Angel's World: The Truth

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

The Truth © Joselice

Warning : AU, Fantasy, judul ga nyambung, maybe typo(s), OOC, dll. DLDR!

CHAPTER 6: 30 Days

"Aku mau menembak Sakura sekali lagi, tapi bagaimana caranya?" Sasuke mengernyitkan dahi, berpikir keras.

"Ya bilang aja apa susahnya sih," komentar Chouji. Masih dengan tangan penuh kantong snack.

"Tidak semudah itu," desah Sasuke. "Ini yang kedua kali. Dan aku sempat menembak Ino."

"Lalu?" Chouji menaikkan alis dan menggoyang-goyangkan kepalanya. Pipinya yang gembil terlempar-lempar.

"Baka Chouji, dasar tidak peka. Mendokusei," sela Shikamaru menyebalkan. Chouji hampir saja melempar kantong snacknya, tapi tidak jadi karena sayang. Kepala Shikamaru terlalu murah untuk dilempari snack kesayanganku, batin Chouji dalam hati. Dasar tidak mau rugi.

"Yah, mungkin kau terlalu banyak berpikir, Sasuke." Neji tiduran menatap awan. Ia sendiri bingung mau memberi saran apa lagi kepada sahabatnya yang berambut model pantat ayam itu.

"Ya, mungkin juga." Sasuke mengangguk-angguk, membuat rambut biru dongkernya juga ikut bergerak-gerak. Mata onyxnya sayu, menatap tanah dengan kosong.

"Kalau begitu, utarakan saja yang sejujurnya. Kalau kau menembak Ino karena pelarian semata," kata Neji.

"Ya... " Sasuke berdiri, berjalan pergi. Tak ada yang mencegah Sasuke pergi, semuanya maklum bahwa Sasuke memang butuh waktu sendiri.

"Sasuke berubah," komentar Neji setelah ia pergi.

"Jadi lebih kurus?" timpal Chouji sambil tetap berkriuk-kriuk. Shikamaru hanya ber-mendokusei ria.

"Bukan, Chouji." Neji menjitak kepala sahabatnya itu. "Maksudnya, sikapnya. Tak biasanya."

"Mungkin karena kali ini dia serius." Shikamaru hanya mengangkat bahu, malas berpikir lebih jauh.

"Ya, mungkin. Semoga saja tidak ada hal lain yang mengganggunya. Kau tahu kan, dia kan bukan tipe yang terbuka. Ia kan mau curhat tentang Sakura juga karena ia tidak mengalami pengalaman cinta," ujar Neji panjang lebar.

"Ah, kau seperti baru kenal Sasuke saja. Dia itu bukan tipe cowok galau. Pasti ia bisa menyelesaikannya sendiri," ujar Shikamaru.

"Tapi ia kan tidak punya pengalaman soal meladeni cewek, karena sifat stoic-nya itu." Chouji ikut berkomentar, meski dengan suara kriuk-kriuk yang terdengar dari mulutnya.

"Yah, semoga saja semuanya baik-baik saja," kata Neji.

~Angel's World:6~

"Sakura..."

"Sakura..."

"Selamatkan dirimu..." Sakura membuka mata. Suara apa itu tadi? Ini di kamarnya. Dan sepertinya masih dini hari. Lalu suara siapa tadi? Dan, apa maksudnya? Melarikan diri?

Sakura melirik gelang di tangannya. Gelang itu berkilau, dan terukir angka 30 di gelang itu.

"Sebulan..." Sakura mendesah. Tanpa sadar, buliran kristal jatuh di pipinya. Menerobos pelupuk mata. Menandakan bahwa pertahanan terakhir Sakura sudah roboh. Hancur.

"Sebulan lagi... aku akan meninggalkan Sasuke. Berbahagia bersama Ino. Bukankah, cinta itu tidak harus memiliki?" Sakura mengusap matanya, berusaha mengikhlaskan. Ia memegang dadanya. Sakit...

~Angel's World:6~

"Sakura!" suara itu, rahang Sakura mengeras. Ia berusaha mengabaikan suara dari lelaki berambut emo itu.

"Sakura, dengarkan aku!" tangan Sasuke meraih lengan Sakura, berusaha menahan langkah sang gadis rambut pink. Mata emerald Sakura menatap onyx Sasuke tajam, berusaha menutupi semua kebenaran dalam matanya.

"Pergi." Satu kata singkat, tapi merobohkan pertahanan Sasuke. Menanggalkan semua topeng datarnya. Merusak harga dirinya dan mematahkan hatinya.

Kini, Sasuke benar-benar hancur.

~Angel's World:6~

"Sakura!" Kenapa mereka tidak berhenti mengangguku? Sakura menatap mata Ino tajam, menguarkan aura kebencian yang kentara.

"Sakura, kau tega! Kau menghancurkan hidup Sasuke!" Ino menunjuk-nunjukku dengan marah, ekspresi cerianya sudah tanggal sepenuhnya dari wajahnya.

"Sasuke?" Sakura tertawa kecil. "Tak mungkin. Ia bahagia bersamamu."

"Bukan begitu, Sakura!" Emosi Ino memuncak. Ia yang memang dasarnya tidak sabaran, mulai terpancing emosi juga.

"Apa?" Sakura menatap Ino lekat. "Semuanya sudah jelas, dan aku tidak butuh alasanmu. Ini cara terbaik untuk KITA."

"Kita?" Ino tersenyum sinis. "Tepatnya KAU?"

"Huh, aku memang tidak seharusnya masih mengharapkan Sasuke. Dia toh mencintaimu."

"Dia tidak mencintaiku, Sakura! Dia-"

"Stop!" teriak Sakura. "Jika kau hanya datang untuk membicarakan hal itu, lebih baik kau pergi!"

"Baiklah!" balas Ino dengan nada tinggi. "Dan kupastikan kau menyesal!" Ino membanting pintu. Sakura yang berdiri tegap, mulai melemas, merosot ke lantai. Seiring dengan air mata yang jatuh tertarik gravitasi.

"Ini yang terbaik..."

~Angel's World:6~

"Kau benar-benar keras kepala, ya." Cowok berambut kuning itu menarik Sakura dalam pelukannya. Merasakan semua penolakan yang tertanam dalam setiap tulang Sakura. Mata emerald milik mantan kekasihnya itu menajam, mengisyaratkannya untuk melepaskan pelukan ini.

"Tapi itulah yang kusuka darimu, Sakura." Naruto tersenyum. "Setelah ini, kau takkan lepas lagi dari tanganku. Selamanya."

"Jangan harap aku akan kembali padamu, Naruto." Sakura menatapnya tajam.

"Tapi percuma kau mengharapkan Sasuke, Sakura." Naruto memegang kedua pipi Sakura. "Dia bukan untukmu. Bahkan sebentar lagi kalian akan berbeda dunia. Akulah yang ditakdirkan untukmu, Sakura."

"Tidak. Akulah yang menentukan takdirku sendiri, Naruto, dan jangan pernah dekati aku lagi!" Sakura menepis tangan Naruto dan meninggalkan Naruto seorang diri di tengah kegelapan.

"Sakura, akan kubuat kau jadi milikku, bagaimanapun caranya." Naruto menyeringai.

To be continued...

Review?