Kenapa selalu ada yang berbeda tiap kali sang Ratu mengungkit kenangan?
.
.
#
.
.
Queen of Gossip
©Hyuuga EtaMita-chan
.
-o0o-
.
Naruto
©Kishimoto Masashi
.
.
#
.
.
Seolah ada yang mengganjal. Seolah ada yang tak benar. Seolah memori itu tak pernah ada.
***…o0o…***
"Kau milikku."
Berapa kali kalimat itu terdengar oleh telinga Ino yang sensitif? Dua kali, tiga kali? Ah, bahkan terasa lebih banyak daripada itu. Karena tanpa sadar, sejak pertama jumpa, gadis pirang Yamanaka itu selalu mengingatnya, seolah ingin menghafalnya di luar kepala, seakan merindukan dua patah kata yang mengintimidasi tiap kali Sai menundukkan kepala, menyembunyikan dunia dengan siluet tubuhnya yang tegap, membagikan bayang-bayang, merebut klaim atas bibir Ino—baru dua kali. Tapi terasa lebih dari itu.
Sama dengan ketika gosip tentang dirinya mulai tercipta, Ino sekarang sedang berada di tekanan Sai, tak bisa menolak. Tertekan, tapi… senang? Sebuah emosi bodoh yang tak ia inginkan.
Tatkala bayang lepas, terang datang, dan Ino mendapatkan kembali udara karena terciptanya ruang jarak diantara mereka berdua. Ketika Sai melangkah ke belakang, memasukkan tangan ke saku celana, bersikap seolah tak pernah ada yang terjadi selama beberapa detik terakhir. Memejamkan mata, mendengarkan dengan cermat nafas gadis pirang di hadapannya yang terengah-engah. Kesal dirasanya. Kesal, luarbiasa marah.
Karena ia bisa terjebak di sebuah medan perang antara dua aktris terkemuka, dimana ia hanya berperan sebagai umpan namun terlihat bak lakon utama.
Sebab dia tidak suka berdiri disini, mengakui dalam hati bahwa sudah dua kali ia mencium Ino—ia tidak suka menjadi pria brengsek yang sudah mengumbar gosip secara tak langsung, yang membuat Ino mau tak mau tidak—belum—bisa lepas darinya.
"Nah," iris hitam mengerjap terbuka, "sekarang kau boleh bicara, blondie."
Ino menyipitkan mata jengkel.
Sai terkenal di kampus karena keterusterangannya dalam berbicara. Ia bisa menghina orang lain tepat di hadapan orang itu, bersikap seolah mengejek adalah hal yang biasa dan wajar seperti bernafas. Dan hanya karena sekarang di depannya berdiri seorang gadis berambut pirang yang terlibat masalah karenanya, tidak membuat pemuda berambut kelam itu merasa menyesal dan memutuskan untuk menahan sedikit pembendaharaan kata-kata kasarnya.
Tidak.
Ia akan tetap bersikap seperti Sai yang biasa, yang tidak begitu disukai teman-temannya karena senang bicara kasar, yang jarang memperhatikan perasaan sesama.
Terutama dengan Ino.
"Brengsek." Desis Ino, kesal. Wajahnya sudah memerah sempurna. Marah karena lagi-lagi Sai mencuri klaim atas bibirnya, diiringi dengan kalimat yang sama pula. "Kenapa kau melakukan ini padaku, hah? Kenapa?"
Sai mengeluarkan satu tangannya dari saku celana. "Melakukan apa?"
"Melakukan… melakukan…—ugh," Ino mengeluh dalam, berharap nafasnya yang terengah akan cepat kembali ke kecepatan normal. "Menciumku, bodoh!"
Karena Sakura. "Tak ada apa-apa," Sai berbohong dengan lihai, mengangkat bahu dengan ekspresi tak acuh. Seakan tak peduli dengan penderitaan dan harga diri Ino yang tercabik. "Aku hanya tertarik dengan gadis pirang berisik yang sering membuat orang lain kesal."—bohong! Aku tidak kenal kau. Tidak tahu apapun tentang kau. Tanya Sakura, jangan aku!—"Jadi, blondie, kau mau apa kesini? Asal kau tahu saja, setengah jam lagi pacarku datang dan aku tidak mau dia bertemu denganmu."
Ino tertegun sejenak. "K-kau… punya pacar?"
"Kenapa? Kaget?" Sai tersenyum sinis. "Kau pikir karena aku cowok brengsek yang seenaknya mencium gadis asing, aku tidak punya pacar? Bodoh."
Tapi Ino benar-benar kaget. Menurut data yang sudah didapatkan Shion, Sai itu seharusnya tidak punya pacar. Sejak SMP hingga SMA, bahkan sampai kuliah S2, pemuda berambut hitam itu tidak pernah punya riwayat tentang hubungan romansa. Kalau soal fans, tidak bisa dihitung dengan jari lagi. Tapi kalau pacar…
"Kenapa?"
Sial. "Hm. Yeah. Aku kesini cuma mau minta pertanggungjawaban, kok." Ino berlagak kalem. "Kau, kan, sudah membuat reputasiku sebagai aktris cantik single ditertawakan masyarakat. Jadi kau harus bertanggung jawab atas foto kita yang menyebar itu."
Sai tertawa mengejek. "Foto kita? Well, aku tidak tahu matamu rabun atau tidak, Yamanaka. Tapi wajahku tidak terlihat di foto. Jadi aku tidak mau ikut bertanggung jawab."
"Oh, benarkah? Akan kubuat namamu muncul di semua surat kabar tiap kali aku muncul!"
"Dengan apa?"
Ino merogoh sakunya, menunjukkan foto-foto masa kecil Sai—ya, Tuhan, Sai benar-benar kaget melihatnya—dari taman kanak-kanak sampai saat ini. Kemudian gadis pirang itu, seakan tidak memperhatikan ekspresi Sai yang semakin memucat, kembali mengeluarkan lembaran kertas yang membuat profil umum mengenai seorang pemuda kelahiran Hokkaido bernama Sai.
"Shit! Darimana ka—"
Dengan cepat, Ino menyembunyikan lembaran-lembaran data mengenai Sai itu di belakang. Mengeluarkan evil smirk terbaiknya, "Jadi, Sai-kun…" ia melebarkan seringai, "…bagaimana kalau kau putuskan pacarmu dan kita buat perjanjian?"
Sesuai rencana Haruno Sakura.
.
.
Sai melirik gelisah ke arah ponselnya, merasa bersalah atas pesan singkat yang ia kirimkan ke Hinata beberapa menit lalu, yang berkata kalau janji mereka bertemu di taman belakang universitas terpaksa dibatalkan karena ada gadis pirang yang memaksa Sai ngobrol dengannya di café. Dan jika kalian tanya apakah Sai benar-benar mencantumkan soal gadis pirang itu di pesan singkatnya kepada Hinata, jawabannya 'ya'.
Pemilik mata onyx itu hanya ingin jujur pada sahabat karibnya.
Jadi, well, soal Sai punya pacar itu bohong besar. Meskipun harus Sai akui dia memang naksir Hinata, ia sendiri belum punya cukup keberanian untuk mengatakan dengan gamblang mengenainya pada Hinata, yang sudah menjadi teman dekatnya sejak lulus SMA. Kebetulan mereka juga berada di universitas dan fakultas yang sama.
"Hm. Jadi, blondie," dengan gelisah, Sai kembali melirik ke arah ponselnya. Cemas jika respon Hinata terhadap pesannya buruk dan gadis berambut biru tua itu marah padanya. "Kau mau bicara apa? Cepat."
Ino menjauhkan tepi gelas jus jeruknya. "Kau bolos hari ini."
Sai mengerjap terkejut. "Apa?"
"Kau. Bolos." Ujar Ino menekankan. "Aku tidak mau pembicaraan kita nantinya terpotong-potong karena kau harus ikut pelajaran. Jadi tetap disini. Tidak usah ikut kelas."
"Tapi Hinata—"
Gadis pirang yang sejak beberapa menit lalu telah memasukkan nama Hinata ke dalam 'daftar hitam' yang memuat mengenai orang-orang yang bisa merebut kesempatannya dapat cowok keren, mendengus kesal. Bosan mendengar Sai yang terus-menerus menyebut nama gadis yang pemuda itu akui sebagai pacarnya. "Kau sudah mengiriminya pesan, kan?"
"Ya."
"Bagaimana bunyinya?"
"Uh, begini," Sai mengambil ancang-ancang, seakan tahu bahwa reaksi Ino nanti hanya akan menyakiti tubuhnya, mundur sedikit. "'Hinata, janji kita hari ini batal. Ada cewek pirang nyebelin yang nyuruh aku ngobrol dengannya di café. Maaf. Nanti kuhubungi lagi.'"
DUAGH!
"Ouch!"
Ino menggigit bibirnya berang. Cowok di depannya ini…"Kau ini pacar macam apa, hah? Mana mungkin kau ngirim pesan ke pacarmu seperti itu!"
"Hei, daripada aku dituduh selingkuh lebih baik kan—ouch! Jangan pukul aku lagi!"
Iris biru pucat menatapnya kesal. Sungguh, Ino belum pernah bertemu dengan pemuda seperti Sai. Sebagian besar laki-laki lebih suka menyembunyikan kebenaran dari pacarnya, mengucapkan sumpah-sumpah yang tak terlaksana, dan kemudian menyakiti sang pacar dari belakang. Tapi Sai berbeda. Sai itu… dia tidak menyembunyikan kebenaran. Bicaranya kasar, tapi entah kenapa meskipun menyakitkan tidak membuat kadar amarahnya naik—memang bikin kesal, sih, tapi tidak sampai murka (kecuali kalau benar-benar sampai ke taraf 'sangat, sangat, sangat menyakitkan'). Dia tidak pernah mengucapkan sumpah, berkata dengan nada sarkasme bahwa ia sendiri tidak mempercayai janji. Sai tidak melukai dari belakang. Dia tidak bermaksud melukai; dia mencoba menjaga hati agar tetap bersih dan tak ada tangis, tapi dengan cara yang… well, berbeda.
Tipe cowok seperti Sai, yang belum pernah Ino hadapi, adalah tantangan menarik yang sulit dimengerti, membuat hatinya terus melemparkan emosi yang tak ia pahami.
Tertarik.
"Ok. Kita mulai saja." Ino mendorong gelas jusnya menjauh, agar ia bisa meletakkan tangannya di meja dengan lebih leluasa. "Kau mau jadi pacarku?"
Uhuk, uhuk.
Sai tersedak. Entah kenapa, meskipun Sakura sudah memberitahunya segala hal mengenai prediksi rencana yang akan dibuat si pirang Yamanaka, ketika kalimat 'kau-mau-jadi-pacarku'itu terlontar dari bibir si gadis pirang, Sai tetap saja tidak bisa menahan rasa keterkejutan. Bukan karena kalimatnya, tapi ekspresi yang mengiringinya. Rona merah yang menjalar, dada yang naik turun sedikit tak kentara karena detak jantung yang berdetak cepat dan nafas tak beraturan, juga bola mata biru pucat yang seolah bilang, kalau ia amat, sangat berharap Sai akan jadi pacarnya.
Mustahil atau tidak, Sai jelas terkejut. Dihindarinya tatapan polos dari iris biru saphire yang masih menatapnya penuh harap.
"Ya, Sai?"
Pemuda berambut hitam memperdalam konsentrasinya terhadap cangkir yang berisi teh di hadapannya. "Nggak mau."
Ino marah sekarang. "Apa?"
"Aku bilang, tidak mau. Aku tidak mau putus dari Hinata, tidak mau pacaran denganmu—sorry. Ini keputusanku," Sai mengaduk tehnya. Mencoba mengingat-ingat skenario yang sudah dikirimkan Sakura tadi malam. Tentang apa yang harus ia katakan jika prediksi Sakura benar.
Pertama, tolak.
"Hei, tapi kau sudah melibatkanku dalam masalah!" seru Ino kesal, menggebrak meja dengan keras. Mata birunya berkilat. "Kau harus bertanggung jawab, atau namamu akan tersebar sampai acara infotaiment. Paham?"
"Kau mengancamku?"
Ino memutar bola matanya bosan. "Terserah apa pendapatmu, Sai-kun. Tapi yang terpenting, kau harus bertanggung jawab dengan jadi pacarku!"
Sai mendengus sebal.
"Memang kalau aku jadi pacarmu akan ada yang berubah?" tanya Sai, benaknya berputar cepat, baris demi baris kalimat yang telah disusun Sakura dalam kumpulan adegan dramanya termuntahkan tanpa beban. Dengan ekspresi yang mendukung, Ino akan dengan mudah tertipu. "Justru membuat gosip yang beredar tentangmu itu makin buas, 'kan? Karena ternyata benar kau sedang berhubungan dengan seorang pria."
"Paling tidak aku tidak dianggap sebagai gadis jalang yang mau-maunya saja dicium oleh orang yang tidak dikenal," Ino berujar tanpa pikir panjang.
Tiba-tiba Sai menyeringai. "Tapi bukankah kau memang gadis jalang? Buktinya kau mau saja dicium olehku."
Wajah Ino memerah.
"Berisik!" gerutunya. "Yang penting, 'kan, aku tidak menginginkannya!"
Ternyata benar kata Sakura. Yamanaka Ino adalah gadis egois keras kepala yang sangat mengesalkan. Pantas saja Sakura, yang sebenarnya mulai bisa menggunakan logika daripada perasaan akhir-akhir ini, tetap tidak bisa menahan diri saat berhadapan dengan Yamanaka Ino. Tapi sekarang yang berhadapan dengan Ino bukan Sakura, melainkan Sai. Sai. Pemuda yang menjadi umpan dalam skenario dramatis Haruno Sakura. Pemuda yang terpaksa menjadi lakon utama karena masa lalunya dalam kehidupan Sakura. Pemuda yang harus terlibat dengan gadis pirang menjengkelkan bernama Yamanaka Ino.
"Dua hari." Sai menyahut pelan.
"Apa?"
Skenario berikutnya; terima.
Pemuda di hadapan Ino itu menghela nafas panjang, kemudian mendorong cangkir tehnya menjauh. "Tunggu dua hari. Lalu aku akan putus dengan Hinata. Bagaimana?"
Ino menyeringai lebar. "Janji?"
"Janji."
Skenario sudah berjalan. Bagian pembuka telah terselesaikan. Saat ini, kita telah membuka lembar halaman kedua, dimana konflik pertama akan menghadang. Ino, yang sekarang berpikiran bahwa Sai sudah menjadi budaknya, tak menyadari bahwa ia sedang terjebak dengan rencana sempurna Sakura yang ingin menjatuhkan namanya.
Konflik pertama.
Gosip lagi, eh?
.
.
To: HarunoSakura_
From: Sai_
Subject: Mission Complete.
Dia baru datang padaku sejam lalu. Mengatakan hal yang sama persis dengan yang kau ucapkan kemarin malam. Sama persis dengan prediksimu, Haruno.
Kirimi lagi aku skenario.
Gadis itu sepertinya akan membuatku kerepotan.
Terpaksa mengirimimu pesan lewat e-mail karena gadis pirang itu berkata bahwa setiap hari ia perlu mengecek ponselku, memastikan bahwa aku tidak merekam sesi pembicaraan perjanjian kami, dan tidak memberitahu media massa mengenai kontrak konyol ini. Dia sangat hati-hati, tapi di lain pihak juga sangat tidak teliti.
Aku berhasil mengelabuinya agar ia tidak memaksa untuk memeriksa inbox e-mailku juga. Tapi aku tetap harus waspada.
P.S: (Kapan semua ini akan berakhir? Aku sudah tidak sabar).
Akan kuhubungi kau lain kali—lewat telepon. Tapi selama aku belum memberitahumu kode, jangan meneleponku. Kita berkomunikasi lewat e-mail saja.
Thanks.
.
.
"Aku cemas saat kau mengirimiku pesan mengenai seorang gadis, Sai-kun." Hinata meletakkan cangkir teh yang telah kosong ke bak cuci piring, berhati-hati agar cangkir kesayangannya itu tidak membentur sisi bak, kemudian mencuci tangannya. Ia melepaskan celemeknya, berbalik untuk menatap Sai yang duduk di dapurnya. "Gadis berisik sepertinya bukan orang yang bisa menjalin hubungan yang baik denganmu, Sai-kun."
Sai menganggukkan kepala, setuju sepenuh hatinya. Pulang dari pembicaraan mengenai kontraknya dengan Ino, ia langsung melesat ke apartemen sahabat karibnya—Hinata.
"Yeah. Dia gadis yang menyebalkan." Ujar Sai, menyesap Earl Gray miliknya. "Gadis berisik yang egois. Bukan tipeku. Ya. Benar."
Hinata mengangkat sebelah alis ketika mendengar jawaban sahabatnya, kemudian tersenyum kecil. Diletakkannya piring-piring yang masih licin karena habis dicuci di rak piring, kemudian ia membersihkan meja dapur. Sai tetap menikmati tehnya, seolah sudah berhari-hari ia tidak meneguk minuman berwarna kecoklatan yang cukup sering disajikan hangat atau diberi es batu. Ia mengamati dekorasi dapur Hinata yang berubah dari waktu ke waktu. Beruntung Hinata pernah berpacaran dengan seorang mahasiswa Jurusan Desain Interior, yang bahkan sampai saat ini masih sering mengunjungi apartemennya untuk merubah dekorasi apartemen Hinata. Dan hal itu juga yang membuat Sai semakin betah berkunjung di apartemen yang meskipun sederhana, jauh lebih nyaman daripada apartemen mewah milik sepupu Hinata di lain sisi kota.
Dan omong-omong soal sepupu…
"Kenapa tidak tinggal dengan Sasuke saja, Hinata?" tanya Sai penaran. Teringat pada sepupu Hinata yang arogan dan keras kepala itu. "Kurasa dia tidak akan keberatan kau tinggal di apartemen yang sama dengannya."
Hinata tertawa. "Apartemenku lebih dekat dengan universitas, Sai-kun. Lagipula disana aku akan kesepian," ujarnya, menghela nafas. "Sasuke-kun sungguh sibuk dengan pekerjaannya sebagai aktor. Kudengar dia membintangi film action lagi, dan bahkan sebelum syuting scene pertama dimulai, pengagumnya sudah memenuhi situs web yang membahas mengenai film baru Sasuke-kun itu." Iris lavendernya cemerlang, menatap ke arah Sai yang tetap duduk di tempatnya, tenang. "Paling tidak disini aku bisa bicara denganmu."
Rona merah merambat ke telinga Sai, yang untungnya tidak Hinata sadari.
Pemuda berambut hitam itu buru-buru membuang muka, enggan untuk membiarkan ekspresi wajahnya yang langka itu tersorot oleh sepasang mata Hyuuga yang cermat. "Ehem, jadi… Sasuke sedang menjalani dunia aktingnya, ya? Tak kusangka dia jadi setenar ini."
"Dia kan, tampan—jelas saja."
Uchiha Sasuke, sepupu Hinata yang cukup dekat dengan gadis Hyuuga itu sekarang bekerja sebagai model dan aktor. Penampilannya yang di atas rata-rata memang modal utama yang membuatnya tetap bertahan di dunia gemerlap selebriti. Dan meskipun lakon yang bisa dibawakannya hanyalah pria cool yang sebenarnya memiliki sisi romantis, ia tetap laku keras di pasaran.
Hinata selalu tersenyum tiap kali mengingat Sasuke kecil yang jauh lebih ramah daripada sekarang. Sasuke sebelum kehilangan kakaknya di usia tujuh tahun pasti bisa membintangi lakon apapun.
Tapi bahkan dengan sifat pendiamnya, Sasuke tetap berjaya sebagai seorang aktor.
Sai menjauhkan cangkir teh yang sudah kosong dari lengannya, kemudian bertopang dagu menatap Hinata yang saat ini sibuk mengelap satu sisi meja dapur. "Hei, Hinata," ia berujar ragu-ragu, teringat akan kontrak yang baru saja ia setujui dengan gadis Yamanaka pirang yang belakangan ini tenar karena gosip mengenai dirinya sedang berhubungan dengan seorang pria berambut gelap yang masih belum diketahui identitasnya. "Apa kau keberatan… jika aku menceritakan sesuatu yang rahasia?"
Tangan Hinata berhenti bergerak.
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku, Sai-kun?" Gadis berambut biru tua itu tidak berbalik. "Itu bukan sifatmu. Apa sedang ada masalah, Sai-kun?"
"Tidak." Sai mengangkat bahu. "Ya. Entahlah… oh Tuhan. Kupikir ini merupakan sebuah masalah, untuk saat ini—mungkin ke depannya juga."
Hinata berbalik, menarik nafas panjang, kemudian meneliti ekspresi sahabatnya dengan teliti. Ketika tidak ditemukannya unsur kebohongan, akhirnya ia duduk di hadapan Sai, menanti pemuda berambut hitam itu mulai bicara. "Katakan, Sai-kun."
Sai menelan ludah. "Begini…"
.
.
To: Sai_
From: HarunoSakura_
Subject: re: Mission Complete
Bagus sekali.
Aku akan mengirimimu skenario berikutnya besok pagi. Untuk hari ini sampai besok, bersikaplah seperti Sai yang dikenal Ino. Yang arogan, yang sinis, yang suka menghina, dan samasekali tidak menyukai Ino juga senang bersikap seenaknya sendiri.
Aku tidak akan menghubungimu lewat telepon lagi. Kudengar ada terorisme dan penyadapan telepon, jadi kurasa lebih aman mengirim lewat e-mail.
Jangan meneleponku.
Kehidupan pribadimu seharusnya baik-baik saja jika kau tidak mengungkapkan rencana kita pada Hinata. Dia tidak akan terluka jika tidak tahu apa-apa. Dia tidak akan terluka jika Ino bahkan tidak mengenal atau pernah mendengar namanya. Jadi, tetap simpan rahasia.
Ini akan segera berakhir, jika sudah sampai titik dimana Ino takkan bisa lagi mengangkat wajahnya dengan percaya diri. Skenario akan kupercepat—jika bisa—karena semakin cepat segalanya selesai, identitasku sebagai orang yang sudah membuat Ino sengsara tidak akan terungkap.
Jaga rahasia.
Tunggu skenarioku datang dan jangan bertindak gegabah.
P.S: Jadilah pria brengsek yang suka pergi ke bar di depan Ino. Karena gosip selanjutnya berhubungan dengan—bar.
***…o0o…***
Kenapa selalu ada yang berbeda tiap kali sang Ratu mengungkit masa lalu?
.
.
#
.
.
Queen of Gossip
©Hyuuga EtaMita-chan
.
-o0o-
.
T B C
.
.
#
.
.
Seperti aku sedang tertipu. Seperti ada rencana yang busuk. Seperti dia sedang merencanakan sesuatu.
***…o0o…***
A/N: Skenario Sakura pasti akan langsung para readers tebak dengan mudah. Di chapter kali ini, saya masukkan Uchiha Sasuke sebagai sepupu Hyuuga Hinata. Tapi tidak akan muncul dalam fic ini—cuma numpang nama!—Sai udah bilang semua rencana Sakura ke Hinata, lho~ Hinata marah, nih!
Thanks for xoxoxo, Nara Kazuki (Hah? Misteri? Kok fic ini bisa bergenre misteri, sih?), Uchiha Hime is Poetry Celemoet (maaf, saya bukan Sakura-hater, tapi memang agak… ng—sensitif?—dengan pair Sasuke/Sakura. Maaf, ya!), princess nathania swan (Ino gak kejem, kok! Kalau Sakura nggak kerja siapa yang bakal nanggung kebutuhan hidupnya, dong?), elfazen (Hehehe, jadi SasuSaku? Aku nggak suka SasuSaku, nih—jadi kita sehati! Elfazen-san, silakan berpusing-pusing dengan dugaan anda mengenai fic ini *smirk*), chadeschan (Sai beneran gak OOC?), and Re.
Dan special untuk reviewer yang ngomongin SasuSaku di review, saya tekankan, tidak akan ada SasuSaku di fic ini! Keputusan final!
Sasuke juga hanya muncul nama. Pasangan Sakura belum ditentukan! (Hei, crack-pair bagus nggak, ya? Misalnya Jiraiya/Sakura gitu… hehehehe!).
Pokoknya terimakasih banyak yang sudah mereview chapter dua. Semoga anda menikmati chapter tiga… yeiy~!
RnR, please.
