This story was a fiction, based on my own imagination, actually written in due my writer's block of continuing my other fics.

I'm translating this from "Little Star", my english fic from long time ago.

And I'm presenting this forth chapter just for you all, my Indonesian readers yeeeaaayy!


Disclaimer: Hunter x Hunter and all of its characters respectively belongs to Yoshihiro Togashi sensei

Genre: Friendship, Family, Angst, Hurt/Comfort, Fluff, Adventure, etc

Rate: T, well, just for safety even this chapter could also be read by younger children

Pairing(s): no pairing in this chapter, may changed in later chapters

Warning: OOC-ness, Typo(s), perhaps, Gloomy Scenery, Canon, weird plotting, etc

Do not flame me about the stuff I've mentioned, cause you've been warned

I accept no silent reader, you read, you review.


Bintang Kecil

Chapter 4: Serpihan dari Bagian

H. Kaoru

2012


Mocha tidak bisa mempercayai matanya saat melihat foto yang ditunjukkan oleh Illumina beberapa saat sebelumnya, ia bahkan hampir terkena serangan jantung, yang untungnya tidak, tapi tetap saja, ia terkejut sampai asmanya kambuh,

"Aku...tidak bisa..ber..nafas..", ujar Mocha terbata-bata karena ia kesulitan bernafas, Illumina hanya menatapnya dingin, dan menaikkan sebelah alisnya,

"...A-ah..aku..melupakan..inhaler..ku..", sambung pemuda itu, Illumina pun mengernyitkan alisnya dengan wajah heran, siapa yang menyangka bahwa seorang anak yang memiliki asma tidak membawa inhaler-nya , itu sungguh fakta yang mengejutkan bagi gadis tomboy ini, ia pun menghela nafas berat, lalu merogoh kedalam tas berukuran kecil yang berisi first aid kit-nya,

"Ini", katanya sambil menyodorkan sebuah inhaler berukuran sedang, Mocha membulatkan matanya saat melihat inhaler yang disodorkan gadis itu, logika di kepalanya masih belum bisa menerima kenyataan bahwa gadis tomboy, punk, dan dingin ini bisa memiliki sebuah inhaler, sementara ia tidak terlihat seperti orang yang mengidap asma, namun ia buru-buru menyingkirkan pemikiran itu dan langsung mengambil inhaler dari tangan gadis itu sebelum menghirupnya dalam-dalam,

"Sekarang, tenangkan dulu pikiranmu", ujar sang gadis tegas, yang terdengar seperti perintah bagi Mocha, pemuda berambut hitam itupun lalu duduk dan mulai mengatur nafasnya, sejenak keheningan tercipta diantara keduanya, namun kemudian dipecahkan oleh suara halus Illumina,

"Jadi, ada apa dengan foto itu?", tanya Illumina tegas, yang membuatnya terdengar seperti polisi killer yang sedang menginterogasi seorang tersangka pembunuhan yang hampir tersudut oleh bukti-bukti yang ada,

"Itu..kakakku..", kata Mocha pelan, yang membuat Illumina menatapnya penasaran,

"Dan seseorang yang terlihat sangat familiar", ia melanjutkan dengan nada yang sama pelan, tapi entah mengapa jawabannya justru memancing derai tawa kecil dari gadis itu,

"Apa kau bercanda? Bagaimana bisa kau tidak tahu? Padahal kan hampir seluruh siswa Stargate sudah tahu!", ujar gadis itu setengah berseru lantaran ia sangat terkejut mendengar kata itu terlontar dari mulut bocah yang sudah jelas adalah adik dari Kuroro, Mocha hanya menggeleng lemah, ia benar-benar belum tahu siapa gadis kecil berambut pirang yang ada dalam foto itu, tapi perasaannya agak buruk soal itu,

"Hah, benar-benar", keluh gadis berambut coklat itu, ia menghela nafas,

"Aku tidak percaya-", ujarnya,

"Pertama, kau adalah adik Kuroro Lucilfer", ia berkata dengan nada lelah,

"Kedua, kau datang bersama Shalnark", ujarnya pasrah dengan nada final diakhir kalimatnya,

"Lalu?", tanya Mocha penasaran, ia tidak mengerti apa hubungannya antara ia adik Kuroro dan ia datang bersama Shalnark, sungguh, kedua hal itu sama sekali tidak ada hubungannya, kecuali...gadis ini tahu tentang Genei Ryodan dan bahwa Shalnark adalah anggotanya, itu mungkin saja, namun ia segera teringat bahwa topik pembicaraan ini adalah gadis pirang dalam foto itu, jadi kemungkinan besar...ini tidak ada hubungannya dengan Genei Ryodan.

"Hei, apa kau mendengarku?", tanya illumina dengan nada kesal, sepertinya lagi-lagi Mocha tenggelam dalam pikirannya sendiri dan tidak menyadari kalau ia tidak mendengarkan ucapan gadis brunette itu,

"M-maaf, tadi kau bilang apa?", tanya Mocha polos, beruntung jurus puppy eyes andalannya ternyata mempan juga untuk gadis bermulut tajam ini, sehingga gadis itu hanya mendengus kesal, tidak melakukan kekerasan apapun padanya,

"Hu-uh, dasar", keluhnya singkat,

"By the way, apa Shalnark tidak memberitahumu soal sepupunya yang meninggal 5 tahun yang lalu?", tanya Illumina dengan nada suara yang masih mencerminkan kekesalannya,

"Iya-", jawab Mocha santai, "Tapi apa hubungannya dengan kakakku?", imbuhnya, Illumina pun kembali menghela nafas,

"Oh, begitu ya", sahut gadis itu datar,

"Baiklah, aku akan menceritakannya, tapi kau harus mendengarkannya baik-baik", ujar gadis itu lagi, nadanya terdengar serius,

"O-oke", jawab Mocha tanpa menyembunyikan rasa penasaran sekaligus terkejutnya,

"Gadis dalam foto ini, adalah sepupu Shalnark, Kurapika Hibiki-", ujar Illumina memulai narasinya, Mocha hanya mengangguk pelan sambil memasang telinganya, meskipun ada sesuatu dalam hatinya yang menanti untuk ditanyakan,

"Waktu tk dulu, dia berpacaran dengan kakakmu-", lanjut gadis itu,

"Yah, sekitar waktu tk A lah, lalu mereka sempat LDR-an sampai...5 tahun yang lalu", lanjut gadis itu, kali ini nadanya terdengar sendu,

"Kau pasti tahu..kalau gadis itu..meninggal 5 tahun yang lalu, kan?", ujar Illumina mengakhiri narasinya, Mocha mendengarkan hal itu sambiln mengangguk, meski batinnya sedang bergumul dalam pertanyaan-pertanyaan, ya, 'Kurapika' adalah nama yang tidak umum, dan setahunya ia hanya mengenal seorang Kurapika, di ujian hunter beberapa waktu yang lalu, tapi..ia seorang laki-laki, bukan seorang wanita,

"Hei Lu?", tanya Mocha usai pemikirannya yang memakan waktu beberapa menit itu,

"Ya?", balas Illumina singkat, ia menaikkan sebelah alisnya,

"Apa Kak Kurapika itu..", tanya Mocha yang entah kenapa diselak oleh gadis itu,

"Seorang Kuruta?" ujar Illumina menyelak sekaligus melengkapi pertanyaan Mocha,

"Bagaimana kau tahu aku mau menanyakan itu?", balas Mocha dengan nada bingung,

"Yah, mereka mengatakannya di hari pemakamannya", jawab gadis itu datar dan santai,

"Apa dia...", tanya Mocha, yang lagi-lagi dipotong oleh Illumina,

"Apa? Kau mau bertanya apa Kak Kurapika meninggal di daerah Rukusu?", kata gadis itu, Mocha membulatkan matanya dengan sorot bertanya-tanya,

"B-bagaimana kau bisa tahu yang ini juga?", ia berujar penasaran,

"Habisnya...kau terlihat seperti orang yang mau mempertanyakan itu", sahut gadis itu,

"Lalu, jawabanmu?", balas Mocha polos, Illumina pun menghela nafas,

"Ya, 5 tahun yang lalu dia meninggal ketika sedang berlibur ke rumah neneknya di daerah Rukusu", jawab Illumina dengan nada final yang menyatakan keaktualan informasi yang disampaikannya.

Kemudian bel pun berdering, memaksa keduanya untuk bersegera kembali ke kelas mereka, dan dengan informasi yang baru saja didengarnya, Mocha tetap belum tahu harus berkata apa.


Keduanya pun sampai dikelas, dan Shalnark terlihat sangat lega mendapati Mocha sudah kembali, tapi alisnya berkerut saat melihat siapa yang datang bersama Mocha.

Iapun segera menarik Mocha ke sampingnya,

"Darimana saja kau?", tanyanya dengan nada khawatir, yang hampir terdengar seperti seorang ibu yang mendapati anaknya bermain dan pulang terlalu sore,

"Hn..aku tadi keliling sekolah sama Lulu, maaf ya Shal, sudah membuatmu khawatir", sahut pemuda bermata biru itu sendu,

"Lulu? Maksudmu Illumina...yang itu", jawab Shalnark pelan sambil menunjuk kearah gadis berambut coklat itu, yang sudah kembali ketempat duduknya, dengan buku lainnya di depan hidungnya,

"Iya, memangnya ada apa dengan itu?", tanya Mocha penasaran, ia memang bisa merasakan aura yang kuat dari Illumina, tapi itu bukan nen, melainkan sebuah kekuatan karakter, sepertinya ketangguhan gadis itu tidak perlu diragukan lagi, karena sekarang, ia dapat melihat kekhawatiran Shalnark pada dirinya, yang mungkin disebabkan oleh sikap gadis itu yang ia tunjukkan pada orang-orang disekitarnya, yah, mungkin saja kecuali dirinya,

"Tidak, hanya saja..dia bukan gadis yang ramah, aku tidak percaya kalau dia tidak menyeret dan melemparmu ke neraka saat kau memanggilnya, Lulu", ujar Shalnark lagi, yang membuat Mocha semakin yakin kalau Lulu adalah sosok yang cukup menjadi ancaman di kelas ini, sejak dulu mungkin, kalau tidak, mana mungkin seorang anggota Genei Ryodan—yang sejauh ini hanya pernah terlihat terancam oleh aura kakaknya—bisa merasa terancam juga oleh gadis itu,

"Tidak kok, kau tak perlu khawatir...", ujar Mocha sambil tersenyum, meski kalimatnya terputus lantaran kata berikutnya masih tersangkut di tenggorokannya,

Tidak, aku harus memastikan dulu kalau Kurapika yang ada dalam foto itu adalah Kurapika yang sama dengan yang kutemui di ujian hunter kemarin, ia meyakinkan dirinya sendiri dalam hati.


A/N: gyaaaa! another short chappiee!

I know, well, this just a little scene, much in conversation, and I hope you all satisfied with the information given in.

still, don't ever forget to leave a review after reading...see you later~