Eita tergagap. Dia bahkan tak sanggup membalas tatap Koshi yang berdiri dan menunduk padanya yang terduduk lemah. Eita hanya memegangi pipinya yang basah karena jus yang disiramkan Koshi kepadanya sementara seluruh tubuhnya membeku karena kejut atas apa yang tak disangkanya akan ia dapatkan. Pun Keiji dan Tooru tak ada yang berani berbicara hingga si perak berujar, "Menyerah saja, katamu? Kupikir kalian teman-teman yang mengerti kondisiku dan bisa merasakan apa yang kurasakan juga. Shoyo adalah anakku. Kalian tidak pernah merasa kehilangan anak kalian sehingga bisa-bisanya kalian menyuruhku untuk menyerah mendapatkan anakku kembali hanya karena musuhku adalah yakuza."

Keiji berdiri dan menenangkan si perak yang wajahnya mulai memerah karena amarah itu. Si hitam berkata lembut pada Koshi, "Tenanglah, Koshi-san. Maafkan kami. Sungguh."

Ditampik Koshi tangan Keiji yang tadinya memegangi pundak si perak. Ia menyambar tasnya dan pergi dari rumah makan itu. Rumah makan langganannya dan teman-temannya selama ini. Kini ia bersumpah takkan sudi untuk menginjakkan kaki di restoran itu jika ada salah satu dari teman-temannya yang ada di sana.

Perasaan Koshi hancur. Nyaris semua orang yang dikenalnya dan mengetahui kondisinya hanya menyarankannya untuk membiarkan saja Daichi menghancurkan harga dirinya dan memulai cerita baru dengan lelaki lain yang lebih bermartabat dari si hitam. Ini bukan masalah hidup Koshi, tapi ini mengenai kehidupan Shoyo, darah dagingnya. Hidup Koshi adalah Shoyo, dan ia tak sudi bayinya berada dalam lingkaran penuh manusia-manusia jahanam dan dibesarkan oleh raja iblis biadab yang menjauhkannya dari buah hatinya.

Ia lupa tepatnya kapan pertama kali melihat wajah pria itu. Yang ia ingat adalah bahwa bisa-bisanya dirinya justru terpesona pada sosok preman yang keluar dari sebuah salon setelah menghajar habis seluruh pegawainya. Membiarkan darah menggenang dan diperlihatkan ke siapapun yang ada di jalanan saat itu.

"Waka." Begitulah Daichi dulu itu dipanggil oleh anak buahnya yang mengikuti langkah orang itu seperti anak itik yang mengekori induknya. Rambutnya sedikit jabrik dulu itu, tidak sependek sekarang. Ada ujung tato terlihat dari kemejanya yang tidak terkancing dua di atas. Memelototi Koshi selama tiga detik di tepian jalan saat si gadis perak berjalan santai dengan kawan-kawannya. Matanya besar dan menyeramkan sebelum ia buat melembut saat membalas pelototan mata cokelat Koshi. Dia tidak tersenyum, tapi tatapannya tak lepas dari Koshi meskipun sudah ditinggal si perak pergi melenggang jauh dengan malu-malu. Diakui Koshi, dia begitu terpana pada sosok laki-laki itu di pandangan pertamanya.

Koshi bahkan tidak menyangkal saat ia dan Tooru sudah menghilang dari hadapan kelompok yakuza itu dan kawannya menggodanya, "Wajahmu merah, sayang. Jangan katakan kau terpesona pada orang yang tadi."

"Dia yakuza, Tooru. Sudahlah." Koshi tertawa pelan, membuatnya bercanda meskipun ia gagal karena semu di pipi. Oikawa Tooru tertawa pelan dan manis sambil mencubit pipi si perak. Digandengnya tangan Koshi dan katanya, "Iwa-chan-ku juga yakuza, sweetheart. Apa yang perlu di-'sudah'-kan?"

"Aku masih pacaran dengan Kamasaki."

"Kau bertengkar dengannya." Tooru mendelik bosan. "Dan dia sudah kedapatan selingkuh dengan Futakuchi. Kau masih ingin mempertahankan hubungan kalian?"

Koshi mendesah panjang. Tujuannya bersenang-senang hari ini adalah untuk melupakan perseteruannya sejenak dengan laki-laki itu. Orang tuanya terlanjur menyukai Kamasaki karena sama-sama berasal dari Miyagi, karena itu perpisahan keduanya sulit dilakukan meski sudah tak ada cinta lagi di antara keduanya. "Tapi ak—"

"Ane-san! Ane-san dengan rambut perak—yang terurai."

Itu suara yang jelek. Serak dan sedikit tinggi, tapi itu suara laki-laki. Terdengar dari arah belakang keduanya dan memotong ujaran si perak. Koshi dan Tooru menoleh, memohon agar bukan salah satu dari mereka yang dimaksud karena dari suaranya saja pun keduanya merasa suara itu berasal dari orang yang cukup bermasalah dengan tenggorokannya.

Dan benar. Seorang pemuda dengan rambut mohawk dan bekas luka di sepanjang lehernya terlihat menyeramkan. Bisa diduga Koshi bahwa luka itu lah yang mempengaruhi suaranya menjadi begitu jelek dan melengking. Dan tak perlu banyak tanda lagi untuk membuktikan bahwa orang itu adalah yakuza.

Orang itu cepat berlari ke arah mereka. Terengah-engah dengan wajah merah karena kurang oksigen dan berhenti tepat di depan keduanya. Bisa dirasa Koshi Tooru memegangi tangannya erat, sementara Koshi sendiri merogoh tas tangannya dan mengambil penyemprot merica jika terjadi sesuatu padanya. Orang itu mendesah panjang terlebih dulu, "Akhirnya terkejar juga."

"Jika kau ingin kami tutup mulut atas apa yang kalian lakukan pada orang-orang di salon tadi—" Tooru menatap Koshi dan saling mengangguk sambil menelan air liur dengan kesulitan, "—kami sepakat untuk diam."

Pemuda mohawk itu tertawa. Tangannya mengibas dan ia menggeleng, "Bukan. Bukan itu. Ane-san rambut perak, waka kami ingin tahu namamu. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu."

Koshi terpaku. Tangan yang ada di dalam tasnya terjatuh dan dia tertawa pelan dengan tak percaya. Tooru mencolek pinggangnya dengan geli dan terlihat sama merasa lucunya. Si rambut mohawk menatap heran keduanya sebelum Koshi tersenyum lembut. Ia menatap jauh ke belakang tempat si mohawk berasal dan melihat dua buah mobil hitam dikelilingi orang-orang menyeramkan berjas gelap dan suram. Pintu kaca dua mobil itu tertutup, tapi entah bagaimana Koshi tahu bahwa sang waka memperhatikan dari salah satunya.

"Namamu siapa, mohawk-san?" Koshi masih memberikan senyuman tipis.

"Eh, aku Yamamoto Taketora."

"Nah, Tora-chan. Katakan pada waka-mu bahwa jika dia ingin mengenalku, datang padaku sendiri dan minta namaku sendiri. Menangkan hatiku dengan cara laki-laki dan bukan cara yakuza."

Senyuman Koshi simpul dan tertuju pada mobil di belakang sebelum ia berbalik dan menarik Tooru menjauh. Bisiknya pada sang kawan, "Aku akan memutuskan Kamasaki nanti malam."

"Ah, Koshi-chan, kau nakal sekarang."

.

Pintu mobilnya ia banting keras-keras dan Koshi tersedu di dalam mobil. Sudah dua bulan Koshi berusaha menuntut ketua grup Sawamura, namun tak ada satupun instansi yang sudi membantunya. Bahkan ketika ia mencoba membawa masalahnya ke kementrian hukum dan HAM, meminta bantuan kelompok aktivis dan relawan pemberdayaan wanita maupun perlindungan anak, semuanya mendadak menutup pintu mereka, mengakhiri telepon, tak membalas emailnya ketika tahu bahwa lawan mereka adalah Sawamura.

Kepalanya ia hantamkan dua kali ke kemudi sementara hidungnya kembali memerah dan dipenuhi ingus. Rambutnya yang terikat terasa membikinnya pusing dan ditariknya dengan kuat sanggul sederhananya. Membiarkan rambutnya terurai berantakan dan berjatuhan. Dadanya terasa perih dipenuhi air susu yang tak setetes pun sempat dirasai Shoyo, putranya. Ia merasa sesak, napasnya kesusahan karena air mata terjatuh ke hidungnya. Helai-helai rambutnya yang terikut basah menempel ke wajahnya. Matanya beberapa detik memburam sebelum air mata jatuh kembali. Dan ia merasa gerah dan terkekang.

Ia akan memotong rambutnya. Dan berjuang dengan caranya sendiri.