Previous Chapter

"Tolong berhenti! Jika kau seperti ini terus, aku … aku tak akan bisa meninggalkan kalian semua."

"—aku mencintaimu. Bisakah … kau tidak pergi dan diam di sisiku, Sakura?"

"Aku … pernah bertemu dengan Sakura 8 tahun yang lalu."

.

.

.

"Kau—Ino, untuk apa kau datang ke bumi?"

"I-no …"

"Sayonara …"

.

.

.

"Kembalikan Ino sahabatku, dasar Iblis!"

"HENTIKAAAANNN!"

"Jangan mati! Kumohon jangan tinggalkan aku. Sakura! SAKURAAA!"

.

.

.

Naruto©Masashi Kishimoto

Watashi no Sutekina Tenshi©Tsukiyomi. A Kumiko

Genre : Romance/Fantasy/Hurt/Comfort

Rate : T

Warning : AU, OOC, GaJe, Typo's

.

.

.

Enjoy This Chapter

And

Give Me Review

.

.

.

.

Pemuda itu berlari dan terus berlari tanpa berhenti sedetik pun. Sorot matanya tajam dan rahangnya nampak mengeras seperti tengah menahan amarah. Setitik keringat mengucur dari dahi dan turun ke dagu lalu berakhir jatuh di jalan aspal yang kini pemuda itu injak.

Deru napas yang mulai tidak teratur tak membuat kecepatan berlari pemuda tampan itu melambat. Sebaliknya semakin cepat seperti seekor singa yang sedang mengejar buruannya. Tapi, pemuda itu berlari untuk mengejar sesosok seorang gadis berambut merah yang berlari tak jauh di depannya.

"Kau yakin Sakura ada di sana?" tanya Sasuke sedikit berteriak.

Kepala gadis itu menengok sebentar pada sosok pemuda tampan di belakangnya. Sedetik kemudian ia mengangguk yakin dan tersenyum. "Percayalah padaku, Sasuke," ucap Karin.

"Hhhh! Hhhh!" Sasuke mencoba mengatur deru napasnya. Dadanya sudah terasa sangat sesak dan panas, seperti ada lava di dalamnya.

Begitu pun dengan apa yang dirasakan oleh Karin. Wajah gadis itu sedikit memerah karena seluruh badannya terasa sangat panas.

Tiba-tiba saja Karin berhenti berlari diikuti oleh Sasuke setelahnya. Keduanya berdiri mematung di depan gerbang sekolah mereka yang tertutup rapat, karena memang sekarang adalah hari libur. Wajar jika tak ada orang satu pun.

Karin langsung menarik lengan Sasuke dan membawanya ke sisi kanan dekat gerbang. Sebuah tembok dengan cat putih menjulang tinggi di depannya. Tak tanggung-tanggung Karin langsung membungkukkan badan Sasuke.

"Apa yang kau—"

Pluk!

"—hey! Kau berat sekali," ucap Sasuke dan berusaha untuk menjaga keseimbangannya agar Karin tidak jatuh dari kedua atas bahunya.

"Berisik! Cepat naikkan aku," perintah Karin seenak jidatnya pada Sasuke yang tengah berusaha untuk tidak memandang Karin di atasnya.

Sasuke perlahan-lahan mulai beranjak berdiri dan memegang kedua kaki Karin untuk tidak terlalu banyak bergerak. "Kelihatannya dia ringan, tapi kenapa berat seperti ini?" batinnya bertanya-tanya heran.

Karin segera menggapai bagian paling atas tembok sekolahnya tersebut lalu mengangkat sendiri tubuhnya dengan mudah. Sebelum ia turun ke sisi yang satunya, Karin mengulurkan tangan kanannya pada Sasuke yang berada di bawahnya. Kedua iris ruby-nya menatap Sasuke heran kenapa pemuda itu diam saja dengan wajah memerah. Dan wajah Karin tiba-tiba saja juga ikut memerah karena malu, dan ia baru sadar jika ia kini tengah memakai rok rempel mini. Sudah pasti jika …

"Bohong jika kau mengatakan tidak melihatnya," geram Karin dan menahan malu setengah mati. Bagaimana bisa kejadian memalukan seperti ini terjadi pada dirinya, terlebih kenapa harus Sasuke. Pemuda yang dulu ia pernah sukai. "Sudah cepat naik!"

Sasuke segera menggapai tangan Karin dan berusaha menaikan tubuhnya sendiri. Tapi, hal tersebut lumayan sulit mengingat Sasuke adalah seorang laki-laki yang berat badannya jauh dari berat badan milik Karin.

"Sasuke … kau berat!" ucap Karin dan berusaha menarik sekuat tenaga tangan Sasuke. Hampir saja Karin ikut terjatuh lagi jika saja tangan kirinya tidak memegangi batang pohon secepat mungkin.

Beruntung ada sebuah pohon tua yang menjulang tinggi sampai melewati batas tembok. Karin dan Sasuke berhasil naik dan keduanya turun lewat pohon besar tersebut. Keduanya kembali berlari hendak memasuki gedung sekolah ketika sesosok tubuh yang tergelatak begitu saja di tengah lapangan menyita perhatian Sasuke.

"Tunggu sebentar, Karin!" ucap Sasuke dan langsung menghampiri sosok asing yang terbaring lemah di halaman gedung sekolah tersebut.

Tubuh Sasori terbaring tak berdaya dengan luka sayatan kecil di bagian tangannya. Dan segaris aliran darah mengalir keluar dari belakang kepalanya juga dahi. Tak hanya itu mata sebelah kanannya yang tertutup nampak terluka parah dan mengelurakan darah merah kental.

Sasuke sama sekali tidak tahu siapa laki-laki berambut merah di depannya ini. Yang pasti dalam pikirannya adalah, laki-laki ini bukanlah seorang manusia melainkan jenis yang sama dengan Sakura. Dan terlihat jika pemuda itu memakai kalung kristal es kurang lebih sama dengan Sakura maka sudah dipastikan jika pemuda ini adalah seorang … malaikat.

Karin segera mendekat dan menyentuh leher Sasori untuk memeriksa denyut nadinya. Ia sedikit bernapas lega ketika menyadari jika pemuda tampan di depannya ini masih hidup namun terluka sangat parah.

"Bagaimana ini, Sasuke?" tanya Karin dan mulai beranjak berdiri.

Tentu keduanya berpikir bahwa tidak ada waktu untuk merawat luka-luka pemuda berambut merah tersebut sekarang ini. Lagi pula Sasuke merasa jika pemuda itu bisa bertahan hidup karena dia bukanlah seorang manusia seperti halnya dirinya. Dan akhirnya Sasuke memutuskan untuk tetap maju.

"Hn. Kita pergi," ucap Sasuke dan bersiap berlari. Namun, salah satu pergelangan kakinya dicengkram oleh tangan Sasori membuatnya tidak jadi berlari. Sasuke melihat jika Karin sudah berlari jauh meninggalkannya dan juga sudah memasuki gedung sekolah.

Sasuke berjongkok di samping tubuh Sasori dan mencoba untuk melepaskan cengkraman tangannya.

"Kau (manusia) … kuperintahkan untuk melindungi Sakura dengan taruhan nyawamu sendiri," ucap Sasori dengan sebelah mata tertutup.

Seketika itu juga sinar terang menyelimuti seluruh bagian tubuh Sasuke begitu pun dengan Sasori. Sasuke menutup kedua matanya karena silau dan ia merasakan jika jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tubuhnya terasa sangat ringan dan setelah itu ia tidak merasakan apa-apa lagi kecuali rasa dingin yang menyelimuti seluruh permukaan kulitnya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Sasuke menuntut jawaban atas apa yang terjadi pada dirinya karena sinar aneh tersebut.

Kini sinar itu sudah menghilang seolah-olah masuk ke dalam tubuh Sasuke. Dan Sasori yang melihatnya hanya tersenyum kecil dan kembali tak sadarkan diri.

Sasuke mendecih sebal dan langsung melepaskan cengkraman tangan Sasori dari kaki kanannya. Ia bergegas berlari tanpa menyadari sebuah kalung putih sama seperti yang Sasori miliki melingkar di lehernya. Dan Sasuke sama sekali tak akan menyangka perubahan apa yang akan terjadi pada dirinya nanti.

"Sakura, aku pasti akan melindungimu. Aku berjanji," ucap Sasuke dalam hati dan mengepalkan kedua tangannya erat. Dan kalung kristal berbentuk kedua sayap itu memperlihatkan sekilas sinarnya tanpa Sasuke tahu.

.

.

.

.

.

.

.

Karin menengokkan kepalanya sekilas ke belakang dan mendapati Sasuke tidak ada. Gadis itu berpikiran mungkin Sasuke kelelahan berlari naik tangga untuk menuju ke atap sekolah tersebut dan berhenti untuk sementara.

Berbeda dengannya yang memang memegang status pelari tercepat di sekolahnya dan tidak akan mudah lelah hanya berlari seperti ini. Tapi lain hal dengan Sasuke yang hanya seorang ketua Klub Sains yang mengandalkan otak.

"Aku yakin dia pasti akan menyusul," batin Karin menyemangati dirinya sendiri.

Gadis penyuka parfum itu menambah kecepatannya dalam berlari dan langsung mendobrak pintu masuk atap sekolah tersebut. Dan kedua iris ruby-nya sukses terbelalak sempurna karena melihat seorang gadis dan juga seorang pemuda tengah beradu kekuatan dengan membenturkan kedua pedang mereka di udara.

"Ino, kumohon berhenti. Jika lebih jauh dari ini kau bisa terbunuh. Aku … tak ingin kau mati. Kau adalah sahabatku. Sahabat terbaikku selama ini. Sudah cukup—hiks!" ucap Sakura sambil terisak pelan.

Karin segera mengalihkan pandangannya pada Sakura dan hendak memanggilnya ketika pemuda berambut merah bersayap putih itu berteriak lantang. Dan membuat Karin kembali mengalihkan pandangannya pada dua orang yang sedang melayang terbang tak jauh di depannya.

"Kau lengah."

Trang!

Pedang Ino terlempar dan menancap setengahnya tepat di depan Sakura. Tak hanya pedangnya, kalung milik Sakura pun ikut terlempar.

Karin melihat Sakura tengah berusaha berlari dan menangkap kalung itu, tapi Sakura tak punya cukup tenaga. Akhirnya Sakura terjatuh dengan tangan mengarah ke depan berusaha menangkap kalungnya.

Entah apa yang ada di dalam pikiran Karin, gadis itu berlari sangat cepat melewati Sakura. Kedua tangannya berusaha menggapai kalung itu. Ia tak sempat berpikir apakah ia akan selamat atau mati karena sudah melompat dari atas atap gedung sekolah tersebut demi mengambil kalung Sakura yang terlempar jauh.

Yang ada di dalam pikirannya adalah, bagaimana pun yang terjadi ia harus melindungi Sakura. Karena ia sudah berjanji pada dirinya sendiri juga Hinata.

Karena Sakura sudah menyadarkannya, karena Sakura sudah menyelamatkan orang yang sangat berharga baginya. Dan Karin berjanji pada dirinya sendiri untuk membalas semua perbuatan baik yang Sakura lakukan padanya meskipun itu harus dibayar mahal dengan nyawanya.

"KARIIIINNNN!"

Karin mendengar Sakura meneriakan namanya. Ia tahu jika Sakura tak pernah menginginkan hal ini. Karin tahu jika Sakura tak ingin ada seorang pun manusia yang menolongnya. Tapi, bagaimana pun juga, kebaikan harus dibalas dengan kebaikan.

Waktu seakan berhenti untuk sementara ketika Sakura melihat tubuh Karin melesat jatuh ke bawah. Gadis itu berusaha bangun untuk menyelamatkannya. Tapi, ia terlalu lemah, bahkan untuk terbang.

Tangan Karin terjulur ke bawah dan setelah mendapatkan kalung Sakura, Karin menggenggam kalung itu dan memeluknya erat di dadanya sendiri. Gadis itu memejamkan kedua matanya ketika tubuhnya melawan gravitasi. Namun, sebuah pelukan yang tubuhnya rasakan membuat Karin perlahan-lahan membuka kedua matanya.

Sedetik sebelum tubuh Karin menghantam tanah, Gaara menangkapnya dan kembali terbang ke atas.

"Malaikat … " gumam Karin pelan ketika sadar jika ia sudah di selamatkan oleh seorang malaikat tampan.

.

.

.

.

.

.

.

.

Satu demi satu anak tangga sudah Sasuke lewati dengan susah payah. Di dalam hati pemuda itu, ia mengutuk Kepala Sekolah yang sudah membuat tangga sebanyak ini menuju atap sekolah.

"Hhhh!" Sasuke berhenti beberapa menit untuk mencoba mengatur deru napasnya agar bisa kembali berlari. Punggung tangannya menghapus jejak keringat di dahi dan lehernya. Dan tiba-tiba saja Sasuke terdiam membatu menyadari jika di lehernya terpasang sebuah kalung.

"Apa ini?" tanyanya dalam hati dan mencoba untuk melepaskannya. Tapi, hal itu tak bisa dilakukannya, seolah kalung itu sudah melekat erat di lehernya.

Dan kejadian aneh beberapa menit yang lalu yang dialaminya sewaktu bersama pemuda berambut merah itu membuat jantungnya kembali berdetak lebih cepat. Wajah pemuda itu berubah menjadi pucat-pasi ketika sadar jika mungkin pemuda berambut merah itu sudah melakukan sesuatu terhadap tubuhnya. Terlebih kenapa bisa ia memakai kalung sama seperti pemuda asing itu.

Tidak masuk akal sama sekali, cahaya aneh itu hilang dalam sekejap seolah masuk ke dalam tubuhnya. Dan setelahnya keberadaan kalung itu yang berada di lehernya.

Deg!

Sasuke langsung mencengkram dadanya erat seolah jantungnya terasa ada yang menusuknya. Begitu sakit dan perih. Dan bayangan sosok Sakura melintas begitu saja di depan matanya membuat pemuda itu segera berlari lagi.

Pemuda itu melambatkan langkahnya ketika kedua mata onyx-nya sudah melihat ada sebuah pintu yang terbuka lebar. Sasuke melihat Karin terisak menangis dengan memalingkan wajahnya. Dan pemuda itu mengalihkan pandangannya pada seorang pemuda berambut merah di samping Karin. Kedua mata onyx-nya sukses terbelalak lebar ketika melihat Sakura yang berada di pangkuan Gaara. Wajah Sakura terlihat sangat pucat dan kedua matanya tertutup rapat.

"Jangan mati! Kumohon jangan tinggalkan aku. Sakura! SAKURAAA!"

Deg!

Rasa sakit menyelimuti hati Sasuke. Pemuda itu hanya bisa memandang wajah Sakura dengan pandangan sedih. Kedua tangannya nampak menggantung lemah begitu saja di kedua samping tubuhnya. "Sa-ku-ra …" desahnya pelan.

"Kau terlambat, Sasuke," batin Karin dan setelahnya gadis itu tersungkur jatuh dan tak sadarkan diri. Gadis itu pingsan setelah kejadian berada di dalam kepungan balon hampa udara itu.

##Watashi no Sutekina Tenshi##

Iblis cantik itu menyunggingkan sebuah senyum kemenangan tak kala melihat sosok Sakura yang tak bergerak sedikit pun. Ia perlahan bangkit berdiri. Sulit untuk iblis cantik itu mengakui jika kini kekuatannya melemah karena separuh sayapnya sudah hilang. Itu semua karena kekuatan Sakura yang selama ini ia sembunyikan darinya dan dari siapapun.

"Huh!" Ino mendengus keras dan perlahan mencoba untuk terbang dengan satu sayap. Dan ketika ia sudah berada di atas, kedua mata aquamarine-nya mengerling tajam pada sosok seorang pemuda (manusia) yang berwajah sangat shock melihat keadaan Sakura.

"Manusia bodoh!" cerca Ino dan tersenyum sinis.

Sasuke perlahan melangkahkan kedua kakinya mendekati sosok Sakura yang berada di pangkuan Gaara. Raut wajahnya sarat akan kesedihan, bibirnya terkatup rapat namun kedua rahangnya nampak mengeras.

Gaara mengangkat kepalanya memandang sosok Sasuke. Setelahnya ia meletakan tubuh Sakura perlahan-lahan dan ia bangkit berdiri. Memunggungi sosok Sakura dan sedikit berjalan menjauhinya. Kedua tangannya nampak mengepal sama seperti Sasuke.

Duk!

Kedua lutut Sasuke membentur lapisan semen dan kedua mata onyx-nya memandang lekat-lekat wajah Sakura. Tangan kanannya terjulur dan menyentuh wajah Sakura. Mengelus pipinya pelan. Dengan amat perlahan Sasuke membawa tubuh Sakura ke pelukannya.

Semua kenangan yang pernah Sasuke alami bersama Sakura nampak meluap keluar di dalam otaknya. Berputar-putar tanpa bisa ia cegah. Suara gadis itu, senyuman gadis itu, pandangan mata gadis itu. Semuanya nampak terekam dengan sangat jelas.

Dan untuk pertama kalinya, seorang Uchiha Sasuke menitikan air mata dari kedua mata onyx-nya.

Siiinggggg!

Sinar putih langsung menyelimuti tubuh Sasuke dan juga Sakura.

Wajah keterkejutan langsung menghiasi wajah Gaara dan juga Ino. Kedua mata mereka terbelalak sempurna. Mereka langsung meyipitkan kedua mata mereka karena silau ketika sinar putih terang itu semakin membesar, hampir menyelimuti seluruh gedung sekolah.

Sinar yang terasa begitu hangat dan penuh dengan ketulusan.

Entah apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri saat ini. Sasuke melihat jika sosok Sakura tengah tersenyum padanya dengan sangat manis. Gaun yang melekat di tubuhnya berubah dari gaun yang tadi dipakainya.

Gaun yang Sakura kenakan saat ini begitu indah dan terlihat sangat halus jika menyentuh kulit. Gaun tak berlengan, membungkus dadanya dan menjuntai indah ke bawah berwarna putih salju.

Rambut merah mudanya terlihat bergerak ke sana kemari dan panjangnya hampir semata kaki. Rambut yang begitu indah dihiasi oleh mahkota kecil berhiaskan batu emerald. Sama seperti warna kedua matanya. Dan sepasang sayap besar berwarna putih menghiasi punggungnya.

Bahkan Sasuke sendiri tak menyadari jika kini pakaiannya pun ikut berubah. Pemuda itu memakai sebuah baju zirah untuk perang. Dan di belakang punggungnya terdapat sebuah sayap besar berwarna putih.

"Terima kasih untuk air mata tulus yang kau berikan untukku, Sasuke," ucap Sakura dan terbang mendekati pemuda itu. Menyentuh pelan permukaan kulit pipinya dan mengelusnya pelan.

Seperti mimpi. Sasuke melihat jika kini Sakura hidup kembali. Membelai pipinya dengan lembut dengan disertai senyuman manis di bibirnya.

Perlahan sinar terang yang menyelimuti tubuh keduanya menghilang. Baik Sasuke maupun Sakura menatap Ino dengan pandangan tajam. Kedua tangan mereka saling bertaut satu sama lain, seakan tak ingin dipisahkan lagi.

Ino menatap geram pada keduanya. Ia menunjuk sosok Sakura dengan pedang panjang di tangannya. "Kau?—kenapa kau tidak mati?"

"Sakura … " desah Gaara pelan dan jatuh terduduk. Jelas, ketidakpercayaan memenuhi guaratan wajahnya. Ia sudah merasakan jika jantung Sakura sudah tak berdetak lagi, tapi kenapa? Kenapa Sakura-nya bisa hidup kembali.

Dan ketika kedua mata jade milik pemuda itu menatap Sakura, ia langsung teringat perkataan Ratu. Jika Putrinya bisa saja mengeluarkan kekuatan murni jika ada sebutir air mata dari seseorang yang memiliki hati tulus untuk melindungi dan mengorbankan nyawa untuk dirinya.

'Kekuatan Sakura sebenarnya … tidak terbatas.'

Kata-kata Ratu itu masih teringat jelas di dalam memori otaknya. Dan kini ia mengerti arti dari kata-kata itu. Jika Sakura, adalah seorang malaikat yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan waktu.

Ia bisa dengan mudahnya memutar balikan waktu sebelum suatu peristiwa itu terjadi. Dengan kata lain ia adalah seorang Dewi.

Sebuah senyuman tipis menghiasi bibir Gaara ketika sadar jika Sakura memakai sebuah kalung. Kalung yang tadinya sudah hancur berkeping-keping kini kembali utuh. Tapi, yang membuatnya lebih terkejut adalah, bagaimana bisa manusia itu memiliki sepasang sayap dan memakai kalung milik Sasori?

Sakura hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Ino. "Berkatmu, kini aku bisa mengerti kekuatan apa yang tersembunyi di dalam diriku."

"Huh!" Ino hanya lagi-lagi mendengus dan mengeluarkan pedang yang satunya lagi. Ia menghunuskan pedang itu ke depan dan membentuk hurup X besar. Amarah Iblis cantik itu sudah mencapai puncaknya. Rasa bencinya sudah tak terbendung lagi.

Sakura langsung menatap Sasuke dan mengganggukkan kepalanya. Gadis itu pindah ke belakang punggung Sasuke. Sedangkan Sasuke mengangkat tangan kirinya dan ketika kedua matanya terpejam sekilas, sebuah busur besar sudah berada di genggamannya. Busur yang terbuat dari es, begitu terlihat padat, putih dan sangat cantik seperti busur milik Sasori. Sakura mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan kedua matanya terpejam.

Dan selang beberapa detik kemudian ia terbang ke atas setelah seluruh tubuhnya di selimuti oleh bias-bias cahaya keemasan.

"Kumohon, berikan aku kekuatan, Ibu! Kekuatan untuk mengakhiri semuanya," batin Sakura.

Sasuke mengangkat tangannya yang kosong ke udara. Dan beberapa detik kemudian sebuah sinar terang muncul pada telapak tangannya dan berubah menjadi sebuah anak panah. Pemuda itu sendiri seperti tak sadar apa yang terjadi pada dirinya. Pandangan matanya meredup dan nampak kosong namun sebuah senyuman kecil menghiasi bibirnya. Pemuda itu seperti sebuah boneka yang digerakan oleh Master-nya.

Ino mulai menyalurkan kekuatan tersisa yang ia miliki pada serangan terakhirnya kini. Angin mulai berkumpul di ujung pedangnya, dan nampak menyatu dengan langit yang tiba-tiba saja berubah menjadi gelap dan mencekam. "Jika aku tak bisa membunuhmu, Sakura. Maka lebih baik aku MATI," teriak Ino keras dan melempar serangan itu pada sosok Sakura.

Kedua mata Sakura langsung terbuka dan Sasuke langsung memposisikan tangannya untuk melepaskan anak panah. Sebelah matanya terpejam dan dengan gerakan cepat—syuuuuttt!—melepaskan anak panahnya.

Anak panah itu meluncur dengan kecepatan tinggi dan menembus tengah-tengah pusaran angin itu dan langsung menuju ke arah Ino berada. Pusaran anginnya terbelah menjadi dua dan menghantam gedung sekolah sedang yang satunya menghancurnya permukaan tanah di sekitar gedung sekolah tersebut.

Ino mencoba menghalau anak panah itu dengan menggunakan kedua pedangnya sebagai perisai tapi pedang itu tak mampu. Oleh sebab itu—praaaangg!—pedang Ino terbelah menjadi dua bagian dan anak panah itu sukses menembus kalung yang dipakainya dan ketika kalungnya sudah hancur, anak panah itu menembus dadanya. Tepat menancap pada jantungnya.

Ino langsung menggenggam anak panah itu dan membiarkan tubuhnya terjatuh. Kekuatannya sudah lenyap dan ia sudah tak bisa terbang lagi. Dan pada saat itu pula ia mengingat kejadian 10 tahun lalu antara dirinya dan Sakura. Kejadian di mana hari yang membuat ia sangat membenci sahabatnya itu. Hari di mana semuanya berubah menjadi lebih buruk. Hari di mana seluruh hatinya dikuasai oleh aura negatif. Hari di mana ia sudah menghianati sahabatnya sendiri. Hari di mana ia mati sebagai seorang malaikat. Dan hari di mana ia hidup kembali sebagai seorang iblis.

Angin berembus pelan menggoyangkan dedaunan pada batang sebuah pohon besar. Dan juga ikut menggoyangkan helaian rambut keemasan milik seorang gadis cantik yang terduduk di bawahnya. Gadis itu duduk tegak dan kedua matanya terpaut lurus pada sebuah bangunan megah tak jauh di depannya.

Bangunan megah yang mengambang di langit. Bagunan megah tempat tinggalnya seorang Ratu dan Raja di negeri gadis itu.

Tangan kanan gadis itu meraba ke atas kepalanya dan menyentuh sebuah mahkota kecil berwarna perak yang berhiaskan batu ruby. Sebuah senyuman kecil menghiasi bibirnya yang berwarna merah. Sedetik kemudian gadis itu bangkit berdiri dan berjalan pelan meninggalkan pohon itu.

Kedua kakinya yang bertelanjang menginjak rerumputan tebal dan empuk. Sedikitnya membuat ia merasa geli ketika ujung-ujung rumput itu menusuk dan menggelitik telapak kakinya. Sepasang kaki yang begitu cantik, putih dan bersih.

Ujung gaun berwarna putih yang gadis itu kenakan sekarang bergesekan dengan tanah. Alih-alih takut gaun cantik itu kotor, gadis itu tetap melangkah sambil sesekali memutar tubuhnya dan bersenandung ria.

Kedua matanya terpejam dan pekikan tawa terdengar dari gadis itu. Tak hanya memutar tubuhnya beberapa kali, tapi kedua kaki gadis itu pun berjinjit dan melakukan gerakan seperti seorang penari balet.

Kaki kirinya sebagai tumpuan sedangkan kaki kanannya terangkat dan nampak bergerak memutar. Kedua tangannya pun melengkung ke depan. Beberapa kali melalukan gerakan seperti tadi akhirnya gadis itu berhenti dengan napas tersengal.

Plok! Plok!

Kepala gadis itu langsung menengok ke belakang dan terpekik kaget melihat kehadiran seorang pemuda di sana. Kedua pipinya langsung semerah tomat dan kepalanya tertunduk malu.

"Tarian yang cantik."

"T-tt-terima ka-sih, Pangeran," jawab Ino yang semakin menundukan kepalanya.

Pria yang di panggil 'Pangeran' oleh gadis itu berjalan mendekat dengan sebuah senyuman manis yang melekat di bibirnya.

"Kita teman. Kenapa kau masih memanggilku—"

"Saya tidak bisa memanggil Pangeran hanya dengan nama saja."

Pemuda tampan yang tak mempunyai alis itu mengerutkan dahinya. Nampak tidak suka dengan jawaban gadis di hadapannya. "Kenapa tidak bisa? Kau juga adalah seorang Tuan Putri di Negeri ini sama seperti Sakura," ucapnya.

Seketika kepala Ino langsung terangkat dan menatap tak percaya pada wajah pemuda di depannya.

Deg! Deg!

Ino langsung meraba bagian dadanya yang mengeluarkan suara detak jantung yang tak beraturan. Anehnya, terasa sangat nyaman. Dan begitu terasa sangat bahagia. Juga begitu terasa menggelitik bagian perutnya dan membuatnya ingin tersenyum.

"Kau akan datang?" tanya Gaara dan berjalan melewati Ino.

"Kemana?" tanya Ino dan memiringkan kepalanya ke kanan tanda tak mengerti ucapan atau pertanyaan yang dilontarkan oleh pemuda tampan itu.

Gaara membalikkan badannya menghadap Ino dan tersenyum. "Pesta dansa di Istana nanti."

"Pesta … dansa? Tapi, bukankah jika ada sebuah pesta maka akan ada peristiwa penting bagi anggota kerajaan?"

Sekali lagi Gaara tersenyum. "Apa kau tidak diberitahu oleh Sakura?" tanyanya.

Ino mulai merasakan firasat buruk dan jantungnya mulai kembali berdetak. Namun kali ini terasa begitu mencekik. "Tidak," jawabnya pendek.

"Begitu. Mungkin Sakura sibuk mempersiapkan dirinya untuk pesta nanti jadi dia tidak sempat memberitahumu. Pesta yang akan di adakan malam ini adalah untuk acara penurunan tahta Ratu dan Raja."

"P-penurunan tahta? Maksud-mu … Sa-Sakura yang akan … "

"Benar. Sakura akan dinobatkan sebagai Ratu di Negeri ini dan … "

"Dan … apa?" tanya Ino dan mengepalkan kedua tangannya erat.

"Dan aku lah yang akan dinobatkan sebagai Raja dan sekaligus menjadi pendamping Sakura. Kami akan dinikahkan."

Kedua mata aquamarine Ino langsung membulat sempurna dan setetes air mata keluar dari salah satu matanya. Bibirnya bergetar dan kedua lututnya begitu terasa lemas. Gadis itu jatuh terduduk dan membuat pemuda itu terkejut.

"Kenapa kau menangis?"

"Aku … bahagia mendengarnya. Sangat bahagia," ucap Ino dan mengulum senyum padahal ia ingin menjerit dan menangis.

"Kau memang sahabat Sakura yang terbaik, Ino."

Dan mulai detik itu juga rasa iri, benci dan terbohongi mulai menguasai hatinya yang semula bersih tak ternoda.

Ino mendorong pintu kamar Sakura dengan pelan. Sebelum sepenuhnya masuk, gadis itu melongokan kepalanya sedikit dan melihat seisi kamar Sakura. Kosong.

Akhirnya Ino masuk setelah menutup kembali pintunya. Gadis itu berjalan pelan mendekati meja rias Sakura dan memandang berbagai perhiasan dan juga riasan untuk wajah di sana. Kalung, cincin, gelang, semuanya nampak berkilauan dan begitu cantik. Dan ketika kedua mata aquamarine milik gadis itu menengok ke arah tempat tidur, ia terpekik terkejut.

Di atas tempat tidur itu terbaring sebuah gaun berwarna merah muda yang sangat cantik dan begitu indah. Terlihat jika sulaman di setiap ujung gaun itu begitu rapi. Model gaun itu sangat rumit tapi jika sudah dipakai pasti terlihat indah. Selain berwarna merah muda, warna merah darah juga nampak menghiasi gaun itu pada bagian bawahnya. Dan lambang motif bunga sakura kecil terdapat di ujung kerahnya.

"Bunga sakura?" gumam Ino pelan. Gadis itu sudah menduga jika gaun cantik itu akan di pakai oleh Sakura di acara nanti malam. Entah kenapa hatinya tiba-tiba saja merasakan kembali perasaan iri.

Bukankah ia juga adalah seorang Tuan Putri? Tapi, kenapa Sakura yang menjadi Ratu. Kenapa Sakura yang harus berada di dalam hati Pangeran Gaara. Kenapa tidak dia saja?

Ino menyentuh pelan gaun cantik itu dan ketika ada sebuah suara langkah kaki orang yang mendekati kamar Sakura, gadis itu langsung membuka jendela dan terbang keluar. Gadis itu tidak pergi tapi hanya bersembunyi di balik jendela.

"Hey! Kau sudah dengar kalau Putri Sakura akan dinikahkan dengan Pangeran Gaara?" tanya salah seorang pelayan yang sedang mengambil beberapa riasan wajah di meja rias Sakura.

"Tentu saja. Bukankah ini kabar yang bagus?"

"Benar. Yang tidak aku habis pikir, kenapa harus ada dua orang Putri di kerajaan ini. Kenapa Ratu memberikan mahkota putri pada gadis pungut itu."

"Sssshhh!" Pelayan yang satunya mengisyaratkan pada pelayan yang satunya agar mengecilkan suaranya.

"Gadis … pungut? Jadi, aku … " batin Ino.

"Kau jangan bicarakan hal itu. Bukankah Ratu sudah memerintahkan kita untuk tutup mulut soal ini. Kejadian berdarah 15 tahun lalu itu sudah dikubur dan dilupakan oleh semua orang."

"Tapi 'kan, memang benar apa yang kukatakan. Jika gadis bernama Ino itu hanyalah seseorang yang ditemukan oleh Ratu pada korban perang dan kemudian diangkat menjadi Putri."

"Panggil dia Putri Ino, Matsuri."

"Iya, iya."

"Baiklah. Aku akan menceritakannya secara singkat saja. Sebenarnya sewaktu Putri Sakura berumur 2 tahun, Ratu sedang mengandung anak kedua. Tapi, calon adik Sakura itu meninggal karena perbuatan seorang Iblis yang dendam pada Ratu."

"B-benarkah?"

"Tentu saja. Nah, kebetulan sekali, saat Ratu kehilangan anaknya, peristiwa berdarah itu terjadi. Ratu menemukan seorang gadis kecil yang sedang bersembunyi di dalam Hutan Peri. Akhirnya Ratu membawa anak itu ke kerajan kita lalu mengangkatnya sebagai putri. Alasannya adalah semua itu dilakukannya untuk Putri Sakura. Agar Putri bisa mendapatkan teman sepermainannya selain Pangeran Gaara dan pelindungnya. Kau tahu 'kan jika Putri Sakura itu mempunyai kekuatan istimewa yang mungkin membuat para Iblis merasa terancam keberadaannya. Dan kau juga pasti tahu jika Putri Sakura itu tidak diperbolehkan untuk meninggalkan Istana barang sedetik saja. Ratu khawatir jika Putri Sakura akan dicelakai. Mengerti?"

"Iya. Jika seperti itu kasihan juga Putri Ino. Tapi, tetap saja aku tidak suka jika dia dekat-dekat dengan Pangeran. Putri Ino itu menurutku sombong, dia itu kadang memerintahkan Putri Sakura ini-itu hanya untuk kebutuhan pribadinya saja. Harusnya 'kan dia yang melakukan hal itu untuk Putri Sakura. Karena dia hanyalah seorang pelayan bagiku untuk Putri."

"Aku juga sering mendengar Sakura menangis karena gaun kesayangannya rusak saat Putri Ino meminjamnya. Hey! Kupikir juga, Putri Ino itu tidak tahu cara berterima kasih. Dia tidak pantas menjadi Tuan Putri. Dia itu seperti Ib—"

Braakkk!

Jendela kamar itu terbuka lebar dengan sosok Ino yang terbang di luar sana. Kedua pelayan itu membulatkan kedua mata mereka karena shock dengan apa yang dilihat oleh kedua mata mereka.

Sosok Ino bukanlah seperti yang mereka lihat biasanya. Kedua sayap gadis itu sudah berubah menjadi warna hitam pekat, dan gaun yang dipakainya berubah dari berwarna putih bersih menjadi merah menyala. Kalungnya pun berubah warna menjadi hitam kelam.

Bibirnya yang berwarna merah nampak tersenyum janggal. Sorot matanya terlihat sangat tajam dan berbahaya. Di tangan kanannya tergenggam sebuah pedang bermata tiga yang ujungnya mengkilat tajam.

"Ib-iblis—Pu-putri Ino?"

"Para pelayan busuk. Pergi saja kalian ke neraka," ucap Ino dan langsung—sreett!—menebas kepala kedua pelayan itu.

Darah bercipratan kemana-mana, mengotori lantai, dinding dan gaun cantik Sakura. Ino tertawa ganjil melihat tubuh kaku yang terbaring dilantai itu. Ia mengangkat gaun Sakura lalu merobeknya, menghancurkannya.

"Iblis terkutuk, bagaimana bisa kau masuk ke tempat ini?" tanya seseorang yang berdiri kaku di ambang pintu. Kedua mata jade-nya menatap tajam punggung Ino. Pemuda itu tak sadar jika orang yang dipanggil iblis itu adalah orang yang sangat dikenalnya. Lebih tepatnya orang yang dulu pernah menghabiskan waktu bersamanya dengan Sakura untuk bermain.

"Pangeran … "

Gaara membulatkan kedua matanya karena terkejut dengan cara bicara iblis yang memunggunginya tersebut. "Su-suara ini—Ino?"

Ino langsung membalikkan badannya dan tersenyum kecil. "Senang mendengarnya karena kau masih ingat dengan suaraku, Pangeran."

"T-tidak mungkin … kau—"

"Terkejut? HAHAHAHAH!"

"Apa yang terjadi?" tanya Gaara tak percaya.

Ino menaruh jari telunjuknya di atas dagu dan mengerlingkan matanya pada jendela. "Mmm … kau tanyakan saja pada Sakura. Lagi pula dia yang sudah merubahku jadi seperti ini," ucapnya dan secepat kilat terbang keluar melalui jendela yang terbuka lebar.

Gaara langsung mengeluarkan kedua sayapnya dan terbang mengikuti Ino. Di dalam hati, pemuda itu sudah tahu kemana tujuan Ino pergi. Kemana lagi jika bukan untuk menemui Sakura.

Gadis itu menengokkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Beberapa kali ia juga menengokkan kepalanya ke belakang untuk melihat apakah ada orang yang sedang mengikutinya apa tidak. Kedua mata emerald-nya dengan jeli mencari sebuah benda yang sedang gadis itu cari di tengah rerumputan hijau yang begitu luas.

Bibir mungilnya yang berwarna merah muda nampak beberapa kali bergumam sesuatu seperti, "Dimana kau?" atau "Cepatlah!" berulang kali. Gadis itu akhirnya menghela napas lelah dan langsung mendudukan dirinya dengan kasar di atas rerumputan tebal itu.

Gaun yang gadis itu kenakan nampak terlihat bersatu dengan warna rerumputan karena sama-sama berwarna hijau muda. Rambut panjang dan sangat cantik berwarna merah muda milik gadis itu nampak menjuntai lurus dibelakang punggungnya.

Batu emerald pada mahkota kecilnya nampak berkilauan karena tertimpa cahaya matahari. Begitu pun dengan kulitnya yang seputih susu.

Srak! Srak!

Gadis itu langsung bangkit berdiri dan menatap takut apa yang akan keluar dari balik semak-semak itu. Ia langsung saja teringat jika di Hutan Peri—tempat di mana ia kini—terdapat tumbuhan hidup yang memakan siapa saja mangsa yang terjerat dalam jebakannya. Gadis itu ingin segera terbang tapi entah kenapa sayapnya tidak bisa keluar jika ia dalam keadaan panik seperti sekarang ini.

Srak! Srak!

Dan dari balik-balik semak itu keluar seorang gadis berambut keemasan dengan senyuman manis di bibirnya. "Kau sedang apa di sini, Sakura?" tanyanya dan berjalan mendekat.

Gadis yang bernama Sakura itu langsung mengelus dada lega. "Ino … kau membuatku terkejut," jawabnya dan kembali menjatuhkan tubuhnya untuk duduk.

"Kuucapkan selamat untukmu?"

"Eh?"

"Aku sudah tahu mengenai pesta nanti malam."

Sakura membulatkan kedua matanya karena terkejut. "Ah! Maaf. Maaf. Aku lupa memberitahukannya padamu, Ino. Kau tidak marahkan?"

Ino menggelengkan kepalanya pelan dan ikut duduk di hadapan Sakura. "Kau mencintainya?"

"Hah?"

"Pangeran. Kau mencintainya?"

Sakura mengalihkan wajahnya ke samping dengan semburat merah tipis di pipinya. "Mungkin. Tapi aku sedikit tidak setuju karena menurutku upacara penobatanku sebagai Ratu terlalu cepat. Aku belum siap."

"Berikan saja padaku."

"Apa?"

"Tahta Ratu berikan saja padaku dan juga aku akan menggantikanmu untuk menikah dengan Pangeran. Kau mau 'kan? Kita adalah sahabat," ucap Ino dan tersenyum ganjil.

Sakura sekali lagi dibuat terkejut atas pertanyaan Ino. Kedua alis Sakura nampak berkedut karena merasa ada keanehan pada sahabatnya itu. Dan pada saat itu juga angin berhembus dan menerbangkan poni depan Ino. Dan sebuah tanda bulan sabit berwarna hitam menghiasi dahi sahabatnya itu membuat Sakura langsung bangkit berdiri.

"Kau siapa? Mana Ino? Kau apakah sahabatku, Iblis jahat!" cerca Sakura dan menatap tajam sosok gadis cantik di hadapannya.

"Aku … Ino. Ino sekarang ada di hadapanmu. Ino adalah sahabat baikmu. Benar 'kan, Sa-ku-ra?" jawab Ino yang juga bangkit berdiri.

"Kau bukan Ino. Kau adalah iblis, tanda bulan sabit itu buktinya."

Ino mengusap pelan dahinya dan setelah itu melepaskan mahkota kecil di atas kepalanya itu. Ia melemparkan mahkota cantik itu ke tanah dengan jengkel. "Aku tidak butuh mahkota ini lagi."

"Mahkota itu—ti-tidak mungkin. Kau … "

"Hhhhh. Kau jahat sekali tak mengenali sahabatmu sendiri," ucap Ino dan berjalan mendekati Sakura.

Sakura mundur beberapa langkah. "Kenapa? Apa yang terjadi? Ino, kau … "

"Ah! Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Bagaimana jika kau serahkan posisi Ratu itu padaku dan Pangeran juga. Kau mau 'kan?"

Sakura menggelengkan kepalanya pelan. "Ini pasti mimpi."

"HAHAHAHAHHAHA! Mimpi kau bilang? Kau itu lucu sekali, Sakura. HAHAHAHAH!" Ino tertawa dengan keras dan hal itu membuat Sakura takut.

Riak-riak air mata sudah mulai kedua mata emerald itu perlihatkan. Dan hanya tinggal menunggu waktu saja untuk butiran air mata itu jatuh dan membasahi kedua pipinya. "Ino … " ucapnya lirih.

Zrettt!

Ino mengeluarkan kedua sayapnya yang besar berwarna hitam. Dan ketiga kalinya membuat Sakura terkejut. Tak hanya itu, Ino mengeluarkan sebuah pedang dan dengan gerakan cepat melancarkan serangannya pada Sakura.

Mungkin karena gerak refleks, Sakura menghindar dan menunduk. Tapi—sraakk!—rambutnya yang panjang sampai semata kaki terpotong hingga sampai sepunggung saja.

"HAHAHAHHA! Maafkan aku karena sudah memotong rambut cantikmu, teman," ucap Ino.

"Ino … "

"Kuberitahu satu hal padamu, Sakura," ucap Ino dan berdiri membelakangi Sakura. "Sahabatmu itu sudah mati. Kau sendirilah yang membunuhnya."

"A—apa?"

"Benar. Sahabatmu mati terbunuh oleh rasa bencinya terhadapmu. Kau pembunuh."

"Aku—itu tidak benar. Ino sayang padaku. Ino tak mungkin membenciku. Ino adalah seorang malaikat dan Putri di kerajaan ini. Ino adalah seorang kakak bagiku," ucap Sakura dengan terisak menangis.

"DIAAAAAMMM!" teriak Ino dan menatap benci Sakura. "Aku tidak sayang padamu. Aku membencimu. Aku bukanlah seorang malaikat tapi iblis dan aku bukanlah Putri di kerajaan busuk ini. Dan aku bukanlah kakakmu."

"TIDAK!" bantah Sakura keras.

"ITU BENAR. Hatiku sudah dikuasi sepenuhnya oleh rasa benci dan iri. Dan semua itu karena kau. Kau yang sudah mengubahku menjadi seperti ini. TAK ADA jalan kembali untukku. AKU MEMBENCIMU!" teriak Ino dan terbang cepat menuju Sakura dengan mengunuskan pedangnya pada Sakura.

Secepat kilat Gaara menggendong Sakura dan membawanya terbang ke atas. Dan perbuatannya itu membuat rasa benci kembali bertambah di hati Ino. "Aku akan kembali untuk membunuhmu Sakura. Kau dengar itu!" ucapnya dan langsung menghilang setelah gumpalan asap hitam mengepung tubuhnya.

"Sakura, kau tidak apa-apa?"

"Apa yang harus kulakukan? Apa sebaiknya aku pergi saja dari tempat ini? Datang ke bumi?" batin Sakura.

Perlahan tubuh iblis itu jatuh melawan gravitasi. Ino memandang wajah Sakura dengan sebuah senyuman manis di bibirnya. Sorot mata gadis itu tak lagi menunjukan rasa ingin membunuh. Raut wajah gadis itu menyiratkan sebuah penyesalan dan kesedihan. Terlintas kembali di dalam otaknya kenangan menyenangkan yang dialaminya bersama Sakura sewaktu kecil.

Andaikan waktu bisa di ulang kembali. Mungkin hari ini ia tak mungkin berada di tempat ini (bumi). Andaikan waktu bisa di putar ulang mundur, ia mungkin akan menyaksikan upacara penobatan itu dengan hati yang bersih dan suci.

Kenapa?

Kenapa harus sekarang ia merasa jika dirinyalah yang menghinati sahabatnya bukannya Sakura seperti apa pemikirannya?

Sakura adalah gadis yang baik dan penyayang. Sedangkan dirinya hanyalah seorang gadis biasa yang sangat beruntung bisa merasakan bagaimana menjadi dan diperlakukan seperti Tuan Putri. Makan makanan mewah dan lezat. Memakai gaun yang cantik dan indah setiap hari. Mendapatkan tempat dan perlakuan yang istimewa.

Benar apa kata seorang pelayan yang sudah ia bunuh 10 tahun yang lalu. Jika ia adalah orang yang tidak tahu berterima kasih. Kacang lupa kulitnya. Mungkin itu pribahasa yang pantas ia sandang sekarang.

Kini ia mengaku. Jika ia pada awalnya bukanlah seorang malaikat berhati suci dan baik. Tapi sebenarnya ia adalah seorang Iblis berhati kotor dan jahat yang memakai topeng wajah seorang malaikat.

Andaikan … rasa benci itu tak pernah ia rasakan.

Andaikan … rasa iri itu tak pernah ia rasakan.

Mungkin …

Mungkin ia bisa bahagia bersama sahabatnya selamanya.

"Maafkan aku … Sakura," ucap Ino pelan dan kemudian menutup kedua matanya.

Tubuhnya perlahan menghilang menjadi debu hitam dan di bawa terbang oleh angin ke tempat antah-berantah.

Tsuzuku

Balas review dulu!

Chery tomato : Oke... Q usahaain ga sad ending. Jangan sampai ga bca ya chap terakhir nanti.^^

Dewa Jashin : Hahahaha... gomen. Tapi, makasih ya udah mau nungguin sekian lamanya. Wah, bagus? Ga mengecewakan? Lega dengernya. Seneng juga. Oke. Tinggal satu chapter lg nih. Baca, ya!

Yuki Chynta : Tentu. Ini dh q upate. Review?

Cherry Blossoms : Hy jga^^. Thank You. Iya, semoha z. Sasori ga mati kok, mungkin lg sekarat z dy. Hahaha. Oh? Request fic? Stlh fic ini tamat, q bakal publish fic baru. GaaSaku dan juga SasoSaku. Moga suka ya nanti^^. Review?

Cherry : Ehehehhee... Maaf. Q memang suka lama untuk update fic. Tapi, makasih loh dah mau baca lg. Omong-omong tinggal satu chapter lagi nih. Baca, ya!

Angle Dark : Iyaaaaaa~ nie dah di update. Mksh buat pujiannya. Review?

: Mksh buat pujian dan semangatnya.^^

NdyCeulceul : Mksh. Hehehehhe... Review?

Princess'Nadeshiko : Diliat dr pen name-nya, kyknya km suka Shugo Chara ya? Klu iya, sama^^. Ga pa2. Oh, tentu boleh, sangat. Review?

Garoo : Oke. Ini cukup? Review lg ya!^^

Minato Arisato : Salam kenal juga^^. Nie dh di update. Review?

DarkRed : Oke. Nie dh dilanjutin. Wanna Review Again?

Hhs Ree chan : Ouh. Thank You^^. Glad to hear that. So, If you don't mind, wanna review again?

Hotaru no Hikari AnimeLovers : No problem^^. Aiiishhh~Lulu-chan, mksh udh mau review fic gaje-ku. Review lg ya! Heheheh^^

Dan terakhir mksh untuk "Anggraini" yg udh mau mem-fav fic-ku^^.

Oh, ya, Gimana kabarnya semua?

Alhamdulilah kesehatanku membaik dan pada akhirnya bisa meng-update fic ini.

Maaf jika ada yang meminta update cepet karena q ga bisa Menuhin permintaan kalian.

Di sini q jelasin dikit kenapa bisa Karin ada tiba-tiba pada saat pertarungan Ino dan Gaara.
Mohon maaf juga jika terasa aneh.

:/

The next chapter is probably the last chapter.

Jujur, aku takut jika akhir cerita yang aku buat ini tidak sesuai dengan apa yang pembaca inginkan. Aku takut mengecewakan kalian semua.

But, I would try my best to make a good ending^^

And I want to thank all of you who have supported me this far. Without you I would not be possible to finish this story. Furthermore, keep supporting me.

Ok. See you in the last chapter.^^

.

.

.

.

.

Bye:*