III
Jungkook menggeleng muram ketika kakinya melangkah ke dalam sekolah tua. Pertama, mereka harus bersembunyi dari The Infected yang bertambah agresif pada malam hari. Kedua, mereka harus segera pergi setelah menewaskan tiga tentara patroli karena aksi Taehyung yang sangat bodoh. Jungkook hanya bisa berjuang dengan harapan bahwa semua lelucon akan kekebalan Kim Taehyung itu benar. Meskipun, Jungkook sudah terlalu kecewa untuk berharap lagi.
Mau tidak mau, Jungkook harus mengikuti keinginan tak masuk akal Yoongi. Sebelum Jimin, Jungkook selalu mengandalkan Yoongi yang sudah seperti kakak lelaki baginya. Ibu Yoongi pun memperlakukan Jungkook seperti anak kandung, hanya satu yang pernah ia minta kepada Jungkook.
'Yoongi itu orang yang sulit, terkadang ia membuat keputusan yang salah. Berjanjilah kepadaku kau akan membimbingnya, tidak peduli apa yang terjadi'
Jungkook hanya pria biasa yang memiliki ego dan keinginan besar untuk bertahan hidup. Ia sudah membiarkan Jimin tewas di tangan seorang manusia, ia tidak akan membiarkan hal yang sama terjadi kepada Yoongi. Meskipun mereka tidak melakukan afeksi, Min Yoongi adalah orang terdekat Jungkook dan Jungkook rela membawa Taehyung melewati perbatasan kalau itu bisa menyelamatkan Yoongi dari keputusan irasionalnya.
"Menyingkir! Taehyung, merunduk!", Yoongi menembak The Infected yang menyeruak dari pintu sekolah. Mereka Runners, belum lama terinfeksi dan tubuhnya masih memiliki sisi kemanusiaan. Jungkook mendelik kepada Taehyung yang bersembunyi takut dibalik mobil tua, membidik anak panah kearah orang berpenyakit yang berlarian liar sembari menjerit.
"Sial, tempat ini sepertinya sarang The Infected!", Yoongi menghela napas kasar, meraih anak panah Jungkook yang selalu ternoda oleh darah. Merah maupun hitam, panah keperakan itu hanya tahu bagaimana caranya untuk membunuh. "Kita harus melewati sekolah ini untuk mencapai pusat kota, jalan besar sudah dipenuhi tentara pengawas".
Jungkook mengangguk, mencium bau lembab jamur yang menyeruak dari lorong sekolah. Bangunan sangat luas dan bertingkat tingkat, Jungkook hanya mampu menggeleng ketika ia melihat Spores yang berterbangan seperti kabut. Spores dikeluarkan dari jamur dalam bentuk serbuk kekuningan, menyebar layaknya asap yang akan menginfeksimu dalam satu tarikan napas.
"Kau bawa masker, kan, Hyung?", Jungkook lega ketika Yoongi mengangguk.
Dapat dipastikan, ada lusinan The Infected yang bersemayam di dalam sekolah, hari demi hari tak menyadari perubahan diri mereka. Betapa mengerikan, kau masih hidup tapi dikendalikan oleh parasit yang lambat laun menumbuhi tubuhmu dengan jamur.
"Berhati hatilah, kalian tidak mau terinfeksi atau‒".
Jungkook menoleh tegang ketika Taehyung menjerit. Tubuh kurusnya terjatuh karena memijak lantai yang rapuh, bergulingan ke bawah tanah dan merintih sakit. "Shit!", Yoongi melompat turun tanpa berpikir panjang, mengabaikan umpatan Jungkook akan kebodohan Taehyung yang selalu saja membuat masalah. Jungkook lebih dari panik terpisah dari Yoongi. Mereka begitu dekat hingga melepaskan pria itu dari sisinya saja membuat Jungkook waswas dan tidak fokus.
"Hyung, apa yang kau lakukan, sih?!".
"Temui aku di sisi luar, oke?! Jaga dirimu, Jungkook!".
"Hyung‒!".
Yoongi menghalau kecemasan Jungkook dengan anggukan mantap. Ia menarik Taehyung bangun, meskipun pria itu hanya mengerang ketakutan sembari meremas lengan Yoongi. Meninggalkan Jungkook sendirian membuat jantung Yoongi berpacu liar, tapi ia mengerti kesempatan bertahan Jungkook jauh lebih besar daripada Taehyung. Jika dibandingkan, seperti bumi dan langit.
Jika harus jujur, tentu saja Yoongi lebih memilih untuk bertarung di sisi Jungkook. Kalau boleh jujur, ia tidak ingin dibebani nyawa orang asing yang hanya mengandalkan dirinya. Namun, Yoongi sudah cukup dewasa untuk mengerti bahwa mereka tidak mempunyai pilihan lain. Yoongi harus membiarkan Jungkook menemukan jalan keluar sendiri dan menjaga Taehyung di atas nyawanya.
Tidak mudah memikirkan kepentingan orang lain, namun, Yoongi akan melakukan itu untuk keberlangsungan hidupnya dan Jungkook. Jungkook pernah bercerita bahwa ia memiliki hasrat dalam seni, keterampilan pria itu juga tidak mengecewakan. Yoongi membayangkan Jungkook yang terlumuri cat alih alih darah di teras rumah mereka, Jungkook terfokus kepada lukisan alih alih pada kepala manusia yang harus ia bidik.
"A-Apa…apa Jungkook itu adikmu?".
Yoongi menahan senyum mendengar pertanyaan Taehyung yang mengikutinya takut takut. Sebenarnya, Jungkook itu siapa bagi Yoongi? Ia tidak bisa mengatakan. Mereka bertiga sudah kenal sejak kecil, Jungkook dan Yoongi selalu menjaga Jimin, tidak pernah membiarkan malaikat kecil mereka terluka.
Yoongi sering tertawa melihat sikap Jungkook yang terpaksa dewasa. Jungkook selalu menjaga Jimin meskipun ia lebih muda, memastikan lelaki manis itu makan tepat waktu, dan tidak ada penindas kurang ajar yang berani melukainya.
Yoongi dan Jungkook? Ia tetap tidak tahu hubungan mereka. Yoongi hanya mengerti bahwa kematian Jimin melukai mereka berdua sangat dalam. Ia tidak pernah melihat Jungkook menangis, namun, pria itu menjerit sangat kencang ketika Jimin terkulai tak bernyawa di pelukan Jungkook. Setelah itu, mereka tidak pernah lagi membicarakan Jimin, tidak sekali pun.
Sesuatu yang buruk terjadi dan mereka harus melupakannya. Mereka harus menganggap bahwa Jimin tidak pernah ada.
Sudah menjadi tugas Yoongi untuk mengisi kesedihan Jungkook. Meskipun, yang bisa ia berikan bukanlah kasih sayang namun perlindungan. Yoongi harus mengajarkan Jungkook cara membidik alih alih memelukinya sembari menonton televisi. Ia akan memberi tahu Jungkook bahwa jangan pernah ragu ketika merampas nyawa orang lain. Semuanya antara Jungkook dan musuhnya.
Membunuh atau dibunuh.
"Kau kebal, kan?", Yoongi meraih masker gas dari dalam ransel, Taehyung mengangguk sembari memperhatikan pria pucat itu menutupi sebagian wajahnya dengan masker berwarna hitam. "Lihat Spores itu? Aku akan terinfeksi kalau sampai menghirupnya. Kau kebal, Taehyung, tapi, The Infected tetap bisa membunuhmu".
Taehyung terkesiap ketika Yoongi menggamit tangannya, seperti tidak bisa melepaskan Taehyung satu detik pun. Taehyung ingin berharap bahwa Yoongi peduli, meskipun ia tahu kedua penyintas yang membawanya hanya menginginkan sebuah imbalan. Taehyung masih bisa melihat kemanusiaan dalam diri Yoongi, namun, Jungkook? Hati pria itu sudah sedingin es.
"Hei, jangan melamun", Yoongi menyenggol pundak Taehyung dengan gagang senapan. Taehyung tersentak, mengangguk malu ketika sadar bahwa ia memikirkan Jungkook. Ah, ia tidak peduli apa yang telah menimpa brengsek itu. Taehyung tidak akan menoleransi sikap menyebalkan dan egoisnya. Jungkook, ia, semua orang pernah dikecewakan dan disakiti. Tidak ada yang bisa membenarkan perilaku tak berhati Jungkook.
"Tae? Kau oke?", Yoongi kembali menyadarkan Taehyung dari lamunan. Yoongi tertawa kecil, menyadari kegundahan pada wajah Taehyung. "Jangan khawatir akan Jungkook, dia memang seperti itu".
"A-Aku‒", Taehyung menjawab gelagapan, ia mempercepat langkah ketika Yoongi menyisir bangunan secara berhati hati. "Aku tidak memikirkan Jungkook! Tidak sama sekali! Aku‒", Yoongi berpaling ketika Taehyung menjatuhkan setoples kaca yang berserakan di lantai. Suara pecahan membahana di seluruh sekolah, Yoongi hanya mampu mengumpat ketika suara jeritan menyusul dengan langkah kaki menggebu nggebu.
"Sial! Mereka mendengar kita!", Yoongi menarik Taehyung yang nyaris tersandung ketika berlari. Lolongan liar menyongsong mereka seperti bencana, Yoongi melihat The Infected menyeruak dari lorong sekolah sembari menggerung histeris. "Masuk sini!", Yoongi menendang pintu aula hingga terbuka lebar, menarik Taehyung yang berusaha bernapas disela sela paniknya.
"Come on! Come on!", Yoongi membanting pintu ketika The Infected mencakar cakar dari luar. Yoongi bernapas kasar, menahan beban di pintu dengan kedua pundaknya yang kecil. "Taehyung, dorong meja itu! Taehyung!", Yoongi mengumpat ketika Taehyung justru menggeleng ketakutan. Pria manis itu menjauh dari pintu, meskipun Yoongi bersusah payah menahannya sembari menyeret meja sebagai blokade.
"Taehyung! Menjauh dari‒", Taehyung menjerit ketika seorang wanita memecah jendela aula dan merangkak masuk. Taehyung berteriak teriak kehilangan akal, menahan leher perempuan yang memuntahkan darah hitam ke wajahnya. "Yoongi!", Taehyung berteriak histeris, wanita itu menubruknya ke lantai, mencakar cakar lengan Taehyung yang tidak bisa bergerak. "Yoongi, t-tolong!".
Min Yoongi melebarkan bola matanya panik, ia menggeram, menyeret The Infected dari atas Taehyung dan meledakkan otaknya. Ia membeku ketika derit meja terdengar, kemudian gedoran liar seiring dengan pintu aula yang dibobol terbuka oleh para orang berpenyakit.
"Taehyung, lari!", Yoongi menarik kerah jaket Taehyung yang bangkit sempoyongan. Ia memecah jendela di sisi kiri aula yang langsung menghadap pada lapangan sekolah. "Berikan tanganmu!", Yoongi melesakkan tubuh kecilnya keluar, menarik tangan kurus Taehyung yang tidak berhasil meloloskan dirinya akibat panik.
"Taehyung, jangan lihat mereka! Lihatlah aku!", Yoongi menggertakkan gigi, Taehyung memejamkan mata ketakutan, meremas tangan Yoongi yang licin akibat berkeringat. Taehyung hanya bisa mempercayakan nyawanya kepada Yoongi ketika ia melompat keluar jendela, mengabaikan The Infected yang melolong seperti hewan buas.
"Sial!", Yoongi melihat dua wanita dan satu pria yang menahan kaki Taehyung dari dalam. Taehyung menangis kencang, mencakar cakar lengan jaket Yoongi diambang hidupnya. Yoongi mengisi kembali peluru senapannya, berteriak ketika satu pria berhasil menghindar dan menubruknya ke dinding.
"Yoongi!", Taehyung mencari barang yang cukup keras ketika lelaki berpeyakit itu mencakari wajah Yoongi yang tertutup masker. Yoongi menggeram menahan sakit, menendang perut pria yang mencoba menggigit pundaknya dengan infeksi. "Taehyung, lari! Temukan Jungkook!".
Taehyung menggeleng, meraih batu bata dengan jemarinya yang gemetaran. Ia mendekati Yoongi yang berjuang keras mendorong The Infected dari atas tubuhnya yang kalah besar. Yoongi bernapas sesak, merasakan paru parunya tercekik pada tiap tarikan napas. "Taehyung‒!".
Taehyung berteriak membabi buta, membantingkan batu bata pada kepala pria yang melolong liar. Satu kali, dua kali, tiga kali, hingga kepingan bata itu retak pada genggaman Taehyung. Noda kehitaman mengaliri jemari Taehyung yang gemetaran di tanah. Ia bernapas cepat, menatap Yoongi yang terbatuk dan memaksakan kedua kakinya untuk bangkit.
"Hei, Hei, Taehyung. Kau oke?".
Taehyung membeku, Yoongi harus bertanya sebanyak tiga kali hingga Taehyung mengangguk kalut. Ia memeriksa tubuh Yoongi, merasa luar biasa lega ketika tidak menemukan satu pun luka gigit di tubuhnya.
"Nah, ayo, mari cari Jungkook", Yoongi menarik Taehyung bangun, pria manis itu nyaris jatuh di langkah pertamanya. Yoongi menghela napas panjang, berusaha menarik Taehyung yang mengalami syok berat dan ketakutan.
"Kau bisa berjalan, kan?", Yoongi menggenggam tangan Taehyung yang gemetaran hebat. Ia menyusuri lapangan sekolah yang gelap gulita, berusaha mengatur napasnya yang terasa kian mencekik setiap waktu.[]
Jungkook menyandarkan tubuhnya pada dinding sekolah, merasakan lelah setelah berlari dari biang peyakit yang mengejarnya seperti seekor mangsa. Jungkook mendengus kasar ketika melihat tiga anak panah yang patah dan tak bisa lagi digunakan. Jungkook mampu saja menghabisi lebih banyak The Infected kalau ia tidak memutuskan untuk lari.
'Keselamatanmu jauh lebih penting dari pertumpahan darah, Jungkook', itu yang selalu Yoongi katakan ketika sisi binatang Jungkook lepas kendali. Pria berwajah pucat itu yang menjaga emosi Jungkook agar tetap stabil, menahan haus darah dan kekejamannya demi melindungi kemanusiaan Jungkook yang kian menipis. Mungkin, ia tidak terinfeksi jamur, namun cepat atau lambat Jungkook akan berubah seperti binatang.
Tidak bisa berpikir dan hanya mempercayai insting.
Yoongi pernah berkata, bunuh sebanyak yang kau bisa, namun, harus mengerti situasi dan kemungkinanmu untuk selamat. Jika musuh terlalu banyak, maka berlarilah dari pertarungan, bersembunyilah dan biarkan musuhmu pergi. 'Harga diri tidak sepenting nyawamu, Jungkook', Jungkook mendecak ketika rasa cemasnya terpisah dari Yoongi kian membubung.
"Hyung bodoh!", Jungkook mengumpat, menekuri anak panahnya dengan kukunya yang tidak dibersihkan, mengguratkan cakaran cakaran kecil agar kekhawatiran Jungkook tidak membuatnya gila. Jungkook mengusap wajahnya yang ditutupi masker gas, bernapas pengap ketika tak ada tanda tanda kehidupan selain dirinya yang bersembunyi di belakang pilar seperti pengecut.
"Sial, dimana kau, Hyung?!".
"Itu dia!", Jungkook terkejut ketika suara berat Yoongi terdengar dari lorong sekolah. Jungkook membeku ketika melihat pria berkulit pucat yang berlari sembari menggenggam tangan Taehyung. Senapan di tangan kanan, menyembunyikan darah diwajahnya yang bermasker. Jungkook tidak peduli ketika kedua kakinya berlari begitu cepat, memeluk Yoongi dan nyaris menjatuhkan pria kecil itu.
"Hei! Hei, Jungkook!".
Jungkook menggeleng tak mau melepaskan, tak peduli akan keterkejutan Yoongi dan Taehyung yang baru saja melihat sisi rapuh Jungkook, dirinya yang seperti bocah dan merindukan Yoongi lebih dari apa pun.
"Jangan pernah meninggalkan aku lagi, Hyung!", Jungkook menggeram pilu, "Jangan pernah membuatku cemas lagi, Bangsat!".
Yoongi terkesiap ketika Jungkook menguburkan kepalanya pada leher Yoongi. Napas pria itu tidak stabil, bahkan tubuhnya sedikit bergetar ketika bersentuhan dengan kulit Yoongi. Yoongi hendak menusurkan jemarinya pada rambut kelam Jungkook, memberinya usapan lembut ketika ia mengurungkan niat.
Tidak ada waktu untuk ini.
"Kita harus pergi. Sekarang", Yoongi melepaskan tangan Jungkook yang masih mendekapnya. Ia berpaling terkejut ketika suara mobil patroli terdengar mendekati sekolah. "Sial!", Yoongi mengumpat ketika ia melihat sepasukan tentara yang menyusuri bangunan sekolah. Tidak, mereka kalah jumlah dan tidak mungkin bisa pergi dengan selamat.
Kali ini, mereka tidak bisa lagi menghindari ajal.
"Aku akan menahan mereka".
"A-Apa?!".
"Bawa Taehyung bersamamu, aku akan memberi kalian waktu sebanyak mungkin!", Yoongi menggertakkan gigi ketika suaranya bergetar, ia berusaha mengenyahkan rasa takut ketika mengisi ulang peluru dengan jemari kebas.
"H-Hyung, kau bicara apa, sih?!".
"Bawa dia pergi, Jungkook!", Yoongi meremas rambutnya ketika air matanya nyaris mengalir. Rasa frustasi Yoongi membubung tatkala Jungkook mencengkeram kedua pundaknya kencang, memaksa Yoongi menatap bola mata pria yang cokelat hangat dibalik lapisan es di hatinya.
Mengapa Jungkook sangat tega kepada Yoongi?!
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Hyung!".
"Kau tidak mengerti Jungkook! Antarkan saja dia ke Firefly, Demi Tuhan!", Yoongi mendorong Jungkook kasar, memelototinya ketika pria keras kepala itu kembali menarik tangan Yoongi kukuh. "Ya Tuhan, Jungkook!", Yoongi mendesis putus asa. "Lindungilah dia!".
"Kenapa, Hyung?!".
"I'm a dead man, for godsake!". Jungkook membeku ketika Yoongi menarik lepas maskernya kasar. Seluruh bumi runtuh dibawah kaki Jungkook ketika ia melihat urat kehitaman yang menyembul pada leher Yoongi, menjalar sampai ke sisi wajahnya. Warna busuk berpenyakit itu seperti menggores jantung Jungkook, sangat hitam di atas kulit Yoongi yang pucat pasi.
"H-H-Hyung‒".
"Maskerku rusak", Yoongi menatap Jungkook nanar. "Aku sudah menghirup Spores".[]
Jungkook merasakan seluruh tenaganya terkuras habis. Ia kembali terbayang Jimin yang terlontar jatuh dengan peluru melubangi perut. Kini, Yoongi berdiri dengn tubuh rapuh yang terserang penyakit. Kepala Yoongi terasa semakin pusing ketika ia menatap wajah Jungkook yang tersakiti. Mengapa semuanya berputar di sekeliling Yoongi?
"Jangan berani beraninya kau, Hyung!", Jungkook menangkap tubuh Yoongi ketika pria itu nyaris terjatuh, memeluknya seperti ia mendekap Jimin yang berjuang keras untuk menarik napas. "Jangan lakukan ini kepadaku, Bajingan! Kau mendengarku, hah?! Jangan menyerah, Brengsek!", semua yang Jungkook miliki, semua orang yang ia pedulikan. Apakah Tuhan ingin mencabut seluruh perasaan Jungkook? Apakah ia harus menghilangkan semua rasa pedulinya agar sakit itu tidak pernah datang?
Rasa sakit akan kehilangan.
"Bocah itu…digigit tiga minggu lalu dan tidak berubah, Jungkook. Lihatlah aku!", Yoongi membentak frustasi. "Satu jam lewat dan infeksiku sudah bertambah parah!…Kim Taehyung memang kebal".
Jungkook tidak ingin mendengar semua itu, Jungkook tidak peduli apakah Taehyung kebal dengan penyakit yang menyerang umat manusia seperti kiamat. Jungkook hanya peduli dengan orang yang masih berada di sisinya. Kini, Yoongi bernapas sesak dengan tatapan mata yang semakin liar, kewarasan yang semakin hilang seiring dengan berjalannya waktu.
"Kau harus mengantarnya kepada Firefly, Jungkook…", Yoongi meremas tangannya. "Apa kau mengerti?".
Jungkook tidak bisa menahan kedua tangannya yang memeluk Yoongi semakin erat, isak tangisnya nyaris mengalir ketika rasa takut Jungkook membayanginya dalam trauma masa lalu. Jungkook melesakkan kepalanya pada dada Yoongi yang semakin lunglai, menangis lelah setelah sekian lama bersikap tangguh. Tidak, Jungkook hanyalah manusia biasa, ia bisa merasakan takut, ia bisa merasa sakit dan ia akan menangis ketika terluka.
"Pergilah, Jungkook…mereka semakin dekat".
"T-Tidak! Tidak, Hyung! TIDAK!", Jungkook terkejut ketika Yoongi menamparnya sangat keras, pelukan Jungkook terlepas akibat dorongan kasar pria yang memelototinya penuh emosi.
"Jangan bersikap seperti anak kecil, Jeon Jungkook! Hidupku, hidupmu, tidak ada yang berarti! Kita akan mati pada waktunya tapi tidak dengan Kim Taehyung!", Yoongi menarik napas pendek pendek, menatap wajah Jungkook yang merah dan bersimbah air mata. Rasa sakit nyaris membuat Yoongi tercekik, ia ingin mendekap Jungkook, ingin mengatakan bahwa infeksi ini sangat menyakitkan. Ia ingin memohon agar Jungkook terus berada di sisinya, Yoongi ingin menangis bahwa ia tidak mau berubah seperti mereka, ia tidak ingin menjadi The Infected.
Yoongi ingin mengatakan kepada Jungkook bahwa ia sangatlah takut.
"Just go, Jungkook", Yoongi mendorong pria yang hendak memeluknya lagi.
"Just fucking go".[]
