Seminggu sudah berlalu begitu saja. Sejak saat itu pula Naruto sudah tidak bicara lagi dengan Sasuke. Keduanya hanya saling berdiam diri saat berpapasan, saling tak mau melirik bila bersebelahan, tidak mau berbicara saat hanya berdua.
Memang sulit bagi Naruto untuk melupakan sosok pemuda yang sudah disukainya lebih dari satu tahun ini. Tapi ia tetap berusaha untuk melupakan pemuda itu. Ya... toh mungkin Sasukenya sendiri tidak begitu memperdulikannya. Dia ... sudah lelah manahan rasa sakitnya.
Aisaretai
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuNaru mungkin juga ItaNaru
Rate : T
Warning : Typo(s), gaje, abal, Shounen-ai, AU, OOC, dll.
"Haahhh..."
Hanya helaan nafas panjang saja yang selalu dilakukan oleh si bungsu Uchiha kita kali ini. Jujur saja, walaupun diluar wajahnya tetap saja 'stay cool'. Namun didalamnya ia terus saja bergelut dengan pikirannya yang rumit dan memusingkan.
'Apa yang harus kulakukan? Apa aku ini salah? Kenapa dia jadi seperti itu? Ayolah... sekejam itukah aku padanya? Tidak mungkin 'kan? Atau iya? Kalau begitu apa aku harus minta maaf? Tunggu dulu, mana mungkin seorang Uchiha sepertiku ini meminta maaf. Mau taruh dimana wajahku nanti?'
Yah... beribu pertanyaan seperti itulah yang terus saja dipikirkan oleh Uchiha bungsu yang satu ini. Dia tetap diam menatap jendela daari tempat duduknya itu. Apa lagi terkadang ia harus terus meladeni si gadis berambut pink yang terus saja menanyakan hal pribadinya. Kalau boleh jujur, dia itu lebih mengganggu dari pada si Dobe itu.
"Haahhh..."
Kali ini pun Uchiha bungsu kita menghela nafas panjang lagi. Sekarang ini, dia benar-benar dibuat pusing oleh si Dobe itu.
"Hei Sasuke, kenapa kau menghela nafas terus seperti itu? Aku tidak enak mendengarnya," jelas seorang pemuda berambut panjang dihiasi iris mata lavendernya yang saat ini sedang menikmati novel yang dibacanya.
Saat itu Sasuke hanya diam tak menjawab pertanyaan itu.
"Huah... biarkan saja, Neji. Paling-paling masalah Naruto," jelas seorang pemuda dikuncir seperti nanas itu yang langsung disambut tatapan tajam setajam silet milik Sasuke.
"Apa maksudmu Shika?" tanya Sasuke pada pemuda nanas itu.
"Kau pikir aku ini bodoh Sasuke? Aku tahu sekarang ini kau sedang memikirkan Dobe-mu itu 'kan? Bagaimana menurutmu, Neji?"
"Hm, begitu. Tak kusangka seorang Uchiha dapat dibuat segusar ini oleh orang seperti itu," jawab Neji.
"Hn, terserah kalian saja," ucap Sasuke kesal.
"Dasar si Uchiha yang satu ini. Tapi dari pada seperti ini terus, bagaimana kalau kau ku beri tantangan?" tanya Shikamaru.
"Tantangan? Kau mau memberinya tantangan apa, Shika?" tanya Neji menutup novel yang sejak tadi ia baca.
"Begini tantangannya..."
Mereka pun mulai saling mendekat dan berbisik-bisik.
"Bagaimana Sasuke? Apa kau berani menerima tantanganku?" tanya Shikamaru seusai berbisik-bisik.
"Kau... lupakan saja! Aku tak mau melakukannya," jawab Sasuke.
"Wah... aku tak menyangka, ternyata kau itu seorang Uchiha yang pengecut ya," ucap Neji dengan nada mengejek.
Kesal dengan pembicaraan Shika Neji itu. Akhirnya dengan sedikit ragu Sasuke...
"Baiklah! Kuterima tantangan kalian,"
...menerima tantangan itu.
Skip Time...
Bel pulang sekolah pun berbunyi. Tampak semua murid memulai perjalanan mereka menuju rumah masing-masing. Namun ada juga yang pergi bermain dulu dengan teman-temannya, berkencan dengan kekasihnya atau pun pergi mengikuti les tambahan. Dan sepertinya hal yang sama juga akan dilakukan oleh si pirang kita kali ini.
Naruto saat ini sedang berdiri diam tak bergeming dari gerbang sekolahnya dengan terus memainkan handphone-nya. Kiba dan Gaara sudah lebih dulu pulang. Lalu apa yang sedang ditunggu oleh Naruto? Tidak ada yang tahu. Lagipula, Naruto terlalu asik dengan handphone-nya hingga tak menyadari sebuah tatapan tajam terarah padanya.
'Sedang apa si Dobe itu? Dia sedang menunggu siapa?' pikir Sasuke dengan terus menatap tajam Naruto.
Tidak beberapa lama kemudian sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan Naruto. Tidak butuh waktu lama, Naruto masuk ke dalam mobil itu dan pergi bersama sang pemilik mobil. Merasa penasaran, akhirnya Sasuke memutuskan untuk mengikuti mereka.
'Mau kemana mereka? Si Dobe itu, bagaimana nanti kalau ia diculik?' pikir Sasuke dengan terus berfokus mengikuti mobil incarannya itu.
Di saat yang sama di dalam mobil hitam itu.
"Ne, paman, kenapa semakin lama jalannya semakin sepi?" tanya Naruto pada pria yang membawanya itu.
"Itu karena tempatmu akan bekerja nanti cukup jauh dari keramaian," jawab pria itu.
Melihat jalan yang semakin sangat sepi itu Naruto menjadi merasa aneh juga.
"Paman, aku tak jadi kerjanya deh? Aku turun disini saja ya," pinta Naruto.
"Tidak bisa. Kalau seperti itu nanti aku akan dimarahi oleh bos-ku."
"Tapi aku tetap tidak jadi menerima pekerjaan sebagai pembantu itu. Turunkan aku!" teriak Naruto.
"Kata siapa kau boleh turun begitu saja."
"Tapi aku mau turun! Cepat turunkan aku! Hentikan mobilnya! Aku ingin turun," teriak Naruto dengan menarik-narik lengan pria yang sedang menyetir itu.
"Kau ini berisik sekali! Hei, kau cepat bungkam dia!" teriak pria itu.
"Kau memerintahkan sia- hmmph.. mmnhh..." ucap Naruto terputus saat sebuah tangan besar membekap mulutnya.
Dengan cepat tangan itu mengikat tangan Naruto dan menutup mulut Naruto dengan sebuah kain. Ternyata sejak tadi ada orang lain di dalam mobil itu, namun bersembunyi di kursi belakang.
Naruto pun semakin panik melihat situasinya saat ini. Dia diculik. Naruto terus saja memberontak meski tangannya sudah terikat. Dia terus saja bergerak dan akhirnya kain yang menutup mulutnya terlepas. Dengan cepat, digigitnya tangan besar yang tadi membekap mulutnya hingga tangan itu berdarah.
"Arrgghh... Sialan kau!" teriak pria yang digigit itu.
Dengan cepat ia kembali menutup mulut Naruto dengan kain yang berbau aneh.
'Bau apa ini? Gawat... entah mengapa aku merasa mengantuk sekali... tidak! Tidak boleh! Kau harus terus bangun Naruto. Kau tidak boleh terti-' pikiran Naruto pun terhenti dan dia pun terlelap sudah dalam tidurnya.
"Dia memang berisik. Tapi pasti akan terjual sangat mahal saat pelelangan nanti," ucap pria itu dengan menatap mesum Naruto.
\(^0^)/
'ugh... dimana aku? Kepalaku sakit sekali,' pikir Naruto merasakan pening dikepalanya.
Kemudian Naruto meneliti tempatnya sekarang saat ini. Ia sedang berbaring di atas sebuah tempat tidur berukuran king size itu. Di tatap tubuhnya yang tidak tertutup sehelai benang pun. Menyadari hal itu segera ia tarik selimut untuk menutupi tubuh berkulit tan-nya itu. Sekarang ini Naruto terlihat benar-benar menggoda iman.
'Aku ini ada dimana? Kemana semua pakaianku... aku harus segera pergi dari sini, aku harus...' pikir Naruto yang kemudian,
"Huuwaa..."
Bruukk...
"Adu, du, du, duh... sa, sakit..." rintih Naruto yang baru saja dengan mulus mencium lantai yang keras itu.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya sebuah suara pemuda dari sebuah sudut ruangan tersebut.
Naruto langsung diam tak berkutik. Dia ingin tahu siapa dia? Tapi dikarenakan ruangan yang minim cahaya itu membuat Naruto sulit untuk melihat wajah orang itu.
Perlahan orang itu mulai berjalan mendekati Naruto. Naruto pun memundurkan tubuhnya menjauh. Namun naas, dinding menghalanginya dan sekarang sosok itu sudah sangat dekat dengannya. Orang itu pun dengan cepat melemparkan Naruto ke kasur king size itu.
"A, apa yang ingin kau lakukan? Lepaskan aku!" bentak Naruto berusaha melepaskan cengkraman orang itu.
"Menurutmu?"
"Kumohon lepaskan aku! Aku ini rasanya tidak enak! Walaupun aku tahu aku ini berwajah manis tapi aku benar-benar tidak enak loh! Jadi kumohon lepaskan aku paman! Hue... tahu seperti ini, aku tak mau memiliki wajah manis..." teriak Naruto takut + kepede-an.
"Apa maksudmu, Dobe?"
"Dobe? Jangan-jangan... kau... Teme!" teriak Naruto yang spontan membuat telinga Sasuke terasa sakit sekali.
"Suaramu kencang sekali Dobe," ucap Sasuke menutup telinganya.
"Hua... Teme, kenapa kau ada disini? Jangan-jangan orang-orang tadi itu suruhanmu? Ka.. kau jadi orang mesum Teme!" teriak Naruto tak kalah kencang dari sebelumnya.
"Berhentilah berteriak! Dan aku ini bukan orang mesum!"
'Yah... walaupun tadi kau itu benar-benar menggoda imanku Dobe, eng... arghh... apa yang kau pikirkan Sasuke? Ingat, dia itu si Dobe,' pikir Sasuke.
"Lalu kemana semua pakaianku? Kenapa aku telanjang? Pasti ini karenamu 'kan Teme! Dasar MESUM!"
"Sudah ku bilang aku bu-"
Brrakk...
"Sasuke, ada apa? Kenapa ada ribut-ribut di ka... Naruto?" tanya Itachi heran ketika membuka pintu kamar Sasuke dan melihat Sasuke dan Naruto berada di atas kasur Sasuke dengan Naruto yang tak terbalut kain sama sekali dan Sasuke yang hanya dibalutkan oleh handuk kecil di pinggangnya dan berada di atas tubuh Naruto. Jadi... Sasuke saat ini hanya berbalutkan... handuk?
Duuaagh...
"Naruto, apa kau tak apa-apa? Apa yang dilakukan oleh Otouto padamu?" tanya Itachi yang langsung menutupi tubuh Naruto dengan kain setelah dengan mulus memukul keras Sasuke.
"A, aku tak apa-apa Itachi-nii. Huwaa.. Itachi-nii, kau tampan sekali mengenakan jas seperti ini," teriak Naruto ceria melihat penampilan Itachi yang sangatlah tampan dengan pakaiannya itu.
"Aku baru saja pulang dari sebuah pesta perusahaan, Naruto. Terima kasih atas pujianmu," ucap Itachi tersenyum.
"Kau terlihat lebih muda dibandingkan saat mengenakan pakaian dokter, Itachi-nii,"
"Begitu ya," Itachi tersenyum senang.
Lalu... bagaimana dengan Sasuke yang baru saja mendapat hantaman dari Itachi itu. Ya, sekarang dia sedang mengusap-usap pipi mulusnya yang sekarang memerah semerah tomat kesukaannya.
"Kenapa kau memukulku, Itachi?"
"Kau sendiri mau berbuat apa dengan Naruto?"
"Ah... iya benar. Hei Teme, kenapa aku bisa ada di atas kasurmu? mesum,"
"Kalau aku mesum, bagaimana dengan kakakku yang saat ini memeluk pinggangmu itu hah?"
"Kalau Itachi-nii itu bukan mesum, tapi baik. Dia menyelamatkanku darimu yang mau memperkosaku 'kan?" teriak Naruto.
"Otouto, kau..."
"He, hei... dengarkan dulu ceritaku,"
Sasuke pun akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di ruang tamu bersama dengan Naruto dan Itachi. Tentu saja Naruto sudah berpakaian layak, begitu pula dengan Sasuke.
"Jadi kau menolong Naruto yang saat itu hampir saja diculik?"
"Hn,"
"Apa benar tadi kau hampir diculik, Naruto?"
"Iya"
"Lalu kenapa Naruto dalam keadaan telanjang di atas kasurmu?" tanya Itachi lagi.
"Itu karena bajunya bau asem sekali. Oleh sebab itu aku hendak mengganti bajunya,"
"Lalu kenapa tadi kau hanya mengenakan handuk saja di pinggangmu?" tanya Naruto.
"Saat hendak mengganti bajumu. Aku merasa badanku ini lengket sekali, makanya aku mandi dan hendak memakaikan Naruto baju setelah aku mandi. Dan kau Itachi, tiba-tiba saja datang dan langsung memukulku,"
"Hm.. begitu, kalau begitu aku minta maaf sudah memukulmu seperti itu," ucap Itachi.
"Walaupun aku sebenarnya masih sebal denganmu, Teme. Tapi, terima kasih karena sudah menolongku," ucap Naruto.
"Oh ya, Naruto... masalah jus dan pembicaraan waktu itu, aku... sungguh-sungguh... minta maaf," ucap Sasuke.
Naruto benar-benar terkejut. Jangan 'kan Naruto, bahkan Itachi juga kaget mendengar perkataan adiknya ini. Seorang Sasuke meminta maaf? Akankah terjadi hujan turun 5 hari berturut-turut? #plaakk lupakan saja.
"Hahh.. baiklah, kau kumaaafkan, Sasuke. Sekarang kita berteman lagi, ya," ucap Naruto tersenyum.
Sasuke pun terdiam, ia tidak menyangka dirinya akan dimaafkan dengan mudah oleh Naruto. Sedangkan Itachi yang semula heran dengan apa yang dibicarakan oleh Sasu Naru tadi sekarang sudah mulai asik berbicara dengan Naruto lagi. Mereka berbicara dengan ceria dan terkadang tertawa senang. Melihat hal itu, Sasuke entah mengapa merasa sedikit... tak nyaman.
"Kenapa kalian akrab sekali?" tanya Sasuke merasa aneh melihat kakaknya yang biasanya anti sosial itu sekarang sedang berbicara asik dengan Naruto.
"Tentu saja, aku dan Naruto sering bertemu untuk bermain bila aku sedang tidak ada pekerjaan. Berbicara dengan Naruto sangat menghibur hariku. Lagi pula Naruto tak keberatan bertemu denganku. Iya 'kan Naruto?"
"Tapi kemarin, sewaktu kita pergi ke taman bermain itu sangat menyenangkan sekali. Kita pergi ke sana lagi ya? Tapi nanti aku yang traktir. Itu kalau aku sudah dapat gaji dari hasil kerja sambilanku ya," ajak Naruto riang.
"Taip Naruto, kenapa tadi kau mau ikut dengan pria itu?" tanya Sasuke.
"Oh itu... habisnya paman itu bilang ingin mempekerjakanku sebagai pembantu. Dan kebutulan aku sedang butuh uang untuk keperluanku. Dan akhirnya malah seperti ini. Hahaha aku ini memang selalu saja sial. Tapi... kau harus tetap semangat Naruto!" ucap Naruto menyemangati dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah yang semakin mendekat ke arah ruang tamu. Dan...
"Itachi, Sasuke, Kami pulang. Lho, kau membawa temanmu, Sasuke?" tanya seorang wanita berambut hitam panjang ketika melihat sosok Naruto. Dibelakang wanita itu terlihat seorang pria menatap lurus ke arah Naruto.
"Ayah dan Ibu sudah pulang. Kenalkan, ini Uzumaki Naruto," ucap Itachi memperkenalakan Naruto.
"Salam kenal Naruto. Kenalkan, aku ibunya Sasuke dan Itachi, Mikoto, dan ini suamiku Fugaku," jelas Mikoto.
"Aku Uzumaki Naruto, salama kenal," ucap Naruto tersenyum.
"Wah... Naruto, kau perempuan yang manis sekali," ucap Mikoto yang langsung memeluk Naruto dan Fugaku duduk dikursi yang berada di hadapan Itachi dan Naruto.
"Ibu... Naruto itu laki-laki," jelas Sasuke yang sekarang ini duduk di samping Itachi.
"Wah... kau ini laki-laki? Tapi kau manis sekali,"
"Ah iya... selagi Ibu dan Ayah serta Naruto sedang berada disini, aku ingin membicarakan sesuatu," jelas Itachi.
"Apa yang mau kau bicarakan?" tanya Fugaku.
"Aku hanya ingin meminta izin pada kalian..."
Itachi pun diam sesaat.
"Aku meminta izin untuk berpacaran dengan Naruto. Dan untukmu Naruto, sekali lagi..."
"... maukah kau menjadi kekasihku?"
Tbc
Akhirnya selesai juga...
Apa makin buruk? Ancur? Ga jelas? Atau bagus #ditimpuk kaos kaki bau...
Please review...
Terima kasih sudah mau membaca cerita ini.. ^^
