-RL-
Kimimaro meregangkan punggunya, dan memutar kursinya 180 derajat menghadap jendela yang berada tepat di belakangnya. Dia menatap langit biru yang kini diwarnai lembayung berwarna merah kejinggaan. 'Yah, dia memang memiliki selera yang sangat bagus. Langit senja memang sangat indah.'
"Ah," Kimimaro sedikit terpekik saat ingat sesuatu. Dia mengambil handphonenya dan mencari-cari sebuah file, 'akan sangat sempurna jika membaca cerita ini dengan suasana begini dan diiringi lagu yang sesuai.'
'Owlcity juga merupakan penyanyi favoritmu bukan, Naruto?'
.
Naruto mendesah nafas panjang. Matanya melirik laptop yang ada di atas meja tamunya. Laptop milik orang itu. Naruto yang meminjamnya, dan orang itu tak pernah tidak mengijinkan Naruto untuk memakai segala miliknya.
Bahkan, hampir 30 persen benda-benda yang ada di rumahnya ini adalah benda-benda milik orang itu.
Bahkan gitar ini.
Naruto memang selalu meminjam benda-benda itu, untuk selalu mengingatkannya pada orang itu, meskipun ia tahu, orang itu tidak akan pergi kemana-mana.
Keheningan tidaklah begitu buruk
Hingga kulihat tanganku dan kurasakan kesedihan
Karna di antara jemariku
Adalah tempat yang paling tepat untuk jemarimu
-RF-
"Oe, Sasuke."
"Hm," aku melirik Sasuke yang hanya duduk diam di tempatnya dengan memejamkan kedua matanya. Di telinganya, terpasang headset yang memperdengarkan sebuah lagu barat. Suaranya terdengar begitu nyaring, sehingga aku yakin betul dia tak mungkin mendengar panggilanku tadi.
Mataku menyipit, dan kembali memperhatikan laptop di depanku. Laptop milik Sasuke.
"Membuat cerita yang baru lagi? Padahal cerita yang lama belum selesai. Payah," gerutuku saat aku kembali menemukan file naskah cerita yang baru.
"Kau mengatakan sesuatu, Naru chan?"
Aku berjengit kaget dan memandang Sasuke horor, 'Crap, dia bisa mendengarnya.'
"Tidak, Sasuke. Hanya perasaanmu saja."
Aku membuka file dokumen dan membaca isinya. Tak banyak, hanya sekitar lima halaman word.
"Intrik di NewYork, eh? Kau tak pernah mengambil setting dunia barat, Sasuke."
"Lethem yang menulariku," aku sedikit sweatdrop mendengar jawabannya.
"Apakah jika kau membaca buku Leblanc, kau juga akan membuat cerita Lupin?" ejekku. Sasuke melepaskan headsetnya dan menatapku intens.
"Naru chan. Kau memberiku inspirasi. Aku sudah berkali-kali membaca Arsene Lupin, tapi tak pernah satupun kubuat cerita tentang pencuri. Padahal aku lumayan suka dengan Leblanc. Aku akan segera membuatnya," dia merebut laptopnya dariku, tapi kutahan.
"Bukankah kau menyuruhku untuk melanjutkan ceritamu? Kau ini, belum selesai satu cerita, membuat yang baru lagi. Mubazir," gerutuku saat laptop beralih ke pangkuan Sasuke. Aku membuang muka dari tatapannya dan mengambil handphonenya. Membuka-buka acak isinya.
"Eh?"
Sebuah laptop terjulur di depanku. Aku menatap Sasuke yang duduk di sampingku, "Aku lupa. Sudah hampir tenggat waktu untuk mengirim bab selanjutnya ke editor. Kau kerjakan saja ceritaku, Naruto."
He, sedingin apapun Sasuke, dia tak pernah bisa tidak mengacuhkan pembaca karyanya. Dan, terkadang jika Sasuke sedang dalam situasi pasrah dan ingin mati karena kehabisan ide, aku memberinya sedikit ucapan sarkastik tentang pembacanya.
Aku kembali menghadapi laptop Sasuke dan membuka file naskah yang ingin kuteruskan jalan ceritanya. Sasuke berdiri dan entah untuk apa, dia melompat-lompat seperti sedang melakukan senam aerobik.
Sekitar lima menit, kami berdua saling diam dengan aku yang sibut memainkan jari jemariku di keyboard dan Sasuke yang sudah berhenti dari melompat-lompat dan entah sedang melakukan apa di belakang punggungku.
Saat merasakan tenggorakanku terasa sedikit kering, tanganku mengulur mengambil gelas yang diletakkan di atas meja di samping tempat tidur Sasuke. Meminumnya, meletakkannya lagi. Dan kembali mengetik.
"Eh?"
Tiba-tiba, aku merasa punggungku terasa hangat, dan ada hembusan nafas di leherku. Tangan Sasuke terulur ke depan, diletakkan di atas tanganku dan dengan menggunakan jariku, dia mengetikkan alur cerita lanjutan cerita yang sebelumnya kubuat.
"Eh?"
"Bagaimana jika kita buat tokoh utamanya saling berciuman saja?" bisiknya di telingaku. Aku menatap wajahnya yang ditopangkan di bahuku dengan kesal, "Kau bercanda? Mana mungkin saat adegan perkelahian seperti ini mereka malah berciuman. Pikiranmu aneh."
Aku menghapus kalimat 'Mata sang penjahat terbuka saat menyadari tak satupun rasa sakit yang dia rasakan dari pukulan sang polisi. Tapi, saat ia membuka matanya, saat itulah ia melihat polisi itu justru mengecup bibirnya dalam dan penuh nafsu' di halaman word.
"Lagipula, mereka sedang tidak beradu pukulan, tapi kejar-kejaran, brengsek. Kalau ingin melanjutkan itu, baca dulu."
"Hm? Bagaimana dengan ini"
Jariku kembali digerakkan oleh Sasuke dan menuliskan kalimat 'Penjahat itu bersembunyi di gang diantara dua gedung besar. Gang itu sempit dan gelap, dan dia berharap polisi itu tak menyadari keberadaannya di sana. Tapi, dugaannya salah. Justru polisi itu muncul dihadapannya sedetik setelah dia menarik nafas lega karena tak menyadari kehadiran sang polisi. Dan, polisi itu secara tiba-tiba melumpuhkan penjahat itu, menciumi lehernya dan membuka satu persatu kancing baju sang penjahat'
"Kau mesum. Tidak. Sama sekali tidak berhubungan dengan ceritanya, tahu," aku kembali menghapus kalimat gila bernuansa mesum itu.
"Mesum, eh?" bisiknya di telingaku. Tangannya yang semula memegangi jari jemariku yang ada di keyboard kini secara kurang ajar masuk ke dalam t shirtku.
Aku menyikut Sasuke keras dan melompat dari tempat tidurnya sambil memandang galak ke arah Sasuke yang masih duduk, "SASUKE MESUUUUUM."
Dan, dia hanya tertawa seperti orang gila. Gila. Ya, dia memang gila.
Aku memutuskan untuk merajuk saat itu, dan memutuskan untuk pulang. Aku membanting pintu kamarnya dan berjalan cepat menuruni tangga.
Yeah, setelah insiden ciumanku dengan Sasuke pra pernikahan bibi Mikoto dan paman Shisui itu, aku merasa aku memiliki kelainan jantung. Aku sering merasa gugup sendiri jika di dekatku ada Sasuke. Bahkan saat itu, jantungku sepertinya ingin pecah dan hancur berkeping-keping.
Saat aku baru menaiki scooterku, aku menerima satu pesan dari Sasuke. Dia meminta maaf atas sikapnya tadi.
'Ayahku baru masuk RS lagi,' kata Sasuke di akhir pesannya. Yah, aku cukup maklum. Sasuke selalu tertekan jika ayahnya, paman Fugaku, yang memang memiliki riwayat penyakit turunan itu kembali masuk rumah sakit. Dan, dia akan sangat tertekan jika dia tidak bisa menemui ayahnya. Poor Sasuke.
Aku membalas pesannya dan mengatakan bahwa aku masih belum pulang. Dan, semenit aku menunggu di depan rumahnya, Sasuke sudah membuka pintu depan dan mengajakku pergi jalan-jalan.
Yeah, jalan-jalan. Tidak dengan scooterku atau mobilnya. Tapi dengan kaki kami. Kami berjalan di trotoar sambil menikmati angin hangat musim gugur. Langit pada hari ini tidak seindah langit pada musim panas, itu yang dikatakan Sasuke. Tapi, dia juga berkata namun langit senjanya pun tak mengecewakan juga.
"Naruto."
"Apa?"
"Fireflies."
"Apanya? Tidak ada kunang-kunang siang hari seperti ini. Lagipula, kunang-kunang jarang muncul jika bukan musim panas."
"Bukan itu, bodoh."
"Lalu apa? Kau ingin menyanyikan lagu Adam Young?"
"Bukan juga."
"Lalu apa? Jangan berbicara kalimat yang ambigu, brengsek."
"Aku pusing. Tuntun aku," ujarnya pelan. Tangan kanannya meraih lengan kiriku, dan jari kami kemudian saling bertautan. Aku memandangi Sasuke yang berjalan sambil bersiul sambil menatap langit.
"Kau bohong."
-RL-
Kimimaro entah merasa sedikit iri dengan hubungan pertemanan yang terlihat begitu kental diantara Naruto dan temannya itu. Yeah, dia memang selalu cemburu. Dia dulu memang sering membully Naruto, dan itu juga karena kecemburuannya. Dia cemburu Naruto begitu dekat dengan orang itu, sehingga entah mengapa egonya mengajaknya untuk membully Naruto.
Itulah sebabnya dulu Kimimaro sering mengatakan, "Nah, kau mau dekat-dekat dengan orang itu lagi, Naruto? kau tidak pantas berteman dengannya tahu. Dia itu bukan sandinganmu" saat dia selesai menghajar habis Naruto.
Padahal, Kimimaro sangat ingin berteman dengan Naruto kala itu. Sangat ingin.
Karena Kimimaro menyukai pemuda langit senja itu.
.
Tangan Naruto tak terlepas sekalipun dari gitarnya. Bibirnya pun selalu menyanyikan lyric yang telah ia hapal di luar kepala. Sesekali dia menahan airmatanya agar tak lepas dari penjara matanya.
Kan kutemukan ketenangan dalam bentuk baru
Meski aku belum terlelap selama dua hari
Karna nostalgia dingin
Mendinginkanku hingga ke tulang
-RF-
Entah aku merasa senang atau sedih saat aku mendengar Sasuke mengontrak sebuah rumah kecil yang jauh dari rumahnya dan jauh pula dari rumahku. Dia berkata, agar dia tak perlu menempuh perjalanan jauh dari rumahnya ke tempat kerjanya, sekaligus ingin menghindari paman Shisui.
"Enak ya jadi orang yang sudah bisa cari uang sendiri. Aku iri, Sasuke."
Dan Sasuke hanya tersenyum manis, namun mulutnya mengejekku dengan kata-kata yang sarkastik. Dan, hal itu membuatku bersyukur takkan sering-sering melihat wajah menyebalkannya itu.
"Tapi, bukan berarti pekerjaanmu yang dulu terhenti, lho Naru chan," ujarnya masih dengan senyuman manisnya. Aku menatap Sasuke sewot, dan dia hanya mengacuhkanku.
Hari-hari awal aku tak bertemu dengan Sasuke, aku merasa biasa. Bahkan sedikit bahagia karena aku tak merasa di intimidasi oleh senyuman dan wajahnya yang menyebalkan itu. Tapi, lama kelamaan, aku merasakan sedikit perasaan rindu padanya. Pada Sasuke itu.
Dia sering menelpon atau mengirimiku pesan. Tapi, itu belumlah cukup untuk menghilangkan rasa rinduku.
Aku selalu mengkhawatirkan kesehatannya. Aku luar biasa panik saat mendengar dia setelah hidup mandiri kini terlampau sering menjadi korban, atau bahkan pelaku, kecelakaan.
Yeah, entah dia yang tak pandai mengemudikan motor atau apa, setiap kali mendengar kenapa dia kembali terluka pastilah selalu antara, jatuh, menabrak orang, tak bisa mengerem saat turunan, sampai terserempet truk.
Yeah, sejak dia mengontrak rumah, dia tak membawa mobilnya turut serta. Bibi Mikoto membelikannya sebuah motor, dan dia menerimanya tanpa komentar.
Bahkan, saat bibi Mikoto membelikannya motor saat itu, dia minta ajarkan aku untuk membawa kendaraan beroda dua itu.
Dia memang tak bisa naik motor, bahkan bersepeda saja dia tak mahir.
Paman Fugaku dulu memang langsung mengajarkan pada Sasuke bagaimana cara menyetir mobil.
.
Aku selalu mendapat kabar bahagia dari Sasuke bahwa dia senang berada di tempat barunya. Dia memang tak memiliki teman di rumah kontrakannya, tapi dia berkata rekan-rekan kerjanya selalu mengunjunginya jika sedang libur dan dia berkata dia tak pernah sendirian.
Berbeda denganku. Aku yang dulu setiap harinya selalu mengunjungi Sasuke, kini tidak bisa lagi. Aku merasa begitu sendirian di rumah. Kyuubi, adikku yang memang sejak dulu memang tak pernah bisa dekat denganku pun hanya acuh tak acuh dan selalu melarangku jika aku meminjam benda-benda miliknya. Kyuubi selalu menolakku jika aku mengajaknya main, dan Kyuubi selalu tak mengijinkanku jika aku memintanya untuk ikut bermain dengannya.
Aku luar biasa kesepian.
Satu-satunya yang bisa mengatasi kesepianku adalah, menunggu email dari Sasuke. Email yang berisi lampiran naskah cerita yang terhenti di tengah jalan. Dan, aku akan melanjutkan cerita yang terhenti itu.
Jika kalian bertanya padaku, kenapa aku tak mencoba menulis ceritaku sendiri, aku akan menjawab, aku hanya takut gayaku akan sama persis seperti Sasuke, dan aku akan dikira meniru gayanya. Lagipula, aku tak biasa menulis cerita dari awal hingga akhir. Dari dulu, aku hanya bisa menyambung cerita yang terhenti, itu saja.
.
Setelah Sasuke lulus dan tak sekolah kembali, aku merasa sekolah adalah tempat paling mengerikan yang pernah ada. Berada di rantai makanan terbawah, itu yang dikatakan Ned Gold.
Dikunci di locker, seseorang menempelkan kertas bertuliskan "Cubit aku" di punggungku, dan semua orang yang melihatnya akan mencubitiku. Dan yang lainnya, dan yang lainnya. Hingga yang paling parah, dipukuli.
Aku masih bisa ingat, Sasuke dulu selalu membalaskan apa yang orang-orang lakukan padaku. Rasa persahabatannya begitu tinggi, menurutku. Dan, aku menyukainya.
Dan, aku bahkan merindukan gandengan tangannya. Aku merindukan tangan hangatnya yang memelukku. Rindu bisikan anehnya yang tepat di telingaku. Rindu pada dadanya yang selalu menempel di punggungku dan dagunya yang bertengger manis di bahuku.
-RL-
Ingin rasanya Kimimaro melempar naskah itu dan membuangnya dari jendela yang ia hadapi sekarang. Atau membakarnya. 'Bisakah kau mencari nama yang lain untuk dirimu sendiri diceritamu, Naruto? kau benar-benar bodoh.'
.
Langit yang tadinya biru, perlahan-lahan dihiasi warna indah kejinggaan. Langit senja saat musim panas memang pemandangan yang begitu disukai orang itu. Bahkan, Naruto pun mau tak mau mengakui bahwa dia pun menyukai hal itu pula.
Naruto memandangi langit senjanya tanpa menghentikan lagunya.
Namun, tersimbah dalam lembayung keemasan
Aku kan duduk di beranda depan sepanjang malam
Terus menerus merenung karena
Saat aku memikirkanmu aku tak merasa sendiri
-RF-
"Aku bertengkar lagi dengan Temujin."
"Bukankah kau sering bertengkar dengan siapa saja? Kau juga sering bertengkar denganku, bodoh."
"Tapi ini berbeda, Sasuke," aku mengerang kesal. Sasuke di seberang sana tertawa pelan, "Berbeda bagaimana?"
"Apa, ya? Entahlah. Tapi, jika bertengkar denganmu, satu dua hari saja sudah baikan kembali. Tapi dengan Temujin? Bahkan sampai berbulan-bulan. Dia itu bertengkarnya langsung menusuk ke hati, Sasuke. Sarkastik."
"Hoo, kau mengatakan orang lain sarkastik pada orang yang pernah kau katakan sarkastik."
"Eh? Tapi... ini berbeda, Sasukeeee. Aduuh, aku menerangkannya seperti apa, ya? Pokoknya berbeda. Kau berkata sarkastik tapi lebih terasa seperti candaan. Berbeda dengan Temujin. Caranya bercanda lebih seperti sedang membunuhku dengan pedang."
"Katakan saja aku lebih istimewa, bodoh."
"Istimewa apanya? Enak saja."
"Loh, lalu apa? Kau tidak bisa marah padaku berhari-hari karena aku istimewa di hatimu, bukan? Jujur saja."
"Maaf saja, ya. Tapi, aku sudah punya pacar. Lagipula, kau itu tidak istimewa sama sekali, tahu," saat itu, aku bisa mendengar suara tawa Sasuke terhenti mendadak dan dia diam beberapa saat.
"Hoo? Pacar? Siapa pacarmu?"
"Seseorang yang sekelas denganku. Inisialnya, K."
"Jangan katakan si kakek tua berkacamata itu."
"Memang dia orangnya. Hehe, dia baik lho ternyata."
"Baik? Dia dulu selalu memusuhimu kudengar."
"Memang. Tapi, tidak lagi sekarang. Setelah sekelas kembali di kelas dua belas, dia jadi luar biasa baik padaku.
"Oh, baguslah. Sudah ya, aku sibuk. Ku tutup."
Dan, aku tak mendengar suara apapun dari seberang sana. Sasuke benar-benar menutup teleponnya. Aku sedikit menyayangkan, padahal ada banyak yang ingin kuceritakan padanya. Tapi, sudahlah.
Sudah setengah tahun Sasuke tinggal di rumah kontrakannya. Sudah setengah tahun pula aku selalu duduk di depan pintu depan atau di jendela kala sore tanpa teman. Dan, selama setengah tahun ini, aku hanya bertemu dengannya dua kali. Yeah, meskipun aku sudah punya pacar, tapi entah mengapa menghilangkan sosoknya dari dalam sini sangat sulit.
-RL-
'Jadi itu alasannya memutuskanku dulu? Huh, seharusnya aku sadar, ada orang lain di hatinya saat itu. Yeah, itu salahku juga. Memintanya menjadi pacarku tanpa pendekatan terlebih dahulu. Bahkan mungkin, dia menerimaku dulu karena terpaksa dan takut, aku menyakitinya lagi.'
Kimimaro menghela nafasnya panjang. Kekecewaan dan sedikit sedih mengingat hari-harinya yang tak lama dulu saat berhubungan dengan Naruto. yeah, itulah kenapa sekarang si tukang bully itu berteman baik dengan korbannya. Setelah putus dengan Naruto, Kimimaro tetap ingin menjaga hubungan baiknya dengan Naruto.
.
"Kak Naruto!"
Naruto melambai pada seorang gadis kecil yang menegurnya.
"Lihat, aku dapat kumbang badak yang besar sekali lho!"
Gadis kecil itu masuk ke dalam perkarangan rumah Naruto dan memperlihatkan kotak kaca yang berisikan seekor serangga di dalamnya. Naruto tersenyum tipis, "Kau pasti susah payah mendapatkannya."
"Iya. Tapi, ayah membantuku menangkapnya. Temanku juga membantuku."
"Teman, ya?"
Gadis kecil itu duduk di samping Naruto.
"Wah, enak sekali duduk di sini. Tepat menghadap laut," gadis kecil yang memiliki rumah tepat di belakang rumah Naruto itu berdecak kagum. Mata kecilnya menatap perahu-perahu yang hilir mudik dengan latar belakang langit senja.
"Indah, kan?"
"Iya. Kakak sedang apa memegang gitar?"
"Kakak menyanyi. Kau mau dengar?"
"Iya."
Tiap kali kukedipkan mata
Aku kan memikirkanmu malam ini
-RF-
Hanya setahun Sasuke meninggali rumah kontrakannya karena dia berhenti dari segala macam pekerjaannya. Sasuke berkata, dia ingin kuliah karena uangnya cukup. Dia juga berkata bahwa dia sengaja tidak kuliah setahun karena menungguku lulus dari sekolah. Konyol, bukan?
Tapi, kudengar dari paman Shisui bahwa Sasuke berhenti karena permintaan ibunya. Ibunya terlalu mengkhawatirkan tubuh Sasuke. Ibunya tidak ingin penyakit turunan dari ayahnya kambuh lagi karena Sasuke terlalu kelelahan dan stres.
Dan, Sasuke, seseorang yang keras kepala menerima permintaan ibunya tanpa ada penolakan sama sekali.
"Kau tidak seperti Sasuke yang kukenal."
"Hm? Memangnya Sasuke yang kau kenal seperti apa?" tanya Sasuke sambil menyusun koleksi novel fiksinya.
"Dia pemberontak. Dan menyebalkan. Dan tak mau kalah. Dan egois. Dan menyebalkan. Dan apatis. Dan menyebalkan. Dan menyebalkan."
"Apa sebegitu menyebalkannya aku sehingga kau mengatakannya hingga lebih dari tiga kali?"
"Tentu saja. maksudku, uhm, yeah. Kau memang benar-benar menyebalkan."
"Hm?" Sasuke mendengus pelan.
He? Kemana hawa anehnya yang selalu menemaninya dulu?
"Naruto."
"Ya?"
"Aku sedang jatuh cinta," pernyataan Sasuke membuatku tersedak air liurku sendiri.
"Haaah? Pasti dengan anak kecil lagi. Kau menemukan seorang bocah kecil di lingkungan rumahmu, ya?"
"Uhm, yeah. Anak kecil. Dia itu berisik. Tapi, dia sangat manis. Sungguh, kau takkan bisa menahan gejolak kekaguman dan rasa cinta jika melihatnya."
Aku diam. Sasuke juga diam. Kami terdiam.
"Oh ya. Cucu balita dari ibu pemilik rumah kontrakanku manis sekali, lho. Kau harus melihatnya kapan-kapan."
"Dasar pedophil."
-RL-
"Ini gitar siapa, kak Naruto?"
"Orang yang menyewa rumah kontrakan ini sebelumnya," Naruto terpaksa berhenti menyanyi. Dia tersenyum pada gadis kecil itu.
"Memangnya kakak kenal siapa dia?"
"Ya. Dia sepupuku. Teman baik kakak."
"Kenapa aku tak tahu, ya?"
"Mungkin Konan chan lupa. Dia baru keluar dari sini beberapa bulan yang lalu."
"Oh, kakak hitam itu? Dia jarang sekali keluar rumah, kak. Ibu sampai mengira dia sedang mengerami telur di dalam rumah."
Naruto tertawa pelan mendengar celetukan kecil Konan.
"Dia orang baik, kok. Kakak lanjutkan menyanyinya, ya?"
Saat mata jingga menjadi lebih terang
Dan sayap yang berat menjadi ringan
Kan kurasakan langit dan aku merasa hidup lagi
-RF-
"Huh, jika sudah tahu alergi, kenapa malah mendekati kucing? Bodoh."
"Kau panggil aku apa, Naru chan?"
"Tidak. Tidak ada. A... aku ambilkan obat untukmu dulu, Sasuke."
Yah, sudah lebih dari setahun bibi Mikoto dan paman Shisui menikah. Kini mereka menempati sebuah rumah baru, lebih dekat dengan rumahku, dan itu membuatku semakin sering ke rumah keluarga Uchiha ini.
Jika kalian tanyakan padaku, bagaimana hubunganku dengan Sasuke setelah insiden ciuman itu, itu tidak berarti hubungan kami semakin mengarah kehubungan yang romantis. Tidak. Sasuke bahkan sama sekali tidak suka pada hal-hal yang berbau romantis. Aku pernah mengajaknya menonton ulang film Titanic, dan dia justru tertidur saat film baru seperempat jam diputar. Aku juga pernah mempertontonkannya film Twilight yang begitu disukai para remaja di seluruh dunia. Tapi, dia justru muntah tak berhenti saat melihat Bella dan Edward berciuman. Dia bahkan demam setelah itu. Aku tak menyerah, aku juga memperlihatkan film Harry Potter, yah adegan romancenya sedikit, mungkin dia suka, itu pikirku.
Tapi nyatanya? Dia hanya memandang bosan film dan selalu menjulurkan lidah pada Daniel Radcliffe setiap kali Harry muncul di frame. Dia bilang, dia tak pernah bisa menyukai Harry Potter, karena pemeran Harry terlalu terkesan Gary stu. Dan dia benci tokoh itu.
Aku tak tahu, penyakit apa yang diidap oleh pemuda itu. Romancephobic? Entahlah, aku tak pernah mendengarnya.
"Kau terlalu banyak memiliki alergi. Kau bahkan alergi pada apa saja. Pada kucing, pada keju, pada anjing, kau juga alergi pada kegelapan. Lalu, kenapa kau justru suka benda-benda berwarna gelap, huh?"
"Masalah untukmu?"
"Tidak. Aku penasaran saja."
"Hm?"
"Sasuke. Jika kau alergi pada kegelapan, bagaimana kau tidur? Saat kau memejamkan matamu, bukankah itu gelap?"
"Tapi, imajinasiku berwarna, Naruto."
"Oh ya. Aku lupa sedang berbicara dengan si raja fantasy."
Sasuke diam. aku juga diam sambil mengutak-atik handphonenya.
"Naruto."
"Hm?" aku tak menjawab dan masih sibuk mengutak-atik handphonenya.
"Kudengar kau baru saja kemalingan?"
"Hm, yeah. Tapi, tak apa. Hanya laptop dan jam tanganku saja yang hilang. Yah, salahku juga sih. aku menaruhnya sembarangan."
"Kasihan." Sasuke menggelengkan kepalanya. Aku merengut kesal.
"Diam saja kau, brengsek."
Tetot.
Sasuke memandangiku tajam saat handphonenya berbunyi.
"Kau sedang apa?"
"Menulis status di BMmu. Aku tak menyangka teman-temannya secepat itu menanggapinya," aku tersenyum kecil. Sasuke merebut smartphonenya dengan kesal. Dibacanya apa yang tadi kutulis.
"Ah, sakit itu sama sekali tidak enak, ya? Menyebalkan."
Dia diam setelah membaca itu. Matanya menyipit melihatku.
"Apa? Statusnya terlalu OOC untuk seorang Sasuke, ya? Hehe, sengaja. Aku juga menulis status di facebookmu, lho."
"Kau ingin mati hari ini juga, ya?" tanyanya sarkastik. Tangannya dengan lincah menari di handphone qwerty itu.
"Kenapa dihapus, Sasuke? Biarkan temanmu mengetahui apa yang kau lakukan sekarang," ujarku mengcopy kalimat yang biasanya ada di facebook. Dia memberiku senyuman tipis melengkung, "Kenapa tidak kau tulis di status facebookmu sendiri bahwa kali ini kau akan mati di tangan seorang Uchiha Sasuke?"
"Aku sudah tidak punya facebook lagi."
"Alibi."
"Aku sungguhan kok. Aku lupa password, hehe. Passwordnya kusimpan di laptop sih. tidak pernah kuhapal. Hehe."
"Dasar anak bodoh."
Aku diam tak menjawab dan kembali meminjam smartphonenya. Kali ini aku tak berani menulis status. Tapi, cukup mengkomen tidak apa-apa kan Sasuke?
"Naruto."
"Hm?" aku hanya berdehem.
"Kau sadar tidak, kau itu seperti senja."
Aku menatap Sasuke intens, "Maksudmu aku indah? Wah, terima kasih. aku tersanjung mendengar pujian seorang Sasuke."
"Bukan indahnya, bodoh. berkacalah. Matamu seperti langit. Rambutmu pirang kejinggaan. Jika kepalamu berada di bawah, maka sangat cocok sekali dengan langit senja. Langit biru dengan warna kejinggan di ufuk baratnya. Ayo jungkir balik. Aku ingin melihat langit senja."
"Brengsek."
"Naruto."
"Aku tak dengar apapun," ucapku kesal. Aku membalik kursiku agar tak menghadap Sasuke yang terbaring di depanku.
"Kau tentu tahu kesukaanku, kan?"
"Ya ya ya. Owl City. Seandainya orang itu adalah anak kecil, kau akan segera berangkat ke Amerika dan menikahi si bocah kecil Adam itu." Ujarku mengucapkan persis seperti Sasuke dulu berkata tentang Adam Young yang ia kagumi.
"Huh, kau memang benar-benar bodoh."
.
Aku pikir Sasuke sudah melupakan tentang paman Shisui hingga suatu hari, daun pintu kamarku hampir terlepas dari engselnya karena kebrutalan Sasuke. Matanya berkilat marah dan nafasnya luar biasa berat dan berbunyi tiap kali dia bernafas.
"Ada apa, Sasuke?"
"Andai dia bukan ibuku, Naruto. aku sangat ingin membunuhnya."
"Apa maksudmu?" aku terkejut bukan main dengan kata-katanya. Dia duduk di sampingku dan mengacak-acak rambutnya.
"Aku selalu benci keterbukaan di antara suami istri. Kau tahu, Shisui brengsek itu menceritakan tentang aku yang dulu pernah menyukainya pada ibuku. Brengsek. Sangat brengsek. Dan, kau tahu apa yang dikatakan ibuku saat makan siang tadi? 'Memang tak ada yang lebih menyenangkan selain saat kau benar-benar bersama dengan orang yang kau sayangi.' Dia mengejekku Naruto. brengsek sekali. Sangat brengsek, ibuku itu.
"Dan, selama makan siang itu, ibuku seperti sengaja memperlihatkan kemesraannya di depan mataku, Naruto. aku benci sekali padanya. Sangat benci."
"Aku pikir kau sudah melupakan paman Shisui," kataku jujur. Sasuke tersenyum mengejekku, "melupakannya? Kau bercanda? Bagaimana mungkin kau melupakan orang yang kau cintai sementara orang itu selalu kau lihat setiap hari."
Aku luar biasa sakit hati kala itu. Aku ingin sekali menampar Sasuke saat itu juga. Berteriak di depannya bahwa percuma saja mengharapkan cinta dari suami dari ibumu sendiri. Tapi aku tidak bisa. Terlebih lagi Sasuke saat itu sedang depresi luar biasa.
Dia mengaku pusing padaku dan aku menyilakan dia menginap di rumahku. Sudah berhari-hari dia menginap di rumahku, namun bibi Mikoto juga paman Shisui tak pernah sekalipun berkunjung ke rumah untuk menjemputnya. Aku merasa kasihan pada Sasuke. Terlebih lagi, selama Sasuke berada di rumahku, dia selalu terlihat sendirian di kamarnya. Merenung. Entah apa yang ia pikirkan.
Terkadang, aku bisa mendengar ia menyanyi sendiri namun dengan suara yang entah mengapa menjadi sumbang. Aku juga kadang mendengar isakan tangisnya, atau gelak tawa pelan dari kamarnya.
Aku tak tahu apa yang ia kerjakan. Sedang membaca atau menulis status atau komentar yang lucu mungkin di masanger, facebook, atau twitternya. Hingga suatu hari aku mengajaknya berjalan-jalan keluar, melihat-lihat pemandangan hijau dan asri. Dia mengajakku untuk pulang sebentar ke rumahnya, dan dia mengepak sedikit baju dan membawa beberapa barang.
Sesampainya di rumahku, dia mengajakku bernyanyi.
"Kau tahu lagu All About Us milik He Is We? Itu, lagu yang dia nyanyikan bersama Adam Young. Bagaimana jika kita bernyanyi itu? Aku akhir-akhir ini sudah tahu kuncinya."
"Baik. Tapi aku yang bagian Adam Youngnya. Kau Rachelnya."
Dia menatapku dengan pandangan menyipit. Aku tersenyum kecut, "Baiklah. Baiklah. Aku Rachelnya."
.
Dua hari setelah aku dan Sasuke bernyanyi bersama, Sasuke dijemput bibi dan paman Shisui. Aku juga diajak untuk menginap di rumahnya selama beberapa hari.
Tapi, dari beberapa hari itu, aku tahu penyakit turunan apa yang diderita Sasuke.
Aku tak tahu tepat namanya, tapi penyakit turunan itu memang sudah turun temurun dan seperti diwariskan ke garis turunan pria. Ayah Sasuke pun keluar masuk dari rumah sakit karena penyakit itu.
Aku sudah katakan, aku tak tahu nama penyakit itu. Penyakit psikologis.
Suatu malam, Sasuke mengamuk luar biasa dan aku tak tahu kenapa. Mungkin karena melihat kemesraan ibunya dan ayah tirinya? Depresi? Dia seperti orang gila. Dia tidak seperti Sasuke yang kukenal.
Awalnya, bibi Mikoto hanya menguncinya di kamarnya hingga dia tenang. Setelah tenang, bibi Mikoto memintaku untuk menemaninya.
Dan, selama aku menemaninya dia seperti Sasuke yang kukenal. Sarkastik, brengsek, dan menyebalkan. Tapi entah mengapa, malam itu dia terlalu sering banyak melamun dan termenung. Dia seperti memikirkan sesuatu.
"Naruto?"
"Apa Sasuke?" tanyaku pelan. Alis Sasuke berkerut, dan ada senyum tipis di wajahnya, "Apa yang kau inginkan sekarang?"
"Aku tak tahu pasti. Kau tidak ingin tidur Sasuke? Kau tidak lelah?"
Sasuke menurut dan tak lama, dia sudah terlelap. Setelah itu, aku meminta pada bibi Mikoto untuk pulang.
.
Beberapa hari aku tak mengunjungi Sasuke, karena aku sibuk mendaftar kuliah kesana kemari. Sedangkan Sasuke, hanya mendaftar di satu unversitas saja, dan dia cukup percaya diri bahwa dia akan diterima di tempat itu.
Yah, Sasuke sepertinya sudah kembali seperti biasa. Dia seperti Sasuke biasa yang menyebalkan bagiku, dan Sasuke yang pendiam untuk orang lain. Dia bahkan sempat menemaniku saat aku melakukan tes masuk di salah satu universitas.
Dia luar biasa gembira dihari pengumuman tempat dia mendaftar. Dia diterima di salah satu prodinya. Kesehatan anak. Yeah, tentu saja. aku takkan heran jika dia mengambil itu. Dia memang sangat menyukai anak-anak.
Akhir bulan Juni, Sasuke akan melakukan tes kesehatan di universitas itu. Dia bahkan memintaku untuk menemaninya. Tentu saja aku menerima permintaannya. Sungguh, aku sangat bahagia saat melihat wajahnya yang berseri-seri.
"Aku akan bertemu anak-anak setiap hari, Naruto. setiap hari. Hei, bagaimana denganmu? Dokter kandungan? Bersiaplah menghadapi ibu-ibu hamil. Haha."
Yeah. Dia sangat gembira.
Sebelum hari itu.
Sehari sebelum uji kesehatan, aku menelpon Sasuke untuk meminta kepastian tentang rencana hari esok. Tetapi, yang mengangkat justru bibi Mikoto. Dia berkata penyakit Sasuke kambuh lagi. Dia dia juga berkata sudah tidak sanggup lagi mengurus Sasuke, sehingga dia harus dibawa ke tempat ia seharusnya berada. Aku luar biasa terkejut dan bahkan secara tak sengaja aku membentak bibi Mikoto karena bagaimana mungkin seorang ibu dengan teganya mengirim anaknya sendiri ke tempat sialan yang bernama rumah sakit itu.
.
Yeah, dokter bilang, Sasuke bisa sembuh secepatnya. Aku juga selalu berdoa seperti itu. Tentu saja. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk orang yang kusayangi. Yah, aku menyayanginya.
Aku sangat menyayanginya. Aku selalu mengatakan hal itu jika aku menjenguknya. Dan, kalian tahu, apa tanggapannya. Dia hanya tersenyum aneh dengan alisnya yang mengkerut.
Aku sangat berharap, dia juga menerima cintaku.
Yeah, cerita cintaku yang dramatis.
Yeah, jika kalian pikir ini adalah cerita karangan, aku memang tak memungkirinya. Ini memang tidak seratus persen cerita nyata. Lagipula, apa kalian pikir aku bisa mengingat apa yang aku kerjakan setiap detiknya di hari-hari yang lalu? Tapi, aku mengambil garis besar ceritaku yang dramatis, menulis percakapan yang kuingat sedikit dan menuangkannya di sini. Itulah sebabnya, kenapa aku menaruhnya di rubrik fiksi dan bukan di rubrik halaman sebelah. Yeah, kuharap ceritaku ini sebagus saat aku menjadi penulis bayangan orang yang ada di cerita ini kunamakan Sasuke.
Jika kuingat kembali, menjadi penulis cerita sendiri ternyata lebih sulit dari menjadi seorang penulis bayangan.
Terima kasih untuk kalian yang telah membaca ceritaku.
Uzumaki Naruto.
-RL-
Kimimaro menahan nafasnya. Dia menahan tangis di dalam hatinya.
'Kalian berdua bodoh.'
.
Dan aku kan melupakan dunia yang kutahu
Namun kuberjanji takkan melupakanmu
Oh, jika suaraku bisa sampai
Melewati masa lalu
Aku kan berbisik di telingamu
Oh kasih, kuharap engkau di sini
"Suara kakak bagus," puji Konan. Naruto tersenyum tipis. Konan pulang ke rumahnya saat ibunya memanggilnya dan Naruto masuk ke dalam rumahnya untuk mengerjakan tugasnya yang tertunda. Menulis paragrap terakhir untuk laporannya.
.
"Ceritamu bagus, Naruto," puji Kimimaro saat Naruto baru meletakkan laporannya di meja redaksi. Naruto tersenyum tipis dan mengucapkan terima kasih dengan suara pelan.
"Kau bohong."
"Uhm, yeah. Soalnya, aku tak memiliki ide nama yang lain. Dan, aku merasa tak enak mengganti namanya. Lagipula, dengan aku mengatakan bahwa aku tidak menggunakan nama aslinya, itu membuat pembaca berpikiran bahwa nama Uchiha Sasuke memang hanya samaran saja, bukan?"
"Kau benar," Kimimaro tersenyum tipis. "Yeah, setidaknya aku tahu, masa lalu mantan pacarku."
"Maaf."
"Tidak apa, Naruto. yeah, ceritamu ini akan kuterbitkan di majalah Selasa ini," Kimimaro memainkan naskah cerita Naruto.
"Tanggal 10. Ya," sedikit senyum puas dilontarkan Naruto pada Kimimaro.
"Kenapa memangnya dengan tanggal 10?"
"Hari pertamaku menyaksikan langit senja di pelabuhan. Aku ada urusan lain, Kimimaro. Boleh aku pergi sekarang?"
"Tunggu dulu, Naruto," Kimimaro berdiri dari duduknya. Naruto menatap Kimimaro dengan pandangan, 'Ya?'
"Ku dengar kau baru saja diterima di salah satu Universitas. Apakah uhm... Sasuke baru saja...," Kimimaro tak meneruskan pertanyaannya, tapi aku tahu apa yang dia katakan. Aku tersenyum tipis.
"Yeah, delapan hari yang lalu." Setelah itu, Naruto pergi dari ruangan Kimimaro.
Senyum tipis, Naruto mengambil smartphone yang ada di saku celananya saat dia mendengar bunyi tetot.
Dibacanya pesan yang baru masuk, 'Hai, Sasuke. Apa kabar pagi ini?'
Tangan Naruto bermain cepat, 'Baik. Kau? :)'
Yeah, Naruto. akan tetap menjadi penulis bayangan untuk Sasuke. Naruto, akan menggantikan posisi Sasuke saat dia tidak bisa menempati posisinya. Akan selalu begitu.
'Cepat pulang dari tempat sialan itu, brengsek.'
-End-
Happy SasuNaru day 2012. Semoga menghibur. Mind to review?
