Timeline: Setelah pemberontakan kedua berakhir.
The Hunger Games Trilogy © Suzanne Collins; Tentang Si Gadis Api © littlesanta.
Enjoy!
Chapter 1
"Pertemuan"
Musim dingin yang nyaris berakhir enggan lengser dari singgasananya. Hawa dingin bulan April masih merasuk ke tulang orang-orang yang berlalu-lalang dengan kesibukannya masing-masing di Distrik Dua, dan masih ditambah dengan Sang Surya yang cahayanya nyaris pudar ditelan langit hitam, yang menambah faktor penyebab bulu-bulu kuduk meremang kedinginan. Sisa-sisa perang saat pemberontakan masih terlihat di beberapa sudut meski sudah lewat dua bulan sejak seluruh distrik di Panem merdeka. Kemerdekaan itu membawa suasana ceria yang baru, yang tak tergeser kehadirannya oleh suhu sisa musim dingin maupun bekas-bekas Nut yang meledak beberapa bulan lalu sekalipun.
Di satu sudut, beberapa pekerja tambang bercakap-cakap ringan sambil berjalan menuju rumah mereka di pinggir kota. Di sudut lain, terlihat sekelompok pengrajin batu yang masih setia mengukir dan menciptakan perabot dari batu. Seorang wanita separuh baya mendatangi sekelompok anak kecil dan menyuruh putrinya pulang karena langit sudah menggelap. Sekelompok remaja, yang merupakan teman-teman Cato dan Clove semasa hidup mereka, bercengkerama mengelilingi api unggun di depan sebuah rumah luas bertingkat.
Gale Hawthorne bahkan belum berjalan lebih dari lima meter dari kantornya di pemerintahan ketika ia melihat kobaran api yang cukup besar dan kelihatannya akan bertambah besar seiring detik-detik berlalu. Pekikan-pekikan panik terdengar di udara yang sudah terkontaminasi asap. Sambil melangkah mundur menjauhi asap, Gale mengedarkan pandang ke sekelilingnya dan matanya menangkap bayangan sebuah kolam ikan dan sebuah tong sampah besar di dekatnya. Dalam sekejap, sampah-sampah di dalamnya sudah tertumpah keluar dan tong itu sekarang menampung air kolam ikan.
Berlari secepat yang ia bisa dengan tong besar berisi air di kedua tangannya, Gale tak sempat memikirkan penyebab kebakaran itu. Pikirannya terfokus pada bagaimana ia bisa memadamkan api itu secepat mungkin sebelum si jago merah makin mengamuk. Namun begitu ia tiba dan berhasil menyiramkan air dalam jumlah yang cukup besar, ember-ember lain turut menumpahkan air ke sumber api. Dalam hitungan detik, api besar yang nyaris melahap rumah di belakangnya sudah padam tanpa sisa, diiringi helaan nafas lega dari nyaris seluruh penduduk yang menyaksikan kebakaran tadi.
Beberapa remaja terang-terangan menatap ke arah seorang gadis yang tampak cemas dan takut, sementara beberapa lagi hanya meliriknya sekilas. Seorang pria setengah baya muncul dari kerumunan dan memarahi gadis itu. Dari omelan pria yang sepertinya ayah gadis itu dan dari desas-desus penduduk, tampaknya kebakaran itu terjadi karena gadis itu iseng membawa minyak ke dekat api unggun—ia salah satu dari sekelompok remaja yang mengitari api unggun—lalu minyak itu tanpa sengaja terguling ke dekat api.
Sebenarnya Gale tidak terlalu peduli, namun melihat gadis itu dimarahi habis-habisan, Gale merasa tidak tega. Namun sepertinya Gale salah. Gadis itu sama sekali tidak butuh dikasihani, karena di sela omelan ayahnya di depan semua orang, gadis itu membentak dengan wajah kesal.
"Siapa yang sengaja menyebabkan kebakaran, Dad? Mana kutahu botol minyak sialan itu bakal jatuh!"
Mendengar itu, ayahnya segera membentak dengan kasar, lalu tangan ayahnya melayang menuju pipi si gadis. Namun tamparan itu tak pernah sampai ke tujuan, tertahan oleh sebuah tangan kekar milik Gale Hawthorne.
Tanpa memedulikan sepasang mata biru yang menatapnya marah, Gale menatap sepasang lautan biru yang lain, yang balas menatapnya dalam-dalam dengan sejuta pernyataan dan pertanyaan di dalam sorotnya.
Malam harinya, Gale gelisah dan tak bisa tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan itu muncul lagi. Wajah itu. Sepasang mata biru. Tatapan dengan sejuta arti. Pertemuan oleh api.
Api.
Gadis api. Gadis yang terbakar. Dari Distrik Dua... Belas.
Katniss Everdeen.
Sepertinya Gale Hawthorne butuh usaha besar untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa perasaan aneh yang muncul saat menatap mata biru gadis dari Distrik Dua itu tak ada kaitannya dengan gadis yang terbakar dari 12.
Setidaknya, karena mata Katniss Everdeen berwarna abu-abu.
TO BE CONTINUED
A/N: Ini adalah fic multichapter, mohon maaf atas segala ketidaksempurnaan fic ini. Semoga kalian menunggu-nunggu chapter berikutnya. Kritik dan saran, atau sekadar menunjukkan bahwa kalian sudah membaca fic ini? Please review, it means a lot. Terima kasih. :)
