"Wah... Naru, kau pintar sekali memasak," puji Mikoto memperhatikan Naruto yang masih berkutat dengan masakannya.
"Ah.. Tante, bisa aja. Tapi aku lebih hebat kalau memasak ramen. Hehehe, ramen itu adalah makanan kesukaanku," jelas Naruto tersenyum lebar.
"Ah... jangan panggil Tante, panggil saja Mikoto-san, ok?"
"Tapi... yasudah, baiklah, Mikoto-san," Naruto tersenyum lembut.
"Naruto!" ucap Mikoto tiba-tiba dengan nada serius.
"I, iya?"
"Cepatlah menerima pernyataan cinta itu dan menikah dengan Itachi agar aku bisa segera membuatmu jadi menantuku, ya 'kan Fugaku?" tanya Mikoto yang hanya ditanggapi oleh anggukan Fugaku.
Saat itu Itachi hanya tersenyum mendengar perkataan Ibunya dan melihat wajah Naruto yang begitu merah. Sedangkan Sasuke, saat ini wajahnya tetap saja seperti biasa. Tapi sebenarnya... dia lagi ngedumel nggak jelas dalam hatinya sendiri dan terus saja berbisik kecil hingga tak terdengar oleh orang lain.
"Aku bodoh, bodoh, bodoh,"
Yup... itulah yang sedang Uchiha bungsu gumamkan sejak tadi.
Tapi apa kalian tidak heran. Setelah Itachi menyatakan perasaannya pada Naruto didepan orang tuanya tapi saat ini keadaan tampak biasa saja. Pasti kalian juga akan berpikirkan, apa Fugaku tidak memarahi Itachi? Apa Fugaku tidak akan memarahi si sulung Uchiha itu? Atau mungkin saja Fugaku akan memukul Itachi?
Aisaretai
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuNaru atau ItaNaru
Rate : T
Warning : Typo(s), Gaje, Abal, Shounen-ai, AU, OOC, dll.
Flashback
"Aku ingin meminta izin untuk berpacaran dengan Naruto. Dan untuk Naruto, sekali lagi... maukah kau menjadi kekasihku?"
Setelah mendengar ucapan Itachi tersebut, keadaan menjadi hening.
"Apa maksudmu, Itachi?" tanya Fugaku dengan nada menekan.
"Sudah kutegaskan bahwa aku ingin berpacaran dengan Naruto bila Naruto menerima pernyataanku," jawab Itachi mantap dengan menatap tanpa takut pada ayahnya yang sekarang ini err... kalian pasti tahu sendiri bila melihat ayah kalian marah 'kan?
"Baka Aniki!" gumam Sasuke pelan.
"Kau tahu! Dia itu laki-laki, dan kau juga laki-laki!" tanya Fugaku tegas.
"Aku tahu itu, dan oleh sebab itu juga aku meminta izin padamu,"
"Ka, kau... dasar anak tak tahu diri!" dengan cepat Fugaku berdiri dan hendak memukul Itachi.
"Hentikan!" teriak Naruto yang langsung berdiri didepan Itachi sehingga Fugaku menahan pukulannya.
"Kenap.."
"Jangan pukul Itachi-nii, dia tidak salah. Aku janji, aku akan melakukan apapun yang paman katakan. Jadi... kumohon, jangan pukul Itachi-nii," ucap Naruto walaupun sedikit takut melihat Fugaku saat ini.
"Sesuka itukah kau kepada Itachi?" tanya Fugaku yang tampaknya mulai sedikit tenang.
"Ah... i, itu.. bu, bukan begitu. A, aku hanya tidak mau membuat kalian bertengkar karena hal yang melibatkanku. Maaf sudah membuat kalian bertengkar," ucap Naruto. Kemudian Naruto memandang Itachi yang saat ini tampak sedih.
Sedangkan Sasuke, sedikit senyum terhias diwajahnya.
"Ta, tapi bukan berarti aku menolak Itachi-nii... aku... hanya belum tahu perasaanku yang sesungguhnya saja. Jadi, Itachi-nii... aku harap kau mau menunggu sebentar lagi saja," ucap Naruto lembut pada Itachi yang sekarang sudah mulai tersenyum lagi. Dan Sasuke... cembetut lagi.
"Kalau begitu, aku tidak akan memukul Itachi. Tapi sebagai gantinya kau harus menepati janjimu bahwa kau akan melakukan apa saja itu," ucap Fugaku tegas pada Naruto.
"Baiklah, paman. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Naruto.
"Naruto, kau tak perlu berbuat seperti itu! Aku yang salah jadi ayah aku.."
"Itachi-nii, tidak apa-apa. Lagipula, aku 'kan yang sudah berjanji seperti itu," ucap Naruto tersenyum.
"Baiklah, pirang. Aku akan menghukummu!" ucap Fugaku tegas.
"Mulai hari ini kau harus..."
Semua terdiam menanti kelanjutan dari perkataan Fugaku. Masing-masing membayangkan, apakah Naruto akan dihukum pancung? Dipenjara seumur hidup? Dikurung diruang tertutup? Dihukum gantung? Atau dijadikan boneka milik Fugaku?
Yang pasti saat ini semua terdiam.
"... tinggal disini dan memanggilku Ayah, kau mengerti?" tanya Fugaku yang kemudian segera meminum minumannya kembali.
End Flashback
"Aku tak menyangka Ayah akan berkata seperti itu," ucap Itachi.
"Hihihi... dari dulu ayah kalian juga sebenarnya menyukai sesuatu yang tampak manis. Dan Naruto itu sangat manis, oleh sebab itu ia tidak bisa memukul Naruto," jelas Mikoto tertawa kecil dengan melirik pada Fugaku yang kini menutup wajahnya dengan koran yang sedang dibacanya.
"Tapi, kenapa Naruto jadi harus tinggal disini? Dan kenapa pula ayah ingin Naruto memanggilnya 'ayah'?" tanya Sasuke tidak terima.
"Ayahmu itu ingin memiliki seorang anak yang manis. Tapi kalian tahu sendiri 'kan? Kalian malah terlihat seperti ayah kalian. Makanya ketika melihat Naruto, ayahmu langsung ingin membuatnya dekat dengannya," jelas Mikoto lagi.
Tidak menyangka ya, seorang Fugaku Uchiha yang terkenal cool, tampan dan beribawa, bisa seperti ini hanya karena Naruto. Naruto... kau memang luar biasa. ^.^b
"Tapi aku tak suka Naruto tinggal disini! Dia itu mengganggu! Aku benci melihatnya disini!" ucap Sasuke.
"Sasuke, kau tidak boleh berka..."
"Lagipula dia tidak cocok dengan keluarga kita. Mana mungkin dia mengerti kita? Dia itu yatim piatu, tidak mengerti kasih sayang orang tua. Dia itu tidak patut untuk disayangi. Dia hanya bisa bertingkah bodoh untuk menarik perhatian orang lain. Dia itu hanya senang mengganggu orang lain karena tidak ada orang tua yang akan memarahinya. Dia itu hanya orang bodoh yang memang patut untuk dibenci!" teriak Sasuke.
Plak
"Kau keterlaluan Sasuke," ucap Mikoto dengan setitik air di pelupuk matanya.
"Maaf... bila aku terus mengganggumu Sasuke, kau benar... aku ini tak mengerti kasih sayang orangtua. Aku yatim piatu, aku memang patut untuk dibenci. Aku tahu aku ini bodoh... tapi, aku juga ingin merasakan kasih sayang itu. Aku sangat senang ketika Fugaku-san memintaku untuk memanggilnya Ayah, aku sangat senang dengan kehangatan Mikoto-san. Aku senang mereka memperlakukanku seperti anak sendiri. Kau pikir aku senang tidak memiliki orang tua hah? Kau pikir aku ini selalu bahagia? Aku sakit... sakit sekali, saat mendengar orang-orang mengucap benci padaku. Sakit... " ucap Naruto membuat semuanya terkejut.
Saat ini mata birunya terlihat kosong dan berawan. Ia... sakit hati. Didalam hatinya saat ini sedang menjerit meski sekarang ia mempertahankan senyumannya.
"Aku... keluar dulu," ucap Naruto yang langsung lari meninggalkan keluarga Uchiha itu dan menutup pintu rumah itu.
Kemudian... semua pun terdiam melihat kepergian Naruto itu.
"Kenapa kau berkata seperti itu Sasuke? Kau tahu, ayah dan ibu sangat senang ada Naruto disini. Ibu tau, Ibu baru bertemu sebentar dengan Naruto. Tapi Ibu juga tau, kalau Naruto itu adalah anak yang... baik. Ibu merasakanya, walaupun hanya sebentar... tapi rumah ini jadi terkesan lebih hangat karena keberadaannya," ucap Mikoto sedih.
"Kau sudah membuat Ibu dan Naruto sedih, Otouto. Kau keterlaluan," ucap Itachi yang langsung pergi menuju kamarnya.
Fugaku pun menatap tajam anak bungsunya itu, "Kau mengecewakan,"
Memang hanya dua kata yang dikeluarkan oleh kepala keluarga itu. Tapi hal itu mampu membuat Sasuke segera berdiri dari kursinya dan berjalan keluar.
"Kau mau kemana, Sasuke?" tanya Fugaku.
Sasuke tak menjawab dan hanya melangkahkan kakinya pergi dari rumah itu dan mencari tempat sepi untuk berpikir dan merenung.
(TT^TT)
'Kenapa yang selalu keluar dari mulutku hanyalah hal yang menyakitinya? Aku ini benar-benar bodoh,' pikir Sasuke yang saat ini sedang duduk ditaman yang sangat sepi.
Perlahan satu persatu lampu ditaman itu menyala. Langit mulai gelap dan matahari menghilangkan sinarnya. Angin dingin mulai bertiup menyelimuti tubuh Sasuke yang tetap duduk diam dikursi taman itu.
Tes... tes...
Perlahan tetesan air langit turun menelusuri pipi kiri Sasuke. Dan hujan pun turun.
'Hujan? Aku harus segera pulang... tunggu! Naruto... dia tadi keluar 'kan? Tapi kemana? Jangan-jangan dia kehujanan? ... aku harus mencarinya,' pikir Sasuke ketika mengingat Dobe-nya itu.
Dimulai lah pencarian Sasuke. Saat ini tubuhnya basah karena hujan yang terus saja turun dengan derasnya. Sasuke terus berlari mencari sosok pirang yang selalu tersenyum hangat itu. Sasuke... kau tahu, kau itu benar-benar bodoh. Aku selau saja menyakitinya. Kau tidak pernah memikirkan perasaanya. Kau itu egois, Sasuke.
'Apa dia sudah pulang? Itu tidak mungkin... jarak rumahku ke rumahnya sangatlah jauh! Sudah begitu saaat ini sedang hujan... Naruto... kau ada dimana sekarang?' pikir Sasuke.
Berjam-jam sudah terlewati semenjak Naruto pergi. Dan saat ini, Uchiha bungsu kita sedang bersandar di depan pintu apartemen seseorang.
'Naruto... kau dimana? Aku sekarang dirumahmu, tapi kau tak ada. Sebenarnya kau ada dimana?' pikir Sasuke.
Ya... sekarang Sasuke berada di depan pintu apartemen Naruto. Bagaiman caranya? Tentu saja dengan berlari-lari mencari Naruto hingga kesini.
Saat ini, tubuh Sasuke sangatlah dingin, wajahnya pucat dan sudah tidak bertenaga lagi. Namun didalam pikirannya ia masih saja memikirkan sosok pirang itu.
'Naruto... maaf aku sudah menyakitimu, aku tak bermaksud begitu... aku hanya tak suka kau dekat denga...'
Sasuke pun kehilangan kesadarannya sebelum sebuah tangan hangat mengusap pelan pipi putihnya.
"Sasuke..."
(TT^TT)
Tampak Naruto masuk ke dalam apartemennya dengan membopong sesosok pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya itu. Direbahkan pemuda itu diatas kasurnya. Dilepasnya satu persatu baju basah yang menyelimuti pemuda itu. Setelah mengenakan pemuda itu pakaian yang layak, Naruto segera merawat pemuda itu.
Sasuke... saat ini tubuhnya sangat panas karena demam. Naruto dengan perlahan merawat Sasuke agar Sasuke tidak terbangun dari istirahatnya itu. Dengan sabar dia merawat Sasuke walaupun sebenarnya ia masih sangatlah sedih dan ingin segera melepas semua rasa sakitnya.
"Naruto... maaf, aku tak bermaksud seperti itu..." gumam Sasuke masih belum sadar.
Mendengar hal itu Naruto terkejut dan heran.
"Maaf... aku hanya tak suka kau dekat dengan Itachi..."
"Sasuke..."
Tiba-tiba tangan Sasuke menarik Naruto dan memeluknya erat. Wajah Naruto pun memerah.
"Aku... menyukaimu Naruto... kumohon jangan dekati Ita..." Sasuke pun kembali kehilangan kesadaran meninggalkan Naruto yang saat ini hanya terdiam...
Tbc
Akhirnya selesai...
Apa ceritanya aneh? Makin ancur? Makin jelek? Atau bagus #ditendang masa
Please review...
Terima kasih sudah membaca cerita ini^^
