II

"Apa apaan sih?!", Jungkook sudah berdebat dengan Yoongi entah berapa lama. Yoongi berkata ia sendiri sama sekali tidak tahu bahwa mereka harus menyelundupkan seorang lelaki penakut melewati perbatasan kota. Seharusnya, mereka sudahi saja tugas yang tak sepadan ini, namun, Yoongi bersikeras untuk tidak memutus perjanjian dengan seorang Firefly.

"Kukira, kau lebih pintar dari ini, Hyung", Jungkook mendengus, meskipun ia tahu Yoongi juga terpaksa. Memangnya apa kemungkinan terburuk? Firefly tidak mungkin mempertaruhkan nyawa anggota mereka untuk memburu dua bajingan yang membatalkan kesepakatan. Lagipula, apa yang begitu spesial dari bocah ingusan itu? Orang orang dewasa sudah menganggap bahwa anak kecil hanya akan mempersempit kesempatan mereka dalam bertahan hidup.

"Siapa namamu?", Jungkook bertanya dengan wajah bengis, Taehyung memundurkan langkah, namun, mendelik pada pria yang menodongkan anak panah di depan wajahnya. "K-Kim Taehyung. Apa masalahmu denganku, hah?!".

"Kim Taehyung, dengarkan aku baik baik", Jungkook meletakkan busurnya, menarik napas ketika bayangan Jimin selalu saja berkilas pada wajah manis Taehyung. Namun, Jungkook sudah berjanji bahwa ia tidak akan membuat hubungan dengan orang lain, tak peduli siapa. Kalau orang itu tidak menguntungkan bagi Jungkook, maka, ia harus segera disingkirkan.

"Kau hanya parasit bagi kami, Taehyung. Jika kau membahayakan nyawa kami, aku akan membunuhmu. Kalau kau menciptakan masalah, aku akan membunuhmu. Kalau kau terinfeksi, tebak apa? Aku juga akan membunuhmu".

Taehyung menggeram emosi, ia baru saja lolos dari neraka dan ini yang harus ia hadapi?! Pria tak tahu diri yang membenci Taehyung tanpa alasan masuk akal. Taehyung tidak meminta diselamatkan! Hell, ia akan pergi sejauh jauhnya dari Jungkook tanpa dipaksa sekali pun.

"Fuck you, man!", Taehyung mengumpat kasar, memekik ketika Jungkook nyaris membanting lehernya ke dinding.

"Cukup!", Yoongi memelototi Jungkook memperingati. Situasi ini sudah sangat buruk dan Yoongi tidak membutuhkan sikap agresif Jungkook untuk memperparah keadaan mereka. "Kita antar saja bocah ini ke Seokjin, oke?".

Jungkook mendengus geram, ia berpaling ke jendela sembari mengacak rambut frustasi. Ia dan Yoongi sudah bertahan sekian lama dari The Infected dan para manusia kejam yang kehilangan empati. Semua, semua yang Jungkook korbankan untuk menjaga agar mereka berdua selamat, akan dipertaruhkan untuk seorang lelaki yang tidak mereka kenal.

"Bayaran yang kita dapatkan tidak akan setimpal, Hyung", Jungkook mengobrak abrik ransel Taehyung kurang ajar, mendapatkan pukulan tidak menyakitkan di kedua pundaknya. "Hei! Hei, kembalikan!", Taehyung menggigit tangan Jungkook yang menoleh marah. Taehyung hanya mampu berteriak ketika tubuh kurusnya terlempar ke lantai.

"Jungkook, sudah!", Yoongi menahan pria yang mengacak kumpulan komik Taehyung, menyobeknya hingga lelaki manis itu nyaris menangis. "Apa masalahmu?!", Taehyung hendak menarik tangan Jungkook ketika pria pemarah itu menemukan sebuah pistol, bersama dengan peta usang rumah sakit di Boston.

"Dimana kau mendapatkan ini?", Jungkook merebut pistol Taehyung yang berusaha mengambilnya sia sia. Baru satu langkah mendekat, lelaki gila itu sudah menendang perut Taehyung sampai terjatuh. Taehyung merintih sakit, memelototi Jungkook yang sangat dingin dan tak berperasaan.

"Aku harus tahu siapa kau dan mengapa Firefly menginginkanmu", Jungkook berlutut di samping Taehyung, menodongkan pistol pada kepala pria yang berteriak tidak habis pikir. "Apa kau bercanda?! Menjauh dariku!", Taehyung memundurkan langkah ketakutan. Meskipun Yoongi sudah melerai Jungkook, rekan kerjanya yang seperti orang sakit jiwa itu masih saja mengancam Taehyung.

"Aku tidak akan menolongmu kalau kau tidak berguna, Kim Taehyung", untuk sepersekian detik, Taehyung bisa melihat kesedihan dalam mata Jungkook, luka yang membekas dalam dan membuat pria itu terisolasi dari orang lain. Kemarahan dan rasa putus asa berkelebatan pada wajah Jungkook yang sekeras batu.

"S-Semua orang pernah kehilangan sesuatu", Taehyung menyuara bergetar, memaksakan diri untuk menatap bola mata Jungkook yang terlihat sangat rapuh dibalik perawakan tangguhnya, ketulusan hati seorang pria yang bersikap dingin untuk menghindari rasa sakit.

"Berhenti bersikap seperti bajingan, Jeon Jungkook!", Taehyung merebut pistolnya kasar, memasukkan senjata api itu ke dalam ransel secepat mungkin. Terakhir kali mesin pembunuh itu berada pada genggaman Taehyung, ia menewaskan seseorang yang ia cintai.

Mereka semua telah menderita untuk bertahan hidup. Mereka semua telah merasakan sakitnya kehilangan seseorang. Demi Tuhan! Semua orang yang pernah bersama Taehyung sudah mati atau meninggalkan Taehyung tanpa mengucapkan perpisahan sepatah pun. Taehyung mengerti apa kesendirian dan putus asa itu. Ia tidak akan membiarkan orang brengsek seperti Jungkook menyikapinya layaknya bocah kecil yang tidak punya otak.

"Oh, shit!", Yoongi menarik Taehyung keluar dari tempat persembunyian mereka ketika suara kendaraan bergemuruh diluar rumah, diikuti Jungkook yang merunduk dibalik mobil rongsokan dengan mesin yang tidak lagi berfungsi. "Menyingkir dari jalan, tentara perbatasan sedang berpatroli!", Yoongi menyelundup ke dalam semak semak, mengalau titik air hujan yang menghunjam dari cakrawala.

Jungkook membenci hujan, bau lembab yang merasuki hidungnya, langit mendung disertai gemercik air tiap ia melangkah. Jungkook merasa tegang sepanjang waktu, membayangkan suara tembakan itu kembali datang disertai bau darah. Suara kecil Jimin yang memanggil Jungkook, mengatakan betapa sakit ajalnya melalui tetes air mata.

"Jungkook!", Yoongi membuyarkan lamunan pria yang menggeleng muram. Mereka telah menghindari sorot lampu mobil patroli yang menggemuruh seperti badai di atas trotoar. Mereka bisa bersembunyi di dalam gedung, menunggu sampai petang tiba dan kembali berdiskusi akan penyelundupan kargo sialan itu.

"Ke dalam sini", Yoongi merunduk memasuki terowongan yang gelap gulita, Jungkook jalan mendahului, terkejut bukan main ketika sorot lampu senter dan teriakan menyerangnya dimulut terowongan. Seorang tentara meneriakkan perintah, menendang kaki Jungkook hingga ia jatuh berlutut tanpa senjata untuk perlindungan.

"On your knees!", Jungkook berpikir untuk menarik busurnya secepat kilat, ada tiga tentara patroli yang mengpung di kedua sisi, lengkap dengan senjata berlaras panjang. Kalau Jungkook berani mengambil resiko, ia bisa membunuh ketiga tentara itu, dengan kemungkinan besar menewaskan rekan kerja dan bocah ingusan yang menyimpuh takut di samping Jungkook.

"Kita hanya lewat, lepaskan", Yoongi berucap dingin, melirik tentara yang mengeluarkan alat pemindai dari sabuk perkakasnya. "Tenang, kami hanya perlu memastikan kalian tidak terinfeksi". Jungook menggeram ketika alat pemindai itu menyengat tengkuknya, bunyi bip nyaring menyatakan bahwa ia bersih dari wabah penyakit.

Yoongi menahan diri untuk tidak berbalik dan mencekik tentara yang memitingnya di tanah. Ia melirik Taehyung waswas, pria itu menunduk geram ketika tentara pengawas bergilir kepadanya. Jungkook menangkap pergerakan tangan Taehyung yang meraba saku celananya panik. Bocah itu impulsif dan tidak punya otak! Jangan sampai ia mengacaukan segalanya!

"Jangan menyentuhku!".

Oh, sial!

Taehyung berteriak geram, mencabut lepas pisau lipatnya dan menancapkan benda itu pada kaki tentara yang menjerit marah. "Fuck!", tentara berseragam itu menodongkan senapannya dalam satu kedipan mata, nyaris tidak ada waktu bagi Jungkook untuk mengangkat busur dan anak panah.

Tiga tembakan, para tentara itu pun tumbang.

Jungkook bernapas kasar, mendelik kepada Taehyung yang meringkuk ketakutan di mulut terowongan. "Apa apaan itu, hah?! Kau nyaris membunuh kami semua!", Jungkook mendekati lelaki yang menggeleng kencang, mencaci makinya akibat rasa panik yang kembali menyerang Jungkook. Bagaimana kalau tembakannya tadi meleset?! Bagaimana kalau Jungkook gagal melindungi mereka?!

"Tidak mungkin", Yoongi menggeleng frustasi. "Jungkook, lihat ini", Yoongi menyerahkan alat pemindai yang menyala merah setelah memeriksa Kim Taehyung. Tulisan 'Infected' menampar wajah Jungkook sangat keras. Ia berpaling kepada Taehyung yang terisak sembari meremas lengan kirinya di terowongan.

"Fuck, fuck, fuck!".

Yoongi menjambak rambutnya frustasi. Mengapa Seokjin tidak memberitahu mereka bahwa Taehyung sudah terinfeksi penyakit?!

"Apa yang kau mainkan, Bangsat?!", Jungkook meremas leher Taehyung yang memberontak sia sia. Kemarahan sudah menggerung dalam diri Jungkook, mendidih sampai puncak kepalanya. Tidak hanya mereka mempertaruhkan segala yang mereka miliki untuk menyelamatkan Taehyung, mereka juga harus membawa biang penyakit bersamanya.

"Untuk apa kita menyelundupkan bocah yang terinfeksi, hah?!".

"A-Aku tidak sakit!", Taehyung meronta ketika remasan tangan Jungkook menguat di sekeliling lehernya. Taehyung menarik napas panjang, menyingkap lengan jaketnya panik, "L-Lihatlah ini!", ia menunjukkan bekas luka gigitan yang mengelupas dan memudar.

"Aku tergigit tiga minggu lalu dan aku tidak berubah!".

"Bullshit!", Yoongi menggertakkan gigi, sudah cukup ia bersikap datar dengan bocah kurang ajar yang mengacaukan misi mereka. Yoongi pun menodongkan pistolnya pada wajah pucat Taehyung, siap menembak jika lelaki itu berani melakukan tipu daya lagi.

"Lelucon macam apa ini, Kim Taehyung?! Jangan berbohong!".

"A-Aku tidak berbohong, aku bersumpah!", Taehyung menahan tangis dan rasa frustasi ketika kedua pria itu menatapnya dengan keinginan besar untuk membunuh. Taehyung bukan wabah penyakit, ia bukan parasit yang harus disingkirkan. Taehyung menahan nyeri ketika Jungkook memelototinya seperti Taehyung adalah virus menjijikkan.

Taehyung tidak akan pernah membawa mereka untuk mati kalau ia sudah terinfeksi!

"A-Aku tidak sakit, oke?! A-Aku rasa…aku kebal".

"Omong kosong!", Jungkook menyumpahi Taehyung yang menguburkan wajahnya dalam tangis. Ia tidak boleh menyerah sekarang, semua orang sudah membuang Taehyung kesana kemari layaknya barang yang tidak berguna. Meskipun, Jungkook adalah pria tak berhati, mereka adalah satu satunya yang Taehyung miliki.

"K-Kumohon, Jungkook. Aku tidak berbohong kepadamu".

"Jungkook‒", Yoongi menahan dada pria yang nyaris melepas anak panah. Tidak terkejut lagi bagi Yoongi bahwa Jungkook tega membunuh orang orang yang tidak berdosa. Justru, ia lebih banyak membantai manusia daripada The Infected. Bagaimana Yoongi akan menyalahkan Jungkook? Park Jimin tewas akibat seorang tentara yang sedang menjalankan tugas.

"Bagaimana kalau ia mengatakan yang sebenarnya, Kook?".

"Apa?".

"Bagaimana kalau pada akhirnya, kita bisa menemukan sebuah penawar?", Yoongi meremas pundak pria yang memalingkan wajahnya tidak habis pikir. Jungkook merasa Yoongi bersikap sangat bodoh dan melunak kepada orang asing yang merupakan bom waktu bagi mereka berdua. Membawa Taehyung ke pusat kota dan berharap bahwa mereka akan selamat? Yoongi terlalu banyak bermimpi!

"Jungkook…kau sudah membuat janji".

Jungkook membeku, teringat Jimin yang membuatnya berjanji untuk terus bertahan. Untuk apa Jungkook hidup melawan infeksi sekian lama kalau bukan karena Jimin? Ia tidak mempunyai siapa siapa lagi, ia kesepian dan sudah menderita. Jungkook seringkali berpikir untuk meledakkan otaknya dengan pistol. Bukankah itu jalan termudah untuk pergi?

"Kita tidak mempunyai tujuan, Jungkook", Yoongi menarik wajah Jungkook agar menatapnya, mencari cari sisa kemanusiaan di dalam diri pembunuh yang hanya memikirkan dirinya sendiri. "Kau kira kita akan bertahan berapa lama sebelum Clickers atau para brengsek itu datang, hah? Satu bulan? Dua?".

"Kita bisa memulai kehidupan yang baru kalau kita menemukan sebuah penawar, Jungkook! Bukan hanya kau dan aku‒", Yoongi mengertakkan gigi. "Tapi kita semua!".

"Semua orang?", Jungkook mendengus geli. "Apa yang mereka pernah lakukan untukmu, Yoongi? They don't give a shit about us!".

Jungkook berteriak ketika Yoongi membantingnya ke dinding terowongan secara tiba tiba. Min Yoongi teringat ibunya, wanita yang menjadi penopang hidup dan satu satunya harapan seorang bocah tak berarti untuk meneruskan hidup. Mereka bukan orang penting, mereka seperti noda yang harus dihapuskan dari bumi.

Yoongi dan ibunya melawan seluruh dunia. Hingga dunia berkata lain dan memberikan infeksi pada otak wanita itu. Yoongi menemukan ibunya menangis di kamar, berkata bahwa ia merasa bukan dirinya sendiri lagi, bahwa ada sesuatu yang menggerogoti otak dan akal sehatnya.

Wanita itu pun bunuh diri dengan kedua mata terlepas, memohon kepada Yoongi agar ia tidak pernah menyerah. Bukan hanya Yoongi, namun, sangat banyak orang yang telah kehilangan keluarganya akibat penyakit ini. Kalau ada kesempatan bagi umat manusia untuk menemukan sebuah penawar‒sekecil apapun!‒Yoongi tidak akan membuangnya sia sia.

"Aku akan mengantarkan dia ke Firefly, Jungkook", Yoongi mendesis dingin.

"Dengan atau tanpamu".[]