This story was a fiction, based on my own imagination, actually written in due my writer's block of continuing my other fics.

I'm translating this from "Little Star", my english fic from long time ago.

And I'm presenting this sixth chapter just for you all, my Indonesian readers yeeeaaayy!


Disclaimer: Hunter x Hunter and all of its characters respectively belongs to Yoshihiro Togashi sensei

Genre: Friendship, Family, Angst, Hurt/Comfort, Fluff, Adventure, Semi-Romance, etc

Rate: T, well, just for safety, though I guess it's suitable for PG-13

Pairing(s): no 'real' pairing for this chapter, might seen some hinted

Warning: FemKura, OOC-ness, Typo(s), perhaps, Gloomy scenery, Canon, Weird plotting, etc

Do not flame me about the stuff I've mentioned, cause you've been warned

I accept no silent reader, you read, you review.


Bintang Kecil

Chapter 6: Penjaga

H. Kaoru

2012


Sementara itu, di tempat lain, sebuah balon angkasa lain juga sedang dalam perjalanan menuju kota yang tak pernah tidur itu, Yorkshin.

Saat Kurapika sedang berdiri disamping jendela dengan pandangannya tertuju pada jendela itu, sebuah ingatan tiba-tiba menghampirinya lagi, ya, ia tanpa sadar telah membiarkan ingatannya kembali.

"1 September di Yorkshin", ujar sang joker gila, Hisoka, sebelum mengakui kekalahannya waktu itu.

Dan setelahnya, semua berjalan begitu cepat, pergi ke rumah Killua di gunung Kukuru, berlatih membuka pintu seberat 2 ton selama beberapa minggu, memulai pencarian atas Genei Ryodan dan bola mata sukunya, mencari pekerjaan, berlatih Nen, ya, ia berlatih Nen, dengan sangat berat, demi mendapatkan sebuah kekuatan besar untuk memburu setiap anggota Genei Ryodan yang pernah hidup, dan membunuh mereka semua atas nama Suku Kuruta.

Kini pemuda itu telah siap untuk membalaskan dendamnya, dengan senjata dari Nen Gugenka-nya yang berupa rantai, serta kekuatan khusus dari Nen Tokushitsu-nya, sehingga ia bisa mendapatkan 4 mata rantai dengan potensi yang berbeda-beda.


Apa yang akan kulakukan setelah dendamku terbalaskan, ia bertanya pada dirinya sendiri sambil berjalan menyusuri jendela itu, hendak kembali ke kamarnya,

Aku akan mencari dan mengumpulkan semua bola mata merah yang ada, dan mengembalikannya, ia mengingatkan dirinya sendiri, kemudian pemuda itu menghela nafas berat, dan meneruskan perjalanannya.

Hanya saja, ingatannya nampaknya sangat suka bergulir kembali ke masa lampau tanpa menghiraukan pemiliknya, seperti saat ini tentunya.

Dalam perjalanannya menuju daerah Rukusu yang merupakan tempat Suku Kuruta berdiam, bocah lelaki itu menghirup nafasnya dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup dengan cepat karena ia begitu gugup, bagaimana tidak? Hari ini dia akan menemui neneknya, yang belum pernah ditemuinya sejak ia meninggalkan daerah itu 6 tahun yang lalu untuk tinggal bersama kerabatnya, atau lebih tepatnya adik dari almarhumah ibunya.

Ketika ia mencapai dermaga, ia terlihat begitu lega mendapati dirinya masih merasa begitu familiar dengan suasana tempat itu, bahkan udara yang dihirupnya pun masih sangat dikenalinya, 6 tahun adalah waktu yang lebih dari cukup untuk mengubah sebuah desa, dan ia sangat bahagia melihat desanya masih terasa begitu sama, yah, walaupun ia masih belum bisa ingat dengan benar pada waktu ia meninggalkan desa itu, namun suasana 'kampung halaman' yang menyeruak benar-benar membuatnya merasa senang.

"Nenek!", panggilnya pada sosok itu, seakan ia cukup yakin bahwa itulah sosok yang ditujunya, meski tidak begitu juga, sebab Kurapika tidak begitu yakin dengan firasatnya, wanita itu menoleh, dan terlihat gembira melihat sosok yang begitu dirindukannya itu, wajah yang mengingatkannya pada almarhum putranya, ia tersenyum,

"Oh, Kurapika rupanya", ujarnya sambil berlari menuju bocah itu, ia memeluknya erat, ia terlihat seperti berada di rentang usia 40-an, walaupun sebenarnya ia telah berusia lebih dari 60 tahun,

"Aku pulang", ujar anak itu, seraya membalas pelukan hangat wanita tua itu,

"Oh Tuhan, lihat betapa kau sudah tumbuh besar sekarang!", perempuan itu tersenyum dan berujar dengan nada gembira,

"Ya", sahut Kurapika dengan nada haru, entah sudah berapa lama ia meninggalkan tempat ini, karena ia begitu merindukannya, yah, meskipun ia tidak benar-benar ingat saat-saat terakhirnya, tapi ia senang bisa kembali, setelah sekian lama,

"Berapa usiamu sekarang, sobat?", tanya wanita itu ketika ia melepaskan pelukannya dan berlutut dihadapan cucu tunggalnya itu, sehingga kini tinggi mereka hampir sejajar, ia menatap mata biru itu dengan pandangan haru, meski ada sebuah sentakan dalam batinnya, karena mata biru itu...mengingatkannya pada sesuatu yg tidak terlalu indah,

"4 April ini aku akan berusia 12, Nek, dan kau 61, karena kita lahir pada hari yang sama, di tahun yang berbeda", jawab Kurapika sambil tertawa geli bercampur bahagia.

Hari demi hari pun berlalu, dan saat Kurapika sudah mulai diterima lagi oleh penduduk Suku Kuruta, salah seorang penjaga di depan gerbang datang pada suatu sore dan membawa sebuah berita buruk untuk ia dan neneknya,

"Nyonya, kami mendapat kabar, bahwa ada sekelompok orang yang menanyakan tentang keberadaan mata merah", kata penjaga gerbang itu, sang nenek hanya menghela nafas,

"Panggil semua pasukan yang ada", perintah sang nenek, penjaga itu pun mengangguk dan pergi, lalu tak berapa lama setelahnya ia kembali bersama seluruh pasukan milik suku itu,

"Kuruta diancam oleh pihak luar, karena itu, Tuan-tuan, lakukan pekerjaan kalian, lindungi suku kita!", seru sang nenek lantang,

"Kita ini kuat, jika kita semua bersatu, maka kita bisa mengusir mereka semua!", ia menambahkan dengan nada perintah yang jelas dan kuat, Kurapika melihat semua itu dengan wajah takut, melihat para penjaga itu, wajah-wajah mereka, ia merasa semakin tidak yakin,

"Tenang saja Kurapika, kita pasti menang", ujar neneknya ketika itu.


Ngeri.

Ya, hanya kengerian yang terlihat dimata bocah bernama Kurapika itu, ia berusaha keras untuk bangkit, dan setelah usahanya yang kesekian, baru ia bisa melakukannya.

Ia melihat sekitarnya, darah, mayat, dan api, semua menjadi satu dan menciptakan pemandangan yang sangat menyedihkan, tragis, memang, semuanya sirna. Kelompok yang menyerang mereka itu terlalu kuat, meskipun jumlah mereka hanya sedikit sekitar beberapa orang, dan kelihatanya tidak begitu kuat, tapi ternyata kekuatan mereka sangat besar, dan, meski yang mereka incar hanya bola mata merah, mereka membunuh semua penduduk yang ada, bukan, hampir semua, yah, kecuali dia.

Kurapika dalam keadaan yang sangat tragis dan hampir mati ketika ia melihat punggung dari sosok yang ia kira datang untuk menolongnya, tapi...saat ia hendak menggapai orang itu, dan berusaha keras untuk memanggilnya, sosok tersebut malah pergi, meninggalkan dirinya yang kehilangan kesadaran tak lama kemudian.

Setelah itu, secara ajaib dia bisa selamat dan bersumpah pada dirinya sendiri dan atas nama sukunya, bahwa suatu hari nanti dia akan membuat mereka membayarnya, ya, Genei Ryodan harus membayar apa yang telah mereka lakukan pada suku itu, dan pada neneknya.

"Kurapika", sebuah suara feminin keibuan terdengar dan mengaburkan lamunannya,

"Dalzone ingin kita berkumpul", sambungnya, dan orang itu adalah Senritsu.

"Baiklah, kalau semua sudah berkumpul, aku akan memulai pengarahannya", ujar pria bernama Dalzone itu.


Menangani pekerjaan sebagai 'pengamat' sepertinya cukup untuk membuat seorang Kurapika merasa tidak berguna dan sebagainya, bahkan dengan Senritsu sebagai rekannya.

Mereka sempat berbincang mengenai tujuan masing-masing dalam mengambil pekerjaan ini, lalu saat pembicaraan usai, Kurapika dikejutkan dengan kedatangan seorang pemuda bertubuh kecil, yang ia kenal dengan nama Mocha,

"Hai, Kurapika!", sapa bocah yang tiba-tiba sudah berada didekat pemuda itu, entah bagaimana,

"Mocha, apa yang kau lakukan disini?", tanya Kurapika setengah kaget, untung saja dia sudah bukan Kurapika yang belum bisa mengendalikan dirinya dengan baik, jadi saat bertanya tadi, suaranya terdengar datar,

"Hanya sebuah kunjungan pada sahabat, tidak salah kan?", balas Mocha setengah bertanya sambil mendekat pada pemuda itu,

"Kuharap kau tidak berniat membuat'nya' terus merasa bersalah dengan..berpura-pura mati", bisik pemuda berambut hitam itu ke telinga Kurapika, mata pemuda itu terbelalak kaget dan memerah, kemudian berangsur-angsur kembali dalam beberapa detik berikutnya,

"A-apa maksudmu?", ia bertanya dengan nada yang memperlihatkan keterkejutannya, Senritsu menyaksikan pertemuan itu dengan hening, ia tidak merasakan aura yang berbahaya dari bocah itu, dan terkejut mendengar detak jantung milik rekannya, Kurapika, yang terdengar lebih tenang dan yah, sedikit kesal, tapi..sebuah irama yang tanpa gemuruh dendam, benar-benar mengesankan, hanya dengan kehadiran anak itu, seorang Kurapika bisa teralih dari dendamnya yang besar.

"Kau tahu maksudku jika kau tidak terlalu batu atau...bodoh", jawab Mocha ringan, yang bahkan seorang Senritsu pun tak mengerti kenapa Mocha bisa mengatakan hal-hal seperti itu dengan nada ringan,

"Mocha!", seru Kurapika dengan nada kesal, tapi Mocha terlanjur melambaikan tangannya dan pergi, kunjungannya cukup sampai disitu, dan dengan ini, ia dapat memastikan, kalau Kurapika yang ditemuinya di ujian hunter adalah Kurapika yang sama dengan Kurapika yang dia lihat di foto itu, yah, setidaknya begitulah yang dapat disimpulkannya dari jawaban dalam pikiran Kurapika saat ia menanyakan hal tersebut.

"Darimana saja kau, Mocha?", tanya Pakunoda gusar,

"Aku sudah mencarimu kemana-mana tapi kau tak ada dimanapun!", ia menambahkan dengan nada yang terdengar seperti ibu yang anaknya pergi bermain terlalu lama dan tidak bisa ditemukan,

"Tenang saja Paku, aku hanya memberi sedikit kejutan pada seorang teman lama, apa itu salah?", tanya Mocha dengan puppy-eyesnya, Pakunoda menghela nafas berat dengan penuh rasa kesal, lalu sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya, ia berujar,

"Kau tahu, Mocha? Kau mempertaruhkan nyawaku hanya untuk memberi kejutan kepada seorang teman lama-", Paku berujar keras, hampir seperti membentak,

"Bagaimana kalau sampai Danchou memanggilku saat kau tidak ada tadi!", akhirnya ia menghardik juga, Oh Tuhan, Pakunoda yang terkenal sangat dewasa dan tenang pun bisa sampai seperti ini, benar-benar bocah yang tidak biasa, dan Mocha hanya merespon bentakan itu dengan memasang wajah cemberutnya yang kekanakan,

"Iya, iya, sekarang aku sudah disini, lagipula aku sudah tidak punya rencana lain selain kembali ke markas", kata Mocha sebal.


"Dia seperti bersenang-senang dengan mempertaruhkan nyawa kita", protes Pakunoda pada rekan-rekannya,

"Hehe, begitulah", jawab Shalnark ringan tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya, membuat Pakunoda menghela nafas sebal sambil menggelengkan kepalanya,

"Oh ya, dimana Danchou?", tanya wanita itu sambil melihat kesekelilingnya, para anggota yang lain hanya menggeleng pelan,

"Mungkin dia datang dengan membawa anak itu", ujar Franklin akhirnya, dan kemudian untuk sejenak markas Genei Ryodan itu menjadi hening, tanpa pembicaraan, hanya suara jari-jari Shalnark yang bersentuhan dengan keyboard laptopnya yang terdengar, disamping suara yang ditimbulkan oleh gerakan kartu-kartu Hisoka.

Kemudian mereka mendengar suara langkah kaki, dua orang, yang mereka yakini sebagai Danchou mereka dan adik kecilnya yang menyebalkan,

"Apa?", tanya Kuroro pada anak itu, dengan nada dingin yang sebenarnya lebih tepat disebut nada heran ala Danchou,

"Ayolah Kakak, anggotamu sudah berkumpul", rajuk anak itu dengan nada manja, seakan-akan ialah yang membujuk sang Kakak untuk datang, meskipun yang sering terjadi adalah sebaliknya.


Yang selanjutnya terjadi adalah perampokan pertama mereka, yang berujung pada pembantaian yang menewaskan Veize, Dochino, dan entah siapa lagi.

Kemudian para mafia yang marah pun mengikuti balon udara berwarna merah yang dipakai Genei Ryodan untuk berpindah tempat, dan pertarungan berat sebelah antara Uvogin dengan para mafia itu pun terjadi, ya, Uvo sangat menikmatinya, karena ia begitu inginnya menjadi kuat, dan ini adalah beberapa momen yang membuat ia merasa kuat.

Selanjutnya terjadi pertarungan dengan Inju, yang lagi-lagi terasa berat sebelah, sementara itu, Kurapika masih diam dan memperhatikan saja dari lokasinya, sampai ketika Uvogin membunuh ketiga Inju yang menyerangnya dan racun serta lintah yang dialirkan oleh salah seorang Inju yang wajahnya seperti serigala jadi-jadian, dan seorang pria bertubuh gempal yang lidahnya bisa mengeluarkan lintah mulai bereaksi di tubuhnya, membuat ia lumpuh.

Pada saat itu, tanpa menghiraukan perintah Sukuwara yang memintanya menunggu sampai ada keputusan dari Dalzone, Kurapika bertindak dengan kepalanya sendiri, ia memejamkan matanya dan dalam waktu sebentar, gemerincing bunyi rantai mulai terdengar, menari-nari didekatnya, sebelum dilemparkan oleh pemuda itu kearah sang pria bertubuh tegap yang tengah di diagnosa oleh rekannya itu,

"Apa kalian melihatnya?", tanya Shalnark heran ketika peristiwa penangkapan Uvo terjadi dihadapannya dengan begitu pesat,

"Tidak, tadi itu cepat sekali", jawab Shizuku datar, wajahnya jelas mengekspresikan keheranannya,

"Tidak perlu khawatir, benangku sudah mengikuti mereka, dan aku sudah memasangi zetsu, jadi, kecuali mereka menemukan jarumnya, dan melepaskannya, kita masih bisa mengikuti", ujar Machi dengan nada datarnya yang khas.


Uvo tersadar setelah ia pingsan akibat cekikan rantai Kurapika, dan menemukan dirinya berada di sebuah tempat asing, dengan dikelilingi oleh beberapa orang dan di interogasi secara sepihak.

Ia sempat mengancam Dalzone, tapi pria itu tidak menghiraukannya.

Lalu saat Dalzone menungguinya seorang diri setelah melaporkan keberadaan dirinya pada anggota komunitas, ia terdiam, melihat sekitar dan menemukan bahwa si pengguna rantai tidak disana.

Rasa geram menghinggapinya, selama ini, belum pernah ada yang bisa menangkapnya dengan rantai sekecil itu, dan sudah jelas penangkapan ini membuat ia merasa terhina, dan tekadnya sudah bulat, ia akan membuat perhitungan dengan si pengguna rantai itu.

"Kalian, cocok juga dengan penyamaran itu", ujarnya sambil melirik pada rekan-rekannya yang menyamar menjadi anggota komunitas, Dalzone terkesiap, namun sebelum ia sempat bereaksi, tangan Phink menembus punggungnya, dan menewaskannya,

"Benar-benar, kami sempat tidak mempercayai telinga kami, saat mendengar kau tertangkap", ujar Nobunaga pada sahabatnya itu,

"Hahahaha, nah, Shizuku, sedotlah racun yang ada dalam tubuhku ini", kata Uvo tegas, ia ingin segera membebaskan diri dari ikatan ini dan membuat perhitungan dengan pengguna rantai itu.

"Katakan pada Danchou, aku tak akan kembali sampai aku bisa membuat perhitungan dengan si pengguna rantai itu!", ujar Uvo dengan nada mengebu-gebu, dan ia pun pergi mencari pemuda itu bersama Shalnark.

Kurapika sedang berbicara dengan Hisoka ketika semua itu terjadi, dan pada saat Uvo berteriak dengan segenap kekesalannya, rekan-rekannya yang tersisa berhasil kabur dan menghubunginya, sehingga iapun dengan sangat terpaksa menunda pembicaraannya dan kembali ketempat rekan-rekannya.


Pemuda itu tidak begitu ingat bagaimana akhirnya bisa sampai seperti ini, tapi yang jelas sekarang ia sedang berada di daerang pinggiran kota Yorkshin yang tak bertuan, dan bertarung dengan Uvogin, yang dengan bodohnya mengira bahwa ia adalah pengguna Nen bertipe Gugenka, padahal kenyataanya, pemuda itu memang bertipe Gugenka, namun saat matanya menjadi merah, tipe Nen-nya berubah menjadi Tokushitsu.

Secara fisik, keduanya memang terlihat tidak seimbang, tapi, berbekal pemikirannya yang cepat, ia mampu mengikat pria besar itu dan menguncinya kedalam zetsu, namun sebelum ia sempat melakukannya, pria bertubuh tegap itu memukulnya.

Awalnya ia tidak menanggapi itu semua, tapi kemudian sesuatu mengusik benaknya: antingnya hilang.

Panik, ya, hanya kepanikan yang mengisi kepala pemuda itu, sehingga ia tidak bisa berpikir jernih lagi, kecuali untuk menghilangkan kesadaran pria itu dan pergi secepatnya dari tempat itu, iapun segera melayangkan pukulan keras yang mampu menghilangkan kesadaran pria yang terkunci dalam zetsu dari Chain-jailnya.

Sementara di markas Laba-laba, Mocha yang menyadari kejadian itu, segera meminta beberapa anggota Laba-laba ( (dengan kemampuan persuasifnya yang mengagumkan) untuk pergi ke tempat Uvo dan menolongnya, namun saat mereka sampai disana, ada sesuatu yang mengganjal dipikiran mereka,

"Dimana jasad si pengguna rantai jika Uvo masih bertahan hidup?".


Saat Kurapika, akhirnya, sampai ke kamarnya di hotel yang disewa Nostrad, ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, dia akan kembali ke wujud asalnya, yang hanya akan mengubah sosok pemuda itu menjadi seorang gadis.

Ia berjalan dengan langkah gontai kearah tempat tidurnya dan duduk di tepi, lalu dengan gestur kesal ia menarik wignya, membiarkan untaian-untaian rambut berwarna pirang itu jatuh, menggelitik permukaan kulitnya yang putih, dan terurai bebas mencapai pinggangnya.

Kembali menjadi seorang gadis lagi membuatnya frustasi, disamping bahwa ia telah kehilangan kedua anting peninggalan neneknya, yang ia pakai untuk menyamar,

Apa yang harus kulakukan setelah ini?, ia bertanya dalam hati pada dirinya sendiri, sementara memorinya kembali bergulir ke sebuah cerita dimasa lalunya.

"Kurapika, ini untukmu", ujar sang nenek kala itu, Kurapika hanya terdiam dan membiarkan sepasang anting itu jatuh di telapak tangannya,

"Apa ini, Nek?", tanya gadis kecil itu penasaran, sang nenek tersenyum,

"Itu anting sihir, kalau kau hanya memakai salah satunya, kau akan berubah menjadi laki-laki", terang sang nenek sambil tersenyum,

"Kalau aku memakai dua-duanya?", tanya Kurapika lagi, ia menjadi penasaran,

"Kau akan menjadi gadis paling cantik yang pernah ada", sahut sang nenek sambil tersenyum dan memainkan rambut pirang gadis kecil itu, Kurapika tertawa geli,

"Hn..kalau begitu, aku akan memakai kedua anting ini untuk pernikahanku nanti", ujarnya sambil tertawa.


"Kita biarkan Uvo beristirahat untuk sementara-", kata Pakunoda tenang,

"Apa yang akan kita lakukan sementara itu, Danchou?", lanjut wanita itu sambil menoleh pada Kuroro yang masih dengan gestur berpikirnya yang khas,

"Kita buat si pengguna rantai membayar perbuatannya", ujar Nobunaga tiba-tiba dengan nada geram, namun ia ternyata malah dibalas oleh adik Danchou, Mocha, yang memang terkenal dengan predikat, 'menyebalkan',

"Kurasa itu tidak perlu, lagipula..dia kan tidak membunuh Kak Uvo", jawab anak itu santai, yang tentunya mengundang amarah Nobunaga, sayangnya, sekali lagi, yang dihadapinya adalah adik sang pimpinan, dan ia tahu risiko besar dalam menghadapi bocah bermulut besar itu,

"Cih", gerutunya kesal,

Dasar anak kecil, keluhnya dalam hati, apalagi saat ia melihat Mocha memasukkan sebongkah kecil permen kedalam mulutnya, lalu meliriknya dan menjulurkan lidahnya (ingat, Mocha bisa membaca pikiran),

Pria bodoh yang menyedihkan, ejek Mocha dalam hati.

Tak lama kemudian, untuk kesekian kalinya, Kuroro memerintahkan anggotanya untuk berpencar, sementara ia sendiri pergi menuju ke gedung Cemetary untuk mengambil kemampuan meramal Neon setelah mengetahui tentang gadis itu dari Shalnark.

Disisi lain, Kurapika (yang kembali menyamar, karena antingnya telah hilang semua, satu hilang dalam latihan beratnya, satu lagi hilang karena pertarungannya dengan Uvogin) sedang duduk bersama Light Nostrad dalam sebuah mobil, keduanya sedang mencari kemana perginya Neon, yang menghilang dari para pengawalnya sejak di pusat perbelanjaan, dan kabarnya, dia masuk kedalam gedung pelelangan yang berbahaya, bersama seseorang yang tidak dikenal oleh ayahnya.


Gedung pelelangan yang megah telah berubah menjadi medan perang akibat kedatangan Genei Ryodan yang bermaksud mendapatkan semua benda yang dilelang.

Kerusuhan terjadi dimana-mana, dan para mafia mengumpulkan orang-orang yang mereka anggap bisa menyelesaikan masalah ini, termasuk diantaranya Zeno dan Silva Zoldyck, kakek dan ayah Killua.

Karena menerima telepon dari Gon, Kurapika jadi tidak begitu mengetahui kabar tentang pertarungan yang terjadi sampai...5 dari 13 anggota Genei Ryodan, termasuk pimpinannya, dinyatakan telah mati.

Seakan tidak ingin percaya pada berita yang sampai ketelinganya, Kurapika pun berlari menuju tempat dimana orang-orang itu menyatakan telah menemukan sang pemimpin Laba-laba, sesampainya ia disana, ia terkejut, bukan karena pimpinannya sangat muda seperti kata orang-orang itu, bukan, tapi karena...ia mengenal pria itu dengan sangat baik, sebelumnya.

Bohong...Kuroro...kukira waktu itu aku hanya berhalusinasi..ternyata.., ia jatuh dalam posisi berlutut karena syok, matanya terlihat berkaca-kaca, namun ia sadar, bahwa saat ini ia sedang menyamar sebagai laki-laki, sehingga iapun segera bangkit, dan meninggalkan tempat itu dengan setengah berlari.

I can't believe that I could be so blind

It's like you are floating, while I was falling

And I didn't mind…..


Kurapika sampai pada ruang pelelangan, dan mendapati bahwa benda terakhir yang dilelang pada malam itu adalah bola mata merah suku Kuruta, ia masih setengah syok, tapi kepalanya masih berjalan sehingga ia memutuskan untuk mengabarkan hal ini pada bos-nya, Light Nostrad, yang sedang menjaga Neon dikamar tamu dilantai atas,

"Dapatkan, berapapun harganya", kata Light pada gadis itu,

"Baiklah, aku mengerti", jawab Kurapika tenang, ia sedikitnya mulai bisa mengendalikan dirinya lagi.

2,9 Milyar Zenni, ya, harga yang sangat fantastis untuk sepasang bola mata dalam tabung, namun Kurapika, selaku perwakilan dari Nostrad, berhasil mendapatkannya.

Mood Kurapika benar-benar buruk malam itu, selepas ia memenangkan bola mata merah, ia berjalan dengan langkah gontai dan kepala tertunduk, seusai melepaskan softlensnya di toilet dalam gedung tadi.

Sayangnya, seorang pria botak yang merupakan saingan Light Nostrad tiba-tiba muncul dihadapannya, dengan wajah sombong ia berujar,

"Huh, sekarang kau lihat betapa tidak bergunanya dirimu, karena yang menghabisi para Laba-laba itu adalah orang-orang dari Zoldyck itu, bukan kau", katanya mengejek.

Kurapika kesal sekali mendengarnya, benar-benar ucapan yang tepat untuk merusak moodnya yang sudah rusak,

"Minggir", ujarnya dingin, hanya kalimat itu yang bisa ia ucapkan dalam keadaan seperti ini,

"Heh? Apa katamu?", tanya pria itu setengah mengejek, sepertinya ia juga makin kesal dengan jawaban dari gadis (atau pemuda dimatanya)itu, tapi Kurapika hanya mengangkat pandangannya,

"Minggir kataku", ujarnya beku, matanya merahnya membulat, dan menatap pria itu lekat-lekat, sementara pria itu mematung melihatnya,

"K-Kau...", ujarnya terbata-bata, mata itu, mata merah itu, adalah sebuah bukti yang tak terbantah, yang menyatakan kalau sosok dihadapannya ini adalah satu-satunya keturunan Kuruta yang tersisa sejak pembantaian itu, pria itu tak percaya pada apa yang dilihatnya, tapi yang dilakukannya hanya berdiri tanpa melakukan apapun, selain membiarkan sosok itu berjalan menuju kediaman Nostrad.

Time turns flames to embers

You'll have new Septembers

Everyone of us has messed up too…


A/N: it's a long chapter, I believe

and it'll be the longest if the next chapter didn't goes as long as this one

but, either way,

I hope you all satisfied with this chapter

and...

Don't forget to review~