Dia... yang selalu jadi terbaik
Dia... yang selalu mendapatkan pujian
Dia... yang selalu berada diatasku
Dia... yang selalu merebut semua yang kuinginkan, tapi
Kali ini aku tak akan menyerahkannya begitu saja
Si Dobe adalah milikku
Aisaretai
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuNaru mungkin juga ItaNaru
Rate : T
Warning : Typo(s), abal, gaje, Shounen-ai, AU, OOC, dll.
Setelah sebulan berlalu, akhirnya Naruto sudah dapat bersekolah lagi. Saat memasuki kelas, semuanya menyambut Naruto dengan ceria.
"Naruto... apa kau tidak apa-apa? Kudengar dari Kiba kau tertabrak mobil, sudah sembuhkah?" tanya seorang wanita berambut pirang dikuncir dengan poni menutup sebelah matanya.
"Tentu saja. Aku sudah kok sembuh, Ino," jawab Naruto semangat.
"Senang bisa melihatmu kembali masuk Naruto," ucap Gaara dengan tersenyum.
"Sekarang teman bercandaku sudah kembali," teriak Kiba senang dengan memeluk erat Naruto.
"Ki, Kiba... se- sesak..." ucap Naruto yang tampaknya kehabisan nafas karena Kiba.
Semua tampak senang dengan kehadiran Naruto. Canda tawa menghampiri Naruto. Memang, kelas tanpa keberadaan Naruto itu rasanya sangatlah sepi. Karena tak ada orang berisik lagi selain dia di kelas itu. Tapi satu sosok pemuda tampaknya tak mempedulikan hal itu dan terus saja berkutat dengan handphone barunya.
Tidak lama kemudian, bel masuk pun berbunyi. Semuanya kembali ke tempat duduk masing-masing di susul dengan Iruka-sensei sang wali kelas memasuki kelas.
"Anak-anak, hari ini kita akan mengacak lagi tempat duduk kalian," ucap Iruka-sensei yang kemudian menaruh sebuah kotak di atas meja guru.
"Masing-masing dari kalian ambilah nomor yang sudah diacak didalam kotak ini, dan duduklah menurut angka yang sesuai dengan urutan tempat duduk ini," ucap Iruka-sensei dengan menempel kertas bergambarkan urutan tempat duduk di papan tulis.
Anak-anak pun mulai mengambil nomor yang ada di kotak itu. Setelahnya tampak berbagai wajah dari para siswa dikelas Naruto. Mulai dari bahagia, sedih, lesu, diam dan biasa saja. Wajah-wajah itu tercampur dalam satu ruang kelas seperti gado-gado. Hah? Lupakan saja! Dan sekarang kita lihat bagaimana dengan giliran Naruto.
'Semoga mendapatkan tempat duduk yang bagus,' harap Naruto dengan semangat masa mudanya.
Dan ketika mengambilnya, terteralah nomor pada kertas itu.
'Nomor 23? Berarti dibangku... '
"Yatta! Aku mendapatkan bangku yang bagus sekali," teriak Naruto senang.
"Memangnya kau dapat tempat duduk yang mana? 23? Wah... kau dapat bangku pojok belakang dekat jendela yang sangat menyenangkan itu? Aku iri denganmu Naruto," ucap Kiba dengan lesuh.
"Memang kau dapat sebelah mana?" tanya Naruto.
"Dia duduk di sebelahku, bangku kami tepat berada di depan meja guru," jawab Gaara.
"Hahahaha, malang sekali nasibmu Kiba, tapi aku sebenarnya ingin duduk didekat kalian, tapi jika kalian tidak di depan meja guru..." ucap Naruto.
"Baiklah, lekaslah kalian ke tempat duduk kalian yang baru agar kita bisa segera memulai pelajaran," ucap Iruka-sensei.
Setelahnya semua kembali ke tempat duduknya. Naruto pun melangkahkan kaki ke tempat duduknya yang baru itu. Dengan cepat Naruto merebahkan kepalanya diatas meja dengan menghadap ke jendela. Dipandangnya langit yang secerah matanya itu, sayup-sayup terdengar suara anak-anak kelas lain yang sedang olah raga pagi. Hari baik yang pantas dilalui hal baik pula.
'Langitnya cerah... huaah... membuatku mengantuk saja,' pikir Naruto yang sudah mengantuk di mejanya itu.
Beberapa saat kemudian terdengar sesuatu yang tampaknya seseorang baru saja duduk di sebelah Naruto. Namun Naruto tak mempedulikannya. Ia sudah terlalu asik dengan khayalannya yang sedang memakan ramen hingga 10 porsi. Sampai sesuatu terjatuh dan menyentuh kaki Naruto.
'Hm.. pensil?' pikir Naruto hendak memungut pensil itu.
Namun terhenti ketika sebuah tangan putih sudah lebih dulu mengambil pensil itu. Dan ketika melihat sang pemilik pensil itu. Naruto begitu terkejut. 'Sasuke!'. Hanya satu nama memang, tapi mampu membuat Naruto membeku diam bagai patung tak berkutik.
"Jadi kau teme, yang duduk disebelahku? Aku tak menyangka," ucap Naruto memulai perbincangan.
"Hn,"
Kemudian keadaan pun kembali hening sehening kuburan (o.O)? namun keheningan itu luluh saat seseorang memulai kembali pembicaraan,
"Teme, apa benar Dr. Uchiha Itachi itu kakakmu?" tanya Naruto.
"Hn, kenapa?"
"Ah... aku hanya ingin titip salam terima kasih, karena Itachi-nii sudah mau merawatku dengan baik saat dirumah sakit, bolehkah? Tapi keluargamu hebat-hebat ya," Ucap Naruto dengan tersenyum menatap Sasuke yang tak sedetik pun menoleh ke arah Naruto.
"Hn,"
"Kau itu, benar-benar menyebalkan teme. Tidak seperti kakakmu. Dia begitu baik hati, ramah dan... pokoknya lebih baik darimu. Kasihan Itachi-nii, harus denganmu yang pelit bicara," jelas Naruto.
"Kalau begitu kau temani saja dia," jawab Sasuke.
"Maunya sih, begitu? Tapi dia itu 'kan dokter? Sedangkan aku ini masih anak SMA yang perlu belajar, bagaimana caranya coba?" tanya Naruto.
"Pacari saja,"
"Pa, pacari? Kau bercanda Sasuke? Mana mungkin..." ucap Naruto gugup.
"Dia sudah menembakmu, kau terima saja,"
"Hihihihi kau bisa saja bercandanya Teme," ucap Naruto tertawa kecil.
"Aku serius. Kau pikir aku tak tahu kakakku menembakmu sewaktu kau masih dirawat itu, hah?"
"Darimana kau tahu hal itu? Apa Itachi-nii cerita denganmu?" tanya Naruto dengan wajah yang mulai memerah.
"Bukan urusanmu aku tahu darimana, tapi aku tak menyangka Naruto. Kau tidak bisa mendekatiku dan sekarang kau mendekati kakakku. Jangan pura-pura polos Naruto," ucap Sasuke dengan membalik halaman yang sudah dibacanya.
"Apa maksudmu itu?"
"Kau menggoda kakakku 'kan?"
Brrakk...
"Naruto! Kenapa menggebrak mejamu? Apa ada sesuatu?" tanya Iruka-sensei.
"Maaf Iruka-sensei, tadi ada kecoak," ucap Naruto yang kemudian duduk kembali.
Naruto pun menatap tajam Sasuke yang tampaknya tak peduli sama sekali itu.
"Aku sama sekali tak 'menggoda' kakakmu, Sasuke!" ucap Naruto dengan memberi penekanan.
"Mana mungkin kau tak menggodanya. Buktinya dia sampai menciummu 'kan? Akui saja, kau mengincar uang keluargaku 'kan?" tanya Sasuke menutup bukunya.
"Jadi maksudmu, aku ini orang 'murahan' yang hanya mengincar 'uang'mu? Sasuke... apa benar kau berpikir seperti itu?" tanya Naruto dengan sedikit lirih.
"Ya"
Mendengar jawaban itu tubuh Naruto bergetar.
"Aku tak menyangka. Kau... jadi selama ini aku dimatamu seperti itu? Kita sudah lama berteman, tapi... kenapa kau seperti ini... kenapa?"
"Karena aku tak menyukaimu. Aku benci denganmu yang selalu saja berisik dan menggangguku. Kau hanya membuatku muak!"
Keadaan pun hening.
"Kenapa...? kenapa kau... aku selalu berbuat baik padamu Sasuke... Tapi apa balasannya? Dimatamu aku hanyalah murahan, sampah dan hanya membuatmu muak," ucap Naruto dengan bulir-bulir air membasahi pipinya.
Menangis. Hanya satu kata namun sudah menggambarkan betapa sedih dan sakitnya ia saat ini. Ia sudah benar-benar tak tahu harus berbuat apa lagi.
Melihat Naruto menangis, Sasuke hanya membatu. Ia tak menyangka jika reaksi Naruto akan seperti ini. Ia tak akan menyangka kata-katanya dapat membuatnya... menangis.
"Aku... menyukaimu,"
Sasuke menatap lurus Naruto yang saat ini sedang menangis.
'Apa yang tadi dikatakan oleh si Dobe ini? Suka? Naruto menyukaiku?' pikir Sasuke.
"Aku sangat... menyukaimu. Ah, bukan, bukan suka. Tapi... cinta, aku sangat mencintai kau yang selalu saja membuatku sedih ini. Aku... cinta padamu, Sasuke,"
"Naruto..."
"Tapi... itu dulu,"
"A-ap.."
"Sejak kejadian jus itu, aku sudah memutuskan untuk menyerah menyukaimu. Aku ... sudah lelah."
Mendengar hal itu Sasuke terus terdiam.
"Ha ha ha, aku tak menyangka keputusanku ini benar. Aku ini bedar-benar Dobe, Sasuke. Kenapa tidak sejak dulu saja aku melupakanmu? Dan sekarang aku malah lebih berharap kita tidak pernah bertemu saja, itu lebih... baik. Hahaha, sudahlah, lupakan saja pembicaraan ini? Anggap saja kau tak pernah bertemu denganku," ucap Naruto dengan sedikit tertawa sedih mengusap air matanya.
Kemudian Naruto pun mengangkat tangannya.
"Ada apa, Naruto?" tanya Iruka-sensei.
"Apa aku boleh pindah tempat duduk? Disini aku tak bisa melihat papan tulis dengan jelas, Iruka-sensei," jawab Naruto.
"Kalau begitu tukar denganku saja!" teriak Sakura semangat yang saat ini duduk dibangku pojok depan dekat pintu yang jaraknya sangat jauh dari tempat duduknya sekarang ini.
"Baiklah,"
Setelah itu Naruto segera mengambil tasnya dan melangkah pergi.
'Padahal kuharap... hari ini akan jadi hari yang menyenangkan. Aku ini memang selalu saja menderita...'
Tbc
Hue.. dah jadi lagi...
cerita waktu Naruto nembak itu sedikit pengalamanku loh.. heheh
#plaakk ga ada yang nanya ya, ==a
Makin buruk? Ancur? Gak jelas? Atau bagus o.O?
Please Review...
Terima kasih juga sudah mau membaca cerita ini,
Saran dan kritik yang membantu diterima dengan senang hati...
