This story was a fiction, based on my own imagination, actually written in due my writer's block of continuing my other fics.

I'm translating this from "Little Star", my english fic from long time ago

Well, this is the second chapter, you can enjoy~


Disclaimer: Hunter x Hunter and all of its characters respectively belongs to Yoshihiro Togashi sensei

Genre: Friendship, Family, Angst, Hurt/Comfort, Fluff, Adventure, etc

Rate: T, well, just for safety even this chapter could also be read by younger children

Pairing(s): no pairing in this chapter, may changed in later chapters

Warning: OOC-ness, Typo(s), perhaps, Gloomy Scenery, Canon, weird plotting, etc

Do not flame me about the stuff I've mentioned, cause you've been warned

I accept no silent reader, you read, you review.


Bintang Kecil

-Chapter 2: Koneksi-

H. Kaoru

2012


Agaknya membosankan bagi seorang Mocha untuk menunggu lama hanya dengan Shalnark sebagai satu-satunya orang yang ia kenal, karena sejak tadi ia belum menemukan satu topik pun yang bisa membuat Shalnark menanggapinya dengan serius, sembari menunggu peserta yang lain tentunya.

"Hn, Shal-", Mocha memulai topik kesekian yang ia ajukan,

"Ya?", sahut Shalnark singkat, namun ini masih belum sampai pada topiknya,

"Menurutku, lima tahun terakhir ini kau terlihat muram..kenapa?", tanya bocah itu lagi, rasa ingin tahu yang besar terlihat di kedua bola mata birunya,

"He-eh, kenapa kau bisa menyimpulkan seperti itu, Mocha?", tanya Shalnark seakan ia tersentak mendengar pertanyaan Mocha barusan, ia memang sering mendengar kalau anak ini agak luar biasa, tapi baru kali ini ia merasakannya sendiri,

"Hn..kau tahu, ketepatan intuisiku kan 1% diatas Machi, yaaah, bisa dibilang aku merasakannya, hehe", kata Mocha setengah bercanda, meskipun itu tidak benar-benar bercanda, dan ia mengatakannya dengan nada bangga, membuat Shalnark mengangkat sebelah alisnya dan memasang wajah bingung,

"Hehe, kau benar, sepertinya aku tidak bisa berbohong padamu, seperti yang kulakukan pada yang lainnya", katanya pasrah, yang kemudian mendapatkan anggukan setuju dari Mocha, Shalnark menghela nafas pelan,

"5 tahun ya?...jadi..sudah 5 tahun berlalu sejak kepergian..nya", lirih pemuda berambut pirang pasir itu, yang kemudian membuat Mocha merasa tidak enak dan bersalah,

"Maaf Shal..aku membuatmu mengingat hal yang tidak menyenangkan ya..?", ujarnya penuh penyesalan, melihat reaksi Mocha, Shalnark malah melemparkan senyum tipis,

"Sudahlah, tidak apa-apa, lagipula...sudah lama sekali sejak terakhir aku bisa bicara tentang...dia", ujar pemuda itu dengan nada meyakinkan, Mocha merasa penasaran dengan kalimat-kalimat yang ditekankan oleh pemuda itu,

Sepertinya Shalnark sedih sekali setiap mengatakan..dia, -nya, apa itu...orang yang sangat berarti untuknya?, tanya Mocha dalam hati, mencoba mencari tahu soal 'dia' yang penyebutannya selalu ditekankan dengan lirih oleh Shalnark,

"Hn..ada apa dengan wajahmu, Mocha? Jangan-jangan kau mengira kalau 'dia' yang kumaksud itu..pacarku ya?", tanya Shalnark tiba-tiba, Mocha agak tersentak mendengarnya, sebab itu benar, tapi..kalau mendengar dari nada bicara Shalnark barusan, berarti bukan, tapi, yang bisa Mocha lakukan hanya mengangguk pelan, dan Shalnark tertawa dibuatnya,

"Hahaha, bukan kok, 'dia' itu sepupuku, yang meninggal 5 tahun yang lalu", ujar pemuda itu, Mocha tersenyum mendengarnya, menutupi rasa malu karena sudah salah menduga,

"Tapi, kau tahu, Mocha?", tiba-tiba Shalnark berkata lagi dengan nada lirih, Mocha sampai terdiam mendengarnya, ia dapat merasakan atmosfernya berubah sendu lagi,

"Hn?", ia berusaha merespon singkat,

"Aku...tidak sempat memberinya ucapan selamat tinggal yang baik, padahal, dia sudah seperti kakakku sendiri, bahkan, dia lebih seperti ibu bagiku ketimbang ibuku sendiri, dan tahukah kau apa yang kurasakan pada waktu itu, hanya penyesalan", Shalnark berujar pilu, nada suaranya menggambarkan kesedihan yang begitu mendalam, dan penyesalan yang amat besar,

"Hm, aku juga akan merasa demikian, jika sesuatu terjadi pada kakak saat ia sedang tidak bersamaku", Mocha berkata dengan nada sendu, meski niatnya adalah untuk menghibur pemuda itu, yang untungnya berhasil, karena kemudian Shalnark tersenyum padanya,

"Hanya sampai situ yang bisa aku ceritakan padamu, dan..jangan biarkan yang lainnya tahu ya", ujar Shalnark pelan pada Mocha, yang hanya direspon oleh anak itu dengan anggukan.


Saat ujian dilangsungkan, Shalnark dapat merasakan keberadaan anggota Genei Ryodan lainnya, dan itu segera mendapatkan kepastian saat ia melihat Hisoka, si joker, berada dalam jarak pandangnya dan menggunakan gestur bangga seakan ia tahu Shalnark sedang melihat kearahnya, dan ia pun menyapa Shalnark tanpa suara, membuat pemuda itu merasa tidak nyaman, ditambah ketika ia menoleh kearah lain, dimana Mocha seharusnya berada, ia tidak menemukan anak itu,

Ya Tuhan, Danchou akan membunuhku jika dia tahu aku kehilangan jejak Mocha dan ia kembali dengan luka-luka ditubuhnya, pikir Shalnark dalam hati, ia terlihat cemas dan panik.

Sementara itu, anak yang dicarinya (baca: Mocha) justru menemukan teman baru, saat ia berkeliling sedikit, alias tertinggal oleh Shalnark (maklum, kecepatan lari Mocha setara dengan anak-anak pada umumnya, sangat lambat dibandingkan dengan kecepatan lari Shalnark yang notabene-nya anggota Laba-laba),

"Hai! Namaku Mocha, namamu siapa?", tanya Mocha pada seorang anak laki-laki berambut hitam spiky,

"Aku Gon, hm, kau datang darimana?", jawab anak itu ramah, Mocha pun memulai perkenalannya, tanpa menyadari bahwa ia sudah terpisah jauh dari Shalnark.


Pada ujian babak kedua, dimana pengujinya adalah Menchi dan Buhara, baik Shalnark maupun Hisoka merasa kalau mereka sedang meluluskan Mocha, demi memenuhi perintah Danchou mereka, pasalnya, Mocha tidak bisa memasak, jadi, mereka berdua-lah yang harus turun tangan membantunya.

Kemudian tibalah babak ketiga, dimana mereka harus melewati menara Trick, dan sekali lagi, Mocha tidak terlihat dimanapun dalam pandangan Shalnark maupun Hisoka.

Dan, sekali lagi juga, Mocha bergabung dengan Gon dan yang lainnya, (lupakan saja kalau ini harusnya posisi Tompa, karena dia sangat mengganggu) dan pada saat Kurapika harus berhadapan dengan Majitani, matanya menjadi merah, ketika ia melihat tato laba-laba dipunggung pria berwajah mengerikan itu, namun itu kemudian mengusik pikiran bocah bermata biru itu, membuatnya mengingat tentang sesuatu yang pernah ia tulis dalam buku catatannya yang berada di rumahnya di Ryuuseigai,

Sesuatu yang pernah dikoleksi oleh Kakak beberapa tahun yang lalu, tapi apa ya...?, ia bertanya-tanya dalam hati, kemudian berusaha mengingat hal tersebut sambil terus memperhatikan pertarungan antara Kurapika dan Majitani,

Huh, dasar imposter gagal, untung saja yang dihadapinya bukan kakak, hmmm...aku jadi penasaran, apa yang akan kakak lakukan jika dia bertemu dengan orang ini, selain itu, sepertinya orang ini sangat membenci Genei Ryodan, huh, sebaiknya aku tidak membiarkan dia tahu kalau aku ini..adik dari pimpinan Genei Ryodan, Mocha mengingatkan dirinya sendiri.

Kemudian ia pun menampakkan wajah polosnya dan bertanya 'Ada apa ini', secara implisit, Gon, yang sepertinya tidak pandang bulu soal teman, pun menjawabnya,

"Genei Ryodan itu, kelompok yang telah membantai suku Kurapika, jadi, dia sangat marah pada mereka semua", ujarnya polos, Mocha hanya menggangguk dan menatap Gon dengan puppy eyes-nya,

"...Memangnya..Kurapika itu..suku apa..?", tanya pemuda kecil berambut hitam itu lagi, namun kali ini, Kurapika-lah yang menjawabnya, melalui gumaman pelan yang ia katakan tanpa sadar,

"Kuruta..", jawabnya sedih, Mocha pun semakin keras berusaha untuk mengingat tentang suku itu, suku yang terdengar cukup familiar di telinganya,

Ada sesuatu tentang suku itu..tapi apa ya..dan kenapa aku tidak bisa mengingatnya, hmm..mungkin aku harus bertanya pada Shalnark nanti kalau kami bertemu, pikirnya.


Ketika ujian hunter berakhir, Shalnark memutuskan untuk memulangkan Mocha pada kakaknya sebelum ia kembali ke tempatnya, namun yang terjadi benar-benar diluar dugaanya,

"Shal, aku boleh tidak ikut ke tempatmu? Habis..Ryuuseigai benar-benar membosankan, aku sudah menghabiskan hampir seumur hidupku disana", keluh Mocha, yang membuat Shalnark merasakan kedatangan nasib buruk lainnya, bersama anak itu,

"Yah, tapi sebaiknya kita meminta izin kakakmu dulu, aku tidak ingin dia mengira aku mempengaruhi atau menculikmu", katanya dengan nada yang terdengar seperti orang yang merasa terancam, membuat Mocha mengandaikan apa yang telah diperbuat oleh kakaknya sampai orang seperti Shalnark bisa merasa terancam seperti ini.

Saat akhirnya mereka bertemu dengan Kuroro sendiri, Mocha mulai bercerita tentang semua hal, termasuk pertemuannya dengan teman-teman barunya, yang membuat ia teringat akan pertemuannya dengan seseorang dari Suku Kuruta, namun ia memutuskan untuk membicarakan hal ini dengan kakaknya secara pribadi,

"Kak, aku bertemu dengan salah satu survivor Suku Kuruta, dan sepertinya dia menuntut balas, pada Genei Ryodan", ujar Mocha sambil menirukan logat dan cara bicara orang itu (dalam hal ini Kurapika), yang entah mengapa menimbulkan kesan ada-yang-tidak-beres saat ia menoleh pada sang kakak yang pandangannya terlihat menyapu lantai dengan tatapan yang bisa-dibilang-sedih-jika-orang-itu-bukan-dia terlihat di kedua mata hitamnya yang gelap, membuat ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri,

Ada apa dengan pembicaraan tentang Suku Kuruta yang membuatnya jadi begini, pikir anak itu,

"Ah Kakak, aku boleh tidak, pergi bersama Shal ke kota asalnya?", tanya Mocha tak lama kemudian, yang lantas membuat Kuroro terkesiap,

"Hn..baiklah, kurasa tidak ada salahnya kau pergi kesana, lagipula aku juga pernah berkunjung ketempat itu, dan..suasananya cukup aman untukmu", katanya datar, namun mampu membuat Mocha tersenyum senang,

"Dan untukmu, Shalnark, sekali lagi aku memberimu tugas untuk menjaga Mocha, karena aku tidak mungkin berada disana dalam waktu dekat ini", Kuroro berkata kepada Shalnark dengan nada perintah mutlak, Shalnark hanya mengangguk pelan,

"Baiklah, Danchou", jawabnya singkat, sebelum ia menoleh pada Mocha yang matanya sudah dipenuhi dengan antusiasme soal kepergiannya ke kota asal Shalnark,

"Ayo pergi", ujarnya, dan dengan itu, keduanya pun pergi, meninggalkan Kuroro seorang diri didalam rumahnya,

"Kau tahu...seandainya saja hari itu tidak ada, kau pasti akan menemaniku, disini", bisiknya pada udara hampa sambil merebahkan diri diatas sofa miliknya.


A/N: gyaaaa! second chappy! yeaaay~

I know, this chappy sounds shorter than the last one, but I hope it won't disappointed you all...

don't forget to review!