Previous Chapter
"Aku ingin Hinata segera sembuh, oleh karena itu aku harus menemukan kalungku terlebih dahulu. Hal itu sekarang prioritas utama bagiku, kesembuhan Hinata merupakan prioritas utama."
"Semoga saja ada sebuah keajaiban dari Tuhan atas kesembuhan Nona Hinata."
"Semoga.."
.
.
.
"Apa kau tidak merasa aneh?"
"Hn. Apa yang aneh?"
"Sepupu Hinata. Aku lupa namanya siapa."
"Hn. Sakura maksudmu?"
"Akh! Benar, Sakura maksudku."
.
.
.
"Kau akan merasakannya."
Kretak! Prang! Prang! Prang!
"Aaaarrgggh!"
"Kau?"
"Siapa kau sebenarnya?"
.
.
.
Naruto©Masashi Kishimoto
My Lovely Angel©Tsukiyomi Kumiko
Genre : Romance/Fantasy
Rate : T
Warning : AU, OOC, Gaje, Typo's
.
.
.
.
Atmosphir di ruangan berukuran cukup luas ini terasa menegangkan. Para penghuni yang berada di dalam ruangan itu diam membisu. Hanya tatapan mata yang berbicara di ruangan ini. Dan yang terdengar hanya suara desahan nafas saja.
Sepasang kedua bola mata sewarna madu menatap tajam dua orang gadis cantik yang tengah duduk dengan menundukan kepala mereka di kursi dihadapannya. Dibelakangnya dua orang pemuda tampan berdiri mematung dan juga terdiam serta menundukan kepala mereka—dalam dan hormat.
Sepasang bola mata emerald melirik sekilas sosok gadis berambut merah yang duduk di sampingnya. Kedua tangan gadis berambut merah itu nampak terkepal dan meremas kencang ujung rok merahnya sampai kusut. Dan kedua kakinya sedikit gemetar, seperti sedang ketakutan.
Pada akhirnya sepasang mata emerald itu menatap wajah seorang wanita di depannya. Dengan nada suara yang formal dan hormat gadis berambut merah muda itu berkata. "Maafkan Saya, Ibu Kepala Sekolah."
Dan wajah gadis berambut merah itu langsung terangkat dan menatap gadis di sampingnya dengan raut wajah takut dan was-was.
Seorang wanita yang mempunyai jabatan tertinggi di sekolah itu tidak langsung menjawab. Dia menyangga dagunya dengan kedua punggung tangannya yang terlipat di atas meja besar kerjanya. Kedua mata yang sewarna dengan madu itu menatap intens sosok gadis berambut merah muda.
Tak ayal hal ini membuat gadis yang terus dipandangi olehnya menelan ludah dengan susah payah. "Kami berdua sama-sama salah dan terbawa emosi," ucap gadis itu lagi.
Kedua pemuda yang berdiri di belakang kedua gadis itu menatap was-was melihat raut wajah Kepala Sekolahnya.
"Siapa namamu?"
"Sakura."
"Ada urusan apa kau datang dan masuk ke dalam lingkungan sekolah ini?"
"Saya mengantarkan bekal makan siang untuk Neji dan Hinata."
Kedua mata berwarna madu itu mengalihkan pandangannya pada seorang pemuda berambut coklat panjang yang juga kini menatapnya. "Benar begitu, Neji?" tanyanya.
"Iya." Jawab Neji singkat.
Dan wanita itu percaya saja karena dia juga melihat sebuah bingkisan cukup besar tak jauh dari gadis berambut merah muda itu duduk.
"Lalu… kenapa sampai bisa terjadi keributan seperti ini?"
"Itu—"
"Gadis ini berniat untuk mengambil kalungku." Bukan Sakura yang menjawab melainkan Karin. Kedua mata rubynya memandang tak suka pada Sakura. Dan setelahnya dia menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan dan menundukan kembali kepalanya setelah dirasanya kedua mata Tsunade menatap tajam pada dirinya.
"Apa benar yang diucapkannya?"
"Sama sekali tidak. Itu bukanlah kalungnya tapi kalungku. Aku hanya mencoba mengambil kembali apa yang menjadi milikku."
Sebenarnya Tsunade sudah tahu milik siapa kalung yang dipakai oleh Karin sekarang. Bisa dikatakan jika kedua matanya melihat jika benda itu terjatuh dari sang pemilik aslinya dan diambil oleh sang penemu. Tapi, bagaimana pun dia tak mungkin mengatakan hal itu sekarang. Waktunya tidak tepat. Lagi pula bisa dianggap tak waras jika dia bilang kalau melihat seorang gadis yang bersayap dan bisa terbang. "Apa ada bukti jika itu kalungmu, Sakura?" Tanya Tsunade.
Sakura menggelengkan kepalanya karena bingung harus menjawab apa. Sebab, mana mungkin dia bilang jika dia merasakan kekuatan miliknya pada kalung itu. Jika dia mengatakannya maka semua identitasnya akan terbongkar dengan mudah begitu saja. Dan hal itu sama sekali tak diinginkannya. Tidak untuk saat ini.
"Apa kalian berdua saling mengenal satu sama lain sebelumnya?" Tanya Tsunade kembali.
Kedua gadis itu menggeleng secara bersamaan. Dan Tsunade yang melihatnya hanya mengerang jengkel. "Akhiri masalah kalian berdua mengenai kalung itu di sini!"
"Tapi—" sanggah Sakura.
"Aku percaya salah satu murid yang bersekolah di sini tak mungkin melakukan perbuatan yang buruk," potong Tsunade cepat walaupun sedikit tak tega ketika meliat raut wajah kecewa Sakura.
Karin yang mendengarnya langsung menatap wajah Tsunade dengan sebuah senyuman kemenangan terlukis di bibirnya. Dan di sini pada kenyataannya memang Tsunade membela Karin.
"Tapi bukan berarti aku menyalahkanmu, Sakura. Kau mengerti maksudku? Kau tak punya bukti apa-apa untuk membuktikan jika kalung yang dipakai oleh Karin adalah kalung milikmu. Dan jika kau masih tetap ingin mengambilnya kaulah yang telah melakukan tindakan tak baik."
Sakura serta merta bangkit berdiri dari duduknya. "Saya mengerti sepenuhnya apa yang Anda maksud, Ibu Kepala Sekolah. Maafkan karena keributan yang telah Saya buat di sekolah Anda," ucap Sakura dan membungkuk hormat.
Tsunade hanya menatap dalam diam tanpa berkomentar apa-apa mengenai tingkah laku formal yang dilakukan Sakura. "Kurasa masalahnya sudah selesai. Silahkan kalian semua keluar dari ruanganku! Sekarang!" perintahnya dan menatap satu persatu wajah orang yang berada dihadapannya.
Dan dengan perkataan perintah itu akhirnya semua orang yang berada di sana segera keluar. Karin yang sebelah kakinya sedang terluka dibantu berjalan oleh Neji keluar belakangan.
Tsunade memutar kursi besar yang dia duduki menghadap jendela ruangannya yang menampakan luasnya halaman sekolah setelah mereka semua pergi dari hadapannya. Dan kedua mata madunya memandang bentangan langit biru yang bersih. "Apa yang harus kulakukan untuk membantu anak itu?"
.
.
.
.
.
.
.
.
Gadis berambut merah muda itu berjalan menundukan kepala dalam diam. Kedua tangannya di depan menjinjing bungkusan bekal. Dan seorang pemuda berambut emo yang berdiri mengikuti langkah kakinya di sampingnya menatap intens samping wajah gadis itu.
"Sakura?" panggil Sasuke dan menyentuh bahunya pelan.
"Aku tidak apa-apa. Terima kasih. " Sakura menjawab dengan masih tetap menundukan kepalanya dan juga tanpa melihat wajah Sasuke sedikitpun.
Sasuke yang sedikitnya mengerti bagaimana perasaan Sakura sekarang memilih membungkam mulutnya untuk sementara. Dan keduanya berjalan dalam diam seiring langkah kaki mereka yang membawa mereka ke pintu keluar dari sekolah tersebut.
Namun, tiba-tiba saja kedua kaki Sakura berhenti dan dengan pelan membalikan badannya. Dia mengangkat kepalanya dan kedua mata emeraldnya memandang sosok Neji dan Karin dari kejauhan yang tengah berjalan ke arah ruang UKS.
"Aku lupa memberikan bekalnya," ucap Sakura dan kemudian berjalan sedikit terburu-buru menyusul Neji. Dan dia meninggalkan Sasuke begitu saja di belakangnya.
"Neji!" seru Sakura dan langsung memberikan bungkusan bekal di tangannya ketika sudah sampai di depan sosok Neji.
"Aa.." Neji menerimanya dengan satu tangan karena tangan yang satunya sedang merangkul pinggang Karin.
Kemudian kedua mata emerald itu memandang kedua mata ruby di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Apa?" tanya Karin jengah karena dari tadi terus ditatap oleh Sakura.
"Maaf." Ucap Sakura dengan penuh penekanan di setiap suku katanya.
"Hah?" tanya Karin kaget.
Sakura tak membalas ucapan Karin lagi dan selanjutnya terdiam.
Neji yang melihat keadaan yang canggung ini akhirnya memilih untuk melepaskan rangkulannya pada Karin dan membuka pintu ruangan UKS. Masuk ke dalamnya terlebih dahulu untuk melapor pada petugas UKS yang menjaga pada hari ini.
Sakura yang melihat sosok Neji agak menjauh langsung mendekatkan diri pada Karin. Di bibirnya terlukis sebuah senyuman janggal. Dia berbisik tepat di telinga kanannya dan selanjutnya kedua bola mata ruby Karin langsung membulat sempurna diisertai dengan wajah memucat dan kedua lutut gemetar.
Setelah membisikan sesuatu di telinga Karin, Sakura menjauhkan diri namun tetap berdiri di hadapannya dengan sebuah senyuman manis di bibirnya.
"Karin… ayo, masuk! Kak Shizune akan mengobati lukamu," ucap Neji dan kembali melingkarkan lengannya di pinggang Karin tanpa melihat pandangan matanya yang ganjal.
"Aku pulang, Neji." Ucap Sakura dan masih sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
Neji balas tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya. "Aa.. hati-hati!"
"Jaga dirimu baik-baik, Karin!" ucap Sakura dan setelahnya membalikan badannya. Sesegera mungkin dia berjalan meninggalkan Karin yang langsung menundukan kepalanya dalam.
Sakura tersenyum manis pada Sasuke yang membuatnya menunggu. Dan keduanya berjalan keluar melewati pintu kaca berdaun dua meninggalkan gedung sekolah megah itu.
"Ada masalah, Karin?" tanya Neji dan menatap Karin yang tengah menundukan kepalanya dalam dengan diam.
"Tidak ada." Karin menjawab setengah berbisik dan tetap menundukan kepalanya. Setelahnya dia berjalan tertatih-tatih dibantu oleh Neji masuk ke dalam ruang UKS. Dia sangat mengerti maksud kata-kata terakhir Sakura padanya.
"Apa kau terluka?" tanya Sakura tiba-tiba dan menghentikan langkahnya. Dia berdiri di hadapan Sasuke dan mendekatkan wajahnya pada wajah Sasuke.
"Ti-tidak." Jawab Sasuke gugup dengan kedua pipi merona merah.
'Sial. Kenapa aku selalu gugup dihadapan gadis ini,' runtuk Sasuke dalam hati.
"Syukurlah kau tak terluka, Sasuke."
"Jangan mengkhawatirkan keadaan orang lain! Kaulah yang terluka bukan aku, Sakura," ucap Sasuke dan langsung menyentuh dagu gadis dihadapannya dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. Sakura membulatkan kedua matanya atas apa yang dilakukan oleh Sasuke. Dan ketika ibu jari Sasuke menyusuri sekitar ujung bibirnya yang terasa perih, Sakura langsung ambil sikap menjauh dan melangkah mundur dari Sasuke.
Sasuke yang melihatnya juga ikut terkejut dan kemudian seakan tersadar apa yang dilakukannya dia langsung menunduk meminta maaf. "A-apa perlakuanku tadi membuat lukamu tambah sakit?" tanyanya.
Sakura menggelengkan kepalanya dengan kedua pipi yang merona. "Sampai di sini saja kau mengantarku. Sampai jumpa, Sa-Sasuke," ucapnya dan langsung melesat pergi meninggalkan sosok Sasuke yang kebingungan.
Sakura berjalan dengan terburu-buru menemui Ibiki yang tengah menyender di depan mobil BMW Hitam di lapangan parkir sekolah khusus guru.
Sasuke masih menatap sosok Sakura yang sedang masuk ke dalam mobilnya dengan sebuah senyum terpatri di bibirnya. Namun, tiba-tiba saja ada sebuah getaran di kantung depan celana hitam seragam miliknya. Kedua mata onyxnya menatap layar handphone miliknya yang menandakan ada sebuah pesan masuk dari Naruto yang isinya hanya terdiri dari 9 kata yaitu, 'Pelajaran Sejarah sudah dimulai lima belas menit yang lalu'.
Sasuke segera berpikir cepat mengapa sahabatnya mengirimkan pesan singkat seperti ini. Karena biasanya sahabatnya itu tidak akan pernah mengirimkan pesan singkat jika bukan dalam keadaan darurat.
"Pelajaran Sejarah? Guru Kakashi?" batin Sasuke. Dan setelahnya dia berlari kencang masuk ke dalam gedung sekolahnya kembali.
##My Lovely Angel##
"Sebenarnya bagaimana kejadiannya sampai kau terluka seperti ini?" tanya Shizune dengan mimic khawatir sedangkan kedua matanya tak lepas dari mengobati tangan kiri Karin yang terluka. "Tahan sebentar!"
Shizune dengan sekali ucapan langsung menarik keluar pecahan kaca yang terbesar dari kulit tangan Karin. Terdengar sedikit erangan sakit keluar dari bibir gadis berambut merah itu. Tak banyak bertanya lagi akhirnya Shizune langsung membersihkan bekas darah yang sudah mengering dengan kapas yang telah dibasahi oleh antiseptic.
"Apa lukanya parah?" tanya Neji tiba-tiba dan membuka suaranya. Kedua mata lavendernya memandang intens wajah Karin yang sepertinya menahan sakit yang teramat sangat.
"Aku tidak tahu. Lebih baik setelah ini kau periksakan saja lukamu ke rumah sakit, ya!" ucap Shizune kepada Karin dengan senyum lembut khas keibuan.
Karin tersenyum tipis melihat perhatian Shizune padanya dan pandangan lembut yang terukir di wajahnya. "Terima kasih, Kak Shizune."
"Sama-sama," balas Shizune dan melilitkan sebuah perban putih untuk menutupi luka di tangannya.
Neji yang melihat kejadian itu ikut tersenyum hangat dan lega. Di dalam hatinya ia bersyukur jika sekarang sudah ada orang yang memperhatikan Karin. Perhatian seorang ibu kepada anaknya. Namun, dia kembali teringat dengan kejadian antara Karin dan Sakura. Sebenarnya apa keistimewaan kalung itu bagi Sakura. Kalung perak itu terlihat biasa-biasa saja di mata seorang Hyuuga Neji. Memang, kalung itu terlihat sangat cantik dengan ukiran kecilnya.
"Neji.. tolong ambilkan gulungan perban lagi!" perintah Shizune tanpa melihat wajah Neji, sebab dia sedang kembali berkonsentrasi membersihkan pecahan kaca di kaki Karin.
Tanpa banyak komentar Neji segera mengambil benda apa yang di perintahkan oleh Shizune.
"Setelah pulang sekolah apa kau mau menceritakan kejadiannya padaku?" tanya Shizune penuh harap.
Karin menggeleng lemah dan kemudian berkata, "Aku akan menceritakannya sekarang. Bisakah kau keluar, Neji?" pintanya.
"Aa… sebaiknya aku kembali ke kelas saja." Tanpa banyak buang waktu dan tak banyak berkomentar akhirnya Neji segera keluar dari ruang kesehatan tersebut, meninggalkan Karin dan Shizune untuk bicara satu sama lain setelah menyerahkan gulungan perban.
"Lalu… bagaimana kejadiannya?"
Karin tak langsung menjawab namun dia merogoh saku jas sekolahnya yang tertidur di samping dia duduk. Dan dia memperlihatkan sebuah kalung perak di tangan kanannya. "Semuanya karena kalung ini," jawabnya.
"Kalung yang cantik. Punyamu?"
Karin menggelengkan kepalanya. "Aku menemukannya seminggu yang lalu."
"Lalu?"
"Kalung ini tergeletak begitu saja di jalanan tak jauh dari laki-laki itu berbaring."
"Laki-laki itu? Siapa?"
"Aku tidak tahu… waktu itu sangat gelap. Aku tak melihat jelas wajahnya. Laki-laki itu sedang terluka parah dan aku menolongnya. Bisa kudengar jika dia memanggilku dengan sebutan 'malaikat'."
"…"
"Aneh bukan? Dia menganggapku sebagai malaikat penyelamatnya."
"Karin—"
"Dan tiba-tiba saja gadis yang bernama Sakura itu datang dan langsung merebut kalung ini. Dia berkata jika ini adalah kalung miliknya. Dan menuduhku yang mencurinya. Aku… aku hanya menemukannya dan berarti pemilik dari kalung ini aku, bukan? Benarkan, Kak Shizune?"
"Tapi, Karin… bagaimanapun juga kau menemukannya. Dan mungkin saja gadis itu benar-benar pemiliknya."
"Jadi Kak Shizune membela gadis itu di bandingkan aku? Kakak menuduhku mencurinya?"
"Bukan begitu…"
"Kakak harus percaya pada semua ceritaku!" teriak Karin dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Kakak percaya padamu. Jagalah kalung ini baik-baik!" ucap Shizune dan memilih mengalah. Percuma jika menasehatinya sekarang, tidak akan di dengar oleh Karin
"Uhmm.." Karin mengangguk senang dan langsung memakaikan kalungnya ke lehernya. Dia bahkan tak menyadari perubahan warna pada kalungnya.
Sedangkan seseorang yang dari tadi berdiri di luar pintu ruang rawat itu, mendengarkan dengan tajam setiap kata-kata yang diucapkan oleh Karin. Tubuhnya berdiri kaku dengan raut wajah tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Seseorang itu dengan pelan berjalan menjauhi pintu ruang kesehatan itu. Langkahnya yang tadinya sedang terburu-buru karena sedang dikejar waktu seakan tak perduli lagi.
Kejadian-kejadian yang dia alami dulu kini seakan memenuhi seluruh otaknya. Dimulai kejadian ia dilukai oleh para pencuri itu dan sampai pada kejadian ia diselamatkan oleh seseorang. Seseorang itu adalah seorang gadis yang samar-samar wajahnya ia ingat. Yang dia ingat hanyalah kalung yang di pakai olehnya.
Sasuke sama sekali tak tahu siapa diantara kedua gadis itu yang telah menolongnya. Jika dia berpikir Karin lah yang menolongnya kenapa dia harus kembali setelah menyembuhkan lukanya. Dan sekarang muncul seorang gadis yang mengaku jika kalung yang dipakai oleh Karin adalah miliknya. Apakah Sakura yang telah menolongnya?
Kepalanya serasa akan meledak memikirkan hal ini. Dan pada akhirnya Sasuke lebih memilih untuk membicarakan hal ini pada kakaknya nanti.
Kedua langkah kakinya kembali terhenti ketika sudah sampai di depan kelasnya sendiri. Dengan ragu dia menggapai knop pintu dan kemudian mendorongnya ke depan sehingga menimbulkan bunyi 'kreett' nyaring di lorong kelas tersebut.
Menghela napas berat Sasuke masuk kedalam kelasnya sambil berdo'a di dalam hati agar nilai Sejarahnya tak dikurangi karena keterlambatannya.
.
.
.
.
.
.
.
Bel istirahat sudah berbunyi sejak 10 menit yang lalu dan bisa dipastikan kantin di sekolah ini nyaris penuh sesak. Tujuan semua murid memuhi kantin luas ini adalah tentu saja untuk memuaskan perut mereka yang memang sudah keroncongan sejak pelajaran ketiga dimulai. Tak beda dengan kehadiran dua orang murid laki-laki yang menempati salah satu meja dan kursi dari sederetan banyaknya tempat di kantin ini.
Seorang laki-laki berambut spike kuning itu nampak lahap memakan makan siangnya tanpa memperdulikan ramainya suasana di sekitarnya. "Hei, Sasuke… kau tahu siapa yang membuat ribut di sekolah kita tadi pagi?" tanyanya setelah menyeruput mie ramen kesukaannya. Sebelah tangannya yang memegang sumpit diacungkan mengarah ke Sasuke. Dan kedua mata biru laut miliknya memandang Sasuke meminta jawaban.
Sasuke menghela napas frustasi akan kejadian di kelas satu jam yang lalu. Yang pada akhirnya nilai Sejarahnya sama sekali tak dikurangi. Bukankah hal itu bagus? Tapi, tidak bagi seorang Uchiha Sasuke, sebab Guru Sejarahnya itu telah menyiapkan sebuah tugas khusus yang jumlahnya berkali-kali lipat dari pekerjaan rumah yang biasanya dia berikan pada murid-muridnya. Dan satu hal menurut Sasuke, jika itu sama sekali tak ada bedanya.
"Oi, Sasuke! Kau ini dari tadi melamun saja."
"Kau berisik sekali, Naruto!" ucap Sasuke dengan nada ketus.
Naruto mengerucutkan bibirnya kesal. "Dasar tukang ngelamun!" gerutu Naruto pelan dan kembali melahap mie ramennya. Sedangkan Sasuke nampak tak memperdulikan gerutuan Naruto di depannya.
Dan tiba-tiba saja suasana di kantin tersebut jadi sedikit ribut dengan kedatangan tiga orang murid yang juga bersekolah di sini. Mereka bertiga berjalan dengan sama sekali tak menghiraukan bisikan-bisikan mencemooh yang bisa saja memanaskan hati mereka. Salah seorang dari tiga orang itu yang berambut merah mendelik tajam pada adik kelas yang sengaja menyebut namanya keras-keras.
"Mereka semua tak ada habisnya membicarakan kekuranganku," ucap Karin dan langsung duduk di bangku kantin yang kosong tepat di sebelah Neji. Hinata yang mendengarnya hanya nyengir menanggapinya. Sedangkan Neji tak berkomentar apa-apa. Dan setelahnya ketiga orang itu sibuk memesan makanan siang mereka. Sebenarnya hanya Karin yang memesan makanan, sedangkan Hinata dan Neji hanya memesan minuman sebab mereka berdua sudah ada bekal makan siang.
Naruto yang sudah selesai melahap habis mie ramennya memandang ke meja di mana Karin, Neji dan Hinata sedang makan. Dia kemudian menyipitkan kedua matanya ketika memandang Karin. Dia melihat banyak perban yang melilit sekitar lengan dan kakinya. "Pssssttt… pssttt… Sasuke. Coba kau lihat Karin! Sepertinya dia habis tabrakan atau apa sampai banyak perban seperti itu," ucapnya.
"Hn. Bukan seperti itu. Kejadian tadi pagi yang kau tanyakan itulah penyebabnya."
"Hah? Kenapa bisa? Apa ada yang berani melukainya di dalam lingkungan sekolah?"
"Sakura juga terlibat dengan kejadian tadi pagi," ucap Sasuke sama sekali tak menjawab pertanyaan Naruto.
"Heeee? Jadi Karin dan Sakura yang membuat keributan itu."
"…"
"…"
"APA? Sakura kau bilang?"
"Pelankan suaramu, Naruto! Dan kau tak perlu berteriak seperti itu di depanku!"
"Ta-tapi… bagaimana bisa Sakura yang melukai Karin sampai seperti itu?"
"Aku juga tak tahu apa yang terjadi waktu itu. Semuanya terjadi begitu cepat… semua kaca jendela di sekitar mereka berdua hancur dan pecahannya hanya melukai diri Karin seorang saja."
"Pantas aku mendengar seperti suara barang pecah. Benar-benar hal yang aneh."
"Hn."
"Lalu.. apa yang mereka ributkan?" tanya Naruto kembali dan pandangannya tak lepas dari sosok Karin yang tengah mengobrol dengan Hinata di sela menyantap makanannya.
"Hanya sebuah kalung."
"Kalung? Yang dipakai oleh Karin?"
"Hn. Sakura mengaku jika itu kalung miliknya. Dan kau bisa bayangkan kejadian apa setelah itu."
"Lalu bagaimana dengan Sakura?"
"Kalung itu tetap berada di tangan Karin dan Sakura terlihat sangat kecewa."
Naruto mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dan setelahnya nyengir lebar melihat wajah Sasuke yang kini menatapnya balik dengan alis terangkat. "Apa?"
"Kau jadi banyak bicara saat ada sangkut paut nama Sakura."
"Hn?"
"Apa kau jatuh cinta pada Sakura?"
"Kau—"
"Siapa yang jatuh cinta pada Sakura?" tanya seseorang tiba-tiba dan langsung mengambil duduk di bangku kosong di samping Sasuke duduk. Kedua mata onyxnya menatap bergantian Naruto dan Sasuke dengan pandangan bertanya.
"Sasuke," jawab Naruto enteng.
"Heee… benarkah itu, Sasuke?"
"Dia bohong."
"Semua orang juga pasti akan mengatakan hal yang sama denganku jika melihat perubahan sikapmu jika ada Sakura."
"Jika benar maka kau adalah rival terberatku. Dan jika tidak maka aku yang menang," ucap Sai tajam dan menatap Sasuke dengan ekor matanya.
"Apa maksudmu, Sai? Kau cari ribut denganku?" tanya Sasuke tak kalah tajam dan emosi. Kali ini dia merasa tertantang dengan ucapan Sai yang ditujukan padanya.
"Aku menyukai Sakura dan akan menjadikannya milikku. Kau tidak menyukainya sebaiknya jangan menjadi penghalang," ucap Sai.
Naruto yang melihat ada kilatan cahaya yang bertabrakan di tengah-tengah padangan mata Sasuke dan Sai segera ambil langkah dengan melerainya. "Sudahlah jangan bertengkar!"
"Diam kau, Namikaze!" ucap Sai dan Sasuke berbarengan dengan pandangan tajam pada Naruto.
Dan Naruto langsung menelan ludah dan menunduk takut. Dia memainkan kedua jarinya di depan dada, Naruto ngambek.
"Siapa bilang aku tidak menyukainya?" ucap Sasuke dengan menarik sudut ujung bibirnya. Mengulas senyum sinis memandang Sai. Naruto langsung menatap Sasuke tak percaya. Dan Sai yang mendengarnya mengulum senyum meremehkan.
"Kau menyukainya, eh?"
Seakan baru sadar apa yang dikatakannya, Sasuke segera menunjukan poker face dan beranjak berdiri dari bangku yang didudukinya. Dia berjalan meninggalkan Sai dan juga Naruto yang menatapnya bingung dan ekspresi lainnya yang bermacam-macam.
Tanpa berbalik Sasuke mengatakannya dengan jelas dan tegas. "Sakura adalah malaikat penyelamatku. Dan aku yang akan memilikinya. Jadi, jangan berbuat curang di belakangku, Shimura Sai!" ucapnya.
Dan Sai yang mendengarnya hanya mengulas senyum palsu dan juga berkata. "Hanya orang pengecut yang berbuat curang. Dan bisa kupastikan aku yang akan menang. Bukan kau, Uchiha Sasuke," balasnya dan juga beranjak berdiri. Berjalan mendekati Sasuke dan mengulurkan sebelah tangannya untuk berjabat tangan dan Sasuke menerimanya. Setelah melakukakn hal itu mereka pergi dengan arah yang berbeda. Lupa akan Naruto yang masih menatap mereka berdua tak percaya.
"Oi! Kalian jahat sekali meninggalkan aku sendiri," ucap Naruto dan segera menyusul kemana Sasuke pergi bukan menyusul Sai. Jujur saja, Naruto sudah menetapkan akan mendukung siapa. Dan tujuannya sekarang menandakan jika dia mendukung siapa.
Rupanya seorang Uchiha Sasuke dan Shimura Sai tidak tahu akan rival mereka yang lain. Satu rival sudah muncul dihadapan mereka dan rival yang satunya lagi—rival yang paling terberat untuk mendapatkan Sakura—akan muncul dihadapan mereka bertiga tanpa tak terduga.
Dan sepertinya ini akan menjadi cerita yang menarik bukan? Seorang Tuan Putri diperebutkan oleh keempat pangeran tampan. Lebih menarik dari sebuah dongeng lainnya, benar?
##My Lovely Angel##
Teng! Teng! Akhirnya bel menandakan kegiatan belajar untuk hari ini berakhir. Bunyi bel itu nyaring dan terdengar ke seluruh penjuru kelas baik dari lantai satu maupun sampai lantai tiga.
"Baiklah! Sampai di sini materi yang Ibu berikan. Selamat sore, anak-anak. Hati-hati di jalan!" ucap seorang guru wanita berambut hitam ikal dan bermata merah. Bibirnya yang di laipisi oleh lipstick warna merah menyunggingkan senyum.
"Selamat sore!" balas anak-anak serempak dan mulai membereskan buku-buku mereka ke dalam tas ketika guru pengajar terakhir mereka keluar dari dalam kelas.
Kelas yang ditempati oleh Sasuke itu sedikit demi sedikit lengang karena sudah ada beberapa murid yang sudah beranjak pulang. Sisanya masih berkutat dengan membereskan buku-buku mereka termasuk Sasuke sendiri.
Setelah buku terakhir yang dimasukannya ke dalam tas dan meresletingnya supaya bukunya tak berjatuhan, akhirnya Sasuke segera meninggalkan kelas. Hari ini dia tak pulang bersama dengan Naruto, karena sahabatnya itu sedang menghadiri rapat penting bagi anggota tim inti sepak bola mengenai tournament yang tinggal menghitung hari saja.
Dan Sasuke bersyukur akan hal itu karena dia berencana untuk menjalankan rencananya hari ini. Sebenarnya dia enggan untuk melakukan rencana yang diberikan oleh Itachi ini ketika dia memberitahukan kejadian tadi siang di sekolahnya via telephone. Namun, ini merupakan cara satu-satunya untuk mencari jawaban yang dia inginkan.
Maka dengan langkah mantap Sasuke berjalan menuju lapangan parkir tempat di mana motornya berada. Setelah sampai dia segera menghidupakan motor Kawasaki Ninja berwarna hitam miliknya dan melesat pergi meninggalkan sekolah megah itu. Di depan gerbang dia menjawab sapaan Hinata yang sedang akan menaiki mobil jemputannya bersama Neji sebelum benar-benar meninggalkan sekolah tersebut. Sebenarnya Sasuke tak benar-benar pergi jauh dari sekolahannya. Dia hanya sedikit menjauh dari sekolahnya dan kemudian berhenti tepat di belokan kanan dari sekolahnya itu. Hanya satu alasannya yaitu, dia tengah menunggu seseorang yang menjadi target rencananya.
Tak perlu menunggu waktu lama untuknya karena seseorang yang dia tunggu baru saja keluar melewati gerbang dan berjalan menjauh di belokan sebelah kiri, berlawanan arah dengan Sasuke. Tanpa berlama-lama lagi Sasuke menghidupkan motornya kembali dan melesat mendekati orang yang menjadi target rencananya.
"Sepertinya aku harus benar-benar pergi ke rumah sakit," keluh Karin karena dia mulai merasakan rasa nyeri kembali ketika kakinya dipakai untuk berjalan. Dan juga tangan kirinya yang di perban menggantung kaku di samping badannya.
"Biar kuantar."
Karin seketika berhenti melangkah dan menolehkan wajahnya ke samping, di mana ada seorang pengendara motor yang pengendaranya memakai seragam sama seperti miliknya. Pengendara motor itu membuka kaca helm yang menutupi wajahnya membuat Karin seketika menahan nafasnya ketika melihat wajah pengendara motor tersebut. Raut wajah kemerahan sukses tercipta di wajah Karin, bahkan menyaingi warna rambutnya.
"Sa-Sasuke?" tanyanya tak percaya dan beberapa kali mengerjapkan kedua mata sewarna batu ruby miliknya.
"Hn. Naiklah!"
"Hah? U-untuk apa?" tanya Karin linglung.
Sasuke sedikit menarik berlawanan kedua ujung bibirnya menyaksikan ekspresi Karin yang terlihat lucu di hadapannya. Tak berpikir lebih lanjut apa yang telah di lakukannya yang membuat Karin salah tingkah, dirinya terkekeh kecil. "Tentu saja untuk pergi ke rumah sakit."
"Eh? T-tak perlu repot-repot mengantarku, Sa-su-ke," jawab Karin dan ketika menyebutkan nama laki-laki di hadapannya nyaris pelan.
"Hn. Tak masalah bagiku. Naiklah!"
Karin nampak menimbang-nimbang tawaran emas dari laki-laki yang menjadi idola di sekolahnya itu. Sedikit berpikir apa alasan Pangeran Sekolah dihadapannya ini mau repot-repot mengantarnya. Karin tak melupakan sama sekali jika ini kedua kalinya dia berbicara dengan Sasuke bahkan sedekat ini.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Hah? Ti-tidak memikirkan apa-apa."
"Kalau begitu ayo cepat naik!" ucap Sasuke mulai tidak sabar juga mulai risih karena mendapat tatapan heran dari murid-murid yang lain yang memang setengahnya baru keluar dari gerbang sekolah.
Tak memikirkan apa akibatnya nanti maka Karin tak menyia-nyiakan tawaran Sasuke. Dengan hati-hati dia mulai naik motor Sasuke.
"Pegangan!" ucap Sasuke," jika kau tak mau jatuh."
"I-iya," jawab Karin dan dengan gugup melingkarkan sebelah tangannya yang tak terluka ke perut Sasuke. Hampir saja dia pingsan bisa sedekat ini dengan Sasuke, namun ditahannya. Di dalam hati dia bertanya 'mimpi apa aku semalam bisa naik motor dengan Sasuke?'
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura merasakan kembali debaran di jantungnya ketika dia menginjakan kaki ke dalam kamarnya. Sebelah tangannya yang sedang memegang gelas penuh dengan air gemetar, membuat isi dari gelas itu tumpah dan membasashi karpet lantai berwarna keemasan di kamarnya sendiri. Dengan kedua lutut yang mendadak lemas Sakura berjalan pelan ke atas tempat tidurnya.
Dia mendudukan diri setelah menaruh gelas yang dibawanya ke atas buffet kecil di samping tempat tidurnya. Bahkan dadanya kini terasa sangat sesak bukan hanya jantungnya saja yang berdebar kencang. Mencoba menahan rasa sakit yang mulai menjalari kepalanya Sakura membaringkan tubuhnya pelan ke atas tempat tidur. Kemudian menyelimuti dirinya sendiri karena tiba-tiba saja dia merasa kedinginan, dan kaki juga tangannya seakan membeku.
Sakura tahu apa sebenarnya yang terjadi kepada dirinya. Karena alasannya adalah dia terlalu banyak menggunakan tenaga dalamnya saat insiden di sekolah tadi. Ditambah dirinya mengeluarkan kekuataannya tanpa memakai kalungnya sendiri. Hal itu sama saja dengan mendekatkan diri dengan malaikat pencabut nyawa.
Tak ingin rasa sakit itu bertambah akhirnya Sakura mulai menutup kedua matanya perlahan. Namun, baru saja beberapa detik dia memejamkan matanya, sebuah suara derap kaki mendekati kamarnya. Membuat Sakura kembali membuka matanya dan melirik pintu kamarnya yang sedikit terbuka, mengira-ngira siapa yang mendatangi kamarnya.
Dan dari ambang pintu kamarnya itu berdiri seorang gadis manis berambut indigo pendek yang tersenyum ke arahnya. "Kau sedang apa?" tanyanya dan masuk ke dalam kamar Sakura setelah menutup rapat pintu kamarnya.
Sakura menggelengkan kepalanya lemah dan tersenyum. Hinata yang melihatnya mengangkat sebelah alisnya mendengar jawaban tak biasa Sakura. Dia segera mendekatkan diri dan duduk ditepi tempat tidur. "Kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat lebih pucat dari biasanya," ucapnya dengan nada khawatir.
Sakura kembali menggelengkan kepalanya. Dan membuat tanda tanya besar di benak Hinata. Maka dengan jawaban tak pasti dari Sakura, Hinata iseng mendekatkan punggung tangannya pada dahi lebar Sakura.
"Di-dingin sekali," ucap Hinata dengan nada terkejut.
"…"
"Kau kenapa, Sakura?" tanya Hinata mulai panic dan langsung menggenggam tangan kanan Sakura yang terbaring di samping tubuhnya. Kembali Hinata merasakan dingin yang melebihi dia rasakan pada dahi Sakura.
"…" tak ada jawaban dari Sakura sama sekali. Dia hanya terdiam membisu dan juga bibir yang tertutup rapat.
"Kakak! Cepat ke sini!" teriak Hinata sekeras mungkin memanggil Neji.
Tak perlu untuk kedua kalinya Hinata berteriak, Neji sudah berada di ambang pintu dengan wajah khawatir. "Ada apa, Hinata?" tanyanya dan berjalan mendekat.
"Sakura… badannya terasa sangat dingin."
Neji yang sedikit tak percaya, segera menyentuh kening Sakura dengan punggung tangannya. Dan wajahnya menunjukan keterkejutan yang kentara kental. Sebab, sepuluh menit lalu ketika mereka betiga berbincang-bincang di ruang tamu, Sakura terlihat baik-baik saja. Tapi, sekarang bagaimana bisa keadaan Sakura seperti ini.
"Akan kupanggilkan dokter," ucap Neji dan segera merogoh kantung celananya dan sebelah tangannya yang lain terasa sangat dingin. Kedua mata lavendernya melihat jika salah satu tangan Sakura yang lain menggenggam tangannya erat.
Sakura tak mengucapkan apa-apa namun hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali. Neji yang mengerti akan apa yang ingin Sakura katakan, yaitu untuk tak memanggil dokter, akhirnya dirinya mengurungkan niatnya menghubungi dokter keluarga mereka.
Tanpa buang waktu lagi Neji berjalan menuju lemari dan membuka pintunya dengan gusar. Mengeluarkan tiga selimut tebal sekaligus dan langsung membungkuskannya pada tubuh Sakura dibantu oleh Hinata. "Ambilkan air hangat dan handuk, Hinata!" perintahnya dan menatap wajah Hinata.
Tanpa banyak bertanya untuk apa barang-barang tersebut Hinata bergegas keluar kamar dan mengambil apa yang disuruh oleh Neji. Dan Neji menggantikan posisi Hinata, yaitu duduk ditepi ranjang sambil menggenggam kedua tangan Sakura sekaligus. Berusaha menyalurkan suhu tubuhnya pada Sakura. Sesekali Neji menggosok-gosokan tangannya agar lebih hangat pada tangan Sakura. "Bertahanlah, Sakura!" ucapnya.
Sakura menganggukan kepala dan tersenyum tipis.
Beberapa menit kemudian Hinata datang membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil, di belakangnya menyusul pembantu di rumah tersebut yang di tangannya membawa segelas teh hangat. Dan Neji yang melihatnya segera mengambil alih handuk kecil tersebut yang sudah basah dan menaruhnya di kening Sakura.
Hinata dan juga pembantu yang membawakan segelas teh hangat tersebut mengatupkan kedua tangannya di depan dada, berdo'a untuk Sakura.
Dan Sakura mulai merasakan kegelapan di sekelilingnya, beberapa detik kemudian kedua mata emeraldnya menutup sempurna.
.
.
.
.
.
.
.
Sasuke menunggu dalam diam dengan duduk di atas motornya di depan sebuah klinik kecil. Kedua matanya beberapa kali mengerling ke arah pintu masuk klinik tersebut, berharap bahwa gadis berambut merah itu segera keluar. Sudah sekitar 30 menit yang lalu Sasuke menunggu di bawah pohon oak di dekat klinik tersebut. Dia menghela nafas lelah, karena baru pertama kali ini dirinya dibuat menunggu selama ini oleh seorang gadis.
Namun, karena udara yang sejuk di bawah pohon ini membuat perasaannya jauh lebih baik. Angin berhembus menerpa wajahnya dan membuat tubuhnya rileks. Dia sejenak menutup matanya ingin merasakan lebih udara sejuk yang menerpa dirinya. Tetapi dia dikejutkan oleh suara Karin yang tiba-tiba saja terdengar di indera pendengarannya.
"Maaf membuatmu menunggu lama, Sasuke," ucapnya dengan wajah menyesal dan tersenyum canggung.
Sasuke sedikit mengerjap kaget karena Karin berada tepat di sampingnya. Sebab, dia sama sekali tak merasakan ada orang yang mendekat. Namun, keterkejutannya tersebut tak diperlihatkannya, wajahnya tetap tanpa ekspresi. "Hn. Tak apa."
Sasuke kembali menaikan standar motornya dan memakai helmnya kembali, setelahnya menghidupkan mesin motornya. "Naik!" ucapnya.
Karin tak banyak berkomentar dan segera naik dengan ekstra pelan-pelan. Dia tak ingin membuat parah lukanya. Dan kata-kata yang di ucapkan dokter yang memeriksanya sama sekali tak membuat tenang dirinya.
Sasuke mulai menarik gas di tangan kanannya dan beberapa detik kemudian keduanya sudah mulai menjauhi klinik tersebut. "Apa kau keberatan untuk menemaniku minum teh sebentar?" tanya pemuda berambut emo itu pada seorang gadis yang duduk di belakangnya, tanpa menolehkan sedikitpun kepalanya ke belakang karena tak ingin menabrak sesuatu nanti.
"…" Karin sama sekali tak menjawab. Dirinya larut dalam pikirannya sendiri mengingat kata-kata yang diucapkan oleh Sakura sewaktu di depan ruang UKS itu.
"Karin?" tanya Sasuke.
"Kau bicara apa tadi?" Karin malah balik bertanya.
"Kau mau menemaniku minum teh sebentar?"
"Tentu. Kedengarannya bagus," jawab gadis itu tanpa ada ragu dan gugup sedikitpun.
"Hn."
Segera saja Sasuke menambahkan kecepatan motornya menuju tempat yang ada dipikirannya, sekaligus melancarkan rencananya.
.
.
.
.
.
.
.
Tsudzuku
Balas review dulu^^
_Vvvv : Q yakin, Sakura itu setngh malaikat juga setngh iblis*di- shannaro*hahaaa. Terus up to date dengan fic nie, ya!
_Ruki chan : Makasih^^. Yupz, sbntr gy bkl ketauan. Tunggu z, ya! Review?
_Wataru Takayama : Hai, jg^^. Makasih… tp knp review chap-2… nie dh smpai chap 7 loch. Review?
_Yuki Chynta : Hai dan salam kenal juga^^. Msih blum… tp sbntr gy koq. Gomen, update'y telat. Review?
_Uchiha Vio-chan : Nie dh di update. Review?
_Haza Haruno : Nie dh di update. Review?
_Ryuu teme : Makasih atas pujiannya. Wanna review again?
_Just Ana : Makasih. Gomen update'y super duper lama bngt. Wanna review again?
_4ntk4-ch4n : Apakah stlh mmbc chap nie msh pensran? Heheheh. Review?
_CheZaHana-chan : Kireeeiiii~. Ga pa2 koq. Emosinya krang lepas, ya. Mmm… masukannya diterima. Maksih. Review?
_Mayu Akira : Nie dh di update loch. Review?
_No name : Makash. Ga juga. Klu malsh Karin masih rahasia..hehehe. pastinya bkl smbuh donx. Review?
_Hendra Guzorinete : Berimanjinasi boleh, toh? Ga da slhnya kan? ^^ But, Thanx for your review!
_Aiko Uchiha-chan : Sasori itu… Mmmm… nnti jg bkl tau kok. Tunggu, ya! Review?
_Sichi : Nie dh di update. Mksh atas semangatnya. Review?
_Lolycuka'pink : Mksh^^. Review?
_Uchiha Klorista : Ok. Ini dia chapter 7 nya. Suka? Mksh buat review'y!
.
.
.
.
.
.
Kuucapkan makasih bngt bg pr reader yg mnymptkan wktunya buat review fic ini. Dan juga maksih krena sdh mau mngikuti fic nie dr awal smpai skrg. Benar-benar mmbuatku smngat untuk meng-update fic nie d tngh kesibukanku. Dan maaf jika terlalu lama update'y.
Begitu jg kuharap chap ini tak mngecewakan readers semua. Dan teruslah buat q semangat, ya. Tolong, baca jg fic ku yang lainnya.
Review?
