The Hunger Games © Suzanne Collins; Tentang Si Gadis Api © littlesanta.

Rated T+

A/N: Semoga saat dibaca, fic ini tidak seburuk yang saya bayangkan.


Chapter 3

"Yang Terbang Melayang"

"Aku mencintaimu," gumam Gale tak jelas di sela-sela ciumannya dengan Catherine, yang dibalas Catherine dengan pernyataan yang sama. Hanya surga yang mengetahui apa yang bersembunyi di balik pernyataan tersebut.

Sudah lewat satu minggu sejak ciuman pertama Catherine dengan Gale, dan dalam setiap hari setelah ciuman pertama itu, tidak ada satu hari pun yang dilewatkan keduanya tanpa menikmati bibir satu sama lain. Seringkali Catherine yang bertandang ke rumah Gale, namun beberapa kali Gale juga mengunjungi rumah gadisnya.

Catherine melepaskan bibirnya untuk mengambil nafas, dan bibir Gale mulai merambah lehernya. Dinikmatinya ciuman Gale itu, sebelum bibirnya kembali mencari dan bibir mereka kembali bertaut. Gale mengelus wajahnya selama berciuman, sementara Catherine menikmati setiap sensasi yang ditimbulkan tiap sentuhan dan ciuman Gale.

"Gale Hawthorne, lihat aku."

Begitu bibirnya lepas dari kesibukan, sebuah kalimat meluncur dari bibir Catherine. Hal yang sejak awal ingin ditanyakannya, hanya saja ia belum memiliki keberanian untuk itu.

"Bagaimana kabar perasaanmu untuk Everdeen?"


"Bagaimana kabar perasaanmu untuk Everdeen?" tanya Gadis Api-nya.

Gale hanya memandang kosong ke arah lain, beratus-ratus pemikiran berdesing dalam benaknya, membuatnya pening. Katniss Everdeen, si gadis yang terbakar. Catherine Avass, si Gadis Api. Keduanya menyulut api. Tak ada benang merah selain itu. Katniss bermata abu-abu dan Catherine bermata biru. Katniss yang mandiri dan Catherine yang manja. Tak ada benang merah.

Sebuah pertanyaan mengusiknya.

Lalu mengapa, dalam benaknya selama ini, ia berciuman dengan gadis bermata abu-abu dari Distrik Dua Belas sementara pada kenyataannya, gadis bermata biru dari Distrik Dua-lah yang selalu ada di hadapannya?

Karena keduanya menyulut api, sahut sebuah bagian dalam batinnya.

Dan kalau Gale menyimpulkan bahwa api adalah satu-satunya benang merah, sepertinya ia salah.

Terlintas sebuah peristiwa masa lampau dalam benaknya, ketika Katniss Everdeen mengeluarkan nightlock di arena. Kemerdekaan yang diraih seantero Panem berkat sebuah api yang disulut Katniss. Lalu, Catherine Avass yang balas membentak ayahnya.

Benang merah kedua berhasil ditemukannya. Gadis yang terbakar dan si Gadis Api; keduanya merupakan definisi sebuah kata.

Pemberontakan.


Malam itu amat panjang untuk Catherine Avass. Ia tidak bisa tidur, karena setiap kali ia memejamkan mata, bayangan menyakitkan itu muncul lagi. Gale Hawthorne yang menolak menjawab pertanyaannya, yang malah mencium bibirnya lagi untuk mengalihkan pikirannya. Kalau ia pikir ia berhasil, ia sama sekali salah.

Sebuah pemikiran yang sama menyakitkannya tiba-tiba muncul begitu saja. Pemikiran bahwa dirinya adalah gadis murahan. Berciuman untuk pertama kalinya dalam permainan bodoh 'Jujur Atau Berani' dan melanjutkan ciuman itu hingga terbawa suasana. Berciuman berkali-kali tanpa ada status yang jelas. Membiarkan tubuhnya menerima setiap sentuhan dan ciuman dari seorang pria yang bahkan belum dua minggu dikenalnya. Bodoh.

Gale sudah jelas masih mencintai Katniss Everdeen. Pengelakannya untuk menjawab pertanyaannya tadi adalah bukti krusial tentang hal itu.

Tiba-tiba saja, setelah pemikirannya berujung pada kesadaran bahwa dirinya dipermainkan, sebuah batu menekan dadanya, membuatnya sesak. Untuk pertama kalinya, seorang Catherine Avass mengerti bagaimana rasanya patah hati.


Catherine menoleh ke belakang dan buru-buru menoleh ke depan lagi begitu mendapati sepasang mata kelam itu masih mengamatinya. Sepasang mata milik Micha, teman sekolahnya yang amat populer karena ketampanannya. Saat jam makan siang tadi, Catherine tak sengaja menabraknya. Mungkin itulah sebabnya Micha menyadari keberadaannya di sekolah.

Bel pulang sekolah sudah berdering sejak tadi, namun sepasang mata itu tak kunjung lepas darinya. Sebersit perasaan senang muncul dalam dirinya, mengingat yang memperhatikannya adalah cowok tampan yang populer di sekolah. Catherine bahkan tak pernah bermimpi untuk sekadar dikenal cowok itu.

Maka sore harinya, Catherine Avass terkejut mendapati cowok itu menghadang jalannya menuju rumah Gale yang sudah terlihat di depan mata. Jalan itu cukup sepi, dan mungkin itulah yang membuat cowok itu, Micha, berani mendekati Catherine, dan melakukan apa yang dilakukannya.

"Catherine Avass, benar kan?" sapa Micha sambil tersenyum luar biasa manis ke arah Catherine. Catherine balas tersenyum sambil mengangguk. Uh, tampannya cowok ini. "Ikut aku."

Catherine berjalan setengah terpaksa dengan tangannya yang diseret Micha. Begitu mereka sampai di balik pohon di samping rumah Gale, tangan Micha menyentuh wajahnya. Catherine terkesiap pelan sebelum melihat senyum di wajah Micha yang masih sama tampannya, yang seolah mengatakan padanya untuk tenang saja.

Namun cowok itu lalu menarik dagu Catherine dan bibirnya melumat bibir Catherine dengan penuh gairah. O-ow, rupanya ini yang diinginkannya sejak tadi.

Alarm peringatan di benak Catherine berdering keras. Baru saja ia hendak melepaskan bibirnya dan menampar Micha atau semacamnya, ia melihat sebuah sosok di depannya, menatapnya marah.

Gale Hawthorne.


"Pelacur!" maki Gale setelah Micha tergesa-gesa berlalu dari tempat itu.

"Gale, bukan aku! Ia yang—"

"Memangnya aku peduli? Yang sudah jelas adalah kau berciuman dengan si brengsek itu! Kau pikir aku ini apa? Ban serep? Cadangan?"

"Dengarkan dulu!" Catherine balas membentak. "Kau pikir aku semurahan itu? Hanya serendah itu harga diriku di matamu, Hawthorne?"

"Ya!" bentak Gale tanpa berpikir.

Catherine memandangnya tak percaya, setengah marah, namun lebih banyak sorot terluka dalam tatapannya. "Oh, tentu saja! Tentu saja. Sejak awal seharusnya aku sudah tahu bahwa sebenarnya akulah cadangannya! Akulah pelampiasan cintamu yang gagal dan sia-sia untuk Mockingjay itu! Gadis yang terbakar itu! Memangnya kau pikir aku sebodoh itu, Gale?"

Kali ini, Gale Hawthorne tercengang. Katniss. Dan Peeta. Patah hatinya. Dadanya terasa diremas beribu tangan yang berhasrat membunuhnya. Sesak.

Catherine melanjutkan, "Kau pikir aku ini boneka, Gale? Yang bisa kau manfaatkan saat cintamu untuk si Everdeen itu tak berbalas? Saat gadis sialan itu," ia menarik nafas, "lebih memilih Peeta yang romantis daripada kau yang keji?"

Dan terkuaklah semuanya.

Masa lalunya, alasannya berada di distrik ini, alasannya... bersama dengan gadis itu.

Ada perasaan yang kacau balau, ada hati yang remuk redam, dan ada pikiran yang tidak jernih. Ada pistol di sakunya, ada tangan kanan yang menarik pelatuk, ada telunjuk yang memberi penekanan, dan—

—ada nyawa yang terbang melayang.

Nyawa milik gadis tujuh belas tahun bernama Catherine Avass.

Gale Hawthorne pasti menemukan kesulitan besar untuk memaafkan dirinya sendiri meski atas nama ketidaksadaran dan kekhilafan.

FIN

A/N: Oke, maafkan saya. Sepertinya saya tidak berbakat dalam pembuatan fic multichapter. Maaf mengecewakan, dan kalau Anda berkenan, silakan masukkan komentar atau apapun yang Anda pikirkan di review. Terima kasih.