V

Lampu dalam kamar Taehyung dipadamkan seluruhnya, menyisakan pria kurus kering yang terbaring menggigil di kasur susun. Dunia berada pada ambang kehancuran, Cordyceps sudah menginfeksi banyak orang yang dikenalnya, menyisakan Taehyung yang harus berpindah kesana kemari dan tidak diterima karena terlalu lemah. Mereka bilang Taehyung tak berpengalaman dan bodoh, seorang bocah tak berguna.

Apa salah kalau Taehyung merasa takut?

"Kena kau!", Taehyung menjerit ketika seorang pria menggigit lehernya dengan batuk menjijikkan. Taehyung menepis bantalnya secepat kilat, meraih pisau lipat yang ia sembunyikan di bawah kepala. Taehyung bangkit dengan langkah sempoyongan, terkejut ketika menemukan pria berwajah lonjong yang tertawa keras di sisi ranjang alih alih The Infected.

"H-Hosokie-hyung?!".

"Kau terinfeksi, Tae!", Hoseok terkikik renyah, menyukai bagaimana wajah manis Taehyung sangat panik dan ketakutan. Namun, keceriaan Hoseok hanya dibalas oleh gumam kecil dari Taehyung yang tampak murung dan tidak antusias.

"Wow, Hobi…aku…aku sudah tidak melihatmu sejak‒", Taehyung bernapas tidak habis pikir, mengamati kondisi Hoseok yang bertambah tinggi dan besar. Hoseok bergabung dengan Firefly satu tahun lalu, terpaksa meninggalkan Taehyung untuk menderita seorang diri.

"‒Yah…sejak kau pergi tanpa kabar", Taehyung menunduk muram, menepis tangan Hoseok yang hendak mengusap pundaknya lembut. Jung Hoseok merupakan sosok yang Taehyung percayai, pria yang dapat melindunginya sekaligus teman terdekat Taehyung. Hoseok peduli kepadanya, Hoseok tidak pernah menganggap Taehyung lemah.

Aku tahu kau takut, Tae. Aku juga takut. Hei! Kau idiot kalau tidak takut dengan mereka!, Hoseok selalu membuat rasa takut Taehyung berubah menjadi canda tawa. Ia tidak pernah berhenti terpingkal pingkal kalau Hoseok sudah bertingkah, tak peduli betapa hancur dunia dibelakang Taehyung.

Hoseok adalah mentari bagi Kim Taehyung. Namun, malam pun tiba ketika pria itu memutuskan untuk bergabung dengan Firefly dan pergi.

"Jadi, ada apa?", Taehyung menyandarkan punggungnya di tiang ranjang, menahan diri agar tidak menangis seperti bocah cengeng dan memeluk Hoseok. Taehyung tahu temannya harus pergi, tidak ada pilihan lain. Mungkin, Hoseok bisa saja tinggal dan berada di sisi Taehyung, melawan infeksi bersama sama. Tapi, menjadi seorang Firefly sudah merupakan mimpi Hoseok. Ia ingin menjadi sebuah harapan, menyelamatkan jiwa malang yang nyaris putus asa akibat infeksi.

"Hosokie-hyung? Sebenarya, ada apa, sih?", Taehyung tertawa miris. "Mengapa kau kemari?", Taehyung mengerti bahwa Hoseok pergi karena kewajiban. Meskipun, perpisahan mereka membuat hati Taehyung sedikit mati rasa, meski kata kata Hoseok tahun lalu menyakiti Taehyung yang membenci kesendirian. Kenapa Hoseok kembali? Mengapa sekarang?

"Ada yang ingin kutunjukkan kepadamu, Tae. Ayo!", Hoseok menarik lengan Taehyung yang hanya mengenakan kaus dan celana tidur. Ia tergopoh gopoh mengikuti langkah pria yang melompat keluar jendela lincah, tak dapat Taehyung bayangkan pelatihan macam apa yang diberikan Firefly setiap hari.

"Oh, sial. Mereka sedang berpatroli!", Hoseok menarik Taehyung untuk bersembunyi di balik papan kayu, memandangi mobil tentara yang melintasi trotoar seperti gemuruh badai. Meghirup udara segar di atas atap tidak begitu buruk bagi Taehyung, meski ia masih bersikap dingin kepada teman yang membiarkan Taehyung kesulitan kesana kemari, mencari sekelompok orang yang tidak mau menerimanya.

"Mengapa kau tidak pernah kembali, Hobi-hyung? Kau bosan denganku?", Hoseok tertawa sembari mengacak rambut pirang Taehyung, hatinya terasa sakit mengetahui lelaki manis itu kesulitan selama Hoseok pergi. "Maaf, Seokjin tidak membiarkanku menemuimu, Tae".

"Jin-hyung? Kenapa?", Taehyung mengerti ketua Firefly itu sangat protektif kepadanya. Tapi, tidakkah Seokjin sadar bahwa Taehyung bersusah payah untuk mencari tempat yang aman? Dan dia sendirian, ditambah Seokjin yang menolak Taehyung ketika ia memohon untuk bergabung dengan Firefly.

'Tidak. Tidak bisa. Tidak aman untukmu, Kim Taehyung'

Yah, apakah ini aman? Apakah merasa kelaparan dan melarat untuk mencari tempat tinggal dapat dikatakan aman bagi Seokjin? Pria itu telah merebut Hoseok darinya, menjauhkan satu satunya teman Taehyung tanpa boleh bertemu kembali.

"Jin berkata aku pengaruh buruk untukmu", Hoseok tertawa menyesal, meski ia selalu tersenyum, Hoseok sudah membunuh banyak The Infected karena tak memiliki opsi lain, ia juga melukai para tentara yang berusaha menangkapnya. Seokjin hanya ingin menghindarkan Taehyung dari kekerasan, tak menyadari pilihannya menjadikkan Taehyung tak mampu bertahan hidup.

"Ayolah, Tae. Ada yang harus kutunjukkan kepadamu. Ayo cepat!", Taehyung menghela napas ketika Hoseok menariknya ke atap sebuah mall, tempat itu sudah terbengkalai, mereka menyelundupkan diri melewati jendela pecah alih alih pintu masuk. "Mau apa, sih?", Taehyung bertanya setengah hati.

Hoseok berlari lari kecil menuju generator yang sudah berkarat. Lantai mall ditumbuhi tanaman liar, merambat sampai ke pilar dan eskalatornya. Cahaya keemasan seketika menyinari wajah Taehyung ketika Hoseok menyalakan penarik generator.

Taehyung terkesiap ketika listrik menyala seperti sihir, menerangi area permainan yang mengingatkan Taehyung akan masa kecilnya. "W-Wow…Ini indah sekali", Taehyung tertawa bahagia, mendekati merry go-round yang berwarna merah dan biru. "Apakah benda ini masih menyala?!", Taehyung tersenyum bersemangat ketika Hoseok mengangguk, mendekati mesin yang mengatur kerja permainan.

"Ayo, Tae! Naiklah".

"Serius?!".

"Serius! Naiklah!".

Taehyung mendudukki kuda yang berwarna putih bersih, memeluk tiangnya yang berpelitur keemasan. Taehyung terkesiap ketika merry go-round mulai bergerak, memutari mall yang sudah terbengkalai dan ditumbuhi tanaman liar. Tapi, tempat ini justru terlihat seperti istana bawah air.

"Hoseoki-hyung! Duduk di sebelahku, ayo!", Taehyung tertawa ceria, wajahnya mencerah ketika pria berwajah lonjong itu melompat naik dan duduk di sampingnya, menemani Taehyung seperti dahulu. Taehyung bahkan tidak sadar kapan ia menggamit jemari Hoseok.

"Kau suka, Tae? Bagaimana dengan ini?", Hoseok mengeluarkan walkman dari dalam sakunya, menarik Taehyung mendekati pemutar kaset yang berada di area arcade. "Hoseoki, apa yang kau lakukan?!", Taehyung tidak berhenti tertawa ketika Hoseok menari dengan lincah ketika musik mulai melantun.

Jung Hoseok selalu ingin menjadi seorang penari seandainya dunia tidak kiamat.

Taehyung akhirnya bisa tersenyum lepas, mengamati tingkah teman akrabnya yang seperti lupa bahwa infeksi sedang menyebar di sepenjuru dunia, untuk sesaat, Taehyung pun lupa kalau ia dapat mati kapan pun, ia lupa kalau The Infected siap datang dan menebarkan penyakit pada otak Taehyung.

"Ayo, menari bersamaku, Tae!", Hoseok menarik Taehyung keatas meja kaca, terkekeh bungah ketika pria manis itu mulai menari seperti ini hari terakhir yang mereka miliki. Disinilah kebahagiaan Hoseok berada, pusat kedamaian dalam satu kata yang bernama 'Taehyung'.

Menjadi seorang Firefly sama sekali tidak membuat Hoseok merasa aman, ia hanya ingin melindungi manusia yang kehilangan harapan untuk hidup. Tapi, bagaimana dengan Hoseok sendiri?

"T-Taehyung, Aku…", Hoseok menghela napas panjang. "Aku akan dipindahkan besok. Aku tidak bisa lagi menemuimu".

"A-Apa?".

"Aku akan beroperasi di tempat lain, jauh dari Boston. Sepertinya, ini terakhir kali aku bisa bertemu denganmu. Aku minta maaf", Hoseok menunduk muram, kekecewaan terlintas dalam wajah Taehyung. Untuk yang kedua kalinya, Hoseok akan pergi. Pria itu akan meninggalkan Taehyung hingga ia merasa kesepian lagi.

Yah, kewajiban di atas segalanya…benar?

"Kalau kau tidak ingin aku pergi, aku akan tinggal", Taehyung tertawa nanar mendengar perkataan Hoseok. Mereka sudah mengenal sangat lama, Taehyung mengerti bahwa mereka saling memberikan kenyamanan. Tapi, Hoseok butuh lebih dari itu. Ia ingin menjadi cahaya bagi mereka yang sudah buta akan harapan.

"Siapa diriku untuk menghentikanmu, Hyung?".

Hoseok menusurkan jemarinya sepanjang rambut pirang Taehyung, memberinya usapan hangat yang justru membuat Taehyung makin menggigil. Taehyung tidak bisa melepaskan Hoseok lagi, ia tidak mau merasa kecewa lagi, ia tidak ingin mengemis untuk diterima atau diberi makanan.

"Kau tahu apa? Aku akan tinggal", Hoseok menarik lepas kalung berlambang Firefly dari lehernya. Ia tersenyum menatap hazel Taehyung yang kebingungan, wajah polosnya yang akan selalu Hoseok ingat. Ia ingin menjadi cahaya bagi umat manusia, tapi, salahkah jika Hoseok juga membutuhkan penerangan? Meski ia selalu tersenyum, menganggap bahwa semuanya baik baik saja, ia membutuhkan Taehyung yang akan mendukung Hoseok ketika ia terpuruk.

Tentu, Hoseok bisa menangis dan merasa frustasi, melihat temannya mati di lapangan, memandangi wajah orang orang yang kehilangan jiwa kemanusiaan mereka. Itulah arti rasa sakit bagi Hoseok.

"Aku akan tinggal bersamamu, Taehyung", Taehyung membeku ketika Hoseok memberikan kecupan hangat di puncak kepalanya. Sepersekian detik yang sangat berharga bagi Taehyung, ia merasa aman.

"H-Hoseoki-hyung…".

Taehyung memekik terkejut ketika lolongan liar membahana di lorong mall, mengikuti suara musik yang berdebum debum dari pemutar kaset di samping mereka. "Sialan, The Infected!", Hoseok menggenggam jemari Taehyung sangat erat, menariknya lari ketika jeritan tidak waras makin mendekat.

"H-Hyung! Apa yang harus kita lakukan?!".

Hoseok tersenyum gugup, "Kau hanya perlu percaya kepadaku, oke?".

Ia pun menarik lepas sepucuk pistol, "Dan tetap berada di belakangku".[]

Taehyung terbangun akibat sentakan kasar pada pundaknya. Taehyung mengusap mata mengantuk, melihat Jungkook yang memandanginya sengit, menggoncangkan tubuh kurus Taehyung dengan ujung senapan. "Bangun", Jungkook menendang kaki Taehyung yang mengerang kesal, matanya memanas akibat mimpi yang selalu menghantui kehidupan Taehyung.

Seandainya Hoseok ada disini, ia akan melindungi Taehyung dengan tulus, ia tidak akan membiarkan setetes air mata mengaliri wajah Taehyung. Namun, Taehyung harus terjebak dengan pria tak berperasaan seperti Jungkook, menghadapi sikap liarnya yang tidak pernah bisa halus. Kebencian Jungkook yang selalu menyalahkan Taehyung atas musibah mereka.

Memangnya Taehyung menginginkan semua ini terjadi?! Ia tidak pernah memilih untuk hidup. Namun, kehidupan yang memberi Taehyung nyawa panjang. Meskipun, Taehyung selalu dianggap sebagai pembawa musibah bagi orang lain.

"Makanlah", Taehyung tersenyum simpul, menyodorkan sekaleng kacang yang ia temukan di sekolah lusa lalu. Jungkook menepis tangan Taehyung sangat kasar, tidak meliriknya ketika pria itu bangkit dan meraih ransel secepat kilat.

Taehyung tertegun dengan perasaan marah, ia berusaha berbaik hati kepada Jungkook, meminta maaf kepadanya dan justru dibalas dengan pukulan keras. Tidakkah brengsek itu mengerti Taehyung juga memiliki perasaan?!

"Hei!", Taehyung terkejut ketika tangannya meraih jaket Jungkook secara refleks, menghentikan langkah pria yang memelototi Taehyung sangat tajam. Pandangan bengis itu berhasil membuat kedua kaki Taehyung melemas, namun, kesabarannya sudah habis, Taehyung tidak akan menoleransi Jungkook lagi.

"Apa sebenarnya masalahmu, hah?!".

"Apa masalahku?", Jungkook tertawa pahit, hendak meremas leher Taehyung yang berkelit cepat. Taehyung mendelik geram, menggertakkan gigi ketika Jungkook mendorongnya ke pohon, "Aku kehilangan dia, Taehyung! Aku kehilangan satu satunya orang yang kepedulikan dan itu semua karenamu!", Jungkook meremas rambutnya frustasi.

"I've lost everything!"

Jungkook merasakan kemarahannya semakin memuncak. Orang seperti Taehyung tidak akan pernah mengerti. Merasakan sakitnya kehilangan Jimin yang ditembak mati meski ia tidak berdaya? Merasakan sakit ketika Yoongi mengorbankan nyawanya dan meninggalkan Jungkook sendirian? Apakah Taehyung mengerti semua itu?!

"Kau hanya bocah lemah, Kim Taehyung!", Jungkook mendorongnya kasar.

"You don't know what loss is".

Taehyung mengepalkan tangan ketika matanya mulai memanas, rasa sakit itu kembali memelintir hati Taehyung. Ia teringat senyumnya, tawa lepasnya…

"Kau kira kau satu satunya yang telah kehilangan seseorang, hah?!", Taehyung mendorong Jungkook sangat kasar. Taehyung merasakan tatapannya mendingin ketika bergilasan dengan bola mata Jungkook.

"Lihatlah sekitarmu, Jungkook! Semua orang pernah kehilangan sesuatu!", Taehyung menarik napas panjang sembari menggeleng, mengendalikan emosinya yang nyaris terlepas. "Aku selalu menerima perlakuan kasarmu karena aku mengira kau sedang berduka. Tapi kau tahu apa?".

Taehyung mendengus lirih, "You're just a self-absorbed asshole. Stop pitying yourself and fucking grow up!".

Jungkook hanya mampu terdiam ketika Taehyung meraih ranselnya dan berjalan mendahului. Dorongan kasar Taehyung masih membuat Jungkook tidak berkutik. Apa yang Jungkook lihat dalam hazel Taehyung adalah nyata.

Dan ia melihat kepedihan.[]

"Barikade pintunya!".

Taehyung meraih papan kayu ketika manusia terinfeksi membantingkan kepala mereka membabi buta, Taehyung segera mengganjal gagang pintu yang digedor gedor oleh The Infected dengan kayu yang bergoncangan hebat.

"Ikuti aku!", Hoseok menarik Taehyung berlari secepat kilat, terkejut ketika lautan orang berpenyakit menyerbu mereka dari jalan keluar. "Buka rolling door-nya, Tae! Cepat!", Taehyung mengangguk panik, mengangkat rolling door yang berderit nyaring sekuat tenaga. "Ayo, Hyung!".

Hoseok menyelusurkan tubuhnya sigap, mendorong Taehyung agar berlari mendahuluinya. "Kau lihat scaffolding disana?! Itu jalan keluar kita, Taehyung!", Hoseok berteriak ketika seorang pria meraih kerahnya dan membanting Hoseok ke tumpukan kerdus.

"Hoseokie-hyung!", Taehyung berlari dengan geraman keras, melontarkan tubuh kurusnya ke pria yang melolong tersentak. Taehyung meraih pisau lipatnya cepat, menusuk leher, pundak, perut, sampai pria berpenyakit itu ambruk disertai kubangan darah yang mengalir seperti sungai.

"Ayo!", Hoseok menarik Taehyung bangkit, melompati bangunan mall yang sudah menjadi reruntuhan terbengkalai. Taehyung memekik ketika kakinya terpeleset, namun, Hoseok dengan sigap menangkap tangan Taehyung, menariknya ke atas hingga kaki pria itu berpijak aman pada lantai yang sudah dipenuhi rerumputan liar.

"Ayo, Tae! Cepat!", Hoseok memanjat scaffolding yang mengarah kepada jendela dan udara bebas. Taehyung mengikuti dengan napas pendek pendek, berusaha meraih besi bangunan dengan kedua tangannya. Taehyung menjerit ketika scaffolding itu bergoncang hebat, justru ambruk dengan Taehyung yang terlempar kearah The Infected.

"Taehyung!", Taehyung bergulingan di lantai, menahan leher wanita yang hendak menggigit tengkuknya dari samping. Hoseok melompat turun dan langsung menembak, ia menyeret kepala wanita yang mencakari Taehyung, meledakkan pelipisnya dengan tiga peluru.

"Hoseok, awas!", Taehyung bangkit terengah engah ketika seorang pria gempal menubruk Hoseok ke lantai, mulutnya terbuka lebar dengan gigi busuk setajam silet. Taehyung berteriak marah, menusukkan pisau lipatnya pada kepala The Infected, hujamannya mendalam pada perut dan punggungnya.

Taehyung bernapas kasar, "Lepaskan!", ia menarik kepala pria yang melolong nyaring, "Lepaskan! Sekarang!", Taehyung menancapkan mata pisau dalam dalam dan menggorok leher The Infected yang memuncratkan darah ke segala arah.

"Shit", Hoseok berusaha menarik napas, menggeleng melihat Taehyung yang berlumuran darah dengan pisau di tangan. "M-Maafkan aku, Tae! M-Maafkan a‒", Hoseok membeku ketika ia melihat tangan kurus Taehyung yang dipenuhi keringat.

"T-Tae…t-tanganmu‒".

Taehyung mengangkat lengannya dan terkejut bukan main. Air matanya mengalir ketika melihat bekas gigitan yang mengalirkan banyak darah di dekat jemarinya. "T-Tidak, tidak, tidak!", Taehyung mengusap matanya frustasi, terhenti ketika Hoseok tersenyum putus asa.

"TIDAK!", Taehyung menjerit nyaring, meremas rambutnya ketika Hoseok menunjukkan telapak tangannya yang juga tergigit dan infeksi. Apakah ini ajal mereka? Apakah ini titik dimanan Hoseok akan menyerah?

"Maafkan aku, Taehyung", Hoseok mengusap luka gigit yang meradang ditelapak tangannya, rasa sakit dan urat kehitaman mulai menjalar pada pembuluh darah Hoseok. "M-Mungkin‒", Hoseok terisak kecil ketika ia menyadari bahwa dirinya telah gagal. Ia tidak bisa melindungi siapa pun, ia bahkan tidak bisa menjaga Taehyung.

"K-Kumohon, Taehyung", Hoseok benci ketika dirinya kehilangan harapan seperti ini. Namun, tak ada lagi yang mampu Hoseok lakukan ketika Cordyceps sudah menhinggapi otak. "B-Berikan aku jalan yang mudah".

Taehyung tercekat ketika Hoseok menyerahkan pistolnya, mendorong laras senjata itu ke jantungnya sendiri. "Jalan yang cepat dan tidak menyakitkan".

"H-Hyung‒", Taehyung merasakan seluruh tubuhnya bergetar, ia menangis kencang ketika Hoseok mulai meneriakinya. Hoseok tidak pernah membentak Taehyung, tidak sekali pun. Namun, kali ini pria itu memelotot liar.

"Bunuh aku, Taehyung! Bunuh aku sekarang!".

"H-Hobi-hyung!".

"BUNUH AKU!".

Taehyung menangis ketika suara tembakan membuat telinganya berdenging hebat. Jemarinya terasa begitu dingin di atas pelatuk. Taehyung hanyalah pembunuh seperti Jungkook, perasaannya sudah mati dan ia putus asa.

Taehyung berusaha menyembunyikan dirinya yang sudah hancur. Biarkan mereka menganggap Taehyung lemah dan tidak berguna, itu lebih baik daripada mengetahui seberapa dingin hati Taehyung dibalik senyumnya.[]