The Hunger Games Trilogy Suzanne Collins; Tentang Si Gadis Api littlesanta.
Enjoy!
Chapter 2
"Bersemi"
Cahaya senja yang perlahan-lahan memejamkan matanya meredupkan semangat sebagian besar pekerja di Distrik Dua. Sebagian besar lampu di ruangan-ruangan kantor pemerintah sudah dimatikan, menandakan usainya pekerjaan sang penghuni ruangan. Sebuah ruang kerja milik Gale Hawthorne sudah kehilangan penerangannya karena si pemilik ruangan sudah menekan saklar lampu beberapa menit yang lalu, dan bahkan sang pemilik sedang berjalan pulang.
Rumahnya yang bercat putih sudah tampak di depan mata ketika ia mendengar seseorang berteriak, "Hei, Mr Hawthorne!"
Gale menoleh, mencari asal suara dan mendapati seorang anak laki-laki yang memanggil namanya tadi. Anak laki-laki itu berusia sekitar 17 tahun dan sedang duduk bersama sekelompok anak seusianya yang lain. Hampir semua anak remaja di kelompok itu melihat ke arah Gale sekarang, lalu menatap seorang gadis sambil tersenyum.
Begitu gadis itu mendongak, memori dalam otak Gale langsung mengenalinya. Si Gadis Api.
"Ke sini, Gale!" seru seorang anak perempuan yang duduk di samping si Gadis Api.
Setengah bingung dan setengah penasaran, Gale menghampiri sekelompok remaja itu dan suitan serta godaan segera membanjirinya. Tidak salah lagi, kelompok itu sedang menjodoh-jodohkan Gale dengan si Gadis Api. Mungkin karena pembelaan Gale untuk gadis itu kemarin.
"Kau sibuk, Gale? Bergabunglah bersama kami sebentar, kau keberatan?"
Gale merasa konyol karena menghabiskan waktunya untuk mengurusi anak-anak yang masih dua tahun di bawahnya itu. Tapi mengingat rumahnya yang sepi dan tak adanya kegiatan di rumah selain istirahat, Gale pun duduk di samping anak laki-laki yang pertama memanggilnya tadi. "Well, baiklah. Jadi, ada apa?"
"Bagaimana kalau kita bermain Jujur Atau Berani?" Seorang gadis mengeluarkan sebuah tongkat pendek berujung tanda panah dari batu. "Aku meminta ayahku membuatkannya untuk permainan ini."
"Ayahnya seorang pengrajin batu," bisik anak laki-laki yang duduk di sebelahnya begitu melihat sebelah alis Gale terangkat. Gale mengangguk-angguk saja. Meski ia merasa konyol, sepertinya permainan Jujur Atau Berani ini akan membuat pikirannya segar. Setidaknya ia bisa sedikit bersenang-senang, mengingat banyaknya pekerjaan yang menumpuk di kantor. Lagipula besok adalah akhir pekan, jadi ia tidak masuk kerja dan bisa tidur lebih larut.
"Ayolah, teman-teman, kalian seperti anak kecil. Tak ada permainan yang lebih mengasyikkan daripada Jujur Atau Berani?" sela seorang anak laki-laki.
"Tidak ada. Duduklah dan diam saja," balas anak pengrajin batu tadi ketus. Teman-temannya menertawakan mereka, lalu setuju saja pada gagasan bermain Jujur Atau Berani.
Tongkat diputar, lalu anak panahnya menunjuk ke arah si Gadis Api.
"Jujur," pilih gadis itu, dan Gale bisa melihat bola mata anak-anak remaja itu nyaris melompat keluar saking gembiranya.
"Katakan perasaanmu yang sejujurnya tentang Hawthorne, Catherine!" pekik seorang anak, diiringi gumaman setuju dari yang lainnya.
Gale mengangkat alis, berusaha menjaga wibawanya di depan remaja-remaja yang dianggapnya anak bawang, lalu menunggu jawaban gadis itu, yang ternyata bernama Catherine.
Catherine tampak tergagap, lalu berujar pelan, "Well, aku merasa amat berterima kasih padanya."
"Cuma itu?" cibir yang lain.
"Mmm, aku... aku kagum padanya. Well, bagaimanapun... kau menyelamatkanku kemarin. Terima kasih." Catherine berbicara pada Gale sekarang.
Gale tersenyum, membalas tatapan kedua mata biru si Gadis Api sambil berusaha menahan dirinya untuk tidak membayangkan lautan biru itu terbakar dan berubah menjadi abu-abu.
Tongkat batu itu menunjuk ke beberapa anak, memaksa mereka melakukan hal-hal yang bodoh atau memalukan, atau memaksa mereka menceritakan berbagai rahasia. Gale cukup terhibur dengan tingkah laku remaja-remaja itu, dan mulai merasa bahwa mereka tidak sekekanak-kanakan yang dikiranya. Mereka hanya terpaut dua tahun darimu, Gale, ia mengingatkan dirinya sendiri.
Begitu giliran Gale untuk memutar tongkat batu, ia memutarnya asal-asalan sambil menertawakan sebuah lelucon yang diceritakan seorang anak. Sedetik kemudian, ia menelan ludah melihat tanda panah tongkat batu menunjuk ke arahnya.
"Berani," pilih Gale. Ia bukan asal memilih, tapi cinta segitiganya yang melibatkan Katniss Everdeen dan Peeta Mellark mungkin sudah menjadi rahasia umum di seantero Panem, dan ia merasa amat enggan untuk menjawab pertanyaan apapun yang berkaitan dengan hal itu.
Nyaris semua anak serempak melirik satu sama lain, lalu kalimat yang akhirnya keluar secara bersamaan adalah "cium Catherine."
Catherine Avass spontan berteriak protes begitu mendengar teman-temannya meminta Gale menciumnya. "Ini giliran Gale, kenapa aku juga terlibat?"
"Karena kau ada di sini?" goda teman-temannya.
Catherine menunduk, memutar bola matanya di balik rambutnya, sehingga tak menyadari bahwa Gale berjalan ke arahnya. Ia baru terkejut ketika mendongak dan mendapati wajah Gale di hadapannya. Keduanya hanya saling menatap sampai Gale angkat bicara.
"Kau keberatan?" ujar Gale pelan agar hanya gadis itu yang bisa mendengarnya.
Catherine diam sejenak, namun setelahnya ia menggeleng pelan. Harus diakui, wajah pria di hadapannyalah yang muncul sebagai bunga tidurnya semalam, sejak pria itu menyelamatkannya dari api dan dari tamparan ayahnya.
"Ayolah, Gale!" Teman-teman Catherine berseru tak sabar.
Catherine merasakan tangan Gale menariknya berdiri, dan detik berikutnya wajahnya sudah berada dalam tangkupan tangan Gale. Bibir mereka bertemu selama beberapa detik yang singkat, dan hanya itu. Separuh bagian diri Catherine enggan melepaskan tautan bibirnya, namun ia hanya berseru pasrah dalam hatinya ketika Gale akhirnya menyudahi ciuman itu.
Permainan masih berlanjut selama beberapa menit sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Catherine berjalan masuk ke rumahnya, namun tepat sebelum pintu rumahnya tertutup, matanya bertemu dengan sepasang mata abu-abu milik Gale Hawthorne yang memandang penasaran ke arahnya.
"Cath! Cath!" panggil Fanny Avass, ibunda Catherine. Sedetik kemudian wajah Fanny muncul di kamar anak perempuannya. "Kau mengenal Calvin adiknya Clove?"
"Ya, kenapa?"
"...dan Gale Hawthorne?"
Catherine menelan ludah mendengar nama itu, namun ia buru-buru mengangguk.
"Tadi pagi Mom bertemu mereka dan menawarkan cupcake buatan Mom. Mereka tertarik dan ingin mencobanya, tapi sayangnya persediaan mentega habis. Kau tidak keberatan memberi tahu mereka bahwa kuenya akan siap disantap besok malam, 'kan, Sayang? Rumah mereka berdua dekat dari sini."
Pergi ke rumah Gale Hawthorne? Memangnya seorang Catherine Avass punya kekuatan untuk menolaknya?
Gale nyaris pingsan begitu mendapati bahwa si Gadis Api yang mengetuk pintu rumahnya tadi, tapi ia mempersilakan gadis itu masuk dan duduk.
"Jadi, ada apa?" Gale memandangi wajah Catherine, yang langsung saja mengingatkannya pada gadis yang terbakar di 12. Ia berusaha menepis wajah Katniss dari benaknya.
"Kau mengenal ibuku?" Catherine memulai. "Aku tak tahu kau mengenalnya. Tapi ia bilang kau memesan kuenya, dan sayangnya kue itu baru akan selesai dibuat besok malam. Ibuku menyuruhku ke sini untuk memberi tahumu."
"Well, hanya itu? Oke, tidak masalah."
Setelah kalimat itu, keheningan menyelimuti kedua insan itu selama dua menit yang amat panjang. Sepertinya ada yang harus dibicarakan, namun tak ada yang mau memulai. Kalau begitu, pertemuan mereka seharusnya segera diakhiri, namun sepertinya tak ada yang mau melakukannya.
Tapi seseorang harus melakukannya.
"Mmm, oke. Kurasa aku harus mengunjungi Calvin sekarang. Ia juga memesan kue ibuku. Kau mengenalnya? Dia adik Clove." Catherine bangkit dari sofa besar yang tadi didudukinya.
"Tidak. Tapi aku tahu kakaknya. Salah satu peserta yang tewas di Hunger Games ke-74, bukan?" Mana mungkin Gale melupakan sosok yang nyaris menghabisi nyawa Catnip-nya dengan penyiksaan sebagai makanan pembukanya.
"Ya. Oke, Gale, sampai jumpa lain kali."
Catherine nyaris mencapai pintu, begitu tangan Gale menahan sebelah tangannya. Begitu wajah mereka sudah berhadapan—Gale harus berusaha keras untuk menepis wajah Katniss dari benaknya dan melihat Catherine—Gale berbisik, "Kau yakin tak ada hal lain yang perlu dibicarakan?"
Dan kenyataannya memang tak ada.
Setidaknya tak ada yang perlu dibicarakan. Yang ada hanyalah hal-hal yang belum selesai yang perlu diselesaikan.
Bulan menjadi saksi pertautan bibir kedua insan atas dasar gairah dan ketidakpuasan ciuman sebelumnya.
TO BE CONTINUED
A/N: Hai, terima kasih sudah membacanya fic saya! Maaf ya, konflik sebenarnya belum begitu muncul. Sebenarnya saya juga sedikit bingung bagaimana mengemas cerita ini. Please review! :D
