Discalimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance/Fantasy
Rated : T
Pair : SasuSakuNeji
Warning : OOC, AU, GaJe
##My Lovely Angel##
Cuaca pada pagi hari ini sangatlah cerah dan juga bersahabat. Udara yang hangat membuat kebanyakan orang menghabiskan waktu pagi menjelang siang mereka dengan jalan-jalan menuju taman, atau sekedar menghangatkan badan mereka.
Langit yang cerah, awan yang berarak dengan pelannya, udara yang sejuk, suara kicauan burung yang terbang bermain di atas langit sana bagaikan sebuah harmoni yang indah dan selaras. Semua orang memulai aktivitas mereka masing-masing dengan sebuah kendaraan pribadi yang mereka kendarai.
Tak beda dengan kehadiran dan alasan seorang gadis berambut merah muda yang tengah duduk manis di dalam sebuah mobil BMW abu-abu. Bagian kaca di samping tempat duduk dirinya terbuka sedikit, membuat terpaan udara sejuk memasuki mobil itu dan menggerakan sedikit poni depannya. Kedua mata sewarna dengan batu giok itu mengerling sebuah bungkusan, berbentuk kotak dengan agak tinggi yang di tutupi oleh sebuh kain kecil bermotif bunga anyelir dengan warna dasar dari kain itu adalah warna indigo di atas pangkuannya.
Sakura tersenyum lembut melihat warna kain itu yang seperti warna rambut Hinata. Seorang gadis berparas manis dan sangat cantik seperti malaikat halnya dirinya. Namun, sangat di sayangkan gadis manis dan berhati lembut itu memiliki sebuh kekuarangan yang membuatnya berbeda dari manusia yang lain.
Senyuman di bibir Sakura memudar di ganti dengan raut wajah sedih dan juga menyesal, kedua mata emeraldnya terlihat sangat sendu. Sakura mengalihkan pandangannya ke atas langit cerah lewat celah kaca jendelanya. "Jika saja kalungku tidak hilang. Maka kau pasti akan ku sembuhkan, Hinata," batinnya dan tersenyum miris.
"Sebentar lagi kita akan sampai," ucap Ibiki yang memegang stir kemudi di depan Sakura. Dia mengerling sosok Sakura lewat kaca di atas kepalanya. Dia merasakan sedikit keanehan mengenai cara bicara atau tingkah laku Sakura karena entah kenapa sedikit berbeda dari pada orang yang pernah di temuinya selama ini.
Sakura mengalihkan pandangan matanya yang semula tertuju pada langit ke arah sosok tegap Ibiki di depannya. "Apa Anda sudah bekerja lama di keluarga Hyuuga?" tanya Sakura tiba-tiba membuat Ibiki menyerngitkan kedua alisnya tanda bingung sekaligus terkejut.
"Sejak Tuan Muda Neji dan Nona Hinata masih bayi," jawab Ibiki.
"Jika seperti itu apakah Anda juga tahu mengenai penyakit yang di derita oleh Hinata?
"Ya. Tentu saja."
"Sejak dari kapan Hinata sudah sakit seperti itu?"
Ibiki terdiam sebentar memandang sosok Sakura lewat kaca di depannya, terdengar sebuah helaan nafas yang keluar dari mulut Ibiki sebelum dia menjawab pertanyaan Sakura. "Sejak Nona Hinata berumur 10 tahun."
"Begitu." Sakura menundukan kepalanya dan membuat poni depannya sedikit menutupi kelopak matanya.
"Pada saat ulang tahun Nona Hinata yang ke-10.." Ibiki memulai ucapanya dan membuat Sakura mendongakan kepalanya karena penasaran akan kelanjutan sebuah cerita yang miris yang akan dia dengarkan.
"… tepat saat dia akan memotong kue ulang tahun di antara puluhan temannya, Nona Hinata tiba-tiba saja menjatuhkan pisau beserta kue ulang tahun yang akan dia serahkan pada Ayahnya. Nona Hinata memegang bagian depan dadanya dengan erat, dan sebuah erangan kesakitan keluar dari mulutnya.
Semua orang yang berada di sana panik terlebih Ayahnya. Dan pada akhirnya Nona Hinata dibawa ke Rumah Sakit. Acara ulang tahun itu gagal dan hancur berantakan, sejak saat itu tidak ada lagi acara peringatan ulang tahun yang pernah di rayakan kembali." Ibiki mengakhiri cerita singkatnya mengenai masa lalu buruk Hinata yang sangat berat dan kelam.
"Apakah tidak berusaha diobati?" tanya Sakura.
Ibiki menggeleng dan menutup kedua matanya sebentar,"Sampai saat ini belum ada donor jantung yang cocok untuk Nona Hinata."
Ibiki kembali menghela nafas kembali,"Namun dulu, ada donor jantung yang tepat untuk Nona Hinata, tetapi takdir berkehendak lain."
"…"
Sakura menatap wajah Ibiki dengan dahi berkerut. Sudah cukup menandakan bahwa dia ingin mendengarkan penjelasan Ibiki selanjutnya.
"Mobil ambulans yang membawa donor jantung satu-satunya yang cocok dengan Nona Hinata itu, mengalami sebuah kecelakaan,"ucap Ibiki,"dan jantung itu rusak-hancur tak berbentuk karena terlempar keluar dari mobil dan terlindas ban mobil yang lewat."
Miris.
Kejadian yang membuat keluarga Hyuuga mengalami kekecewaan yang sangat besar, terlebih Hinata yang merasa jika dirinya tidak ada kesempatan untuk hidup lagi. Namun, berkat dukungan Ayah, adiknya yang paling kecil, kakaknya yang sangat overprotective kepadanya, juga kehadiran seseorang yang membuatnya selalu bersemangat, dan tentu juga dukungan teman-temanya yang mengetahui perihal penyakit yang dideritanya. Dengan perlahan Hinata mulai bangkit kembali, semangatnya untuk hidup semakin bertambah daripada sebelumnya. Dan sekarang ini dia sedang menjalani sebuah semacam terapy dan menunggu donor jantung yang tepat untuknya kembali.
"Aku ingin Hinata segera sembuh, oleh karena itu aku harus menemukan kalungku terlebih dahulu. Hal itu sekarang prioritas utama bagiku, kesembuhan Hinata merupakan prioritas utama," pikir Sakura keras dan menegaskan kembali ucapannya.
"Semoga saja ada sebuh keajaiban dari Tuhan atas kesembuhan Nona Hinata," ucap Ibiki kemudian.
"Semoga.." timpal Sakura.
.
.
.
Sedikit sepi.
Koridor panjang kelas di sebuah Sekolah Menengah Atas itu nampak cukup sepi dan lengang. Tak ada banyak orang yang berlalu lalang di dalam lorong panjang itu. Jika ditanyakan mengapa? Alasannya karena tinggal sekitar 10 menit lagi bel masuk sekolah megah itu akan bersenandung riang dan juga menyebalkan, bagi sebagian orang tentunya yang tidak menyukai pelajaran pertama yang akan mereka hadapi. Mungkin sepertiga murid di sana sudah masuk ke dalam kelas mereka masing-masing.
Namun, ada juga sebagian orang yang masih menikmati obrolan hangat mereka di depan kelas, di koridor sambil berdiri, atau pun di depan pintu loker yang tentunya bukan milik mereka sendiri. Sedikitnya membuat koridor itu nampak terlihat hidup dan terdengar berbagai jenis suara.
Beberapa topic obrolan yang tentunya biasa-biasa saja seperti; bagaimana kalian membunuh waktu di akhir pekan? Atau, bagaimana acara kencan kalian? Atau pun, membicarakan model pakaian yang sekarang tengah trend di kalangan para murid, yang di peruntukan bagi para murid siswi. Of course, it is impossible for boy to talk about trivial things like that for them.
Kira-kira hal membosankan seperti itulah yang tertancap oleh indera pendengaran gadis manis berambut darah itu. Rambut panjangnya yang diikat kuncir kuda bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti gerakan pelan pemiliknya. Sekilas wajah yang berhiaskan kaca mata berwarna merah itu terlihat angkuh dan dingin. Kedua matanya yang sewarna dengan batuan rubby menjelajahi koridor kelas berharap menemukan kepala seorang gadis lugu berambut indigo yang juga sedang mengobrol dengan teman-temanya yang lain.
Nihil.
Gadis berambut sewarna dengan darah itu itu tak menemukan sosok gadis yang dicarinya itu di koridor kelas. Sehingga dia memutuskan untuk mendekati segerombolan anak perempuan yang merupakan teman satu kelasnya juga yang tengah mengobrol di depan sebuah papan mading sekolah.
Ditepuknya bahu salah satu teman perempuannya itu. "Hei… lihat Hinata tidak?" tanyanya agak terdengar dingin.
Seorang anak perempuan yang ditepuk bahunya itu menampakan wajah tak suka pada orang yang sedang bertanya padanya itu. Dengan sedikit kasar dia menepis tangan yang masih bertengger di pundaknya. "Tidak tahu. Dan jangan pernah menyentuhku dengan tanganmu itu, Karin," jawabnya ketus.
Kedua anak perempuan yang berada di dekat gadis itu hanya tersenyum menyeringai, lebih tepatnya mengejek dan berpandangan sinis pada sosok berambut merah yang dipanggil Karin itu.
Belum sempat Karin membalas ucapan ketiga perempuan itu, mereka sudah terlebih dahulu meninggalkannya, masuk ke dalam kelas mereka dan menggerutu tak jelas. Entah apa itu Karin merasa tak peduli. Namun, tak dapat dicegah kini kedua mata ruby itu memicing benci melihat punggung ketiga anak perempuan itu. Bibirnya mengerucut kesal dan kedua tangannya mengepal erat di kedua samping tubuhnya. Wajahnya sedikit memerah karena menahan amarah yang bisa-bisa saja meluap kapan saja dan di mana saja, tak pilih-pilih tempat dan tak pilih-pilih orang yang akan menjadi tempat pelampiasannya.
"Isshhh! Menyebalkan sekali mereka. Ingin rasanya ku rusak wajah sok cantiknya itu," ancam Karin di dalam hatinya.
Dan pada akhirnya Karin dengan sedikit kesal berbalik arah menuju pintu gerbang berharap menemukan gadis berambut indigo itu. Pikirnya mungkin gadis itu sedikit terlambat datang ke sekolah. Dan, bingo. Pikirannya itu sangat tepat. Gadis berambut indigo yang dicari-carinya itu baru saja memasuki pintu ganda sekolah itu. Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki tampan dan gagah berambut coklat.
Sekilas mereka mendapatkan tatapan murid-murid lainnya yang beragam-ragam. Ada yang nampak suka dan ada yang nampak tak suka dengan kata lain benci.
Secepat yang dia bisa Karin berjalan tergesa-gesa mendekati kedua sosok itu. Kedua sol sepatu hitamnya menggema di koridor kelas yang lumayan sepi. Dan amarahnya yang tadi sempat akan meluap hilang begitu saja ketika menemukan sosok yang dicarinya. Lenyap tak berbekas. Bias dilihat bahwa kini di bibirnya tercipta senyuman tipis.
"Hinataaa!" teriaknya sedikit keras dan berjalan tergesa-gesa menghampirinya.
Sedangkan pemilik nama itu sedikit terkejut dengan sebuah suara keras menyeruakan namanya. Seorang laki-laki berambut coklat panjang hanya menarik sedikit ujung-ujung bibirnya ketika mengetahui siapa yang berjalan mendekat pada mereka berdua.
"Hn. Kakak pergi,"ucap Neji dan berjalan ke depan. Melewati sosok Karin yang tengah berjalan terburu-buru. Namun, keduanya sempat saling tatap dan melempar senyum. Membuat dengan suksesnya menciptakan rona kemerahan tipis di pipi gadis berambut merah itu ketika berpapasan dengan kakak kandung Hinata.
"Karin?" ucap Hinata dengan nada bertanya pada sosok Karin yang kini berdiri di depanya. Sedikit heran melihat Karin tidak terlambat masuk seperti kebiasaan buruknya.
"Huh! Jangan melihatku seperti itu!" ucap Karin dan melipat kedua lengannya di perut. Wajahnya dia tengadahkan keatas nampak angkuh dan tak peduli.
"Ma-maaf.." ucap Hinata lirih dan menunduk.
Karin mengerling sosok Hinata di sampingnya dengan ekor matanya. Sejurus kemudian dia menarik sudut-sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Dengan gerakan cepat dia menarik kedua pipi Hinata berlawanan arah.
"Akh!"
"Aku bercanda. Kau tak perlu seperti itu!" ucap Karin dan melepaskan cubitannya di pipi Hinata.
Dengan gerakan perlahan Hinata mengusap pelan kedua pipinya dengan tangannya sendiri. Di kedua sudut mata lavendernya sedikit terbentuk kristal-kristal yang menumpuk.
"Aku hanya terkejut saja. Ternyata kau sekarang bisa merubah salah satu sifat burukmu itu, Karin," ucap Hinata ketika dirasanya rasa sakit di pipinya berkurang.
"Terima kasih. Ku anggap itu pujian untukku," ucap Karin dan melingkarkan kedua lengannya pada lengan Hinata dengan serta mengajaknya masuk ke dalam kelas.
"Ada satu lagi sifat burukmu yang harus kau hilangkan."
"Oh, ya? Ada lagi? Apa itu?" Tanya Karin penasaran.
"Berhenti menyubit kedua pipiku dan pipi orang lain yang kau anggap gemas untuk dicubit!" perintah Hinata.
Dan Karin nampak mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Tapi… akh, akan lebih sulit menghilangkan kebiasaan jahil seperti itu, pikir Karin keras.
##My Lovely Angel##
Bel masuk sekolah megah itu baru saja berbunyi sekitar dua menit yang lalu. Dan sesi belajar-mengajar di sekolah itu baru akan dimulai. Semua murid sudah memasuki ke masing-masing kelas mereka, dan tentunya sekarang keadaan koridor di sepanjang kelas itu nampak sangat sepi sekali.
Dan dari arah gerbang sekolah dapat terlihat sebuah mobil BMW abu-abu masuk dengan suara mesin mobilnya yang halus. Ibiki, yang menyetir mobil itu harus minta izin terlebih dahulu pada penjaga keamanan di sekolah itu untuk bisa masuk ke dalam wilayah khusus untuk golongan elit itu. Dengan perlahan Ibiki menghentikan mobilnya di tempat parkiran mobil para guru dan menghentikan jalannya mesin mobil itu ketika hendak keluar.
Dia membukakan pintu geser mobil itu untuk mempersilahkan seorang gadis cantik berambut sewarna dengan bunga sakura itu keluar dengan anggunnya.
"Terima kasih." Sakura terseyum kecil atas perlakuan Ibiki kepadanya yang seperti seorang tuan putri. Perlakuannya yang formal dan kalem itu sama persis yang sering di lakukan oleh seseorang yang sangat Sakura rindukan saat ini. Sayangnya dia tak dapat bertemu dengan seseorang karena orang itu jauh berada di atas sana.
"Perlu ku antar untuk masuk ke dalam?" Tanya Ibiki.
Sakura menggeleng,"Tidak usah. Saya bisa sendiri."
"Err… baik."
Dan di mulailah Sakura melangkahkan kaki-kakinya menjauhi mobilnya dan mendekati pintu masuk berdaun pintu nan megah itu. Namun, jaraknya yang cukup jauh dari arena parkir membuatnya harus bersabar untuk melewati halaman depan dan lapangan yang luas yang dimiliki oleh sekolah itu.
Kedua tangannya berada di depan menjinjing sebuah bungkusan. Mata gioknya menjelajahi sudut-sudut sekolah itu. Dan memandang ke atas yang memiliki banyak jendela-jendela. Sekilas dia melihat rambut merah darah yang membuatnya teringat kembali akan sosok gadis berambut merah dan berkacamata yang sepertinya memakai kalungnya.
Seketika rasa kesal dan jengkel hinggap di benak gadis berambut cherry itu. Kedua bibirnya mengerucut sebal dan dia mempercepat langkahnya untuk masuk ke dalam sekolah itu. Tak dapat dirasakannya dan tak dapat diduga ada sepasang mata onyx yang memperhatikan kehadiran gadis itu ketika melewati tengah lapangan dengan pandangan yang sulit diartikan dari atas lantai 3.
"Gadis itu.." gumam seseorang yang dari tadi memperhatikan sosok Sakura.
.
.
.
Suasana di dalam ruang kelas itu nampak sedikit ribut. Itu semua karena belum ada pengajar yang masuk ke dalam kelas mereka. Dan hal itu dimanfaatkan oleh beberapa jumlah anak baik laki-laki maupun perempuan untuk kembali bercengkrama, bersenda gurau atau bahkan ada yang membuka laptop mereka yang memang di izinkan untuk membawanya ke dalam lingkungan kelas.
Bahkan ada juga yang saling melempar ejekan, pandangan tajam, lempar-melempar gumpalan kertas. Lebih parahnya ada yang bernyanyi-nyanyi tak jelas. Lagu, nada dan notasinya pun berantakan. Jadi kedengarannya seperti teriak-teriak bagaikan 'orang yang tidak sehat'. Setidaknya berbeda dengan salah seorang di antara puluhan murid di dalam kelas itu yang hanya berdiam diri saja di pojok kelas, karena memang itulah tempat duduk yang di duduki oleh murid itu. Seorang murid siwa berwajah sangat tampan dengan mata onyx yang tajam dalam sekali lihat namun dapat juga menjadi onyx yang lembut sekaligus.
Sebelah tangannya terlipat di atas meja dan satunya lagi menopang dagunya. Kedua mata onyx-nya memandangan keluar jendela, lebih tepatnya memandang hamparan langit yang sangat luas. Rambut berwarna biru kehitam-hitaman bermodel seperti pantat ayam di bagian belakang itu bergerak-gerak karena sapuan angin dari jendela di depannya. Poninya yang menutupi jidatnya yang bisa di bilang lebar sedikit tersibak karena sapuan angin juga.
"Hei… Sasuke, jangan melamun saja!" Ingat salah seorang temannya berambut kuning seperti matahari yang berdiri tepat di sampingnya.
"Hn. Aku tidak melamun." Sasuke menjawab sekenanya tanpa melirik sedikit pun orang yang bertanya. Pasalnya dia pun juga sudah dapat menebak siapa yang bertanya kepadanya.
"Apa kau tidak merasa aneh?" Tanya orang itu kembali yang kini memilih duduk di bangku kosong di depan Sasuke. Kedua mata shappire-nya juga memandang langit cerah di luar sana.
"Hn. Apa yang aneh?" Tanya Sasuke yang pada akhirnya membuatnya menatap wajah orang di depannya.
"Sepupu Hinata. Aku lupa namanya siapa." Jawab laki-laki berambut kuning itu.
"Hn. Sakura maksudmu?"
"Akh! Benar, Sakura maksudku."
"Lalu? Apanya yang aneh dari dirinya?" Sasuke mengerutkan keningnya nampak berpikir apa yang membuat sahabatnya berpendapat aneh mengenai sosok gadis imut berambut merah jambu itu. Ups, kedua kalinya seorang Uchiha Sasuke menyebut Sakura 'gadis imut' di dalam pikirannya. Kedua sudut bibir itu terangkat sedikit berlawanan arah ketika menyebut nama Sakura.
"Jangan berpikir aku menganggapnya aneh karena warna rambutnya," ucap Naruto dan menggaruk belakang kepalanya yang memang tidak gatal atau memang laki-laki berwajah tampan berambut kuning itu merasa kepalanya gatal jadi dia garuk. Hm.
"Hn. Aku tahu itu, Naruto." Jawab Sasuke. Tetapi, memang sempat terpikir olehnya alasan sahabatnya berpendapat seperti itu mengenai Sakura karena memang ketidak biasaan warna rambutnya. Hn.
"Err.. sikapnya. Aku merasa ada sesuatu yang ganjal."
"Seperti?"
"Well… aku tidak tahu pasti kebiasaan seorang perempuan. Tapi… caranya berjalan, bersikap, bertutur kata, cara dia makan, cara dia melihat seseorang… nampak seperti putri bangsawan. Kau tahu kan maksudnya?"
"Hn. Sikapnya tergolong anggun?"
"Bingo. Coba perhatikan saja gaya bicaranya!"
"Hn." Sasuke merespon ucapan Naruto singkat dan kembali mengalihkan pandangan kedua mata onyx-nya keluar jendela. Tepat ketika sebuah kepala berambut merah muda lewat begitu saja di lapangan luas sekolanya. Kedua mata onyx-nya nampak sedikit terkejut. Apa dia tak salah lihat. Seseorang yang dari tadi dibicarakannya dengan sahabatnya itu muncul begitu saja di sekolahnya. Ada alasan apa yang membuat gadis manis itu datang ke sekolah elit ini, pikir Sasuke. "Gadis itu…" gumamnya.
Tak ingin lebih penasaran lagi akhirnya Sasuke memutuskan untuk mencari tahu secara langsung dengan bertemu dengan gadis manis itu. Segera saja dia bangkit dari duduknya dan membuat tatapan heran sahabatnya.
"Oi, Sasuke! Kau mau kemana? Aku belum selesai berbicara." Cerca Naruto dan juga mengikuti Sasuke dari belakang.
Sasuke terus saja berjalan dengan cepatnya meninggalkan jauh sahabatnya sendiri, dan dengan cepatnya berbelok di koridor sebelah kanan. Naruto yang melihatnya akan segera menyusulnya tetapi sebuah suara tegas berhasil membuatnya berhenti dan menengok horror orang yang berada di belakanya. "Gu-guru Kakashi?" tanyanya.
"Masuk ke dalam kelas, Uzumaki!"
"Ba-baik…" Dengan pasrah Naruto kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas diikuti sosok gurunya di belakang. Gerutuan tak jelas keluar dari mulutnya dan di dalam hatinya dia merengut kesal.
.
.
.
Seorang gadis berambut cherry itu kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut-sudut ruangan. Dia menaikan sebelah alisnya yang berwarna merah muda ketika dilihatnya ada sebuah benda berlogam panjang dan menjulang tinggi di sebelah kanan ketika dia masuk ke dalam sekolah itu. Benda itu banyak sekali knop pintu dan berukuran kotak-kotak kecil.
Hn. Sakura tak tahu nama benda itu di namakan loker siswa di dunia manusia. Ck.. ck.. ck..
Dan kembali Sakura merasa bingung arah mana yang akan dia tuju. Namun, di langkahkannya kedua kakinya untuk masuk lebih ke dalam lagi. Dan kedua mata emeraldnya berbinar cerah ketika melihat seseorang yang berjalan mendekat dari arah depannya. Sebuah senyuman yang teramat manis di perlihatkannya pada sosok tampan itu. "Sasuke.." gumamnya.
"Hn. Kenapa kau bisa ada di sini?" ucap Sasuke ketika sudah berada di depannya. Tak dapat dia cegah lebih lama lagi untuk tidak tersenyum lebar melihat sosok Sakura.
Gadis bernama Sakura itu tersipu malu dengan di kedua pipinya tercipta rona merah. "Ini…" ucapnya dan mengangkat bungkusan yang dari tadi dibawanya di depan.
"Bekal milik Hinata. Tertinggal di rumah," ucap Sakura cepat-cepat menambahkan ketika dilihatnya wajah bertanya Sasuke dihadapannya.
"Hn. Aku antar," ucap Sasuke dan tersenyum tipis. Dia berjalan terlebih dahulu dan disusul oleh sosok Sakura dibelakangnya.
Selama dalam perjalanan Sasuke melirik secara intens sosok gadis berambut cherry itu yang berjalan di sampingnya namun agak sedikit dibelakangnya. Sebab obrolan dengan sahabatnya itu pada akhirnya Sasuke juga ikut memperhatikan gerak-gerik Sakura. Dari cara arah pandangnya, cara berjalannya atau pun dari cara dia menjawab obrolan sekenanya yang dilontarkan Sasuke kepadanya.
Hn. Sebuah kemajuan yang luar biasa seorang Uchiha Sasuke mengajak lawan berbicaranya untuk bercengkrama pendek dengannya seperti halnya sekarang. Namun, entah kenapa Sasuke menjadi grogi seperti ini didekat Sakura. Dengan susah payah menelan ludahnya sendiri dan berusaha tidak terdengar gugup Sasuke memulai obrolannya. "Sa-Sakura?" tanyanya pelan.
"Ya?" Sakura menjawab dengan lembut dan dengan anggunnya menengokan kepalanya memandang wajah Sasuke. Kedua mata emeraldnya memandang intens kedua bola mata onyx di sampingnya.
Deg…
Sasuke meraba sendiri dadanya yang tiba-tiba berasa tersentak sesuatu. Rasanya sesak namun juga menyenangkan. Dengan gugupnya Sasuke membuka pita suaranya. "Apa… kapan-kapan kau mau jalan-jalan bersamaku lagi?"
Sakura tersenyum dengan kedua pipi merona merah seperti apel, kedua mata emeraldnya sedikit menyipit akibat sebuah senyuman yang terbentuk di bibir mungilnya. "Iya. Aku ingin sekali pergi denganmu seperti waktu itu."
Ringan.
Sasuke merasakan sebuah keringanan di dalam hatinya, kelegaan bisa mengungkapkan keinginan yang dia ingin sekali ucapkan. Rasanya seperti ada sesuatu yang terangkat di atas pundaknya dan hatinya. "Hn."
"Uhm… jadi?"
"Hn. Ada apa?"
"Dimana letak kelas Hinata?"
Jika saja tak ada Sakura di sampingnya tentu Sasuke akan langsung mengutuki dirinya dan menepuk keras jidatnya yang lebar itu karena kebodohannya sendiri. Pasalnya dia sampai lupa untuk mengantarkan Sakura ke kelas Hinata. Namun, sebenarnya mereka harus melapor dahulu pada jabatan tertinggi di sekolah itu, dengan kata lain mereka kini berjalan menuju ruangan kepala sekolah.
Sasuke berbelok di ujung koridor dan Sakura yang sedikitnya berada cukup jauh dengan Sasuke sedikit berlari kecil, karena sebenarnya Sasuke berjalan terlalu cepat. Tentu saja begitu karena bagaimana pun cara melangkah seorang laki-laki dengan perempuan jauh berbeda. Dan jadilah Sakura tertinggal lumayan jauh dari sosok Sasuke.
Dengan langkah tergesa-gesa Sakura berbelok di ujung koridor mengikuti arah Sasuke tadi berbelok. Tetapi sebuah benturan yang cukup keras yang diterima oleh Sakura dari arah depan, berhasil membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk dengan pantat terlebih dahulu menyentuh lantai koridor sekolah yang terbuat dari batu marmer. Bingkisan berisi bekal makan siang Hinata terlepas dari kedua tangannya dan berakhir di lantai koridor. Isinya tak berhamburan keluar namun hal itu berhasil membangkitkan amarah Sakura. Kedua mata emeraldnya memandang tajam sosok gadis berambut merah yang berdiri dengan angkuhnya sambil berkacak pinggang di depannya.
"Hei! Kau?" Tanya gadis berambut merah itu tajam dan dingin. Sepertinya kejadian tabrakan tadi juga berhasil membangkitkan amarahnya. Dia memandang gadis berambut merah muda yang masih duduk sambil meringis kesakitan di lantai koridor kelas itu dengan pandangan menyelidik. Kedua mata merahnya tak lepas dari kedua mata emerald yang sama-sama tengah memandangnya dengan pandangan tajam dan dingin.
"Minta maaf padaku sekarang!" ucap gadis berambut merah itu.
Dengan susah payah menahan sakit di bagian pantatnya Sakura bangkit berdiri. Dia merutuki dirinya sendiri karena kekuatan yang dimiliki ketahanan tubuhnya semakin melemah. Karena semestinya tubuh ini tidak akan jatuh dan kehilangan keseimbangan seperti tadi. "Kau yang harus minta maaf padaku. Bukan aku," ucap Sakura dan memandang tajam gadis di depannya.
Sejenak tatapan tajam kedua mata sewarna darah itu nampak goyah dan kalah akan tatapan mata emerald di depannya. Namun, sepersekian detik kemudian kembali menatap tajam. "Apa? Kau yang bersalah karena menabrak ku terlebih dahulu," balasnya tak mau kalah.
"Kau yang salah bukan aku," balas Sakura kembali yang juga tak mau kalah. Namun sedetik kemudian dia merasakan debaran jantungnya yang kuat seakan-akan bisa hancur dengan sekali kepalan.
Deg.. deg.. deg..
"Kalungku?" gumam Sakura ketika kedua mata emeraldnya bersiborok dengan leher gadis di depannya. Dengan cepat Sakura menggapai leher gadis itu dan berusaha mengambilnya.
Karin, nama gadis berambut merah itu nampak sangat terkejut. Kedua matanya terbelalak lebar mendengar gadis di hadapanya ini menyebutkan 'kalungku' dan berusaha melepaskan sebuah benda yang terlilit di lehernya. Tidak. Tidak ada yang boleh memiliki kalung ini selain aku.
"Kalung ini milikku," ucap Karin. Tak mau mengakui dan tak mau mengalah. Karin merasa entah kenapa dia menginginkan kalung ini sekarang melebihi apapun apa yang dia inginkan di dunia ini. Dengan sekuat tenaga Karin mendorong kedua bahu Sakura menjauh.
Sakura terpaku diam akan kejadian barusan. Kekuatannya benar-benar melemah, seharusnya tidak bisa seperti tadi. Tidak bisa sebegitu mudahnya dirinya dikalahkan oleh seorang manusia biasa. Maka, sekali lagi Sakura berjalan menuju gadis itu dan menarik kalungnya dari leher gadis itu.
"Akh! Sakit!" Karin berteriak kesakitan ketika kalung itu ditarik paksa dari lehernya.
"Kembalikan kalungnya! Ini milikku!" teriak Sakura.
Teriakan kedua gadis yang memiliki perbedaan warna rambut yang mencolok itu membuat ramai koridor kelas yang tadinya sepi. Suara teriakan mereka membuat gaduh di sepanjang koridor kelas itu.
Hm. Sepertinya mereka akan mengundang semua perhatian murid di sana dengan teriakan mereka.
.
.
.
"Kau tahu, Sakura? Aku senang sekali bisa mengenalmu," ucap pemuda berambut emo tanpa menengok ke belakang untuk sekedar mengetahui jika lawan bicaranya sudah tak berada di sampingnya.
"…"
"…"
"Sakura?" Dan pada akhirnya pemuda berambut emo itu melirik dengan ekor matanya tempat kosong di sampingnya berdiri.
"Kemana Sakura?" Tanya Sasuke pada dirinya sendiri, sudah jelas karena tak ada seorang pun yang bersamanya saat ini. Pemuda itu membalikan badannya dan melihat ke belakang dan tak ada seorang pun. Namun, seketika indra pendengaranya mendengar sebuah suara familiar dari ujung koridor yang tadi dia lewati. Sebuah perasaan tak enak hinggap di dalam hatinya. Berbagai asumsi buruk sudah memenuhi isi kepalanya. Dan dia merasa harus segera menuju tempat asal suara itu. Dengan dorongan itu akhirnya Sasuke berlari menyelusuri koridor kelas. Nafasnya mulai memburu, dan dadanya terasa sesak walaupun hanya berlari kecil.
Dan ketika Sasuke sudah sampai di tempat asal suara kedua mata onyxnya di suguhi oleh pemandangan yang tak biasa. Dua orang gadis yang memiliki warna rambut menyolok tengah seperti berkelahi dengan dorong mendorong tubuh lawannya. Dan berbagai umpatan kasar juga kekesalan terlontar dari gadis berambut merah. Di tambah sudah berkumpul banyak siswa maupun siswi yang melihat kejadian itu.
"Dasar perempuan gila!"
"Kembalikan padaku!"
Kedua gadis itu terus saja berseteru. Bahkan sepertinya mereka berdua tak menyadari akan kehadiran seorang pemuda berambut emo di tengah-tengah mereka. Dan juga tak menyadari para murid siswa maupun siswi yang berbisik-bisik mengenai mereka berdua. Bahkan ada yang berseru 'tampar, tarik rambutnya' atau tepukan tangan semacamnya yang menambah gaduh kejadian di sana. Namun, yang jelas tak ada seorang pun yang punya keinginan untuk melerai keduanya.
Kedua bola mata onyx Sasuke nampak bergerak kekiri dan kekanan memandang wajah kedua gadis itu bergantian. "Kalian berdua hentikan!" teriaknya.
"Kembalikan benda itu! Dasar gadis kacamata!" cerca Sakura.
"Benda ini miliku," balas Karin.
"STOOPP!" teriak Sasuke pada akhirnya naik dua oktaf untuk pita suaranya.
Seketika itu juga kedua gadis itu berhenti dan menatap Sasuke. Suara bisik-bisik dan seruan para murid pun ikut berhenti dan kesemuanya menatap Sasuke. Dan para murid di sana nampak sangat terkejut dengan kehadiran tiba-tiba seorang Uchiha di sana. Di tambah Sasuke lah yang berinisiatif untuk menghentikan perkelahian itu yang notabanenya tak pernah mau ikut campur urusan orang lain. Namun, kali ini… sepertinya mereka dibuat sangat shock.
Emerald dan Rubby memandang tajam Onyx.
Dan rupanya Sakura cukup cerdik untuk memanfaatkan kesempatan yang ada. Selagi kedua mata ruby itu terpancang pada mata onyx, dia menarik paksa sekuat tenaga kalung putih itu sampai terlepas dari leher Karin.
Sakura melangkah mundur dan memandang kalungnya yang nampak sangat bercahaya di kedua tangannya. Kedua mata emeraldnya nampak berbinar-binar dan hidup. Sebuah energy yang berasal dari kalung itu seperti masuk perlahan ke dalam tubuhnya, ke dalam aliran darahnya, ke jantungnya.
Dan entah kenapa tubuh Sakura nampak bercahaya ketika Sasuke memandangnya. Dan seperti ada sebuah sepasang sayap putih transfaran di punggung Sakura. "Malaikat.." gumam Sasuke.
"Kurang ajar!" ucap Karin dan dengan mudahnya merampas kalung Sakura dari kedua tangannya. Seketika kedua mata emerald itu nampak redup dan tubuhnya tak bercahaya lagi di mata Sasuke.
"Jangan!" teriak Sakura dan mengulurkan sebelah tangannya untuk mengambil kalungnya kembali.
"Kalung ini milikku. Kau jangan asal mengaku!" ucap Karin dan menggenggam erat kalungnya di depan dadanya.
"Tidak. Kalung itu milikku," ucap Sakura.
"Sa-sakura… sedang apa kau di sini?" Tanya seseorang tiba-tiba di belakang punggung Sasuke. Kedua mata lavendernya memandang heran pada wajah Sakura yang memerah seperti menahan amarah.
"Aku tidak menyangka bahwa orang asing seperti dia bisa masuk ke dalam sekolah ini. Huh!" ucap Karin dan berkacak pinggang. Wajahnya dia angkat sedikit dan nampak angkuh. Sebuah seringaian ejekan terlukis di bibir tipisnya.
"Kau… gadis tak beretika," ucap Sakura.
Dan dengan perkataan itu muncullah sudut-sudut kekesalan di dahi Karin. Dia merasa harga dirinya di rendahkan oleh seorang gadis asing yang baru saja kedua kali bertemu. Bisa saja awal mereka bertemu Karin masih menjaga sikap dan ramah, namun sekarang tak ada lagi kata 'ramah' dalam kamusnya.
"Kau yang gadis tak beretika. Datang tiba-tiba ke sekolah ini dan berusaha mencuri kalung berhargaku," balas Karin dan menunjuk kalung itu di sebelah tangannya.
Kalung berwarna putih seputih kristal itu menggantung di tangan Karin. Namun, ada sedikit perbedaan, kalung itu sama sekali tak nampak bercahaya di tangannya. Malah terkesan redup dan biasa-biasa saja.
Kedua mata onyx itu memandang menyelidik kalung yang berada di tangan Karin. Seketika ingatannya terpaksa ditarik ke belakang pada saat dia menanyakan sosok orang yang membawanya ke rumah sakit pada salah seorang suster.
Seorang gadis berambut merah dan memakai kacamata berbingkai merah, sebuah kalimat itu terus terngiang di telinganya. "Mungkinkah gadis yang telah menolongku waktu itu adalah… dia.." batin Sasuke dan memandang wajah Karin.
"Malaikat? Mana mungkin gadis berambut merah ini adalah seorang malaikat," pikir Sasuke keras. Dan kedua mata onyx itu mengalihkan pandangannya pada sosok gadis berambut merah jambu. "Tapi dia seperti…"
"Jaga cara bicaramu!" ucap Sakura dengan setiap penekanan di setiap suku kata.
Plaakkk!
Sungguh cepat kejadian itu.
Kejadian yang tak dapat diduga oleh Sakura sebelumnya. Sekarang pipi sebelah kanannya nampak terasa panas dan berdenyut-denyut. Bahkan kepalanya nampak miring ke kiri karena terdorong oleh tamparan itu. Di rasakannya rasa perih juga di sudut bibir kanannya serta rasa amis darahnya.
Karin nampak puas dengan hasil tamparan itu. Dia tersenyum menyeringai meremehkan Sakura di depannya yang tak bergeming sama sekali seperti patung. Sedangkan para murid yang menontonnya hanya meringis sakit membayangkan menjadi Sakura.
"Karin, kau keterlaluan." Ucap Neji dan mencengkram kuat tangan kiri Karin yang sudah menampar pipi Sakura.
"Lepaskan tanganmu, Hyuuga Neji!" desis Karin. Tak terkontrol lagi. Emosinya kali ini benar-benar tak terkontrol lagi, meluap begitu saja seperti lava yang mengalir keluar dari dalam dapur magma.
Karin menyentakan kasar tangan Neji dari tangannya. Lalu dia menunjuk Sakura dengan jari telunjuknya. "Sebaiknya kau pergi dari hadapanku!" ucapnya.
Sasuke berjalan mendekat pada sosok Sakura. Di sentuhnya wajah Sakura dan di angkat dagunya. Setetes darah menetes ke jari-jari Sasuke membuat dirinya sangat terkejut. Darah segar mengalir turun dari sudut bibir Sakura dan turun ke dagunya. "Sakura kau terluka.." ucapnya.
Sasuke memandang kedua mata emerald Sakura yang sangat nampak dingin dari biasanya. Dan sekilas warna merah darah berkilat di kedua mata emeraldnya. Sasuke sedikit berjengit takut akan tatapan mata itu.
"Kau akan merasakannya," desis Sakura. Kedua tangannya mengepal erat di kedua sisi tubuhnya. Giginya bergemelutuk satu sama lain. Dan dari tubuhnya menguar semacam aura dingin. Sasuke melangkah mundur sedikit menjauhi sosok Sakura kini.
Wush!
Tiba-tiba saja berhembus angin kencang menerpa semua orang yang berada di sana. Dan kesemuanya nampak terheran-heran sekaligus takut, karena datang dari mana angin tersebut padahal ini adalah ruangan tertutup yang kesemua jendelanya tertutup rapat.
Dan angin itu nampak berkumpul di sekeliling tubuh Sakura, membuat bajunya sedikit tergerak dan rambutnya nampak terangkat. Sekaligus memperlihatkan tatapan mata emeraldnya yang berkilat berbahaya memandang Karin.
"Apa kau lihat-lihat?"
"Gadis bodoh.."
Kretak!
"Idiot.."
Kretak!
Karin tak menyadari perubahan pada kaca di samping tubuhnya. Semua murid di sana nampak melangkah mundur dengan perlahan termasuk Sasuke juga Neji yang berada dekat di keduanya.
"Tak waras.."
Kretak!
"Karin hentikan!" teriak Sasuke.
"Tak punya otak.."
Kretak! Prang! Prang! Prang!
"Aaaarrggg!" teriak Karin.
Setidaknya tiga buah kaca jendela di sana pecah tiba-tiba dan pecahan kaca tersebut tersebar keman-mana. Sakura tetap berdiri tak bergeming, dan sama sekali tak ada pecahan kaca yang melukai dirinya. Berbeda dengan Karin yang lengan kirinya terkena pecahan kaca. Dia berteriak kencang menahan sakit sedangkan orang-orang di sana semuanya nampak terkejut dan tak bereaksi apa-apa.
Semua mata orang di sana nampak membulat terkejut dan takut. Mereka memandang ngeri pada sosok gadis berambut merah muda yang berdiri dengan tegapnya tanpa terluka akibat pecahan kaca yang juga berada di sampingnya, malah pecahan kaca tersebut seakan menjauh dari posisinya berdiri dan terarah hanya pada satu arah, yaitu pada arah Karin seorang saja.
"Kau?" ucap Karin tak percaya. Dia meringis sakit ketika lengan dan kaki kirinya serasa berdenyut-denyut dan mengalirkan darah ke lantai. Banyak pecahan kaca yang menancap baik ukuran sedang maupun kecil. Dia menggigit bibirnya menahan dera sakit yang dirasakannya.
Ugh! Di bayangkannya saja sudah terasa sakit apalagi Karin yang benar-benar merasakannya. Ingin rasanya menangis tanpa memperdulikan wajah dinginnya yang tegar; ingin rasanya berteriak sekencang-kencang walaupun pita suaranya nanti akan habis; ingin rasanya dia membalas perbuatan secara tidak langsung, yang mungkin Karin tak seratus persen mempercayai bahwa yang memecahkan kaca itu adalah gadis di depannya.
Namun, apa daya kekuatannya saat ini yang tiba-tiba saja membuat kedua lututnya lemas. Karin jatuh terduduk begitu saja. Luka itu terus saja mengeluarkan darah mengotori lantai koridor bersih sekolah. Kedua mata rubbynya kembali menatap kedua mata emerald yang masih tetap dingin. Kali ini Karin merasa terancam dan takut akan tatapan itu. "Siapa kau sebenarnya?" ucapnya menahan sakit.
Tsudzuku
Balas review dulu, yuk!
Ruki4 ch4n : Hehehe.. maaf.. habisnya q sibuk banget jd'y di update hanya satu chapter. Insyaallah! Review?
Fae-chan : Hm. Belum tentu juga. Ikuti terus, ya. Review?
Naru-mania : Maybe yes maybe no, Itachi ever meet her. Dan maaf Obsession blm bs di update. Review?
Hakuya Ran : Makasih atas pujiannya.^^ Ok, nie sudah di update. Review?
Sakura Uchiha : Kenapa review yang chap ke 2? Ok. Sakura'y di sini sudah muncul. Review?
4nt4k4-ch4n : Sama. Q jg jd pngn terbang jika punya sayap kyk Sakura^^. Nie dah di update. Review?
Agnes BigBang : Maksih^^.. Dengan seiringnya waktu Sasuke bakal tau koq siapa yang nyelamatin dia wktu itu. Hubungannya bagaimana, ya~.. masih rahasia doooonnxx!^^ Ok, nie dah d update. Review?
Kaori a.k.a Yama : Tak apa^^. Sakura di jodohin ma seorang pangeran yang sangat tampan di dunianya. Iya.. enak bangget jd Sakura bisa deket2 ma Sasuke. Nie dh di update. Review?
Ruki chan : Apakah chap nie sesuai dengan harapan Ruki-chan? Review?
Ok, balas review' sudah dan alhmdulilah q bisa update fic ini di tngh kesibukanku.^^
Gimana chap nie? Mengecewakan readers semua atau tidak?
Ada yg meminta Sakura jd pusat perhatian di sklh. Tp, err… agak susah jika harus di hadapakan bahwa Sakura ke sana hanya sekedar mengantarkan bekal bukan sebagai murid baru.
Nggg… acara perkelahian Sakura ma Karin udh jd pust perhatian tuch. Dan bgimana? Jujur agak susah membat scene perkelahian dengan bahasa yang kasar. Tp diatas bhs'y ga terlalu kasar koq, hanya kejam z. Dan maaf sepertinya Karin di sini tersiksa bngt kena pecahan kaca.. hahaahha.. Maaf ya, q ga brmksd buat Bashing Chara koq. Itu semua karena tuntutan alur cerita.
Dan, sepertinya chap nie akan sedikit panjang dr biasanya, sebab da beberapa chara yang belum muncul. Bisa di katakan chara yang akan membuat alur kehidupan Sakura berubah, tak hanya itu alur dr semua chara di sini. Tp, yg lbh utama semuanya hanya akan berdmpk pd Sakura. Dia dihadpkan oleh sebuah pilihan yg sulit nnti jika wkt'y sudh tb.
Karena itu ttp ikuti fic nie. Dan sebelumnya q minta maaf krn update'y super-duper lama bngt. Q sibuk bngt krn bntr gy q ujian sekolah. Minta do'anya dr semuanya, ya!
Reviews
