Previous Chapter
"Jika seperti ini terus, maka nyawaku akan melayang."
"Karin—dia tak tahu sama sekali sebahaya apa jika dia memakai kalungku terus menerus."
"Kau pembohong!"
.
.
.
"Dijodohkan? Jadi, kau dituntut untuk menikah muda oleh orangtuamu?"
"Kau menyukai pria lain? Sasuke kah?"
"Ini tidak boleh!"
.
.
.
"Aku bukan seorang manusia."
"Aku tahu kau adalah sahabat Hinata yang terbaik, Karin."
"Ternyata memang benar jika kau adalah seorang … malaikat."
.
.
.
Naruto©Masashi Kishimoto
Sutekina Tenshi©Tsukiyomi. A Kumiko
Genre : Romance/Fantasy/Hurt/Comfort
Rate : T
Warning : AU, OOC, GaJe, Typo's
.
.
Enjoy This Chapter
And
Give Me Reviews
.
.
.
.
.
Sebuah senyuman kelegaan tercipta di bibir Karin ketika ada pergerakan kecil dari Hinata. Jari-jari gadis itu sedikit bergerak membuat Karin langsung menggenggam tangan kanannya erat. "Hinata … k-kau sudah sadar?" tanyanya.
Setitik air mata meleleh keluar dari mata ruby milik Karin dan menetes tepat pada tangan Hinata. Entah harus mengeluarkan kata-kata apalagi untuk meluapkan rasa bahagia di hati Karin ketika Hinata sudah sadar dari komanya.
Kedua kelopak mata milik gadis berambut indigo pendek itu bergerak-gerak dan kemudian terbuka dengan perlahan. Pandangan matanya sedikit mengabur namun setelahnya membaik. Hinata memiringkan kepalanya pelan ke arah kanan untuk melihat siapa yang sudah menggenggam tangannya sambil terisak menangis. "K—Ka-rin … "
Karin mengangguk dan langsung memeluk Hinata. Air mata menetes dengan derasnya meskipun sebuah senyuman bahagia tercipta di bibir gadis berambut merah itu. "Aku senang kau sudah membaik, Hinata. Semua ini karena Sakura, dia … dia yang sudah menyembuhkanmu. Aku … tak percaya ini semua."
Kedua mata lavender itu seketika membulat terkejut. "Sa-ku-ra?" ucapnya dengan nada bertanya.
Karin melepaskan pelukannya dan menghapus jejak air matanya menggunakan punggung tangan. "Benar. Sakura yang sudah menyembuhkanmu—ah! Tidak. Tapi mengembalikanmu seperti semula. Aku sangat terkejut mendengar fakta jika dia adalah seorang ma—"
"Aku tahu dia apa,"potong Hinata cepat dan mencoba untuk duduk. Ia langsung membuka selang oksigen dari hidungnya dan juga langsung melepas selang infusan. Hinata mengangkat tangan kirinya yang terbalut perban karena patah. Ia menggerak-gerakannya dan mengepalkan tangannya beberapa kali.
Sebuah senyuman terlukis di bibir Hinata ketika ia sadar jika kini tangannya tak lagi patah dan sudah sembuh, begitu pun dengan lehernya yang sebelumnya terasa sangat sakit. Dengan gusar ia membuka penyangga lehernya serta perban yang menutupi dahinya.
Sedangkan Karin yang melihatnya hanya membulatkan mata tak percaya dan menutup mulutnya sendiri. "Kau sembuh. Benar-benar sudah sembuh, Hinata."
Hinata mengangguk dan tiba-tiba saja terpikirkan olehnya apakah penyakit jantung yang ia derita ikut sembuh atau tidak. Ia memegang erat dadanya mencoba merasakan. Tapi, tak ada apapun, tak ada yang terasa.
"Mungkinkah?" tanyanya dalam hati.
"Ada apa, Hinata?"
"Tidak ada apa-apa," jawabnya dan langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Kedua alisnya berkedut satu sama lain karena mencari sosok yang tak tertangkap matanya. "Sakura … ada di mana?"
"Mengenai hal itu—" Karin menganggantung ucapannya karena merasa berat mengatakan hal mengenai keberadaan Sakura pada Hinata.
Wajah Hinata sudah pucat pasi dan jantungnya berdebar karena merasakan apa yang akan diucapkan oleh Karin adalah mengenai hal buruk.
"K-kenapa, Karin?"
"—Sakura sudah pergi."
"A-apa maksudmu dengan pergi? Tidak mungkin dia pergi begitu saja tanpa—"
"Dia bilang tidak sanggup untuk berpamitan denganmu dan semuanya," teriak Karin kencang sambil menangis.
Hinata menggelengkan kepalanya pelan dan langsung meloncat turun dari atas tempat tidur. Lututnya terasa sangat lemas namun ia tetap berusaha untuk berlari. Dan ketika ia hendak membuka pintu dan melewatinya, ia menabrak tubuh seseorang. Hinata sedikit mundur ke belakang dan akan jatuh terduduk ketika Karin langsung memegangi lengannya.
"Hn." Sosok yang ditabrak oleh Hinata hanya bergumam pelan dan menaikan sebelah alisnya bingung. Namun yang pasti sebuah raut wajah terkejut menghiasi wajah datarnya, begitu pun dengan Karin dan Hinata.
Kedua gadis itu tak menyangka jika seorang Uchiha akan datang ke rumah sakit dan terlebih berada di dalam kamar rawat Hinata. Untuk apa lagi selain untuk menjenguknya, tapi itu adalah hal yang sedikit mustahil.
"S—Sasuke … " ucap Karin lambat.
"Hn."
Tubuh Hinata tiba-tiba saja ambruk di pelukan Karin dan membuat Sasuke langsung mendekat. Tanpa berpikir lagi segera saja Sasuke dan Karin membaringkan Hinata di atas tempat tidur dan sekaligus menyelimutinya.
Sasuke menatap Karin dengan pandangan mengintimidasi.
Sedangkan yang ditatap hanya memalingkan wajah dan menggeleng pelan. "Maafkan aku, Sasuke. Aku tidak bisa mengatakan mengenai Sakura padamu atas permintaannya. Sekali lagi maaf," batinnya kalut.
Sasuke hanya mendecih sebal dan berniat untuk pergi ketika melihat ada sehelai bulu putih besar dan panjang. Nampaknya ia pernah melihat benda seperti ini dan tidak asing dalam ingatannya. Tapi, ia tidak punya asumsi mengenai benda itu. Dan pemuda itu hendak menanyakannya pada Karin ketika seorang dokter dan suster menerobos masuk begitu saja.
"Apa yang terjadi?" tanya seorang suster berambut kuning sebahu dengan mimic sangat khawatir. Segera saja ia mendekati Hinata dan memeriksa keadaannya dan menatap Karin meminta jawaban.
"…" Sekali lagi Karin menggeleng pelan.
"Tolong kalian berdua keluar!" ucap Dokter yang menangani kesehatan Hinata sejak kecil.
Sasuke mengangguk dan berjalan keluar sedangkan Karin masih tetap bergeming di tempatnya.
"Aku … ingin menemaninya, Dokter. Tolong, izinkan aku," ucap Karin sungguh-sungguh dan membungkuk rendah.
"Hhhh … baiklah. Tapi, tolong mundur sedikit."
"Iya."
.
.
.
.
.
.
.
Angin berhembus dengan kencangnya di atap rumah sakit, namun seorang gadis berambut merah muda itu tetap berada di sana. Gadis cantik itu berdiri tegap dengan kedua kakinya di sisi tepi bangunan. Satu langkah ke depan saja maka bisa dipastikan tubuhnya akan terjun bebas ke bawah dengan ketinggian yang mencakup lebih dari 20 lantai itu.
Seraut wajah sedih tergambar di wajah cantiknya. Pancaran matanya nampak sendu dan berbias cahaya bening karena pantulan sinar matahari di atas kepalanya. Meskipun begitu sebuah senyuman kebahagian terlukis di bibir mungilnya.
Angin kembali berhembus dan menerpa tubuh gadis itu. Gaun putih selutut yang gadis itu kenakan bergerak liar ke sana kemari. Sekaligus menggerakan ujung-ujung rambut miliknya.
Gadis itu memejamkan kedua matanya dan menghembuskan napas pelan. Tangan kanannya bergerak menuju ke lehernya dan menggenggam sebuah kalung putih cantik. Binar-binar cahaya nampak muncul di sekeliling tubuhnya dan akan menyelimuti ke seluruh tubuhnyanya ketika tiba-tiba saja kedua mata gadis itu terbuka.
"Neji." Gadis itu berucap pelan dan langsung membalikan badannya segera. Kedua mata emerald miliknya langsung membulat sempurna melihat seorang pemuda berbadan tegap yang menatapnya penuh dengan perasaan.
"S—Sakura … " Neji menelan ludah gugup dan berjalan pelan mendekati Sakura. Kedua tangan pemuda itu nampak mengepal di dalam saku, mencoba menguatkan diri untuk kata-kata yang akan dikeluarkannya nanti. Perasaannya sudah jelas pada gadis itu, dan ia inginkan mengatakannya pada saat ini sebelum gadis itu pergi jauh dan mungkin tak akan pernah kembali ke sisinya. Atau tak kembali ke sisi siapa pun.
"Kau sudah tahu bukan aku ini apa?" tanya Sakura membuat Neji langsung mengangkat kepalanya yang sebelumnya menunduk.
"Bagaimana kau bisa—"
"Detak jantungmu. Aku bisa mendengarnya dan juga merasakannya. Kau berdiri di belakang pintu waktu itu," ucap Sakura dan menutup matanya sekilas. "Suara detak jantung dengan irama yang indah. Seperti milik Hinata."
"Terima kasih."
Sakura memiringkan kepalanya ke kanan dan menatap Neji bingung. "Untuk apa?"
"Untuk menyembuhkannya. Hinata, sudah sangat menderita saat dia sakit. Tapi, berkatmu kini … ia bisa menjalani kehidupannya tanpa ada rasa takut ataupun bayang-bayang kematian yang selalu menghantuinya setiap saat."
Sakura terkekeh kecil. "Bukan hal yang mustahil bagiku untuk melakukannya. Kau tak perlu berterima kasih sedemikian banyak, Neji."
"Tapi—"
"Tolong berhenti! Jika kau seperti ini terus, aku … aku tak akan bisa meninggalkan kalian semua."
"Kau salah, Sakura."
"Apa?"
"Memang benar aku sangat berterima kasih sekali padamu. Tapi, kali ini yang kukatakan bukanlah ungkapan 'terima kasih.' Sakura, jika kau tak ingin kembali maka kau bisa bersamaku, bersama Hinata. Aku tahu kau menginginkan hal itu sekarang. Kedua matamu yang mengatakan hal itu padaku. Karena itu—"
"Tidak!" teriak Sakura dengan kedua bahu gemetar. Kedua tangan mungilnya nampak mengepal di kedua sisi tubuhnya.
"Sakura … "
"Memang benar apa yang kau katakan, Neji," ucap Sakura dengan suara tertahan. "Aku memang ingin terus bersama kalian. Aku ingin hidup di sini bersama semuanya. Tapi—"
Neji kembali berjalan mendekat pada Sakura.
"—tapi aku bukanlah manusia sepertimu dan yang lainnya."
Kedua langkah Neji langsung terhenti. Pemuda itu bergeming di tempatnya sambil mengulurkan sebelah tangannya. "Aku bisa menerima hal itu. Aku yakin semua orang—"
"HENTIKAN!"
"Sakura , aku—"
"Cukup! Apapun yang akan kau katakan padaku, tidak akan mengubah keputusanku untuk pergi," potong Sakura cepat dan membalikan badannya bersiap untuk terbang. Sekumpulan cahaya kembali menyelimuti seluruh tubuhnya.
"—aku mencintaimu. Bisakah … kau tidak pergi dan diam di sisiku, Sakura?"
Tubuh Sakura langsung membeku dan kedua lututnya terasa lemas. Jantungnya berdebar sangat kencang. Sakura menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. "Maafkan aku, Neji. Selamat tinggal," ucapnya dan langsung meloncat ke bawah dan kemudian terbang ke atas dengan sepasang sayap putih besar di punggungnya. Dan terlihat beberapa tetes air mata keluar dari kedua mata emerald itu.
Pemuda beriris lavender itu hanya menatap kepergian Sakura dengan tatapan terluka. Namun sedetik kemudian segaris senyum tipis menghiasi bibirnya. "Semoga kau selalu bahagia, Sakura," ucapnya dan berlalu pergi.
Di dalam hati, pemuda itu sudah menetapkan bahwa sudah ada tempat khusus bagi Sakura. Ia tak mungkin bisa melupakannya, sosok gadis itu akan selalu hidup di dalam hati dan pikirannya. Selalu.
Bukankah cinta tak harus saling memiliki?
##Sutekina Tenshi##
Sasuke berjalan pelan melewati sebuah distrik di dekat perumahan di mana ia tinggal. Sebuah distrik yang hanya ditinggali oleh orang-orang yang derajatnya bisa dibilang berada di puncak atas. Pemuda tampan yang memiliki sepasang bola mata sewarna batu obsidian itu nampak terlihat tajam. Bibir tipisnya terkatup rapat dan kedua tangannya nampak tersembunyi di dalam saku jaket berwarna hitam sebatas lutut yang ia kenakan.
Berjalan lurus ke depan nampak sangat angkuh. "Sakura … bagaimana kabar dia sekarang?" tanya Sasuke pelan pada dirinya sendiri. Dan selanjutnya sebuah helaan napas pelan keluar dari bibir pemuda itu.
Tangan kanan pemuda itu keluar dari saku dan memperlihatkan sebuah handphone flip berarna blue-black dengan gantungan bola kristal kecil di sisi kanannya. Sasuke membuka handphone itu dan melihat wallpaper ponsel yang sedang digunakannya sekarang.
Sebuah senyuman tipis namun mengandung arti kerinduan itu terlukis di bibir Sasuke. "Sebaiknya aku pergi menemuinya," ucapnya pelan dan langsung menutup kembali handphone-nya. Hendak memasukan benda komunikasi itu ke dalam saku jaketnya ketika jari-jari tangannya licin dan membuat benda itu jatuh. Dan ketika Sasuke akan memungutnya sebuah klakson kencang dan juga nyaring terdengar.
Tin! Tin!
Sepeda motor besar berwarna merah itu melaju kencang ke arah Sasuke dengan tetap membunyikan klaksonnya. Dengan cepat Sasuke meloncat mundur ke belakang tanpa terlebih dahulu mengambil handphone-nya.
Kreekkk!
Sasuke memandang jengkel melihat ponselnya yang sudah terlindas ban motor. Ia memandang motor merah itu dari jauh, dan nampaknya motor itu nampak tak asing di dalam ingatannya. Dan melihat arah tujuan motor itu menguatkan Sasuke jika ia sering pernah melihat motor itu. Tapi, siapa?
Pemuda itu berjongkok dan memandang ponselnya yang sudah tak berbentuk lagi. Hancur sampai terbelah dua. Mungkin tak akan bisa diperbaiki lagi. Sasuke terus menerus memandang ponselnya, dan entah kenapa tiba-tiba saja pirasat buruk menghantui hati dan pikirannya.
Ia membuka ponsel itu beberapa menit lalu untuk melihat wallpaper foto Sakura dan sekarang ponsel itu hancur. Sebuah asumsi hinggap di dalam kepala Sasuke. Bahwa bukan secara kebetulan ponsel itu hancur setelah ia melihat foto Sakura.
"Mungkinkah … Sakura … " batin Sasuke dan memegang dadanya yang mulai terasa sesak.
Sasuke langsung beranjak berdiri dan mulai berjalan kembali pulang ke rumahnya. Beberapa kali Sasuke berusaha mematahkan atau pun menghilangkan pikiran buruk mengenai Sakura. "Hal seperti itu tidak mungkin terjadi," bantahnya keras pada dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
.
Sasuke baru saja sampai dekat rumahnya ketika ia melihat motor merah yang pernah ia lihat beberapa menit lalu terparkir di depan gerbang. Dan tak lama kemudian terlihat seorang pemuda tampan berambut oranye keluar dari gerbang rumahnya, mendekati motor merah itu lalu tancap gas dari sana.
Dan sekarang Sasuke baru ingat jika pemuda itu bernama Pein Nagato, seorang fotographer bebas dan juga salah satu teman 'aneh' kakaknya. Yang jadi pertanyannya, untuk apa dia datang ke rumah? Perlu ditekankan jika kakaknya tak pernah mengajak salah satu temannya untuk berkunjung ke rumahnya. Kalau untuk bercakap-cakap biasanya mereka selalu bertemu di luar rumah. Kecuali, jika ada hal yang sangat, sangat penting.
Dengan cepat Sasuke masuk ke dalam rumahnya dan menghiraukan sapaan dari sang penjaga gerbang. Ia tak perlu mengucapkan kata 'tadaima' dengan kencang ketika membuka pintu utama rumahnya. Karena hanya ada kakaknya juga para pembantu, sedangkan kedua orang tuanya tinggal jauh di Perancis.
"Bibi, apa ada surat untukku hari ini?" tanya Sasuke sopan pada kepala pelayan di rumahnya yang kebetulan sudah menyambutnya di dalam rumah.
Kepala pelayan itu sedikit membungkukkan badannya sebelum menjawab pertanyaan majikannya. "Ada. Tunggu sebentar!" ucapnya dan berjalan pelan menuju meja kecil dekat pas bunga tepat di samping pintu masuk. Mengambil beberapa lembar surat dan langsung menyerahkannya pada tangan Sasuke. "Ada juga surat untuk Tuan Itachi hari ini."
"Hn. Biar aku saja yang memberikannya," ucap Sasuke dan berlalu pergi naik menuju lantai dua. Sebelum berbelok menuju kamarnya, Sasuke masuk terlebih dahulu ke kamar Itachi.
Dengan tak sopannya Sasuke masuk begitu saja tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.
"Kakak, ada surat untukmu," ucapnya namun langsung terdiam ketika melihat tak ada seorang pun di dalamnya. Dan suara gemericik air terdengar oleh indra pendengaran Sasuke membuatnya beranggapan jika mungkin saja Itachi sedang ada di dalam kamar mandi.
Berjalan pelan Sasuke mendekati meja belajar Itachi dan meletakan surat untuk kakaknya itu di atasnya. Hendak melangkah pergi namun Sasuke langsung membalikkan badannya lagi dan melihat beberapa lembar foto yang berserakan diantara buku-buku. Ia mengambil salah satu foto itu dan membalikkannya perlahan.
Deg!
Figur seorang gadis cantik berambut merah muda panjang tengah berada di atas langit yang biru. Sepasang sayap putih besar membentang di balik punggungnya. Bibirnya terbentuk sebuah senyuman manis dan Sasuke merasakan perasaan bebas saat melihatnya. Seperti ikut terbang dan melayang bersama gadis itu.
Apakah foto ini nyata?
Itulah yang kini menjadi pertanyaan Sasuke. Tapi, foto ini sungguhlah seperti nyata. Seolah-olah Sakura adalah seorang bidadari yang turun dari langit.
Deg! Deg!
Sasuke memegang dadanya dan merasakan debaran jantungnya sendiri.
Cklek!
Itachi keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang masih menutupi kepalanya yang basah. Pemuda tampan itu bertelanjang dada dan hanya memakai celana jeans panjang berwarna hitam. Sedikit bersiul-siul dan ketika melihat ada seseorang selain dirinya di dalam kamarnya sendiri, ia terpaku; membatu.
Kedua mata onyx miliknya mengerjap-ngerjap tak percaya. Terlebih ketika melihat Sasuke sedang memegang salah satu foto yang sedang ia rahasiakan dari siapa pun untuk saat ini.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Itachi dan langsung merebut kembali foto itu dari tangan Sasuke, juga membereskan foto-foto lain yang masih berserakan.
"Apa maksudnya ini semua?" tanya Sasuke geram dan mengepalkan tangannya. Ia merasa Itachi mencoba menyembunyikan sesuatu hal yang sangat penting mengenai Sakura.
Itachi berjalan pelan dan menyandarkan punggungnya di sisi jendela kamar. "Maafkan aku, Sasuke. Aku sudah menyembunyikannya darimu selama ini."
"Bicaralah yang jelas!"
Sebuah helaan napas pelan dikeluarkan Itachi. Ia memandang Sasuke tanpa ekspresi. "Aku … pernah bertemu dengan Sakura 8 tahun yang lalu."
"Apa?" Sasuke merasakan sebuah perasaan sakit ketika mendengarnya.
"Waktu itu aku sedang mencarimu di sebuah taman, tak kusangka sama sekali jika ada seorang gadis kecil yang sedang melayang terbang di angkasa dengan kedua sayapnya. Aku memotret gadis itu dengan kameraku dan kami berkenalan. Gadis itu mengaku jika ia sedang bermain dengan sahabatnya. Lucu sekali," ucap Itachi panjang lebar dengan disertai sebuah senyuman kecil.
"…"
"Kau tahu siapa gadis kecil yang kumaksud, Sasuke?"
"…" Sasuke tetap diam bergeming. Lidahnya seakan kelu untuk mengucapkan nama gadis kecil yang Itachi maksud.
"Nama gadis itu adalah Sakura. She is an angle."
"Tidak mungkin!" bantah Sasuke tak percaya.
Malaikat? Benarkah keberadaan mereka itu nyata?
"Kau harus percaya. Karena keberadaan Sakuralah kau masih bisa hidup, Sasuke."
"Apa maksudmu?" tanya Sasuke geram karena Itachi berbicara berbelit-belit.
"Dia yang sudah menyelamatkanmu malam itu."
Sasuke membulatkan matanya karena terlalu terkejut. Tiba-tiba saja ia teringat perkataan Karin. "Bagaimana dengan semua perkataan Karin?
"Biar kujelaskan," ucap Itachi dan menghela napas pelan. Kedua mata onyx-nya memandang Sasuke tajam.
"…"
"Gadis pertama yang sudah menyembuhkan lukamu adalah Sakura sekaligus pemilik kalung itu. Gadis kedua adalah Karin, yang sudah membawamu ke rumah sakit sekaligus yang menemukan kalung milik Sakura. Karin sama sekali tidak berbohong ketika ia mengatakan kalau dirinyalah yang sudah menyelamatkanmu, dan mengenai masalah kenapa dia mengaku sebagai pemilik kalung itu mungkin ia merasa jika ia yang sudah menemukannya, lalu ia berpikiran jika itu adalah kalung miliknya."
"…"
"Satu hal yang sudah jelas, jika Sakura adalah seorang malaikat yang sudah menyelamatkanmu dari bahaya kematian."
"Jika seperti itu, kenapa Sakura tak pernah menceritakannya pada saat dia pertama kali bertemu denganku?" tanya Sasuke pelan.
"Mungkin Sakura tidak mengingat wajahmu."
"Kenapa?"
"Hn. Aku tidak tahu, Sasuke. Sulit dipercaya memang jika gadis itu bukanlah seorang manusia. Setelah mengetahui semua ini apa yang akan kau lakukan?"
Sasuke membalikkan badannya dan pergi dari kamar Itachi. "Sudah jelas bukan? Aku akan menemuinya dan mengucapkan 'terima kasih'," ucapnya sebelum menutup pintu kamar.
Itachi hanya mendesah pelan dan setelahnya tersenyum tipis. "Sepertinya aku harus membunuh perasaanku pada Sakura."
##Sutekina Tenshi##
Sakura terbang dengan rendah dan hanya memutar-mutar sebuah gedung sekolah. Sekolah tempat di mana Neji, Hinata, Karin dan juga Sasuke untuk menuntut ilmu. Ia juga sendiri bingung kenapa ia bisa sampai di tempat ini. Yang jelas ia hanya menuruti hati dan pikirannya.
Lelah terus menerus mengepakan sayapnya, Sakura turun perlahan ke bawah. Ia berdiri tegak bergeming tepat di tengah-tengah halaman depan sekolah itu. Kedua mata emerald miliknya menatap fokus jendela-jendela kelas bagaikan hal yang baru pertama kali dilihat oleh matanya.
Sebuah hembusan angin pelan menggoyangkan ujung-ujung rambut Sakura. Bersamaan dengan terbangnya helaian bunga sakura tepat di samping kanannya. Jika ada seorang pelukis, pasti ia akan langsung menangkap pose Sakura saat ini yang menunjukan sebuah perasaan sedih, bimbang dan penyesalan tak berujung. Terlihat begitu rapuh.
Tes!
Setetes butir air mata jatuh dari salah satu emerald itu. Membasahi salah satu pipinya.
"Hal yang sangat menyenangkan sudah aku alami di bumi ini. Bisakah … aku kembali ke tempat indah ini untuk yang ketiga kalinya?" batin Sakura miris.
Sudah jadi peraturan di dunianya bagi seorang tuan putri seperti hal dirinya, hanya bisa pergi ke dunia manusia sebanyak dua kali dan itu pun hanya bisa selang 8 tahun lamanya.
Ia sudah pernah datang ke bumi ini ketika ia masih kecil berusia 10 tahun. Kedua kalinya ia datang kembali dan kini ia sudah berusia 18 tahun. Dan hal ini adalah terakhir kalinya ia bisa melihat dan berinteraksi dengan para manusia.
Yang membuatnya berat untuk kembali ke dunianya kali ini adalah karena kehadiran seorang pemuda yang sudah mencuri perhatiannya, mencuri cintanya, dan mencuri hatinya.
"Apakah aku sanggup untuk melupakan Sasuke?" gumam Sakura pelan.
"Apa kau sedang memikirkan cara untuk bisa bersama dengan para manusia itu lebih lama lagi, Putri Sa-ku-ra?"
Tiba-tiba saja sebuah suara halus namun terdengar sangat berbahaya terdengar oleh Sakura. Gadis itu seketika menengadahkan kepalanya ke atas, dan langsung saja kedua matanya berkilat tajam. Bibirnya terkatup rapat seolah tak ingin menjawab pertanyaan namun lebih seperti pernyataan itu. "Kau—Ino, untuk apa kau datang ke bumi ini?"
Sebuah seringai tipis diperlihatkan oleh bibir berwarna merah darah itu. Kedua bola mata aquamarine miliknya berkilat berbahaya. "Kau bisa menebak tujuanku datang ke tempat busuk ini. Benar begitu, Sa-ku-ra?" Ino balik bertanya dan melayang berputar-putar di hadapan Sakura.
Merasa sedang dipermainkan akhirnya Sakura mengeluarkan kedua sayapnya dan terbang cepat menuju Ino berada. Sedetik sebelum tangan Sakura menggapai tangannya, Ino sudah menghindar dan mundur ke belakang.
Terkekeh kecil Ino berkata, "Kecepatan terbangmu semakin membaik saja, Sakura. Tapi—"
Sret!
"Akh!" Sakura meringis sakit ketika melihat lengan kirinya tergores lumayan panjang dan mengeluarkan darah.
"Aku tidak melihat serangannya. Kenapa bisa?" batin Sakura di tengah menahan sakit.
"Ahahahahahhaha! Aku yang ada di depanmu sekarang bukanlah aku yang kau kira dulu, Sakura."
"…"
"Aku sudah berubah sekarang," ucap Ino dan mengacungkan pedangnya pada Sakura.
Tangan kanan Sakura yang sedang menutupi luka di lengan kirinya mengeluarkan sinar kehijauan. "Kau salah, Ino," ucapnya setelah selesai menyembuhkan luka di lengan kirinya.
Ino menyipitkan kedua matanya memandang Sakura. "Apanya yang salah, HAH?"
Sakura memandang Ino dengan lembut dan menyunggingkan sebuah senyum tulus. "Menurutku kau tidak berubah sama sekali. Di mataku kau tetaplah seorang Ino yang dulu kukenal."
Kepala Ino langsung menunduk dan tangan kanannya yang tadi mengacungkan pedang pada Sakura perlahan-lahan diturunkannya. Sebuah angin berhembus menerbangkan ujung-ujung rambut Ino yang berwarna kuning keemasan.
Sakura terbang pelan mendekati Ino dan berdiri di depannya. "Kumohon! Hilangkan semua kebencian yang ada di hatimu, Ino. Setelah itu—"
Grep!
Ino langsung memeluk tubuh Sakura erat dan pedang di tangannya sudah hilang. Bahunya nampak gemetar. Dan Sakura yang pada awalnya terkejut langsung membalas memeluk Ino. Setetes air mata jatuh dari kedua mata emerald milik Sakura. "—kita bisa bersama lagi. "
Sakura sama sekali tak mengetahui bagaimana ekspresi wajah Ino saat ini. Wajah gadis itu begitu dingin, pandangan matanya haus akan dendam, dan senyuman di bibirnya terlihat seperti srigala yang sudah berhasil menangkap buruannya. Begitu sangat berbahaya.
"Kau benar, Sakura," desis Ino.
Jleb!
Segaris aliran darah keluar dari salah satu sudut bibir Sakura. Kedua mata emerald miliknya nampak sangat sedih ketika tahu jika sahabatnya yang kini sedang dipeluknya, telah sepenuhnya bertransformasi menjadi seorang iblis seutuhnya. "I-no …"
Terlihat dari samping pedang panjang milik Iblis cantik itu menembus perut Sakura. Cairan merah kental seketika merembes keluar dan mengotori baju milik Sakura maupun Ino. Begitu pun dengan beberapa tetes darah yang berjatuhan seperti rinai air hujan.
Kedua mata emerald Sakura perlahan meredup dan lipatan tangannya di kedua bahu Ino mulai mengendur. Kedua sayapnya sudah menghilang.
"Sayonara …" bisik Ino pelan dan mendorong tubuh Sakura keras.
Shuuutt!
Tubuh Sakura jatuh dengan cepat dan sedetik sebelum tubuh gadis itu membentur tanah, sekelebat bayangan tertangkap oleh kedua mata aquamarine Ino. Segaris senyum cantik terlukis di bibirnya. "Nice catch!" ucapnya dan menjentikan jari kanannya.
Sepasang mata jade menatap lembut dan tersirat rasa penyesalan terhadap Sakura yang kini berada di pangkuannya. "Maaf. Aku terlambat menyelematkanmu, Sakura," ucap Gaara dan menghapus darah di sudut bibir Sakura dan dagunya dengan ibu jari kanan.
Sebuah senyuman tipis Sakura perlihatkan. "G—Gaa-ra—uhuk!"
Sakura memuntahkan darah dan kembali mengotori sudut-sudut bibirnya.
"Sssshhh! Jangan bicara lagi, Sakura. Aku akan menyembuhkanmu," ucap Gaara dan mulai menutup kedua matanya. Beberapa detik kemudian tubuhnya dan juga tubuh Sakura dilingkupi oleh sinar terang.
Ino yang memang ingin Sakura mati tidak akan membiarkan upacara suci yang akan dilakukan oleh sang pangeran itu selesai dan berakhir dengan selamatnya nyawa Sakura. Iblis cantik itu segera terbang cepat beserta pedang yang masih berada di genggamannya menuju Sakura dan Gaara berada.
Shut! Shut! Shut!
Tiga anak panah yang terbuat dari es beku dan padat dari arah samping kanan berhasil membuat Ino langsung terbang mundur kembali. Kedua mata aquamarine milik gadis itu terlihat makin berbahaya. Dan kembali kilatan dendam terpancar dari kedua matanya. Giginya saling bergemelutuk dan rahangnya mengeras. "Kenapa kau juga berada di pihaknya, Sasori?" ucapnya geram.
Pemuda berwajah baby face itu menurunkan busur dan anak panah di kedua tangannya. "Karena Sakura adalah adikku."
"Omong kosong. Di dalam tubuhmu sama sekali tak ada darah bangsawan seperti Haruno. Kau hanya sebuah alat untuk gadis itu, kau hanya dijadikan tameng untuknya. Kau bodoh! Benar-benar bodoh, Akasuna," ucap Ino dengan suara keras dan mengayunkan pedangnya pada Sasori.
Segaris aliran udara tak kasat mata dengan bentuk memanjang menyerang Sasori dari arah depan. Namun dengan sigap Sasori memasang perisai dari es di sekeliling tubuhnya yang juga nampak tak terlihat. Es itu bening dan terlihat transparan.
"Tch! Perisai es," gumam Ino.
"Percuma saja berapa kali pun kau menyerang, tidak akan pernah melukaiku. Menyerahlah … sudah cukup, Ino," ucap Sasori.
"Cih! Jangan meremehkanku."
"…"
Seringai tipis nampak terlukis di bibir Ino. "Kau akan jadi orang pertama yang akan menerima seranganku tahap selanjutnya. Berbanggalah diri, Sasori," ucapnya.
Sekumpulan udara nampak menyelimuti tangan kiri Ino, dan lama kelamaan pusaran angin itu membentuk sebuah pedang panjang seperti pedang yang satunya. Kini ada dua pedang dengan level kerusakan yang jauh dari pada serangangan pertama. Ino mengacungkan kedua pedangnya membentuk hurup X besar dan kemudian mengarahkannya ke atas.
Pergerakan angin mulai tak menentu, semuanya seperti berkumpul di ujung pedang Ino. Dan pusaran angin itu nampak bersatu dengan langit. Daun-daun, batu-batu kecil nampak ikut masuk ke dalam pusaran angin itu. Beberapa detik kemudian pusaran angin itu semakin menjadi kencang.
"Terima ini!" teriak Ino dan mengayunkan kedua pedang yang sudah diselimuti oleh pusaran angin kencang itu ke arah Sasori.
Tak banyak bicara Sasori segera mengangkat busur dan satu anak panah yang ujungnya sudah di modifikasi dalam bentuk melingkar. Pemuda itu memejamkan sebelah matanya dan fokus mengumpulkan kekuatannya pada anak panah itu.
Shut!
Sasori menembakan panahnya tepat pada tengah-tengah pusaran angin, dan segaris senyum kemenangan terlukis di bibir Ino. "Pada akhirnya yang akan membunuh Sakura adalah dengan tanganmu sendiri, Sasori," ucapnya.
Seketika kedua mata hazel milik Sasori terbelalak sempurna ketika menyadari jika pusaran angin itu sudah berbelok arah pada Sakura karena tembakan panahnya. "Tidak akan kubiarkan," ucapnya dan dengan cepat terbang ke hadapan Sakura yang masih dalam proses penyembuhan.
Sasori membentangkan kedua tangannya dan dari tubuhnya keluar sinar terang membuat Ino sedikit menyipitkan matanya. "Aku akan melindungi Sakura meskipun tubuhku harus hancur," teriaknya.
Seeeettttttt!
Sebuah dinding penghalang tebal dan tinggi dari es muncul di depan tubuh Sasori.
Bruk!
Pusaran angin itu menabrak dengan keras permukaan dinding es yang dibuat oleh Sasori. Ino yang melihatnya hanya terdiam dan—
Kraakk!
—perisai dinding itu sudah mulai retak membuat Iblis cantik itu tertawa keras.
"Ahaahahahhhha!"
Sasori sudah mencapai batasnya. Ia sudah tak bisa mengeluarkan kemampuannya lagi, napasnya sudah tersengal-sengal dan perlahan-lahan sayapnya mulai menghilang.
Prang!
Dinding itu pecah seperti kaca, namun Sasori berhasil membalikkan kembali arah pusaran angin itu. Meskipun kini tubuh Sasori jatuh melesat menghantam tanah karena kehabisan tenaga. "M—maafkan aku, Sa-ku-ra," batinnya dan kemudian tak sadarkan diri.
Karena angin adalah kekuatan Ino, jadi dengan hanya menjentikan jarinya maka pusaran angin itu lama-kelamaan menghilang. "Sudah cukup bermainnya. Kini giliranmu untuk mati, Sakura," ucapnya dan kembali terbang menuju Sakura.
Ino melesat dengan kecepatan tinggi menuju sinar terang yang menyelimuti tubuh Sakura dan Gaara. Namun, ketika ujung pedangnya menyentuh sinar itu seketika aliran listrik merembet ke pedangnya dan kemudian menyelimuti tubuhnya sendiri.
Seluruh tubuh Ino tersengat listrik dalam jumlah besar. "AAARRRGGHHH!" teriaknya.
Sinar terang itu perlahan menghilang dan Gaara yang pertama kali membuka matanya hanya tersenyum tipis. "Apa kau luka dengan kemampuanku, Ino?" tanyannya dan membantu Sakura untuk berdiri.
Asap hitam mengepul dari tubuh Ino, gaun merahnya tercabik-cabik dan kulitnya nampak menggelap. "Sial!" runtuknya.
"Jika kau menyerah sekarang, aku tidak akan membunuhmu," desis Gaara tajam.
"T—tidak. J-ja-ngan bunuh … Ino," ucap Sakura terbata yang mulai sadar kembali. Meskipun lukanya sudah sepenuhnya sembuh tapi kekuatannya belum benar-benar pulih.
"Tapi—"
"Sakura benar. Jika kau membunuhku maka kalian berdua juga akan mati. Lihatlah benda apa yang ada ditanganku saat ini!" ucap Ino yang sudah memulihkan kembali tubuhnya.
Sebuah kalung putih menggantung di salah satu tangan Ino, dan Sakura juga Gaara yang melihatnya hanya bisa terdiam. Terlalu terkejut.
"K-kalungku," ucap Sakura.
"Ya, benar. Kehidupanmu ada di tanganku sekarang, Sakura."
Gaara mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras dan seluruh tubuhnya di aliri oleh listrik. Pandangan matanya tajam seperti burung elang yang mengincar buruannya. "Kau benar-benar ingin mati," desisnya.
"Coba saja jika kau bisa," tantang Ino dan memain-mainkan kalung Sakura di salah satu tangannya. Senyum mengejek menghiasi bibir merahnya.
Tak perlu mengeluarkan kata-kata lagi untuk membuat Ino sadar. Gaara dengan cepatnya terbang dengan menggenggam sebuah pedang panjang yang sudah diciptakannya dengan kekuatan miliknya seperti halnya Ino. Seluruh permukaan pedang itu dilingkupi oleh aliran listrik berwarna kuning.
Treng!
Trang!
Kedua pedang itu saling berbenturan sehingga menimbulkan suara nyaring. Ino maupun Gaara, tak ada salah seorang pun dari mereka yang mau menurunkan kekuatan mereka.
Atmosphir di tempat itu begitu menyesakan. Seakan-akan tak ada oksigen untuk bernapas. Sakura yang masih belum sepenuhnya pulih hanya bisa menonton pertarungan keduanya dengan wajah cemas. Bagaimana pun ia tak ingin salah satu dari mereka terluka atau kemungkinan terburuk sampai terbunuh.
Sepasang mata jade itu terliat begitu dingin, tak mengenal ampun. Namun, jauh lebih dingin pandangan mata milik Iblis cantik itu. Seakan-akan di dalam kepalanya hanya berisi mengenai balas dendam. Tapi, memang seperti itu kenyataan. Siapa pun pasti akan menutup mata dan menenggelamkan jiwanya sendiri pada kegelapan karena dendam.
"Ino, kumohon berhenti. Jika lebih jauh dari ini kau bisa terbunuh. Aku … tak ingin kau mati. Kau adalah sahabatku. Sahabat terbaikku selama ini. Sudah cukup—hiks!" Sakura terisak pelan.
Tiba-tiba saja sekelebat kenangan sewaktu kecil bersama Sakura terlintas begitu saja di depan matanya. Tanpa Ino sadari sendiri ia menurunkan kekuatannya dan menunjukan ekspresi sedih di wajahnya.
"Kau lengah," ucap Gaara.
Trang!
Pedang Ino terlempar dan menancap setengahnya tepat di depan Sakura. Tak hanya pedangnya, kalung milik Sakura pun ikut terlempar.
Sakura yang melihatnya berusaha berlari dan menangkap kalung itu, tapi ia tak punya tenaga yang cukup. Akhirnya ia terjatuh dengan tangan mengarah ke depan berusaha menangkap kalungnya.
Hal yang sama sekali tidak diperkirakan sama sekali oleh Sakura terjadi di depan matanya. Sosok punggung seorang gadis berambut merah berlari dengan kencang melewati dirinya yang terperosok jatuh. Dan gadis berambut merah itu melompat dari atas gedung sekolah demi mengambil kalung Sakura yang terlempar oleh Ino.
Gaara maupun Ino juga tak menyangka sama sekali jika ada manusia yang berada di dekat mereka. Waktu seakan berjalan lambat ketika tubuh gadis berambut merah itu melawan gravitasi dan terjun bebas ke bawah.
"KARIIINNNN!" teriak Sakura kencang.
Sedangkan gadis berambut merah itu hanya menutup kedua matanya sambil mendekap kalung Sakura erat di depan dadanya.
Grepp!
Gaara berhasil menangkap tubuh Karin dan mendekapnya erat di depan dadanya. Sedangkan Karin masih belum mau membuka kedua matanya karena mengira ia akan segera merasakan rasa sakit yang luar biasa ketika akan jatuh nanti.
"Bukalah kedua matamu," ucap Gaara pelan di saat ia terbang hendak menuju ke atas atap gedung sekolah kembali.
Mendengar suara seseorang, akhirnya Karin memberanikan diri untuk membuka keduanya matanya perlahan. Dan seraut wajah pemuda yang sangat tampan berada dekat di depan wajahnya membuat gadis itu langsung merona merah. "M-malai-kat … " gumamnya.
"Terima kasih karena sudah menyelamatkan Sakura," ucap Gaara dan sedikit tersenyum tipis.
"Uh!" Karin hanya bisa mengangguk dengan wajah memerah. Ia membuka telapak tangan kanannya dan melihat kalung Sakura terlihat baik-baik saja.
"Sebuah keputusan yang salah memilih menyelamatkan manusia itu," ucap Ino dingin sambil mengapit leher Sakura dengan tangan kanannya, sedangkan pedang yang berada di tangan kirinya ia acungkan tepat di depan leher Sakura.
Gaara menurunkan pelan tubuh Karin dan mulai kembali mengeluarkan pedangnya.
"Kau licik, dasar Iblis!" ucap Karin.
"Ahahahahhahah! Bicaralah sesukamu," balas Ino dengan tawa keras.
"Lepaskan Sakura!" ucap Gaara.
"Tidak akan. Sekarang, lemparkan kalung itu padaku. Cepat!" perintah Ino pada Karin.
Gadis beriris ruby itu menatap wajah Sakura dan Gaara bergantian. Ia bingung. Apa keputusan yang harus ia ambil ketika dihadapkan dengan situasi sulit seperti sekarang. Apa?
"Aahhh! Jadi kau ingin melihat dia mati? Baik."
"Tunggu. A-akan kuberikan padamu," ucap Karin dan langsung melemparkan kalung Sakura pada Ino dan dengan cepat gadis itu menangkapnya.
"Bagus. Nah, sekarang, diam dan perhatikan saja," ucap Ino dan—
Ctrek!
Ino menjentikan lagi jarinya dan seketika itu juga tubuh Gaara dan Karin masuk ke dalam bola seukuran tubuh mereka yang entah terbuat dari apa. Yang jelas benda itu seperti balon yang mengambang di udara dan tidak bisa pecah dari dalam maupun dari luar meskipun beberapa kali Karin memukulnya.
Sayap di kedua punggung Gaara menghilang beserta pedang di tangannya, selain itu juga kekuatannya serasa ditarik paksa keluar. Ia merasa lemah saat ini juga. Berbeda dengan Karin, ia memegang dadanya sendiri karena sakit, akibat udara di dalam balon itu sangat tipis. Berada selama 1 menit di dalam balon itu mungkin akan membuatnya mati.
"Apa … yang kau lakukkan … pada mereka?" tanya Sakura.
"Hanya membuat mereka 'diam' untuk sementara," balas Ino dan melepaskan Sakura sekaligus mendorong tubuhnya ke depan sampai Sakura terjatuh.
Sakura menatap Ino kasihan dan perlahan-lahan beranjak berdiri. "Kembalikan … " gumamnya.
"…" Ino memandang angkuh wajah Sakura.
"Kembalikan Ino sahabatku, dasar Iblis!" teriak Sakura dan langsung mengguncang kedua bahu Ino keras.
Sekali lagi Ino mendorong Sakura. "Apa yang kau bicarakan? 'Kembalikan Ino sahabatku?' Cih! Apa kau buta, Putri? Kau pikir tubuh yang sekarang berdiri di hadapanmu ini tubuh milik siapa? Kau pikir suara yang sekarang kau dengar ini suara milik siapa? Kau pikir—"
"Aku tahu apa yang ingin kau katakan. Tapi—tapi meskipun kau punya fisik yang sama dengan sahabatku kau bukanlah sahabatku. Karena itu … kembalilah seperti dulu."
"Mati … " ucap Ino pelan.
"Apa?"
"Sahabat yang kau bicarakan itu sudah lama mati. Karena—"
"…"
"—kau sendirilah yang sudah membunuhnya."
"T-tidak mungkin!" Sakura menggeleng keras dan mundur beberapa langkah. Ia mencengkram erat kepalanya dengan kedua tangan. Air mata sudah tumpah dan membasahi kedua pipinya.
"Apa yang kau sesalkan?" tanya Ino dan berjalan mendekati Sakura.
"…" Sakura mundur kembali.
"Apa kau benar-benar melupakan kejadian waktu itu?" tanya Ino lagi dan semakin memperpendek jarak.
"…" Sakura tetap diam tak bersuara.
"Waktu itu kau sudah—"
"HENTIKAAAANNN!" teriak Sakura dan sedetik kemudian muncul sinar terang menyelimuti tubuhnya. Ino menyipitkan matanya karena silau.
Sakura merasakan sebuah kekuatan yang sama sekali tak ia kenali muncul dari dalam tubuhnya dan berbalik menyerang Ino. Dan—
Sraakk!
—Ino membulatkan matanya karena terlalu terkejut, begitu pun dengan Sakura.
Pedang yang Ino genggam jatuh oleh pemiliknya, berserta kalung Sakura. Dan benda yang menawan Karin juga Gaara tiba-tiba saja menghilang.
Clak! Clak!
Tetesan darah mulai berjatuhan dan membanjiri sekitar di mana Ino berdiri. Raut wajah kesakitan nampak terlihat di wajah Iblis cantik itu. Dan segaris aliran darah keluar dari bibirnya dan mengalir ke dagu juga leher jenjangnya.
"S-sayapku," ucap Ino pelan dan memandang sayap bagian kanannya yang terpotong. Sayap berwarna hitam seperti bulu burung gagak itu teronggok begitu saja di bawah kakinya. Dan lama kelamaan sayap itu diselimuti oleh api berwarna merah dan hilang tak bersisa.
Sakura hanya bisa menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Tak percaya bahwa yang dilakukan olehnya entah secara sadar atau tidak sewaktu kejadian aneh tadi telah melukai Ino. Ia sudah memotong sayap bagian kanan dari iblis itu. Ia sudah membuat Ino kehilangan separuh dari hidupnya. Ia juga tak tahu kekuatan apa yang dikeluarkan olehnya tadi.
Ino seketika limbung dan perlahan jatuh tertelungkup.
"Kekuatan apa yang kau gunakan tadi, Sakura?" batin Gaara bertanya-tanya. Ia berpikir keras, mungkinkah kekuatan misterius Sakura baru saja bangkit? Tapi, kekuatan misterius apa itu?. "Setahuku, kekuatan yang dimiliki oleh Sakura adalah pendengaran yang tajam. Juga kekuatan penyembuhan sama seperti diriku."
Gaara segera mendekap erat Sakura ke dalam pelukannya. "Semuanya akan baik-baik saja," ucapnya.
Sakura menggeleng lemah. "Aku, aku sudah membunuhnya. Aku sudah membunuh Ino, sahabatku sendiri," racaunya.
"…"
"…"
"Siapa yang sudah kau bunuh?" tanya Ino yang mulai bangkit kembali. Ia berlutut dan mengahapus jejak darahnya sendiri di dagunya. Tangan kanannya menggapai pedang miliknya dan menggenggamnya erat.
"Ino … " ucap Sakura pelan.
Iblis cantik itu mulai mengeluarkan aura membunuh yang membuat Karin gemetaran. Di sekeliling tubuh Ino mulai tercipta udara. Tangan kanannya nampak teracung ke atas dan seketika turun menghantam sebuah benda kecil berwarna perak.
"Hyaaaaa!" teriak Ino dan—
Prangg!
—benda kecil berbentuk kedua sayap berwarna perak itu hancur berkeping-keping. Seketika itu juga kedua mata emerald Sakura meredup dan kehilangan cahayanya. Tubuh Sakura merosot begitu saja dalam pelukan Gaara dan akan terjatuh membentur lantai ketika Gaara langsung menahannya.
"Jangan mati! Kumohon jangan tinggalkan aku. Sakura! SAKURAAAAA!" teriak Gaara kencang dan memeluk tubuh Sakura yang mulai berubah menjadi dingin dan kulitnya terlihat sangat pucat.
Sedangkan Karin yang melihatnya hanya menutup mulutnya sendiri sambil terisak pelan. Dan Iblis cantik itu hanya tersenyum puas karena sudah berhasil melenyapkan nyawa mantan sahabatnya itu.
Pemuda berambut dark blue yang baru saja datang dari pintu di belakang Ino hanya membulatkan kedua matanya. Dadanya merasakan sesak dan sakit luar biasa melihat pemandangan di depan matanya. Kedua tangannya nampak menggantung lemah di kedua samping tubuhnya. "Sa-ku-ra … "
Tsuzuku
Gomen ne:*
Di chapter ini ga da adegan SasuSaku. Mungkin di dua chapter terakhr nnti da.
Lalu, pasti akan kujelasin kenapa bisa sampai Ino pngen bunuh Sakura. Masa lalu keduanya insyaallah bakal terungkap chap dpn. Dan skrang sdng ada dlm tahap pengetikan.
Q ucapin mksh bngt buat yg udh mereview chapter kmrn. Tanpa ada kalian semua, q ga mungkin bs menyelsaikan fic nie.
Mudah2an endingnya nanti ga mengecewakan.
Dan, sekali lg maaf bngt. Krn update-annya yang sangat lama. Semoga, bgi yg menunggu2 update-an fic nie ga kcw dngn chapter kali ini.
Kritik dan saran Saya harapkan dari semuanya.
Q tahu fic-ku msh bnyk kekurngnnya^^
Jadi, mohon bantuannya.
Ah! Minta do'anya untuk ksembuhanku, ya:D
Hug and Kiss For me
To you All:*
Reviews
