Hy… Saya kembali buat update fic nie… pasti readers semua dah nungguin kan??*digetok rame-rame*
Yosh… langsung saja…happy reading Minna-san…^^
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Fantasy/Romance/Hurt/Comfort/Mistery*borong semua*
Rated : T
##My Lovely Angel##
Seorang pemuda berambut hitam tengah terbaring lemah diatas tempat tidur berseprei putih. Ditangan kirinya selang infuse tertancap, menembus kulit putihnya. Serta sebuah alat pernapasan bantu yang bertengger dibagian mulut tipisnya dan hidungnya yang mancung. Dadanya naik turun dengan teratur. Disamping kanan ranjang tersebut, seorang pemuda yang sama-sama berambut hitam namun lebih dewasa , duduk dengan kepala menunduk dan terkulai disamping tubuh sang pemuda yang terbaring. Tangan kanannya menggenggam tangan pemuda itu. Sesekali dia menggeliat dalam posisi tidurnya yang kurang enak. Lalu tak jauh disana, ada seorang pemuda berambut kuning spike. Cara tidurnya pun sangat tidak enak. Disebuah sofa, kepalanya tersandar di sofa itu sedangkan kakinya diselonjorkan kedepan.
Kedua mata onyx itu perlahan-lahan terbuka. Membiasakan retina matanya dengan keadaan sekitar. Sinar matahari yang masuk melalui celah-celah gorden yang jendelanya terbuka lebar, membuat sang pemilik mata onyx tersebut mengerjap-ngerjapkan matanya sampai beberapa kali. Setelah terbiasa, sang pemilik mata onyx itu pun mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan yang tampak asing bagi kedua matanya. Semua ruangan itu di cat dengan warna putih.
Sang pemilik mata onyx itu pun, menolehkan kepalanya perlahan kesebelah kanan. Didapatinya sang kakak tercinta tengah tertidur di sampingnya dengan menggenggam tangannya. Pemuda itu pun terseyum simpul. Lalu berusaha melepaskan genggaman tangannya dari sang kakak. Berhati-hati agar tak membangunkannya.
Namun, usahanya sia-sia saja. Karena sang kakak langsung terbangun dan tersenyum lebar padanya. Memperlihatkan sederatan gigi depannya yang putih. Sang adik pun tak kuasa untuk ikut tersenyum juga. Lalu, berkata dengan sangat pelan dan lirih.
"Maaf mambuat kakak repot."
"Tidak perlu minta maaf. Sudah menjadi tugas seorang kakak untuk menjaga adiknya,"ucap pemuda berambut hitam panjang yang diikat rapi dibelakang tengkuknya. Sedetik kemudian pemuda itu menolehkan kepalanya pada sosok seorang pemuda berambut kuning yang masih saja tertidur. Mendekatinya dan mengguncangkan kedua bahunya pelan. "Naruto, bangun..! Sasuke sudah sadar."
Pemuda berambut kuning spike itu pun membuka kedua matanya. Memperlihatkan kedua bola mata safir indahnya. Kemudian bangkit dari tidurnya… err…duduknya maksudnya. Merentangkan kedua tangannya. Dan kemudian tersenyum lebar, kelewat lebar malah pada sosok pemuda yang terbaring lemah. Mendekatinya kemudian memberikan ucapan selamat dengan menepuk pelan bagian kakinya yang terbugkus selimut berwarna putih.
"Syukurlah kau sudah sadar, Sasuke. Kami sangat khawatir dengan keadaanmu," ucap pemuda berambut kuning, sebut saja Naruto. Sahabat baik Sasuke dari kecil. Bahkan sudah sangat seperti saudara.
"Hn," jawaban sangat singkat dari bibir tipis Sasuke disertai dengan seyuman tulus.
Kreet…
Suara pintu yang dibuka itu berhasil mengalihkan semua pandangan semua orang yang ada di ruangan itu. Naruto yang berada paling dekat dengan Sasuke langsung saja mundur beberapa langkah kebelakang. Memberikan ruang gerak bagi orang yang baru saja masuk. Orang itu adalah seorang dokter. Dokter berkepribadian baik dan juga ramah. Terlukis di wajahnya yang selalu tersenyum. Rambutnya yang berwana perak panjang diikat rapi dibelakang tengkuknya. Tak lupa sebuah kacamata bertengger manis dihidungnya yang mancung.
"Dokter Kabuto… bagaimana keadaan Sasuke. Apa sudah jauh lebih baik?" tanya Itachi, kakak Sasuke tak sabaran dan mendekati sosok Kabuto yang tengah memerikasa denyut nadinya melalui pergelangan tangannya. Menyamakan detak nadi Sasuke dengan jam dipergelangan tangan kirinya. Sedetik kemudian Kabuto menyunggingan sebuah senyuman. Yang dapat diartikan Itachi dan Naruto sebuah kabar baik.
"Syukurlah… keadaanya sudah jauh lebih baik," ucap Naruto dan mengelus dadanya dengan lega. Itachi pun melakukan hal yang sama dengan Naruto.
"Sasuke hanya perlu istirahat total saja. Setelah beberapa hari lagi, dia sudah bisa kembali kepada aktivitas yang biasa dia lakukan," ucap Kabuto dan tersenyum sambil menghadap Itachi.
Kabuto meleparkan sebuah senyuman. "Kalau begitu selamat beristirahat, Sasuke. Aku undur diri. Masih banyak pasien lain yang harus aku tangani," ucapnya kemudian dan melenggang pergi meninggalkan ruang rawat Sasuke. Bisa terdengar suara langkah beratnya menjauh dari ruangan itu.
"Kak, aku haus sekali. Tolong ambilkan minum untukku..!" ucap Sasuke mencoba bangkit dari tidurnya dan membuka alat bantu pernafasannya. Merasa sangat khawatir dengan gerakan yang dilakukan Sasuke. Akhirnya Naruto membantunya, menaruh bantal untuk menjadi penyangga punggung Sasuke.
"Ini minumnya," ucap Itachi dan menyodorkan segelas air putih yang ada sedotannya.
Glek…glekk…glekk…
Sasuke menegak air putih itu sampai tandas. Menunjukan betapa haus tubunya akan cairan. Itachi yang meliatnya hanya terseyum maklum.
"Sudah berapa lama kalian menungguku sadar?" tanya Sasuke. Menyeka bibir dan dagunya yang basah akibat air yang diminumnya sedikit menetes. Lalu dengan pelan menyandarkan kembali punggungnya dengan bantal empuk dibelakangnya.
"Semalaman kami menunggumu sadar," jawab Naruto dan duduk di atas ranjang. Sedangkan Itachi duduk di kursi disamping ranjang Sasuke.
"Tetapi semua itu tergantikan dengan kesadaran dan keadaanmu yang membaik, Sasuke," timpal Itachi dan mengacak pelan rambut Sasuke. Menyebabkan rambut emo Sasuke yang tadinya berantakan menjadi semakin berantakan. Sedangkan sang pemiliknya langsung berdecak sebal. Dan Naruto yang tak kuat melihat rambut Sasuke jauh dari kata rapih dan indah, langsung tertawa tertawa terbahak-bahak. Dan alhasil dia mendapat deathglare dari Sasuke. Namun tak digubris oleh Naruto sama sekali, dia semakin memperbesar volume tertawanya. Dan Itachi pun juga ikut tertawa.
"Syukurlah…aku masih diberi kesempatan untuk tetap hidup,"batin Sasuke dan menarik sedikit ujung bibirnya.
##My Lovely angel##
Seorang pemuda berambut coklat panjang sesekali menggeliat dalam tidurnya di atas sebuah sofa kulit berwarna merah. Selimut yang menutupi tubuhnya pun sudah tak dugubrisnya tak kala ada dibawah karpet merah di dalam kamar itu. Kamar yang bisa dikatakan cukup besar dan juga mewah. Dilihat dari perabotan yang ada di dalam kamar itu.
Sebuah tempat tidur ukuran king size dengan seprei dan selimut motif bunga lili putih. Di samping masing-masing tempat tidur itu terdapat meja kecil yang diatasnya terdapat lampu, jam weker dan segelas air putih. Disamping kanannya lagi terdapat lemari besar yang menempel didinding. Disebrangnya terdapat kamar mandi. Lalu sebuah jendela yang lebar dan panjang, menuju sebuah balkon kecil. Dan tak lupa sebuah Tv 32 inch, dvd player, telepon, kipas angin dan sebuah radio kecil menghiasi kamar itu.
Sosok pemuda itu akhirnya terbangun dari tidur kurang nyenyaknya. Mengingat dia tidur disofa disamping jendela. Alasan dia terbangun karena sinar matahari yang masuk melalui jendela dan gorden yang terbuka. Beberapa kali kedua mata lavender miliknya mengerjap-ngerjap menyesuaikan dengan keadaan kamarnya. Kemudian dia duduk dan merenggangkan sedikit otot-otot tubuhnya yang terasa pegal. Apalagi bagian leher dan pinggangnya yang terasa akan patah.
"Hoaammm." Pemuda itu menguap kecil dan segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dan menyambar sebuah handuk sebelum masuk dan menutupi pintunya kembali. Bisa terdengar suara gemericik air dari shower yang baru saja dibukanya. Menandakan pemuda itu sedang asyik-asyiknya menyegarkan diri.
Lain halnya dengan sosok seorang gadis cantik yang masih saja betah untuk menjelajahi alam mimpi. Rambut merah muda panjangnya sangat acak-acakan diatas bantal. Namun, sepertinya suara gemericik air berhasil membuatnya terjaga. Lantas dia segera bangun dan mengedip-ngedipkan kedua matanya perlahan. Kedua mata emerald milik gadis itu menjelajahi seluruh ruangan yang sangat asing baginya.
"Ini dimana? Ah… sayapku,"ucap gadis itu dan beranjak bangun dari tempat tidurnya. Segera saja dia menolehkan kepalanya sedikit kebelakang, berusaha melihat bagian punggungnya. "Masih bisa dikeluarkan tidak yach?"
Dan segera saja gadis itu memejamkan kedua matanya dan…
Paaakk… sayap disebelah kanannya muncul.
Lalu 'Paakk' sayap satunya lagi di sebelah kiri muncul. Sekarang ada sepasang sayap putih dan indah di punggung gadis itu. Suara halus kepakan sayapnya menggema di kamar yang sunyi itu. Dan sang gadis menghela nafas lega dan sedetik kemudian sepasang sayap putihnya itu pun kembali menyusut dan menghilang dipunggungnya.
"Syukurlah masih bisa dikeluarkan… tapi mungkin sayapku terlalu lemah jika harus terbang dalam waktu dekat ini,"ucap gadis itu dan kembali mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan besar itu.
"Sebenarnya ini tempat apa?" batin gadis itu dan mulai meyentuh satu persatu benda yang ada diruangan itu. Dimulai dari tempat tidur yang tadi dia tiduri lalu beralih pada sebuah lemari besar. Yang isinya semua pakaian untuk seorang pria. Lalu pendengarannya beralih pada sebuah pintu. Dari sanalah dia mendengar sebuah suara. Suara gemericik air.
Dengan langkah pelan gadis itu mendekati pintu dan bermaksud membukanya. Namun, gerakannya terhenti… karena sudah ada yang terlebih dahulu membukanya. Seorang pemuda beramabut coklat panjang bermata lavender yang sedang menatap gadis dihadapannya dengan alis terangkat. Pemuda itu menatapnya dari atas sampai bawah. Jelas gadis itu merasa risih. Karena dia memakai pakaian yang minim dan tipis. Panjang bajunya pun hanya sampai pertengahan pahanya.
Dan akhirnya pun gadis itu ikut memeperhatikan sosok yang ada dihadapannya. Sosok pemuda di hadapannya yang hanya memakai sebuah handuk melilit di pingganganya. Sehingga memperlihatkan dadanya yang bidang dan kuiltnya yang putih. Seketika wajah gadis itu bersemu kemerahan. Dan sedetik kemudian gadis itu tersenyum manis dan menyapa pemuda dihadapannya itu dengan canggung.
"Hallooo."
Dan seakan tersadar dengan suara lembut dari gadis itu. Sang pemuda pun langsung panik dengan wajah memerah. Dan dia dengan cepat kembali masuk kedalam kamar mandi.
Blaammm..!
Suara pintu ditutup dengan kencang itu pun menjadi tanya tanda besar bagi sang gadis. "Apa ada yang salah dengan ucapanku." Pertanyaan itu yang ada di benak gadis itu saat ini.
Seorang pemuda yang berada didalam kamar mandi mengumpat kesala pada dirinya sendiri karena kecerobohannya. "Neji… kenapa kau sampai bisa lupa kalau kemarin malam kau menolong seorang gadis dan membawanya kerumahmu?" tanya pemuda bernama Neji tersebut pada dirinya sambil mengacak rambutnya frustasi di depan sebuah cermin.
"Dan mana mungkin aku keluar dengan keadaan seperti ini," ucap Neji. Tapi kemudian ekor matanya melihat sebuah benda yang dapat menolongnya keluar dari kamar mandi. "Huuffft… untung saja ada baju handuk ini."
Dan setelah memakai handuk putih yang bentuknya seperti sebuah jaket panjang yang ada lilitan dia pinggangnya. Pemuda yang bernama Neji itu pun keluar dari kamar mandi. Dan wajahnya pun masih tetap memerah. "Hallooo…. nona…maaf 'kan kejadian yang tadi," ucapnya dan berjalan mendekat pada sosok gadis itu yang tengah terseyum manis.
Neji mengulum sebuah senyuman. "Perkanalkan namaku adalah Hyuuga Neji. Dan sekarang Nona Sakura ini sedang berada didalam kamarku," ucapnya.
"Eh… kau tahu namaku Sakura dari mana?" tanya gadis itu bingung dan menatap Neji tak percaya.
"Warna rambutmu… merah muda… aku teringat dengan nama bunga yang juga memiliki warna seperti rambutmu… nama bunga itu adalah Sakura. Aku hanya asal saja menyebutkannya. Tak tahunya memang benar itu namamu," jawab Neji panjang lebar.
Dan sekarang Sakura, nama gadis itu menyerngitkan keningnya. "Bunga Sakura… apa itu?" batinnya dan mengingat-ngingat nama bunga ditempat asalnya. Dia semakin bingung saja. Karena seberapapun dia mengingat nama bunga. Tidak ada nama bunga ditempat asalnya yang bernama sama dengannya.
Melihat gadis yang ada dihadapannya seolah kebingungan. Neji berinisiatif untuk menanyakan lebih lanjut tentang gadis yang ada dihadapannya.
Neji berjalan mendekati sosok Sakura. "Rumahmu dimana, Nona Sakura? Dan kenapa kau sampai bisa tertidur dijalanan seperti itu kemarin malam?" tanyanya.
Sakura berkeringat dingin dan dengan gugup menjawabnya. "Eh…rumahku?" tanyanya balik dengan wajah setenang mungkin.
"Benar…rumahmu?"
"Aduuuhh..! Tidak mungkin aku bilang dimana tempat tinggalku dan juga diriku yang sebenarnya," batin Sakura dan menggiit bibir bawahnya.
"Rumahku sangat jauh… dan aku tak ingat jalannya untuk kembali pulang. Karena aku melarikan diri dari rumahku sendiri," jawab Sakura asal.
"Oh… lalu disini apa kau mempunyai saudara atau tempat tinggal yang bisa kau pakai untuk tempat berteduh sementara?" tanya Neji dengan alis terangkat.
"Ngg… masalah itu… aku sama sekali tak punya tempat tujuan," ucap Sakura dan menunduk sedih.
Neji yang tak tega melihat wajah sedih Sakura akhirnya membuat satu keputusan yang dapat merubah hidupnya. "Kau boleh tinggal disini kalau kau mau, Sakura," ucapnya.
Sontak wajah Sakura kembali ceria. Dan tak pikir panjang langsung memeluk tubuh Neji dengan erat sambil menggumamkan 'terima kasih'. Neji yang mendapat perlakuan secara tiba-tiba itu langsung bersemu kermerahan wajahnya. Namun, dibalasnya juga pelukan Sakura.
Tanpa mereka sadari sebelumnya. Ada sepasang gadis yang sama memilik sepasang mata lavender melihat kejadian itu dengan wajah sangat shock. Dia berdiri kaku di ambang pintu kamar itu. Kedua mata levendernya membulat tak percaya. Disertai wajah yang merah padam.
"Ka… kak… ga… gadis itu…ka… kalian…" Suara lembut dan bergetar gadis bermata lavender itu berhasil membuat Sakura dan Neji menolehkan kepalanya pada gadis itu dengan tampang tak tahu apa-apa.
"Ja… jangan-jangan Kak Neji dan gadis itu sudah melakukan…" batin gadis itu dan selanjutya terdengar bunyi berdegum keras dikamar itu.
Buughh..!
Tubuh gadis itu terjatuh keras di karpet merah. Menimbulkan tanda tanya besar di benak Neji dan Sakura yang masih belum melepaskan pelukan mereka.
Siapa saja yang melihat keadaan Sakura dan Neji pasti akan salah paham. Keadaan Neji yang hanya memakai handuk saja. Dan Sakura yang memakai pakaian minim dan tipis sekali. Ditambah lagi mereka di dalam kamar dan dalam posisi berpelukan satu sama lain. Semua orang pasti mengira yang tidak-tidak.
##My Lovely angel##
Sasuke melirik sosok Itachi yang sedang mengupas sebuah buah apel untuknya di samping tempat tidurnya. "Kak, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanyanya dan memiringkan sedikit kepalanya menghadap Itachi.
"Boleh, apa itu?"
"Siapa yang sudah membawaku kerumah sakit ini?"
Itachi menghentikan aktivitas mengupas buah apel itu dan menyerngit bingung. "Ngg, menurut para suster yang memerikasamu tadi. Ada seseorang yang menghubungi rumah sakit ini. Ya, benar begitu," jawabnya sambil menempelkan jari telunjuknya di dagunya. Berpikir keras. Dan setelahnya kembali ke aktivitasnya semula, mengupas buah apel. Lalu, memotongnya menjadi potongan kecil.
"Seorang perempuan bukan?" tanya Sasuke kemudian.
"Ya, seorang perempuan," jawab Naruto sambil masuk dan dengan seenaknya mengambil beberapa potongan apel dari piring. Itachi memberinya deathglare. Namun, tak digubris Naruto dan memilih duduk di sebuah sofa kecil di samping tempat tidur Sasuke.
"Siapa namanya?" tanya Sasuke dan juga ikut mengambil potongan buah apel. Mengunyahnya dengan pelan.
"Aku tak tahu… karena suster itu bilang dia menelepon dan ikut kerumah sakit. Setelah itu dia langsung pergi entah kemana setelah mengurus administrasi," jelas Naruto setelah mengunyah habis apel di dalam mulutnya.
"Begitu."
Naruto mendekati Sasuke dan duduk diranjangnya. Kedua kakinya tak manginjak lantai rumah sakit melainkan menggantung karena tingginya ranjang itu. "Ada apa kau menanyakan hal itu, Sasuke?" tanyanya dengan penuh selidik. Kedua mata shafire-nya dia picingkan.
"Tak ada. Aku hanya akan berterima kasih padanya saja."
"O, ya, ada sesuatu yang mengganjal," ucap Itachi.
"Apa?" tanya Naruto dan menyerngit bingung.
"Dokter Kabuto tadi bilang padaku, bahwa sebenarnya Sasuke itu sewaktu dibawa kemari tak terluka apapun. Hanya bercak darah saja yang tertinggal di bajunya. Juga kau kehilangan banyak darah. Itu lah yang membuat keadaanmu terlihat sangat parah."
"Bagaimana bisa… Sasuke, bukankah kau bilang perutmu ditusuk oleh seorang preman yang mencoba merampas dompetmu?" tanya Naruto.
"Ya, memang benar perutku ditusuk oleh preman itu. Tapi, bagaimana bisa aku tak terluka?"
Naruto menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri tanda tak mengerti. "Benar-benar ganjal," ucapnya.
"Ya, sudahlah. Yang penting Sasuke baik-baik saja. Dan pelakunya sudah tertangkap," ucap Itachi.
"Apa gadis itu yang menyembuhkan ku. Tapi, apa benar gadis itu seorang malaikat?" gumam Sasuke.
"Apa? Malaikat kau bilang?" tanya Naruto dan mendekatkan telinganya pada Sasuke.
"Eh… tidak... tidak… bukan apa-apa," ucap Sasuke gelagapan. Karena Sasuke belum siap menceritakan hal yang dilihatnya pada orang lain. Termasuk sahabatnya dan juga kakaknya. Bisa dikira gila Sasuke jika dia mengatakan dia melihat seorang malaikat.
"Sepertinya aku harus menyelidikinya," batin Itachi
"Gadis itu mempunyai sepasang sayap indah dipunggungnya. Dia memang benar-benar seorang malaikat. Juga sebuah liontin yang indah," pikir Sasuke.
"Liontin… benar. Aku harus mencari seorang gadis yang memakai liontin yang sama dengan yang gadis itu pakai. Akan kumulai pencarian dari sana," pikir Sasuke lagi dan tersenyum.
##My Lovely Angel##
Seorang gadis cantik berambut indigo panjang, terbaring di atas tempat tidur empuk. Di samping gadis itu terdapat dua sosok yang tengah memperhatikan gadis itu dengan wajah cemas. Pria beambut coklat panjang tak henti-hentinya menggumamkan nama gadis itu. Dan juga kakinya tak mau diam, dia terus berjalan bolak-bailk di dalam kamarnya sendiri.
"Ngg," gumam gadis cantik tadi sambil mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. "Apa yang terjadi denganku?"
"Kau tadi pingsan," beri tahu Sakura dan menggeser posisinya kesamping untuk memberi ruang bagi Neji.
"Hinata, kau tak apa-apa?"
"Kakak… tenang saja. Aku tak apa-apa," jawab Hinata dan terseyum. Lalu, mencoba bangun dari tidurnya dan duduk. Memandang wajah Neji dan seorang gadis dengan tatapan bingung.
Lalu, Hinata mengulurkan sebelah tangannya kehadapan Sakura sambil tersenyum ramah. "Perkenalakan… aku adik Neji. Namaku Hyuuga Hinata. Kau bisa panggil aku Hinata saja. Lalu, kau siapa?" tanyannya.
"Err… namaku… Sakura… Haruno Sakura," jawab Sakura sambil terseyum dan menjabat tangan Hinata.
"Dia sakit parah," batin Sakura ketika sudah melepaskan jabatannya dengan Hinata.
"Maaf… aku tak ingin berpikiran negative dulu kepadamu. Tapi, kenapa Sakura bisa ada di sini… kamar kakakku?" tanya Hinata.
"Aku hampir manabrakanya sewaktu perjalanan pulang, Hinata. Dan dia tiba-tiba saja tak sadarkan diri. Lalu, aku membawanya kerumah kita, kekamarku. Aku tak memberitahumu karena waktu itu sudah malam dan kau sudah tidur. Aku tak mau membangunkanmu," jelas Neji panjang lebar.
"Benarkah begitu?" tanya Hinata sambil memandang wajah Sakura dengan menyesal.
"Uhm… begitulah."
"Maaf 'kan kakakku," ucap Hinata dan langsung memeluk tubuh Sakura. Sakura membalas pelukan Hinata dengan sedikit kikuk.
"Tak apa."
"Lalu, setelah ini kau akan tinggal dimana? Bagaimana kalau tinggal dengan kami saja? Apa kau mau?" tanya Hinata bertubi-tubi.
"Tentu saja… dengan senang hati."
Kadua Hyuuga itu tersenyum senang.
"Mulai saat ini aku akan memulai hidup baru bersama Hinata dan Neji. Sebuah keluarga yang baru," batin Sakura senang.
-
-
Seorang gadis cantik berambut merah yang diikat tinggi kebelakang nampak berjalan dengan santainya di koridor rumah sakit Konoha. Sebuah keranjang yang penuh dengan buah-buahan berada di kedua tangannya yang dia dekap di dadanya. Kaki jenjang yang terbalut stocking hitam melebihi lutut itu berhenti tepat di meja resepsionis. Sebuah senyuman yang ramah terlukis dibibi mungilnya.
"Ada yang bisa Saya bantu, nona?"
"Aku ingin menjenguk seseorang. Kemarin malam aku yang mengantarkannya kemari. Dimana letak kamarnya?"
"Ah, pasien itu… letak kamarnya di lantai 3 No. 125. Dari sini nona tinggal lurus saja, lalu naik elevator."
"Terima kasih, Nona Shizune," ucap gadis itu setelah melemparkan senyumannya dan melambaikan tangannya yang bebas dari keranjang buah-buahan.
"Gadis yang sopan," ucap salah seorang resepsionis itu dan tersenyum menatap punggung gadis itu yang sudah berjalan jauh.
"Ah, ini dia elevatornya," gumam gadis berambut merah itu dan menekan tombol menuju ketas.
Mata ruby yang terhalang kaca mata itu menegedarkan pandangannya keseluruh penjuru rumah sakit. "Benar-benar rumah sakit elit," ucapnya.
Ting… Ting…
Gadis itu masuk kedalam elevator yang sudah terbuka. Tak menyadari seorang laki-laki yang akan dijenguknya keluar dari elevator yang satunya lagi dengan kursi roda yang didorong oleh seorang pria berambut kuning spike. Gadis itu terus menunduk kebawah kakinya. Tapi, sang pria itu melihatnya dan mengenali liontin yang dipakainya. Namun, pintu elevator itu menutup sebelum sang pria itu akan memanggilnya.
"Gadis itu," batin Sasuke,"tak mungkin dia."
"Nah, kita ketaman saja," ucap Naruto dan mendorong kursi roda yang diduduki Sasuke.
"Tidak… kita kembali kekamar saja," ucap Sasuke.
"Eh… kenapa?"
"Taka apa… aku hanya ingin istirahat saja."
"Oh, ok."
"Mudah-mudahan masih sempat. Jika memang itu adalah gadis yang telah menolongku. Aku harus berhasil menemuinya," batin Sasuke.
-
-
Gadis berambut merah itu memandang kesekeliling. Mencari letak kamar pemuda yang kemarin malam dia tolong. Ketika dia sudah menemukannya dia tersenyum sumringah. Dengan canggung dia mendekati pintu itu dan berdiri di sana. "Permisi… apa Saya boleh masuk?" tanyanya setelah mengetuk pintu yang bertuliskan No. 125 berkali-kali. Namun, tak ada jawaban. Akhirnya gadis itu membuka pintu dan melenggang masuk.
Ceklek…
Tak ada orang sama sekali di dalam kamar itu. Gadis itu sedikit kecewa. Dan dia mendengar pintu kamar itu di buka oleh seseorang dari luar. Kemudian dia membalikkan tubuhnya menghadap pintu itu.
"Sedang apa nona disini? Apa ingin menjenguk pasien di kamar ini?" tanya orang itu yang adalah seorang suster.
"Ah, benar… tapi dia tak ada."
"Aku meliatnya keluar dengan temannya. Sepertinya dia pergi ketaman rumah sakit ini."
"Begitu… ya, sudah. Kutaruh di sini saja buahnya. Tolong titip salam untukku buatnya," ucap gadis itu.
"Baik nona."
Gadis itu segera saja keluar dari kamar itu sesudah meletakan keranjang buahnya di atas tempat tidur. Dan melemparkan sebuah senyuman pada suster itu. Langkah kakinya terdengar menggema di koridor rumah sakit yang sedang sepi itu. Dia tiba di depan elevator, menekan tombol kebawah.
Ting... Ting…
Kedua elevator yang posisinya bersebelahan itu terbuka bersamaan. Gadis itu kembali masuk kelevator kosong itu. Dan di saat bersamaan Sasuke dan Naruto keluar dari elevator yang satunya lagi. Benar-benar. Takdir itu tak mempertemukan keduanya dalam waktu dekat.
"Baiklah… silahkan istirahat, Sasuke," ucap Naruto dan membuka pintu kamar inap Sasuke. Dia di kagetkan dengan seorang suster yang sedang berdiri membelakanginya. Suster itu sedang merapikan tempat tidur.
"Huufftt… suster membuat Saya terkejut. Aku kira hantu," ucap Naruto dan mengelus dada lega.
Sasuke terseyum tipis. "Apa ada orang yang menjengukku, suster?" tanyanya.
"Ya, ada. Seorang gadis cantik yang waktu itu membawa Anda kerumah sakit."
"Seorang gadis? Seperti apa wajahnya?" tanya Sasuke.
"Ngg, gadis itu memiliki tubuh ramping dan berkulit putih. Rambutnya berwarna merah dan dia juga memakai sebuah kacamata," jelas suster itu mengingat-ngingat. "Dan dia juga titip salam untuk Anda."
"Siapa nama gadis itu?"
"Ah, maaf. Saya lupa menanyakannya tadi," ucap suster itu dan beranjak pergi setelah berpamitan dengan Sasuke dan Naruto.
"Sepertinya kita tak akan bertemu dalam waktu dekat," batin Sasuke dan tersenyum miris.
Bersambung…
Horeeee…*loncat2 kegirangan*akhirnya bisa update chap dua fic nie…senangnya...
Dan terima kasih atas reviews dari readers semua yang membuat Saya menjadi bersemangat untuk meneruskan fic ini.
Ok, mari balas review terlebih dahulu…
Dimulai dari…
_Sora Chand :
Nie dah q update…review lg yach…Sora-san^^
_Kaori a.k.a Yama :
Salam kenal juga Kaori-san.
Ceritanya mirip putri duyung?? O.o
Hanya perasaan Kaori-san z kali*digetok*
Tp, kalu memang benar mirip… Saya dan teman Saya Rara tak sadar kalu ceritanya sama… jadi kami mohon maaf… Tapi, pasti cerita yang kami buat berbeda dengan cerita Putri Duyung…
Dan tebakan Kaori-san tepat…wanita berambut merah itu adalah Karin, Dan soal masalah Sasuke dah da penjelasannya kan?
Lalu, cowo yg berambut cklat itu…benar2 Neji…pacar ketiga Saya sesudah Sasuke dan Gaara*dikeroyok rame2*…
Dan nie dah diupdate secepat mungkin…
Review lg yach…*peluk2 Kaori-san*
_Intan SasuSaku :
Wah…sampai deg-degan pengen liat chap selanjutnya*mata berbinar2*
Nie dah q Update… review lg yach…^^
_Naru-mania :
Yang rambut coklat itu, Neji…dan nie dah q update…review lg yach…^^
_Uchiha Evans :
APPAAA…KEREN??
Makasih…*peluk2 Uchiha-san dari jauh*
Yup, cewe rambut merah itu Karin…dan nie dah q update…review lg yach…^^
_Beby-chan :
Hy juga…^^
Ya, Sasuke salah orang…
Review lg yach…^^
_Uchiha Nii-chan :
Yup, cewe berambut merah itu adalah Karin
Dan cowo berambut ckolat itu Neji…
Aneh ngebayangin malaikat rambutnya pink??
*q juga ngebayanginnya aneh-dishannaroo*
Dan nie dah q update…review lg yach…
_Kinay Saku-chan :
Saku-chan*lari langsung meluk Saku-chan*…lama tak ada kabarnya…q sms kenapa tak dibalas*ngacungin pisau-diacungin balik*
Makasih dah dibilang suka…Fav? Boleh banget…
Dan nie dah q update…review lg yach…^^
_Chika Stadfelt :
Arigato…atas pujiannya…
Review lg yach…^^
_Kirei Yuki Hana :
Tak apa telat juga…
Dan makasih atas koreksinya… bnar2 membantu…
_Hikari 'Sakura' Sakuragi :
Yup, Sasuke salah paham… dan benar cewe itu Karin…
Dan nie dah q update…review lg yach…
Hufft…balas review sudah…
Dan selanjutnya Saya mewakili Rara*yg mencetuskan ide fic nie*berterima kasih atas reviews dr readers semua… kami berdua jd lebih semangat untuk melanjutkan fic nie…*ber-ojigi*
Akhir kata…
R
E
V
I
E
W
S
Salam manis…Miko-chan & Rara…
