di review banyak yang salah nyebutin Jonghun sama Jonghyun ya...T.T yah.. dua-duanya sama-sama anak FnC Music sih... sama-sama seme juga ( Lee Jonghyun ultimate seme di Cn Blue malah! YongHwa aja sukses jadi ukenya! Hohohoho *JongHwashipperkumat). sama-sama guitarist juga sih... lah! author jadi kebanyakan ngoceh! ya udah, selamat membaca chingu-ya..^^

.

Title : Nocturne

Rating : T (for this part)

Disclaimer: FT Island belongs to FnC Music's, their parents, and God.

Oh! And themselves, of course!

dengan kata lain saya hanya pinjem nama-nama dari entertainer diatas. Tapi cerita ini benar-benar milik saya.

Pairing : [FT Island] Lee Hongki x Choi Jonghun.

Warning : YAOI, BoyLove, BoyXBoy, PWP, Bahasa abal, rada ngebosenin, ff ini hanya fiksi... fiction in fiction in fiction #malahnyanyi

I've been warned you
so,
Don't like? please don't read

.

Now Playing:

Frederick Chopin - Nocturnes Op.9 in E Flat

The Gazette - Taion

FT ISLAND – Distance

Rachmaninoff - Piano Concerto no.2

Tambahan !

Part ini dibuat 7 bulan lalu, jadi mungkin gaya bahasa mako belum se-berkembang chap 1. tapi lumayan enak di baca kok..

Well, HAPPY READING GUYS…^^

.

.

.

"Hongki Hyung!"

"Mi-Minari..? Minari!"

Namja yang dipanggil minari itu melepas rangkulan ditubuhnya dan menghampiri Hongki, memadukan tubuh mereka dalam pelukan penuh kerinduan. Membuat kedua namja yang menemani mereka hanya dapat saling memandang bingung.

"Sepertinya mereka sudah saling mengenal..." gumam Jonghun. Namja didepannya hanya mengangguk takjub.

"Aigoo.. Lama tak bertemu, kamu semakin imut saja. Bagaimana keadaanmu?".ucap Hongki membenamkan tangannya pada namja yang dianggapnya adik kandung sendiri.

"Hyung juga makin cantik. Hehehe omooo... Neomu neomu bogoshippo hyung.."

Hongki melepas pelukanya. "Nado bogoshippo minari-ya... Kapan kau pulang ke korea? Jadi, kau sudah menikah?"

"Setahun lalu hyung.. Dan aku menikah seminggu yang lalu. Hyung tega sekali! Kenapa menikah dengan Jonghun hyung tidak mengabari aku?"

"Mianhae, chagiya.. Semuanya terjadi begitu cepat. Wah... Kalian baru menikah? Chukkae!"

"Gomawo hyung...hehe. Jonghun-hyung, hyung beruntung. Hyung tahu, terakhir kali aku bersama Hongki hyung, rekor namja yang ditolaknya 69 dan yeoja 46 lho. Haha- *plak*aduh! Hyung appo~" cerocos minhwan sambil mengelus kepalanya. Seunghyun tertawa, Sedangkan ekspresi Jonghun sulit terbaca.

"YA! Jangan membicarakan yang tidak perlu."omel Hongki.

"Lalu.. Lalu.. Berapa rekor hyung sekarang?"ucap minhwan berlumur nada penasaran.

Ekspresi tidak suka terpancar di wajah cantik hongki.

"Ya! Berhenti membicarakan ini. Kau pikir aku suka melakukannya?"

"Hyung.. Ayolah.. Aku benar-benar ingin tahu.."

"Mo-molla! Aku tidak menghitungnya! Kau tahukan sejak kecil, aku benci topik ini... Ayo BabyJae, kita check in duluan.." gerutu Hongki sambil berjalan.

.

.

.

"Astaga!"seru Minari, membuat Jongki dan Seunghyun ter peranjat.

Minhwan melangkah ke depan kereta bayi dengan wajah terperangah. Seorang bayi terduduk tenang didalamnya. Bola matanya yang bulat dan lebar berkedip menatap wajah tak dikenal di depannya menggumamkan tawa renyah menyapa dari dalam kereta. Minhwan pernah mendengar bahwa Jonghun mempunyai seorang anak dengan seorang namja. Namja yang begitu beruntung dikaruniai rahim. Tapi...

"D-Dia.."

"Choi jaejin. Anakku."ucap Hongki tersenyum.

"Hyung... Boleh aku menggendongnya?"

Hongki mengangguk. Dalam sekejap Jaejin pun berpindah ke dalam gendongannya.

"Omooo.. Seungie.. Lihat. Matanya bulat sekali!" gumamnya.

Seunghyun memutar bola matanya. "Semua bayi bermata bulat chagi*plak* aduh! Ya! Kenapa memukulku?". Omel seunghyun mengelus kepalanya.

"Kau merusak moment bahagiaku.."omel minhwan.

"Babyjae, jangan pedulikan seung ahjussi ne.. Bwabwabwa" Hongki, Jonghun, dan Seunghyun tertawa.

.

Suara wanita dalam microphone bandara menggema. Mengumumkan keberangkatan mereka sebentar lagi.

"Kkaja.. Kita harus segera check in. Sudah chagi, kembalikan Jaejin pada Hongki hyung".

"A-andwae. Hongki hyung~ BabyJae biar bersamaku ya.. Jebal.."ucap minhwan.

"Ti-tidak boleh. Aku gak bisa pisah lama-lama dengan Babyjae. Pokoknya tidak boleh."

"Hyung.. Boleh ya.. Hyung~.. Hyung~.."rengek Minhwan.

"Tidak boleh. Sudah, kembalikan BabyJae ku."

"Aku tidak mau. Pokoknya BabyJae harus ikut denganku."

Para seme hanya bisa terdiam melihat bayi cantik itu diperebutkan. Bingung apa yang harus di lakukan. Sedangkan BabyJae tertawa diantara dua tangan yang menarik badannya. *mako-chan: Jaejin dialognya ketawa mulu ya.. Hoho#ketawaiblis jaejin: #pundungngaistanah*

"Sudahlah chagi.. Kembalikan. Nanti kalau Jaejin haus gimana?" ucap seunghyun.

Minhwan melirik seung ganas.

"Hongki hyung tak bisa menyusuinya Bodoh!" tandas minhwan tanpa perasaan.

'[Bodoh!..bodoh!..bodoh!]'suara minhwan menggema di kepala Seunghyun. Membuat namja itu pundung ngais pasir di pojokan. Ah, mari kita abaikan Seunghyun..

Tiba-tiba minhwan teringat sesuatu, senyumnya mengembang.

"Hongki hyung... Apa hyung sudah bisa naik pesawat?"

JLEGEERRRR!

Hongki membeku, Jonghun menaikkan sebelah alisnya, Minhwan tersenyum evil, Jaejin masih ngakak, Seung mulai ngebor! [ngais tanah udah gak asik]

.

.:mako-chan:.

.

Keringat tipis mulai melapisi kening Hongki. Jemarinya memutih karena mencengkram sandaran siku di samping kiri dan kanannya. Entah berapa kali ia menelan ludah dan menghela nafas menenangkan diri.

"Dasar bodoh.. Mana ada orang lupa phobianya sendiri.."gumam Jonghun tanpa melepaskan mata dari buku yang dibacanya.

"eo-eotteoke... Eotteoke.. Eotteoke.."gumam Hongki lirih.

Pesawat mulai maju perlahan. Hongki tersentak. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Tak lama kemudian, pesawat pun take off dengan posisi miring ke atas.

"Astaga! Astaga!"gumam Hongki ngeri. Tangan Jonghun menyentuh pipi Hongki.

"Tenanglah.. Memang seperti ini kok.. Semuanya pasti aman. Tenanglah.."

Hongki mengangguk, dan menelan ludah.

Jonghun tertawa.

Tiba-tiba pesawat anjlok kebawah dan menaikan sudut kemiringan.

Hongki benar-benar panik dan berteriak karena kaget dan takut.

Namja cantik itu mengatupkan mata dan mulutnya kuat-kuat.

Jonghun menghela nafas, jemarinya meraih dagu Hongki dan menyatukan mulut namja itu dengan mulutnya. Jonghun bisa merasakan tubuh itu membeku. Bibir lembut di bibirnya tak bereaksi, Namun saat matanya terbuka, mata cemerlang didepannya menutup sempurna. Merasakan kepolosan di diri Hongki, membuat Jonghun gila secara perlahan.

Jonghun mulai menggerakkan bibirnya. Melumat, menjilat, menghisap bibir merah itu. Merasakan darah dikepalanya mendidih perlahan. Mata sendunya yang semakin kelam enggan menutup. Ingin melihat ekspresi Hongki disaat ia merenggut ciuman pertama namja itu. Jonghun tahu, ia bisa merasakannya dan ia sangat menghargai itu.

Saat pesawat terbang mendatar, Hongki membuka matanya dan memisahkan diri perlahan tanpa melakukan kontak mata. Bibirnya bergerak kikuk. Semburat merah mengganti rona pucat Hongki.

Jonghun tersenyum melihat tingkah manis couplenya itu. Perlahan ia kembali ke posisi duduknya.

"Kupikir kau sudah tenang... Baguslah. Sekarang aku mau tidur. Kau juga tidur lah.."ucap Jonghun menutup matanya dengan penutup mata dari maskapai.

.

.:mako-chan:.

.

-in the morning, in a hotel in canada-

.

"Hei. Bangun. Hei." panggil Jonghun. Hongki menggeliat, lalu membuka kedua matanya.

"Ya, bangun.. Hari sudah siang. Cepat mandi, kita turun untuk sarapan". Hongki mengangguk dan berjalan turun.

CEKLEEEK ~BLAM!

Jonghun menahan tawa.

"Astaga!"

BRAKK!

Hongki kembali dari balik pintu. Kini kaos yang tadi ia pakai berpindah ke tangannya mengekspose tubuh bagian atasnya yang putih mulus dengan jelas.

"Aigoo..! YA! Kenapa tidak bilang kalau ini pintu keluar? Aissh! Memalukan"omel Hongki

"Kau tidak tanya".ucap Jonghun datar.

"oh, gosh!.. Orang ini! Aigoo..! Ya! Kau tahu! Gara-gara kau aku tadi hampir buka celana didepan rombongan pengusahaaaa...(T0T)" Ucap Hongki menjambak rambutnya sendiri dan berlari ke kamar mandi. Jonghun tertawa terbahak-bahak.

.

.:mako-chan:.

.

Angkasa biru mewarnai bumi bagian utara. Begitu pucat namun cerah tanpa awan menggantung. Dibawah sana permadani putih membentang luas. Mengubur hijaunya hutan dan gelapnya tanah dalam balutan putihnya salju tebal.

"Jonghun-ah, aku tidak bisa melakukannya.. Ahhh! Ahhh! Aduh! Pelan sedikit... Hiks! Sakit..."

"Tahan dulu."

"Sakit.. Hiks"

"Makanya kalau main ski jangan melamun.. Jadi jatuhkan.."

"Arrgh! Jangan ditekan, sakit..! Aku hanya kawatir dengan BabyJae, Aku pulang saja ya.."

PLAK!

"Aduh! Ya! Kenapa hobi sekali memukul kepalaku?"omel Hongki.

"Jangan jadikan Jaejin sebagai alasan. Dia pasti senang dapat teman baru di penitipan. Kau terlalu possesif. Ayo latihan lagi." tangan Jonghun menarik Hongki untuk berdiri.

"Shireo. Aku kangen sama BabyJae. Lagi pula aku tidak bisa menggunakan alat ini "ujar Hongki ngambek.

Tiba-tiba suara salju bergesek terdengar. Dari atas seseorang meluncur, meliuk dan akhirnya berhenti dengan halus. Orang itu memindahkan pelindung mata ke atas rambut.

"Bagaimana hyung? sudah bisa kah?" tanya Minhwan.

Sebelum Hongki menjawab, seseorang meluncur dengan menggunakan snow board dan berhenti didekat mereka. Seunghyun.

"Tentu saja belum bisa."cibir seunghyun, sambil mengeluarkan seringainya.

"Ya! Seungie diam."ucap Minhwan.

"Ah, itu fakta kok. Lihat saja luka-luka di lengannya. Dia tidak bisa main ski!."

"Seungie!"protes Minhwan. Hongki tersenyum dan melipat tangan di dada dengan santai, membuat alis Jonghun terangkat heran.

"Tenang Minari, aku tidak akan 'panas' mendengar ocehan dari amatiran seperti dia."

"M-mwo? Amatiran?"

"Ne.. Amatir. Kau bertingkah seolah tingkatanmu lebih tinggi dari Minhwan, padahal dari permainanmu kau tidak akan pernah bisa menang darinya."

"Mwo?"

"Gerakanmu kasar. Kau hanya meluncur tanpa teknik dan tidak mencoba mengenal medan. Apalagi saat berhenti... Huh, aku bertaruh board mu sering patah karena ulahmu"

'Hongki benar..' pikir Jonghun takjub.

"Ya! Kalau begitu kita bertanding! Kalau kau kalah, kau harus mencuci bajuku selama disini."

"Seungie!"protes Minhwan.

"Oke. Kalau kau kalah, kau harus menuruti perintahku selama di sini. Deal?" ucap Hongki menjulurkan tangan. Seunghyun menatap tangan itu sekilas , lalu menggenggamnya.

"Deal". Ucap seunghyun dengan seringaian setan terkembang jelas di wajahnya.

.

.:mako-chan:.

.

"Omoo.. Dingiiin. Minari.. Kenapa kalian tega padaku.." ucap Seunghyun yang kini sedang mencuci baju JongKi dengan tangan di tengah cuaca bersalju.

"Ya, salah sendiri menantang Hongki hyung... Hongki hyung memang nggak bisa main ski, tapi dia pemenang kejuaraan snowboard! Hahaha"ucap Minhwan sambil mempermainkan hidung Jaejin dalam pangkuannya.

"Ha? Mwo! Ke-kenapa kau gak bilang? Aisssh! Kau tega chagi...T3T)".

"Gimana bisa bilang? Aku sudah berusaha, tapi kamu nyerocos terus.. Hahaha"

"Ckkk! Sekarang kemana mereka? Kenapa Jaejin ada bersamamu?"ucap seunghyung sambil mengucek kerah baju.

"Hongki hyung dan Jonghun hyung bermain snowboard."

"Oh.."

"Seungie, kita jadi ke danau?"

"Aku capek Hwannie, lagi pula akan ada badai malam ini. Besok saja ne.."

"Un! Arasseo... Padahal aku tadi sudah pamit ke bibi pemilik penitipan anak.."

"Kalau begitu kita jalan-jalan di sekitar sini saja ne.." ucap Seunghyun. Minhwan hanya mengangguk dan kembali bermain dengan Jaejin dalam pangkuannya.

.

.:mako-chan:.

.

Jonghun duduk di atas salju, menonton 'istri'nya melaju di atas snow board. Pergerakan Hongki begitu maskulin, begitu indah dan luwes meluncur diatas boardnya. Tiap sel hemoglobin Jonghun bagai meletup, Jantungnya memacu cepat merespon stimulus dari manik hitamnya yang menangkap pergerakan Hongki.

Hongki berhenti dengan mulus di samping Jonghun, memerosotkan pelindung mata ke leher. Semburat merah menghiasi wajah putihnya yang terlihat halus karena terpaan angin dingin. Nafasnya terengah, uap air mengepul dari bibir yang entah mengapa memerah dan terlihat basah.

"I.. Hh..hh Istirahat du-lu hh..hh.. Baru kkkita pu..pulang hh..hh..huft! Aku capek!"gumam Hongki membungkuk disela engahannya. Dan disaat ia berdiri, tatapan Jonghun mengurung pandangannya. Namja sendu itu melangkah maju.

"Hongki-ah..." Jonghun menghela gumaman. Jemari ramping menyapu semburat merah di pipi Hongki, lalu turun menyangga dagu itu dan menyapu bibir merah kissable dengan ibu jarinya sebelum bibir mereka saling bertaut.

Seperti saat di pesawat, Hongki tidak membalas ataupun menolak ciuman Jonghun, ia hanya diam. Jonghun pun tidak menuntut, Namun saat bibir itu tak sengaja bercelah namja itu menyusupkan lidah.

Tubuh Hongki bergetar aneh seakan takut pada sesuatu, namun hal itu tak berjalan lama. Perlahan Hongki mengambil nafas panjang lewat hidung, lalu merespon ciuman Jonghun.

Tubuh Jonghun dan Hongki menempel erat hingga debar jantung terasa ditubuh masing-masing.

Diluar kesadaran tangan Jonghun menyelinap ke bawah lapisan baju tebal Hongki. Nafsu menuntun namja itu untuk meraba teksturnya dan merasakan getaran ringan saat melewati titik tertentu.

Tangan itu menemukan sesuatu, dan meremasnya agak kasar.

"TIDAAAAAAAAAK!" Jerit Hongki. Tangannya mendorong Jonghun hingga terjatuh menghantam Pohon cemara besar.

"YAA! AP-" Jonghun tercekat, kedua manik matanya membulat lebar.

Seluruh tubuh Hongki yang terduduk diatas salju bergetar hebat. Kedua tangannya menyilang memeluk diri sendiri. Wajahnya yang kini memucat tanpa rona menggeleng dengan pandangan kosong menembus sosok Jonghun.

"Berhenti! Tolong.. Jangan lakukan ini Jonghun-ah.. Jebal hiks! Berhenti!"racau Hongki.

Jonghun shock. Kepalanya bagai dihantam batu besar. Perlahan ia berjalan mendekati Hongki yang bergetar takut. Namja itu masih meracau. Ia mengenali ini. Phobia. Namja berwajah sendu itu memeluk tubuh gemetar dihadapannya dengan penuh kelembutan. Untung baginya karena namja berstatus istrinya ini tidak meronta dalam pelukannya.

"Mianhae Hongki-ya, jeongmal mianhae.." bisiknya. Getaran tubuh dalam pelukannya berangsur tenang. Jonghun melepas pelukannya. Terdiam saat kedua mata obsidian berkilau kristal itu masih kosong menembus dirinya. Sedalam itukah luka yang ditorehkannya? Jadi cerita ia memperkosa Hongki dua tahun lalu itu benar?. Hongki melempar kenyataan itu ke mukanya dua tahun lalu, tapi ia tidak percaya, bahkan menyebut namja cantik itu namja murahan tiap ada kesempatan. Tapi Hongki menerima pernyataan itu tanpa sekalipun menyinggung tentang pemerkosaan atau melakukan pembelaan.

'Kenapa kau menerima semua ini? Kenapa tidak membantahku dan kenapa kau memendam semuanya sendiri namja bodoh..'ucap Jonghun dalam hati.

Jonghun mendekatkan wajah mengecup dahi Hongki lembut. Saat kesadaran Hongki pulih, namja itu mendorong dan menampar Jonghun sebelum berlari pulang.

Hongki berhenti berlari dibawah pohon. Terengah. Ia menunduk memandang telapak tangannya yang berkilau basah.

"Jonghun... Menangis...?"lirihnya.

Air matanyapun mulai menggenang. Dipeluknya tangan berlapis airmata Jonghun dengan tangan yang lain, dan kembali berjalan menuju hotel, meninggalkan gunung putih berpayung emperonimbus kelam berhias kemilau cahaya petir yang menyambar tanpa suara.

.

.:mako-chan:.

.

"M-mwo? Mereka menyebrang danau dan belum kembali? Bukankah air danau akan membeku saat badai?"

"Iya. Bibi juga khawatir.."

Hongki bergerak gelisah. Lalu mengambil beberapa benda sebelum berlari keluar.

"Bibi, aku pergi menyusul mereka. Doakan aku ya.."

"Mwo? Hongki ya! Kembali! Hongki ya! Hongki yaaa!"

.

.:mako-chan:.

.

Badai salju berhembus kencang. Ditengah danau yang beku. Seseorang terkulai dalam perahu yang tak dapat bergerak.

"Hongki-ya bangun! Hei! Hongki-ya!"

"Jo-Jonghun-ah.."jawabnya lemah.

"Minumlah.. Itu wine, cukup untuk menghangatkan tubuhmu."ucap Jonghun.

"Apa kau bisa berjalan sendiri? Lapisan esnya tidak akan kuat kalau aku menggendongmu.."
Hongki mengangguk. Mereka pun berjalan diatas danau yang membeku ke arah pulau kecil di tengah danau. Disana terdapat rumah persinggahan.

Hongki duduk bersandar di jendela yang berukuran 3x1 meter, mulai merasa tidak nyaman dengan bajunya yang basah dan hampir mengeras.

"J-J-Jonghun-ah, a-a-a-apaada s-s-s-selimut?"

"SSebentar, aaku carikan.."ucap Jonghun setelah mengambil kayu bakar dari penyimpanan diluar. Hongki yang tidak nyaman, akhirnya membuka semua bajunya yang lembab dan menutupkannya ke dada. Setelah Jonghun menyalakan perapian yang hanya hidup dengan api kecil karena kayu yang lembab, Ia segera beranjak ke lemari.

"Ssyukurlah.. Aada sselimut di sini." ucap Jonghun.

"Hiks! jjjonghunnn... hiks! Hiks"

"Wwae yo?"ucap Jonghun menoleh dari belakang pintu lemari.

"Hiks! Eoeoeotteoke? Pppppunggungku mennnnnempel dengan jjjjendela.. "

Jonghun bingung harus tertawa atau khawatir. Ia pun mendekat.

"Astaga! Bajumu basah! Kkau terjatuh ke danau?"tanya Jonghun ngeri. Baru terlihat olehnya wajah pucat dan Bibir biru Hongki dalam kegelapan. Hongki mengangguk.

"YA! Kenapa tidak bilang dari tadi!"ujar Jonghun marah.

"Aaaaku ti hh..hh.. Tttidak mau memmmmbuatmu kkkhawatir-"

"SEKARANG KAU MEMBUATKU LEBIH KHAWATIR TAHU! TUTUPI TUBUHMU DENGAN MANTEL DAN SELIMUT INI"
Hongki tersentak. Tertunduk dalam diam. Jonghun menghela nafas. Perlahan diperiksanya punggung Hongki yang menempel ke kaca yang membeku.
"AH! Sakit.."Namja cantik itu meringis.

Tiba-tiba sesuatu yang basah dan hangat menyapu punggungnya. Lidah Jonghun. Hongki yang shock menggeliat.

"Jjjjonghun-ah, hennntikan. Llllidahmu bisa beku. Bbbberhenti".

"Berhenti bergerak dan diam! atau aku tempelkan lidahku sekalian ke jendela"

Hongki terdiam. Jonghun kembali membelah kulit dan jendela dengan lidahnya yang hangat.

"Ttttapi lidddahmu bbbisa bbbeku.." bisik Hongki lemah. Jonghun hanya bergumam merespon namja cantik itu.

"Jjjjonghun... Tttolong Bbbberhenti..."

Jonghun bergumam lagi.

"Jjjonghun.. Lllidahmu dddingin.."

Usapan pada punggung Hongki berhenti. Wajah Jonghun yang terlihat kaku mengulum lidahnya. Tubuhnya mulai bergetar kedinginan.

"Hiks! Hiks! ...hu~ hiks!"

"yyya, kkkau kennnnapa lllagggi?"

"mmmataku kkemasukan debu.. Hiks!"

"Aaaastagaa... Hhhanya kemasukkkkan deb-debu? Ddddasssar ccenggggeng."cibir Jonghun menggigil, namun ia beringsut ke depan dan menengadahkan wajahHongki untuk meniup matanya. Namun namja cantik itu kini juga menangkup wajah Jonghun dengan kedua tangannya. Lalu menyatukan dua mulut yang sama-sama dingin dan pucat. Mereka terhanyut dalam ciuman sebelum Jonghun perlahan mundur dengan tangan masih bertengger di pipi Hongki. Tatapan mereka bertemu.

"Biarkan aku menghangatkan lidahmu Jonghun-ah..."bisik Hongki lirih, lalu menarik wajah Jonghun yang masih dalam kuasa telapak tangannya untuk bersatu kembali.

"Biarkan aku menghangatkan lidahmu Jonghun-ah..."bisik Hongki lirih, lalu menarik wajah Jonghun yang masih dalam kuasa telapak tangannya untuk bersatu kembali.
Jonghun menelusupkan lidahnya. Ia bisa merasakan tubuh Hongki tercekat, lalu dengan halus memainkan lidahnya untuk menghangatkan lidah Jonghun

Mulanya Jonghun terdiam dan menikmati lidah Hongki yang menghangatkannya, Namun akhirnya ia terhanyut dan membalas ciuman Hongki.
"Errmmhhh.. Nnggh!"Hongki mendesah dalam ciumannya. Alisnya bertaut, matanya terpejam rapat, wajahnya menggumamkan nikmat. Mendorong tangannya untuk menakup erat wajah namja itu dan memperdalam permainan mereka.

Tubuh Jonghun membatu. Perlahan melepas tangan Hongki dari pipinya. Hongki memisahkan bibir mereka, benang saliva yang menghubungkan dua bibir itu perlahan menipis dan terputus.
Jonghun menghapus saliva di sudut bibir Hongki dengan ibu jarinya, lalu tersenyum teduh.

"Punggungmu sudah lepas dari kaca kan? Sekarang, lepaskan pakaianmu, lalu bungkus badanmu dengan selimut ini. Aku akan mencari dimana mereka menyimpan makanan.."ucap Jonghun lalu melangkah ke lemari. Berusaha menjauhkan seluruh indranya dari Hongki sementara namja itu sedang melucuti semua pakaiannya.

Api dalam perapian membara semakin besar melahap ranting-ranting yang kini mengering, menebarkan cahaya merah bersemu jingga ditiap sudut ruangan. Dua orang namja terduduk bersandar memandang nyala api yang meliuk menghangatkan. Suara keletak kayu sesekali terdengar.
Mata Jonghun memandang Hongki, Bibir merah muda yang terlihat basah telah kembali, begitu juga rona di kulit halusnya yang diselimuti cahaya jingga kemerahan yang menambahkan kesan eksotis dan membuatnya gila secara perlahan.

"Wae yo?"tanya Hongki yang agak risih dipandang intens oleh Jonghun.

"Anni. Hanya... Wajahmu sudah tidak pucat. Kau tahu, kau membuatku khawatir tadi."

"Begitukah? Gomawo yo.."ucapnya, lalu menatap perapian lagi, menyembunyikan rona bahagia dalam hatinya yang paling dalam.

"Apinya cantik"gumamnya.

"Tapi tidak secantik kau"bisik Jonghun teramat pelan.

.

Kesunyian yang nyaman menyelimuti mereka berdua

.

"Jonghun-ah, kau sudah menyadari Trauma ku?"tanya Hongki tanpa melepaskan pandangan dari perapian. Ia tahu bahwa namja itu telah mengetahuinya tadi sore.. Jonghun mengangguk lalu tertunduk, menyembunyikan kepedihan dan rasa bersalahnya.

"Ya.. Dan aku sadar bagaimana kau mendapatkannya..."jawab Jonghun.
Hongki menoleh cepat, memandang Jonghun yang tertunduk, lalu kembali menatap perapian.

"Kalau begitu kau harus bertanggung jawab menyembuhkanku. Aku tidak ingin melihat dia tersiksa karena Traumaku..."

"D-dia?"

Hongki terdiam, masih menatap liukan api.

"K-kau mencintai seseorang? Siapa?" tanya Jonghun. Ia sadar semua ini salahnya. Pernikahan ini pun ambigu Karena tidak adanya cinta pada awal bahtera rumah tangga mereka. *entah kenapa mako-chan ngakak ngetik kata ini.. XDDD #ditabokpanci*

"Kau tak perlu tahu"ucap Hongki dingin.

"A.. Aku tidak bisa.. Aku tidak ingin melihat Trauma mu lagi.."gumam Jonghun lirih.

Hongki mendengus sinis.

"Wae? Apa kau merasa hina membuatku jadi seperti itu?"ucap Hongki pedas.

Wajah Jonghun terangkat, dan bertatapan dengan Hongki yang menyeringai bagai malaikat maut yang tersenyum melihat dunia terbakar di depan wajah indahnya.

"Kau harus melakukannya. Aku juga ingin merasakan sentuhan lembut namja yang kucintai dengan tenang, bukan kenangan kelam menjadi pemuas nafsu kotor berselimut rasa perih, rasa jijik dan rasa sesak yang menghujam tiap kali aku merasakan sentuhannya." ucapnya dengan intonasi lembut namun menusuk. Selaput air mata melapisi mata Hongki yang menatap Jonghun tajam, memantulkan kemilau api yang bergoyang dengan indah.

Jonghun mengangguk dan beringsut mendekat. Tetes airmata jatuh dari ekor matanya yang terbuka. Dan saat bibir mereka berpadu perlahan, Jonghun menutup mata, memaksa cairan bening turun kian deras diantara ciuman penuh cinta yang menyakitkan bagi keduanya.

"Lee Hongki, Saranghae..."gumam Jonghun disela ciumannya. Hongki terdiam, lalu membuka mulutnya. Membiarkan ciuman mereka mengalir lebih dalam. Deru nafas mengiringi french kiss lembut mereka.

"Mmmhhh.. Hongki-ahh.."

Dan saat Hongki kehabisan nafas, Jonghun bergulir kebawah, keleher jenjang Hongki. Tubuh namja cantik itu mulai bergetar hebat, isakannya mulai terdengar. Jonghun membelai leher itu dan menciumnya.

"Lee Hongki Saranghae.."bisiknya. Bagai diberi mantra sihir, Hongki berangsur tenang.

"Eemmhh..". Erangan tertahan meluncur dari bibirnya saat Jonghun membuat beberapa tanda di leher namja itu.

Ia turun lagi ke dada Hongki.

"Jong-jonghun.. Hh..hh.." ucap Hongki menjauhkan kepala Jonghun dengan kedua telapak tangannya.
Jonghun menengadah. Mata hitam teduh dan sendu berlapis kabut bertemu dengan mata hitam cemerlang.

"Saranghae Hongki ya.. Percayalah, aku tak akan menyakitimu lagi. Aku akan menjagamu dari rasa sakit.. Percayalah padaku Hongki-ya..."ucap Jonghun tulus.

Hongki kembali menyandarkan kepala ke tembok. Menutup mata dan mengatupkan mulutnya rapat-rapat sementara tubuhnya menanti dalam ketegangan. Mata Jonghun berkabut memandang Hongki. Perih.

Diciumnya bibir Hongki, membuat mata itu terbuka.
"Saranghae..".

"Aaannnhhh!"seru Hongki saat dadanya di remas Jonghun. Mulut Jonghun kini bergabung dengan tanganya

"Saranghae.."

"Ahhh... Hh.. Hh... Eunnnhh.. Mmmhhh!."

"Yah.. Mendesahlah... Biarkan rasa nikmat itu mengalir ke setiap jaringan tubuhmu.. hh..hh.. Resapi dan nikmati Hongki-ya.. Mmmhhh.. Saranghae..."

"Aaahhhh... Haa..haa.. Errmmmhh.."

Jonghun terus memainkan nipple Hongki dengan mulut dan jari, menghujaninya dengan gerakan halus dan gerakan kasar bergantian. Membuat desah dan erang tak berhenti mengalir dari bibirnya

"Euunnhh.. Aannnhhh.. Mi-milikkuuuuhhh... U-uurrrrgghh.."

Jonghun membuka selimut yang membelit pinggang Hongki, menemukan milik namja itu yang merah danmenegang sempurna. Tetes demi tetes precum terus mengalir. Jonghun tersenyum, lalu menggenggam milik Hongki.

"Aaaahhhhhhhh... Hh..hh"

"..."

"Ngggghhhh! Ahhh... Sssshh.. Hh..hh.. Mmmhhh"racau Hongki saat jemari suaminya itu memanjakan miliknya. Tak lama satu jari Jonghun mulai menyeliap perlahan didalam tubuhnya, membuatnya mendesah merasakan kedua titik vitalnya dimanja begitu rupa. Entah sejak kapan Hongki duduk diatas Jonghun yang bersila dengan tangan mencengkram erat pundak namja tampan itu.

"U-uukkhh... Sa-sakit.. Hiks! Hh.. Hh.. Ahhn.. Ahhh.. sshhhmm.. Ahhh.."
Jonghun menambah satu jari dan bergerak memperlebar lubang itu.
Milik hongki dalam genggaman Jonghun berkedut samar. Ditelusupkan nya jari ketiga. Hongki mencengkram dan memukuli pundak Jonghun

"Aaaarrggghh! Ssa-sakit..hiks! Uukkhh.. Hh.. Hh.." bulir air mata dan keringat dingin keluar bersama dengan rintihan Hongki. Bibir Jonghun membelai leher dan tengkuk Hongki untuk menenangkan namja itu. Begitu Hongki tenang, digerakannya ketiga jari itu dengan cepat.

"Aahh.. Urrgh.. Sa-sakit.. Aahh.. B-berhenti.. Ouugghh.. Jong-AAAaaahhh!" seluruh tubuh Hongki menegang, wajahnya mengadah keatas dengan mulut terbuka menahan sensasi.

Jonghun menemukan sweetspot Hongki. Ia tersenyum, dan mulai menyerangnya.

"Ahh! Ahhh! Uuugghh! Hahh..hahh.. Ahhh!"

Tubuh Hongki bergetar, perut bawahnya mengeras dan milik nya berkedut.
Jonghun mempercepat pijatan pada kejantanan dan tusukan dalam lubang Hongki.

"Aaaaaaah... Ngghhh Aaah.. AAAAAAAAHHH~". Hongki menggapai puncak dan menyemburkan cairan putih ke genggaman tangan dan dada Jonghun, mengotori bajunya.

Jonghun melepas seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Namja itu benar-benar membuatnya gila.

Tubuh Hongki masih bergetar, matanya masih terpejam, Menikmati Sisa-sisa getaran yang masih tertinggal di tiap inti sel tubuhnya. Tiba-tiba rasa sakit yang teramat sangat serasa membelah tubuhnya, memaksa mata Hongki melebar.

BRAK!

Jonghun terbatuk. Sekuat tenaga Hongki menjejak dadanya hingga tersungkur di depan perapian.

"Tidaaaaak! Hentikan! Hiks..hiks! Sakiit.. Jangan lakukan ini! Lepaskan akuuu.. Jonghunnn-ahh.. Berhenti..huu~ sakiiit! Jangan lakukan lagi.. Huhuhu.. Berhenti..! Tolong.. Lepaskan aku..!" raung Hongki. Betis nya tertekuk rapat ke dada dan tangannya menjambak-jambak rambutnya sendiri. Mata cemerlang berlinang air mata itu menatap kosong menembus sosok didepannya.

Jonghun duduk terhenyak menatap Hongki. Hatinya bagai terkoyak.
Ia bukan takut mengetahui dirinya hina, ia sudah tahu bahwa ia hina. Ia hanya takut melihat Hongki terluka. Dan kini terlihat olehnya, begitu dalamnya luka yang ditorehkan. Begitu menyesakkannya derita yang dipendam. Begitu tegarnya ia menanggapi perlakuan Jonghun.
Jonghun menangis.

"Bu-bukankah kau yang memintanya? Kkkau harus melakukannya..."ucap Jonghun.
Hongki masih bergetar di tempatnya. Jonghun mendekat lagi.

"Anggap aku adalah dia Hongki-ah.. Bukankah kau begitu ingin merasakan sentuhannya?" Jonghun tercekat. Hatinya sendiri remuk redam. Air matanya terjatuh lagi.

"..."

"Kau begitu mencintainya kan? Biarkan dia merasukimu Hongki-ah.. Rasakan cintanya mengisi tiap relung tubuhmu.. Mengirimkan getaran cinta ke tiap sel tubuhmu. Biarkan dia merasakan wujud cintamu Hongki-ya.. "

Mata Hongki menggelap, jambakan rambutnya makin kencang. "Andwae... Jonghun-ah...huu~ Jebal.. Jangan minum lagi.. Tidaaaak! Berhenti! Sakiiit..."

"Hongki-ah.. Jebal.. Sadarlah.. Kau bisa menganggapku sebagai dia.."
Jonghun memerangkap wajah Hongki, menengadahkannya, dan menempelkan dahinya ke dahi Hongki lembut.

"Sebutlah namanya dalam tiap desahan nafasmu.. Sebut namanya di peng.. Di penghujung nikmatmu. Teriakkan namanya di puncak kegilaanmu. Biarkan dia tahu kau mencintainya seutuhnya... Percayakan aku melakukan ini untuknya Hongki-ah. Anggap aku sebagai dia.."

Kemilau mata Hongki kembali. Mata kristalnya menatap manik kelam Jonghun intens, lalu mengangguk ragu. Senyum perih Jonghun mengembang. Ia begitu mencintai namja itu sekarang.

Bahkan ia rela nama namja lain yang akan didengarkannya dalam desah dan teriakan Hongki. Demi namja cantik itu ia rela menulikan telinga dan menahan koyakan di hatinya. Ia sadar dan menyesal menodai cinta yang pernah ada untuknya hingga cinta itu berubah jadi penderitaan untuk Hongki.

Perlahan dibaringkannya Hongki di lantai berlapis karpet biru. Jonghun memeluk Hongki.

"Bayangkan yang memelukmu adalah dia, gumamkan namanya... Biarkan dia memenuhi tiap inti sel dalam tubuhmu.. Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu Hongki-ya... Saranghae.."
Jonghun melepas pelukannya lalu mengecup Hongki lembut.

Hongki tersenyum manis.

'Apa senyum itu kau tujukan untuk namja itu Hongki-ah?'gumam Jonghun dalam hati, namun senyuman perih tersungging dibibirnya membalas senyuman Hongki. Ditopangkannya kaki Hongki dipundak, lalu perlahan kejantanannya mulai menembus lubang namja cantik itu.

"A-aaarrrggghhh! Sssa-sakit!... Nnnhhh! Hiks!"

"Kkau harus tenang Hongki-ya.. Hh..hh.. Rasa sakit itu akan berubah jadi nikmat jika.. Tubuhmu rileks... hh..hh.. Rasakan dia ditiap jaringan kulitmu Hongki-ah.. Rasakan berapa besar cinta yang diberikannya untukmu.."ucapan Jonghun membelai tengkuk Hongki. Tubuh Hongki merileks dan siap menerima Jonghun lebih dalam.
Perlahan Jonghun mendorong miliknya, Dan sesekali berhenti untuk memberi kesempatan lubang Hongki untuk beradaptasi.

"Aaarrgghh... Urggh... Hh..hh.. Saranghae Hunnie.."rintih Hongki.
Jadi nama namja itu hunnie? Namja beruntung yang merebut hati Hongki darinya? Hati Jonghun robek. Begitu sakit... Tanpa sadar ia membayangkan Hongki mendesahkan namanya..

'JJo-Jonghunn-aah...'

Tetes airmata jatuh dari pipi Jonghun. Hongki terlalu berkonsentrasi dengan tubuh bagian bawahnya hingga tidak sadar tetes air mata Jonghun jatuh membasahi pipi lembutnya.

"Aaahhhh... Hmmmhh.."desah Hongki saat kejantanan Jonghun ditarik hingga kepalanya saja. Lalu..

"Aaaaannnhhhh! Huunnniiieeehh... Haa..haa.. Ahhhmmmmhh.." desah Hongki nikmat.

"ya.. Rahh..rasakan dddia mengisi.. nngghh.. Rongga mu Hhongki-yahhh.. Sebut namanya.. Ohh, goddhh! How tighthhh! Sshhhmm.."racau Jonghun, digerakkannya kejantanannya maju mundur lebih cepat.

"Aaarrrgghh! Hunnieeehh! Haa.. Haa.. Hunnieeh! Uuummmhh! Llebihh ccepaaatthh.. Oouuugghh~"

Jonghun memaju mundurkan miliknya lebih cepat, membuat Hongki mendesah dan bergerak menggila. Suara pinggang beradu dan decit gesekan organ mereka menggema bagai perkusi ritmis mengiring melodi instrumen mereka

"Aaahhh! Aaahhh! Ukkhhh! Mmmhh!... Akkhhh! Hunnie! Ohhh... tterusss hunniee! Ohhh..".

Sakit.

Hati Jonghun remuk redam. Namja itu hancur tiap mendengar nama itu. Pipinya telah basah. Kantong matatipis menghiasi mata sendunya yang kelam. Dihapusnya air mata yang jatuh ke pipi Hongki. Tiba-tiba Perut Hongki menegang, lubangnya mengetat dan meremas-remas kejantanan Jonghun.

"Uuuurghh... Ho-hongkihhhh"lenguhnya.
Tiba-tiba potongan ingatannya saat mabuk membentur otaknya.

.:flash back:.

Wajah Hongki yang penuh keringat.. Mata kristal cemerlangnya yang berurai air mata.. Bibirnya yang kini memerah dan sobek mengalirkan setitik darah meneriakkan sesuatu di puncak kenikmatannya.
"CHOI JONGHUUNHH SARANGHAE~ Aarrgghhh~"

.:flash back end:.

Darah dalam tubuh Jonghun mendidih. Kenangan Hongki meneriakkan cinta disaat itu cukup untuk melesatkan gairah Jonghun. Miliknya berkedut kencang dan mengembang ke ukuran maksimal ditengah remasan lubang Hongki yang begitu sempit.

"Ho-Hongki yaaah~.."ucap Jonghun.
Crasshh! Cairan cinta Jonghun menyembur memenuhi lubang Hongki. Begitu penuh.

"CH-CHOI JONGHUNNIEE.. SARANGHAEEE~ AAAKKKHHHH~"

Cairan cinta Hongki menyembur ke dada dan perut mereka berdua. Tubuh tegangnya kini tergolek dengan nafas menderu naik turun. Matanya masih terpejam menikmati getaran setelah bercinta. Tiba-tiba sesuatu jatuh ke pipinya. Mata kristal obsidiannya terbuka dan membulat lebar menatap mata sendu kelam diatasnya yang juga membulat menatap dirinya. Tetes air mata Jonghun jatuh lagi menghantam pipi Hongki lalu meluncur menuruni pipinya.

"K-kau... mencintai ku?" Jonghun masih terperangah. Hongki terbangun dari shock. Senyum manis meluncur dari bibirnya menatap wajah namja baru saja menikmati setiap inchi tubuhnya. Rambut nya berantakan, begitu seksi, begitu manis, dan begitu menggetarkan hatinya. Jemari Hongki terjulur ke atas, bertengger di pipi Jonghun lembut. Ibu jarinya mengusap kantung mata dibawah mata kelam dan sendu yang masih memandangnya.

"Kkau menangis? Tolong berhenti.. Aku tak akan kuat melihatmu begini.. Jebal.. Jangan menangis.." ucap Hongki lirih.
Tangan Jonghun menyentuh tangan di pipinya.

"Benarkah kau mencintaiku Hongki-yah.."
Hongki mengangguk.

"Yongwonhi... Saranghae hunnie.. Nae yeob-"

Jonghun menarik Hongki hingga terduduk dalam dekapan eratnya.

"Aaaahhh!" desah Hongki merasakan milik Jonghun menyentuh titik sensitifnya.
Jonghun bergetar. Memendam wajahnya dipundak Hongki.

"Ho-hongki.. Saranghae.. Neomu saranghae.. Jeongmal saranghae.. Yeongwonhi saranghae.. Aku berjanji tak akan menyakitimu lagi chagiya.. Tak akan pernah.."ucap Jonghun diantara isak tangisnya.

"A-aku tahuhh.. Uuurrgghh.. Hu-hunnieehh.. Ahhh~". Rupanya getaran tangis Jonghun membuat miliknya menggesek hole Hongki.

Jonghun mengangkat wajahnya menatap Hongki yang setengah terpejam menahan nikmat, membuat miliknya menegang lagi.

"Ahhhh~ Hu-hunnnie.. Mmmhhh.. Mi-miliki akku...Ouuhhh.."

"Ya.. Kau selamanya milikku.. Choi Hongki.. Selamanya.."bisik Jonghun ditelinga Hongki, sebelum melumat bibir kissable itu dan merendahkan tubuh mereka ke lantai berlapis karpet.

.

.:mako-chan:.

.

Hongki membuka pintu kamar Jonghun-yang kini menjadi kamar mereka berdua-. Denting-denting piano terdengar makin keras. Begitu indah dan menenangkan tiap helai syarafnya.
Jonghun memainkan Grand Piano di hadapannya. Sesekali ia tersenyum menatap Jaejin yang tertidur dalam kereta dorongnya.

Denting piano memelan dan akhirnya berhenti. Jonghun menghela nafas. Dalam hati bertanya-tanya kenapa istrinya belum pulang saat dua tangan terjulur mengalungkan pelukan di lehernya. Jonghun tersenyum dan menoleh.

"Kau sudah pulang?"

Hongki mengangguk dibelakang kepala Jonghun.

"Mainkan satu lagu untukku.."pinta Hongki. Jonghun menganguk.

"Duduklah.."

Namja cantik itu pun melepas pelukannya di leher suaminya dan duduk disampingnya.

"Lagu ini entah mengapa dulu mencerminkan hubungan kita..."ucap Jonghun. Hongki mengerutkan alis.

"Rachmaninoff... Piano Concerto no.2... Kau pernah mendengarnya?"

Hongki menggeleng.

"Kalau begitu dengar kan baik-baik.. Rachmaninoff.. Piano Concerto no.2"

Denting-denting piano mulai mengalun indah membentuk melodi indah dan manis..

"Hei, bukankah ini Nocturnes?" tanya Hongki.

"Ya.. Ini perkenalan kita. Frederic Chopin, nocturnes op.9 no.2.." Hongki terdiam mendengarkan denting-denting manis yang seolah bercahaya ditelinganya, disandarkannya pelipis ke bahu Jonghun.

Tiba-tiba nada manis itu terpotong. Disambung nada yang menggambarkan nada depresi dan putus asa. Kepala Hongki terangkat, memandang wajah Jonghun yang berubah sayu. Denting-denting depresi dan putus asa itu serasa mengoyak Hongki.

"Hu-hunnie.. Tolong hentikan.. A-aku.."

"Dulu aku berharap hubungan kita seperti lagu ini.."bisiknya tanpa menoleh.

Hongki terdiam tidak mengerti. Mengapa nada menyesakkan ini begitu berkesan bagi namja tampan di depannya. Mengapa nada penuh kekecewaan, depresi, dan keputusasaan menjadi harapannya saat itu... Hingga Hongki menyadari nada itu melambat dan lama kelamaan menjadi nada yang romantis dan hangat walau denting kesedihan itu masih ada.

Jonghun mendentingkan tuts terakhir. Menghela nafas dalam diam dan menatap Hongki.

"Sergei Vasilievich Rachmaninoff menuangkan segala rasa depresi dan keputus-asaannya kedalam lagu ini. Hingga akhirnya kebahagian dan cinta perlahan menyambutnya. Lagu ini memang didedikasikan untuk para namja seperti aku saat itu, kau tahu..." ucap Jonghun. Mereka berdua tertawa.

"kau pun juga mendapatkannya, sama seperti si Rachmaninoff itu.." Hongki tersenyum dan mencium pipi Jonghun.
Jonghun menggeleng dan menunduk menatap kedua jemari nya diatas kemilau litboard yang menutupi tuts Lalu dialihkan pandangannya menatap Hongki lagi.

"Anni. Aku mendapatkan lebih dari itu.. Kau tahu lagu apa yang cocok untuk kita sekarang? Ludwig van Beethoven..."ucap bisik Jonghun mendekatkan wajahnya ke wajah Hongki.

"Spring..." gumam mereka berdua sebelum akhirnya bibir mereka menyatu.

.:The End:.

.

.

.

adakah yang pernah baca ff ini? hehehehe

sebenarnya mako-chan pernah share chap ini sebagai one shot, tapi karena banyak yang nanyain prolog (baik di fb maupun ffn) yah... maka jadi lah. hehehehe.

ngomong2.. mako-chan udah bikin ff nc lagi loh.. one shot!
tinggal nunggu bisa ke warnet nih! hohoho

much thanks for :

Enno Kim lee: iya.. jong udah baik sama hongki chingu...^^ gomawo udah review^^

Liu HeeHee : gumawo dukunganya...^^ gomawo juga udah review^^

icci: iya.. bener! eh? icchi tahu aku kah? apa aku kenal icchi? nama FB icchi apa? wah.. ini udah berassa fluffnya kah? atau kurang? kayanya icchi udah pernah baca ffku ya.. hehehe gomawo udah nyempetin review^^

ELLE HANA : wah! bener! ommo na! jeongmal gomawo / ini memang awal-awal aku buat ff, tapi komennya benar2 membangun! lain kali akan lebih kuperhatikan. gomawooo!

KyuKi Yanagishita: masih lanjutkok... ini chap terakhir tapi.. hehehe gomawo udah review^^

CloudsomniaElf : iya ini udah lanjut chingu...^^ gomawo udah suka+review..^^

Kim Chi Hee: iyaa! ini makoto tsuruga hehehe. eh? kok kayaknya aku kenal senyum kodok yang menawan itu ya? wkwkwk #dziggh sip!sip! yang the prisoner itu mau dibuat sekuelnya kok rencananya... hehe

Sena : iya... tebakanmu bener ! XDD maaf aku masih belum baca ffmu chagi... ntar kalo sempet pasti ffmu yang pertama ku baca. janji! kau kan salah satu author paporitku.. kekeke #toeldaguchagi

wii'N : hehehe iya... aku juga suka sama babyJaeee^^ gomawo reviewnya chingu..

nobinobi: emboook... nomormu kehapuuuuuusssssssssssssss! mau pencet balas malah bablas kehapus! mbok.. sms aku... #puppyeyes hah? mau ngapain ke kanada bareng appaku mbok? #asahgolokbarengHongmma

lee minji elf: ini udah lanjut chingu... gomawo udah review..^^

jaexi: hehehe akhirnya ada yang nyinggung ini wkwkwkw iya, emang aku baru sadar kalau chap 1 gak hot sama sekali habis baca di Hp.. aku terlalu konsen sama kdrt(?) nya.. mian kalau jadi kecewa. semoga yang ini gak terlalu mengecewakan. gomawo udah review chinguya...

MelianyMBLAQ : maaf.. kilatnya cuma bisa secepat ini,chinguya.. ehehehe gomawo pujiannya. gomawo udah nyempetin review ^^

Anisaaa : gomawo udah sukaaa . semoga yang ini gak mengecewakan. gomawo udah nyempetin review^^

ShinNa Daniel: orang ketiganya gak ada chingu.. habis udah gak ada waktu lagi buat edit cerita. semoga gak mengecewakan.. gomawo udah review..^^

jung hana cassie : gak bisa..T-T udah cerita awalnya seperti ini, aku gak sempet edit chingu.. semoga gak mengecewakan.. gomawo udah review..^^

The : gomawo udah reviewXDD

beneran deh! tanpa