This story was a fiction, based on my own imagination, actually written in due my writer's block of continuing my other fics.
I'm translating this from "Little Star", my english fic from long time ago.
And I'm presenting this forth chapter just for you all, my Indonesian readers yeeeaaayy!
Disclaimer: Hunter x Hunter and all of its characters respectively belongs to Yoshihiro Togashi sensei
Genre: Friendship, Family, Angst, Hurt/Comfort, Fluff, Adventure, etc
Rate: T, well, just for safety, and the verbal abuses..
Pairing(s): no pairing in this chapter, may changed in later chapters
Warning: OOC-ness, Typo(s), perhaps, Gloomy scenery, Canon, Weird plotting, etc
Do not flame me about the stuff I've mentioned, cause you've been warned
I accept no silent reader, you read, you review.
Bintang Kecil
Chapter 5: Selamat Tinggal, Sampai Jumpa Lagi
H. Kaoru
2012
Adalah musim semi pada permulaan tahun ajaran baru ketika Mocha memutuskan untuk ikut dengan Shalnark ke kota asalnya, masuk ke Akademi Stargate, dan mempunyai 'teman-teman'nya sendiri (disamping fakta kalau sebelumnya dia punya teman karena semua orang takut pada kakaknya).
Sekarang, setelah ia menjalani sekolah itu selama term—kurang lebih 3 bulan—ia mulai menikmati hari-harinya, yang semakin terasa menyenangkan, pergi sekolah, bertemu Oblivion, kadang-kadang ikut bersama Oblivion melakukan 'intimidasi', atau kadang lainnya, menggoda Illumina yang selalu menanggapinya dengan dingin, namun perlahan-lahan ia bisa merasakan kalau gadis itu mulai menganggapnya teman, sepertinya usahanya selama 3 bulan ini lumayan berhasil, dan kini, ia mulai menjelang liburan musim panasnya, yang membuatnya merasa senang, tapi sepertinya takdir berkata lain.
"Mocha, apa kau tahu soal pelelangan di Yorkshin?", tanya Shalnark suatu hari, ketika pemuda bermata emerald itu menghampiri dirinya yang sedang duduk di salah satu bangku taman,
"Hmm...dulu kakak pernah memberitahuku, yah, walau aku tidak begitu peduli, ada apa memangnya?", jawab Mocha setengah bertanya, wajah dan seluruh gestur tubuhnya menampakkan rasa penasaran yang begitu jelas terpancar di kedua bola mata birunya,
"Emm..begini, kami, bukan, maksudku, Danchou memintaku untuk datang, dan dia ingin aku membawamu juga", sahut pemuda itu, sembari memakan makanan yang tadi dibawanya dari dapur rumahnya,
"Aaaaah..aku tidak tahu kalau kakak akan merindukanku...tapi ini bukti yang tidak bisa dibantah", ujar Mocha dengan gestur yang seolah-olah menirukan orang yang sedang dirindukan (entah seperti apa gesturnya) yang membuat Shalnark hampir tertawa melihatnya, saat menyadari hal ini, Mocha menoleh pada pemuda itu,
"Tidak masalah kalau kau mau tertawa, kakak tidak disini untuk bisa membela diri kok", kata Mocha lagi, yang kemudia dilanjutkan dengan derai tawa yang terdengar darinya, dan pemuda itu, yang tidak bisa membayangkan Danchou-nya benar-benar merindukan adik kecilnya ini,
"Hahaha, aku tidak bisa membayangkan wajahnya", katanya disela-sela tawa itu,
"Aku juga", balas Mocha sambil tertawa terpingkal-pingkal, namun ia berusaha untuk menghentikan dirinya sendiri dan menoleh pada Shalnark,
"Jadi, kapan pelelangannya akan diadakan?", katanya masih setengah tertawa,
"Masih lama, tanggal 1 dibulan September, kita berangkat akhir Agustus", sahut Shalnark yang membuat Mocha sedikit terlihat sedih,
"Shal, kita bisa kembali kesini kan?", ia bertanya dengan nada sendu, dalam sekejap atmosfer penuh tawa tadi berganti, Shalnark pun menghela nafas, Mocha terlihat benar-benar akan merindukan kota ini, toh, ia belum pernah melihat Mocha sesenang ini sebelumnya, apalagi dengan teman-teman 'tidak biasa'nya, yang begitu baik dan bersikap normal padanya, ia sungguh menyukai mereka semua, mereka yang telah membantunya belajar untuk berbaur, dan berbicara sendiri dengan semua orang, ah, ia sungguh akan merindukan mereka,
"Tentu, kalau semua sudah selesai", ujar Shalnark mantap, seakan ia berniat meyakinkan Mocha dengan kesungguhan janjinya.
Beberapa bulan pun berlalu, dan hari ini adalah hari kepergian Mocha, 29 Agustus.
Pada hari ini, ia tahu akan harus mengucapkan selamat tinggal pada hari-hari damai dan kembali melihat genangan darah dimana-mana, yah, adegan-adegan yang sudah terlalu sering dilihatnya di Ryuuseigai.
Semalam, ia dan Shalnark sudah mengadakan pesta perpisahan dengan Oblivion, dan kini, tepatnya pagi ini, ia ingin mengucapkan perpisahan pada seseorang secara pribadi, untuk itulah, ia sengaja mengajak orang itu bertemu di taman dekat sekolah mereka, beberapa jam sebelum ia pergi.
"Hai, senang kau datang", sapa Mocha saat melihat sosok itu tiba,
"Ya, itu karena kau bilang ingin membicarakan sesuatu yang penting", sahutnya dingin, Mocha tertawa kecil mendengarnya,
"Iya, sebelumnya, aku ingin minta maaf, telah banyak menyusahkanmu selama ini", kata pemuda berambut hitam itu formal, yang diajak bicara hanya mengernyit lalu menaikkan sebelah alisnya dengan wajah heran,
"Tidak kok, aku justru berterima kasih karena kau sudah membuat hari-hariku lebih...menyenangkan", ujar gadis berambut brunette itu datar, dengan nada dinginnya yang biasa, tapi sedikitnya, Mocha bisa merasakan ketulusan kata-kata itu, ah, bukannya Lulu memang selalu seperti ini, bersikap dingin namun berkata manis, yah, bukan hal yang tidak wajar jika Mocha sudah hafal sekali peringai gadis cantik berambut coklat ini,
"Hnn..aku kan mau pergi, boleh aku memberimu sebuah hadiah perpisahan?", tanya Mocha yang membuat gadis itu menampakkan gestur yang seolah mengatakan apa-yang-sebenarnya-ada-di-kepalamu secara implisit, tapi sepertinya gadis itu memiliki tingkat kedinginan sikap yang membuatnya tidak bisa menampilkan gestur itu diwajahnya, atau mungkin dia hanya tidak ingin menampakkannya secara eksplisit, entah,
"Yah, boleh saja", jawabnya datar, sambil mengangkat bahunya dan menampakkan wajah menantang, yang sepertinya harus ia sayangkan, mengingat beberapa saat kemudian, pemuda itu malah menciumnya secara singkat, dan sukses membuat gadis itu syok sekaligus marah beberapa saat setelah ia terdiam dalam keterkejutannya,
"KAU! BISA-BISANYA KAU MELAKUKAN HAL SEPERTI ITU? DASAR PENCURI! SETAN CILIK! MALING! PERAMPOK! ITU CIUMAN PERTAMAKU BRENGSEK!", ujarnya penuh amarah seolah mengutuk pemuda itu sampai mati atau sampai ke neraka,
"Yah, itu adalah hadiahnya, karena itu juga ciuman pertamaku, puas?", balas Mocha santai dengan senyum lebar terukir diwajahnya yang kekanakan, yah, tentu saja membuat gadis itu semakin kesal,
"AKU BERANI BERSUMPAH KALAU KAU MATI DAN AKAN MASUK SURGA, AKU AKAN MENJADI ORANG YANG MELEMPARMU KETEMPATMU DI NERAKA!", serunya lagi, wajahnya benar-benar merah karena marah sekarang, dan Mocha berani bertaruh kalau ia mengatakan itu semua dalam satu tarikan nafas, maka seluruh oksigen yang berada di paru-parunya akan habis, dan telinganya bisa tuli jika terus-terusan mendengar teriakkan gadis ini,
"Iya, iya, lakukan sesukamu, tapi aku sudah harus pergi sekarang, sampai nanti!", katanya sambil mengelus telinganya sendiri untuk meredakan efek suara tadi, lalu iapun berlari dan melambai pada gadis itu, yang membalasnya dengan menjulurkan lidahnya sebal, membuat pemuda itu tersenyum menang,
"Kau tahu, kau terlihat manis dengan senyum dan blush", katanya lagi, sebelum ia tertawa atas gadis tomboy yang sedang kesal itu,
"LEBIH BAIK KAU MENGKHAWATIRKAN HIDUPMU SENDIRI!", adalah kata-kata penuh amarah yang terakhir didengar Mocha dari Lulu, sebelum ia terlalu jauh untuk mendengar suara mezzo-sopran gadis itu, dan kemudian langkahnya pun membawanya kembali ke kediaman milik Shalnark,
"Okay Shal, ayo kita berangkat!", seru Mocha penuh semangat, kejadian barusan akan menjadi memori lucu yang mungkin akan sulit ia lupakan, melihat Mocha yang seperti ini, Shalnark menatapnya dengan wajah heran dan senyum simpul,
"Memangnya siapa yang kau beri perpisahan tadi? Kau belum menjawabnya saat aku menanyakannya tadi pagi, kau hanya bilang 'akan menyenangkan'", jawab Shalnark, Mocha pun tersenyum bangga,
"Illumina, atau Lulu", jawabnya singkat, yang membuat Shalnark sweatdrop dan terbelalak kaget,
Dia benar-benar tidak pernah kehilangan keberuntungan, pikirnya.
Berjalan dengan pesawat terasa membosankan bagi Mocha (karena di perjalanan sebelumnya ia tidur sepanjang perjalanan bukan, dia tertidur sepanjang penerbangan), tapi sekarang, dengan memori lucu masih berputar dikepalanya, ia tidak mungkin tidur, maka ia pun memandang keluar jendela sambil senyum-senyum, saat merasa benar-benar bosan, ia pun menoleh pada Shalnark, dan terkejut mendapati pemuda itu sudah hampir terlelap, jadi, pemuda kecil itupun berniat menanyakan pertanyaan tidak penting yang mungkin bisa menarik perhatiannya,
"Shal, bagaimana hubunganmu dan Shizu?", ujarnya riang, tapi cukup untuk membuat Shalnark kaget luar biasa,
"Bagaimana kau tahu?", sahut Shalnark dengan wajah yang memerah,
"Hanya menebak-", ia menghela nafas,
"Sudah kubilang kan, firasatku 1% lebih tepat daripada Machi", imbuh Mocha dengan wajah yang terlihat senang karena tebakannya tepat,
"Jadi, bagaimana?", ia mengulang lagi,
"Tidak banyak yang bisa kukatakan, biasa saja, seperti yang kau lihat", jawab sang pemuda dengan nada mengantuk, sambil berpikir bagaimana Mocha bisa benar-benar tahu hanya dengan menebak-nebak,
"Terkadang aku bisa mendengar pikiran orang-", ujar Mocha tiba-tiba,
"Tapi kakak belum tahu soal ini", sambungnya tanpa memberi Shalnark jeda yang cukup untuk mencerna informasi ini, ia pun lalu mulai memakan kue yang dipesannya,
"Oh", Shalnark merespon singkat, ia masih belum tahu harus berkata apa,
"Hn..sekarang kita berdua punya sesuatu yang dirahasiakan, oleh karena itu..maukah kau berjanji tidak mengatakan soal kemampuanku ini? Kalau ya, aku bisa menjamin kalau tidak ada lagi yang tahu selain aku dan Franklin", ujar Mocha, Shalnark mengernyitkan alisnya,
"Aku bisa mengerti kalau itu kau, tapi kenapa Franklin juga?", tanya Shalnark,
"Yah, kalau Franklin, mungkin Shizuku sendiri yang mengatakannya", jawab Mocha sambil memakan kuenya, yang hanya direspon Shalnark dengan anggukan, kemudian keduanya terdiam.
Selagi kedua orang itu diam, sebuah suara terdengar dari pengeras suara yang ada di pesawat itu,
"Para penumpang yang terhormat, silahkan kencangkan sabuk pengaman anda", ujar suara itu.
A/N: well, again, it's a short update, though
but I promise you all, that the next would be better, and a little bit longer
so, see you soon
tschus
p.s. don't forget to leave your review
