IV

Jungkook memaksakan kedua kakinya menaiki tangga sekolah, menjauhi pria yang menodongkan senapan kearah pasukan tentara patroli. Ini hanya hari yang buruk, Jungkook memiliki tugas untuk mengantarkan Taehyung kepada Firefly, tugas yang harus diselesaikan untuk menghargai pengorbanan Yoongi.

Jungkook tercekat ketika suara tembakan dan jeritan bercampur menjadi satu. Ia meremas busurnya tatklala suara serak itu merintih kesakitan diantara teriakan mereka. Ini hanya satu diantara penderitaan yang harus Jungkook lewati. Dirinya, Min Yoongi, mereka adalah nyawa nyawa yang bisa dikorbankan. Keberadaan mereka tidaklah penting, hari demi hari orang orang seperti Jungkook mati, ayah yang kehilangan anaknya, keluarga hancur karena kematian seseorang.

Jungkook hanya perlu melupakan bahwa semua ini pernah terjadi. Park Jimin, Min Yoongi, untuk apa Jungkook bersedih akan sesuatu yang sudah tidak bisa lagi diselamatkan?

"A-Aku…Aku minta maaf".

Jungkook terhenti ketika suara kecil Taehyung terdengar. Sepatu bot para tentara menyusuri bangunan sekolah, menyumpahi mayat yang menewaskan sebagian dari anggota mereka. Kedua kaki Jungkook membeku melihat tubuh Yoongi yang tergeletak dengan pandangan kosong, darah itu…kubangan darah itu…

"Bangsat kau!", Taehyung menjerit ketika Jungkook membantingnya ke dinding sekolah, para tentara bergumul dan menyusuri lantai dua setelah mendengar teriakan Jungkook.

"J-J-Jungkook, mereka mendengar kita! Jungkook‒!".

"Shut the fuck up!", Jungkook membanting kepala Taehyung lebih keras, merasa puas ketika pria manis itu memejamkan mata kesakitan.

Jungkook tahu bahwa Yoongi bukan orang yang ceroboh, ia tidak mungkin melewati Spores dengan masker yang rusak. Infeksi Yoongi merupkan sebuah kesalahan, kesalahan seseorang yang kini menatap Jungkook dengan wajah pucat pasi.

"Katakan apa yang terjadi, Kim Taehyung!", Jungkook meraih pistol dengan jemari yang gemetaran. "Katakan sebelum aku membunuhmu!".

Taehyung kehilangan suaranya ketika mata tajam Jungkook menatapnya penuh duka dan amarah. "M-Maaf…", Taehyung menangis tersedu sedu, tercekat ketika laras pistol Jungkook bergilasan dengan kepalanya. "M-Maafkan aku, Jungkook!".

Apakah berguna bagi Taehyung untuk memohon? Taehyung nyaris tidak bisa melihat empati di wajah Jungkook yang liar dan dipenuhi bercak darah. Mungkinkah Taehyung dapat menyadarkan bajingan tak berhati ini bahwa semua nyawa itu tidak boleh dibuang? Jungkook tidak mempunyai hak untuk merampas hidup Taehyung, meski Taehyung sadar kalau kematian Yoongi juga salahnya.

Jungkook tercekat ketika Taehyung menangis tak berdaya, mengatakan kepada Jungkook bahwa ia tidak sengaja menewaskan Yoongi ketika berkelahi dengan The Infected.

Tidak sengaja? Jungkook mendengus geli. Katakanlah itu kepada mayat yang berkorban untuk mereka di lantai dasar!

Jungkook menggeram ketika langkah kaki para tentara semakin mendekat. Tak lama lagi, sorot senter itu akan menemukan mereka dan para tentara akan membunuh Jungkook beserta Taehyung.

"Jangan pernah berpikir aku akan melupakan ini, Kim Taehyung", Jungkook melesakkan pistolnya ke sabuk kulit. "Satu satunya orang yang kumiliki telah pergi", Jungkook mendesis tajam sembari menyeret Taehyung keluar sekolah.

"Dan aku menyalahkanmu".[]

Taehyung nyaris kehabisan napas ketika Jungkook membawanya berjalan ke dalam hutan. Ia merapatkan jaketnya menahan hawa dingin seiring dengan musim yang nyaris mencapai akhir. Taehyung mengamati dalam diam ketika Jungkook berlutut di samping sungai, mengisi perbekalan air mereka dan membersihkan wajahnya yang ternoda darah.

But can he wipes that much red?

Jungkook tidak bisa menghitung berapa banyak nyawa yang terenggut oleh kedua tangannya. Ia menatap pantulan wajahnya di riak air dengan muram. Luka sayat yang mengingatkan Jungkook akan pertarungan yang ia lewati bersama Yoongi. Noda darah yang mengingtkan Jungkook bahwa ia hanya makhluk yang dipenuhi limpahan dosa.

Apa yang bisa Jungkook lakukan tanpa Yoongi? Tanpa seseorang yang selalu mengajarkan Jungkook cara untuk bertahan, memberi pandangan hidup yang masuk akal, menegurnya ketika Jungkook melakukan kesalahan. Jungkook ingin kembali pada masa ketika Yoongi mengajarinya cara memasak, memarahi Jungkook yang tidak sengaja menjatuhkan Jimin dari kursi.

Jungkook nyaris tidak bisa mengingat semua itu.

Benak Jungkook hanya terisi oleh Min Yoongi yang telah dewasa, seorang penyintas yang selalu berada di sisi Jungkook. Pria tangguh yang akan meluruskan Jungkook bila ia salah melangkah. Bajingan bodoh yang mengorbankan nyawanya untuk dirinya dan Taehyung.

"J-J-Jungkook?", Jungkook bernapas kasar ketika suara kecil Taehyung kembali merobek gendang telinganya seperti pisau. Jungkook berpaling geram, air masih menetesi rambut dan wajahnya yang berbercak darah. Taehyung menelan ludah gugup, memundurkan langkah ketika tatapan setajam silet itu merampas seluruh nyalinya.

"Apa maumu?".

"A-Aku…aku ingin meminta maaf tentang Yoon‒".

Taehyung berteriak ketika Jungkook menarik kerah jaketnya kasar, mengangkat tubuh Taehyung hingga kedua kakinya tak mampu berpijak pada tanah. "J-Jungkook!".

"Jangan pernah menyebutnya lagi!", Jungkook mendesis geram. "Jangan pernah, sekalipun, kau menyebut namanya, mengerti?!".

Taehyung tahu bahwa menangis hanya akan membuat Jungkook semakin marah, pria itu membenci kelemahan dan Taehyung adalah definisi akurat dari itu. "J-Jungkook, kumohon! Aku tidak sengaja! Y-Yoongi menolongku dan‒".

"Jangan sebut namanya, Bangsat!", Taehyung gemetaran hebat ketika tangan Jungkook mulai mencekik lehernya. Taehyung menahan sekuat tenaga untuk tidak terisak, menekan rasa takutnya dan menendang perut Jungkook.

Taehyung bernapas banyak banyak ketika tubuh kurusnya terjatuh pada bebatuan sungai. Jungkook menggeram akan kekurangajaran Taehyung yang balik melawannya. Sakit pada perut Jungkook akibat tendangan bocah itu nyaris tidak terasa, namun, kekesalannya pada Taehyung sudah menumpuk.

"Kematian Min Yoongi bukanlah salahku! I-Ia menyelamatkan kita, Jungkook!", Taehyung nyaris bungkam ketika nama itu berhasil merubah wajah Jungkook menjadi sepucat kertas, bahkan, lebih mengerikan dari para pemberontak yang membunuhi anak kecil di sisi jalan.

"I-Ia tidak egois sepertimu! Y-Yoongi tahu bahwa aku‒", Taehyung menjerit ketika Jungkook melemparnya ke dalam sungai. Tubuh Taehyung terlontar bagai ranting tak berbobot, tercebur ke dalam air sedingin es yang membuat pria itu menggigil hebat.

"J-Jungkook!", Taehyung memekik panik, mengerakkan kaki dan tangannya membabi buta ketika seluruh bumi serasa menariknya turun, "T-Tolong!", Taehyung tidak mampu bernapas, menjeritkan nama Jungkook yang memelototinya kejam. "A-Aku tidak bisa berenang! Tolong!".

Jungkook membeku sepersekian detik, mengamati tubuh Taehyung yang tenggelam dengan gelembung napas menyeruak di permukaan sungai. "K-Kumohon, Jungkook!", Taehyung meraih raih ketika wajahnya terseret ke dalam air, terus mencapai puncak kepala.

"A-Aku tidak bisa berenang!", Jungkook memandangi tangan kurus Taehyung yang terjulur ke atas sungai, tak berdaya ketika air sudah mengisi paru parunya yang seperti hendak meledak.

"J-J-Jungk…".

Sialan!, Jungkook menarik napas sedalam dalamnya sebelum melompat ke pusaran air. Jungkook tahu bahwa seharusya ia tidak peduli, biarkan saja Taehyung tenggelam dan membeku di sungai, biarkan mayat bocah itu membengkak tanpa ada yang mengerti bahwa ia bahkan meninggal.

Namun, Jungkook menemukan dirinya berenang semakin dalam, meraih tubuh Taehyung yang tenggelam tak berdaya dengan mata terpejam rapat. Jungkook tak menyangka ketika dirinya menarik Taehyung ke dalam pelukan, meski ia begitu membenci pria kebal yang telah menewaskan satu satunya orang yang Jungkook miliki.

Jungkook terbatuk batuk setelah menyeret Taehyung ke tepi sungai, membantingkan tubuhnya di bebatuan begitu saja. Jungkook menarik napas, tak sudi memberikan pertolongan kepada pria yang tak sadarkan diri dengan wajah tersiksa.

Oh, biarlah! Persetan dengan Firefly, biarkan Taehyung mati dan penawar tidak pernah ditemukan. Biarkan dunia yang begitu busuk ini hancur seisinya! Ambil saja nyawa Jungkook agar ia tak harus lagi menderita dan berjuang.

Jungkook berpaling ketika Taehyung terbatuk keras, memuntahkan air dari mulutnya sembari membungkuk di tanah. "J-J-Jungkook…", Jungkook mematung ketika Taehyung merangkak lemah, wajahnya menyesal, namun, hazel itu dipenuhi rasa terimakasih.

"T-Terimakasih telah membiarkanku hidup satu hari lagi, Jungkook", Jungkook terdiam ketika Taehyung memberikan senyum kecil, sebuah senyuman yang tidak pernah Jungkook lihat di wajah orang lain. Hanya rasa sakit, kepedihan, amarah, dan kebencian yang selalu berkilas pada sisa penyintas di bumi ini.

Namun, Taehyung…mengapa ia tersenyum?

"Orang lemah macam apa yang tidak tahu caranya berenang, hah?", Jungkook mendengus ketika Taehyung tertawa menyesal, ia menyeret pria itu bangkit, nyaris tak meliriknya ketika Jungkook merapikan ransel dan perlengkapan.

"Jungkook?".

Apalagi, sih? Jungkook mendesis sebelum berpaling.

"…Aku yakin kau bisa tersenyum".

Jungkook tersentak mendengar ucapan Taehyung, merasa hatinya diremas berulang kali ketika wajah manis Jimin terus saja terlintas dalam benaknya. Jungkook selalu bersikap seperti ia yang paling tangguh, Jungkook bersikap layaknya tidak ada yang bisa menyakiti perasaannya dan ia tidak peduli. Karena setitik saja kasih sayang, maka Jungkook akan menyadari betapa kosong dirinya itu.

"Jalan", Jungkook berujar ketus kepada Taehyung yang mengangguk muram, mendahului pria itu memanjat bebatuan yang dipenuhi lumut. Apakah Jungkook akan berjuang demi orang asing yang hanya bisa merepotkannya? Tentu saja tidak. Namun, Jungkook akan mengantarkan Taehyung kepada Firefly.

Ia tidak peduli jika penawar tidak ditemukan. Jungkook hanya harus memenuhi keinginan Yoongi, dan setelah tugasnya selesai…pada akhirnya, Jungkook bisa menyerah.

Jungkook menghela napas panjang, menatap sebuah papan penanda jalan yang sudah rusak dan ditumbuhi tanaman rambat. Sebuah lambang capung dilukis dengan cat seputih tulang, lambang yang memberikan harapan palsu bagi orang orang bodoh yang masih saja berimpi bahwa dunia akan kembali seperti semula.

Jungkook tersenyum kecut, mengabaikan tulisan dan lambang Firefly yang dipampang besar besar di samping bebatuan.

'Seek for the light'

'Believe in the Fireflies'.[]