Previous Chapter

"Gadis itu memiliki sebuah senyuman yang manis. Suaranya yang jernih dan indah melantun dari bibirnya saat berucap padaku."

"Aku yakin … jika gadis itu adalah—"

"—malaikat penyelamat hidupku."

.

.

.

"Petir—itu adalah kekuatan miliknya. Pangeran—dia … apakah berniat turun untuk menjemputku?"

"Minggirlah jika kalian ingin hidup!"

"Saya mengerti, Pangeran!"

.

.

.

"Karin …"

"Apa kau yang sudah menolongku malam itu?"

"Benar. Semuanya benar apa yang kau katakan. Aku—saat malam itu … menemukanmu tergeletak berlumuran darah di tempat ini."

.

.

.

Naruto©Masashi Kishimoto

Sutekina Tenshi©Tsukiyomi. A. Kumiko

Genre : Romance/Fantasy/Hurt/Comfort

Rate : T

Warning : AU, OOC, GaJe, Typo's

.

.

Enjoy This Chapter

And

Give Me Reviews

.

.

.

.

.

.

.

Sakura turun dengan sangat perlahan ke jalanan aspal hitam di depan sebuah bangunan megah bergaya eropa. Sedetik sebelum ia turun, kedua sayapnya sudah menghilang di balik punggungnya yang putih seperti susu. Gadis berambut merah muda itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, waspada jika ada orang yang melihatnya turun dari atas.

Merasa tak ada yang melihatnya segera saja gadis itu berjalan pelan dengan suara langkah ringan. Sebelah tangannya nampak membenarkan letak poninya yang sedikit berantakan. Ia terus berjalan menjauhi bangunan megah tadi tanpa tahu jika sosoknya kini tengah diawasi oleh dua orang pemuda di atas sana.

Salah satu dari keduanya nampak mengulas sebuah senyuman manis. Jubah berwarna putih yang pemuda itu kenakan nampak berkibar pelan karena hembusan angin pagi. Rambut yang sewarna dengan darah itu nampak juga ikut bergerak liar, dan sebuah mahkota kecil berwarna kuning menghiasi kepala bagian atasnya. Sebuah mahkota dengan bentuk setengah lingkaran itu sangat terlihat cantik dengan hiasan batu emerald di masing-masing sisinya. Dan mahkota itu juga merupakan lambang sebuah kerajaan, dan tentunya tak sembarang orang yang memakainya. Sudah jelas jika pemuda itu berada di posisi bagian mana. Ia adalah seorang … pangeran.

"Kita pergi!" ucap Pangeran itu dan setelahnya menyelubungi dirinya sendiri dengan jubahnya, sosoknya menghilang bersama dengan seorang pemuda yang lain. Entah pergi kemana.

"Hhhhh …" Sakura menghela nafas lelah. Sebelah tangannya menghapus jejak keringat di dahinya. Di dalam hati gadis itu mengumpat kesal karena baru saja berjalan dan terbang sebentar tenaganya sudah hampir setengah yang hilang.

"Jika seperti ini terus, maka nyawaku akan melayang," pikir Sakura.

Gadis manis itu kembali berjalan dan keluar dari sebuah tikungan yang mengantarnya ke sebuah jalanan lebar dan ramai. Kedua mata emerald-nya nampak mengedar ke beberapa penjuru kota yang nampak tak asing lagi di dalam ingatannya. Diam-diam gadis itu tersenyum riang mendapati sebuah kedai makanan kering yang masih berdiri sampai sekarang. Terhitung olehnya mungkin sudah sepeluh tahun lebih semenjak ia pertama kali datang ke bumi dan kedai itu masih berdiri sampai sekarang.

Sakura berniat untuk menyebrang ketika ia menyadari ada seseorang yang sedang memerhatikannya. Dan akhirnya gadis itu memilih untuk mengurungkan niatnya pergi ke kedai itu, dan berbelok arah ke kanan. Sakura berniat untuk membawa secara tidak langsung orang yang sudah memerhatikannya ke tempat sepi. Mengintrogasinya atau mungkin membuatnya hilang ingatan untuk hari ini saja dengan kekuatannya. Semakin banyak orang yang tahu mengenai jati dirinya, maka itu akan membahayakan bagi keselamatan nyawanya sendiri.

Orang yang memerhatikan sosok Sakura itu nampak membawa sebuah kamera digital di balik mantel tebalnya. Dia terus mengikuti Sakura tanpa tahu maksud gadis itu berjalan ke sebuah taman sepi. Dan dia berpikir jika kehadirannya belum diketahui oleh gadis itu. Sebaiknya jangan sampai diketahui. Baru saja ia melangkah memasuki gerbang taman, tubuh gadis itu tiba-tiba saja berbalik dan tersenyum teramat manis padanya.

"Kenapa kau mengikutiku terus?" tanya Sakura to the point pada sosok asing itu. Diam-diam gadis itu merasa lega karena yang mengikutinya adalah seorang manusia bukan yang sejenis dengannya.

Orang asing di depan gadis itu nampak gelagapan dan bersiap berbalik untuk segera pergi. Dan dengan memakai sedikit kekuatan yang Sakura miliki sosoknya sudah bisa ada di depan orang asing itu.

"HWAAAAAA!" teriak orang asing itu terkejut dan langsung mundur ke belakang sampai jatuh terduduk. Tudung mantel yang ia kenakan terbuka dan memperlihatkan helaian rambut orange. Dan dapat terlihat jelas jika orang asing itu adalah seorang pemuda berwajah tampan dengan pupil mata yang tak biasa. Kedua matanya nampak menatap Sakura lekat-lekat seperti tengah menelitinya.

Sakura tiba-tiba saja berjongkok di depan pemuda itu dengan sebuah senyuman manis. "Namamu?" tanyanya.

Pemuda itu nampak menelan ludah gugup dan wajahnya pucat pasi. Tapi tak bisa disangkal olehnya jika sosok gadis di depannya teramat sangat cantik dengan sebuah senyuman manis sebagai pelengkapnya. Ia mulai membuka mulutnya untuk mengucapkan namanya sendiri. "P—Pein," jawabnya singkat.

Sakura menujuk dirinya sendiri dengan masih sebuah senyuman manis di wajahnya. "Namaku, Sakura."

Pemuda yang bernama Pein itu nampak mengangguk.

"Lalu, kenapa kau mengikutiku, Pein?" tanya Sakura kedua kalinya namun kali ini senyuman itu seperti ajakan kematian bagi pemuda itu.

"A—aku … mengagumimu." Pein sengaja beralasan seperti itu dan sedikit berbohong. "Kau sangat cantik dan membuatku terpesona."

Sakura kembali tersenyum manis sampai kedua matanya tinggal segaris. Di kedua pipinya nampak terhias sebuah semburat merah tipis mendengar pujian dari pemuda di depannya. "Terima kasih atas pujianmu. Tapi—"

Senyuman Sakura langsung menghilang dan kedua mata emerald-nya memandang tajam kedua mata Pein.

"—kau tak bisa membohongiku."

"A-aku tak berbohong."

"Benarkah? Lalu, kenapa jantungmu berdetak sangat cepat sekarang?" Sakura meletakan sebelah tangannya ke dada pemuda itu.

Psssshhhhhhh!

Wajah Pein langsung berubah warna dari pucat pasi menjadi merah padam. Terlebih ketika Sakura mendekatkan wajahnya padanya. "Aku—"

"Pein!" seru seseorang keras dari arah pintu gerbang taman.

Sosok tegap pemuda berambut hitam dan beriris onyx itu nampak terlihat kalem dan santai, kedua tangannya berada di dalam saku ketika berjalan mendekat pada orang yang diserukannya. "Sedang apa kau di sini?" tanyanya dan membantu Pein berdiri dari duduknya sekaligus menjauhkannya dari Sakura.

"Itachi?" ucap Sakura dengan nada bertanya sekaligus dahinya sedikit terlipat. Ia bangkit dari jongkoknya dan berdiri hadap-hadapan dengan Itachi. Perbedaan fisik dan tinggi dari Itachi membuat Sakura harus menengadahkan wajahnya ke atas. "Kau kenal dengannya?"

"Hn. Dia temanku. Apa kau diganggu olehnya?" tanya Itachi dan melirik tajam Pein tapi bukan karena alasan mengganggu Sakura seperti apa yang sudah dibilangnya barusan.

Sakura mengangguk mantap dan menunjuk wajah Pein dengan jari telunjuk kanannya. "Dia mengikutiku terus. Dia bilang jika dia mengagumiku, tapi aku tahu jika dia berbohong."

Itachi nampak memegang tudung jaket Pein bagian belakang. "Minta maaf padanya!" perintahnya tegas.

Pein segera menundukan wajahnya dan membungkuk 180° di hadapan Sakura. "Maafkan aku, Sakura."

"Dia sudah minta maaf, karena itu lupakan saja mengenai kejadian ini. Bisa 'kan, Sakura?" tanya Itachi dan menaruh telapak tangannya di salah satu bahu Sakura.

Sedangkan Sakura sebelum menjawab permintaan Itachi, ia melirik tangan pemuda itu yang bertengger manis di bahunya. Lalu bergantian ke wajah Pein yang memasang tampang memelas. Sedetik kemudian senyuman manis kembali menghiasi bibir merah mudanya. "Tentu. Kalau begitu sampai jumpa," ucapnya dan langsung berbalik pergi begitu saja meninggalkan Itachi dan Pein yang berdiri mematung melihat punggung gadis itu.

"Hn. Bodoh!" ucap Itachi sinis dan menatap Pein yang berada di sampingnya dengan tajam.

"Meskipun aku ketahuan olehnya, tapi aku berhasil mengambil foto gadis itu dengan kamera handphone-ku," ucap Pein membela diri. Dia mengeluarkan handphone-nya yang dari tadi tersembunyi dibalik saku jaketnya.

"Hn. Kau tak terlalu bodoh!" ucap Itachi masih dengan kata 'bodoh' dalam ucapannya.

Pein merengut kesal namun di perlihatkannya juga gambar foto yang dimaksud olehnya. "Lihat ini!"

Itachi langsung tersenyum tipis melihat sosok seorang gadis berambut merah muda yang tengah berada di langit dengan dua buah sayap yang membentang dibalik punggungnya. "Cetakkan beberapa foto itu untukku!" ucapnya.

"Baik. Tapi, aku sama sekali tak menyangka jika gadis bernama Sakura itu adalah—" Pein mengambil jeda sejenak dan terasa sangat asing dan berat untuk mengatakan kelanjutan ucapannya.

"…"

"…"

"—seorang malaikat."

"Hn."

##My Lovely Angel##

Iblis cantik itu tengah berdiri melayang di atas langit dengan bantuan kedua sayap besar berwarna hitam di punggungnya. Gaun panjang berwarna merah yang dikenakannya nampak bergerak-gerak liar karena angin. Begitu pun dengan rambut panjang sepinggang berwarna kuning keemasan yang nampak indah dan berkilauan tertimpa sinar mentari. Kedua bola mata safir miliknya meneliti baik-baik sebuah bingkai wajah seorang gadis berambut merah marun di dalam bola kristal yang tengah di genggam oleh kedua tangannya.

"Kenapa? Kenapa gadis ini yang memakai kalungnya? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Iblis cantik itu pada dirinya sendiri.

Dahinya sedikit terlipat dan gadis cantik itu menaruh jari telunjuknya di dagunya sendiri, pose untuk berpikir. Dan di detik kemudian bibir berwarna darah milik gadis itu tersungging sebuah senyuman licik. "Seorang Malaikat tanpa adanya sumber kekuatan sama saja dengan mendekati Dewa Kematian. Ah! Kenapa menjadi lebih mudah seperti ini? Padahal aku ingin bermain-main dengannya sebelum menyiksanya nanti. Tapi, sekarang pun dia sedang tersiksa. Ahahahhahahha!"

Sebuah suara tawa yang merdu dengan suara yang jernih. Namun, bila di dengar baik-baik suara itu sangatlah terasa menusuk dan membuat orang harus menutup telinganya karena sangat menyeramkan.

Dalam beberapa detik saja sosok iblis itu sudah menghilang dengan terbang jauh ke atas langit.

"Haruskan kita menghentikanya sekarang?" tanya seorang pemuda berwajah baby face pada sosok seorang Pangeran di sampingnya.

Kedua kelopak mata Pangeran itu nampak tertutup sebentar. Dia menoleh pada pengawal setianya dengan tanpa ekspresi jelas dan maksudnya apa. "Hn. Belum waktunya untuk kita membunuhnya. Kita pergi!"

"Baik."

Dan pada akhirnya Sakura memutuskan untuk kembali pulang, dengan cara terbang langsung ke kamarnya, tentu saja. Lagi pula ia sedikit merasa lelah dan perlu istirahat agar sayapnya bisa dipakai untuk terbang kembali. Dengan setengah hati, Sakura mengurungkan niatnya untuk menemui Karin dan meminta kalungnya baik-baik. Meskipun Sakura yakin jika cara itu akan sangat kecil keberhasilannya. Tapi, tak ada salahnya mencoba 'kan?

"Karin—dia tak tahu sama sekali sebahaya apa jika dia memakai kalungku terus menerus," gumam Sakura yang kini sudah menapakkan kedua kakinya di atas balkon kamarnya. Ia segera menghilangkan kedua sayapnya dan berjalan masuk, menggeser pintu jendela dan menyibakan gorden berwarna hijau muda itu perlahan. Dan kedua mata emerald-nya langsung membulat sempurna ketika mendapati seorang gadis berambut indigo tengah berada di dalam kamarnya dan melakukan sesuatu dengan isi lemarinya.

"Hi-na-ta?"

Seketika gadis yang dipanggil namanya itu menolehkan kepalanya ke samping kiri, yang di mana berdiri kaku seorang gadis berambut merah muda panjang. Sebuah senyuman kemudian tercipta di bibir gadis berambut indigo tersebut.

"Aku tak tahu jika kau dari tadi ada di luar, Sakura?" tanya Hinata balik bertanya. Setelah bertanya hal itu ia kembali mengalihkan pandangannya pada isi lemari yang tengah dibongkarnya.

Sakura berjalan pelan mendekati Hinata. Jantungnya sudah berdetak tak karuan karena takut jika Hinata melihat dirinya turun ke atas balkon dengan sebuah sayap besar di punggungnya. Ia ingin bertanya, tapi bagaimana mengatakannya?

"Err—Hinata?"

"Ya?" tanya Hinata dan kembali memandang Sakura dengan sebelah alis terangkat.

"K—kau sedang apa?" Dan pada akhirnya malah kata tanya seperti itu yang dapat Sakura utarakan.

"Aku sedang membereskan pakaianmu, sekaligus melihat apakah jumlah pakaianmu perlu di tambah atau tidak. Kenapa? Sepertinya kau tampak gelisah," ucap Hinata dan menyudahi kegiatannya. Ia menutup pintu lemarinya dan berjalan pelan menuju tempat tidur Sakura. Merapikannya sedikit dan Sakura mengikuti apa yang dilakukan oleh Hinata.

"Bukan seperti itu. Mmmm~kau sudah lama di dalam kamarku?" tanya Sakura tiba-tiba membelokan arah pembicaraan.

Pergerakan Hinata nampak terhenti selama satu detik sebelum kembali merapikan ujung tepi tempat tidur Sakura. Kedua tangannya cekatan melipat selimut tebal. Setelah selesai melipatnya dengan rapi, baru ia menatap Sakura. "Mungkin sudah cukup lama. Ayo! Kau belum sarapan 'kan?" ucap Hinata dan berjalan menuju pintu keluar. Sekilas ia menatap Sakura dengan pandangan yang sama sekali tak bisa di mengerti oleh Sakura, setelahnya baru Hinata keluar dengan tanpa menutup pintunya.

Mau tak mau rasa was-was hinggap di dalam hati Sakura. Ia berjalan pelan menyusul Hinata dan menutup pintu kamarnya sebelum ia pergi. "Hinata pasti melihatnya. Apa yang harus kukatakan untuk menjelaskannya nanti?" batin Sakura dan menghela napas lelah.

Sakura menuruni anak tangga dengan perlahan. Namun, baru saja setengah dari anak tangga yang ia turuni, langkahnya langsung terhenti. Kedua mata emerald-nya nampak terlihat terkejut bahwa di kursi meja makan ada sosok lain selain Hinata dan juga Neji.

Sosok seorang pria berwibawa berwajah tegas menatap Sakura dengan ekspresi datar, namun di bibirnya tersungging sebuah senyuman tipis. Dan senyumannya itu mengingatkannya pada Neji. Sedangkan di sebrang pria itu ada sesosok anak kecil berwajah sangat manis. Kedua mata lavendernya yang bulat menatap Sakura dengan antusias, kedua pipinya yang chubby nampak memerah seperti buah apel.

Dengan gugup Sakura berjalan mendekat, dan langsung saja ia membungkuk rendah memperkenalkan diri. "Senang bertemu dengan Anda, Tuan Hiashi," ucapnya dan pandangannya beralih memandang sosok anak kecil yang dari tadi menatapnya tanpa berkedip. Sakura melempar senyum termanis yang dimilikinya pada sosok anak kecil itu. "Senang bertemu denganmu juga, Hanabi."

"Duduklah!" perintah Hiashi singkat, padat dan jelas. "Dan tak perlu seformal itu. Panggil aku Paman atau Ayah pun tak masalah."

Neji langsung menatap Ayahnya dengan deathgalre mematikan. Sangat tak sopan.

"Baik. Paman Hiashi." Sakura mengambil tempat duduk di sebelah Neji dan bersebrangan dengan Hinata dan juga Hanabi.

Hanabi nampak berbisik sesuatu di telinga Hinata dengan wajah memerah. Kedua mata lavendernya yang bulat menatap Sakura.

Hinata langsung tersenyum setelah mendapat bisikan dari adiknya itu. "Sakura, sepertinya penggemarmu di rumah ini bertambah," ucapnya membuat Sakura langsung menatap Hinata nampak penasaran. "Hanabi bilang kau sangat cantik seperti malaikat yang sering di khayalkan olehnya."

Tepat pada sasaran, hati Sakura seakan tertohok mendengar pujian baginya namun seperti sebuah pernyataan untuknya. Dipaksakannya bibirnya untuk tersenyum pada Hanabi. "Terima kasih. Kau juga sangat manis, Hanabi."

Diam-diam Hinata memandang Sakura penuh selidik. Kedua tangan mungilnya nampak mengepal di atas pahanya. "Kau pembohong!" batinnya.

.

.

.

.

.

.

.

Dengan sangat cekatan dan lihai kedua tangan mungil gadis itu memberikan usapan spon yang terdapat banyak busanya pada piring kotor. Menyeka noda membandel dengan spon itu tanpa terlewatkan sedikit pun. Piring yang masih perlu di bilas dengan air itu, ia tumpuk menjadi satu. Dan setelahnya melakukan hal yang sama pada piring yang lain.

Sedangkan seorang gadis lain yang menemani kegiatan cuci piring itu nampak bertugas membilas busa-busa sabun dengan bersih dan menaruhnya langsung pada rak.

Gadis yang memiliki perbedaan warna rambut yang mencolok itu nampak terdiam membisu seperti tengah sibuk berpikir di dalam dunianya sendiri. Sakura mencuri-curi pandang ke arah Hinata lewat ekor matanya. Lalu, kembali lagi berkonsentrasi pada tugasnya.

"Hey!" tegur Hinata akhirnya tanpa menatap Sakura.

"Apa?"

"Kau—apa keluargamu tak ada niat sekali pun untuk mencarimu? Ibumu pasti sangat sedih karena kehilangan dirimu. Yang kukatakan, benar 'kan?

Sakura nampak mengedutkan kedua alisnya bingung mengapa Hinata tiba-tiba membahas mengenai keluarganya. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya hal itu?—aku memang pergi dari rumah, karena aku tak mau dijodohkan dengan pria pilihan kedua orang tuaku. Dan kau pun benar, tapi aku—"

"Dijodohkan? Jadi, kau dituntut untuk menikah muda oleh orangtuamu?" tanya Hinata cepat-cepat memotong ucapan Sakura dan menatapnya tak percaya.

"Satu minggu lagi umurku akan bertambah menjadi 19 tahun. Dan mungkin aku akan dipaksa kembali ke tempat kedua orangtuaku. Kemungkinan yang terburuk calon suamiku sendiri yang akan menjemputku. Jika kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan menerima pria itu dan menunggu secara perlahan cinta tumbuh di hatimu? Atau kau akan terus berlari menghindarinya?"

"Kau lebih tua dariku dan Kak Neji? Kenapa kau tak pernah mengatakannya?" cerca Hinata. Ia memerhatikan penampilan Sakura dari atas ke bawah. "Fisikmu tak lebih sama denganku, Sakura."

Sakura nampak tersenyum renyah. "Itu karena aku seorang malaikat. Pertumbuhan fisik akan tetap dalam ketentuan batas umur berhenti pada usia 20 tahun. Aku ini awet muda," ucap Sakura dalam hati dan berharap akan mengatakannya suatu hari nanti pada Hinata.

"Ah! Lupakan." Hinata mengibaskan sebelah tangannya pelan. "Jika aku jadi kau, maka aku akan menerima pria itu sebagai suamiku kelak."

"K—kenapa? Beri aku alasan yang logis, Hinata!" Sakura nampak sangat terkejut mendengar jawaban yang sama sekali tak pernah terpikirkan ataupun terbersit di dalam pikirannya.

"Karena mungkin pria itu memang sudah ditakdirkan menjadi suamimu. Lagi pula, pria itu pasti sudah sangat mengenalmu, baik dalam maupun luar. Ia mungkin satu-satunya orang yang bisa membimbingmu dan menjadi sahabat selamanya dalam hidupmu. Kau bilang jika mungkin calon suamimu sendiri yang akan menjemputmu?"

Sakura mengangguk dengan antusias.

"Bukankah berarti ia sama sekali tak menolak menjadikanmu sebagai istrinya? Ia mencintaimu, Sakura. Pikirkan baik-baik apa saja yang sudah dilakukan olehnya demi dirimu. Pikirkan baik-baik mengenai perasaannya jika kau menolak perjodohan ini. Pikirkan baik-baik mengenai perasaan kedua orangtuamu."

Hinata terdiam sebentar dan setelahnya menatap Sakura dengan pandangan usil "Ah! Kau memilih kabur pasti karena pria yang akan dijodohkan denganmu itu sangat jelek dan berumur tua, ya?"

"Sembarangan! Tidak. Pria itu teramat sangat tampan. Dia itu adalah teman sepermainanku sejak aku kecil. Kau tahu? Kami sudah diikat oleh sebuah benang merah tak kasat mata sewaktu kami masih bayi oleh kedua orang tua kami masing-masing. Ugghh! Menyebalkan." Sakura berucap dengan kedua pandangan mata yang berapi-api.

Dan tentunya benang merah yang dimaksudkan oleh Sakura adalah sungguhan. Jantungnya telah terlilit sebuah benang-benang tipis yang manakala benang itu tersambung pada jantung pria yang menjadi calon suaminya. Dan benang itu memang tak terlihat oleh mata. Jika Sakura merasakan sakit maka benang itu akan menyalurkan rasa sakit yang Sakura alami pada pria itu.

"Jadi, kau mau bilang jika kau sudah tak terpisahkan dengannya? Dan kau bilang pria itu sangaaaaatt teramat tampan? Ya, sudah. Menikah saja dengannya. Dan belajarlah untuk mencitai pria itu. Kau jangan lari dari takdirmu sendiri."

"Tapi itu sulit."

"…"

"…"

"…"

"…" Hinata terdiam selama beberapa detik seperti tengah memikirkan sesuatu.

"Kenapa di—"

"Kau menyukai pria lain? Sasuke kah?"

Pssssshhh!

"Iya—eh? Tidak. Tidak. Aku tidak menyukai Sasuke," ucap Sakura gelagapan dan menggaruk pipi kanannya dengan gugup. Pandangan kedua matanya nampak tertuju pada kedua kakinya yang terbalut oleh sandal rumah.

"Sayang sekali. Jika kau suka padanya, ada kemungkinan besar kalian bersatu. Karena yang aku lihat, Sasuke sepertinya menyukaimu."

"Hah? Sasuke, menyukaiku?"

Hinata nampak mengangguk mantap. "Aku pernah melihat jika dia memasang fotomu untuk wallpapers ponselnya."

"…"

"Kau tahu? Aku dan Sasuke itu lumayan dekat, kami satu kelas semenjak SMP dan sampai sekarang. Juga bersama Sai dan Naruto."

"…"

"…"

"Ini tidak boleh!" ucap Sakura dengan suara lantang tiba-tiba dan membuat Hinata nyaris memecahkan piring yang tengah dicucinya.

"Ke-kenapa?"

"Pokoknya tidak boleh!" Sakura nampak menggigit bibir bagian bawahnya dan menundukan kepalanya. Kedua tangannya nampak mengepal dikedua samping tubuhnya.

"Tidak boleh kena—"

Sakura langsung memunggungi Hinata dan berlari pergi ke kamarnya sebelum Hinata sempat mengucapkan lengkap kalimat pertanyaannya.

"Kalian bertengkar?" tanya Neji yang sosoknya baru saja datang ke dapur sesaat setelah Sakura menaiki tangga menuju ke kamarnya.

Hinata menggelengkan kepalanya pelan dan menatap Neji. "Kakak, apa kau ada waktu?" tanyanya.

Neji menaikkan sebelah alisnya. "Hn. Aku tunggu di ruang keluarga. Selesaikan pekerjaanmu, Hinata."

Gadis manis berambut indigo itu nampak mengulas senyum bangga. Di dalam hati, Hinata sangat bersyukur mempunyai seorang kakak laki-laki yang sangat mengerti akan dirinya, bahkan sebelum mengatakan apa yang dia inginkan, Neji selalu tahu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sakura nampak meringkuk di atas tempat tidur dengan ruangan kamar yang penerangannya gelap sempurna. Hanya secercah sinar kecil rembulan yang menggantung di atas langit sana yang menerangi sebagian kamarnya. Kedua mata emerald-nya melirik bulan besar yang bersinar dengan terang lewat pantulan kaca jendela dari balkon kamarnya.

Kedua kaki mungil milik gadis berambut merah muda itu nampak turun dari atas tempat tidur dan berjalan pelan menuju balkon. Berdiri di tepi pagar pembatas yang terbuat dari kayu berplitur coklat tua. Semilir angin dingin malam hari menggerakan helaian rambutnya dan sekaligus membuat kedua mata milik gadis itu menutup untuk menikmatinya.

Sakura sama sekali tak menyadari jika ada seorang pemuda bersayap putih besar di punggungnya tengah turun tepat di belakangnya. Kedua kaki pemuda itu setelah menapak pada lantai kramik balkon berjalan pelan tak bersuara dan mendekati Sakura.

Kedua lengan kekar milik pemuda berambut merah darah itu nampak terulur ke depan, langsung merangkul tubuh Sakura dari arah belakang. "Senang bisa melihatmu lagi, Princess," ucapnya nyaris berbisik tepat di telinga kiri Sakura yang langsung membuat kedua mata gadis itu terbelalak terkejut.

Tubuh Sakura kaku, tak bisa bergerak, bahkan hanya untuk menengokan kepalanya ke samping untuk melihat wajah calon suaminya. "P—Pangeran…"

"Ya, ini aku. Senang sekali kau langsung mengenaliku denga mudah, Sakura."

Jantung Sakura berdetak dengan begitu cepatnya ketika tubuhnya digerakan untuk berhadapan dengan pemuda itu. Dan seraut wajah tampan nampak tertangkap oleh kedua mata emerald Sakura.

Tak mampu bergerak, itu adalah hal yang dialami oleh Sakura saat ini.

"Untuk apa Anda da—"

"Kau tak senang melihat calon suamimu sendiri?"

"Tidak. Bukan seperti itu. Aku hanya … hanya…"

Sakura langsung terdiam tak mampu berkata-kata.

Kedua mata jade milik pemuda berambut merah darah itu nampak melembut. Sebuah senyuman menenangkan ia perlihatkan pada gadis dihadapannya dan hal itu membuat Sakura merasa sangat nyaman karenanya. Sebelah tangan pemuda itu menyelipkan beberapa anak rambut ke belakang telinga gadis itu dan langsung mencium lembut keningnya.

"P—Pangeran … "

"Panggil nama kecilku, Sakura!"

"G—Gaara … aku—"

"Kenapa kau melarikan diri dariku? Kenapa kau selalu bertindak egois? Kenapa kau lari dari takdirmu sendiri?" tanya Gaara memotong ucapan Sakura cepat dan sebuah sorot mata kekecewaan yang teramat dalam terpancar dari kedua mata jade miliknya.

Hati Sakura berdenyut nyeri melihat pandangan kekecewaan dari kedua mata jade di depannya. Ia juga berpikir jika keputusannya untuk melarikan diri adalah sangat salah; kesalahan besar.

"Maafkan … aku!"

"…" Gaara terdiam.

"…"

"…"

"Aku bersalah pada semuanya. Maafkan a—"

"Kenapa kau tak mengambil kalungmu dari manusia itu?" tanya Gaara.

Sakura sudah tak merasa terkejut jika Gaara tahu akan di mana keberadaan kalungnya. "Aku tak bisa melakukannya. Karena—"

"Jika kau merasakan sakit, maka aku juga akan merasakannya. Kau tahu akan hal itu."

"Ya."

"Jika kau tetap membiarkan kalungmu berada di tangan gadis itu, maka kau dan aku akan mati, dan tidak akan ada yang bisa membunuh iblis itu."

"J—jadi benar … jika Ino ada di sini(bumi)?"

"Tak perlu kujawab pun kau pasti sudah bisa merasakan kehadirannya."

"Kekuatanku … semakin melemah," ucap Sakura pelan.

"Aku tahu. Karena itu biar aku saja yang mengambil kalungmu dari—"

"Jangan! Jika ada manusia yang tahu keberadaan kita(malaikat), maka—."

"Kau tahu jika kalung kita berlama-lama dalam genggaman manusia, maka manusia itu akan berubah menjadi iblis. Lalu kenapa kau—"

"Aku tahu … Gaara, tapi aku tidak melakukan hal itu karena—"

"…"

"…"

"—karena Karin itu adalah sahabat Hinata, manusia yang sudah menolongku. Aku tak ingin membuat Hinata sedih dengan menyakiti Karin."

"Jika kita tidak mengambil kalungmu darinya maka sama saja kau melukainya dengan tanpa bisa disembuhkan."

"Apa yang dikatakan oleh pangeran adalah benar. Jika bukan kita yang mengambilnya maka iblis itu akan menghancurnya, bukan lagi mengambilnya. Dan berakhir dengan matinya kalian berdua. Aku … tak akan membiarkan hal itu terjadi. Tolonglah mengerti posisimu sendiri!" ucap seseorang di belakang punggung Gaara. Kedua bola mata sewarna dengan caramel itu memandang Sakura penuh dengan luapan perasaan sayang.

"Ka-kak …"

"Kami datang karena diperintahkan oleh Raja dan Ratu untuk menjemputmu pulang," ucap Gaara yang membuat Sakura langsung mengalihkan pandangannya lagi padanya.

"…"

"…"

"Aku mengerti. Aku akan ikut kalian kembali pulang setelah kalungku kembali," ucap Sakura.

Ya, di dalam hati, gadis itu sudah memutuskan, jika sebaiknya ia kembali ke tempat asalnya. Setelah mendapatkan kalungnya kembali dan menyembuhkan Hinata, ia akan ikut bersama Gaara dan kakaknya. Dan ia tak akan berpamitan pada orang-orang yang sudah mengenalnya, termasuk … Sasuke—laki-laki yang sudah mengambil setengah hatinya yang lain yang seharusnya dimiliki oleh Gaara.

##My Lovely Angel##

Hinata terbangun tepat pada pukul 05 pagi, padahal sekarang adalah hari minggu, hari di mana ia sangat membencinya. Karena Ibu yang dia sayangi meninggal karena penyakit yang dideritanya sekarang. Di dalam hati gadis itu sama sekali tak pernah merasa putus asa dengan penyakit turunan dari ibunya itu, karena ia memiliki keluarga, dan teman-teman yang akan menyemangatinya. Ia tak merasa berjuang sendirian, akan ada banyak orang yang juga ikut berjuang bersamanya.

Dengan langkah pelan gadis itu berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya agar terasa segar, setelah mengelap wajahnya dengan handuk kecil, Hinata berjalan menuju meja rias dan menyisir rambutnya.

Setelah merasa cukup rapi, ia kemudian keluar kamar dengan masih sepasang piayama yang menempel di tubuhnya. Sebenarnya, alasan ia terbangun adalah karena kerongkongannya perlu di lewati oleh segaris aliran air segar dari dalam kulkas. Sekaligus saja ia membantu membuat sarapan untuk semuanya bersama kepala pelayan.

Hinata melangkahkan kakinya turun menuruni anak tangga pertama ketika ia merasakan debaran jantungnya sendiri. Dadanya terasa sangat sesak, ia berusaha mengambil nafas meskipun sangat sulit. Kedua tangan mungil miliknya mencengkram dadanya dan berdoa dalam hati agar rasa sakit menusuk di dadanya itu hilang.

"Haaahhhhhh … hahhhhhahhh … " Sedetik kemudian pandangan matanya buram dan tubuhnya jatuh begitu saja ke bawah.

Tubuh Hinata tergeletak tertelungkup di paling bawah anak tangga, posisi tangan kirinya nampak ganjil, tertekuk ke dalam. Kubangan darah nampak mulai keluar dan menggenangi tubuh Hinata yang berasal dari luka di kepalanya.

Keadaan gadis itu, entah masih bernapas atau tidak.

"Kyaaaaaa~" Dan sebuah teriakan nyaring nampak terdengar dari arah atas anak tangga. Hanabi nampak sangat shock melihat keadaan kakaknya. Kedua lututnya lemas dan ia jatuh terduduk.

"AYAAAHH! AYAAAAAHHH!" Hanabi berteriak sekencang mungkin memanggil ayahnya untuk segera menolong Hinata yang teramat sangat di sayanginya itu.

"Ada apa, Hanabi?" tanya Hiashi yang nampak tergesa-gesa keluar dari kamar dan berjalan terburu-buru mendekati Hanabi.

Hanabi tak menjawab, ia menunjuk sosok kakaknya dari atas anak tangga dengan jari telunjuk kanannya. Air mata telah jatuh dari tadi dan membasahi kedua pipinya.

Hiashi mengikuti arah tunjuk jari Hanabi, kedua bola matanya nampak membulat sempurna dan ia langsung memegangi kedua bahu Hanabi. Seraut wajah cemas menghiasi wajahnya. "Sayang, pergilah ke kamar Neji!" perintahnya tegas. Karena ia merasa tak baik bagi pertumbuhan mental Hanabi ketika harus terus menerus melihat kejadian naas yang di alami oleh kakanya itu.

Hanabi mengangguk, dan bangkit berdiri dengan bantuan ayahnya. Gadis kecil itu berlari sambil menangis. Dan Hiashi segera menuruni anak tangga. Membenarkan letak tangan kiri Hinata yang ganjil, lalu mengecek denyut nadi gadis itu di lehernya.

Masih ada denyut nadi, meskipun sangat lemah dan sulit untuk dirasakan. Hiashi segera membalikkan badan Hinata dan menggendongnya, meletakan tubuh lemah gadis itu ke kursi tamu dengan sangat perlahan. Ia kemudian meminta Ibiki untuk segera menyiapkan mobil dan juga meminta kepala pelayan mengambil handuk kecil untuk menekan luka menganga di kepala Hinata agar tak ada banyak darah yang keluar lagi.

Neji yang baru saja turun bersama Hanabi dan Sakura nampak melangkah mendekat. Raut wajah datar yang selalu di pasang oleh Neji kini runtuh. Raut wajah datar itu kini tergantikan dengan seraut wajah takut dan kecemasan yang luar biasa. Hanabi belum juga berhenti menangis, dan Sakura yang berada di sampingnya hanya memeluk tubuh kecil gadis itu dan kemudian berganti menjadi menggendongnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Konoha Hospital

Friday, 21 April

06. 00 P.M

Hinata terbaring lemah di atas ranjang berselimutkan selimut berwarna putih khas rumah sakit. Pergelangan kirinya nampak di perban karena patah, akibat jatuh dari atas tangga. Lehernya diberi penyangga agar dalam tetap posisi tegak. Dahinya pun terlilit oleh perban, dan selang infuse masih setia menempel di pergelangan tangan kanannya.

Sakura duduk di atas kursi di samping tempat tidur Hinata. Diam membisu dan hanya memerhatikan cara Hinata bernafas yang masih dibantu oleh tabung oksigen.

Keadaannya saat di bawa ke rumah sakit waktu minggu pagi sangat kritis, sampai sekarang keadaannya masih sama. Terhitung sudah dua hari yang terlewati, dan itu membuat hati Sakura menyuruhnya untuk segera mengambil kalungnya dari tangan Karin. Dan mungkin ia harus mengungkapkan mengenai jati dirinya bahwa ia seorang malaikat pada Karin. Itu adalah hal yang bisa memungkinkan Karin mengembalikan kalungnya untuk kesembuhan Hinata.

Pintu di belakang Sakura terbuka dan menampakan seraut wajah sedih dari seorang gadis berambut merah panjang. Kedua mata ruby miliknya yang terhalangi lensa kacamata nampak berkaca-kaca. Di kedua tangannya nampak mendekap erat tiga tangkai bunga tulip. Gadis itu masih mengenakan seragam sailor sekolahnya, itu berarti ia meminta pulang cepat atau membolos.

Sakura yang menyadari kehadiran kalungnya dan Karin segera bangkit berdiri dan membalikan badannya. Menjauh sedikit dari ranjang Hinata agar Karin bisa mendekat pada sahabatnya itu.

"Keadaannya masih kritis," ucap Sakura pelan membuka pembicaraan.

Karin memandang Sakura dan kemudian beralih lagi pada Hinata. Ia meletakan bunga tulip putih yang dibawanya di atas meja di samping ranjang. Sebuah senyuman tak berarti menghiasi bibirnya. "Hinata sangat menyukai bunga tulip," ucapnya dan memegang pelan tangan kanan Hinata yang tertancap selang infuse.

Sakura tak berkomentar apapun. Ia hanya diam menunggu kata-kata apalagi yang akan diucapkan oleh Karin. Di dalam hati ia berpikir, jika kalungnya belum mengambil terlalu banyak energi positif yang dimiliki Karin. Terbukti ia masih bisa menangis dan ada rasa peduli pada Hinata. Jika energi positifnya sudah diserap habis oleh kalungnya, maka yang tersisa adalah hanya energi negatif. Dan itu berarti, gadis itu sudah bermetamorfosis menjadi iblis baru berwujud manusia.

"Hinata adalah gadis yang kuat. Ia pasti bisa melewati masa kritisnya. Benar 'kan?"

"Ya. Dan aku bisa saja menyembuhkannya sekarang juga jika kau—" Sakura menggantung ucapannya dan berjalan mendekat pada Karin.

"…"

"…"

"—mengembalikan kalung itu padaku."

"Apa? Kau gila. Mana mungkin hanya karena aku mengembalikan kalung ini kau bisa menyembuhkan Hinata. Jika kau mengatakan ini hanya untuk—"

"Aku bukan seorang manusia," potong Sakura cepat.

"Lelucon apalagi yang kau buat sekarang, hah? Hinata tengah kritis dan kau malah bergurau di saat seperti ini. Aku tak—"

"Berikan kalung itu padaku dan kau akan percaya," ucap Sakura.

Karin membisu. Ia menatap pada kedua bola mata Sakura untuk mencari kebohongan. Namun tak ada, yang ada hanya pancaran kejujuran dan ketulusan dari mata Sakura. Dan hal itu membuat perang batin bagi Karin. Ia ingin percaya pada Sakura, tapi entah kenapa sebagian hatinya berkata tidak. Ia sendiri tak memahami keadaan hatinya.

"Kuberi tahu satu hal padamu, Karin," ucap Sakura.

"…"

"…"

"…"

"Jika kau terus memakai kalungku maka kau akan mati. Bukan olehku tapi oleh hatimu sendiri." Sakura berpikir jika Karin berubah menjadi iblis dan kehilangan pikiran sebagai manusia maka sama saja ia sudah mati.

"…"

"…"

"Lihatlah kalung itu! Tak bercahaya dan sebaliknya nampak menggelap. Dan seiring berjalannya waktu, kalung itu akan berubah warna menjadi hitam pekat. Dan setelahnya kau bukan lagi seorang manusia."

"A-apa maksudmu?"

"Kau akan berubah menjadi seorang—"

"…"

"…"

"—iblis."

Kedua bola mata sewarna dengan ruby itu terbelalak terkejut. Ia nampak mundur beberapa langkah menjauhi Sakura. "Kau … bohong!"

"Tidak. Sekarang berikan kalung itu padaku dan Hinata akan sembuh."

Karin kembali berperang di dalam pikirannya. Memang benar, semenjak ia menemukan dan memakai kalung ini, sikapnya entah kenapa berubah. Ia merasakannya sendiri, bahkan Hinata pernah mengatakan jika Karin, bukanlah Karin yang biasanya. Begitu pun dengan apa yang diucapkan oleh Matsuri, jika ia lebih pemarah dan mudah tersulut perkelahian. Dan mengingat kejadian buruk antara dirinya dan gadis bernama Sakura itu, memperkuat dugaan Karin jika ada yang tak beres dengan kalung itu. Ia selalu mempunyai pikiran negatif dan menginginkan kalung itu tetap berada padanya. Padahal ia sudah berjanji di dalam hatinya untuk mengembalikan kalung itu pada pemiliknya nanti.

"Mungkin benar apa yang dikatakan olehnya. Kalung ini, memang dia pemiliknya," batin Karin dan menuntun kedua tangannya ke lehernya sendiri untuk melepaskan kaitan kalung berbandul sepasang sayap berwarna gelap—tidak lagi berwarna putih; bercahaya.

Sakura mengulas sebuah senyuman ketika melihat Karin menggantung kalungnya di tangan kanannya dan mendekat padanya. "Aku tahu kau adalah sahabat Hinata yang terbaik, Karin."

Karin menarik kedua ujung sudut bibirnya dan menyerahkan kalung itu ke tangan Sakura. "Maaf dan terima kasih, Sakura," ucapnya dengan tulus. Dan kedua mata ruby miliknya yang tadinya nampak tak bercahaya, kini berbinar bahagia. Dan Karin merasakan sebuah perasaan lega luar biasa.

Sakura memakai kalungnya dan sedetik kemudian kalung itu nampak bercahaya terang. Sepasang sayap putih transparan nampak terlihat di balik punggungnya, dan hal itu membuat Karin terbelalak terkejut.

"Cantik sekali," gumam Karin pelan ketika melihat sosok Sakura yang diselimuti oleh cahaya putih.

Sedangkan Sakura yang mendengarnya hanya tersenyum tipis dan berharap jika suatu hari ia akan membalas kebaikan Karin karena sudah mempercayainya.

Bukan hanya Karin yang nampak terkejut, namun seseorang yang bersembunyi di balik pintu kamar rawat itu membulatkan matanya tak percaya. Seseorang itu memegang dadanya sendiri yang entah kenapa berdetak sangat cepat melihat sosok cantik Sakura. "Ternyata memang benar jika kau adalah seorang … malaikat."

Tsuzuku

Gomen update lama:*

Ok. Trnyt rncananya membuat Sasuke tau yg sbnrnya brd d chap dpn. Tunggu, ya! Hehehhe..

Daaaaaannnnnn, Maaf jg klu ga da adegan SasuSaku kali ini, tp chap dpn pst da kok.

Tenang z^^
Mmmm… satu lagi, fic nie sbntr lg akan tamat.

Brhbng fic ini mngndung unsur fantasy, jd segala sesuatu yg tertulis d sini adalah karangan belaka.

Just My Imagination..^^

Jd mohon maaf jk terdngr tak masuk akal.

Ok. Ini dia balsn review buat ga Login, dn bg yg Login, silahkan cek PM kalian^^

# Nanairo Zoacha : Anooo~ Tolong Di-unable d akunnya spy qt bs PM'an… ^^

#Ayhank-chan UchihArlinz : Gomen nee~^^. Krn klu ga da tkh yg memerankan peran antagonis, rasanya nanti fic ini datar sekali. Ga da konfliknya. Dn mngenai knp jd trlht sprt SasuKarin, itu udh memang alur yg shrsnya da. Tenang z, q tetap konsisten dngn pair dr awal yg q pakai. Mksh krn dh meluangkan wktunya untuk bc fic ini. Wanna Review again?

#Ryuuki-chan : Mksh buat pujiannya, Ryuuki-chan^^. Siapa yg ngerekam Sakura dh terungkap skrg. Review?

#Just Ana : Knp dikau ga login lg? Siapa Pangerannya udh ketahuan 'kan? Heheheh.. Review lg ya?^^

# Sichi : Bs bhs sunda? Q jg bisa loh*ga da yg nanya*.
Di sini Pangerannya udh muncul. Sasu akan tahu kbnrnya d chapter dpn. Yg foto Sakura jg udh terungkp di sini. Dan udh q update.. Review lg ya!^^

# ckck vivi : Sbntr lg akan tamat kok, tenang z. Sabar ya, tunggu endingnya nanti… Review?^^

# Maehime : Pa qt brtmn d FB? Rasanya q punya tmn yg nick namenya : Maehime..
Mksh buat pujiannya… Yepz, Ino memang cntik dn pantas jd Iblis…^^ Review.

# me : Ini dh q update. Gomen ga bs kilat..^^ Hahahah. Sabar z ya. Review!^^

# yukicchi : Thank You^^ Review?

.

.

.

Terima kasih. Krn dh mngikuti fic ini dr awal smpai skrng.

Hugs and Kisses From Me

To You All^^

Reviews