Balas review dulu, ya...
Lyrinch F : Penyebabnya Sasuke mau-mau saja, akan dijelaskan di chapter ini... Aku dulu juga susah membuatnya. Ini saja cerita terpanjang yang pernah saya buat dan gak discontinued. Kalau soal deskripsi, saya sedang berlatih :D tapi karena terlalu terhanyut dalam cerita, jadinya deskripsinya malah kurang... gomenasai (_ _) Alurnya kecepatan? Sepertinya karena plot yang saya buat hanya mencakup yang secara garis besar saja, sedangkan saya orangnya sangat bergantung ke plot karena takut kemana-mana ( secara fantasy memang sangat mudah melantur ). Nanti diusahakan biar alurnya tidak kecepatan lagi ^^ Berkenan, kokk... berguna untuk meningkatkan kualitas karyaku Terimakasih banyak karena telah mereview dan membaca dan mengikuti seri ini :D
Hakuya Cherry Uchiha Blossom : Iya, disini mereka sobatan Ini dia chapter selanjutnya sudah muncul. Tidak apa-apa, asal bersedia mereview lagi di lapak review saya di chapter ini #modus. Ini deskripsinya sudah susah payah kupanjangin, gimana? Maaf kalau kurang
Oke, langsung aja... cekidot
Angel's World: The Truth
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
The Truth © Joselice
Warning : AU, Fantasy, judul ga nyambung, maybe typo(s), OOC, dll. DLDR!
CHAPTER 5: Regret
"Sakuraaa!" suara cempreng Ino menyapa telinga Sakura. Biasanya ia hanya tersenyum mendengarnya, tapi sekarang...
Sakura membenci suara itu. Pemilik rambut pirang itu. Pemilik kulit putih tanpa cela itu.
Hinata juga sedikit patah hati, tapi ia terlihat ikhlas melihat Ino dan Sasuke.
Tapi...
Kenapa jadi Sakura yang nggak rela?
"SAKURAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"Ck!" Sakura menutup telinganya, berusaha menetralkan telinganya yang berdenging.
"Hehehe, gomenasaaiii..." Ino memeluk Sakura erat. Sakura menepis tangan Ino, membuat dahi Ino berkerut.
"Marah, ya?" Sakura menggeleng, lalu meninggalkan Ino.
"Ah, bohong..." komentar Ino. Sakura sendiri hanya memutar matanya malas, dan melanjutkan langkahnya.
"Marah karena Sasuke menembakku, ya?" tanya Ino tanpa tedeng aling-aling sambil berusaha mengikuti langkah Sakura yang panjang. Sakura kontan mendelik, menatap Ino tajam.
"Jangan sok tahu tentang perasaan orang!" kata Sakura tajam lalu pergi meninggalkan Ino yang terpaku. Selama ini Sakura tak pernah semarah itu. Ino menggigit bibirnya, cemas.
"Semua jadi runyam..." ujar Ino pelan.
~Angel's World:5~
"Sasuke, memangnya kau benar-benar menyukai cewek blonde itu?" tanya Neji sambil memutar bola basket di atas jarinya. Sasuke sendiri hanya melipat tangan, menatap Neji tidak senang.
"Kau sendiri yang menyuruhku mencari yang baru," ujar Sasuke sambil memutar matanya malas.
"Tapi tidak jika kau tidak mencintainya," timpal Neji. Ia tidak pernah menyangka, sarannya akan ditanggapi berlebihan begini oleh Sasuke. Masa asal tembak begitu?
"Siapa yang bilang aku tidak mencintainya?" tantang Sasuke. Egonya yang tinggi selalu membuatnya tidak ingin kalah dalam debat dengan siapapun, termasuk Neji, sahabatnya sendiri. Terutama bila disudutkan.
"Pandanganmu," ujar Neji ringan. "Beda dari pandangan cinta yang kau berikan pada Sakura." Sasuke terdiam. Ucapan Neji ada benarnya, Sasuke memang tidak mencintai gadis bermarga Yamanaka itu. Ia menembaknya hanya untuk mengalihkan perhatiannya sejenak dari wajah Sakura, yang senantiasa hadir dalam mimpinya. Semuanya jadi runyam... Sasuke menghela nafas.
"Jangan sampai kau sesali keputusanmu sendiri, Sasuke." Neji bangkit dan melempar bola ke ring basket. Tidak masuk, hanya mengenai bibir ring.
"Aku tidak akan menyesal!" kata Sasuke jutek, merasa disudutkan.
"Aku tidak menyudutkanmu lho," Neji sepertinya bisa membaca pikiran Sasuke.
"Tch." Sasuke merebut bola dari tangan Neji dan melemparkannya dari luar lingkaran three point. Masuk.
"Hei, mau adu kemampuan?" Neji berlari mengambilnya, keluar dari lingkaran three point. Neji melempar bola dan dengan segera bersarang di ring.
"Ya,ya. Nanti kuputuskan Yamanaka. Lebih baik jika dia tidak menerimaku," kata Sasuke akhirnya.
"Kalau soal itu, aku memang sudah mau menolak!" suara cempreng yang cukup dikenal Sasuke. Ia menoleh dan menemukan cewek berkuncir tinggi itu berkacak pinggang dan melihatnya dengan pandangan kesal.
"Yamanaka." Sasuke menghampiri Ino, meminta maaf. "Gomenasai, aku tidak bermaksud menyakitimu."
"Tidak apa!" suara Ino kembali mencapai maksimal, membuat telinga Neji dan Sasuke sedikit berdenging. "Tapi minta maaf pada Sakura!"
"Sakura?" tanya Sasuke bingung. Maksudnya apa?
"Sakura adalah orang yang paling tersakiti hatinya, kali. Bukan aku." Ino mengeluh. "Cowok itu nggak peka ya."
"Apa maksudmu, Yamanaka?" Sasuke heran. Bukankah Sakura baru saja menolak Sasuke?
"Sakura itu menyukaimu, bodoh." Ino menggerutu. Masa begitu aja nggak tau sih? Ia berkacak pinggang, menentang mata onyx Sasuke kesal.
"Tidak mungkin, dia baru menolakku, Yamanaka. Tolong jangan sok tahu," kata Sasuke dingin. Lebih dingin dari perlakuannya kepada cewek-cewek lain. Bahkan Ino sedikit merinding mendengar nada datar Sasuke, yang terkesan sedikit mengintimidasi.
"Di-dia hanya tidak mau melukai Hinata! Hinata kan juga mencintaimu!" kata Ino terbata. Sasuke sendiri masih memasang wajah stoicnya, tapi perubahan sorot mata di onyxnya menjadi tanda bagi Ino bahwa Sasuke juga masih mencintai Sakura, dan masih menaruh harapan pada cewek bermata emerald itu.
"Bohong," kata Sasuke datar. Tapi wajahnya tidak bisa berbohong, dengan segera pipinya yang pucat itu memerah. Ino hanya cengar-cengir tanpa dosa. Neji sendiri menahan tawa sampai menggigit bibir melihat ekspresi yang jarang ditunjukkan Sasuke.
"Untuk apa aku bohong? Kaulah yang bohong," timpal Ino dengan tengilnya. Ia tertawa-tawa menggoda Sasuke, sedangkan seseorang dengan rambut pink terang melihat tawa itu dengan tatapan sayu. Ia berbalik, meninggalkan atap sekolah yang menjadi saksi air mata Sakura yang mengalir di kedua pipi pucatnya.
Mungkin memang tidak akan pernah ada kesempatan untukku, batin Sakura miris.
~Angel's World:5~
"Sakura?" seorang cewek dengan rambut pirang panjang yang menjuntai melongok di pintu geser itu. Sapphire milik cewek itu, Ino, beradu dengan mata emerald sang empunya kamar. Mata emerald itu menajam, sama seperti sorot mata Sasuke. Dingin dan mengintimidasi.
"Ada apa?" kata cewek pemilik mata emerald itu datar. Ino menghela nafas, sepertinya Sakura masih salah paham.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Sasuke kok, percaya deh!" Ino berusaha meyakinkan Sakura, tapi lawan bicaranya tak bergeming. Masih dengan sorot mata yang sama.
"Apa keperluanmu?" tanya Sakura retorik. Sakura tidak tampak tertarik dengan jawaban Ino, hanya sebagai ungkapan tersirat bahwa Sakura tidak menginginkan kehadiran Ino.
"Sakura, masa kau tidak percaya padaku?" Ino menyentuh tangan Sakura yang segera ditepis oleh sang pemilik.
CRING! Gelang di pergelangan Sakura berdencing, dan sorot mata Sakura berubah sesaat. Gelang perak bertatah emerald. Ino menatap gelang itu lekat, rasanya ia tidak pernah melihat gelang itu.
"Gelang dari mana, Sakura?" tanya Ino penasaran. Sakura menjawab pendek, "Diberi teman."
Teman? Masa seorang teman memberikan gelang perak bertatah emerald? Batin Ino.
"Kalau kau tidak memiliki keperluan lain, nanti saja. Aku sedang sibuk, dan aku tidak bisa diganggu." Nada Sakura benar-benar menusuk, benar-benar menyiratkan kebencian. Ino sendiri maklum, tapi kesal juga. Sakura kan tidak tahu apa-apa!
"Sakura, percayalah padaku! Tega sekali kau mencurigaiku!" kata Ino emosi akhirnya. Mata birunya menajam, menatap tidak suka.
"Aku tidak mencurigaimu, jadi pergilah. Aku sibuk." Nada Sakura lebih datar dari yang Ino kira. Tatapan mata Sakura tidak berubah. Membuat Ino semakin kesal.
"Terserah! Kau jadi mirip sekali dengan Sasuke, dingin dan menyebalkan!" Ino keluar sambil mengentakkan kaki. Sakura sendiri menghela nafas. Hanya ini satu-satunya cara mencegah Ino dekat-dekat lagi dengannya, yang membuat hati Sakura semakin sakit. Mungkin memang Sakura tidak tahu segalanya, tapi... Ino juga tidak tahu segalanya, kan?
~Angel's World:5~
"Kau selalu pakai gelang itu?" tanya seseorang berambut pirang jabrik. Gadis berambut pink di depannya mengangguk.
"Kau tidak sabar bertemu denganku lagi di Angel's World?" seringai cowok jabrik bermata sapphire itu. Mata emerald milik gadis di depannya menajam, membuat cowok jabrik itu menyeringai.
"Well, paling tidak sekarang, aku pasti menang dari cowok berambut pantat ayam itu," kata cowok itu sambil tertawa. Mata emerald sang gadis malah semakin tajam, menembus mata sapphire cowok itu.
"Okay-okay. Tapi kau harus sabar, memperoleh pengampunan, meskipun memakai gelang pengampunan, tidaklah mudah. Itu hanya mempersingkat waktumu... well, sebulan."
"Aku tahu." Cewek itu menatap rembulan. Sebentar lagi, ia tidak akan melihat bulan lagi. Sebentar lagi.
To be continued...
Review?
