Kurai tsuki anjisuru
Sono hikari ga saki dewa
Futashikana sonzai no
Boku no yume ga umarekawaru
Isogi ikiru kedo
Gomen ne
Tori ga sora o tobimawareru you ni
Boku wa jiyuu ni ima narerunda
Like a bird in the sky
You set me free
You give me one heart
Like a star in my night
You'll always be a part of me
C.C POV
Memendangi serpihan cahaya bulan ditemani hembusan angin malam, seakan-akan aku adalah manusia terakhir di dunia ini. Mataku terus memandangi langit malam itu. Entah mengapa? aku pun tak tau. Perlahan bintang di langit pun berjatuhan, pupil mataku seakan membesar melihat kejadian itu. Namun, aku tetap diam.
"Bintang jatuh." kata seseorang yang ada di belakangku. Aku menoleh ke arah asal suara dan kemudian kembali memalingkan pandanganku ke bintang-bintang yang berjatuhan. Mataku sempat bertemu dengan matanya, 'Dia mengikutiku?' tanyaku pada diriku sendiri, saat aku ingin menanyakan padanya, tapi entah mengapa mulutku serasa terkunci … terkunci untuknya.
"Kau tidak punya harapan?" tanya pria itu, dan pertanyaan itu membuatku diam 'Keinginan?' sebelum bertemu dengan mu setiap hari aku berharap besok aku ingin mati. Namun, keinginan itu tidak pernah terwujud. Tak pernah terwujud karena kau lah yang menyadarkan ku, setidaknya kau pernah berkata 'Jangan mati' ya kan? Setidaknya itu menjadi alasan ku untuk hidup saat ini.
"Kau masih ingin mati?" tanya pria itu lirih, karena tak mendengarkan jawaban dariku.
"Entahlah." jawabku datar pada pria itu, entahlah 'Apa dia masih menunggu jawabanku? Haruskah itu? Bisakah aku menghilang.. setidaknya untuk saat ini..'
Lalu, tiba-tiba saja…
"Jangan mati, C.C." bisik pria itu sambil memelukku dari belakang "Jangan ada yang mati lagi." tambahnya lagi.
Aku melepaskan genggaman tangannya yang tadinya memeluk erat diri ku, dan membalikan badanku ke arahnya, mataku pun perlahan melihat mata sendu dari Lelouch Vi Britannia yang seminggu lalu masih berstatus sebagai seorang 'Raja yang Kejam' begitulah kata orang-orang padanya. Menyedihkan bukan? Sebagian besar hal itu terjadi karena kesalahanku, kata maaf pun tak pantas keluar dari mulutku. Kini aku hanya bisa memeluknya, sama dengan waktu itu, ketika ia membunuh Euphemia.
Dua menit berlalu, kini ia yang berbalik melepas pelukan ku. Ia kembali melihat ke arah mataku yang lirih. "Maaf.." kataku tiba-tiba, "Maaf, karena telah memberimu kekuatan terkutuk itu." lanjutku lirih.
Lelouch tersenyum, "Aku malah bersyukur, bukannya aku pernah mengatakanya pada mu? Tanpa kekuatan ini, aku tidak akan tau 'kebenaran' yang ada." ucapnya tulus padaku. "Setidaknya sekarang aku tidak perlu memakai topeng lagi, tidak perlu berbohong lagi, intinya aku sangat bersyukur C.C, arigatou."
"Tapi karena kekuatan itu juga kau kehilangan orang yang kau cintai ya, kan?" balasku menyangkal peryataannya, "Kau kehilangan Shirley orang yang pernah kau sukai, lalu Kallen, dan bahkan Nunnally adikmu sendiri.." lanjutku lagi.
"Penderitaan ku tak sepadan dengan apa yang kau alami, setidaknya kau tidak mengkhianatiku, dan sekarang kau tetap berada di sisiku C.C."
Kata-katanya yang mengalir dari mulutnya membuat otak ku berhenti berpikir, bagaimana bisa.. ia lebih memikirkan perasaan ku daripada perasaannya sendiri, Kami-sama mengapa di dunia ini ada orang sebaik dia? Apa yang harus ku katakannya padanya? Aku..
"Kau.. memang orang baik.." kata-kata itu yang terluncur dari mulutku, entahlah.
"Mendengar itu dari seorang Majo, terdengar sedikit aneh." balasanya sambil tersenyum padaku.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah langit malam itu lagi. "Lalu, kau sendiri sekarang bukannya sama saja dengan ku, Bouya.."
"Iya.. sekarang aku juga sama sepertimu, kalau kau penyihir maka aku juga Raja penyihir." balasnya lagi.
'DEG' Kata-katanya membuatku tercengang untuk yang kesekian kalinya, entah mengapa membuatku berdebar-debar, serasa jantungku akan copot dalam waktu singkat. 'Apa yang harus kulakukan untuk orang sebaik dirimu? Aku terlalu takut untuk berharap, karena..'
"C.C— Bukan.. Cenaniah."
Nama itu.. nama.. ku, tatapan kagetku terpampang jelas diwajahku, "Hee.." aku menatapnya lagi untuk yang kesekian kalinya, namun kali ini aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari wajahnya. Nama itu, aku pun hampir melupakannya.
"Omae no hontou no namae… Nama yang bagus dan lebih terkesan seperti manusia." katanya sambil memandangiku.
Aku menunduk, "Shikashi.. watashi wa ningen dewanai, dakara.."
"Omae wa ningen datta, Ore mo.." lanjutnya lagi.
Kata kata yang mengalir dari mulutnya membuatku makin berdebar-debar, mungkin ini adalah pesona dari seorang Lelouch yang berhasil memesona banyak wanita, termasuk diriku? Entahlah..
"Shikashi, ima watashi majo datta. Ii onna dewanai..'' ucapku padanya, sambil memegang dadaku, yang terasa sesak karena jantungku berdetak kencang.
"Ore mo, omae to onaji.. Ore wa oma— kimi no koto ga suki.." kata pria itu terus terang padaku.
Suka? Ini bohongkan? Bagaimana bisa? Aku serasa dalam mimpi, Kami-sama, onegai. Jika aku dalam mimpi tolong bangunkan aku, aku tak mau terjebak dalam hal yang mustahil terjadi padaku. Kami-sama.. perlahan aku merasa tiba-tiba saja aku kehilangan sedikit kesadaranku, semuanya terlihat berputar-putar dibenakku, apakah ini mimpi?
"Shi-.Tsu-" katanya sambil menompang diriku yang hampir jatuh "Daijoubu ka?" tanyanya.
"Un, daijoubu." jawabku, sambil berusaha melepaskan tangannya yang sedang menompang ku.
Namun, pria itu tidak membiarkanku melepaskan tangannya. Dan malah kini ia memelukku dengan sangat erat "Kimi wa hitori dewanai, Ore wa.. kimi no soba ni iru.. dakara.. "
Tiba-tiba saja, bibirnya sudah menempel dibibirku 'Lelouch, menciumku?' Mataku terbelalak, tentunya aku kaget, 'Ada apa dengannya?' pikiranku kembali melayang, entah kemana, memikirkan hal ini, 'Apa aku sedang bermimpi? Seseorang tolong jelaskan ini padaku.' Melihat matanya yang terpejam, seakan ia menikmati semua ini, perlahan mataku pun ikut terpejam, bersama dengan dirinya.
Lima menit pun berlalu, perlahan ia membuka matanya dan melepaskan bibirnya dari bibirku, sontak aku tersadar dan kemudian membuka kedua mataku.
"Ruruch, doushite?" tanyaku, karena bingung atas perbuatannya.
Dia tersenyum padaku, memandangi diriku lagi "Suki dakara." jawabnya.
"Hee, joudan daro?" tanyaku sambil berusaha menenangkan diriku.
Lelouch memegang ke dua bahuku, "I-iya, maji da.." katanya menyakikanku.
"Arigatou, Ruruch."
"Ii na, Sesania—"
Kemudian ia memelukku lagi, mungkin ini adalah awal dari akhir dunia. Bisakah aku percaya? Bisakah aku bahagia? Entahlah, tapi dengan berada di sisinya, aku memiliki alasan untuk hidup. Setidaknya aku bisa merasakan sercercah cahaya memasuki jurang gelap di hatiku. 'Bearsama mu, aku seperti burung kecil yang bisa bebas terbang dilangit biru, ketika malam tiba kau seperti bintang yang menerangi gelapnya malam.' Kini, aku memiliki satu harapan, aku berharap bisa selalu bersama dengan mu. Nee? Lelouch?
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~OOOOOOOOO~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Terjemahan dialog
Omae no hontou no namae…: Nama aslimu
Shikashi.. watashi wa ningen dewanai, dakara.: Tapi, aku bukan manusia.. karena itu..
Omae wa ningen datta, Ore mo..: Kau pernah jadi manusia, aku juga..
Shikashi, ima watashi majo datta. Ii onna dewanai..: Tapi, sekarang aku telah menjadi immortal. Bukanlah wanita yang baik.
Ore mo, omae to onaji.. Ore wa oma— kimi no koto ga suki.. : Aku juga, sama denganmu.. Aku menyukaimu. (note : dalam bahasa Jepang Subjek dan subjek bisa digabungkan dengan partikel, tapi dalam bahasa Indonesia sedikit berbeda. Maksud dari dialog ini, mulanya si Lelouch mau bilang "Aku menyukai kau— Eh, menyukaimu.. maksudnya..")
Daijoubu ka?: Tidak kenapa-kenapa kan?
Kimi wa hitori dewanai, Ore wa.. kimi no soba ni iru.. dakara..: Kamu tidak sendirian, aku.. selalu ada di sisimu.. karena itu..
Ruruch, doushite?: Kenapa, Lelouch?
Suki dakara : Karena suka
Hee, joudan daro?: Eh, bercandakan?
I-iya, maji da.: E-engga, beneran.
Arigatou, Ruruch. : Makasih, Lelouch
Ii na, Sesania—: Yaa, Cecaniah—
