Apakah sulit melumpuhkan Ratu Gosip yang selalu duduk di atas tahta—disertai senjata andalan?
.
.
#
.
.
Queen of Gossip
©Hyuuga EtaMita-chan
.
-o0o-
.
Naruto
©Kishimoto Masashi
.
.
#
.
.
Tidak. Coba saja buat sebuah skema pemberontakan cemerlang yang tak terkalahkan.
***…o0o…***
YAMANAKA INO, sang aktris legendaris
TENGAH MENJALIN HUBUNGAN DENGAN PRIA ASING BERAMBUT GELAP!
Kalau tempo hari Sakura-lah yang terbelalak dan geram luar biasa, kini giliran Ino untuk dipermainkan amarahnya. Membelalak lebar, menatap tak percaya, juga terasa terhimpit oleh perasaan murka besar-besaran. Berbeda dengan Sakura yang sangat yakin kalau gosip mengenai dirinya menyiksa Karin itu tidak benar, Ino tidak bisa melakukan apa-apa untuk bencana gosip yang kali ini menimpanya.
Bagaimana mungkin ia bisa berkilah? Bagaimana mungkin dirinya bisa menghindar?
Bukti dari berita yang terpampang di halaman depan surat kabar dan majalah remaja, ikut tertera. Sebuah foto yang menempatkan Ino dan pemuda asing itu dalam adegan berciuman yang nyata. Tak ada rekayasa. Hanyalah ada sebuah fakta.
Dibilang tidak sengaja pun, mungkin tidak banyak berguna.
Apa yang harus Ino jelaskan kepada publik mengenai pemuda itu? Haruskah ia menjawab: oh, aku tidak kenal pria itu, kok. Dia tiba-tiba saja masuk ke kamarku dan menciumku—begitu?
Tch.
Bodoh sekali.
Semua orang tahu menjawab begitu hanya akan menimbulkan kecurigaan lebih lanjut.
Kondisi kesehatan Ino sudah lebih baik dari hari kemarin, dan luka-lukanya sudah diobati. Ia tidak bercakap maupun bertemu Sakura selama dua hari terakhir. Aktris yang ingin mendunia itu pasti sibuk dengan jadwal syuting di pulau lain. Shion melewatkan dua film romansa yang ingin ditontonnya di bioskop karena berita yang tiba-tiba jadi puncak pembicaraan, dan seharian ini ia duduk di samping Ino, membolak-balik surat kabar sambil menggigit bibir dan kepala pening.
Biasanya Ino-lah yang menggosip.
Kenapa sekarang sang ratu yang terjebak dengan gosip?
"Menyebalkan," gumam Shion jengkel, membalik halaman pertama surat kabar dengan genggaman kuat, hampir merusak lembaran kertas yang tidak tahan kekuatan. "Bagaimana mungkin aku tidak menanyakan tujuan pemuda itu sebelum mengizinkannya masuk?"
Ino mendelik gusar, "Memang dia bilang mau menemuiku untuk apa? Dia bilang padaku namanya Sai dan punya banyak urusan denganku—tapi malah menciumku."
Mungkin tidak begitu kentara, tapi Shion yang sudah mengenal Ino selama dua tahun ini pasti menyadarinya.
Gadis berambut pirang itu mengatupkan matanya perlahan, membiarkan warna lavender dari iris matanya tersembunyi sejenak. Ia menyunggingkan seulas senyuman tipis, bersedekap, dan mengeluarkan nada yang selama ini tak pernah ia gunakan.
"Kau menyukainya, eh?"
"Hn? Siapa?"
Matanya terbuka sedikit, "si Sai itu, tentu saja."
Ada sedikit reaksi. Rona merah sekejap nampak di wajah yang masih agak pucat, dan bulu matanya bergetar. Iris birunya melebar dan giginya sedetik tampak menggigit bibir. Tangan yang tertahan di lembaran surat kabar, juga sedikit kehilangan keseimbangan. Meskipun tidak menunjukkanya dengan gamblang, juga enggan untuk mengakuinya, sejak insiden ciuman tak terduga, Ino memang menaruh perhatian pada pemuda berambut hitam yang masuk ke kamarnya tanpa tujuan jelas.
"K-kenapa kau berkata seperti itu?" Ino berusaha terdengar kesal. Sedikit reaksi yang tadi diamati Shion diam-diam, lenyap. "Aku tidak kenal dia! Lagipula, kami baru bertemu beberapa menit. Setelah itu pun dia menghilang dan memberiku masalah."
Shion menyeringai lebar, "Ok. Lalu?"
"Aku tidak mungkin menyukai orang yang sudah menjebakku dalam masalah seperti ini," Ino berusaha menyangkal dugaan Shion dengan ekspresi marah.
Seringainya tertahan beberapa detik, kemudian digantikan dengan wajah polos dan mata lavender yang seolah berkata; aku maklum, jangan malu—yang membuat wajah Ino kembali memerah. Memalingkan wajah, Ino kembali fokus pada surat kabar. Meskipun matanya dengan gelisah jelas bukan menatap deretan huruf dan tinta yang membentuk artikel di surat kabar. Ia menggigit bibir sesaat, kesal karena masih harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari lagi sebelum bisa mulai menyanggah berita yang ada di surat kabar.
Ia tidak punya rencana, dan kehadiran Shion membuat benaknya sulit bekerja.
Satu-satunya yang bisa ia pikirkan sekarang, adalah menemukan pemuda-tanpa-identitas yang telah memicu datangnya bencana ini.
Shion telah melupakan dugaan sesaatnya tadi. "Ok. Siapa namanya? Aku tidak sempat bertemu dengannya. Perawat bilang dia ingin bertemu denganmu sebentar, jadi aku mengiyakan—karena perawat bilang dia tidak tampak seperti seseorang yang berniat jahat, atau salah satu dari fans fanatikmu."
Ino mencibir. "Tidak berniat jahat? Lihat apa yang dia lakukan sekarang."
"Katakan saja namanya."
"Sai."
Beberapa menit disia-siakan Shion untuk berpikir. Benaknya mencari informasi tentang pemilik dari nama yang terdiri dari tiga huruf itu. Kolega, manajer, direktur, fans—tidak satupun dari profesi yang terpikir di benaknya yang sesuai dengan nama Sai.
Orang asing. Benar-benar orang asing yang belum pernah berhubungan dengan mereka.
Ino menatap manajernya setengah hati. Otaknya kembali bekerja, dan ia memutuskan untuk mengambil jalan yang lebih mudah daripada menguras memori seperti itu. "Cari di Google. Kalau beruntung, mungkin ia gabung dengan suatu grup, atau kalau tidak, namanya pasti tercantum di daftar nama alumni salah satu sekolah, kan?"
"Bagaimana kalau dia tidak sekolah?" Shion mengutarakan pendapatnya.
"Kau gila? Kalau orang setampan dia tidak sekolah, dengan penampilan yang rapi dan mempesona seperti itu ternyata tidak berpendidikan—kuberikan seluruh gajiku bulan depan."
Shion tertawa. "Tampan, rapi, dan mempesona?"
"Itu hanya sebuah sudut pandang," desis Ino tajam, tidak terima kembali diledek dengan nada menggelikan seperti itu. "Dan yah, memang itu kenyataan."
"Baiklah. Search di Google."
Shion membungkuk untuk mengambil tas ransel di bawah tempat tidur. Hari ini ia lupa membawa laptop, dan karenanya terpaksa meminjam laptop Ino. Bintang dari film Jump to the Sky! itu bersikeras membawa laptopnya ke rumah sakit, meskipun untuk mengambilnya saja ia harus memperdengarkan lonceng dan meminta perawat yang ada waktu senggang untuk membantunya.
Dengan cepat, Shion menekan tombol power dan membiarkan laptop menyala. Kemudian memeriksa koneksi internet dan membuka Google Chrome. Setengah hati, ia mengetikkan nama Sai di kolom pencarian Google, sesekali melirik Ino yang masih menampakkan wajah tak acuh.
"Ketemu?"
Ah, ternyata gadis itu tidak seacuh kelihatannya.
"Diam dulu, blondie, sedang loading. Disini tampaknya koneksi internet tidak secepat di apartemen kita." Ujar Shion, memutar bola matanya kesal.
"Siapa yang kau bilang blondie? Kau sendiri juga pirang, jangan lupakan itu—Shion."
Shion mengangkat bahu. Bertengkar dengan Ino hanya akan membawanya ke kekalahan. Gadis itu terlalu suka berimajinasi hingga menyusun kata-kata bukanlah masalah baginya. Debat yang tidak ia mengerti pun bisa ia menangkan asalkan ia mendapatkan kata untuk bisa diucapkan. Lagipula, memang benar kata Ino—Shion juga pirang.
"Ini dia."
Matanya menelusuri setiap website yang memuat nama Sai.
"Berapa umurnya?"
"…"
"Hei! Aku tanya, berapa umurnya?"
"Hm… sekitar dua puluh empat, atau lebih muda sedikit?" Ino mengangkat bahu, "Mungkin juga umurnya sama denganku. Atau lebih tua setahun."
Shion mendengus, "Berarti dia tidak bergabung dengan alumni Teikoku-gakuen angkatan 1987, kan?"
Jelas tidak mungkin.
Ino tidak berminat untuk menjawab.
Jemari Shion memainkan kursor dengan santai, membuka website yang menurutnya paling mungkin memuat nama Sai. Website yang sama, sebenarnya, milik alumni Teikoku-gakuen. Namun di tahun yang berbeda.
Kalau usianya dua puluh empat tahun—sama dengan Ino—berarti kemungkinan besar lulus dari SMA di tahun yang sama juga dengan Ino. Uh, tahun 1998 adalah saat pemuda itu—Sai—kira-kira bergabung dengan Teikoku-gakuen. Jika benar memang pemuda itu murid Teikoku.
Ok. Mulai.
"Ketemu!" jerit Shion girang, menunjuk layar dengan mata berbinar.
Ino melonggokkan kepala, berusaha melihat. "Mana? Mana?"
"Ini dia." Shion menunjuk baris alumni dengan inisial S. "Sai. Tanpa marga—aneh juga, ya? Pihak sekolah tidak mendapatkan nama lengkapnya. Sepertinya, ia juga tidak ingin membicarakannya."
Ino bersedekap, "Misterius."
"Lulus pada tahun 2001. Meneruskan ke Fakultas Seni Todai—ia kuliah lagi begitu jadi sarjana." Shion membelalak, "kita harus cepat! Karena ini kuliah keduanya, berarti jika ia bisa lulus dalam waktu satu tahun, yang berarti tinggal beberapa bulan lagi… oh!"
"Fakultas Seni?"
Shion mengangguk cepat. "Lukis. Seorang seniman—keren!"
"Keren?"
"Kau aktris. Dia pelukis. Kalianlah maestro seni itu sendiri." Shion tersenyum lebar, membuat Ino kesal karena manajernya itu bersikap seolah ia dan Sai itu sudah pacaran. "Sempurna. Sebuah lukisan dengan perpaduan warna cerminan kehidupan."
Ino mendelik. "Diam. Aku tidak mau berhubungan dengannya! Setelah ini selesai, dia pergi. Dan kita tidak akan bertemu dengannya lagi."
"Oho… yakin sekali."
"Tentu saja," Ino memutar bola mata, berujar sarkatis. "Sekarang, kita harus cari jadwal pelajarannya di universitas, alamat tempat tinggalnya, dan beberapa koneksinya. Mungkin ada beberapa yang bisa kita manfaatkan untuk membuatnya bungkam," ia memejamkan mata, memutuskan bahwa rasa pusing di kepalanya semakin menjadi dan ia lebih baik tetap berbaring, "oh, cepatlah selesai! Aku sudah tidak sabar menemukan kehidupan yang tenang setelah ini."
Shion hanya menatap Ino dengan prihatin.
.
-o0o-
.
Sai mencuci muka, menyiapkan sarapan, kemudian mengerjakan beberapa tugasnya yang ia tinggalkan beberapa hari terakhir ini. Mengeluh dalam, dipandangnya lembaran kertas yang sudah setengah terisi oleh tulisan tangannya yang rapi. Ada tinta yang menodai, membuat tugas yang ia harapkan bisa membantunya lulus kuliah lebih cepat itu terlihat seperti hanya sekedar kertas coret-coretan. Pemuda berambut hitam itu membuka tas ransel yang ia pakai kuliah untuk mengambil laptop di dalamnya, kemudian menekan tombol power.
Ia berdecak ketika detik-detik yang berlalu dalam sepi ketika loading membuatnya seperti tidak punya pekerjaan lain seperti menanti. Ketika layar berkelip sesaat, kemudian terang menyala dengan sebuah foto seorang gadis berambut biru tua panjang—bersama dirinya—dengan latar belakang gunung Fuji.
Musim dingin setahun yang lalu.
Tanpa sadar, Sai menyunggingkan seulas senyum.
Setahun lalu, tepat ketika ia lulus sebagai sarjan S1 Todai, Fakultas Seni. Setahun lalu, saat ia mengajak gadis berambut biru tua yang terkenal di kampus karena sifat dan sikapnya, juga penampilannya, berlibur beberapa hari di gunung Fuji. Setahun lalu, ketika Sai mendapatkan tawaran untuk bekerja sebagai ilustrator novel romansa dan gadis itu memberitahunya bahwa kariernya sebagai guru taman kanak-kanak baru saja dimulai.
Aneh sekali. Sai ingat ketika ia mencela pilihan profesi gadis yang menjadi teman dekatnya selama beberapa tahun terakhir, berujar bahwa lulusan Fakultas Seni Todai bisa memilih pekerjaan lain yang lebih menguntungkan daripada guru pra-sekolah.
"Ini pilihanku, Sai-kun."
Tentu saja Sai masih ingat. Tak bisa lupa. Gadis itu benar-benar membuatnya menyimpan semua memori yang ada.
Dari sejak pertama mereka berjumpa.
"Pilihanku sebagai manusia. Kurasa kau juga mengambil pilihan sebagai ilustrator, ya kan, Sai-kun?" Seulas senyuman manis terlontar, "padahal kau bisa dapat lebih banyak uang dengan jadi seniman terkenal. Jadi pelukis. Lalu kenapa kau memilih jadi ilustrator, Sai-kun?"
"I—itu…"
Mata pucatnya mengerjap. "Alasanmu pasti juga sama denganku."
Trakk.
Sai melirik sadis ke arah pensil di antara dua jarinya yang patah hanya karena luapan emosi tiba-tiba. Ia berdecak sekali lagi, melempar patahan pensil itu ke tempat sampah, kemudian membongkar isi tas ranselnya mencari pensil lain.
Sejenak, matanya terpaku pada foto yang menjadi penghias layar laptopnya. Kemudian buru-buru dialihkannya pandangan.
Ia, toh, akan bertemu dengannya beberapa jam lagi. Ya. Sebentar lagi.
Lalu melodi dari nada sambung ponselnya menyerukan peringatan, membuat Sai bergegas berlari menuju kamarnya, meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. ID-caller yang terpampang di layar ponsel membuatnya mengernyit, namun ia tetap menekan tombol hijau, menyuarakan sapaannya dengan hati-hati. "Halo…?"
Suara lembut dengan latar belakang sinis yang tersembunyi, menyambutnya. Membuatnya bergidik, mengingat kembali apa yang terjadi kemarin.
"Hai, Sai-kun. Apa semuanya berjalan lancar?"
Degup jantungnya begitu keras terdengar.
.
-o0o-
.
Segelas champagne tidak akan menyakiti. Itulah yang diyakini Haruno Sakura selama ia duduk di balkon kamar hotelnya, menikmati pemandangan fajar yang merekah perlahan. Ia mengeratkan kehangatan yang dibagi oleh mantel kamarnya, memastikan ikatan di pinggangnya tidak akan terlepas, karena akan sangat memalukan jika seorang aktris terkenal sepertinya kedapatan menikmati pagi yang tenang hanya dengan berlapiskan piyama di balkon luar yang mudah dilihat oleh siapa saja. Paling tidak, ia harus mengenakan mantel kamar, dan itulah yang ia lakukan sekarang.
Mata zamrudnya melirik sejenak ke area dimana beberapa hari lokasi syuting ditentukan. Film yang ia rilis sekarang akan segera tenar—ia yakin—dan namanya akan jauh lebih melejit daripada Yamanaka Ino. Tentu saja dengan reputasi yang baik, ya kan.
Dan omong-omong tentang reputasi Yamanaka Ino…
Sakura menyeringai sinis, menatap tanpa makna ke arah ponsel pink yang tergeletak di meja yang sama tempat ia meletakkan gelas dan botol champagne-nya. Terdiam seolah berpikir sejenak, gadis yang sebentar lagi akan merayakan ulangtahunnya yang kedua puluh lima itu, melebarkan senyuman, meraih ponsel dengna gerakan sigap.
Jarinya langsung menari di atas tombol yang telah begitu akrab di kulitnya, begitu ia hafal setiap lekuknya. Dan ketika jemari lentik itu menekan tombol hijau, alunan melodi nada sambung langsung menghantam pendengarannya.
Dan suara…
"Halo…?"
Sakura tersenyum manis, membuat suaranya sedikit merendah, "Hai, Sai-kun. Apa semuanya berjalan lancar?"
Entah hanya bayangan atau tidak, gadis itu bisa mendengar suara detak jantung keras di seberang.
"Sai-kun?"
Kecurigaannya bertambah saat orang yang ia hubungi tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Ah," suara di seberang kembali terdengar, terdengar seperti menahan kepahitan bulat-bulat. Seperti sedang merasakan luapan emosi tak tertahan. "Semua…" Sakura memejamkan mata rapat, hampir mengira melihat kegagalan di depan matanya, "…berjalan lancar—" Kelegaan merambah ke dadanya, membantu nafasnya kembali terkendali, menahan detak jantungnya agar bisa berdetak lebih lambat, menimbulkan gambaran kemenangan yang menggantikan kekalahan di benaknya. Bagus. Bagus. Segalanya berjalan sesuai rencana. "—tapi apa kau yakin semua baik-baik saja?"
Jeda satu detik.
"Tentu saja." Ujar Sakura, cepat. "Kau pikir aku akan membuat rencana yang mudah retak di tengah jalan? Of course not. Ino akan masuk ke perangkapmu, kau akan melihatnya. Dan yang perlu kau lakukan hanyalah menuruti perintahku dan semuanya akan baik-baik saja… sampai akhir."
"Bagaimana dengan kehidupan pribadiku?" orang yang di seberang, yang tentu saja adalah Sai, berujar dengan nada tinggi. "Aku tidak peduli dengan aktris bernama Ino itu, tapi ada orang lain yang lebih pantas untuk kuperhatikan. Dia mungkin akan—"
Sakura mengangkat sebelah alis. "Terluka?" katanya, melengkapi kalimat Sai yang terputus.
"Ya."
Tertawa.
"Tenang, Sai-kun, semua akan baik-baik saja. Kujamin. Dan kehidupan pribadimu hanya akan sedikit terganggu." Sakura kembali tertawa.
Sai mendesah. "Kau sendiri yang bilang kalau Ino akan melakukan rencana itu, dan dia adalah gadis yang posesif." Ia terdengar menggerutu. "Kau sendiri tahu apa artinya, Haruno-san, tahu apa yang akan gadis pirang berisik itu lakukan pada Hinata jik—"
"Aku tahu," Sakura berbisik. Kali ini dengan nada menekan. "Hubungi aku lain kali, jika rencana itu sudah dijalankan." Ia mengembangkan seulas senyuman sinis, "nikmati surprise yang akan Ino berikan untukmu, Sai-kun."
"Hei, ak—"
Tuut… tuut… tuut….
Sakura menutup telepon, menggeram agak kesal. Satu-satunya penghalang dalam rencananya yang sempurna adalah perasaan si tokoh utama sendiri. Bukan Ino. Bukan Hinata. Melainkan apabila jika Sai menyimpan rasa kepada salah satu dari kedua gadis itu. Jika Hinata, maka rencana Sakura yang bubar karena Ino pasti akan menyerang. Jika Ino, pasti Sai tidak akan sanggup melanjutkan lagi rencana karena terbawa perasaan.
Secepatnya, Sakura harus mengunci rasa kasihan di dalam hati Sai, dan membuat pemuda itu bagai manusia tanpa hati yang hanya hidup dalam akting.
Akting.
"Kau akan merasakan kehidupan menarik di balik layar kaca, Sai-kun, dimana aku dengan profesiku menari bagai angsa, mengembangkan sayap lepas, ke langit luas." Sakura memejamkan mata, rapat. "Kau akan merasakan bagaimana sesaknya kehidupanku setelah kau memecah kebahagiaan masa kecilku, membuatku harus terus berbohong, dan mempertemukanku dengan gadis pirang bernama Yamanaka Ino yang tanpa ragu akan membawa kehancuran bagiku… Sai-kun,"
.
.o0o.
.
"Damn! Aku lupa kalau di universitas ini bukan hanya ada Sai seorang, tapi juga ribuan mahasiswa lainnya…" keluh Ino, mengotak-atik GPS dengan wajah sebal. Atas inisiatif sendiri, hari ini ia memang berkunjung ke kampus Todai, berharap bisa menjalankan rencananya dan bertemu dengan Sai. Ia sudah menyiapkan sejuta antisipasi jika terjadi sesuatu, tapi ada satu hal fatal yang ia lupakan; bahwa di Todai, akan ada banyak orang yang—mungkin—mengenali wajahnya. "Yah, mau bagaimana lagi? Sudah terlanjur. Pokoknya harus ketemu Sai dulu!"
Bahunya menegang ketika sosok yang ia temukan datang. Memilih taman belakang sebagai tempat pengintaian bukanlah hal yang bisa ia syukuri sepenuhnya, karena sejak tadi keheningan dan kesendirian membuatnya merasa ketakutan pada taman belakang yang agak gelap karena cahaya matahari terhalang oleh pepohonan.
Tapi sesuai data yang telah berhasil didapatkan oleh Shion, Sai memang datang pagi-pagi ke taman belakang untuk bersantai sejenak sebelum jam pelajaran dimulai.
Dan menurut Ino, inilah satu-satunya kesempatan baginya untuk bicara dengan Ino.
Ketika siluet Sai muncul dari celah gedung di samping taman belakang, muncul dengan gaya melangkah santai yang diingat Ino dengan sangat baik—seperti yang pemuda itu lakukan di rumah sakit—Yamanaka Ino langsung maju, keluar dari persembunyian, menarik lengan kanan Sai, memeluknya, menggapai leher Sai, dan…
Segalanya berlangsung cepat.
Ino memekik tertahan karena kesakitan ketika punggungnya membentur dinding bata yang dicat krem, kehabisan nafas ketika lehernya ditekan oleh lengan yang jauh lebih kuat darinya, tak bisa melihat dengan jelas ketika bayang-bayang tubuh Sai menjulang tinggi di hadapannya.
Sai, tanpa ragu lagi, meskipun menyadari bahwa orang yang baru saja hendak menyerangnya adalah perempuan, menekan Ino ke dinding, memastikan gadis itu tak bisa bergerak bebas.
"S-Sai…"
Sama dengan apa yang dikatakan Sai beberapa hari lalu, mengenai apa yang akan dilakukan Ino untuk menanggulangi gosip yang menyebar.
Sama persis.
Gadis Haruno itu cerdas juga, rupanya.
"Mau apa?" desis Sai, merendahkan tubuhnya agar nafasnya bisa menerpa kulit wajah Ino, ingin merasakan kepuasan nyata ketika gadis itu berekspresi takut dan cemas. "Apa kau mau membunuhku untuk menghindari gosip, hm? Nona Yamanaka Ino?"
Ino tersentak ketika berhasil mendapatkan sedikit udara, tapi langsung merasakan sesak lagi, karena kadar oksigen di udara di sekitarnya tidak seberapa dibandingkan dengan yang ia perlukan. Belum lagi lengan Sai masih menekan lehernya, seolah ingin mematahkan leher jenjang itu, ingin membuat Ino kehilangan nyawa seketika.
"Aku… ak—"
"Tak perlu bicara lagi, Nona Yamanaka." Sai menyeringai sinis, "aku yang akan menggantikanmu menyatakan apa yang kau inginkan."
Bibirnya langsung mengunci bibir Ino, mengecap rasa teh madu yang tadi sempat dikecap Ino sebelum memutuskan datang ke universitas. Seperti dulu lagi, ketika Sai datang ke rumah sakit dan menyerangnya. Seperti dulu lagi, ciuman yang sama yang diberikan Sai untuk aktris cantik yang hanya bisa membelalakkan mata.
Juga, kata-kata yang sama.
"Kau milikku."
***…o0o…***
Apakah sulit melumpuhkan Ratu Gosip yang selalu duduk di atas tahta—disertai senjata andalan?
.
.
#
.
.
Queen of Gossip
©Hyuuga EtaMita-chan
.
-:-
.
T B C
.
.
#
.
.
Tidak. Buat dia turun dari tahta dengan keinginan sendiri, agar kau bisa menyerang dan melumatkannya.
***…o0o…***
A/N: Saya kehilangan imajinasi untuk bercerita, kehilangan tata bahasa yang tepat untuk mengungkapkan kata-kata. Saya melupakan alur yang sebelumnya telah saya buat, tapi dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyelesaikan chapter kedua. Meski mungkin tak sesuai harapan para pembaca.
Ohya, saya mau balas review saja, ah! Yang login dan yang tidak login, akan saya baurkan menjadi satu, karena saya malas untuk PM. Tidak apa-apa, kan?
Reply:
Mauree-Azure: Terimakasih atas pujiaannya! Ini sudah di-update, tapi telat karena saya ada urusan lain! Makasih!
Babyblue: Dunia artis memang sadis, tak perlu ditanya lagi. Persaingan, rasa iri, tersembunyi karena bakat akting mereka. Hehehe…. Soal Karin yang disiksa Sakura, enggak kok. Enggak bener. Sebenarnya cuma kena masalah sepele aja. Karin kesandung, nambrak pinggiran meja—kena lehernya (yang kayak gitu mungkin nggak, sih? Kesandung, nambrak meja, dapat luka di leher?). nah, begitulah. Sebagai cewek yang sangat suka sama penampilannya—ehem—tentu aja Karin nangis. Jadi gosip Sakura nyiksa Karin itu nggak bener, kok. Nyiksa secara fisik, maksudnya. Tapi kalau nyiksa mental, memang bener. Sakura memang sering nyiksa Karin lewat mental! Hahahaha!
Xoxoxo: Thanks pujiannya!
El Cierto not login: Saya terkejut, lho, dapat review dari kamu! Dan terimakasih banyak atas pujiannya! Mungkin yang chapter satu bisa membuat Anda puas. Tapi kalau yang chapter ini tidak puas…(atau malah jelek luarbiasa), maaf ya!
Shana Kozumi: Ni update-nya.
Elfazen: Thanks pujiannya. Tenang saja, egois adalah ciri khas manusia. Yang perlu kita lakukan hanya sedikit menurunkan kadar keegoisan. Ohya, slight SS itu maksudnya siapa, sih? Sai-Sakura, atau Sai-Shion? Kalau Sai-Shion, tenang saja. Nggak bakal Sai-Shion di fanfic ini. Mungkin mereka berdua bakal ngobrol di café di beberapa chapter berikut, tapi cuma berdua buat ngomongin Ino, kok. Kalau Sai-Sakura, hmm… bukan hubungan romansa, sih. Lebih tepatnya permusuhan dan hubungan atasan-bawahan. Nggak apa-apa, kan? Saya tunggu pendapat Anda untuk hubungan Sai-Sakura yang saya jabarkan di fic ini. Moga tidak ngambek karena saya mau Anda tetap membaca fic ini, ya!
Nina: Thanks!
Nara Kazuki: Ya. Ini lanjutannya.
Chadeschan: Thanks. Oh, emang Sai-Ino itu sepi, ya? Nggak begitu tahu, sih. Saya ngambil pair Sai-Ino karena karakter mereka memang cocok untuk jadi tokoh utama dalam fic ini.
Thanks for all reviews! Maaf karena tidak bisa update cepat, karena sebagai seorang murid sekolah—ehehehe (yang keseringan bolos sampai nggak berani bolos lagi), saya harus menjalankan tanggung jawab saya untuk belajar. Review lagi, ya?
