This story was a fiction, based on my own imagination, actually written in due my writer's block of continuing my other fics.

I'm translating this from "Little Star", my english fic from long time ago

Well, this is the third chapter, you can enjoy~


Disclaimer: Hunter x Hunter and all of its characters respectively belongs to Yoshihiro Togashi sensei

Genre: Friendship, Family, Angst, Hurt/Comfort, Fluff, Adventure, etc

Rate: T, well, just for safety even this chapter could also be read by younger children

Pairing(s): no pairing in this chapter, may changed in later chapters

Warning: OOC-ness, Typo(s), perhaps, Gloomy Scenery, Canon, Weird Plotting, Stupid things, Google-able items, etc

Do not flame me about the stuff I've mentioned, cause you've been warned

I accept no silent reader, you read, you review.


Bintang Kecil

-Chapter 3: Akademi Stargate-

H. Kaoru

2012


"Hei Shal, liburan nanti aku ingin ke tempat nenek, kau ikut ya?", ajak gadis kecil itu dengan senyum terukir diwajahnya, ia menggenggam tangan anak laki-laki itu, hendak menyeretnya,

"Tidak bisa Kakak, aku kan sudah mengatakannya", sahut bocah lelaki itu sambil mencoba menarik tangannya lagi, meski masih gagal,

"Ayolah...kalau kau tidak ikut, aku bisa mati kebosanan, lagipula-", jawab gadis kecil itu, ia mengerutkan bibirnya,

"Di Rukusu kan hanya aku dan kau yang orang luar, kalau kau tidak ikut, siapa yang akan menemaniku?", bujuknya sambil melemparkan apa yang disebut sebagai 'airmata buaya', agar yang dibujuk merasa bersalah,

"Kak, aku janji akan ikut, tapi lain kali ya?", balas pemuda kecil itu, ia mendekat pada gadis kecil itu, namun sang gadis kecil hanya menatapnya dengan wajah cemberut dan mata bulat yang berkaca-kaca,

"Kenapaaa...?", tanyanya sendu,

"Karena..aku sudah ada janji..", jawab anak itu pasrah, mata bulat gadis itu semakin membesar karena terkejut,

"Janji? Jangan bilang kalau kau sudah membuat janji dengan dia lagi?", protes gadis kecil itu, ia terlihat kesal,

"Hehe..iya, dia..maaf ya Kak", jawab pemuda kecil itu, dengan nada yang menunjukkan kesungguhannya meminta maaf, gadis itu lalu menghela nafas dan melepaskan genggamannya, beberapa detik berlalu dan iapun mendekap bocah itu,

"Baiklah, apa boleh buat tapi...aku pasti merindukanmu, karena kau sudah seperti adikku sendiri", katanya lirih, bocah itu lalu membalas dekapannya erat,

"Ya, aku juga, Kakak", jawab bocah itu, kala itu, ia tidak tahu bahwa itu adalah kali terakhir ia bisa bertemu dengan gadis kecil itu, sepupunya yang lebih seperti kakak baginya, dan sekarang, setelah dia tidak ada lagi, yang tersisa hanya penyesalan, seandainya dia tahu, dia pasti akan ikut, tapi..itu hanya seandainya...


Shalnark terbangun dari tidurnya yang sebentar dan kenangan akan masa lalunya, ia menghela nafas dan melirik pada seorang anak yang terlelap lebih dalam disampingnya, Mocha, lalu senyum tipis menghiasi wajahnya,

"Aku pasti akan melindungimu, Mocha, aku tidak ingin Danchou merasakan hal yang sama untuk kedua kalinya..", ia bergumam pelan.

Saat mereka mencapai bandara, keduanya menghirup udara Kota Stargate, yang merupakan hal baru bagi Mocha, dan kenangan indah namun pahit bagi Shalnark,

"Dengar, kali ini jangan sampai kita terpisah lagi, karena kau belum mengenal kota ini", ujar Shalnark, dengan nada serius, jika dia tidak lupa memberikan penekanannya,

"Aye aye Kapten", balas Mocha sambil menirukan gestur kru kapal pada kaptennya, gerakan hormat.

Mereka pun lalu memanggil taksi untuk melanjutkan perjalanan menuju kediaman keluarga Shalnark, dan tidak butuh waktu lama untuk mencapai rumah tersebut.

"Aku sudah memberitahu mereka kalau kita akan datang hari ini", ujar pemuda berambut pirang pasir itu,

"Mereka?", tanya Mocha penasaran,

"Ya, mereka, orangtuaku, aku kan masih 16 tahun, sepertinya wajar kalau aku masih tinggal dengan orangtuaku", tutur Shalnark dengan wajah heran,

"O-oh", jawab Mocha, menutupi rasa ragunya, ia sebenarnya kurang yakin kalau Shalnark masih tinggal dengan orangtuanya, tapi ia tidak ingin membuat keadaan menjadi awkward, sehingga ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan ini.

"Nah, kita sudah sampai", ujar Shalnark sambil membukakan pintu untuk Mocha, anak yang usianya setahun lebih muda dari Shalnark itu kemudian keluar dari mobil dan menatap rumah bergaya minimalis itu, terlihat simpel dan sederhana, namun tampak nyaman sekali,

"Ayo masuk", terdengar suara Shalnark menyadarkan Mocha dari lamunannya, iapun mengangkat kopornya dan berjalan menuju pintu rumah yang sudah dibuka oleh Shalnark itu,

"Oh ya, Mocha-", ujar Shalnark tiba-tiba, Mocha pun berbalik,

"Ya?", ia merespon singkat,

"Danchou memintaku untuk memasukkanmu ke sekolahku, kelas yang sama", sahut Shalnark, iapun bergegas kearah Mocha dan membantunya menaikkan kopor ke lantai atas, dimana kamar Mocha dan kamarnya berada.


Pagi pun menjelang, dan sinar mentari terlihat menembus celah dari jendela kamar kedua pemuda yang akan menghadapi hari sekolah mereka, di salah satu kamar yang ditempati oleh seorang pemuda berambut hitam, Mocha, terlihat sang penghuni sudah mandi dan tengah mempersiapkan semua yang ia butuhkan untuk hari pertama sekolahnya nanti, sementara dikamar yang satu lagi, tempat teman seperjalanan Mocha, Shalnark, tidur, terlihat sang pemilik kamar masih terduduk diatas kasurnya, sementara memorinya berputar sendiri dikepala pemiliknya.


"Shalnark, bangun!", seru seorang gadis kecil berambut pirang panjang,

"Nggghh..lima menit lagi, Kakak...", keluh bocah laki-laki itu dengan suara mengantuk sambil mengulet dan merapatkan selimutnya,

"Hu-uh! Baiklah, kuberi kau waktu dua menit untuk berjalan ke kamar mandi atau aku yang akan memandikanmu!", ia berseru lagi dengan suara lantang yang terdengar seperti ancaman,

"Kakak..aku masih mengantuuuk..", pintanya pada sang kakak sambil melemparkan 'puppy-eyes'nya, tapi gadis itu malah berbalik dan memunggunginya,

"Tatapan itu tidak akan berpengaruh kecuali aku menatap matamu secara langsung, kan?", ujarnya sambil berjalan menuju pintu,

"Aku akan menunggumu Shal", katanya sambil memegang gagang pintu dan berbalik untuk melempar senyum kearah anak itu, kemudian ia kembali menoleh kearah pintu dan berjalan keluar, meninggalkan anak itu dan gerutuannya,

"AKH! Kakak jahat!", teriaknya.


"Ah, sepertinya..aku merindukannya...", gumam Shalnark tanpa sadar, ia tersenyum lirih, mengenang kakak sepupunya yang telah tiada, kemudian ia tersadar saat mendengar suara pintu terbuka,

"Hei Shal, apa kau sudah bangun?", tanya Mocha pelan, seakan ia khawatir suaranya akan memecah keheningan yang ada,

"Ya, aku sudah bangun Mocha. Hn..apa yang membuatmu bangun sepagi ini?", tanya pemuda itu santai, Mocha pun masuk ke dalam kamar dan tersenyum malu,

"Sepertinya aku terlalu penasaran untuk melihat sekolah, apa itu salah?", tanya Mocha pelan sambil memposisikan dirinya untuk duduk ditepi tempat tidur Shalnark, pemuda itu lalu tersenyum simpul,

"Hehe, tidak masalah kok, lagipula aku bisa mengerti kenapa kau sangat senang, ini hari pertamamu kan?", katanya setengah tertawa,

"Kalau maksudmu adalah sekolah yang murid-muridnya tidak melihatku sebagai adik dari pimpinan Genei Ryodan, hingga mereka terlalu takut untuk berteman denganku, ya, kurasa kau benar", ujar Mocha dengan nada sedih, Shalnark lalu tersenyum sambil menepuk-nepuk kepala Mocha,

"Jangan khawatir Mocha, anak-anak di Akademi Stargate ini bukan anak-anak 'biasa', jadi..mereka menganggap kita seperti teman biasa saja, dan semuanya akan baik-baik saja, ya?", ujar pemuda itu, dengan nada yang terdengar berusaha meyakinkan bocah lelaki berambut hitam itu,

"O-oke..tapi..boleh aku bertanya satu hal?", ujar Mocha lagi, nadanya terdengar serius,

"Apa?", balas Shalnark santai, sementara Mocha berdehem satu kali sebelum mengungkapkan apa yang ia pikirkan,

"Seragamnya, begini?", keluh Mocha sambil memperlihatkan seragam sekolah yang melekat dengan sempurna di tubuh kecilnya, namun membuatnya terlihat seperti anak SD, kalau garis ditepi lengan bajunya dua, bukan empat,

"Kau ini bicara apa, Mocha? Seragamnya cocok kok, seharusnya kakakmu ada disini juga untuk melihatnya", ujar Shalnark sambil menahan tawa, yang terdengar berderai hebat ketika ia menyelesaikan kalimatnya, Mocha pun memasang wajah cemberutnya yang terlihat kekanakan,

"Berhenti mengejekku!", serunya kesal, sambil memasang wajah cemberut dan menaruh kedua tangannya di pinggangnya, bukannya berhenti, Shalnark malah tertawa lebih keras,

"Hahaha..maaf", katanya sambil tertawa,

"Dan kalau boleh, bisa kau beri aku waktu untuk bersiap-siap? Kita bisa terlambat nanti", lanjutnya sambil berusaha menghentikan tawanya, membuat Mocha memasang wajah sebal dan berbalik, lalu berjalan keluar kamar sambil menghentak-hentakkan kaki sebagai wujud kekesalannya, namun saat Mocha memunggunginya, Shalnark melihat ransel berbentuk Chocobo versi Chocobo Dungeon menempel dipunggungnya, membuatnya berhenti tertawa dan menaikkan sebelah alisnya, sorot matanya terlihat heran,

"Mereka kakak-adik kan? Kenapa mereka terlihat sangat berbeda, ya?", gumamnya pada dirinya sendiri.


Memasuki sekolah tersebut malah membuat Mocha merasa ganjil, ia belum pernah sekalipun datang sendirian kesekolah, tanpa sang kakak, dan sekarang, dengan hanya ditemani oleh Shalnark (yang menjadi teman sekelasnya) dan kakaknya tidak ada, ia sedikit merasa takut, dan menelan ludahnya sendiri untuk mengusir rasa cemas itu,

"Hei Shal, siapa anak ini?", tanya seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang pemimpin gang sekolah,

"Hei Rick, ini Mocha, adiknya kak Kuroro", papar pemuda itu ringan, tentu sambil berdiri diantara keduanya, ia tidak ingin ada apapun yang dapat mengancam keselamatan Mocha,

"Oh, pantas saja dia kelihatan familiar", sahut Ricky sambil mengulurkan tangannya pada Mocha,

"Hei, aku Ricky, ketua Oblivion, kelompok paling eksis satu sekolah, Shalnark juga bagian dari kami, bagaimana denganmu?", tanya pemuda itu, yang sebenarnya tidak begitu digubris oleh Mocha yang perhatiannya sedang tertuju pada sekumpulan gadis-gadis yang sedang bercanda ria di seberang sana, namun sebenarnya ia lebih terfokus pada seorang gadis berambut coklat yang sedang duduk sendirian disamping kumpulan gadis-gadis itu seolah ia mengucilkan diri, ya, seorang gadis yang rambutnya panjang sebahu dan jatuh menutupi wajahnya jika dilihat dari samping, ia sedang memegang sebuah buku tebal, dan terlihat aneh karena selain kukunya yang dipoles dengan warna hitam dan kulitnya yang pucat, ia kelihatan mengenakan seragam sekolahnya seperti apa yang seharusnya, berbeda dengan kumpulan gadis-gadis didekatnya yang mengenakan seragam pas badan dan rok yang sepertinya terlalu pendek,

"Mocha?", ujar Ricky yang sukses mengaburkan pemikiran Mocha yang kelewat dalam,

"Kau dengar tidak?", ia bertanya dengan nada gusar, sambil mengerutkan alisnya, Mocha pun menoleh padanya dan mengangguk sebelum berkata,

"Tentang bergabung dengan Oblivion? Kurasa boleh juga", ia berujar dengan nada santai, dan senyum lebar menghiasi wajah kekanakannya,

"Nah, itu baru namanya teman", jawab Ricky yang membuat Mocha tertawa kecil. Kelas dimulai tak lama setelahnya, Mocha yang baru masuk pun harus memperkenalkan diri, dan ia mampu melakukannya dengan baik, lalu semua berjalan seperti seharusnya sampai..bel istirahat berbunyi.

Ketika bel istirahat berbunyi, Mocha melihat The Princess (sekumpulan gadis-gadis cantik yang tadi dilihatnya, ia tahu namanya The Princess melalui pengarahan yang diberikan oleh Ricky) keluar bersama-sama dan berjalan menuju kantin dengan penuh canda ria, sementara gadis berambut coklat tadi pagi, yang menurut dugaannya, tidak termasuk dalam kelompok itu, terlihat cuek saat bel berbunyi, ia bahkan masih berkutat dengan bukunya sampai beberapa lama, sebelum akhirnya ia beranjak dari kursinya dan berjalan menuju arah lain seorang diri, Mocha yang penasaran pun kemudian bergegas membuntutinya.

Sementara itu, Oblivion dan Shalnark, terkejut saat mendapati Mocha tidak lagi bersama mereka, padahal, beberapa menit yang lalu ia masih duduk manis ditempatnya,

"Dimana si kecil Mocha?", tanya salah seorang anggota Oblivion, yang membuat Shalnark membuat catatan dalam benaknya,

Jangan pernah membiarkan Mocha hilang dari pengawasan, meskipun hanya satu detik, pikirnya.


Mocha membuntuti gadis itu, namun, karena ia memang tidak berpengalaman dalam membuntuti orang, ia sempat kehilangan jejaknya beberapa kali, sebelum akhirnya ia berpapasan dengan gadis itu ketika ia baru saja keluar dari perpustakaan,

"Hei, bisa kau menemaniku berkeliling?", tanya Mocha santai, tentu dengan mengeluarkan jurus puppy-eyes andalannya, namun gadis itu tidak bergeming,

"Kau menyuruhku?", tanyanya dingin dengan sedikit aksen jangan-dekati-aku dalam nada suaranya,

"Mmmm...tiidak, by the way, aku Mocha, kau?", jawab pemuda itu tenang, senyum hangat terukir diwajahnya,

"Illumina", jawabnya singkat dan datar, tidak sedikit pun nada ramah terdengar dari suaranya,

"Ok, kalau begitu, ayo kita pergi Lu!", ajak Mocha sambil menarik tangan gadis berambut coklat itu, gadis itu mengikuti tarikan Mocha yang tidak terasa seperti tarikan untuknya, namun ia menghela nafas pelan,

Dasar bocah, katanya dalam hati.

Keduanya pun berkeliling sekolah, dan Mocha selalu berhenti dibeberapa tempat untuk menanyakan 'tempat apa ini', disana-sini, namun Illumina bisa menjawabnya dengan tenang meski nadanya terdengar dingin dan malas menjelaskan,

"Hei, kudengar kau adiknya senior Lucilfer, apa itu benar?", tanya Illumina ketika mereka sedang berjalan santai seusai menjelajahi hampir satu bangunan sekolah,

"Ya, kau dengar darimana?", jawab Mocha setengah bertanya, gadis itu menghela nafas pelan,

"Yah, anggap saja aku punya kakak, dan kakakku adalah teman sekelas kakakmu, dan dia memberitahuku", jawab Illumina tenang,

"Oh, apa kau berminat melihat taman kanak-kanak kakakmu dulu?", tanya gadis itu cepat, sepertinya iya sedang ingin bicara kali ini, meskipun nada suaranya belum terdengar cukup ramah,

"Ya, sepertinya menyenangkan", jawab Mocha antusias, ia terdengar senang,

Lagipula, aku hanya penasaran dengan masa tk-nya kakak, apa salahnya?, ia menambahkan dalam hati, sambil mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh gadis punk yang rapi ini.

"Ini adalah tempat kami tk dulu, tapi, karena tk yang sekarang pindah ke gedung baru, tempat ini dijadikan semacam museum untuk kami...berkilas balik pada masa kecil kami yang berkilauan", terang gadis itu dengan nada yang terdengar jauh lebih lembut ketimbang diawal tadi,

Masa kecil yang berkilauan?, pikir Mocha heran karena dari semua orang yang ada di dunia, kenapa harus seorang gadis tomboy yang berdandan punk ini yang mengatakan hal-hal melankolis semacam itu, yang menurutnya terlalu irasional, tidak masuk akal, atau mungkin..seperti inilah apa yang dimaksud Shalnark dengan 'orang-orang yang tidak biasa' yang berada di Stargate, gadis punk ini hanya salah satu contoh yang paling ekstrem, karena ia berpenampilan seperti anak jalanan tapi berkata-kata seperti dosen atau pembicara-pembicara di talkshow, sungguh mengherankan.

Sementara Mocha sedang sibuk dengan pemikirannya tentang gadis itu, keduanya pun sampai di tempat yang disebut "Museum Taman Kanak-kanak Stargate".

"Hei Mocha, mau melihat sesuatu yang menarik?", tanya gadis itu membuyarkan pikiran pemuda berambut hitam itu,

"Apa?", tanya Mocha singkat, Illumina hanya berdecak dan memutar bola matanya dengan malas, lalu ia berjalan mendekat kearah Mocha dengan sebuah foto berpigura kecil ditangannya, didalam foto itu terlihat dua orang yang sangat familiar bagi Mocha, kakaknya, dan seorang gadis kecil berambut pirang panjang, sedang berangkulan dan tersenyum gembira dalam foto itu, mereka terlihat sangat dekat,

"Ini...", katanya dengan nada penasaran terdengar dalam suaranya.


A/N: wheeew...it's finally reached up to chapter 3..

well, this chapter sounds longer than the two before, since it has a lot to tell,

oh, and, about Chocobo Dungeon, I suggest you to search it on google images if you have no idea of what it looks like..

but about Stargate Academy's uniform, you can asked me..through reviews or PM..

either way, don't forget to review...