Dia... begitu ceria dan selalu tersenyum

Dia... begitu tegar dan selalu optimis

Dia... begitu membuatku ingin selalu dengannya

Dia... bagaikan cahaya hidupku, tapi...

Dia... begitu menderita karenanya

Dia... akan kulindungi bagaimana pun caranya...

Aisaretai

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuNaru

Rate : T

Warning : Typo(s), abal, gaje, AU, shounen-ai, OOC, dll.

Gaara POV

Kau pergi kemana Naruto? Aku khawatir padamu..

Drrtt... ddrtt..

'Ah... handphoneku bergetar. Ada telepon? Siapa?'

Aku pun segera meminta izin ke kamar mandi, padahal sebenarnya aku ingin mengangkat telepon ini. Kulangkahkan kakiku keluar dan menutup pintu kelas. Saat kulihat siapa yang menelpon, terdapat sebuah nama yang membuatku segera mengangkatnya. Naruto.

"Halo, Naruto! Kau dimana? Kau tidak apa-apa? Kenapa kau pulang begitu saja? Kau tahu, aku sangat khawatir padamu," tanyaku bertubi-tubi setelah mengangkat telepon itu.

Kemudian terdengar suara dari telepon itu,

"Maaf... tapi apa kau ini temannya Naruto?" tanya suara tak dikenal pada telepon itu.

"Siapa kau? Iya, aku ini sahabatnya. Kenapa handphone Naruto ada padamu?" tanyaku sedikit berteriak.

"Aku dokter Itachi dari rumah sakit konoha. Temanmu saat ini sedang dirawat karena dia tiba-tiba saja tak sadarkan diri saat menyebrang jalan dan tertabrak mob-"

"Apa? Naruto tertabrak? Aku akan segera ke sana!" ucapku memotongnya dan langsung memutuskan hubungan telepon itu. Dengan bergegas aku memasuki kelas.

'Naruto... kumohon kau tak terluka parah'

End Gaara POV

Sasuke POV

Brraakk...

Suara pintu kelas yang dibuka dengan kasar itu sangat mengganggu. Kulihat Gaara mengambil tasnya dan menarik Kiba.

"Gaara! Kiba! Kalian ingin kemana? Sekarang masih jam pelajaran sekolah," tanya Kakashi-sensei.

"Naruto kecelakaan dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit konoha. Kami akan segera ke sana," jawab Gaara.

"Apa? Naruto kecelakaan? Ayo kita harus segera menemuinya!" teriak Kiba yang langsung menarik Gaara pergi.

'Naruto kecelakaan? Tapi tadi masih ceria walau yah... tadi aku sedikit membuatnya sedih karena insiden jus tomat itu. Sedikit? Tidak mungkin, pasti kejadian tadi sangat menyakiti dirinya. Arghh... dasar aku ini bodoh! Padahal aku juga menginginkan jus itu. Gengsi? Ayolah, apa kegengsian aka membahagiakanku? Sial! Apa yang seharusnya kulakukan?' pikirku yang saat ini hanya berharap semoga ia baik-baik saja.

End Sasuke POV

Normal POV

"Dimana kamar Naruto Uzumaki? Dia baru dirawat pada hari ini," tanya Gaara pada resepsionis rumah sakit itu.

"Tunggu sebentar... kamar Tuan Uzumaki, hari ini ya... um.. ah, ini dia, lantai 5 kamar nomor 502," jawab sang resepsionis.

"Terima Kasih, ayo Kiba!"

Mereka pun segera menuju lift. Sesampainya dilantai 5, mereka segera melesat masuk ke kamar bernomorkan 502.

"Naruto... apa kau baik-baik sa-"

"Nya.. ha...ha...ha... ha.. setelah meminum susu basi itu, siangnya perutku sakit sekali. Aku terus pergi ke kamar mandi. Tapi karena melihat wc sekolah yang err... tak layak itu, akhirnya aku jadi harus pulang ke rumah dulu," cerita Naruto dengan tertawa riang.

"Kau itu ada-ada saja, Naruto. Tapi sebaiknya kau habiskan makananmu dulu," ucap sesosok pria yang seperti seorang dokter itu sambil mengusap pipi Naruto yang penuh akan sisa makanan.

"Naruto..." ucap Gaara membuat dua orang yang sedang asik itu menoleh menatap Gaara dan Kiba.

"Gaara! Kiba! Kalian menjengukku? Aku senang sekali, ayo kemar... uhuk.. uhuk.." ucap Naruto terputus karena batuk.

"Sudah kukatakan, habiskan dulu makananmu, sekarang kau jadi tersedakkan," ucap pria itu menepuk-nepuk punggung Naruto.

"Uhuk.. uhukk.. terima kasih, Itachi-nii," ucap Naruto pada pria itu.

"Naruto... apa kau baik-baik saja? Kepalamu tidak bocor 'kan? Tanganmu tidak patah? Kakimu masih menempelkan? Apa kau kekurangan darah? Apa.."

"Gaara!" teriak Naruto melihat tingkah Gaara yang terus memastikan seluruh tubuh Naruto baik-baik saja.

"Ah.. Naruto... maaf, tapi kau tidak apa-apa 'kan?" tanya Gaara yang tampaknya sudah menenangkan dirinya sendiri.

"Aku tidak apa-apa Gaara dan maaf tadi aku membentakmu," ucap Naruto dengan tersenyum lembut.

"Hua.. Naruto! Kenapa dengan kaki kananmu itu?" teriak Gaara.

"Kaki Naruto hanya mengalami patah tulang ringan. Sebulan lagi dia juga sudah diperbolehkan pulang," ucap pria itu.

"Hm.. kau siapa?" tanya Kiba.

"Ah, Kiba, Gaara, kenalkan, ini Dr. Itachi yang akan terus mengawasiku dan dia juga orang yang menyelamatkanku. Kalau tak ada dia mungkin aku tidak ada disini," jelas Naruto yang suaranya semakin pelan.

"Aku Sabaku no Gaara, salam kenal"

"Aku Inuzuka Kiba, senang berkenalan dengamu dan terima kasih sudah menolong temanku yang bodoh ini," jelas Kiba dengan menjitak kepala Naruto.

"Adu, duh... Kiba, sakit tahu!"

"Tapi Naruto, kenapa kau bisa pingsan saat itu?" tanya Gaara.

"Ah.. itu, hehehehe, itu karena aku sangat lapar hingga tak punya tenaga untuk berjalan lagi dan akhirnya jadi seperti ini deh," jawab Naruto dengan tertawa.

"Ini semua gara-gara si sialan itu. Sudah kukatakan 'kan, tapi kau tetap saja membelikan jus tomat itu untuknya dan dengan semua uang jajanmu sehingga kau jadi harus menahan rasa laparmu itu. Kau itu memang kelewat baik, Naruto," ucap Kiba.

"Benar kata Kiba, sebaiknya kau jangan dekati dia. Dia itu tak punya perasaan Naruto. Aku tak akan membiarkan orang seperti dia berada di dekatmu, aku janji," icap Gaara mengelus lembut rambut pirang Naruto.

"Hm.. maaf, tapi apa aku boleh tahu siapa yang sedang kalian bicarakan saat ini?" tanya Itachi.

"Ah... kami sedang membicarakan Uchiha Sasuke, dia itu sangat menyebalkan, berhati dingin, tak punya perasaan, kejam dan suka seenaknya saja. Bahkan dia mengatakan jus yang dibeli Naruto itu sampah. Dia benar-benar membuatku ingin memukulnya hingga wajah tampan kebanggaannya itu jadi membiru, " jelas Kiba kesal.

"Bukan hanya kali ini. Selama berteman dengannya, terlalu banyak kepedihan yang diterima Naruto. Tapi Naruto..." ucap Gaara.

"Sampah ya..." ucap Naruto yang langsung membuat suasana menjadi hening.

"Sudahlah Kiba, Gaara, kalian tidak perlu memikirkan hal seperti itu. Lagipula aku sudah memutuskan untuk menyerah membuatnya suka denganku. Ha ha ha, mana mau seorang Sasuke menyukaiku 'kan? Dan bodohnya lagi... kenapa aku baru menyadarinya saat ini. Aku... benar-benar sangatlah bodoh..." ucap Naruto.

"Naruto..."

"Ada apa Itachi-nii?" tanya Naruto kepada Itachi yang terlihat sedikit menyesal.

"Naruto, aku minta maaf bila adikku seperti itu. Aku sebagai kakaknya sangat menyesal akan tindakkan adikku itu padamu, sekali lagi aku minta maaf," ucap Itachi dengan menundukkan badannya.

"Adik? Kakak? Jadi kau itu kakaknya Sasuke-teme?" tanya Naruto.

"Iya, aku minta maaf," jawab Itachi.

"Itachi-nii tidak perlu minta maaf, ini bukan salah Itachi-nii," ucap Naruto dengan memeluk hangat wajah Itachi.

"Terima kasih,"

Kemudian setelah itu, Itachi pergi karena harus mengurus pasien yg lain. Mereka pun asik berbincang-bincang hingga sore menjelang. Setelahnya mereka pulang meninggalkan Naruto.

"Naruto... jangan bersedih dan lupakanlah dia, aku pulang dulu," ucap Gaara yang kemudian menutup pintu perlahan.

"Melupakannya... sepertinya itu akan menjadi hal yang... sangat sulit bagiku," lirih Naruto pada dirinya sendiri tak menghiraukan air yang mengalir dipipinya. Ya... dia menangis. Menangis sedih, sendiri di ruangan itu. Ia... sudah tak tahu harus apa lagi.

Sudah hampir satu bulan sejak Naruto dirawat di rumah sakit. Kiba dan Gaara setiap harinya selalu menjenguk Naruto walaupun hanya sebentar. Selama itu waktu, Naruto selalu menghabiskan waktunya bersama Itachi yang selalu menghiburnya dan mengajari pelajaran sekolah Naruto.

Itachi POV

"Ne, Itachi-nii, apa jawabanku ini benar?" tanya Naruto.

"Iya benar,"

"Asik!" ucapnya ceria.

Sejak bersama dengannya hari-hariku menjadi lebih berwarna. Aku sangat senang dengan sorot matanya yang sudah mulai bercahaya kembali itu. Tidak seperti waktu itu. Ya... sewaktu tanpa sengaja aku memperhatikannya yang terus saja berjalan tanpa tujuan dengan tatapan kosong.

Tatapan matanya saat itu memancarkan kepedihan yang mendalam. Tanpa sadar aku terus memperhatikan sosok itu. Entah mengapa melihatnya saat itu membuatku ingin menghampirinya dan memeluknya dengan erat. Ingin sekali kubuat mata itu bersinar.

Dan hal itu terjadi, mata itu sekarang memancarkan sinarnya. Aku tak akan membuatnya bersedih lagi. Aku akan menghukum orang yang sudah menyakitinya sekalipun orang itu adalah adikku sendiri.

"Itachi-nii, aku sangat senang kau sangatlah baik. Tidak sepertinya, dirinya yang selalu menyakitiku ini. Aku... sangat senang bisa mengenalmu, Itachi-nii," ucap Naruto dengan tersenyum hangat padaku.

"Seharusnya aku yang berterima kasih padamu. Karenamu kehidupan terasa lebih menyenangkan dan hangat. Terima kasih ya, Naruto," ucap Itachi mengelus pelan rambut pirang Natuo.

"He he he, siapa dulu, Naruto.." ucapnya bangga.

Aku hanya bisa tertawa melihatnya. Naruto... aku tak akan melepasmu.

End Itachi POV

Normal POV

Di kamar bernomorkan 502 itu tampak dua orang sedang berbincang dengan asiknya.

"Naruto... mungkin kau akan terkejut mendengar hal ini," ucap Itachi.

"Kau ingin memberitahuku apa? Jangan-jangan ternyata hidupku hanya tinggal sehari lagi? Huee... aku tidak mau," rengek Naruto.

"Itu tidak mungkin Naruto..."

"Kalau begitu... apa?" tanya Naruto sedikit memiringkan kepalanya.

'Imut... aku ingin memeluknya,' pikir Itachi.

"Naruto, mungkin ini terlalu cepat. Tapi... apa kau mau menjadi kekasihku?" tanya Itachi langsung to the point.

"Hah? Ke.. kekasih? Aku pasti salah dengarkan?" tanya Naruto gugup.

"Tidak Naruto, aku serius. Aku tunggu jawabanmu ya," ucap Itachi yang kemudian mengecup lembut bibir merah milik Naruto yang tak disangka-sangka ternyata sangatlah manis.

Kkrraakk...

'Suara apa itu?' pikir Itachi.

"Kalau begitu aku permisi dulu ya, Naruto," ucap Itachi meninggalkan Naruto yang sedang mematung dengan wajah merahnya yang lucu itu.

Ketika Itachi membuka pintu, terlihat beberapa serpihan kecil seperti suatu benda baru saja di hancurkan. Ketika melirik ke arah tempat sampah, disana tergelataklah handphone tak bersalah yang sudah tak jelas bentuknya itu.

'Tadi ada orang disini? Siapa?' pikir Itachi.

Skip Time

Di rumah Itachi dan Sasuke.

"Baru pulang, Itachi?" tanya Sasuke pada Itachi yang baru saja masuk ke ruang keluarga.

"Iya... tadi merawat beberapa pasien dulu," jawab Itachi tersenyum.

"Hm.. merawat pasien ya. Kukira kau habis mengencani pasienmu," ucap Sasuke dengan meminum jus tomat digelasnya.

"Apa maksudmu? Dan sopanlah sedikit pada kakakmu ini, Otouto,"

"Naruto... kau habis 'mencium' Naruto 'kan?" tanya Sasuke dengan memberikan penekanan.

'Jadi yang tadi itu Sasuke,' pikir Itachi.

"Sebaiknya kau segera membeli handphone baru. Nanti Ibu akan susah bila ingin menghubungimu, Sasuke," Ucap Itachi dengan menuangkan air putih ke gelas miliknya.

"Jangan mengalihkan pembicaraan!" ucap Sasuke dengan menaruh kencang gelasnya ke atas meja.

"Iya, aku 'menciumnya',"

Kemudian keadaanpun menjadi hening.

"Jangan sentuh... jangan berani kau menyentuh Naruto!" perintah Sasuke.

"Atas hak apa kau memerintahkanku seperti itu. Dan akan aku beritahu, aku ini memang selalu mengalah padamu, Otouto. Tapi kalau menyangkut Naruto, aku tak akan memberikannya padamu. Dia itu akan menjadi mi-lik-ku," ucap Itachi.

"Tapi..."

"Kau sendiri sudah menyakitinya 'kan? Jadi kuharap sekarang kau menjauhlah darinya, Sasuke,"

Mendengar ucapan Itachi Sasuke sedikit terdiam.

"Walaupun begitu, aku tak akan membiarkanmu Itachi,"

"Sama denganmu, Otouto,"

Tbc

Nyahh... selesai... Hehehehe XP

Apa ceritanya buruk? Jelek? Makin ancur? Atau bagus =="?

Please review...

Terima kasih juga sudah mau membaca cerita ini ^o^