Kulihat malam ini si Baka Aniki tampak sangatlah senang, entah hal apa yang membuatnya sangat bahagia.
"Ada apa ini? Malam ini kau terlihat sangat bahagia, Itachi?" tanya Ibu.
"Besok... aku akan kencan dengan Naruto," jawab si Keriput tersenyum.
"Kenapa tidak langsung saja menikah besok," celetuk Ayah yang sontak membuatku menyemburkan jus tomat yang sedang kuminum.
"Kau kenapa Otoutou?"
"Cih, aku tak apa-apa. Aku mau tidur," ucapku kesal.
'Aku tidak akan menyerah untuk merebutnya. Akan kugunakan cara apapun untuk mendapatkannya,'
Aisaretai
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuNaru
Rate : T
Warning : Typo, Gaje, Abal, Shounen-ai, AU, OOC, dll.
'Sudah kukatakan, bahwa aku juga menyukaimu Naruto!'
"Aaarrghhh... si Teme itu! Kenapa dia selalu saja membuatku bingung! Aku sudah punya Itachi-nii... sadar Naruto! Lupakanlah... dia," teriak Naruto frustasi yang baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya.
Ditatapnya jam dinding dikamarnya. Naruto saat ini hanya duduk diam di atas tempat tidurnya dan sedang menunggu nyawanya untuk kembali. O.o
Tik Tik Tik
Hanya suara detikkan jarum jam yang terdengar dari kamar itu. Kesunyian kamar itu terus menyelimuti Naruto yang saat ini memikirkan apa sebenarnya maksud dari si Teme itu. Sebelumnya ia berkata benci dan sekarang berkata cinta.
Memang Naruto tahu, kalau remaja itu pikirannya masih labil. Begitu pula dengan dirinya sendiri yang bingung apakah keputusannya benar menerima pertunangan Itachi. Tapi kelabilan Sasuke hanya akan menggoyahkan tekadnya saat ini. Naruto tidak tahu. Benar-benar tidak tahu. 'Apakah keputusanku benar?' hanya hal itulah yang dipikirkan oleh Naruto.
KRRIINNGG... KKRRIIINNNGGG..
Suara alarm itu pun memusnahkan kesunyian hanya dalam sekejap mata dan sukses membuat Naruto terjungkal jatuh dari atas tempat tidurnya.
"Aduh... sakit.. alarm apa sih berisik sekali," ucap Naruto yang kemudian bangkit dan segera mematikan alarm itu.
"Akhirnya sepi lagi... em... eh, sekarang jam 9? Jam 9... wah gawat! Aku akan terlambat, sial! Kenapa di saat akan kencan aku malah terlambat," teriak Naruto yang langsung berlari ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Setelahnya Naruto segera mencari baju untuk dikenakannya. Dilemparkannya baju yang tidak ingin dipakainya ke sembarang tempat. Setelah menemukan baju yang menurutnya pantas, dengan secepat kilat ia keluar dan mengunci pintu apartemennya.
Di depan sebuah stasiun kereta...
Saat ini banyak sepasang mata para gadis menatap dengan pipi yang merona yang tertuju pada hal yang sama. Tentu saja, gadis mana yang tidak tertarik bila melihat sesosok pria beririskan abu-abu gelap dengan rambut hitam yang membingkai wajah tampan dan menggantung hingga ke pipi, sedangkan sisa rambut lainnya diikat kebelakang. Ia mengenakan sebuah kaos putih yang tertutup jaket biru tua dengan kesan gothic dan celana jins panjang.
Namun sosok yang diperhatikan sama sekali tak menyadari pandangan-pandangan yang terus tertuju padanya. Saat ini sosok itu hanya sedang memikirkan seseorang yang saat ini sedang ditunggunya namun tak juga datang. Tidak lama kemudian, yang sedang ditunggu pun tiba.
"Maaf Itachi-nii, aku terlambat. Itachi-nii sudah menungguku cukup lama ya?" tanya Naruto dengan nafas yang tersengal-sengal sehabis berlari.
"Tidak. Kenapa kau berlari-lari seperti ini?" tanya Itachi sambil menyerahkan sebotol minum untuk Naruto.
"Terimakasih, sebenarnya saat ini aku sedang dike-"
"NARUTO! Kumohon kembalilah bekerja di tempat kami," teriak seorang pria yang sedang berlari kencang menuju ItaNaru.
Dengan sigap Naruto menarik lengan Itachi dan menuju ke dalam stasiun kereta. Naruto terus melangkahkan kakinya menjauh dengan sekuat tenaga. Sedangkan saat ini Itchi hanya bisa ikut-ikutan berlari dibelakang Naruto. Pria itu pun semakin lama terlihat semakin tertinggal. Setelah membeli tiket dengan cepat Itachi dan Naruto berhasil menaiki kereta. Keduanya pun saat ini terduduk dibangku kereta berusaha mengatur nafas tanpa memedulikan pandangan penumpang lain yang terus tertuju pada mereka.
"Naruto... sebenarnya pria tadi itu siapa?" tanya Itachi dengan nafas yang sudah mulai teratur lagi.
"Tadi itu bos-ku sewaktu aku bekerja sebagai pelayan kafe. Memang gajinya lumayan tinggi, tapi aku lebih memutuskan untuk berhenti dan bosku itu malah terus memintaku untuk bekerja ditempatnya, iihh... serem," jelas Naruto dengan merinding ria.
"Memangnya kenapa kau berhenti?"
"Mana mau aku bekerja dengan mengenakan seragam maid dengan rok mini serta kuping dan ekor kucing yang dihiaskan pita pink. Dari pada mengenakan seragam seperti itu lebih baik aku cari kerja ditempat lain,"
Itachi hanya tersenyum mendengar cerita Naruto itu. Setelahnya, keduanya hanya terdiam dengan memandang pemandangan pada jendela. Namun perlahan Itachi merasakan sesuatu yang mengganggu. Entah mengapa banyak sekali tatapan mesum para lelaki yang tertuju ke arahnya. Tunggu dulu! Bukan ke arahnya, tapi ke... Naruto.
Semua tatapan itu tertuju pada Naruto yang saat ini sedang melamun dan tak menyadari pandangan-pandangan itu. Itachi pun melihat dari atas hingga bawah mencari apa yang menarik perhatian orang-orang mesum itu. Kemudian pandangan Itachi pun terhenti pada satu hal. Kaki Naruto yang begitu mulus dan ramping serta terlihat seksi itu terpampang dengan jelas. Tak rela miliknya dilihat orang lain, Itachi segera melepas jaketnya dan menutupi paha dan kaki Naruto itu. Dan orang-orang mesum itu pun kecewa.
"Kenapa Itachi-nii?" tanya Naruto heran karena tiba-tiba saja Itachi menutupi kakinya dengan jaket miliknya.
"Kenapa kau pakai celana diatas lutut seperti itu Naruto?" tanya Itachi tersenyum namun tersirat di dalam senyum itu sedikit kekesalan.
"Maaf... karena tadi terburu-buru, jadi aku asal ambil celana," ucap Naruto tertunduk.
"Ya sudah, tak apa, tapi lain kali kalau ingin pergi pakai celana panjang ya," ucap Itachi mengelus rambut pirang lembut milik Naruto.
Kkrruyyuukk...
"Suara apa itu?" tanya Itachi terkejut ketika mendengar suara aneh yang tiba-tiba saja terdengar telinganya.
"Ano.. Itachi-nii, tadi itu suara perutku. Aku lapar, hehehe," ucap Naruto tertawa.
"Kalau begitu nanti kita makan dulu, sebelum ke taman bermainnya," ucap Itachi dengan melingkarkan lengannya di pinggang Naruto.
"I, Itachi-nii... i-ini 'kan di tempat umum," ucap Naruto gugup tiba-tiba dirangkul seperti itu.
"Kenapa? Kau 'kan memang akan jadi milikku Naruto. Aku tak akan menyerahkanmu pada orang lain," ucap Itachi mempererat pelukannya.
Dan Naruto... dia hanya diam dengan wajah memerah malu bercampur senang.
"Aku senang Itachi-nii," ucap Naruto.
"Aku justru lebih bahagia Naruto... bisa memilikimu seperti ini," ucap Itachi menyandarkan kepalanya pada bahu Naruto.
Naruto pun mengelus lembut rambut Itachi. Keduanya tampak sangat sangat mesra dimata orang-orang yang menatapnya saat ini. Semua menatap iri adegan ItaNaru itu. Para wanita banyak yang iri dengan posisi Naruto saat ini, sedangkan para Seme iri denga Itachi yang bisa dielus-elus oleh Uke semanis Naruto.
Kemudian kereta pun berhenti dan mereka segera turun untuk pergi menuju ke sebuah restaurant, mereka tetap saja manampilkan kemesraan mereka dan membuat para single diluar sana iri akan mereka. Naruto makan dengan lahapnya, sedangkan Itachi hanya tersenyum sambil meminum kopi pesanannnya.
"Itachi-nii, apa kopi itu sangat enak? Kau kelihatan menikmatinya," tanya Naruto masih tetap fokus dengan makanannya.
"Kopi ini rasanya pahit, tapi terasa manis karena aku melihatmu sambil meminum kopi ini," ucap Itachi tersenyum dan mengusap pipi tembem Naruto yang penuh makanan dengan tisu.
"I, Itachi-nii, jangan merayuku seperti itu... aku malu," ucap Naruto dengan wajahnya yang memerah.
Itachi pun tersenyum. Setelah selesai makan, keduanya pergi ke tujuan mereka, yaitu Taman Bermain ^0^/. Disana mereka menaiki hampir semua wahana dan senyum selalu terhias diwajah mereka. Setelah lelah menjelajahi seluruh taman bermain, akhirnya Itachi dan Naruto beristirahat pada sebuha bangku.
"Naruto, apa kau haus? Mau aku belikan jus?" tanya Itachi.
"Benarkah? Kalau begitu aku ingin jus jeruk," ucap Naruto ceria.
"Baiklah, kau jangan kemana-mana dan duduk disini saja ya," ucap Itachi berdiri dan mengusap rambut Naruto.
"Itachi-nii... aku 'kan bukan anak TK," ucap Naruto ngambek dengan pose imutnya.
Itachi hanya tertawa kecil dan kemudian pergi untuk membeli minuman. Naruto yang saat ini duduk sendirian hanya bisa mengayunkan kedua kakinya dan menatap langit yang begitu cerah. Setelahnya, Naruto tersenyum bahagia. Kemudian Naruto memejamkan matanya membiarkan rambutnya tertiup angin lembut dan wajahnya disinari cahaya mentari hangat itu.
Namun tiba-tiba saja Naruto merasa ada sesuatu menghalangi cahaya matahari yang tertuju padanya, ia pun membuka matanya untuk melihat apa yang ada di depannya saat ini. Ketika membuka matanya, Naruto terkejut dengan sosok yang berada di depannya. Hendak berteriak, namun dengan cepat Naruto kehilangan kesadarannya.
Ditempat lain dan waktu yang hampir bersamaan...
'Aku senang bisa jalan-jalan bersama Naruto. Sudah kuduga, bila bersamanya hatiku terasa sangat hangat,' pikir Itachi.
Ketika hendak sampai ditempat Naruto, tiba-tiba dia melihat seorang pria aneh yang menutupi dirinya dengan jaket hitam dan menggendong Naruto dibahunya.
"NARUTO! Kau mau bawa kemana Naruto?" teriak Itachi yang segera berlari tapi sosok pria itu juga berlari dengan kencang dengan membawa Naruto yang sedang tak sadarkan diri itu.
Ketika sudah sedikt lagi mencapai pria aneh itu, tiba-tiba saja segerombolan orang muncul dan menutupi jalan Itachi. Ternyata saat ini akan segera diadakan festival hingga membuat orang-orang berkumpul. Itachi pun terus saja menerobos kerumunan orang-orang itu untuk mendapatkan Naruto.
Namun sosok pria itu menghilang... bersama dengan Naruto. Itachi pun segera mencarinya. Di telusurinya dan mencari sosok mataharinya itu. Namun hasilnya nihil, Naruto tidak ada.
'Naruto kau dimana? Siapa pria tadi itu? Dasar brengsek!' pikir Itachi memukul keras batang pohon yang tak bersalah.
"SIAALL... !"
Tbc
Akhirnya selesai juga... fyuhh...
Ceritanya makin jeleka ya? Apa gaje? Ancur? Bagus? *pplalaakk
Please, review...
Terimakasih juga sudah mau membaca ceritaku ini^^
