Hy… Saya kembali buat update fic nie… pasti readers semua dah nungguin kan??*digetok rame-rame*
Yosh… langsung saja…happy reading Minna-san…^^
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Fantasy/Romance/Hurt/Comfort/Mistery*borong semua*
Rated : T
##My Lovely Angel##
Seorang gadis berambut indigo pendek bersenandung riang di dalam sebuah kamar. Sebuah kamar dengan nuansa elegan. Cat dindingnya yang di lapisi dengan warna biru kehijauan tampak sedikit berkilauan, karena diterpa sinar matahari yang menerobos masuk melalui jendela kamar yang sengaja di buka. Keadaan kamar itu agak sedikit berantakan dan berdebu. Oleh karena itu, kini gadis bermabut indigo ini sedang membersihkannya. Sebuah sapu dan alat pel bersender di dekat pintu masuk ruangan itu. Di sebelah kanan bahu gadis itu tersampir sebuah lap.
Dan kini kedua tangan mungilnya sedang merapikan tempat tidur. Di mulai dari mengganti seprei tempat tidur itu dengan motif kelopak bunga sakura. Memakaikan sarung bantal dan juga mengganti sebuah tirai yang menggantung tepat di langit-langit tempat tidur itu yang berfungsi sebagai kelambu.
Hal itu merupakan pekerjaan terakhirnya. Dan gadis itu dengan sebuah senyuman mengembang di bibir mungilnya berjalan mendekati jendela, yang langsung berhubungan dengan balkon kamar yang terbuat dari kayu berplitur coklat. Di sudut kanan balkon itu terdapat sebuah meja dan juga dua buah kursi kecil. Sinar matahari hangat menerpa kulit gadis itu yang sangat pucat tak kala dia mulai mendekati pagar pembatas di balkon kamar. Kedua tangannya menggenggam pagar pembatas balkon yang terbuat dari kayu. Kedua mata lavender milik gadis itu mulai terpejam. Dan gadis itu mulai menarik nafas dalam-dalam, berusaha menghirup aroma udara sejuk pagi hari. Sebuah senyuman masih betah terlukis di bibirnya yang sedikit pucat.
Setelah beberapa menit berlangsung kedua matanya kembali terbuka. Memandang langit dari balkon kamar itu. Awan berarak dengan pelan dan juga lembut tak kala terbawa oleh angin pagi. Hari ini merupakan hari yang sangat cerah dari biasanya. Banyak kawanan burung yang terbang kesana kemari seperti sedang bermain dengan teman-temannya. Dan setelahnya anak burung itu kembali ketempat induknya berada. Bercicit ria seperti tak ada beban dan tak memikirkan apakah esok pagi akan masih dapat melihat sinar sang mentari pagi atau tidak.
Hinata tersenyum miris dan kedua mata lavendernya terlihat sayu. Redup. Seperti tak ada harapan lagi. Putus asa. Hinata sangat merasa putus asa dengan hidupnya yang hanya bergantung dengan obat. 'Sesungguhnya apakah obat ini menyembuhkan atau hanya memperpanjang umurnya saja'. Pikiran itu lah yang ada di benak Hinata sekarang.
Lamunanya tersadar tak kala dia merasakan sentuhan lembut di bahu kanannya. Hinata berbalik mengahadap orang itu. Seorang gadis bermata emerald tengah tersenyum kearahnya. Wajahnya terliat sangat ceria. Dan kini dia tidak lagi memakai baju berwarna putih pendek dan transparan. Melainkan sebuah dress selutut berwarna merah hati kepunyaan Hinata yang tadi di pinjamkannya pada Sakura.
"Sakura," ucap Hinata,"ada apa?"
"Aku ingin membantumu membersihkan kamar yang akan menjadi kamarku."
Hinata tersenyum kecil mendengar penuturan Sakura dan menggelengkan kepalanya. Sehingga anak rambutnya sedikit terbawa ke kanan dan kekiri mengikuti gerakan kepalanya. "Tidak usah… aku sudah selesai membersihkannya," jawabnya.
"Heeehh… sudah selesai? Padahal aku ingin membantumu membereskannya."
Hinata terkikik geli dan kemudian menggandeng lembut tangan kanan Sakura. Membawanya meninggalkan balkon kamar dan menarik lembut tangan kanan Sakura kembali ke dalam kamar.
"Lihatlah..! Apa kau suka dengan tatanan kamarmu ini, Sakura. Semua ini aku yang memilihkannya untukmu. Di mulai dari motif seprei itu dan juga gorden jendelanya," ucap Hinata dan tersenyum ceria pada Sakura.
Sakura tak dapat lagi menahan senyumannya. "Aku suka sekali… sangat suka."
"Sudah kuduga kau akan menyukainya," ucap Hinata.
Kemudian Hinata mulai berjalan mendekati sebuah lemari yang bersatu dengan dinding itu. di bukanya kedua pintu lemari itu. Kosong. Tentu saja karena belum ada barang atau pakaian apapun yang tergantung rapi di sana. Kerena Sakura memang tak membawa barang ataupun pakaian bersamanya. Yang di bawanya hanyalah baju tipis yang melekat di tubuhnya tersebut.
Hinata kembali tersenyum pada Sakura. "Nanti juga pasti akan terisi dengan barang-barangmu, Sakura. dan sekarang saatnya kita untuk…"
Hinata menggantung ucapannya membuat Sakura menyerngit heran dan menaikan sebelah alis merah mudanya. "Saatnya kita untuk…" Sakura mengulang ucapan Hinata.
"Berbelanja keperluanmu," ucap Hinata dan menyeret kembali Sakura dengan menarik kedua tangannya keluar kamar itu. Yang di seret hanya membulatkan kedua matanya dan memandang heran pada Hinata.
"Apakah semua manusia sebaik Hinata dan Neji?" batin Sakura dan berpikir keras.
Hinata berajalan sedikit dengan tergesa-gesa di koridor rumahnya yang sangat luas itu. Di kedua sisi dindingnya yang bercat biru keunguan terpajang berbagai macam lukisan pelukis terkenal. Dan meja kayu kecil yang di atasnya terdapat pot bunga dan juga photo keluarga. Lantainya terlapisi dengan karpet berwarna merah kecoklatan. Langkah kecil yang berasal dari kedua kaki Sakura dan Hinata sedikit menggema dan memantulkan suranya ke dinding-dinding. Dengan sebelah tangannya yang masih menggenggam tangan kanan Sakura. Sebuah senyuman tak pernah lepas dari bibir mungilnya yang pucat itu.
"Kita akan pergi dengan di antar oleh Kak Neji," ucap Hinata setelahnya pada saat menuruni anak tangga ke lantai satu.
"Hinata apa kau dan Neji tak terganggu dengan kehadiranku yang tiba-tiba di rumah kalian?" tanya Sakura dan mengehentikan langkahnya dan menatap punggung Hinata yang berada di depannya. Kedua tangan mereka yang masih bertautan tak ayal membuat Hinata juga menghentikan langkahnya. Hinata dengan perlahan membalikkan tubuhnya menghadap Sakura. Kepalanya sedikit mendongak menatap Sakura yang berada selisih dua anak tangga dari tempat mereka berdiri.
Hinata tersenyum lembut dan mempererat genggaman tangannya pada tangan Sakura. "Aku sangat kesepian di rumah ini sendiri jika aku sudah pulang sekolah. Kak Neji setelah pulang sekolah denganku selalu pergi ke perusahan peninggalan ayahku untuk memperdalam ilmu bisnisnya demi menjalankan perusahaan itu kelak. Dan aku sangat, sangat bersyukur kau hadir di antara kami berdua, Sakura," ucapnya panjang lebar.
"Sehingga aku tak akan kesepian lagi nantinya. Sudahlah… sebaiknya ayo kita cepat-cepat..! Kak Neji sudah menunggu kita di bawah," ucap Hinata dan membalikkan tubuhnya kembali. Segera berjalan di ikuti Sakura di belakangnya.
"Terima kasih karena sudah mau menerimaku di sini, Hinata. Aku pasti akan membalas kebaikanmu dengan cara apapun," batin Sakura dan tersenyum tipis.
##My Lovely Angel##
Udara pagi yang sejuk dan juga menyegarkan memang sangat cocok untuk pergi jalan-jalan dan sekedar untuk cuci mata. Hembusan angin yang lembut menerpa setiap kulit insan yang berada di bumi. Tak beda dengan kehadiran seorang gadis cantik di sebuah taman yang luas dan juga indah. Kedua mata gadis itu terpejam, sehingga semakin terlihat saja kedua bulu matanya yang lentik. Sebuah senyuman tipis terlukis di bibirnya yang terolesi pelembab bibir. Rambut merah panjangnya yang di kuncir tinggi ke belakang, melambai-lambai terbawa angin pagi.
Gadis itu duduk di sebuah bangku taman. Taman itu begitu luas namun terawat dengan baik. Dan di hari yang masih pagi ini masih ada satu atau dua orang petugas kebersihan di taman itu. Menyapu atau menata sebuah taman bunga yang sudah waktunya bermekaran. Sebuah taman bunga yang terletak tepat di tengah-tengahnya di tumbuhi berbagai macam bunga. Bunga mawar, ungu, kuning, merah, pink. Juga bunga lili putih yang terlihat sangat cantik ketika tersinari sinar matahari.
Drtt…drtt…
Sebuah getaran di dalam tas kecilnya yang berada di pangkuannya berhasil membuatnya tersadar, dan membuka kedua kelopak matanya. Mengambil telepon genggam itu dari dalam tas dan menempelkannya di telinga kanannya setelah menekan tombol hijau.
"Hallo, ada apa kau meneleponku, Matsuri?"
"Kau ada di mana? Temani aku berbelanja yach..!" ucap sebuah suara di sebrang telepon.
"Aku sedang berada di taman. Baiklah… akan aku temani. Di mall mana?"
"Di mall Konoha. Aku tunggu yach, Karin."
"Ya."
Gadis yang di panggil Karin itu segera memasukkan kembali telepon genggamnya ke dalam tas. Sedetik kemudian dia bangkit dari duduk santainya. Merapikan rok mininya sedikit dan baju atasan kemeja berlengan pendek yang berwarna hitam juga. Juga sedikit merapikan poni depannya yang berantakan karena di terpa angin.
Setelahnya kaki jenjangnya yang juga terbalut stocking hitam melebihi lutut, sebatas paha mulai meninggalkan taman yang luas itu. Tersenyum sedikit pada petugas kebersihan di taman itu yang kebetulan menyapa dirinya. Karena petugas kebersihan itu maupun Karin sudah cukup akrab. Sebab, kehadiran Karin di taman itu yang hampir setiap hari membuat petugas itu sedikit banyak mengetahui tentang Karin.
"Taksi..!"
Gadis itu sedikit berteriak untuk memanggil sebuah taksi yang berlalu lalang di jalanan yang sudah mulai sibuk itu. Gadis itu segera menaiki sebuah mobil taksi yang berhenti tepat di hadapannya.
"Mall Konoha," ucap Karin.
Supir taksi itu sedikit tersenyum di balik kursi kemudinya. "Baik, nona," ucapnya dan mulai menancap gas.
##My Lovely Angel##
Seorang gadis bermata emerald memandang sedikit rindu pada langit cerah di atasnya dari dalam kaca mobil. Anak rambut merah mudanya melambai-lambai terbawa angin. Wajahnya sedikit muram. Seorang gadis bermata lavender yang yang duduk tepat di sampingnya menyentuh pelan bahu kirinya.
"Apa kau tidak senang ku ajak membeli keperluanmu, Sakura?" tanya Hinata.
Sakura terkesiap dan segera memasang wajah ceria kembali. "Tidak… aku sangat senang sekali," jawabnya.
Hinata tersenyum polos pada Sakura. Dan dia mengalihkan pandangannya pada seseorang yang sedang menyetir didepan. "Kak Neji kita pergi mall Konoha saja," ucapnya sambil tersenyum.
"Hn," jawab Neji. Sekilas kedua mata lavendernya memperhatikan wajah Hinata yang tengah tersenyum pada Sakura. Sungguh wajah yang sangat ingin dilihat Neji. Wajah yang terlihat sangat ceria dan juga tertawa lepas saat Hinata berbicara dengan Sakura. Wajah bahagia Hinata yang telah lama hilang kini mulai kembali lagi. Didalam hati, Neji sangat bersyukur dengan takdirnya yang bertemu dengan Sakura. Sebuah takdir manis yang telah membuat adik kesayangannya kembali 'hidup'. Tak bisa di sembunyikan lagi kini di bibir tipis Neji terlukis sebuah senyuman tak kala dia memandang wajah Sakura yang parasnya begitu cantik lewat kaca mobilnya.
"Sakura, ceritakan tentang kota asalmu..!" ucap Neji membuka pembicaraan namun cepat-cepat dia menambahkan. "Hanya ingin tahu saja."
Sakura mendadak lidahnya terasa kelu dan bibirnya yang berwarna merah muda menutup dan kembali terbuka. Seperti akan menjelaskan sesuatu namun susah atau sangat sulit di ucapkan. Atau mungkin Sakura sedang mencari jawaban untuk pertanyaan Neji yang masuk akal dalam pemikiran manusia. Kedua bola mata emeraldnya bergerak kekanan dan kekiri. Sakura sangat gelisah. Bukan saat yang tepat untuk menjelaskan dari mana asal Sakura sebenarnya. Akhirnya Sakura hanya menundukan kepalanya dan berkata dengan sangat pelan.
"Maaf… aku tak bisa menjelaskan dari mana asalku pada kalian saat ini," ucap Sakura nyaris berbisik. Namun, ternyata masih dapat tertangkap oleh pendengaran Hinata bahkan Neji.
"Tak apa Sakura… kami tak terlalu begitu peduli dari mana asalmu. Kalau kau ingin menceritakannya pun tak perlu sekarang, kapan pun kau siap," ucap Hinata dan memegang bahu kiri Sakura dengan tangan kanannya.
"Terima kasih, Hinata," jawab Sakura.
"Hn," timpal Neji.
Dan akhirnya ketiga orang yang berada didalam mobil itu pun kembali terdiam. Mobil Neji berhenti sementara di lampu merah. Dan Sakura yang sudah kembali memandang keluar jendela melihat sesuatu yang sangat pamiliar di matanya. Tepat disamping mobil Neji ada sebuah taksi yang di dalamnya ada penumpang seorang gadis berambut merah. Sakura memicingkan kedua mata emeraldnya pada sosok gadis itu atau lebih tepatnya kebagian lehernya. Di leher gadis berambut merah itu melilit sebuah lontin yang tak asing bagi Sakura. Namun, Sakura hanya diam saja dan memperhatikannya. Sampai mobil Neji dan mobil taksi itu berjalan kembali, bersebrangan. Tapi, ketika hendak Sakura akan memanggil gadis itu suara Hinata berhasil membuat Sakura mengalihkan perhatiannya pada Hinata.
"Kita akan berbelanja banyak baju hari ini. Kau pasti akan sangat senang nanti," ucap Hinata.
"Ya," jawab Sakura dan setelahnya mengalihkan kembali pandangannya keluar jendela. Mencari-cari sosok gadsi itu di dalam mobil taksi. Tapi, percuma… mobil taksi yang di naiki gadis itu sudah melaju jauh di depan mobil Neji. Sakua hanya menghela nafas berat.
"Haaahh… liontin yang di pakai gadis itu seperti liontin punyaku yang hilang saat aku menolong pemuda itu," batin Sakura.
"Mungkin bukan… hanya mirip saja," batin Sakura kedua kalinya.
##My Lovely Angel##
Seorang pemuda tampan bermata onyx tengah terduduk tenang di atas tempat tidurnya. Kedua matanya menatap keluar jendela yang sengaja di bukakan oleh kakaknya. Sebuah senyuman terlukis di bibir tipisnya, pikirannya melayang kemana-mana. Ke waktu pada saat dia sedang sekarat dan ditolong oleh seseorang. Seseorang mungkin tidak tepat, karena yang menolongnya bukanlah manusia sama seperti dirinya. Malaikat. Ya, orang yang telah menolongnya adalah seorang malaikat yang senyumannya sungguh menawan. Mampu menyihir siapapun yang sudah melihatnya. Termasuk dirinya sendiri.
Namun, sedetik kemudian wajah pemuda itu di tekuk dan kedua mata onyxnya tampak sedikit layu. Pikirannya kembali teringat dengan wajah dari sang malaikat penolongnya yang tak dapat dilihatnya dengan jelas. Penerangan dan kesadarannya dirinya saat itu benar-benar buruk. Yang hanya dia ingat adalah senyuman malaikat itu dan sebuah… liontin yang sangat cantik dan juga indah.
Tetapi, dia teringat dengan perkataan suster yang membersihkan kamarnya selang beberapa jam yang lalu. Seseorang yang sudah menolongnya datang ke rumah sakit ini, kekamarnya untuk menemuinya. Seketika wajahnya kembali ceria tak kala ciri-ciri orang itu yang di sebutkan oleh suster. Seorang gadis berambut merah dan memakai kacamata. Dia tak memikirkan kenapa malaikat itu tak kembali ke asalnya, langit mungkin. Atau juga kenapa malaikat itu membuat dirinya bagian dari manusia bumi. Dan atau juga bagaimana caranya menyembunyikan sayapnya yang besar dan juga lembut itu di punggunggnya. Pemuda bermata onyx itu tak peduli. Yang dia pedulikan sekarang adalah dia ingin bertemu dengan malaikat itu. Pemuda itu hanya ingin mencari sang malaikat dengan informasi yang dia dapatkan walaupun hanya sedikit saja. Dan mungkin akan sangat sulit untuk mencarinya. Karena seorang gadis yang memiliki ciri-ciri berambut merah dan juga memakai kacamata itu mungkin jumlahnya puluhan, ratusan bahkan jutaan orang yang memiliki ciri-ciri seperti itu. Namun, pemuda itu sudah bertekad untuk mencarinya.
Tak bisa di cegah lagi kini pemuda itu tersenyum dengan lebarnya. Bahkan seseorang yang masuk kekamarnya dari tadi, dia tak menyadarinya. Pemuda itu terlalu larut dengan pemikirannya. Dan sekarang orang yang masuk kemarnya dari tadi dan memeperhatikannya tepat di sampingnya nyengir lebar. Seakan melihat pemandangan yang langka seorang Uchiha Sasuke tersenyum dengan saat lebarnya. Sendirian lagi senyum-senyum lebarnya. Seperti bukan Uchiha sekali. Setidaknya menurut pemikiran pemuda berambut kuning tersebut.
"Ada hal apa yang membuat seorang Uchiha Sasuke tersenyum dengan lebarnya? Ckckckck… bukan Sasuke sekali," ucap pemuda berambut kuning spike.
Seketika Sasuke terkesiap dan segera mengalihkan pandangannya ke asal suara. Keterkejutan terpeta jelas di wajah tampannya. Dan jangan lupa kini wajahnya memera seperti tomat. Buah kesukaannya.
"Na… Naruto… se… sejak kapan kau ada di sini?" tanya Sasuke.
"Sejak tadi, dan apakah kau akan cerita hal apa yang membuatmu tersenyum dengan lebarnya barusan?"
"I… itu… bukan urusanmu… sudahlah lupakan saja..! Dan jangan cerita pada siapapun mengenai kejadian tadi," ancam Sasuke dengan deathglare yang sangan mematikan. Dan kali ini sangat mempan membuat Naruto dengan susuh payahnya menelan ludah dan juga mengeluarkan keringat dingin.
"A… aku mengerti," jawab Naruto.
"Tadi itu… mata Sasuke menakutkan sekali… apakah deathglare miliknya bertambah kuat yach..?" batin Naruto.
Krieett…
Suara pintu yang di buka membuat kedua kepala yang ada di dalam kamar itu menengokkan kepalanya secara bersamaan. Dan dari arah pintu masuk terlihatlah kepala yang menyembul dengan warna rambut hitam dan juga mata onyx seperti Sasuke.
"Sai..!" pekik Sasuke dan Naruto bersamaan. Sai tersenyum lebar sampai-sampai kedua matanya tak terlihat. Yang terlihat hanyalah kedua garis hitam matanyanya saja. Di sebelah tangan kiri pemuda itu menjinjing keranjang buah.
"Kau tahu dari mana kalau aku sedang di rawat di sini, Sai?" tanya Sasuke.
"Aku tahu dari Naruto," jawab Sai dan masuk kedalam kamar rawat Sasuke setelahnya menutup pintunya.
Pemuda berkulit pucat itu melangkahkan kakinya mendekati meja kecil di samping tempat tidur Sasuke. Menaruh keranjang berisi buah-buahan itu di atas meja. Dan dengan santainya duduk di tepi tempat tidur Sasuke dan menepuk-nepuk pelan kaki Sasuke yang terbungkus selimut rumah sakit yang berwarna putih.
"Bagaimana keadaanmu, Sasuke? Ku dengar kau di tusuk oleh preman yang akan merampas dompetmu, benarkah?" tanya Sai.
"Keadaanku baik… dan… ya, aku di tusuk oleh preman yang mencoba merampas dompetku" jawab Sasuke.
"Sasuke hari ini juga sudah di bolehkan untuk pulang," ucap seseorang di ambang pintu sambil tersenyum ramah.
"Oh, kalau begitu aku akan membantu kalian mengemasi barang-ba…"
"Tak perlu… karena tak ada yang perlu di bawa dari kamar ini," ucap Itachi cepat memotong perkataan Sai.
"Begitu… ya, sudah… kalau begitu aku ikut mengantar Sasuke ke rumahnya saja," ucap Sai kemudian.
"Baiklah, Sasuke cepat ganti pakaianmu dengan ini..!" perintah Itachi sambil menyerahkan dua potongan pakaian pada Sasuke. Celana jens panjang berwarna hitam dan atasan kaos berlengan panjang berwarna hitam juga. Jadi semuanya serba hitam, warna favorite Sasuke.
"Kita tunggu di lobi. Naruto, Sai, ayo..!" ucap Itachi.
Akhirnya Itachi, Naruto dan Sai meninggalkan Sasuke sendiri di dalam kamar itu. Setelahnya Sasuke bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah kamar mandi. Berniat mengganti pakaiannya di sana. Sekitar sepuluh menit berlalu Sasuke keluar dan langsung menuju lantai bawah, lobi rumah sakit.
Lobi rumah sakit itu sangat luas. Sebuah sofa yang terliat sangat mahal dan juga elegan terletak di kedua sisi, kanan dan kiri. Juga sebuah meja yang terbuat dari kayu dengan ukiran yang sangat unik dan juga antik. Banyak lukisan-lukisan yang terpajang di dinding lobi tersebut, juga sebuah guci besar yang di isi dengan tanaman bahkan bunga yang sangat cantik dan juga terlihat segar di sudut-sudut ruangannya. Lantainya sangat bersih sampai kita bisa melihat bayangan diri kita sendiri. Dan dari sudut kanan, di samping meja resepsionis terdapat dua elevator menuju lantai atas. Dan salah satu dari pintu elevator itu terbuka. Menampakkan sesosok pemuda berwajah tampan berkulit putih. Kedua tangannya dia tenggelamkan di dalam saku celana depannya. Berjalan santai mendekati Itachi, Naruto dan Sai yang sedang duduk di salah satu sofa di sana. Tersenyum tipis dan juga singkat ketika sang penjaga resepsionis menyapanya dengan melemparkan sebuah senyuman.
"Kak, ayo berangkat..!" ucap Sasuke setalah berada tepat di hadapan Itachi.
"Ok."
Dan akhirnya semuanya keluar dari rumah sakit megah itu dan menuju ke mobilnya masing-masing. Sai menuju ke mobil Porsche merahnya. Sedangkan Naruto dengan motor Yamaha kuningnya. Dan Sasuke juga Itachi memasuki mobil Volvo hitamnya. Segera saja ketiga kendaraan beroda dua dan empat itu telah meninggalkan tempat parkir rumah sakit itu.
Di dalam mobil Itachi
"Sasuke, aku akan mampir ke mall Konoha terlebih dahulu untuk membeli persediaan makanan di rumah kita. Kau tidak keberatan 'kan?" tanya Itachi dan melirik Sasuke yang berada tepat di sampingnya dengan ekor matanya.
"Hn. Tidak keberatan sama sekali," jawab Sasuke.
"Ok."
Segera saja Itachi membelokkan stirnya kea rah menuju mall Konoha. Dan tak ayal membuat Naruto dan Sai yang mengikutinya dari belakang menyerngit heran. Namun, di ikutinya juga arah mobil Itachi oleh keduanya.
##My Lovely Angel##
Seorang gadis cantik berambut indigo pendek dengan cekatan memilih-milih potongan pakaian yang bermacam-macam warna dan gaya. Sudah ada 5 potongan pakaian di tangan kanannya. Namun, dia masih memilih-milih potongan pakaian lain dengan tangan kirinya. Yang terakhir dia mengambil sebuah dress berwarna merah muda dengan perpaduan warna putih di bagian perutnya dengan model mengekerut dan juga sebuah hiasan bunga mawar merah muda di bagian dada kiri. Dress dengan tanpa lengan itu, maksudnya sebatas dada terlihat sangat cantik dan juga lucu. Dengan panjang kira-kira 10 cm di atas lutut. Gadis berambut indigo itu tersenyum puas dengan semua pilihan bajunya.
Segera saja dia mengahampiri sosok seorang gadis bermata emerald yang tengah berbincang-bicang kecil dengan kakaknya, Neji.
"Sakura… aku sudah memilihkan beberapa potongan pakaian untukmu. Ayo..! Di coba," ucap Hinata dan menarik tangan Sakura. Agar mengkutinya ke ruang ganti. Yang di seret hanya pasrah dan tersenyum maklum. Neji yang juga meliat perlakuan Hinata pada Sakura dan sebaliknya tersenyum tipis. Dia mengikuti arah kemana Hinata pergi. Ingin melihat potongan pakaian apa yang di pilihkan Hinata untuk Sakura. Karena Hinata orangnya pandai dalam urusan pakaian mana yang cocok di pakai oleh seseorang atau tidak dengan melihat karakter orang tersebut.
"Cobalah semua baju ini..!" ucap Hinata setelah sampai di depan ruang ganti dan menyerahkan ke lima potongan pakaian pada Sakura. Dan juga mendorong punggung Sakura agar cepat-cepat masuk kedalam ruang ganti. "Cepat yach..!"
"Ya, ya, tunggu sebentar," ucap Sakura main-main dan dengan segera masuk ke dalam ruang ganti.
Sakura memperhatikan ke lima potongan pakaian di kedua tangannya. Seketika dia tersenyum lembut mengingat wajah Hinata yang berseri-seri ketika memilih pakaian untuknya, walaupun kesehatannya kurang baik.
"Andai saja liontinku tidak hilang… aku pasti bisa menyembuhkan Hinata sekarang juga. Karena liontin itu merupakan sumber kekuatanku," ucap Sakura lesu.
Sakura menghela nafas berat dan memutuskan untuk tidak memikirkannya sekarang-sekarang ini. Dia sekarang mulai menanggalkan pakaiannya dan mencoba potongan pakaian yang pertama. Rok mini sekitar 10 cm di atas lutut berwarna merah. Lalu atasan kaos polos berwarna hitam dan berompi di sekitar dadanya. Setelahnya Sakura dengan ragu-ragu keluar dari ruang ganti. Di luar wajah Hinata dan Neji sedikit memerah karena melihat penampilan Sakura yang sanagt manis.
"Apa aku pantas memakainya?" tanya Sakura sambil memainkan kedua jari telunjuknya di depan dada seperti kebiasaan Hinata jika sedang gugup atau malu.
"Pantas sekali, Sakura."
"Kau… sangat manis memakainya, Sakura," gumam Neji dengan semburat merah tipis.
"Ayo cobalah pakaian yang lainnya..!" ucap Hinata.
Sakura menganggukan kepalanya dan kembali masuk kedalam ruang ganti. Begitu hingga seterusnya sampai Sakura akan mencoba pakaian yang kelima. Dia amati potongan pakaian itu dengan seksama dan kembali tersenyum simpul.
"Cantik sekali… pilihan Hinata semuanya cantik-cantik," ucap Sakura dan mulai memakaianya. Sebuah dress berwarna merah muda dengan perpaduan warna putih di bagian perutnya dengan model mengekerut dan juga sebuah hiasan bunga mawar merah muda di bagian dada kiri. Dress dengan tanpa lengan itu, maksudnya sebatas dada terlihat sangat cantik dan juga lucu. Sakura mengamati bayangan dirinya dalam cermin.
"Seperti bukan Sakura saja…hihihi."
Dan setelahnya Sakura keluar dengan sangat anggun. Kedua mata lavender milik Hinata membulat tak percaya. Hinata tak percaya bahwa pakaian yang akan di pilihkannya akan sangat cocok sekali. Dia merasa bangga pada dirinya sendiri dengan kemampuannya dalam urusan model pakaian. Bagaimana dengan Neji? Ya. Dia juga sama. Kedua matanya membulat tak percaya dengan wajah yang sangat memerah. Dan mengucapkan dengan sangat jelas dan keras.
"Cantik sekali," ucap Neji dan setelanya wajahnya memerah bak kepiting rebus dan menutup sendiri mulutnya dengan sebelah tangannya. Sikapnya tiba-tiba saja kikuk dan hilang kendali. Neji mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa menahan kedua kata itu meluncur dari bibirnya.
Hinata dan Sakura yang melihat tingkah konyol Neji terkiki geli. Dan kemudian Sakura kembali membalikkan badannya untuk menuju ruang ganti. Dan pada saat itu juga Hinata melihat sebuah tanda aneh berwarna merah muda di punggung Sakura, sejajar dengan dada. Benda itu berbentuk seperti sepasang sayap. Hinata mengerutkan keningnya dan berfikir keras tanda apa itu. Namun, yang ada di pikirannya adalah mungkin itu tanda lahir, tato atau semacamnya. Jadi, Hinata tak jadi memperasalahkannya.
Sekarang Sakura sudah berada di dalam ruang ganti dan baru menyadari ketika hendak membuka resleting di punggungnya bahwa tanda itu dengan jelasnya terlihat. Seketika wajahnya menandakan kepanikan. Dengan susah payah dia menelan ludahnya sendiri dan menyeka keringat yang tiba-tiba saja membanjiri keningnya.
"Apa tadi Hinata ataupun Neji melihatnya? Bagaimana kalau meraka benar-benar melihatnya? Aaarrrggghhh… gawat… gawat sekali ini," ucap Sakura dan mencengkram kepalanya sendiri. Sehingga rambut merah muda panjangnya sedikit berantakan.
"Tidak… kau harus tenang, Sakura… ya, tenanglah. Bersikpalah sewajarnya," ucap Sakura kemudian dan memakai kembali pakaiannya. Setelahnya dengan langkah ragu-ragu dia mulai berjalan keluar ruang ganti.
"Ayo kita bayar semua pakaian ini," ucap Hinata dan mengambil alih lima potongan pakaian di tangan Sakura. Neji mengikuti Hinata dari belakang. Diam-diam Sakura menghela nafas lega dan mengelus-ngelus dadanya sendiri.
"Syukurlah..."
Dan segera saja Sakura berlari-lari kecil menyusul Hinata dan juga Neji dengan sebuah senyuman mengembang di bibirnya. Namun, karena ketidak hati-hatiannya Sakura hampir terpeleset dan jatuh dengan posisi kebelakang jika tak ada dua buah tangan kecil yang menarik kedua tangaanya kedepan. Menyeimbangkan tubuhnya kembali.
"Kau tidak apa-apa. Hati-hati sedikit..! Lantainya sangat licin," ucap seorang gadis cantik berambut merah dan memakai kacamata sambil tersenyum ramah.
"Ya. Terima kasih," ucap Sakura dan melihat sosok gadis itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dan kedua mata emeraldnya jatu tepat pada bagian leher gadis itu. Sebuah liontin yang sangat cantik. Dan kali ini Sakura benar-benar merasa yakin kalau itu adalah liontin miliknya. Tapi, bibirya seolah saja terasa ada yang mengelemnya sehingga dia tak dapat berbicara satu katapun untuk menanyakan liontin itu.
"Namaku Karin, kau?" tanya gadis itu sambil mengulurkan sebelah tangannya.
"Sa… Sakura," jawab Sakura akhirnya walau dengan sedikit terbata.
"Karin ayo pergi..! Kita cari sebuah restaurant. Aku lapar sekali," teriak seorang gadis berambut coklat pendek sebahu dari kejauahan.
"Ya. Tunggu sebentar, Matsuri. Ngg, kalau begitu aku pergi. Sampai jumpa lagi, Sakura," ucap Karin dan pergi setelah melemparkan sebuah senyuman ramah pada Sakura. Namun, baru beberapa langkah Karin kembali menengokkan kepalanya dan menatap Sakura dengan ekspresi wajah yang sangat sulit di tebak.
"Rasanya aku pernah bertemu dengan dirinya sebelumnya," batin Karin namun tetap saja dia melangkahkan kakinya meninggalkan jauh Sakura yang masih berdiri mematung di tempatnya berdiri.
"Sakura ayo kita pergi makan..!" ucap Hinata dan di kedua tangannya di penuhi belanjaan. Di kedua tangan Neji juga penuh dengan barang belanjaan.
"Kalian berdua pergi saja duluan..! Aku akan menaruh barang bawaan ini ke dalam mobil. Hinata serahkan barang belanjaan yang ada ditanganmu..!" ucap Neji.
"Oh, ini… kami tunggu di restaurang yang biasanya," ucap Hinata dan menggandeng tangan Sakura keluar dari butik. Meninggalkan Neji yang di kedua tangannya di penuhi dengan barang belanjaan.
"Dasar perempuan..!" geram Neji dan juga keluar dari butik itu. Pergi ke tempat parkiran di mana mobilnya berada.
##My Lovely Angel##
"Kak aku lapar sekali," ucap Sasuke di samping Itachi yang sedang memilih-milih buah tomat yang terlihat sangat segar.
"Aku masih lama, Sasuke. Begini saja… Naruto, Sai kalian temani Sasuke makan di restaurant yang biasa kita makan," ucap Itachi dan melirik Naruto dan Sai bergantian.
"Kami mengerti… ayo..! Sasuke," ucap Naruto dan berjalan memimpin di depan. Sedangkan Sai berada di belakang Sasuke.
Mereka menaiki sebuah tangga berjalan. Dan Sasuke memandang sekeliling mall itu. Dan pada saat itu juga kedua mata onyxnya melihat seorang gadis berambut merah yang juga memakai kacamata di tangga berjalan yang satunya lagi, bersebrangan. Namun, tujuan gadis itu bukan untuk naik melainkan turun kearah supermarket.
"Tidak mungkin itu gadis yang menolongku," batin Sasuke dan tersenyum tipis.
"Haaahh… aku ingin makan ramen," ucap Naruto sambil memegangi perutnya dan mengelus-ngelusnya. Wajahnya memeperlihatkan seperti orang yang tak pernah makan berhari-hari.
Tak ayal membuat kedua orang yang sama-sama memiliki mata onyx ini sedikit tersenyum. Membuat para gadis yang tak sengaja meliat senyum meraka di kedua matanya terlihat berbentuk merah hati dan terbang di sekitar meraka. Ok, itu berlebihan para gadis itu hanyalah cekikikan dan berwajah sangat merah.
"Hinata jangan cepat-cepat..! Nanti aku bisa jatuh," ucap Sakura dan berusaha melepaskan genggaman tangannya pada tangan Hinata. Dan Sakura tak tahu jika Hinata benar-benar melepaskan pegangannya dan membuat tubuh Sakura terdorong ke belakang. Dan menabrak seorang laki-laki bermata onyx yang memang berada tepat di belakangnya. Sakura hampir jatuh kalau tidak ada sepasang tangan kekarnya yang menyangga tubuhnya agar tak jatuh. Sebelah tangan kanan orang yang menolong Sakura berada di kepala bagian belakangnya dan tangan yang kiri berada di pingganganya. Kedua mata mereka bertemu satu sama lain. Onyx dan emerald. Keduanya berwajah bersemu kemerahan.
"Kau tidak apa-apa, nona?" tanya Sasuke dan belum merubah posisinya. Masih memeluk Sakura.
"A… aku tidak apa-apa. Terima kasih," ucap Sakura dan dengan segera melepaskan diri dari pelukan Sasuke dengan wajah yang sangat memerah.
"Sa… Sakura… maaf," ucap Hinata dan mendekati Sakura.
"Tidak apa, Hinata. Aku baik-baik saja."
"Maafkan kami berdua karena tidak hati-hati. Kau jadi kesusuahan," ucap Hinata dan membungkukkan badannya tanpa melihat siapa orang yang telah menolong Sakura.
"Hinata… benar Hinata 'kan?" tanya seorang pemuda berambut kuning spike.
"Eh… Na… Naruto.." ucap Hinata terkejut setelah melihat sosok pemuda yang di kenalnya di samping Sasuke.
"Kau mengenalnya, Naruto?" tanya Sai.
"Namanya adalah Hinata. Dia sekelas denganku dan Sasuke," ucap Naruto dan tersenyum tiga jari.
"Sedang apa kau di sini, Hinata? Dan bersama siapa?" tanya Naruto.
"A… aku sedang berbelanja dan aku bersama Kak Neji," jawab Hinata dengan wajah tertunduk dan juga memerah.
"Oh, begitu. Lalu sekarang kau mau kemana?" tanya Naruto lagi.
"Pergi makan ke restaurant," jawab Hinata.
"Wah..! kebetulan sekali… ayo sama-sama saja. Kau tidak keberatan 'kan, Sasuke?"
"Hn. Tidak."
"Let's go, Hinata dan… temanmu yang disampingmu juga," ucap Naruto bersemangat dan berjalan memimpin di depan. Hinata segera menyusul Naruto dengan serta menggandeng tangan kanan Sakura.
Sakura berjalan melewati Sasuke. Onyx dan emerald kembali bertemu. Dan keduanya pun memandang satu sama lain.
"Aku… rasanya pernah bertemu dengannya," batin Sasuke. Namun, segera di tepisnya pikiran itu dan berjalan menyusul Naruto. Sai mengikutinya dari belakang.
"Tapi… perasaan aneh apa ini ketika aku melihat ke dalam kedua matanya dan juga pada saat aku menyentuhnya tadi. Seperti perasaan rindu dan juga… nyaman," batin Sasuke lagi sambil mengamati sosok Sakura dari balik punggungnya.
Sasuke merasakan ada sesuatu yang berbeda dari diri Sakura. Sikapnya yang terlihat berbeda dari yang lain. Juga hatinya sendiri yang mengatakan jika dia pernah bertemu dengan Sakura sebelumnya. "Siapa sebenarnya gadis itu."
Bersambung…
_Megumi Kisai :
Ya. Sakura memang cocok jd malaikat… Cantik sangat…
Review lg yach…^^
_Saskey-uchiha :
Hei juga…
Sasu psti ketemu dengan Saku… kalau masalah Karin dan Neji itu masih rahasia…
Ehehe… review lg yach..^^
_Kaori .a.k.a Yama :
Ya… Hinata disini sama sifatnya… hanya saja Saya rubah sedikit…
Rerview lg yach…^^
_Fusae 'LeeBumYeHyun' Daguchi :
Sebenarnya yang pertama nolong itu adalah Sakura, yang kedua baru Karin…
Review lg yach…^^
_Beby-chan :
Bagaimana sikap Karin di sini lihat saja yach… nie dah q update…
Review lg yach…^^
_Kirei Yuki Hana :
Nie dah q update… review lg yach…^^
_Je_jess :
Hai dan salam kenal jg~
Terima kasih krn sudah suka dengan Ide dari Saabatku, Rara…
Yupz, yg rambut merah itu adalah Karin… dan mengenai sikapnya lihat saja nanti…
SasuSaku disni dah ketemuan…
Review lg yach…^^
Ok, semuanya aku mau ngucapkan MAAF krn dah lama update fic nie… karena akunya yang sibuk dengan tugas2 sekolah dan juga urusan pribadi yang sangat mengganggu pikiran … dan juga krn kesehatan aku yang turun sangat drastis… jadi, harus istirahat terus…
Akhir kata…
Salam manis, Miko-chan & Rara…
