I

[2 YEARS LATER]

"I walk trough the alley of the shadow of death…".

Min Yoongi menyampirkan senjatanya di pundak, pisau panjang berbekaskan darah kotor tergenggam erat pada jemari panjangnya. Yoongi memasuki rumah tua yang berbau anyir, lantainya bersimbah darah dengan rumput liar berkembang biak seperti parasit.

"And I fear no evil 'cause I'm blind to it all…".

Yoongi mendengar nyanyian lembut yang berasal dari lantai dua, melewati mayat pria dan wanita yang dibunuh dengan luka tusuk dan anak panah mencuat tinggi dari jantung. Yoongi tersenyum kecut, mengumpulkan anak panah yang sudah mencabut nyawa tak terhitung berapa banyak.

"And my mind, my gun, they comfort me…".

Yoongi terhenti ketika melewati kamar mandi yang kotor oleh mayat gadis kecil, kepala bocor akibat benturan keras pada bathub yang retak setelah perkelahian. Sebuah kamar tua yang sudah ditumbuhi tanaman rambat terletak di ujung. Busur kayu tersampir pada langkan jendela, anak panah berceceran pada tempatnya yang terguling ke lantai.

"Because I know I'll kill my enemies when they come…".

Seorang pria terduduk di ranjang, gitar pada pangkuan kakinya. Jemari pria itu lecet akibat memetik senar. Yoongi mendekat secara perlahan, menyandar pada kusen pintu ketika lantunan melodi itu terputus dengan nyanyian muram.

"And I can't walk on the path of the right because I'm wrong…".

Jeon Jungkook menatap Yoongi dengan matanya yang bergejolak dalam badai masa lalu. Setetes darah mengaliri bulu mata Jungkook ketika ia mengerjap, menetesi wajah suramnya yang dibekasi banyak luka sayat.

"Kid?", Yoongi menyuara parau. "Kau sudah selesai? Kita mendapat pekerjaan".

Jungkook nyaris tidak mendengarkan ketika Yoongi menjelaskan tugas mereka. Hanya seorang anggota Firefly bernama Kim Seokjin yang menyewa jasa mereka berdua untuk menyelundupkan sebuah kargo melewati pusat kota yang dijaga ketat oleh tentara perbatasan. Tentunya, juga dipenuhi oleh The Infected yang sudah menyebar seperti biang penyakit.

Firefly adalah organisasi paska kepunahan umat manusia, sekelompok pemberontak yang berjuang melawan penyakit yang sudah merajalela di seluruh belahan bumi. Penyakit itu disebabkan oleh jamur yang menginfeksi otak, menyerang hingga induk tidak bisa mengendalikan diri mereka sendiri.

Fase terakhir infeksi sangatlah menjijikkan, tubuh inang yang terjangkit peyakit akan ditumbuhi kerak dan jamur, membusuk bersama dengan tunas yang mencuat keluar dari wajah mereka dengan otak termakan habis.

"Kau paham, Kook? Hei, letakkanlah", Yoongi meraih gitar Jungkook yang tidak menjawab. Ia mengangguk sebagai respon, meraih busur dengan tangan kanan yang dihiasi arloji rusak. Hanya jam tangan perak yang tak lagi berfungsi, namun, meninggalkan kenangan yang membekas pedih dalam hidup Jungkook.

Jungkook mengamati jalanan kota yang terbengkalai, sesekali melihat manusia tak berhati yang baku tembak atau hanya membunuh orang orang lemah yang tidak bisa mempertahankan diri. Dunia telah menjadi seperti dahulu, hanya ada rantai makanan dan para bajingan yang membunuh satu sama lain untuk mempertahankan hidup masing masing.

Sekilas, bayangan malam dengan hujan mengguyur berkelebatan dalam mata Jungkook. Jalanan sepi yang terbakar api dengan manusia berlarian ke segala arah, saling mangsa untuk mencari jalan keluar.

Disitu, Jungkook berlari sembari melindungi lelaki mungil yang mempercayakan nyawanya kepada Jungkook. Sampai, sebuah peluru menembus jantung pria yang Jungkook kecewakan hingga kematian menjemput.

"Ayo", Yoongi melompat keluar jendela dengan pendaratan mulus, diikuti Jungkook yang mengenyahkan bayangan Jimin secepat kilat. Jungkook harus bertahan hidup untuk melawan penyakit yang sudah merebak seperti parasit mematikan.

Suatu hari nanti, Jungkook akan terbangun dan melihat mentari. Suatu hari nanti, mungkin…ia akan mampu tersenyum.[]

"Berhati hatilah, Kook", Yoongi melangkahi reruntuhan bangunan yang bergoncang kecil di bawah pijakan kakinya. Ia mengulurkan tangan ketika Jungkook memanjat naik, meskipun pria itu menolak pertolongan Yoongi dan selalu saja keras kepala untuk melakukan semua pekerjaanya seorang diri.

"Jadi, kargo macam apa yang akan kita ambil?", Jungkook mendorong tubuh mungil Yoongi ke atas reruntuhan. Pria berkulit pucat itu berguling naik, hendak menolong Jungkook yang kembali menepis tangannya dan mengangkat tubuhnya sendiri. "Kau yakin aman, kan?", Jungkook berujar ketus setelah kedua kakinya memijak sempurna di lantai bangunan yang pernah menjadi gereja suci.

Yoongi meletakkan jemari di bibir, merunduk ketika suara batuk berpenyakit terdengar di belakang altar. "Tiga Runner, satu Clicker", Yoongi tertawa bengis, menyiapkan pistolnya ketika The Infected menggerung dengan suara tercekik menjijikkan. "Dan ya, aku jamin semuanya aman bahkan untuk orang bodoh sepertimu".

Jungkook meluruskan busurnya dengan wajah kesal, menarget Runner yang menghadap ke dinding gereja. Ia menarik napas panjang, memosisikan anak panah dengan pikiran terfokus.

"Aku akan menghajarmu kalau kau meleset".

"Tenang saja", Jungkook mendengus kecut, melesatkan anak panah yang meluncur secepat angin.

Runner itu melolong sakit ketika panah keperakan menembus kepalanya. Wanita kedua berbalik marah, berlari kearah Jungkook yang menyiapkan anak panah kedua. "Awas!", Yoongi mendorong Jungkook hingga terjatuh, menembak perempuan yang menggeliat sakit sembari mengalirkan darah hitam.

Yoongi mengumpat ketika seseorang menubruknya dari belakang, The Infected berteriak liar, nyaris menggigit pundak Yoongi ketika Jungkook menggorok lehernya tanpa membuang satu detik pun. Yoongi meludahkan darah yang memuncrat ke dalam mulutnya.

"Menjijikkan", Yoongi mendengus marah, menghadapi Clicker yang sudah memasuki infeksi fase akhir. Jungkook meraih senjata apinya yang berlaras panjang, hendak menembak manusia berpenyakit itu ketika Yoongi meledakkan peluru shotgun yang menghancurkan otak berjamur Clicker yang ambruk ke lantai.

"Sudah selesai melamun, kan?", Yoongi memeriksa kondisi Jungkook yang berlumuran darah busuk. Jungkook mengangguk muram, juga memastikan bahwa pria yang lebih tua darinya itu tidak terluka maupun terjangkit penyakit. Tak peduli seberapa tangguh dirinya, ketika penyakit bersemayam dalam otak, tamatlah sudah kehidupan Jungkook.

"Ayo, kargo kita sudah dekat", Jungkook mengikuti Yoongi yang berjalan berhati hati keluar dari bangunan. Terlihat banyak orang yang bersembunyi di belakang barikade, siap menghabisi siapa saja yang melewati daerah kekuasaan mereka.

"Tidak perlu membuang amunisi. Ayo cepat", dua tahun pengalaman Yoongi dalam bertahan hidup, peraturan pertama adalah jangan menyerang kalau tidak diserang terlebih dahulu. Ia harus menghemat peluru meski jari jemarinya gatal untuk membumi hanguskan mereka. Para bajingan itu membunuh tanpa memberi pengampunan. Yoongi memang tidak percaya bahwa neraka itu ada, tapi ia harap mereka semua akan tersiksa kelak.

"Disini", Yoongi mendobrak ruangan yang diblokade dengan papan kayu. Jungkook mendengar seseorang terkesiap, ia melangkah masuk ketika Yoongi membeku di ujung ruangan. Senapannya lunglai di tangan kiri, nyaris tidak bisa memproses pemandangan yang dilihatnya.

"D-Dimana?! D-Dimana Jin-hyung?!".

"Apa?".

Jungkook tercekat, mengamati pria berambut pirang yang meringkuk ketakutan di sisi jendela. Kim Taehyung menatap dua lelaki mengerikan yang memandanginya dengan raut marah. "D-Dimana Jin-hyung?!".

Pada saat itu, Jungkook sadar bahwa mereka habis sudah. Ia membayangkan senjata yang harus diselundupkan melewati barisan tentara dan The Infected yang bersemayan di bawah tanah. Tapi, yang ia temukan justru bocah ingusan yang menangis ketakutan dengan hazel tidak berdosa.

Pria lemah yang akan bergantung kepada Jungkook, menatapnya seperti Jungkook adalah seorang penyelamat.

"Fuck", Jungkook mengumpat ketika sebuah kilasan kembali menyerang benaknya. Seseorang yang amat dikasihinya, seseorang yang begitu rapuh dan membutuhkan perlindungan.

"Aku tidak mau", Jungkook memelototi Taehyung yang meringkuk ketakutan di samping jendela. "Aku tidak akan menyelundupkan bocah ini ke pusat kota".[]