Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance/Fantasy/Hurt/Comfort

Rated : T

Warning : AU, OOC, Gaje

Chapter 4

##My Lovely Angel##

Seorang gadis berambut merah dengan cekatan memilih-milih bahan-bahan yang yang bagus dan masih segar untuk persiapan dirinya memasak nanti. Sebuah senyuman selalu mengembang di bibir tipisnya. Dan juga tak henti-hentinya bersenandung ria. Sepertinya hati gadis ini sedang bagus. Berbeda dengan seorang gadis berambut coklat pendek yang berada di sebelahnya. Bukannya memilih-milih bahan makanan malah lebih seperti memainkannya di tangannya. Bibirnya mengkerut sebal.

"Kau kenapa?" tanya gadis berambut merah dan menaikan letak kacamatanya yang sedikit melorot. Menatap sosok sahabatnya yang berada di sampinya dengan alis terangkat.

"Tidak kenapa-kenapa dan apakah kau bisa lebih cepat memilih bahan makanannya," jawab gadis berambut coklat tadi.

"Tunggu sebentar… aku harus memilih buah tomat ini dengan baik," ucap gadis berambut merah.

Sekarang kedua gadis itu sedang berada di stok buah-buahan di mall itu. Berbagai buahan segar terpajang rapi di masing-masing rak. Namun, karena sedikit licin tangan gadis berambut merah itu buah tomat yang di pegangnya terjatuh dan menggelinding tepat kearah seorang pemuda berambut hitam panjang. Buah tomat itu tepat berhenti di bawah kaki sang pemuda.

Dengan baiknya pemuda berambut hitam itu mengambilnya dan membawa serta buah tomat itu di tangannya menuju gadis itu di mana berdiri tadi. Sebuah senyuman tipis tercipta di bibir pemuda tampan itu.

Tak dapat di cegah gadis berambut merah itu kedua pipinya merona merah melihat senyum pemuda tadi. Seorang gadis berambut coklat pendek yang berada di sampingnya pun menatap pemuda itu tanpa berkedip.

"Kau menjatuhkan ini nona," ucap pemuda itu setelah sampai di depan gadis berambut merah sambil menyerahkan buah tomat yang tadi tak sengaja di jatuhkannya.

Gadis itu hanya diam mematung menatap wajah pemuda itu yang sepertinya dia pernah lihat sebelum ini. Gadis itu tersadar dari pikirannya setelah pemuda yang ada di hadapannya itu mengibas-ngibaskan sebelah tangannya di depan wajahnya yang sekarang sudah seperti warna buah yang akan di belinya.

"Ah… i… iya… terima kasih banyak.." ucapnya gelagapan dan langsung mengambil buah itu dari tangan sang pemuda di tambah sedikit membungkukan badannya.

"Terima kasih kembali… namaku Uchiha Itachi… nona?" ucap Itachi mengulurkan sebelah tangannya dan menggantung ucapannya menunggu gadis di hadapannya ini menyebutkan namanya sendiri.

"Ka… Karin.." ucap gadis itu dan dengan serta menerima uluran tangan Itachi dan kemudian secepatnya melepasnya kembali. "Ini sahabatku namanya.."

"Matsuri… salam kenal.." ucap Matsuri mendahului Karin dan langsung menjabat tangan Itachi.

Itachi tersenyum canggung dan setengah menahan tawa karena geli melihat tingkah kedua gadis di hadapannya ini. "Salam kenal.." balasnya.

"Lain kali hati-hatilah, Nona Karin," ucap Itachi dan melenggang pergi sambil tersenyum. Namun, baru saja tiga langkah Itachi meninggalkan Karin dirinya sudah di panggil kembali oleh Karin.

"Itachi… apa kita pernah bertemu sebelum ini. Rasanya aku mengenali wajahmu," ucap Karin tak tahan dengan pemikirannya sendiri dan langsung menanyakan langsung.

Itachi nampak terkejut namun ekspresi wajahnya tak menunjukannya sama sekali, digantikan dengan seringaian. "Benarkah? Tapi kurasa nona bertemu dengan orang yang mempuyai wajah yang mirip denganku. Dunia ini benar sempit bukan?" ucap Itachi dan melanjutkan kembali langkahnya dan perkataannya barusan berhasil membuat Karin terbengong-bengong. Beserta Matsuri di sampingnya yang berwajah bersemu kemerahan.

"Tampan sekali.." gumam Matsuri dan senyam-senyum sendiri. Tak mengindahkan tatapan-tatapan aneh dari para pengunjung lainnya di mall itu.

Karin kebingungan sendiri mencari arti dari ucapan Itachi barusan. "Apa maksudnya? Aku tak mengerti," batin Karin dan kembali memilih-milih buah tomat.

Sedetik kemudian Karin menyadari bahwa temannya yang berada di sampingnya terus menerus tersenyum dengan wajah memerah. Karin sweetdrop melihat tingkah temannya ini. "Hei… Matsuri… kau jatuh cinta padanya pada pandangan pertama?" tanyanya dan menghela nafas pendek. Membetulkan kembali letak kacamatanya.

"Mungkin. Ya, Tuhan Karin… lihatlah wajahnya tadi. Tampan sekali," ucap Matsuri dan menatap Karin dengan wajah berseri-seri.

"Ya, ya, aku tahu. Ayo kita bayar buah ini setelah itu kita pergi makan ke restaurant. Kita tak jadi masak di rumahmu saja."

Matsuri mendetahglare Karin dan menatap Karin dengan wajah horror. "Apa kau bilang? Tak jadi memasaknya? Lalu kenapa kita membeli makanan mentah dan juga aku dari tadi menahan rasa laparku, hah? Jika pada akhirnya kita masih akan tetap makan di restauran?" tanyanya dengan emosi yang meluap-luap.

Karin berwajah menyesal. "Maaf…hehehe…" ucapnya dan setelahnya dia kabur sendiri ke meja kasir untuk membayar buah tomat yang hendak di belinya tadi.

Wajah Matsuri sudah semerah tomat lagi karena menahan amarah yang siap meluap kapan saja. "Karin… awas kau. Hei tunggu aku..!" geram Matsuri kesal dan mengejar Karin. Menjitak kepalanya sesudah dirinya berada di hadapan Karin. Dan Karin hanya tertawa sambil memegang kepalanya. Sesekali merintih sakit ketika Matsuri mencubit pipinya dengan gemas.

"Aku menyukai saat-saat seperti ini. Bercanda dengan seorang teman yang tidak pernah aku punya sebelumnya," batin Karin dan tersenyum lebih lebar lagi dan membalas perlakuan Matsuri dengan mencubit langsung kedua pipinya. Membuat di setiap sudut matanya muncul Kristal-kristal bening seperti akan menangis.

"Hentikan! Sakit tahu," ucap Matsuri setelah terlepas dari jurus cubitan mematikan dari Karin. Sedangkan Karin hanya mengangakat sebelah tangannya dan mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya menyerupai huruf v.

"Sudahlah… ayo cepat. Kau sudah lapar sekali… ini sudah waktunya makan siang."

"Baaiiiikkk..!" ucap Karin semangat dan dengan segera mengeluarkan beberapa lembar uang kepada kasir. Setelah itu menarik tangan Matsuri agar mengikutinya keluar dari tempat itu menuju restaurant. Sedangkan Matsuri yang tangannya di tarik-tarik hanya pasrah dan sekaligus menahan malu karena tingkah 'over' sahabatnya yang berambut merah ini. Bukankah dirinya juga sama bukan?

##My Lovely Angel##

Seorang pemuda berambut hitam dan bermata onyx terus memandangi sosok seorang gadis berambut merah muda pendek di depannya. Langkahnya yang biasanya bisa di bilang cepat namun sengaja dia lambatkan karena ingin menatap sosok manis gadis itu. Beberapa kali di bibirnya tersungging sebuah senyuman yang tak dapat di ketahui maksudnya. Seorang pemuda yang memilik warna rambut sama hanya saja sedikit mencuat kebelakang itu menyadari tatapan temannya itu. Suatu perasaan aneh tiba-tiba saja hinggap di hatinya.

Pemuda berambut emo itu memegang dadanya sendiri merasakan suatu perasaan seperti sesak padahal dirinya tak memiliki penyakit jantung, paru-paru atau semacamnya. Namun kini kenapa dadanya merasa sesak. Kedua alis pemuda tersebut berkedut satu sama lain. Dan sebuah senggolan di lengan kanannya membuatnya menolehkan kepalanya ke orang yang telah menyenggol lengannya itu.

"Sasuke… manis sekali bukan?" ucap Sai sambil tersenyum penuh arti tanpa memandang Sasuke. Tatapannya tetap lurus ke depan lebih tepatnya sosok gadis itu yang tengah tersenyum.

"Hn. Manis."

"Cantiknya.." ucap seseorang tiba-tiba di samping Sasuke. Seorang pria berambut hitam sama namun sediki panjang tapi diikat rapi di belakang tengkuknya. Kedua mata onyxnya memandang lembut sosok seorang gadis manis berambut merah muda di depannya.

Sasuke dan Sai sangat terkejut melihat kehadiran tiba-tiba Uchiha sulung itu. Urat-urat kekesalan tercipta di dahi keduanya. Gigi keduanya gemeletuk seperti menahan amarah… mungkin.

"Benar-benar cantik.." ucap Itachi sekali lagi tanpa memandang wajah Sai dan juga Sasuke yang mulai memerah menahan amarah. Dari balik punggung kedua pemuda tampan itu pun mulai keluar aura membunuh.

"Itachi…" ucap keduanya berbarengan.

"Ap…" Itachi tak melanjutkan ucapannya karena melihat aura membunuh dari keduanya. Seketika dia terdiam dan menatap ujung sepatunya seolah itulah hal yang paling menarik saat ini untuk di lakukan.

"Ah… itu dia restaurantnya… semuanya ayo..! Aku sudah lapar sekali," ucapan Naruto barusan menyadarkan ketiga pemuda berambut hitam itu. seketika Itachi berwajah ceria kembali dan menyusul Naruto beserta Hinata dan Sakura. Meninggalkan Sai juga Sasuke yang setelahnya kedua pemuda itu setengah berlari menyusul mereka semua.

Sebuah restaurant yang tak terlalu besar juga tak terlalu kecil. Terkenal dengan makanannya yang lezat-lezat, tata cara pelayanannya juga tatanan tempat makan tersebut yang di buat sedemikian rupa untuk membuat pengunjung betah berlama-lama di sana. Segera saja para remaja itu menduduki sebuah tempat yang terlihat nyaman di pojok sebelah kanan dari pintu masuk. Dua buah tempat duduk memanjang berwarna merah dan terdapat ukiran aneh di punggung kursi tersebut. Mejanya yang panjang berwarna kuning nampak mengkilap, seperti habis di lap. Satu buah tempat duduk muat untuk diduduki oleh 4 orang. Di mulai dari Naruto, Hinata, Sakura. Lalu di sebrangnya Itachi, Sai dan Sasuke. ke enam orang itu mulai membuka-buka buku menu yang sudah ada tersedia di meja tersebut. Kecuali Sakura yang memang tak mengerti sama sekali jadi dia hanya diam saja.

"Aku ramen saja… bagaimana denganmu, Hinata?" tanya Naruto pada Hinata dan menatap wajahnya yang tengah bersemu kemerahan.

'Naruto… wajahmu terlalu dekat denganku,' batin Hinata dan mencoba mengatur detak jantungnya yang dari tadi berdetak kencang tak karuan. Darahnya serasa berkumpul semua di wajahnya.

"Hinata kau pesan apa?" tanya Naruto sekali lagi dan ikut melihat buku menu makanan yang sedang di pegang Hinata.

"Na… nasi goreng dengan banyak saus di atasnya," jawab Hinata setelah bisa mulai mengatur kembali detak jantungnya.

"Lalu nona manis ini mau pesan makanan apa?" tanya Itachi tiba-tiba sambil tersenyum tipis pada Sakura.

Merona merah. "Sama dengan Hinata saja," jawabnya pelan dan menunduk berusaha menyembunyikan rona merah di kedua pipinya.

"Mirip seperti Hinata," batin salah seorang disana dan memandang wajah Sakura lekat-lekat. "Benar-benar manis."

Setelah Itachi bertanya seperti itu dia mendapat dua deathglare dari Sai dan juga Sasuke. Sepertinya persaingan sudah dimulai… mungkin.

"Sakura… Hinata.." panggil tiba-tiba seorang pemuda berambut coklat panjang dan dengan tanpa aba-aba lagi duduk tepat di samping Sakura. "Kalian semua?" tanyanya heran melihat keadiran selain nama kedua gadis yang di sebutkannya tadi.

"Kami bertemu pada saat akan ke restaurant… jadi, yach… kami mengusulkan agar bersama saja," jawab Naruto.

"Begitu… lalu apa kalian sudah pesan makanannya?"

"Be… belum, Kak Neji," kali ini Hinata menjawab dengan suara lembutnya.

"Apa Anda-anda sekalian sudah menentukan menu makanannya?" tanya pelayan resatauran dengan ramah dan juga sebuah senyuman mengembang di bibirnya. Di tangannya menggenggam sebuah buku kecil dan sebuah pulpen untuk mencatatatnya. Sepertinya bukan hanya pelayanannya saja yang bagus namun pakaian para pelayan disini pun sangat unik dan lain dari biasanya.

Sebuah kemeja putih berlengan panjang dan memakai dasi, di bagian dadanya di pasang name tag pelayan tersebut. lalu bawahannya adalah celana panjang dengan lap berenda yang melingkar di pinggang pelayan tersebut berwarna biru. Yang lebih menarik di kepala pelayan tersebut terpasang dua buah telinga buatan seperti telinga kelinci. Lucu sekali.

"Aku memesan ramen porsi besar… dan jus jeruk," ucap Naruto.

"Nasi goring dengan taburan sosis dan saus yang banyak juga jus melon. Temanku yang di sebelah juga memesan yang sama namun minumannya jus strawberry," ucap Hinata.

"Nasi dan chicken katsu, jus tomat," ucap Neji.

"Aku sama dengan pesanan kedua gadis itu namun minumannya jus alpukat," ucap Itachi dan melirik Sasuke dengan ekor matanya.

"Nasi goreng special dengan ekstra tomat di atasnya, jus tomat," ucap Sasuke.

"Aku ramen saja…dan minumnya jus jeruk," ucap Sai.

Tangan pelayanan itu dengan lincah bergerak-gerak mencatat pesanan semuanya di buku kecil yang di bawanya tadi. Sebuah senyuman kembali terpasang di wajah pelayan itu. "Akan tiba dalam waktu 15 menit. Terima kasih," ucap pelayan itu.

"Terima kasih kembali, Nona Haku," balas Naruto dan nyengir lebar. Pelayan itu yang baru saja dua langkah kini berhenti dan membalikan tubuhnya kembali menghadap Naruto dan yang lainnya. Kini wajahnya sedikit menakutkan dengan senyuman yang menghiasi di bibirnya tersebut.

"Maaf… Anda salah. Saya seorang laki-laki," ucap pelayan yang bernama Haku tersebut dan berlalu dari sana.

Semua orang yang berada di sana membelalakan matanya dengan sedikit mulut terbuka. Keterkejutan nampak di wajah mereka. Dan mereka baru menyadari jika para pelayan perempuan memakai rok rempel di atas lutut berwarna biru.

"Padahal wajahnya manis sebanding dengan Hinata dan Sakura," batin Naruto.

"Laki-laki yang cantik.." batin Hinata dan Neji.

"Pantas saja dadanya rata.. tak seperti dua gadis di depanku ini," batin Sai dan melirik Sakura juga Hinata dengan senyuman mesum.

"Jika laki-laki kenapa lekuk wajah dan rambutnya seperti perempuan," batin Sasuke dan sekarang pandangannya beralih ke sosok Neji. " Jika di lihat-lihat lekuk wajah Neji dan rambut panjangnya juga seperti perempuan."

Bagaimana dengan pendapat Sakura dan Itachi? Merek tak mengeluarkan pendapat walau dalam hati sekalipun. Mereka berdua sibuk memandang satu sama lain tanpa berkedip.

"Apa dia laki-laki yang kutolong waktu itu?" batin Sakura dan berpikir keras.

"Ada apa nona?" tanya Itachi memecah keheningan dengan bertanya pada Sakura tiba-tiba.

Sakura terkejut juga malu kendati pada saat dirinya memeperhatikan Itachi. Tapi bukankah Itachi juga memperhatikan Sakura dari tadi tanpa berkedip sedetikpun. Semua orang yang berada di sana memandang Sakura dan juga Itachi bergantian.

"Ada apa nona yang manis satu ini terus memandangku seperti tadi?" tanya Itachi kedua kalinya.

Yang lainnya sweetdrop mendengar pertanyaan Itachi dan di dahi Sasuke mulai muncul urat-urat kekesalan lagi.

"Eh… itu… apa kita pernah bertemu sebelum ini?" Sakura balik bertanya. Membuat yang lainnya makin keheranan.

Itachi merasa déjà vu mendengar ini. Pertanyaan Sakura hampir smaa persis dengan yang diucapkan seorang gadis yang baru saja di kenalnya beberapa menit yang lalu. Perasaan tak nyaman dan penasaran bercampur menjadi satu. "Mungkin nona manis ini bertemu dengan orang yang mirip denganku… itu saja," jawabnya dan melirik Sasuke dengan ekor matanya.

Sakura yang memperhatikan gerakan mata Itachi yang menatap Sasuke juga ikut memperhatikannya. Karena sedang menjadi pusat dua orang sekaligus akhirnya Sasuke memutuskan untuk mengangkat wajahnya. Dan mata onyx itu memandang lurus mata emerald dihadapannya. Mata emerald itu menatap mata onyx itu seakan mencari jawaban dan maksud ucapan Itachi.

"Mungkinkah maksud Itachi adalah Sasuke?" batin Sakura.

"Hn. Berhentilah menatapku seperti itu… rasanya tidak nyaman sama sekali," ucap Sasuke membuyarkan lamunan Sakura.

Seketika Sakura menundukan kepalanya dan dari bibir mungilnya mengeluarkan gumaman seperti kata 'maaf' beberapa kali. Neji dan Hinata yang berada di sampingnya dengan jelas mendengarnya. Kedua mata emerald yang indah itu mulai berkaca-kaca. Kedua tangan Sakura yang berada di atas meja mulai mengepal dan bergetar.

Semua orang yang berada di sana langsung mendeathglare Sasuke. Tatapan mereka semua seolah mengatakan 'ini salahmu membuat dia mau menangis'.

Glekk..

Sasuke menelan ludahnya sendiri menyadari tatapan mematikan semua orang yang berada di sana. Di dalam pikirannya apa ada kata yang salah yang aku ucapkan barusan. Hanya menyuruhnya untuk berhenti memandangiku seperti tatapan 'tak biasa' itu apa salahnya. Huh… gadis ini saja yang terlalu sensitive dengan ucapanku. Memang banyak yang bilang ucapanku ini dingin dan seperti orang yang sedang marah. Tapi… ayolah! Masa' hanya kata-kata seperti itu saja gadis manis itu akan menangis. Manis? Eh… tunggu, tunggu kenapa aku berpikiran seperti itu. Tetapi memang benar sich gadis berambut merah muda itu manis. Sangat manis malah. Arrrggghhh…! Kenapa aku jadi seperti ini. Oh, tidak… tatapan itu. Jangan perlihatkan padaku tatapan mata belas kasihan itu.

Sasuke sibuk sendiri dengan pikirannya dan juga tak tahan dengan tatapan mata yang di berikan oleh Sakura. Kedua mata yang di besarkan dan berkaca-kaca… juga bibirnya yang bergetar seperti menahan isak tangis.

Oh, lihatlah! Kedua mata emerald yang besar nampak berkaca-kaca sangatlah indah. Wajahnya juga imut sekali. Itulah yang berada dalam pikiran Uchiha Sasuke saat ini. Tidak! Sasuke… hentikan pemikiranmu tentangnya. Arrggghhh…! Aku mengacak-ngacak sendiri rambut emo-ku. Dan sial aku jadi tontonan orang banyak termasuk teman-temanku yang berada di hadapanku ini.

"Aku minta maaf… tak bermaksud untuk menakutimu sama sekali, Sakura. Gaya bicaraku memang seperti ini," ucap Sasuke pada akhirnya dan mengenggam kedua tangan Sakura yang sudah tak bergetar lagi. Uchiha satu ini tak tahan dengan deathglare semua temannya dan jurus mata ampuh milik Sakura rupanya. Hm… mudah sekali luluh hatinya.

"Tak apa," jawab Sakura dengan wajah bersemu kemerahan karena tanpa Sasuke sadari dirinya tengah mengelus-ngelus tangan Sakura dengan kedua ibu jarinya. Sakura menundukan kepalanya tak berniat memandang mata onyx Sasuke kembali yang menghanyutkan siapa saja yang melihatnya.

"Ehmm.." suara deheman dari Sai dan juga Itachi berbarengan membuat Sasuke tersadar dan langsung melepaskan tangan Sakura dengan serta bergumam 'maaf' pelan.

"Mencuri kesempatan dalam kesempitan rupanya, eh?" tanya Sai pelan dengan nada sarkastik. Yang mendengar ini hanya Sasuke saja.

"Hn. Bukan urusanmu," jawab Sasuke pelan tak kalah sarkastik.

Sasuke dan Sai memang menjadi rival sejak mereka berdua masih SD dan masih berlanjut sampai mereka menginjak SMA sekarang ini. Mereka berdua tak mau kalah dalam hal apapun termasuk mendekati seorang gadis. Perselisihan mereka di lakukan dengan cara sehat. Namun, kadang-kadang mereka berdua bertengkar tetapi tak lebih dari satu jam mereka kembali berbaikan. Ckckck… dan tentunya mereka bersahabat baik sampai sekarang.

Sai tersenyum kecut mendengar ucapan balasan dari Sasuke dan lebih menenggelamkan pikirannya dalam dunia seni lukis yang dari dulu dia geluti sejak masih kecil. Dan sebuah pikiran mengenai objek lukisannya nanti membuat dirinya menyeringai.

"Maaf menunggu lama… ini makanan pesanan kalian semua," ucap seorang pelayan sambil mendorong sebua meja berkaki geser ke meja mereka. Satu persatu hidangan makanan itu ditaruh dengan cekatan ke meja oleh pelayan itu. "Silahkan menikmati," ucapnya lagi dan pergi setelah melemparkan senyuman ramah ada semuanya.

"Mari makaaann..!" ucap Naruto bersemangat dan mulai melahap ramen kesukaannya. Sedangkan yang lainnya hanya geleng-geleng kepala pertanda maklum dengan sikpa 'over' teman mereka yang satu itu. Beda dengan Hinata yang tersenyum senang dan pipinya bersemu kemerahan melihat Naruto.

Tak jauh dari tempat mereka makan datanglah dua orang gadis manis yang baru saja memasuki restaurant. Kedua wajah gadis itu nampak terkagum-kagum dengan dekorasi restaurant itu. Dan beberapa detik kemudian keduanya melesat kepojok kiri tempat duduk dari arah pintu masuk. Dan dengan segera memesan makanan yang mereka sukai karena perut mereka yang sejak tadi berbunyi minta segera untuk diisi.

Deg..

Deg… deg...

Deg… deg… deg…

Suara detakan jantung itu di rasakan oleh seorang gadis merah muda pendek. Sebelah tanganbya refleks memegang dadanya di mana biasanya jantung berada. Aktivitas makannya terhenti sepenuhnya. Kedua mata emeraldnya memandang kesekeliling restaurant seperti mencari sesuatu. Neji yang melihat ada kejanggalan pada Sakura menyentuh bahunya pelan.

"Kau tak apa, Sakura? Wajahmu pucat sekali.." ucap Neji dan sukses membuat semunya berhenti dari aktivitas makannya dan menatap wajah Sakura.

"A… aku tidak apa-apa, Neji. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku," jawab Sakura.

"Begitu.." gumam Neji pelan.

Deg… deg… deg…

Debaran jantung itu mulai terasa kembali. Sakura mencengkram lebih erat bagian dadanya menyebabkan bajunya sedikit kusut. "Pe… perasaan ini… liontinku ada di dekat sini," batinnya dan menggigit bibir bagian bawahnya dengan kuat. Tak peduli kini bibirnya mengeluarkan darah dan menetes ke bajunya.

"Bibirmu berdarah.." ucap Neji dan membersihkan darah dari bibir Sakura menggunakan ibu jarinya.

Blushing. Keduanya tiba-tiba salah tingkah.

"Te… terima kasih," gumam Sakura.

Dan Neji berkata dengan pelan. "Maafkan yang tadi," ucapnya.

Keheningan kembali melanda di meja itu. Yang terdengar kini hanya suara dentingan alat makan mengirinya apa yang sedang di lakukan mereka.

"Kenyaaang.." ucap Naruto membuyarkan keheningan itu dan nyengir lebar. Dirinya menepuk-menepuk perutnya yang sudah buncit karena kekenyangan. Di raihnya gelas berisi jus jeruk yang tinggal setengahnya dan meminumnya sampai tandas. Sepertinya yang lainnya pun mulai menghabiskan makan mereka dengan tenang.

"Aku lelah sekali rasanya," batin Sakura dan memeganga dahinya. Menutup kedua mata emeraldnya sebentar saja dan mengatur nafasnya karena tiba-tiba saja dadanya menjadi sesak.

"Hinata… ayo pulang, kau butuh istirahat dan meminum obatmu," ucap Neji pelan tak mau terdengar oleh yang lainnya. Dan sedetik kemudian Neji dan Hinata serempak bangun dari duduk mereka.

"Sakura.." panggil Hinata dan menyentuh bahu Sakura pelan.

"Baiklah, Sasuke kau butuh istirahat. Kau pasti lelah bukan?" tanya Itachi dan menepuk pelan bahu adik kesayangannya itu. Sedangkan Sasuke hanya membalas perkataan Itachi dengan menggumam kata 'Hn' saja.

"Sakura ayo kita pulang," ucap Hinata lagi dan kali ini sedikit mengguncang bahu Sakura. Dan berhasil membuat Sakura terperangah dan ikut langsung berdiri.

"Ayo kita pulaaaaang..!" ucap Naruto dengan semangat ditambah cengiran khasnya. Yang lainnya kembali geleng-gekeng kepala melihat tingkah Naruto kecuali Sakura.

Semuanya mulai keluar dari restaurant itu dan menuruni escalator menuju lantai 1, lapangan parkir tempat di mana kendaraan-kendaraan yang di bawa oleh mereka berada. Selama dalam perjalanan menuju tempat parkir Sakura terus mengganteng tangan Hinata.

Wajah Sakura yang tadinya nampak cerah namun kini nampak kelelahan. Sama dengan wajah Hinata sekarang yang menunjukan kesakitan juga kelelahan. Wajah keduanya juga sama-sama pucat.

Sebelah tangan Hinata bergerak ke atas menuju dadanya tempat di mana alat paling fatal seorang manusia. Sebuah alat fungsi tubuh bagian dalam yang di mana kita dapat mengetahui detak jantung kita. Sakit. Itulah yang di rasakan oleh Hinata saat ini di bagian jantungnya itu. Nafasnya mulai tak beraturan juga mulai mengeluarkan keringat. Membasahi poni bagian depannya. Pandangan kedua mata lavendernya mulai tak fokus.

Tak lebih sama dengan apa yang terjadi pada Sakura saat ini. Dari tadi tangannya tak berpindah dari dadanya sedangkan tangan yang lain mencengkram lengan Hinata kuat-kuat. Nafasnya juga mulai memburu tak karuan seperti habis lari keliling lapangan seratus kali. Pandangan kedua mata emeraldnya juga mulai tak fokus dan hanya memandang punggung ke tiga orang pemuda di hadapannya pun mulai buram.

Kedua pemuda berambut kuning spike juga berambut hitam pendek mulai merasakan kejanggalan dengan keadaan kedua gadis di hadapan mereka. Mereka berdua saling pandang satu sama lain dan mengekerutkan dahi mereka.

Sai melempar pandang pada Naruto di sampingnya, seakan berkata 'ada apa dengan mereka berdua?' dan hanya dibalas gelengan kepala oleh Naruto.

'Aku sudah tak kuat lagi," batin Hinata.

'Kekuatanku untuk bertahan lama di bumi ini mulai melemah karena tidak ada liontin itu. Aku… tak kuat lagi," batin Sakura.

"Kak Neji…"

"Neji…"

Hinata dan Sakura mengucapkan nama seorang pemuda secara bersamaan dengan lirih. Dan setelahnya keduanya tak sadarkan diri dan terjatuh dengan posisi ke belakang. Dengan refleks kedua orang yang berada di belakang gadis tersebut memeluk kedua gadis itu agar tak jatuh ke aspal. Naruto dan Sai di buat terkejut dengan kejadian itu tapi untung saja gerakan refleks keduanya bagus. Bagaimana kalau tidak menangkap tubuh keduanya tepat waktu, pastinya akan terbentur dengan sangat keras kedua tubuh gadis itu dengan aspal dingin.

Neji yang merasa namanya di panggil segera menengokkan kepalanya kebelakang. Dan melihat adik kesayangannya tak sadarkan diri juga Sakura. Kedua mata levendernya membulat sempurna. "Hinata… Sakura.." ucapnya dan langsung mendekati sosok kedua gadis itu.

Sasuke dan Itachi yang mendengar Neji mengucapkan nama kedua gadis itu juga ikut menengokan kepala mereka kebelakang, dan kedua pasang mata onyx mereka membulat terkejut dan segera menghampirinya sosok Hinata yang berada di pangkuan Naruto juga Sakura yang berada di pangkuan Sai.

Neji memerikasa denyut nadi di pergelangan Hinata. "Lemah sekali… harusnya jika kau tak kuat bilang dari tadi," ucapnya dan sedikit mendeathglare Naruto karena berani memeluk Hinata. "Bawa dia masuk ke mobilku sekarang… Sai, bawa Sakura juga cepat," perintahnya lagi dan langsung di laksanakan oleh keduanya. Dan membawa tubuh mungil kedua gadis itu dengan bridalstyle.

Itachi dan Sasuke yang melihatnya hanya diam tak bersuara. Wajah mereka berdua tanpa ekspresi dan datar sekali. Neji yang melihatnya memandang heran. Tak biasanya dua Uchiha itu berdiam seperti orang bisu ketika ada kejadian yang menimpa teman mereka. Entah apa yang saat ini sedang di pikirkan kedua Uchiha itu.

Neji memilih tak ambil pusing dan segera masuk kedalam mobilnya ketika Sai dan Naruto sudah mendudukan Sakura dan Hinata di kursi belakang kemudi. Ternyata Naruto dan juga Sai tak ikut turun melainkan memengang kedua tangan gadis itu dan juga ikut duduk. Neji yang melihatnya hanya mendengus kesal dan langsung tancap gas.

Kedua Uchiha bersaudara itu saling pandang dan setelahnya melangkah mendekati mobil mereka. Masuk kedalamnya dan pada akhirnya mobil itu meninggakan Mall besar itu. Mengikuti kemana mobil Neji pergi. Dan dari arahnya kedua Uchiha itu dapat mengira akan kemana Neji pergi. Pulang ke kediaman Hyuuga.

"Sasuke… kau ingat siapa gadis yang telah menolongmu itu?" tanya Itachi tiba-tiba memecah keheningan di antara keduanya setelah sekian lama bungkam. Kedua mata onyx Itachi tak lepas dari depan dan berkonsentrasi penuh jika tak mau menabrak sesuatu atau seseorang. Sesekali Itachi melirik Sasuke yang berada di sampingnya dengan ekor matanya. Menunggu hingga reaksi apa yang akan di berikan oleh Sasuke atas pertanyaannya barusan.

"Sosok gadis itu tak jelas… yang aku ingat hanya sebuah liontin yang sangat indah yang dipakai di leher gadis itu," jawab Sasuke akhirnya tanpa memandanga Itachi.

"Ada satu lagi kejadian yang tak aku ceriatakan padamu saat di rumah sakit 'kak."

Itachi meneyerngit heran. "Apa itu?"

Sasuke menarik nafas sebentar dan dengan mantap mengatakan sesuatu hal yang membuat Itachi terkejut bukan main. "Bagaimana jika ku bilang menurutku gadis itu adalah seorang malaikat yang turun dari langit," ucapnya.

"…"

Hening.

Itachi tak merespon apa yang di katakan oleh Sasuke. Menengok untuk melihat ekspresi Sasuke saat ini juga tidak. Itachi bungkam dan lebih memilih menatap kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di depannya. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk stir kemudi entah untuk apa tujuannya. Mungkin Itachi saat ini tengah berpikir dan menyimpulkan suatu analisa berdasarkan pentunjuk-petunjuk yang sudah ia cari selama Sasuke berada di rumah sakit.

"Sudah ku duga kau tidak akan per…"

"Aku percaya padamu, Sasuke," ucap Itachi memotong ucapan Sasuke setelah sekian lama terdiam.

"Lali kenapa kau.."

"Aku sedang berpikir sesuatu… dan mendengar pengakuanmu tadi aku percaya."

"Apa ada yang kau sembuyikan dariku, 'kak?" tanya Sasuke.

Itachi mendadak gugup dan berkeringat dingin,kedua mata onyxnya bergerak-gerak gelisah. "Tidak ada yang aku sembunyikan darimu, Sasuke," jawabnya.

Hening kembali menyusu di antara keduanya. Yang terdengar hanya suara mesin kendaraan-kendaraan yang mendahului mereka juga suara angin yang terbelah karena kendaraan-kendaraan itu.

"Aku ingin bertemu dengan dia sekali lagi," ucap Sasuke setelah sekian lama bibirny tertutup rapat.

"Setelah bertemu… apa yang akan kau lakukan?"

"Tidak tahu… aku… hanya ingin bertemu saja."

Itachi melirik Sasuke di sampingnya dengan sebuah seringaian. "Akan ku bantu untuk mencarinya. Aku rasa malaikat yang menolongmu itu tak jauh dari kita."

"Feeling?"

"Ya."

Sasuke tersenyum tipis mendengarnya.

##My Lovely Angel##

Rumah itu sangat megah dengan gerbang besi berpintu dua. Tembok-tembok yang di hiasi dengan tanaman merambat memberi kesan tersendiri bagi siapa saja orang yang melihatnya. Dan apabila kita lihat lebih kedalam ada sebuah halaman yang sangat luas. Di tengahnya terdapat sebuah kolam air mancur dengan patung malaikat yang tengah menengadahkan kedua tangannya di depan dada. Sedangkan kedua sayapnya nampak mengembang di kedua sisi tubuhnya.

Di bagian kanan halaman rumah itu terdapat sebuah tempat untuk bersantai dan di bagian sebaliknya terdapat ruma kaca yang berisi macam-macam bunga yang sengaja di rawat dengan baik oleh kepala keluarga Hyuuga. Hal itu merupakan salah satu permintaan Nyonya Hyuuga sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Juga di tambah Hinata sangat menyukai bunga-bunga itu. Yang paling disukainya adalah Bunga Lili Putih.

Dan sekarang nampak dari arah luar pintu gerbang berhenti dua buah mobil. Salah satunya adalah mobil pemilik rumah megah ini. Dan seorang penjaga berwajah lumayan manis membukakan pintu gerbang itu dengan tergesa-gesa karena sudah di beritahu sebelumnya oleh Neji jika penyakit Hinata kembali kumat.

Setelah pintu gerabng itu terbuka sepenuhnya kedua mobil itu pun memasuki halaman rumah. Dan sang penjaga menutup kembali gerbang itu.

Seorang pemuda beramata lavender memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk. Sebelah tangannya meraih gagang pintu dan membiarkan Naruto yang membawa Hinata masuk kedalamnya juga Sakura yang berada di gendongan Sai.

"Naruto… bawa Hinata kekamarnya. Sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksanya," perintah Neji kepada Naruto dengan menunjuk kamar Hinata dengan mengangkat dagunya. Sekarang pandanganya beralih pada Sai.

"Bawa dia kekamarku, Sai," ucapanya.

'kenapa juga harus di kamarmu, Neji," batin Sai dan tersenyum kecut. Tetapi di lakukannya juga perintah Neji. Dia membaringkan Sakura di tempat tidur Neji.

"Apa ada yang bisa kami bantu, Neji?" tanya Itachi tiba-tiba di ambang pintu kamar Neji.

"Tolong buatkan Teh Madu untuk Sakura. Untuk Sasuke juga Sai… tolong jaga Sakura. Aku akan pergi kekamar Hinata untuk memastikan keadaannya," ucap Neji tegas dan keluar dari kamarnya menuju kamar Hinata tepat di samping kamarnya hanya terhalang dengan ruangan santai.

Itachi melengos pergi menuju dapur yang sudah sangat di hafalnya. Karena dulu Itachi sering menemani Sasuke untuk bermain menghabiskan waktu di rumah Neji. Dan membuat Uchiha sulung itu mengetahui seluk beluk rumah Neji. Sehingga tak akan tersesat di rumah itu mengingat sangat luasnya rumah Hyuuga itu.

Sedangkan Sasuke berjalan mendekati Sai dan sosok Sakura yang tengah terbaring. Kedua mata onyxnya melihat tangan Sai tengah menggenggam tangan Sakura. kedua rahanyanya mengeras dan tangannya mengepal.

' Ini aneh… jika di pikir aku bukanlah siapa-siapa Sakura. Tapi, kenapa rasanya aku tak rela jika ada yang menyentuh Sakura selain aku?' batin Sasuke.

"Keadaannya sudah jauh lebih membaik. Dia hanya terlalu kelelahan dan memaksakan dirinya," ucap seorang lelaki muda berambut perak dan memakai kaca mata. Dirinya tersenyum lembut pada sosok gadis berambut indigo yang tertidur lelap. Dan kini pandangannya teralih pada sosok jangkung Neji di kamar itu. Di sebelahnya Naruto berdiri dengan memandang sayu pada sosok Hinata.

"Terima kasih banyak, Dokter Kabuto. Lalu ada satu orang lagi yang perlu Anda periksa," ucap Neji dan berjalan keluar kamar Hinata.

Dokter yang di panggil Kabuto itu melempar pandang heran dengan alis terangkat pada Neji. Namun, di ikutinya juga kemana Neji melangkah dengan serta membawa tas yang berisi peralatan yang di butuhkannya untuk memeriksa seorang pasien.

Neji berhenti di depan kamarnya dan mempersilahkan Dokter untuk masuk lebih dalam.

"Ck… kekasihmu cantik sekali, Neji," ucap Dokter Kabuto setelah berdiri di tepi ranjang dan melihat wajah Sakura. Duduk di kursi di samping tempat tidur dan mulai memeriksa Sakura.

Neji yang mendengar hal itu tak mencoba membantah atau mengatakan ucapan menyangkal atas apa yang dikatakan Dokter Kabuto tadi. Yang tertinggal kini wajah Neji yang memerah sempurna. Sai dan juga Sasuke mendecak sebal. Itachi yang sudah kembali dari membuatkan teh madu untuk Sakura hanya tersenyum penuh arti melihat tingkah Sasuke di sampingnnya.

"Detak jantung yang aneh…" batin Kabuto setelah menempelkan stetoskop pada dada Sakura. "Seperti bukan detak jantung manusia pada umumnya."

"Apa dia baik-baik saja?" tanya Itachi.

"Uhmm… yach, dia baik-baik saja. Hanya kelelahan saja," ucap Kabuto dengan ragu. Dan semuanya tak menyadari raut wajah Kabuto yang tak biasanya. Segera saja Kabuto meletekan kembali stetoskop kedalam tasnya dan menulis resep obat. Hanya vitamin saja.

"Terima kasih sekali lagi, dokter," ucap Neji dan menjabat tangan dokter muda itu.

Kabuto membalasnya dengan senyum ramah yang tercipta di bibirnya. "Sudah menjadi kewajibanku," ucapnya dan berlalu pergi dari ruangan itu.

"Neji… jaga Hinata untuk tidak terlalu memaksakan diri dan minumlah obat dengan teratur. Juga… mengenai kekasihmu itu…" Kabuto menggantung ucapannya membuat Neji bingung sekaligus khawatir.

"Tidak apa-apa. Baiklah… aku permisi," ucap Kabuto akhirnya dan menuruni anak tangga untuk keluar dari kediaman megah keluarga Hyuuga itu.

Neji menyerngit bingung namun tak di ambil pusing dan dia kembali kekamar Hinata. Melihat adik kesayangannya yang terbaring lemah membuat hatinya sakit. Dia merasa tak mampu melakukan apa-apa untuk menyembuhkan penyakit Hinata yang sudah di deritanya sejak menginjak usia yang ke 14 tahun. Ternyata penyakit yang di derita oleh ibunya menurun pada Hinata. Sebersit pikiran hinggap di kepala Neji. 'Kenapa bukan aku saja yang menderita penyakit sialan itu'.

"Neji… kami semua pamit pulang. Mereka berdua perlu istirahat yang banyak," ucap Itachi dan menepuk pelan bahu Neji. Melirik Naruto yang masih saja berdiri kaku di samping tempat tidur Hinata. "Hei… Naruto… ayo kita pulang. Biarkan Hinata istirahat."

"Neji… boleh tidak aku menginap di rumahmu. Lagi pula besok akhir pekan bukan? Di tambah kedua orang tua sedang ada bisnis di luar kota," ucap Naruto tiba-tiba tanpa memandang Neji.

"Hn. Silahkan saja. Hitung-hitung untuk menjaga Hinata karena Hanabi dan Ayah sedang ada bisnis di luar kota," jawab Neji.

"Terima kasih."

"Kak ayo pulang. Neji… kami pamit," ucap Sasuke dan berjalan mendahului Itachi setelah menepuk pelan bahu Neji. Tak lupa menyerat juga Sai yang sepertinya juga akan ikut menginap di rumah Neji dengan alasan akan mejaga Sakura. Sedangkan yang di seret hanya pasrah dan menggembungkan pipinya kesal karena strateginya sudah ketahuan oleh rivalnya sendiri.

Itachi ternyum dan segera menyusul Sasuke dan Sai yang ternyata sudah menacapai pintu keluar kediaman keluarga Hyuuga.

Tak menyadari jika kini Sakura tengah mengerang kesakitan dan mencengkran dadanya sendiri. Keringat dingin mengalir di dahinya dan bibirnya bergerak mengucapkan sebuha nama. "Kak Sasori… tolong aku. Aku kesakitan..hiks… hikss.." ucapnya dan terisak dengan mata yang masih tertutup.

Bersambung…

Mari balas review dulu..^^

_Risle-coe :

Tak pa baru review juga…

Mengenai peran dan sifat Karin lihat saja di sini yach..^^

Nie dah aku update, review lg yach..^^

_Je-Jess :

Yupz… tebakan anda benar… review lag yach..^^

_Hika-chan :

Yupz, Sakura memang pantas menjadi malaikat…

Review g yach…^^

_Micon :

Kenapa review chap 1? Tapi tak apalah..heheh.

Hai juga Micon-chan… nama panggilan kita hampir sama ternyata..^^

Saya terima sarannya… juga mkasih karena sudah menyukai hasik tulisan dan juga ide dari Rara…

Review lg yach..^^

_So-Chand 'Luph pLend' :

Nie dah q update… review lag yach..^^

_Fusae Deguchi EvilMagnaeKyu :

Yupz… nie dah q update… tapi nulis namamu sulit juga ternyata…hahaha^^

Review lag yach..^^

_CheZaHana-chan :

Nie dah q update… review lag yach..^^

_Beby-chan :

Hehehe… aku juga menyukai sifat Karin disini… manis banget..^^

Yuz, Sasu dah ketemu ma Saku…

Dan nie dah q update… review la yach..^^

_Kaori a.k.a Yama :

Makasih…

Hinata sakit apa'an bakal terungkap nanti… Sai itu sahabat sekaligus rival'y Sasu..

Saku ga sadar namun salah mengira jika itu adalah Itachi..^^

Kalau maslah ada Gaara-koi atau ga lihat saja nanti yach..^^

Nie dah q update… review lag yach..^^

_Sayuri Haruno :

Hai juga Yuri Nee-chan.. terima kasih sudah menyempatkan review untuk fic q…

_Atha Yuka :

Makasih…hehe.. buat jempolnya..^^

Review lag yach..^^

_Ori :

Kenapa review chap 1?

Nie dah q update, review lag yach^^

_Misa Miyano :

Terima kasih banyak atas dukungan juga kata-kata semangatnya..^^

_Rara-chand :

Akhirnya bisa review juga, Rara..^^

Sama-sama… review lag yach..^^

_Ran Uchiha :

Yupz. Yang rambut merah itu Karin.

Eits… ada loch fans Karin… *nunjuk diri sendiri dan seseorang*

Review lag yach..^^

Sebelumnya aku minta maaf karena update'annya yang lama. Karena Saya Hiatus sementara karena mau menjelang ujian penaikan kelas. Dan alhmdulilah Saya naik ke kelas 3 SMA dengan nilai bagus… juga dapat mempertahankan peringkat satu Saya di kelas.

Ok… Saya minta reviewnya dari readers seklian karena review dari kalian merupakan alat penyemangat buat aku meneruskan fic ini. Dan untuk Rara makasih atas sumbangan idenya.^^

Salam manis, Miko-chan^^

REVIEWS