sesekali saat mereka melihat pertanyaan dan jawaban dari sesi tanya jawab tadi.
"Kalian, tidak lelah?" Tanya Jeonghan yang ada di bangku depan.
"Aniyo eomma. Aku malah melupakan rasa kantukku." Jawab Seungkwan.
"Sama seperti yang Seungkwan katakan." Jawab Junhwi.
Jeonghan mengangguk dan melirik ke sampingnya.
Tempat nampyeonnya sedang berkonsentrasi mengemudi.
"Aku heran. Kenapa semakin tua kau semakin tampan?" Tanya Jeonghan tiba- tiba.
Seungcheol hanya tersenyum menggoda sedangkan Junhwi dan Seungkwan membeku di tempat.
Ini pertama kalinya mereka melihat eomma mereka berkata gombal begitu. Bahkan dengan sangat lembut.
Mereka tahu jika eomma mereka sangat lembut pada semua orang namun ini pertama kalinya mereka melihat sendiri romansa penuh gombal yang dimulai oleh sang eomma.
"Semakin hari kebahagiaanku bertambah. Bukankah itu cukup, Joenghanie?" Jawab Seungcheol akhirnya.
"Aku mengerti." Jawab Jeonghan.
"Jeonghan, berikan Seungkwan kertas itu." Kata Seungcheol sambil fokus menyetir.
Senyuman Jeonghan seketika menghilang. Dengan helaan nafas berat Jeonghan membuang nafansnya.
Ia menyerahkan selembar surat pada Seungkwan. Seungkwan hanya menyeritkan dahinya menerima surat itu.
'18th and you go to altar'
Junhwi sedikit menyerit namun ia menghela nafasnya.
'Kuharap kau bisa menjadi seseorang yang kuat, Seungkwan...'
.
.
.
.
.
.
.
.
"Seungcheolie... Bisakah diubah?" Tanya Jeonghan pada Seungcheol.
Mereka ada di kamar mereka saat ini.
"Apa yang perlu dirubah, chagi? Keputusan ini sudah bulat."
"Kemarilah..."
Seungcheol yang sudah selesai memakai piyamanya berjalan menuju ranjang dimana Jeonghan sudah berbaring dengan nyaman.
Seungcheol masuk ke dalam selimut dan memeluk Jeonghan.
"Ada apa?"
"Sekarang aku tak akan melawan, namun nanti, disaat kau sudah ada pada batasnya, aku pasti akan melawan!" Kata Jeonghan.
"Ne... Aku tahu itu. Kau bosan sekarang?"
Jeonghan tersenyum lalu mengahadapkan badannya ke Seungcheol.
"Aku sangat bosan. Mau bersenang- senang?"
Seungcheol menyeringai.
"Kita habiskan malam ini dengan bersenang- senang, Hanie..."
.
.
.
.
.
.
.
Dua buah mobil sport kini terparkir dengan rapi di halaman parkir Pledis High School.
Suasana sangat sepi.
Tentu saja, ini baru pukul 7 pagi sedangkan jam pelajaran dimulai pukul 8 nanti.
Junhwi dan Seungkwan bersama-sama berjalan menuju koridor 2, kelas mereka. Yah, mereka memang termasuk siswa teladan.
"Kau ada latihan nanti, Seungkwan-ah?" Tanya Junhwi ketika sampai di kelas Seungkwan.
"Ne. Prof. Bumzu memintaku datang ke latihan vocal tambahan nanti. Wae hyung?"
"Aniyo. Aku hanya ingin kau mengantarku membeli beberapa hal untuk Minghao. But, it's okey."
"Sepertinya aku akan membatalkan latihanku untuk hari ini. Aku akan menemani hyung saja." Jawab Seungkwan.
"Arra... Sampai jumpa nanti."
Junhwi melanjutkan perjalanannya menuju ke kelasnya.
Sekolah tempat mereka belajar adalah sekolah khusus untuk Asian people yang ada di Canada.
Junhwi dengan earphone di telinganya berjalan dengan santai di sepanjang koridor.
Ruang kelasnya terletak di ujung bangunan.
"Junnie hyungggggg...!"
Sosok namja imut dengan pipi tirusnya mengandeng lengan Junhwi dan merangkulnya erat.
Junhwi melirik namja itu dan tersenyum ke arahnya.
"Annyeong Hao… Aku tak melihatmu di kelas tadi." Jawab Junhwi.
"Aku datang setelah kalian. Begitu aku ke kelas aku melihat Seungkwanie jadi aku tahu kau sudah datang. Jadi aku mengejarmu." Jawab namja itu.
"Ne, ada apa?" Tanya Junhwi.
"Hari apa ini hyung -ah?" Tanya namja dengan nama Minghao itu sambil menunjukan senyumannya yang kecil.
"Monday, right?"
Wajah Minghao mengkerut.
"Kalau itu aku juga tahu hyung."
Junhwi hanya terkikik.
"Hari kematian eommamu bukan?"
"Ne. Ternyata kau ingat." Jawab Minghao.
"Tentu saja. Hei, kenapa kau malah mengikutiku? Sana, kembalilah ke kelasmu." Kata Junhwi.
"Ne..ne.. Oh iya, jangan lupa datang ke peringatannya ne. Annyeong hyungie..."
Tak lupa Minghao mengecup pipi Junhwi.
Minghao sudah berbalik namun Junhwi menangkap lengannya dan menempelkan bibirnya ke bibir milik Minghao.
"Annyeong, chagi..."
Bagai orang linglung, Minghao yang belum pulih dalam fase kagetnya tetap melangkahkan kakinya menuju kelasnya dan Seungkwan.
Junhwi memang murid teladan namun ia juga teladan dalam hal percintaan.
Minghao di tanah Canada ini hanya bersama neneknya yang sudah tua. Maka dari itu Junhwi selalu ingin melindunginya.
Appanya sedang berada di Chicago untuk bekerja, sedangkan eommanya sudah lama meninggal.
Junhwi sudah sampai pada ruang kelasnya. Ia duduk dengan tenang sambil mulai membuka beberapa –banyak- dokumen.
Di tengah pemikirannya tentang Minghao dan tumpukan dokumen kesiswaan-
"Junhwi!"
-sebuah suara nyaring dan melengking terdengar.
"Ji? Wae?" tanya Junhwi.
"Aku ingin bertanya padamu. Aku tadi sudah ke kelas tapi karena Minghao dan Seungkwan mengatakan kau ada di kelasmu, aku jadi mampir kemari."
Junhwi memasang tampang anehnya.
"Apa yang ingin kau tanyakan, Ji?" Tany Junhwi langsung.
Sosok bernama Lee Jihoon itu tertawa sambil meraba tengkuknya.
"Kudengar hari ini siswa baru mulai bersekolah? Dan dari Minghao, aku tahu kalau kau mengurusi kelas utama. Benarkah?" tanya Jihoon.
Junhwi menganggukan kepalanya.
"Aku titip ini untuk namja dengan wajah yang ada di foto ini."
Jihoon menyerahkan dompet yang berisikan foto seorang namja dengan seragam sekolah ini.
Di kerah blazernya, terdapat pin emas berbentuk mawar.
Yang artinya namja itu berada di kelas awal.
Bahkan dilihat dari kartu pelajar yang ada di dalam dompet itu, tepat disahkan berkisar 2 minggu yang lalu.
"Dimana kau menemukannya, Ji?" Tanya Junhwi.
"Di dekat taman kota. Sepertinya namja itu akan sangat kehilangan. Juga uang di dalam dompet itu banyak sekali." Jawab Jihoon.
Junhwi menganggukan kepalanya.
"Arraseo... Aku akan mengembalikannya."
Jihoon tersenyum.
"Gomawo Jun -ah. Bye..."
Dan Junhwi hanya bisa menghela nafasnya.
.
.
.
.
.
.
.
Kita menuju kelas Seungkwan. Kelas yang juga menjadi tempat belajar untuk Minghao dan Jihoon.
Saat ini, kelas Seungkwan tengah mendapat pelajaran Biologi. Namun karena gurunya entah kemana, kelas menjadi sedikit acak-acakan.
"Aku rindu Hansol..." kata Minghao tiba- tiba.
Jihoon yang sebelumnnya menghadap ke depan kini membalikan kursinya.
"Aku juga. Bukankah kau juga, Seungkwan -ah?"
Seungkwan yang sibuk dengan buku tugasnya mengangkat kepalanya.
Posisi duduk mereka berbentuk L. Dengan Jihoon di depan Minghao, dan Seungkwan di samping Minghao.
"Tentu saja Ji. Aku bahkan tidak bisa tidur disaat tahu kalau ia memperpanjang ijinnya." Kata Seungkwan.
Jihoon tertawa sedangkan Minghao hanya tersenyum.
Sudah wajar bukan, jika Seungkwan mengkhawatiran namjachingunya?
"Seungkwanie, Minghao –ah, itu Junhwi?" Tanya Jihoon saat melihat Junhwi melintas dengan orang- orang sesama anggota kesiswaan dengan tergesa- gesa.
Seungkwan mengangguk.
"Bukannya kau sudah tahu?" Tanya Seungkwan.
"Bukan begitu. Aku tak tahu kalau Jun menggunakan kacamata. Apa ia minus?" Tanya Jihoon.
"Hahahaha… Iya. Junnie hyung hanya menggunakan kacamata saat belajar. Tapi mungkin tadi itu ia lupa melepasnya." Jawab Minghao.
"Kudengar ia calon ketua kesiswaan tahun depan. Apa benar?"
"Mollayo... Tapi kalau benar, aku akan menolaknya."
"Kenapa begitu?"
Seungkwan menghela nafasnya.
"Waktu kami sebagai saudara akan semakin berkurang dengan kesibukannya. Aku tak menyukainya."
Minghao dan Jihoon mengangguk paham.
Mereka mengetahui bahwa sahabat mereka ini memang sangat menyayangi hyungnya.
"Arraseo, kami mengerti."
.
.
.
.
.
.
.
"Hello everyone. Kenalkan namaku Junhwi Choi dan aku anggota kesiswaan yang akan mengawal sebagai mendor kalian selama masa orientasi. Jadwal pertama kalian adalah tes tentang sekolah ini."
Junhwi yang kini ada di kelas utama pada tingkat awal.
Tes yang diberikan untuk mengetahui pengetahuan siswa tentang sekolah mereka sendiri.
Ada total 3 anggota kesiswaan yang ada di masing- masing kelas. Namun hanya satu yang menjadi mandornya.
Setelah selesai membagikan soal dan lembar jawabannya, seluruh siswa dipersilakan menjawab.
"Waktu kalian 30 menit dimulai dari sekarang." Ucap Junhwi.
Junhwi berkeliling seluruh kelas.
Ia sedikit mencuri pandang ke arah name tag para hoobaenya.
'Hoshi Kim...'
Junhwi akhirnya menemukan namja yang ditanyai Jihoon.
Selang waktu, seluruh siswa sudah berhamburan keluar kelas.
Tentu saja karena ini waktunya istirahat.
Junhwi menunggu di sudut kelas.
Ia melihat namja bernama Hoshi Kim itu sedang sibuk kini. Sibuk menggeledah tasnya. Sepertinya sesuatu telah hilang ne?
Trrakk...
Sesuatu terjatuh dari tasnya.
"Hati- hatilah."
Junhwi yang kebetulan –disengaja- lewat mengambil hal yang terjatuh lalu memberikannya ke namja itu.
Namja itu terdiam.
Bengong.
"Ah.. Ne.. Kamsahamnida..." Jawabnya.
Junhwi tersenyum.
"Ini. Ada titipan dari sunbaemu di kelas akhir. Sepertinya kau membutuhkannya."
Setelah meletakan dompet Hoshi di mejanya, Junhwi langsung berlalu begitu saja.
'Lockscreen Jihoon ne? Sepertinya ada yang disembunyikan dariku...'
.
.
.
.
.
.
.
"Junhwi hyung, ada yang ingin aku tanyakan…"
Aura keceriaan Seungkwan sedikit menghilang kini dan Junhwi menyeritkan keningnya.
Bukannya Junhwi buta akan keadaan Seungkwan yang semakin hari semakin datar.
Bukan juga Junhwi tak menyadari sikap dongsaengnya yang menjadi semakin 'bukan' Seungkwan.
Memang Seungkwan tetap tersenyum selama ini, dan menjadi cerewet seperti biasa kepada orang lain. Namun kala sudah hanya menyisakan mereka berdua, Seungkwan akan menjadi seperti orang lain bagi Junhwi.
Tak ada senyuman ceria dan ucapan cerewetnya. Yang ada hanya aura penuh kesedihan.
Junhwi sadar bahwa dongsaengnya benar- benar memikirkan hal itu walau ia terlihat cuek.
Seungkwan berjalan lambat dan ikut duduk di samping Junhwi di sofa ruang keluarga.
"Ada apa, Seungkwanie?" Tanya Junhwi.
Seungkwan mengangkat kepalanya.
Jujur saja, ia tak ingin memberatkan Junhwi karena ucapannya kini. Sudah terlalu banyak beban Junhwi dan ia tak ingin menambahnya.
"Mian kalau aku menganggumu hyung… Hanya saja…"
Lengan Seungkwan yang sedari tadi tersembunyi di belakang tubuhnya kini terulur ke arah Junhwi.
Junhwi yang sedari tadi sibuk berkutat dengan laporan kesiswaan kini melepas kacamatanya.
Ia menghela nafas kala mengetahui apa yang ada di jemari lentik Seungkwan.
Junhwi lantas bangkit dan menarik Seungkwan untuk mengikutinya ke ruang kerja yang khusus di buatkan Seungcheol untuk mereka berdua.
Setelah mengunci ruangan, kini Junhwi dan Seungkwan duduk berhadapan di sofa yang tersedia disana.
"Apa yang membuatmu gundah, Seungkwan –ah?" Tanya Junhwi.
Seungkwan menggigit bibirnya.
"Hyung… Ini tak adil. Kenapa harus aku? Kenapa hyung tidak? Bukan maksudku untuk mengorbankan hyung, tapi kenapa appa tega sekali kepadaku? Kenapa hyung? Kenapa?"
Junhwi sedikit terkejut kala Suengkwan sama sekali tak menunjukan emosinya. Hanya ada ucapan lirih nan kentara.
"Aku sudah memiliki Hansol, hyung… Sama sepertimu yang memiliki Minghao. Apa yang akan kau lakukan jika itu adalah dirimu?"
Junhwi tak tahan lagi. Ia segera memeluk Seungkwan.
Seungkwan yang hanya menatap datar kini memejamkan matanya. Menikmati kehangatan Junhwi yang membuatnya nyaman.
"Ayo kita bicarakan pada appa…"
.
.
.
.
"Tidak."
Runtuh sudah. Segala ucapan yang terucap oleh Junhwi terhapus begitu saja kala satu kata itu keluar dari mulut Seungcheol.
"Appa, kenapa harus ada perjodohan? Dan kenapa harus Seungkwan? Kami perlu penjelasan, appa…"
Seungcheol yang duduk di meja kerjanya hanya menghela nafasnya.
"Tradisi. Cukup, appa sibuk!"
Seungkwan mengepalkan erat tangannya.
"Appa! Aku bukan anak kecil lagi! Aku perlu penjelasan appa!"
Seungkwan berlari keluar dari ruangan itu.
Brak.
Benar- benar suara yang keras dari pintu yang terbanting.
"Katakan appa, bukan hanya Seungkwan. Aku juga perlu penjelasan…"
Seungcheol menatap dengan tegas mata anak tertuanya.
"Berhentilah menjadi anak pembangkang dan lakukan apa yang appa perintahkan."
Oke, Junhwi semakin menyerit bingung.
"Appa, aku bukan bawahanmu. Aku anakmu."
Dan dengan itu Junhwi berlalu pergi. Ia harus mencari Suengkwan. Junhwi tahu bahwa dongsaengnya itu benar- benar marah.
.
.
.
.
.
.
Seungkwan menangis kencang.
Dan Junhwi hanya bisa terdiam, memeluknya erat. Tak ada kata- kata penenang yang bisa Junhwi ucapkan untuk menenangkan dongsaengnya. Ia hanya menepuk punggung Seungkwan berharap Seungkwan dapat tenang.
Isakan Seungkwan masih terdengar kencang.
Hati Junhwi bagi tersayat mendengar racauan Seungkwan.
Apa? Apa yang harus Junhwi lakukan.
"Seungkwan… Sudahlah. Menangis tak akan menyelesaikan masalah. Kita harus berpikir tentang bagaimana melawan appa." Ucap Junhwi.
Tangis Seungkwan perlahan mengecil.
Walau masih membutuhkan 20 menit lamanya.
Dari balik pintu, sang eomma terdiam.
Ia bersandar di dinding di samping pintu kamar Seungkwan. Perasaannya benar- benar kacau.
Jeonghan tak bisa membiarkan ini. Tradisi bodoh yang membuat keluarga mereka terus menerus masuk ke lubang yang sama. Ya, Jeonghan harus melakukan sesuatu.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau mengajakku kemana Jeonghanie?" Tanya Seungcheol.
Matanya kini tertutup dengan Jeonghan yang membimbingnya secara perlahan.
Langkah-langkah mereka terhenti. Lebih tepatnya langkah Seungcheol ikut berhenti kala merasa Jeonghan tak menuntunnya lagi.
Seungcheol meraih ikat matanya. Dan senyumnya pudar kala ia melihat pemadangan di hadapannya.
Sudah lebih dari 10 tahun ia tak pernah lagi menapakan kaki di tempat ini.
Makam Doyoon.
"Seungcheolie… Aku ingin bicara serius denganmu…." Ucap Jeonghan.
Ia duduk di samping makam itu.
Pandangan matanya hanya terfokus pada tulisan di batu marmer yang amat sangat cantik.
Sedangkan Seungcheol tetap berdiri kaku di posisinya kini.
Ia berdiri di belakang Jeonghan, jadi ia tak mengetahui ekspresi apa yang Jeonghan berikan saat ini.
"Kumohon dengarkan aku…"
Suara Jeonghan benar- benar lirih.
Seungcheol tebak, air mata kini mengalir dari manik indah itu.
"Aku tahu… sangat mengetahui bahwa pernikahan kita hanya berdasarkan perjodohan. Dan kuyakin kau masih mencintai sosoknya… Aku tahu kau amat sangat membenci pernikahan ini… A..aku…"
Jeonghan mengusap pelan batu marmer di hadapannya.
"Bayangkan posisi Seungkwan… Ia sama sepertimu saat itu. Ia dijodohkan, dan ia memiliki pilihannya sendiri. Coba kau bayangkan perasaannya. Kau pernah di posisinya Seungcheolie. Kau seharusnya tahu perasaannya lebih dari aku."
Jeonghan mengepalkan kedua jemarinya.
Kukunya terlihat memutih kala ia meremas erat kedua kepalan tangannya.
Dan kini Jeonghan menatap ke Seungcheol.
Tepat di matanya.
"A.. apa.. Sebegitukah bencinya kau terhadapku? Hingga kau ingin Seungkwan merasakan apa yang kau rasakan… Ke.. kenapa Seungcheol?! Kau appanya! Dan kau pernah ada di posisinya! Kenapa kau tetap melakukannya?! Coba bayangkan posisi Hansol! Ia sama seperti Doyoon hyung! Kenapa kau…."
Jeonghan kehabisan kata- katanya.
Ia sadar Seungcheol tak pernah mencintainya.
Ia hanya pengganti sosok Doyoon di samping Seungcheol.
Hanya sebagai sosok ibu dari anak- anak Seungcheol.
Bukan sebagai sosok istri, sosok pendamping hidup bagi Seungcheol.
Seungcheol memejamkan matanya.
"Kau tak mengerti."
Hanya satu kalimat.
Hanya satu kalimat itu yang Seungcheol ucapkan sebelum ia membalikan badannya.
Melangkah dengan perasaan tak tentu meninggalkan Jeonghan.
Jeonghan menunduk dalam.
"Bagian mana Seungcheolie… Bagian mana yang aku tak mengerti darimu…."
.
.
.
.
.
.
.
.
Seungkwan benar- benar memalsukan keceriaannya.
Hansol mau tak mau menyadarinya juga. Kepulangannya 2 bulan lalu sudah cukup untuk menyadari perubahan Seungkwan.
Namun Hansol bersikap seolah tak ada apa- apa. Bukan karena ia tak peduli.
Junhwi mendatanginya lebih cepat sebelum ia bertemu dengan Seungkwan. Lebih tepatnya, Junhwilah yang menjemput Hansol di bandara 2 bulan lalu dan langsung membicarakan ini dan itu.
Disanalah Junhwi meminta padanya untuk bersikap biasa saja. Agar Seungkwan tidak terlalu tertekan.
"Hyung, apa yang harus kulakukan?"
Dan disinilah Hansol. Selalu berada di samping Seungkwan yang sifatnya benar- benar berubah.
Sinar Seungkwan meredup. Mungkin banyak orang tak menyadarinya, namun Hansol punya kesensitifan sendiri terhadap pahatan Tuhan yang cantik bernama Seungkwan.
"Seungkwanie… Hyungmu sudah memberitahukannya padaku."
Deg.
Seungkwan mengangkat kepalanya.
Matanya menatap manik hazel Hansol.
"M..mwo? Ja..jadi kau sudah tahu?" Tanya Seungkwan.
Hansol tersenyum lembut.
"Ne…"
Ouh, Hansol benar- benar ingin memeluk Seungkwan sekarang.
Dan ia tak menahan hasratnya untuk memberikan pelukan hangat kepada Seungkwan.
"Hansolie…." Lirih Seungkwan.
"Hei, semuanya pasti bisa kita lewati. Jangan bersedih begini, chagiya."
Seungkwan terdiam.
Ia tengah menikmati tangan Hansol yang mengusap halus surainya.
"Aku tahu seberapa absolute appamu. Pernikahanmu masih 6 bulan lagi bukan? Apapun yang terjadi, aku tak akan tinggal diam." Ucap Hansol.
Seungkwan menghela nafasnya.
"Tentu saja. Kau tak boleh tinggal diam. Aku tak mau menikah dengan orang yang tak aku cintai! Itu menyakitkan untukku."
"Seungkwan-ah, Hansol-ah, ini aku bawakan minuman untuk kalian." Suara Jeonghan membuat Hansol melepaskan secara perlahan pelukannya.
"Ah, eomma. Sini aku yang letakan."
Seungkwan segera bangkit dan mengambil nampan yang berisi-
"Eomma. Eomma bilang membawakan minuman, tapi ini…."
Seungkwan cemberut dibuat sang eomma.
Di nampan itu berisi berbagai macam camilan, permen, dan dua gelas milk shake, juga dua gelas squash.
"Eomma…. Bagaimana aku bisa berdiet jika eomma memberikan camilan sebanyak ini…" Ucap Seungkwan.
Jeonghan hanya tertawa kecil.
"Hansol- ah, jaga dia ya. Dan jangan biarkan dia berdiet. Itu tak baik untuknya." Kata Jeonghan sambil mengelus surai Seungkwan.
Hansol tersenyum kecil.
"Tentu saja ajumma. Serahkan padaku." Ucap Hansol.
Jeonghan tersenyum kecil lantas meninggalkan keduanya di kamar Seungkwan.
Dan kini yang ada di pikiran Jeonghan adalah-
"Aku tak mau menikah dengan orang yang tak aku cintai! Itu menyakitkan untukku."
Bahkan Seungkwan yang masih sekolah mengetahuinya.
.
.
.
.
.
Tbc~
.
.
.
.
"Semoga kau bahagia…"
.
.
.
"Seokmin hyung…"
.
.
.
.
"Aku mencintai Doyoon."
