Previous Chapter

"Apa kau terluka?"

"Ti-tidak."

"Sial. Kenapa aku selalu gugup di hadapan gadis ini."

.

.

"Mereka semua tak ada habisnya membicarakan kekuranganku."

"Heeee? Jadi Karin dan Sakura yang membuat keributan itu."

"Lalu.. apa yang mereka ributkan?"

.

.

"Semua orang juga pasti akan mengatakan hal yang sama denganku jika melihat perubahan sikapmu jika ada Sakura."

"Hanya orang pengecut yang berbuat curang. Dan bisa kupastikan aku yang akan menang. Bukan kau, Uchiha Sasuke."

.

.

"Di-dingin sekali."

"Bertahanlah, Sakura!"

.

.

.

Naruto©Masashi Kishimoto

Sutekina Tenshi©Tsukiyomi Kumiko

Genre : Romance/Fantasy/Hurt/Comfort

Rate : T

Pair : SasuSaku

Warning : AU, OOC, GaJe, Typo's

.

.

Enjoy This Chapter

And

Give Me Reviews

.

.

.

.

.

Jari-jari lentik milik seorang gadis berambut merah darah itu nampak mengaduk-ngaduk cangkir teh dengan sendok perak kecil yang memang sudah di sediakan di dalam café. Gadis yang memiliki kedua bola mata beriris ruby itu kembali memasukan satu sendok kecil gula putih untuk yang kedua kalinya dalam waktu lima detik.

Terdengar samar-samar erangan kesakitan dari bibir mungilnya ketika secara tak sengaja lengan kirinya terantuk oleh bawah meja. Dan terdengar juga helaan nafas frustasi membuat sosok seorang pemuda tampan di depannya sedikit mengerutkan dahinya karena bingung.

Pemuda beriris obsidian itu menenggak tehnya sekali sebelum sebuah suara berat miliknya melantun dengan indah dari bibir tipisnya. "Kau kenapa?" tanyanya pendek dan menatap wajah gadis di hadapannya yang memerah entah kenapa dia sendiri tidak tahu alasannya.

"Tak ada." Gadis itu juga menjawabnya tak kalah pendek namun terdengar sangat gugup ketika mengatakannya.

Pemuda di hadapannya sedikit mengulum senyum sebelum kembali mengangkat gagang cangkir teh dan mendekatkannya ke bibirnya. "Apa lukamu parah?" tanyanya setelah kembali menaruh cangkir teh itu di piring kecil khusus cangkir.

"Lumayan. Kata Dokter aku harus memeriksakan luka di tangan dan kakiku selama seminggu sekali dalam satu bulan. Mungkin juga lukaku akan sembuh dalam waktu satu atau dua bulan lebih."

"Separah itu? Bukankah tangan dan kakimu hanya terkena pecahan kaca saja," komentar Sasuke dan sedikit ada kerutan samar di dahinya.

"Dokter yang mengatakan semua hal itu, aku tak tahu pasti. Yang nyata aku rasakan adalah luka ini sangat-sangat menyiksaku. Rasanya berdenyut-denyut dan perih saat aku ingin menggerakannya sedikit saja," jawab Karin dan menyangga dagunya dengan tangan yang tak terluka. Kedua mata ruby-nya menatap Sasuke diam-diam dari balik kacamata berframe merah miliknya.

"…"

"…"

Lama keduanya terdiam, sampai Sasuke terlebih dahulu yang membuka suara. "Aku juga pernah mengalami luka yang parah," ucapnya dan menyenderkan punggungnya di bantalan empuk kursi merah marun yang sedang ia duduki. Kedua mata onyx-nya mengerling seluruh penjuru café yang kini dia datangi dan pandangannya kembali jatuh pada wajah gadis berambut merah di hadapannya.

Kepala berwarna merah darah itu seketika terangkat dan raut wajah penasaran terpeta jelas di wajah gadis itu. Dia menaikan letak kacamatanya dan menatap Sasuke intens. "B-benarkah?" tanyanya tambah gugup.

Sekarang ini Karin sedang berusaha untuk memfokuskan pikirannya hanya untuk Sasuke seorang. Dan gadis itu juga sedang berusaha untuk tidak kehilangan kesadarannya saat berada sedekat ini dengan pemuda yang selalu dia sukai. Pemuda yang selalu ia impikan. Pemuda yang selalu ia kagumi secara diam-diam tanpa mau mengumbar pada semua orang bahwa dia—gadis yang biasa dan sangat sederhana, bahkan mungkin tak bernilai bagi orang lain kecuali kedua sahabatnya—memimpikan menjadi kekasihnya.

Tapi Karin sadar diri, jika pemuda yang ia selalu impikan terlalu sulit di gapai seperti bulan ataupun bintang di langit yang selalu menyinari dan melenyapkan kegelapan di bawah naungannya.

"Benar. Kau tahu—" Sasuke menggantung ucapannya bermaksud memancing ekspresi apa yang akan diperlihatkan oleh gadis itu ketika dia mengatakan kelanjutannya. "—sekitar dua minggu yang lalu aku pernah nyaris mati karena luka tusukan yang kudapat."

Karin terperanjat terkejut dan mengerutkan keningnya. "Du-dua minggu yang lalu?" tanyanya yang masih belum bisa menjauhkan rasa gugupnya.

"Ya, begitulah. Ada dua orang preman yang bermaksud ingin merampok semua uangku. Aku melawan dan akhirnya aku nyaris bertemu dengan malakait pencabut nyawa."

"Dimana kejadian itu?"

"Akan kutunjukan padamu nanti. Kau masih punya banyak waktu luang 'kan?"

"Y-ya. Lalu, siapa yang menolongmu?" tanya Karin dan bersiap mengangkat cangkir teh dan akan mendekatkan ke bibirnya saat kata-kata Sasuke yang membuat gerakannya langsung terhenti.

"Seorang gadis cantik, dan kini aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama."

Hati Karin seketika mencelos dan dadanya serasa ada yang menekannya kencang membuat jantungnya berdenyut sakit. "Siapa namanya?" tanyanya sangat penasaran. "Bagaiamana rupa seorang gadis yang sudah sangat luar biasa membuat seorang Uchiha muda di hadapannku ini jatuh cinta pada pandangan pertama," batinnya.

"Aku tidak tahu," jawab Sasuke pendek dan kembali meminum teh tanpa gula miliknya. Pandangannya menerawang keluar membayangkan jika gadis yang sudah menolongnya ada di hadapannya dan sedang tersenyum manis padanya.

"Kenapa bisa?"

"Saat itu aku sedang berada di ambang batas kesadaran. Wajah gadis itu saja tidak jelas di dalam penglihatanku, namun satu hal yang membuatku tidak akan lupa akan sosoknya yang misterius itu."

"Hal… apa?"

"Senyumannya."

"Apa?"

"Gadis itu memiliki sebuah senyuman yang manis. Suaranya yang jernih dan indah melantun dari bibirnya saat berucap padaku."

"…" Karin terdiam dan nampak seperti mengingat sesuatu yang entah kenapa dia lupakan selama seminggu ini.

"Aku yakin… jika gadis itu adalah—" Sasuke kembali menggantungkan ucapannya, kedua matanya menatap intens wajah Karin disertai sebuah senyuman manis nan menawan.

"…"

"—malaikat penyelamat hidupku."

Ting!

"Akh!" Karin langsung bangkit berdiri karena dia baru saja menumpakan isi cangkir teh miliknya membuat sedikit ujung rok rempelnya basah. Beruntung pengunjung di café itu hanya ada mereka berdua karena sedang sepi. Jika tidak pasti Karin akan jadi pusat perhatian.

"Maafkan aku. Tanganku licin sehingga gelasnya terjatuh," ucap Karin dan mengibas-ngibaskan roknya sedikit.

"Tak apa. Kita bisa memesannya lagi." Sasuke sudah bersiap akan mengangkat tangannya memanggil pelayan saat tangan Karin menyentuh tangannya dan menurunkannya.

"Tidak perlu. Aku sudah cukup puas meminum tehnya."

"Hn." Sasuke menatap pergelangan tangannya yang kini digenggam oleh Karin dengan sebelas alis terangkat. Pemuda itu cukup terkejut bahwa gadis itu berani menyentuhnya secara fisik.

Seakan tersadar akan tatapan Sasuke yang terus mengarah pada tangannya, serta-merta langsung saja Karin melepaskannya dan sedikit membungkukan badannya. "Maafkan aku!"

"Tidak usah meminta maaf sampai seperti itu," ucap Sasuke.

"Iya…"

"…"

"Sasuke?"

"Mmmm?"

"Aku—ingin melihat tempat yang tadi kau bicarakan."

"Baiklah. Kita pergi sekarang." Sasuke langsung bangkit berdiri setelah menyambar jaket kulit berwarna hitam beserta kunci motor di atas meja.

Sedangkan Karin segera mengambil jas sekolahnya beserta tas ranselnya. Dia sedikit kesusahan ketika akan memakaikan tas itu pada punggunggnya. Sasuke yang melihatnya segera menolongnya dan telah sukses membuat wajah gadis itu kembali memerah.

Diam-diam, Sasuke menikmati waktu bersama Karin dan saat melihat wajah memerah gadis itu yang disebabkan oleh perlakuannya sendiri.

.

.

.

.

.

.

Kedua kelopak mata gadis berambut merah muda itu nampak terbuka secara perlahan. Dan seorang gadis manis berambut indigo pendek yang tengah menunggunya dari tadi segera bangkit berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat. Sebelah tangannya terlulur dan menggenggam tangan kanan gadis yang tengah berbaring lemas itu di atas tempat tidur.

"Sakura?" lirih Hinata yang hampir nyaris akan terisak kembali karena takut akan keadaan temannya itu.

Sakura membuka matanya dan pertama kali yang ditangkap oleh retina matanya adalah langit-langit kamarnya. Pandangannya sedikit buram pertama kali namun setelahnya kedua penglihatannya sudah bisa jelas melihat raut wajah ketakutan Hinata. Dia tersenyum tipis dan bangun dari tidurnya menjadi setengah duduk. "Aku sudah jauh lebih baik. Kau tenang saja, Hinata."

"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa sampai seperti ini? Aku mengkhawatirkanmu… juga Kak Neji," cerca Hinata dalam satu tarikan nafas.

Sakura tersenyum simpul dan mengelus pelan punggung tangan kanan Hinata yang kini sedang menggenggam tangannya. "Mungkin aku hanya kelelahan saja. Setelah ini aku berjanji, tidak akan ada kejadian seperti ini lagi. Percayalah padaku!"

"Aku selalu percaya padamu."

"Terima kasih. Kau memang gadis yang berhati lembut. Aku akan membalas kebaikanmu suatu hari nanti, Hinata," ucap Sakura. Tangan kanannya terangkat untuk mengelus lembut rambut indigo sahabatnya itu. "Dan aku pasti akan membuat kau sembuh," batinnya.

"Kau mau makan sekarang? Akan kubawakan sesuatu untukmu. Katakan saja kau ingin makan apa!"

"Apa saja, aku pasti akan memakan makanan apapun yang kau berikan untukku, Hinata," ucap Sakura.

Hinata tersenyum lebar dengan kedua pipi sedikit memerah, "Baiklah. Tunggu sebentar, ya!"

Sakura hanya mengangguk dan melihat punggung Hinata yang menghilang sempurna saat keluar dari kamarnya. Dan sebuah helaan nafas lelah keluar di bibir gadis manis itu. Kedua mata emerald-nya memandang keluar jendela yang sengaja dibuka agar udara sore hari dapat masuk.

Semilir angin kecil menggoyangkan helaian rambut merah mudanya. Sedikit membuat sang pemiliknya tergelitik geli karena menyentuh pipinya. Kedua mata emerald itu menatap intens keadaan langit di luar sana yang sepertinya akan turun hujan.

Tubuh gadis itu sudah bisa merasakan bahwa akan ada badai tengah malam nanti. Jika ada badai pasti di langit nanti akan ada kilatan segaris yang kemudian akan berubah menjadi petir. Suara gemuruh guntur yang memekakan telinga, terlebih hal itu membuatnya sangat merasa terganggu. Karena setiap malaikat seperti halnya dirinya, pasti akan mempunyai kekuatan spesial—bawaan sejak lahir.

Gadis itu mempunyai kepekaan yang sangat tajam mengenai suara, bahkan suara detak jantung orang lain yang berada jauh dengannya saja bisa ia dengar apalagi jika dekat.

"Aku harap tidak akan ada petir," mohon Sakura pelan.

Tiba-tiba saja kedua alis merah muda gadis itu saling berkedut satu sama lain. Sedetik kemudian kedua matanya sedikit melebar karena baru saja teringat akan sesuatu. Langsung saja gadis itu melompat dari tempat tidurnya dan melangkah terburu-buru menuju balkon.

Sakura memandang ke atas langit dan setelahnya menutup kedua matanya. "Petir—itu adalah kekuatan miliknya. Pangeran—dia… apakah berniat turun untuk menjemputku?" gumamnya pelan.

Sebuah tempat yang mungkin kita pernah dengar tapi tak pernah kita percayai. Sebuah tempat yang mungkin mustahil bagi kita ada tapi memang ada. Sebuah tempat yang mungkin saja damai bagi mereka tapi tidak bagi kita. Sebuah tempat yang mungkin di hidupi oleh makhluk lain selain kita tapi berbeda. Sebuah tempat nan indah yang apabila kita melihatnya secara langsung akan membuat kita takjub.

Sebuah tempat bagi mereka, mereka yang di sebut-sebut sebagai makhluk suci dan berhati bersih. Tempat mereka hidup selama beratus-ratus tahun lamanya, bahkan mungkin sebelum para manusia seperti kita di ciptakan mereka sudah hidup.

Malaikat.

Makhluk selain kita yang hidup sangat jauh dengan para manusia. Jauh di atas langit sana di ketinggian berpuluh-puluh ribu meter dari atas permukaan bumi.

Seorang mahkluk yang berbentuk tak jauh beda dengan para manusia. Yang membedakannya mungkin hanya masalah hati dan sepasang sayap besar dan indah di punggung mereka.

Sebuah tempat yang sangat cantik dengan berbagai gumpalan awan putih maupun biru yang menjadi latar belakangnya. Sebuah tempat dengan berdirinya pilar-pilar tinggi entah mendapat tumpuan dari mana. Pilar-pilar pemancang bangunan-bangunan megah di tempat asing ini seperti melayang. Tak ada dasarnya.

Sebuah gerbang besar nan tinggi menjulang di tempat pertama kali jika ingin masuk ke dalam. Sebuah gerbang berwarna kuning keemasan dengan adanya sulur-sulur akar bunga mawar merah. Sebuah gerbang berdaun pintu dua dengan dua malaikat penjaga. Kedua malaikat yang bergender sesama laki-laki itu mempunyai paras yang tampan dengan sebuah senyuman menawan di bibirnya.

Dua orang malaikat laki-laki berambut hitam pendek dengan sayap ukuran kecil berwarna putih di punggung keduanya. Di masing-masing tangan kanan keduanya tergenggam sebuah tombak dengan ujung yang runcing.

Kedua malaikat tampan itu mempunyai tanda bulan sabit berwarna merah di dahi. Akan menyala jika ada mahkluk selain mereka datang mendekat. Makhluk selain mereka yang mempunya sifat semua kebalikan yang mereka miliki.

Jika mereka—para malaikat—mempunyai sifat possitif, maka makhluk selain mereka mempunyai sifat negatif.

Jika mereka—para malaikat—mempunyai hati yang bersih dan suci, maka makhluk selain mereka mempunya hati kotor dan ternoda.

Makhluk selain mereka—para malaikat—yang hidup sama-sama di atas langit. Makhluk yang menjadi musuh abadi mereka.

Iblis.

Seorang mahluk berdarah dingin yang senang mengotori tangannya sendiri dengan perbuatan kotor. Seorang makhluk yang sangat dilarang dan di dekati oleh para malaikat. Seorang makhluk yang juga tak bisa di musnahkan oleh bangsa malaikat. Seorang makhluk abadi dengan kekuatan yang mungkin bisa mengalahkan para bangsa malaikat.

Seorang makhluk yang sangat sulit di kalahkan karena kuantitas mereka yang sangat banyak di banding para malaikat. Seorang makhluk yang selalu ingin mengadakan pertumpahan darah.

Seorang makhluk yang sama-sama mempunyai paras tampan ataupun cantik. Seperti seseorang yang sedang terbang dengan cepat menuju gerbang yang di jaga oleh kedua malaikat tampan itu. Seseorang yang sedang terbang dengan kedua sayap besar berwarna hitam di punggungnya yang terbuka.

Seorang iblis itu memakai gaun berwarna merah panjang tak berlengan dengan tanda bulan sabit hitam di dahinya. Seorang iblis yang mempunyai paras yang sangat cantik. Seorang iblis yang mempunyai warna rambut kuning keemasan dengan kedua bola mata berwarna aquamarine yang indah.

Bibir berwarna kemerahan sewarna dengan darah itu nampak tersenyum menyeringai. Bibir indah nan mungil milik seorang gadis cantik, namun dia adalah seorang iblis yang terkuat. Atau bisa di katakan, malaikat yang menjadi iblis.

Kenapa?

Kenapa ada seorang malaikat yang bisa menjadi iblis?

Jawabannya adalah karena hati malaikat tersebut telah dirasuki atau pun di biarkan dirasuki oleh iblis lain. Dan malaikat yang sudah di rasuki tidak akan pernah bisa kembali ke wujudnya yang semula.

Karena itu, gadis cantik beriris aquamarine itu tetap menjadi iblis.

Tangan kanan mungil gadis itu terulur ke samping, dan sedetik kemudian sebuah pedang panjang muncul dan berada di genggamannya. Sebuah pedang berwarna hitam dengan tiga mata sabit, yang terpanjang terletak di tengahnya. Gadis itu berhenti terbang setelah sampai di dekat gerbang, dan para malaikat yang berjaga sudah waspada.

"Minggirlah jika kalian ingin hidup!" Suara iblis cantik itu mengalun dengan jernih dan lembut namun terdengar berbahaya.

"Kau tidak akan bisa melewati gerbang ini untuk yang kedua kalinya," jawab salah satu malaikat penjaga itu.

Nampak iblis cantik itu terkekeh kecil namun terdengar sangat menakutkan. Selanjutnya tanpa ada kata yang keluar dari bibir ranumnya, sebelah tangannya yang menggenggam sebuah pedang hitam panjang nampak terayun ke depan.

Gadis itu menebas angin secara vertical maupun horizontal dan mengarahkan angin tersebut pada kedua malaikat penjaga itu. Angin yang di buatnya dengan mudah mengalahkan malaikat penjaga beserta gerbang megahnya.

Kedua malaikat itu hancur dan berubah menjadi serpihan cahaya akibat terkena kekuatan yang di miliki iblis itu. Begitupun dengan pintu gerbangnya yang menjeblak terbuka. Dengan segera iblis itu kembali terbang cepat dan menuju satu-satunya bangunan megah yang menjulang tinggi di tempat itu.

Istana Sang Ratu dan Raja.

Iblis itu memakai kekuatannya yang lain dengan menghilangkan keberadaannya agar tak terlihat oleh para malaikat.

"Para malaikat yang payah," batin Iblis itu dan tersenyum licik.

Sebenarnya tujuan dari kedatangan iblis cantik ini bukanlah untuk mengacaukan istana. Melainkan hanya ingin mengambil sesuatu yang dapat membuatnya tahu di mana 'sahabat' lamanya sekarang berada, atau bisa di katakan mantan sahabat.

"Kau pasti akan kutemukan segera. Dan aku, akan dengan senang hati menghancurkanmu menjadi serpihan cahaya. Tunggu saja… Tuan Putri yang cengeng," gumam iblis itu dan kemudian menambah kecepatan terbangnya.

Di lain bangunan namun masih di tempat yang sama, seorang malaikat yang memakai jubah berwarna merah nampak berdiri tegap di balik jendela yang menjeblak terbuka. Sepasang sayap besar berwarna putih nampak terbuka lebar seperti siap akan di pakai terbang. Namun hal sebaliknya yang terjadi, sepasang sayap itu mulai mengecil dan menyusut sampai hilang begitu saja di punggung tegapnya.

"Anda tidak akan menjemputnya sekarang?" sebuah suara menyeruak dari arah belakang malaikat berjubah merah itu.

Di bibir tipis malaikat tampan itu nampak terulas sebuah senyuman. "Belum waktunya bagiku untuk menjemput pasanganku. Saat ini aku ingin memastikan sesuatu. Kau mengerti maksudku, Sasori?" tanyanya dan membalikan badan menjadi menghadap orang yang tengah berbicara dengannya.

Nampak di hadapan malaikat berjubah merah itu ada seorang malaikat berjubah putih yang tengah menunduk hormat dengan sebelah lutut kiri menyentuh lantai sedangkan kaki yang lain menjadi tumpuan tangan kanannya. Kepalanya nampak tertunduk dan sepasang mata berwarna caramel itu menatap kaki orang yang di hadapannya.

Warna rambut sewarna dengan darah itu kemudian sedikit terangkat dan menatap sosok malaikat yang sangat tampan di hadapannya. Wajah baby face miliknya nampak menunjukan raut wajah bingung namun setelahnya dia hanya mengangguk pasti. "Saya mengerti, Pangeran!"

"Sakura, kau sedang apa?"

Sakura mengerjap kaget karena lagi-lagi tak bisa merasakan hawa keberadaan seseorang walaupun samar-samar dia mendengar suara detak jantung yang lemah.

Tak perlu untuk berbalik dan melihat siapa yang ada di belakangnya kini. Karena Sakura sudah tahu jika detak jantung lemah yang ia dengar adalah milik gadis manis berambut indigo.

"Sedang menghirup udara sore hari. Tidak bolehkah?"

"Bukannya tidak boleh. Tapi tubuhmu 'kan masih lemah. Ayo! Kembali ke tempat tidur. Aku sudah membawakanmu semangkuk sup."

"Iya," jawab Sakura setelah sebelumnya kembali melihat keadaan langit di atas sana. "Waktuku tidak akan banyak mulai saat ini," batinnya.

Hinata berjalan mendekat ke sisi tempat tidur sebelah kanan saat Sakura kembali naik ke atas ranjang dan menyelimuti dirinya sendiri dengan selimut tebal berlapis-lapis.

"Sakura?"

"Mmm… apa?" tanya Sakura dan memandang wajah penasaran Hinata.

"Setiap malam kau tidak pernah menutup pintu balkon, ya?"

"Memangnya kenapa?"

"Aku diberitahu oleh salah satu pelayan yang suka membereskan kamarmu, jika dia selalu menemukan helaian bulu sayap burung yang lumayan besar di atas tempat tidur ataupun lantai. Apa setiap malam ada seekor burung yang masuk ke kamarmu?"

Sakura memaksakan diri untuk tersenyum, "Mungkin," jawabnya.

"Tapi sebelumnya belum ada kejadian seperti ini. Maksudku, setiap aku buka pintu balkon saat malam hari sampai pagi pun tak ada helaian sayap burung atau semacamnya."

Sakura mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya sewajar mungkin. Tentu, dirinya tidak akan mengakui jika helaian sayap yang berjatuhan di lantai kamarnya adalah berasal dari sayap di punggungnya. Salahkanlah sayapnya sendiri yang kadang bisa muncul tiba-tiba saat kesadaran dirinya menghilang.

"Sudah! Lupakan saja. Mana supnya?" tanya Sakura mengalihkan topik pembicaraan yang merasa meletakan dirinya di ambang kejujuran.

"Kau pasti akan menyukai sup yang aku buat," komentar Hinata dan tidak kembali mengungkit-ngungkit soal bulu sayap—membuat Sakura lega setengah mati.

.

.

.

.

.

.

Sebuah motor besar yang dikendarai oleh pemuda tampan beriris obsidian itu nampak terhenti di depan sebuah gang kecil. Hal itu membuat tanda tanya besar dan raut wajah ketidakpercayaan yang berasal dari gadis manis beriris ruby yang duduk di belakangnya.

"Tempat ini… kalau tidak salah 'kan—" batin Karin dengan detak jantung dibatas abnormal. Kedua tangan mungilnya mulai membuka helm dan turun dari atas motor atas bantuan Sasuke.

"Di tempat ini… aku pernah terbaring lemah dan nyaris mati," ungkap Sasuke dan berjalan mendahului Karin dengan langkah lebarnya. Sasuke menunjuk tempat di mana dirinya berbaring saat itu dengan jari telunjuk kanannya.

Karin mengikuti arah tunjuk Sasuke dan mendadak kembali jantungnya berdebar kencang. "Mungkinkah… Sasuke adalah orang yang kutolong waktu itu?" gumamnya pelan.

"Karin…" Panggil Sasuke dan langsung menarik pergelangan tangannya yang tak terluka agar lebih merapat ke dirinya. "Aku ingin bertanya sesuatu padamu."

Deg! Deg! Karin merasakan jika kini kedua lututnya mulai melemas karena detak jantungnya yang terus berdegup kencang tanpa henti. "A—kau ingin tanya apa?"

"Apa kau yang sudah menolongku malam itu?"

"Sasuke—aku… aku…"

"Kau 'kan yang membawaku ke rumah sakit?"

"…"

"Dan suara jernih dan lembut yang kudengar. Itu adalah suaramu 'kan?"

"Sasuke…" Karin menundukan kepalanya dengan kedua bahu sedikit gemetar. Kedua matanya mulai berair dan buram bahkan untuk hanya sekedar melihat kedua kakinya.

"Apakah—"

"Benar. Semuanya benar apa yang kau katakan. Aku—saat malam itu… menemukanmu tergeletak berlumuran darah di tempat ini," ungkap Karin dan memotong ucapan Sasuke cepat.

Sasuke tersenyum tipis dan tercipta raut wajah kelegaan di wajah tampannya. "Ternyata benar. Wajah ini yang aku lihat. Wajah ini yang aku lihat terakhir kali saat aku menutup kedua mataku," ucapnya dan menangkup kedua pipi Karin dengan kedua tangannya.

Karin merona merah dengan cairan kristal bening di kedua sudut mata ruby-nya. Kepala bermahkotakan warna merah itu mengangguk pelan. "Ternyata laki-laki itu kau. Aku—tak pernah terpikirkan sebelumnya olehku jika itu kau. Uchiha Sasuke, kau adalah orang yang kuselamatkan waktu itu. Apakah ini yang dinamakan takdir?"

"Mungkin saja," jawab Sasuke dan kembali tersenyum tipis.

Karin mengangkat tangannya yang tak terluka dan memberanikan diri untuk menggenggam salah satu tangan Sasuke yang kini bertengger manis di kedua pipinya. Sebuah senyuman yang teramat manis diberikan olehnya pada pemuda di hadapannya.

Tak bisa dicegah oleh dirinya sendiri, kedua pipi pemuda tampan beriris obsidian itu sedikit memerah. Sebelah tangannya serasa bergerak sendiri tanpa perintah dari otaknya untuk mengelus lembut dan pelan anak rambut gadis bermata ruby itu. Dengan geran lambat, sebelah tangan Sasuke bergerak untuk menyingkirkan beberapa helaian rambut yang menutupi leher gadis itu.

Gerakannya langsung terhenti ketika kedua mata obsidian-nya melihat sebuah benda putih yang melilit leher jenjang nan putih gadis itu. "Kalung ini?" tanyanya.

"Ah, ini…" Karin segera menarik keluar kalung itu membuat Sasuke dapat melihat jelas bagaimana bentuknya. "Cantik 'kan?"

"…"

Gadis itu tersenyum lagi dengan kedua pipi merona merah. "Aku menemukannya bertepatan saat aku menemukanmu," ungkapnya jujur.

"Kalung itu bukan milikmu?"

"Tentu saja ini milikku… aku 'kan yang menemukannya. Lagi pula mana ada orang yang akan lewat jalan sepi ini saat malam hari, kecuali kalung ini adalah milik seorang perampok yang tak sengaja menjatuhkannya. Kau tahu… tempat ini sangat rawan akan kejahatan. Banyak para perampok yang menggunakan jalanan ini sebagai tempat transaksi barang illegal," jawabnya panjang lebar.

"Sudah pasti benda ini tidak ada pemiliknya, kecuali aku yang menemukannya. Apa yang kukatakan benar 'kan?" tanya Karin.

Sasuke bingung harus menjawab apa. Dia hanya bisa terdiam sambil melihat kalung putih yang cantik itu kembali di sembunyikan oleh pemiliknya di balik seragam.

"Karin?"

"Mmm… apa?"

"Bagaimana jika nanti ada orang yang mencari kalung itu? Bagaimana jika ada yang mengaku jika kalung itu miliknya?" cerca Sasuke.

"Aku akan tahu siapa pemilik sebenarnya kalung ini saat aku bertemu dengannya nanti. Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Tidak ada. Kita pulang?"

Karin mengangguk cepat dan merangkul lengan kanan Sasuke sambil tersenyum manis. Sedangkan sang pemilik tangan ikut tersenyum tipis ketika lengannya digelayuti manja oleh tangan gadis itu.

"Kuyakin. Sangat yakin jika gadis yang aku lihat waktu itu adalah kau… Karin," batin Sasuke,"tapi kenapa rasanya aku masih ragu."

##My Lovely Angel##

Seminggu sudah terlewati saat kejadian menghebohkan di dalam lingkungan sekolah elit Konoha Senior High School. Banyak gossip yang beredar setelah kejadian itu. Dan topik utama tokoh yang mereka gossipkan adalah sosok seorang gadis berambut merah darah beriris ruby dan juga sosok asing seorang gadis berambut merah muda beriris emerald.

Tak cukup dengan kehebohan seminggu lalu yang dilakukan oleh Karin—walaupun secara tak sengaja—pagi ini gadis itu kembali membuat heboh seluruh sekolah. Nampak dari arah gerbang sosok gadis itu tengah diboncengi oleh seorang pemuda yang paling diincar oleh seluruh murid perempuan di sekolah elit itu.

Meskipun kepala gadis itu ditutupi oleh sebuah helm, tapi tetap saja beberapa ujung rambut panjangnya dapat dikenali dengan mudah. Di sekolah ini yang memiliki warna rambut merah semerah darah hanya segelintir orang saja, bisa dikatakan nyaris sedikit, bahkan bisa dihitung dengan jari.

Dan tentunya semua murid baik laki-laki maupun perempuan kenal betul pemilik motor berwarna merah yang terlihat sangat mahal itu. Siapa lagi jika bukan Sang Pangeran Malam—julukan bagi sebagian murid yang mengidolakannya— yaitu Uchiha Sasuke, salah satu anggota terakhir dari keluarga Uchiha Bangsawan di Konoha.

Semua siswi menggigit jari gemas dan menatap sebal Karin. Pandangan tajam, cemoohan dan hawa untuk membunuhmu pun diperlihatkan jelas oleh para siswi perempuan itu. Mereka semua seperti seorang Pelahap Maut. Sedangkan para murid siswa bersikap biasa saja seperti tak terjadi apa-apa. Tapi, ada juga beberapa siswa yang bersiul menggoda saat Karin melepaskan helmnya dan tersenyum manis pada Sasuke.

Mungkin, yang tak menyukai akan kehadiran Karin berada dekat-dekat dengan Sasuke hanya para siswi saja.

"Te-terima kasih kau sudah menjemputku, Sasuke," ucap Karin dan tersenyum kikuk sambil membungkukan badannya rendah. Tak lupa dengan kedua pipi yang nyaris memerah seperti terbakar.

"Hn."

Karin akan segera pergi jika tidak pergelangan tangannya yang tak terluka di genggam oleh Sasuke—membuat hampir semua mata berubah menjadi mata monster yang diperlihatkan para siswi.

"Aku akan mengantarkanmu pulang, dan aku akan mengantarmu saat kau ingin memeriksakan tanganmu," ungkap Sasuke setelah sebelumnya mematikan mesin motornya dan mencabut kuncinya, lalu menaruhnya di saku celana bagian depan.

Andai saja sebelah kakinya sedang tidak terluka, pasti saat ini gadis manis beriris ruby itu langsung melompat senang sambil berteriak-teriak tak jelas. Sayangnya, hal itu tak bisa dilakukannya karena di samping masalah menjaga image cool-nya. Alhasil, Karin hanya mengangguk semangat dengan kedua pipi semerah tomat. Dan setelah hal itu dia langsung melesat pergi dari hadapan Sasuke karena takut akan pingsan.

Dan itu membuat kening pemuda beriris obsidian itu sedikit mengerut. Namun, selanjutnya Sasuke hanya bisa geleng-geleng kepala dan tersenyum kecil. Setelahnya dia pun ikut masuk ke dalam gedung sekolah dengan kedua tangan yang di masukan ke dalam saku, berjalan santai—membuat semua mata para siswi berubah kembali menjadi bentuk hati bukan mata monster.

Pluk! Sebuah tepukan ringan di bahu kanan Sasuke membuat pemuda itu sedikit menolehkan kepalanya ke belakang. "Hn."

Nampak seorang pemuda berambut kuning keemasan tengah memamerkan gigi putih miliknya yang berjejer rapi. Kedua tangan pemuda itu diletakan di belakang kepalanya. "Yo! Sasuke," sapanya untuk menggantikan kata 'selamat pagi'.

"Ada apa?" bukannya menjawab sapaan dari teman dekatnya itu, Sasuke malah bertanya.

"Ada apa-apanya?" tanya Naruto balik.

"Tch! Kau jangan pura-pura bodoh di depanku,dobe!"

Seketika senyuman tiga jari Naruto langsung lenyap dan digantikan dengan raut wajah serius dan tegas. Kedua lengannya yang tadi dipakai untuk menumpu belakang kepalanya di masukan ke dalam saku celana sekolahnya. Naruto berjalan hingga sejajar dengan Sasuke dan kemudian merangkul bahunya dari samping, mengajaknya untuk juga ikut berjalan.

Sebelas alis Sasuke terangkat menatap Naruto. "Kau ini kenapa?"

"Tujuanmu yang sebenarnya bersikap baik pada Karin apa?" tanya Naruto to the point.

"Hn. Tidak ada."

"Kau bohong!" tukas Naruto dan menatap tajam Sasuke.

"…"

"…"

Nampak Sasuke menghela nafas pelan. "Baiklah!—kau menang. Puas?"

"Jadi?"

"Karin—dia adalah perempuan yang aku cari-cari karena sudah menyelamatkan hidupku."

Langkah Naruto langsung terhenti begitu saja begitupun dengan Sasuke. Mulut Naruto sedikit menganga dengan kedua bola mata membulat sempurna. Raut wajah keterkejutan yang luar biasa menghiasi wajahnya. "K-kau… se-serius?" tanyanya terbata-bata.

Sasuke menganggukan kepalanya pelan dengan mantap. "Hn."

"…"

"Aku berhutang nyawa padanya. Karena itu aku sudah bertekad untuk selalu ada di sisinya dan juga menjaganya."

"Be-benarkah kau akan melakukan itu? Sasuke—Karin itu mungkin saja—"

"Dia sudah mengakuinya, lagi pula menurut petunjuk suster, gadis yang sudah membawaku ke rumah sakit sangat sama ciri-cirinya dengan yang Karin."

Naruto mengangguk paham namun masih ada sedikit raut wajah kaget. "Kau yakin dia gadis yang dimaksud?"

"Hn. Aku bisa mengenalinya karena dia memakai kalung yang sama yang pernah aku lihat waktu kejadian itu. Meskipun dia mengaku jika kalung itu dia temukan saat bertepatan menemukanku."

"Kalung? Yang diperebutkan oleh Sakura itu?"

Sasuke mulai berjalan kembali meninggalkan Naruto di belakangnya. Toh, teman yang paling dekat dengannya itu kini mensejajarkan langkahnya. "Hn."

"Kau percaya pada siapa?" tiba-tiba saja Naruto bertanya hal tersebut.

"Maksudmu?"

"Karin atau… Sakura, yang kau percayai sebagai pemilik kalung itu?"

Sasuke mengangkat bahu. "Mungkin saat ini yang aku percayai sepenuhnya adalah Karin. Karena hanya wajah dia yang aku ingat waktu malam itu."

"Lalu bagaimana jika pemilik kalung itu adalah Sakura?"

"Ceritanya akan beda lagi," ungkap Sasuke dan menggeser pintu kelas saat tiba di depan kelasnya. Naruto tetap mengikutinya dari belakang.

"Kenapa jadi rumit seperti ini," komentar Naruto.

"Ya, kau benar. Ini semakin rumit saja."

.

.

.

.

.

.

Hinata mengangkat sebelah alisnya bingung melihat tingkah dan sikap—satu-satunya—teman bagi dirinya. Kedua mata lavendernya menatap penasaran apa gerangan yang sudah terjadi pada gadis berambut merah yang kini duduk berhadapan dengannya.

Karin hanya menatap langit-langit kelasnya di hadapan Hinata dengan sebuah senyuman lebar dan bahagia di bibirnya. Kedua pipinya nampak merona merah dan kaca mata yang sering dipakai olehnya dia lepas dan menaruhnya di atas kepalanya sendiri.

Gadis beriris lavender itu menutup halaman buku sastra yang sedang di bacanya dan menaruhnya di bawah meja belajar. Sebelah tangannya menjentikan ibu jari dan jari telunjuk berbarengan sehingga membuat suara 'ctek!' sekali.

Merasa di abaikan oleh gadis yang ada di hadapannya akhirnya tangan mungil yang satunya lagi segera menarik kencang dan kasar pipi gadis berambut merah itu.

"Aww!"

"Kau ini kenapa dari tadi tersenyum? Seperti orang yang sedang jatuh cinta saja," komentar Hinata dan melipat kedua lengannya di depan dada. Punggungnya dia senderkan di punggung kursi kayu tempat duduknya sendiri.

"Sakit!—kejam kau Hinata," ujar Karin dan mengelus pipinya pelan. Nampak di kedua sudut matanya ada setitik carian kristal. Mungkin Hinata terlalu memakai tenaga saat mencubit pipinya.

"Aku tanya apa, kau jawab apa. Kau ini bagaimana, sih?"

"Pipiku sakit tahu!"

"Haha…" Hinata tertawa meskipun tak ada yang lucu dengan apa yang dikatakan oleh Karin. "Rasakan itu! Dicubit itu sakit 'kan?"

"Hu-uh!"

"Lalu?"

"Apanya?" tanya Karin polos. Dia menurunkan kacamatanya dan memakainya lagi.

"Aku tanya kenapa kau tersenyum seperti orang yang sedang jatuh cinta?"

"Hehe…" Karin terkekeh kecil dengan wajah memerah sempurna.

Hinata nyaris akan tertawa karena melihat wajah Karin tapi ditahan olehnya, alhasil kedua pipinya sedikit mengembung dan ditutupi oleh tangannya sendiri. "Hmmpphh!"

"Aku memang sedang jatuh cinta… pada—"

Sreekk!

Suara pintu di geser telah sukses memotong ucapan Karin secara tak sengaja. Kepala merah marun miliknya menoleh ke belakang dan kedua mata merah miliknya bertatapan langsung dengan sepasang onyx yang juga kini menatapnya.

Pssshhhh!

Yakinlah saat ini pasti wajah Karin sangat memerah dan dari kedua telinganya keluar asap. Sedangkan Sasuke bersiap biasa saja dan terlihat sedikit kedua ujung bibirnya terangkat saat melewati meja Karin juga Hinata beserta Naruto yang menyusulnya di belakang.

"—Sasuke."

"APAAA?" tanya Hinata tiba-tiba dan langsung bangkit berdiri. Kedua mata lavendernya membulat sempurna karena sudah paham maksud dari kata-kata terpotong yang Karin ucapkan. "Kau sedang jatuh cinta?"

"Sssshhhh!" Karin langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir mungilnya dan meminta Hinata untuk segera duduk karena keduanya tengah menjadi pusat semua orang di dalam kelas tersebut.

Nampak terdengar kasak-kusuk dari beberapa orang yang tengah melihat ke arah Hinata dan juga Karin. Ingin rasanya Karin menjitak kepala Hinata karena telah membuatnya di posisi yang sangat terancam.

Hinata nampak tak memperdulikan kasak-kusuk teman-teman sekelasnya. Dia kembali duduk dan menggeser kursi yang di duduki dan mendekati Karin. "Kau jatuh cinta pada Sasuke?" bisiknya rendah tepat di depan wajah Karin.

Dengan malu-malu Karin mengangguk. "Kau tahu Hinata? Ternyata orang yang aku selamatkan pada malam itu adalah Sasuke. Ini sudah pasti adalah takdir."

"K-kau… se-serius? Sasuke… orang yang kau selamatkan malam itu?"

"Uhm… aku juga cukup terkejut pada awalnya. Tapi, dia mengajakku ke tempat kejadian itu, dan semuanya terungkap di sana. "

"Kau sangat beruntung, Karin," puji Hinata tulus.

"Terima kasih!"

"…"

"…"

"Ngomong-ngomong… bel sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Kau tidak pergi ke kelasmu?" tanya Hinata polos dan mulai mengeluarkan buku pelajaran.

"…"

"…"

"…"

Brak! Duk!

"Aaakkhh!" Karin meringis sakit karena lagi-lagi kaki dan tangannya yang terluka terantuk meja ataupun kursi saat dirinya bangkit berdiri secara buru-buru.

"Kau tidak apa-apa?"

"Aku… baik-baik saja."

Mencoba untuk mendera rasa sakitnya akhirnya Karin mulai melangkah pelan meninggalkan kelas Hinata. Gadis beriris ruby itu sedikit merutuki dan mengutuk wali kelasnya sendiri yang menaruh dirinya berbeda kelas dengan teman satu-satunya itu.

.

.

.

.

.

.

Sakura berdiri di tepi balkon dan memandang langit yang mulai menggelap karena sebentar lagi akan turun hujan. Setitik rasa penyesalan hinggap di dalam relung hatinya karena sudah pergi jauh dari tempat asalnya. Sebuah tempat di mana seharusnya dia tinggal dan sebuah tempat di mana dia harus menerima jabatan sebagai ratu di kerajaannya untuk menggantikan ibunya sendiri.

Dan syarat utama sebelum penobatan sebagai ratu itu terjadi, dia diharuskan sudah menikah dengan salah satu pangeran yang memang sudah di ikat dengan dirinya sejak kecil. Mengesalkan memang jika mengingat keterpaksaan tersebut. Tapi, akhir-akhir ini Sakura berpikir, jika apa yang sudah dilakukan olehnya adalah kesalahan yang besar.

Seharusnya dia bisa menerima keputusan yang ditujukan padanya untuk memimpin kerajaannya. Bukannya malah mangkir dan pergi ke dunia manusia.

Sedetik kemudian Sakura menutup kedua matanya dan sepasang sayap besar berwarna putih menggembang di punggungnya. Sakura sedikit menekuk lututnya dan kemudian langsung melompat ke atas, terbang tinggi ke langit yang menghitam. Gaun hitam semata kaki tak berlengan yang dikenakannya nampak berkibar dan bergerak kencang karena terpaan angin.

Saat ini Sakura tengah terbang bebas seperti burung dan menari bersamanya. Sebuah senyuman kecil nampak menghiasi bibir mungilnya yang kali ini dilapisi dengan lipgloss berwarna peach. Sakura terbang memutar dan merentangkan kedua tangannya. Rasanya sangat rindu dengan perasaan bebas seperti ini.

Deg! Deg! Deg! Sakura langsung berhenti bergerak dan memandang awas ke sekeliling. Dia merasakan dan mendengar suara detak jantung seseorang di atas langit ini. "Pangeran atau… dia?" batinnya dan langsung pergi turun.

Jepret! Jepret!

Sakura tak menyadari sama sekali jika kini sosoknya sudah terekam di dalam sebuah kamera handphone milik seseorang. Sosoknya yang tengah terbang turun di atas jalanan aspal yang sepi. "Akhirnya kudapatkan bukti yang kuat," gumam seseorang dan tersenyum kecil.

.

.

.

.

.

.

Special Thanx to:

Haza ShiRaifu

HarunoZuka

Fiyui-chan

Ayhank-chan UchihaArlinz

Aiko Uchiha-chan

Me

Chie Akane Etsuko

Maehime

Sichi

Garoo

Yukicchi

*Gomen ga bisa bls satu-satu review'y*:\

Tapi, aku ucapin makasih bngt krn masih da yg bersedia sekedar baca ataupun review:)

Semoga puas dengan chapter kali ini. Q usahakan akan cpt update.

Dan ada ucapan terima kasih juga dari Rhara*pencetus ide ini* buat kalian semua.

Domo Arigatou, Minna…

.

.

.

Reviews