This story was a fiction, based on my own imagination, actually written in rewards for my dearest and beloved readers.
I'm translating this from "Little Star", my english fic from long time ago.
And I'm presenting the last part for you all, my dearest indonesian readers, yeaaaayy~
Disclaimer: Hunter x Hunter and all of its characters respectively belongs to Yoshihiro Togashi sensei
Genre: Friendship, Family, Angst, Hurt/Comfort, Fluff, Adventure, Semi-Romance, etc
Rate: T, well, just for safety, though I guess it's suitable for PG-13
Pairing(s): KurofemKura, if you saw any other pairing, that should be happened unpurposely (back to Licentia Poetica)
Warning: FemKura, OOC-ness, Typo(s), perhaps, Gloomy scenery, Canon, Weird plotting, etc
Do not flame me about the stuff I've mentioned, cause you've been warned
I accept no silent reader, you read, you review.
Bintang Kecil
Chapter 7: Pertemuan yang menyakitkan
H. Kaoru
2012
Sambil berjalan pagi itu, Kurapika membiarkan ingatannya kembali bergulir pada semua yang terjadi dalam satu malam kemarin, sesuatu yang tidak menyenangkan untuk diingat memang, tapi yah, siapa yang tidak tahu kalau memori yang dimiliki gadis Kuruta yang satu ini sangat menyebalkan.
Gadis berambut pirang itu sedang mengalami masa yang sangat sulit, bukan, dia hanya sedang berada dalam waktu yang paling buruk, seseorang yang begitu ia kenal dimasa lalu, dan seseorang yang sekarang ingin ia kuliti hidup-hidup, adalah orang yang sama, Kuroro Lucilfer, dan ini benar-benar membuat ia frustasi, apalagi dengan kenyataan bahwa pemuda itu sudah mati, dengan keadaan yang begitu tragis, berlumuran darah, dan jika bukan karena sadar bahwa ia sedang menyamar sebagai laki-laki, Kurapika pasti sudah menangis sambil menjerit-jerit dengan histeris, mungkin sambil mengutuk pemuda itu sebisanya, sekuat-kuatnya, seterkutuk-terkutuknya.
Setelah itu, bahkan mencapai kediaman Nostrad yang selama ini tidak pernah membuatnya senang, bisa membuatnya merasa begitu lega, dan lelah.
"Kurapika, apa kau baik-baik saja?", tanya salah seorang rekannya yang terdengar begitu perhatian, Senritsu,
"Yah, aku hanya sedikit merasa lelah, apa itu 'baik-baik saja' yang kau maksud?", Kurapika balik bertanya, meski ia berusaha keras menutupinya, dengan bersikap keras, Senritsu dapat merasakannya, nada sedih dalam detak jantung dan suaranya,
"Tidak baik untuk selalu memaksakan diri, Kurapika", jawab wanita itu lembut, tapi gadis muda yang sedang menutupi sisi gadisnya itu hanya merespon dengan anggukan pelan dan sebuah senyuman tipis, seolah ingin mengatakan kalau ia tidak perlu diberitahu lagi mengenai hal-hal semacam itu.
Kemudian gadis itu berjalan pelan menuju kamarnya, dan duduk dalam hening di tepi ranjangnya, sebelum ia akhirnya memutuskan berbaring sebentar tanpa menutup matanya.
Lalu ia bangun kembali dan duduk dengan posisi tegak di sisi tempat tidurnya, kedua tangannya dikatupkan, kemudian ia menunduk dan memulai doanya dengan suara perlahan.
Matahari di langit...
Tumbuhan di bumi...
Tubuhku terlahir dari air...
Jiwaku terlahir dari langit...
Kupermandikan kedua tangan dan kakiku dengan cahaya matahari dan cahaya bulan...
Kubasahi tubuhku dengan karunia dedaunan hijau...
Kuserahkan tubuhku pada angin yg berhembus di daratan ini...
Kuucapkan terimakasih pada leluhur atas keajaiban yang ada di saat ini...
Semoga jiwaku selalu teguh setiap saat, saling berbagi kesedihan dengan teman...
Semoga suku kuruta tetap abadi dan terpuji...
Lalu bersama dengan bola mata merah dan jiwa ini menjadi satu dengan darah..
Kuruta bersama dengan seluruh dosa yang kulakukan...
Biarkanlah permohonanku ini terlukis dalam keabadian...
Lalu Kurapika menutup matanya dan menghela nafas perlahan, berdoa adalah hal yang paling mampu membuatnya merasa lebih tenang, dan setelahnya ia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan membasuh dirinya sendiri, hari itu benar-benar membuatnya lelah, bahkan seusai mandi dan berganti pakaian, gadis itu memutuskan untuk tidur disisa malam hari itu.
Hal pertama yang terdengar dipagi hari itu bukanlah suara burung-burung, ya, tidak banyak burung-burung kecil yang bisa bertahan untuk berkicau dilangit Kota Yorkshin, dan itu sebabnya, suara pertama yang menyapa Kurapika pagi itu adalah suara ringtone ponselnya sendiri.
Ketika Kurapika bangun, ia segera melihat ponselnya, dan terlihat cukup senang saat mengetahui bahwa yang menelponnya pagi itu adalah Gon, dan itu bukan panggilan, merupakan sebuah pesan singkat, yang berisi ajakan bertemu.
Kurapika sedikit merasa terhibur, bertemu dengan sahabat-sahabatnya adalah hal yang sangat menyenangkan untuk dilakukan hari ini, dan mungkin saja bisa menghapus segenap kekesalannya, ya, gadis itu segera bangun dan bersiap-siap tentunya.
Sepanjang perjalanan, sedikitnya gadis itu berunding dengan sisi lain dari dirinya sendiri soal apakah sebaiknya ia memberitahu teman-temannya soal identitasnya ini atau tidak, dan berdasarkan pemikirannya yang panjang dan logis, dia memutuskan untuk tidak memberitahu mereka dahulu, ia tidak tahu pasti tapi ia hanya sedikit khawatir pada dirinya sendiri,
Mungkin nanti, pikir gadis itu sambil menegakkan posturnya dan menghela nafas pendek.
Ketika akhirnya ia sampai ditempat itu, sesungguhnya ia merasa begitu senang, terlalu senang mungkin, tapi sesuatu dibalik kepalanya tidak setuju untuk terlalu beramah-tamah, apalagi bersikap kekanakan, sehingga yang terjadi adalah gadis itu hanya merespon datar, namun senyum dibibir gadis itu akhirnya terukir juga saat melihat kedua temannya, Gon dan Killua, bertingkah layaknya anak kecil yang masih berusia dibawah sepuluh tahun, meskipun usia mereka sudah 12-an tahun.
Merekapun kemudian menghabiskan waktu di sebuah restoran, sambil bercengkrama dan berbagi pengalaman, dan kali ini Kurapika juga menceritakan soal kemampuannya, dan keempat rantai-rantainya,
"Kenapa kau menceritakan semua ini pada kami?", protes Killua sambil bertanya,
"Memangnya kenapa?", balas Kurapika datar,
"Di antara Genei Ryodan, ada seorang perempuan yang bernama Pakunoda, dan ia bisa mengetahui pikiran orang melalui sentuhannya", jawab Killua lagi, Kurapika mengernyitkan alisnya,
"Lalu?", ujarnya dengan nada bertanya-tanya,
"Dari beberapa orang yang kau sebutkan tadi, nampaknya dia belum termasuk diantara mereka, dan seandainya...", Killua terdengar ragu melanjutkan kata-katanya,
"Seandainya apa? Jangan membuatku penasaran, Killua", sahut Kurapika yang tampaknya mulai kesal,
"Seandainya kami bertemu dengannya lagi, dia bisa saja mengetahui tentangmu, iya kan?", Killua berujar penuh emosi dengan nada yang cukup tinggi, sementara Kurapika terlihat agak lebih tenang,
"Mungkin saja, tapi-", ujar Kurapika yang terputus karena tiba-tiba ponselnya berdering,
"Angkatlah dahulu", ujar Leorio dengan suara yang terdengar agak memerintah,
"Aku permisi", Kurapika berujar sambil berdiri dan berjalan pergi, namun ternyata itu bukanlah sebuah telpon, melainkan sebuah pesan, yang dikirim oleh seseorang yang tidak diharapkannya, dan hanya dengan melihat pesan itu, mata Kurapika seketika berubah menjadi merah, dan gemerincing rantai terdengar seiring dengan hadirnya wujud rantai itu ditangan kanannya.
Menyadari perubahan atmosfer dan aura yang menakutkan ini, Gon dan Killua segera bangkit dan berlari menuju ke tempat Kurapika berada, disusul oleh Leorion dibelakang mereka, dan begitu mereka sampai, raut wajah gadis itu terlihat begitu penuh dengan kemarahan dan dendam, sejenak mereka terdiam menyaksikan semua itu, lalu kemudian Leorio memulai pembicaraan, ketika Kurapika sudah terlihat lebih tenang,
"Siapa tadi?", tanya pemuda berkacamata itu,
"Hisoka", jawab Kurapika singkat sambil berbalik memunggungi mereka,
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?", tanya pemuda itu lagi,
"Entahlah, tapi aku harus pergi sekarang, sampai nanti", jawab gadis berambut pirang itu sambil mulai melangkah pergi, dan ia berlari secepatnya menuju hotel yang disewa oleh keluarga Nostrad.
Berpuluh-puluh kilo dari tempatnya, lebih tepatnya di tempat Genei Ryodan berkumpul, terlihat seorang pria berambut merah yang sedang mengetikkan sebuah pesan, namun tidak satupun dari anggota organisasi itu yang terlihat peduli, sedang pria itu baru saja mengirimkan sebuah pesan yang berbahaya kepada seseorang yang berbahaya.
To: Kurapika
Mayat-mayat itu...palsu
Kurapika sampai di hotel itu dengan perasaan yang tidak karuan, tanpa berpikir lagi, ia langsung saja menarik wignya dengan cepat dan membuka pakaian luarnya, lalu membaringkan diri diatas tempat tidur itu.
Ia terlihat lelah, dan memang begitulah adanya, sedemikian lelahnya hingga ia tidak sadar ada seseorang diluar kamar yang mengetuk pintu dan meminta izin masuk kedalam kamar yang tidak dikunci itu.
Ketika ia menyadarinya, Senritsu sudah berada didalam kamar itu dan melihat sosoknya yang berambut panjang dengan hanya mengenakan pakaian dalam yang berupa terusan berwarna putih tanpa lengan yang panjangnya hanya sampai setengah pahanya, benar-benar menampakkan postur tubuhnya dengan sempurna,
"Oh, maaf, Kurapika, aku tidak tahu kalau kau membawa seorang wanita ke dalam kamarmu!", pekik Senritsu panik, ia segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan beranjak keluar dari kamar, Kurapika pun ikut panik, sehingga ia berusaha keras mengejar Senritsu dan menahannya,
"Tunggu, Senritsu-", ujarnya sambil menahan Senritsu dengan kedua tangannya,
"Aku bisa menjelaskan semua ini, tapi kumohon, bisakah kau duduk disini dan membiarkan aku mengunci pintunya?", gadis itu memohon dengan sangat, Senritsu agak bingung kenapa gadis ini bisa mengetahui namanya, dan ia merasa sedikit penasaran, sehingga ia memutuskan untuk mengikuti instruksi dari gadis itu,
"Baiklah, jelaskan padaku", kata Senritsu setelah ia duduk dan gadis itu sudah kembali kehadapannya, Kurapika menghela nafas,
"Dengar, pertama-tama, aku ini bukan gadisnya Kurapika atau apapun, aku adalah Kurapika sendiri", tutur gadis itu pelan, sambil memunculkan rantai ditangan kanannya untuk membuat wanita dihadapannya ini percaya bahwa ia adalah Kurapika,
"Aku lahir sebagai perempuan, tumbuh menjadi seorang gadis, sampai...hari dimana sukuku dibantai", lanjut gadis itu dengan nada berat, ia pun menghela nafas sebelum melanjutkan kisahnya,
"Sejak hari itu, aku menyamar sebagai laki-laki dengan menggunakan anting-anting sihir yang kudapat dari nenekku, dan begitulah, aku menjadi pemuda yang kau temui di dalam kereta itu", ia berujar lagi, Senritsu hanya mendengarkannya dengan penuh perhatian, ia tidak menyangka, rekannya yang masih muda ini telah mengalami begitu banyak ujian, gadis itu mengambil nafas sebelum ia melanjutkannya, yang terdengar oleh Senritsu adalah usahanya untuk menepis rasa sesak yang menyeruak itu, dan wanita itu tetap diam, ia ingin mendengarnya,
"Tapi, karena suatu pertarungan yang tidak berurutan, aku kehilangan anting-anting itu, dan aku melihat diriku menjadi seperti ini lagi", ujar gadis itu dengan nada yang mencerminkan rasa sakit hati, sedih, dan penyesalan yang dalam, ia memaksa dirinya tersenyum pahit untuk mengakhiri cerita itu agar tidak terlalu tampak seperti tragedi,
"Astaga, sebaiknya kau tidak melakukannya lagi lain kali, kau terlihat lebih baik sebagai dirimu sendiri...sedikit lebih manis sih", Senritsu berujar lembut sambil merangkul gadis itu, tentu saja dia meninggalkan bagian akhirnya untuk dirinya sendiri.
"Sepertinya kau sedang ada masalah, ada yang bisa kubantu?", tawar wanita bernama Senritsu itu, sesudah ia melepaskan dekapannya yang terasa hangat bagi Kurapika,
"Entahlah, informan-ku mengatakan kalau..Laba-laba masih hidup, semuanya", ujar gadis itu lemah, namun nada bicaranya terdengar rancu, seakan ia tidak bisa membedakan antara kesedihan dan amarahnya, untuk saat ini,
"Dan apakah kau mau memberitahuku apa yang kau pikirkan soal ini?", tanya Senritsu lembut, Kurapika hanya menghela nafas,
"Aku tidak tahu, mungkin...sebuah sesi balas dendam lagi", jawab gadis itu lemah, ia terdengar tidak terlalu bersemangat, dan sejauh ini, Senritsu belum bisa mengetahui apa penyebabnya, meskipun ia bisa mendengar nada yang menyakitkan dalam detak jantung gadis itu.
Kurapika sendiri pun tengah menghadapi dilema besar dalam hatinya, yang bahkan iapun belum sanggup mengungkapkannya,
[Bagaimana mungkin aku bisa bertarung dengan pemuda yang pernah mewarnai kehidupanku dimasa lalu?], ia mengingatkan dirinya sendiri,
[Yah, kau cukup membuat dendam Kuruta menjadi prioritasmu, dan bersikap seperti boneka tanpa hati], jawab suara lain dalam kepalanya,
[Tidak, tidak, aku tidak bisa melakukannya, aku terlalu menyayanginya, he's the sight that I need], jawab suara protagonis hatinya, dan sepertinya Kurapika setuju dengan kata hatinya yang baik itu.
Setelah melalui perdebatan yang panjang dengan alam pikirannya sendiri, akhirnya Kurapika sepakat untuk membuat sebuah rencana dengan satu tujuan: mengincar Pakunoda.
Hal ini ia lakukan demi menghindari terbongkarnya identitas dirinya, ditambah kenyataan bahwa ia sebisa mungkin ingin menghindar dari Kuroro, sejauh yang ia bisa, dengan cara apapun, untuk itu, ia meminta bantuan dari Senritsu, dan ketiga sahabatnya, Gon, Killua, dan Leorio.
Rencana pun dimulai, Killua beserta Senritsu menghampiri daerah pinggiran kota Yorkshin yang diyakini pemuda itu sebagai lokasi tempat ia dan Gon dibawa beberapa waktu sebelumnya, dan ketika mereka tiba, Senritsu, dengan pendengarannya yang sensitif, dapat mendengar langkah kaki mereka, yang kelihatannya akan pergi ke suatu tempat di kota itu, tanpa menunggu komando, keduanya segera mengikuti arah keenam anggota Laba-laba itu, dan menuju sebuah kereta yang hendak menuju kota.
Killua pun melaporkan hasil pengamatan ini pada Kurapika, yang terkejut saat mengetahui bahwa kemungkinan besar mereka menuju hotel tempat para bodyguard itu menginap, gadis itu pun segera menghubungi Sukuwara yang masih berada disana, dan memintanya untuk bergegas meninggalkan tempat itu, tanpa mengetahui bahwa Laba-laba sedang mengincar pergerakan kopian bola mata merah, Sukuwara pergi meninggalkan hotel dengan membawa benda yang mereka dapatkan dari pelelangan tersebut.
Adegan kejar-mengejar pun terjadi antara Killua-Senritsu dengan Laba-laba yang juga sedang mengincar Sukuwara dengan tujuan memburu si pengguna rantai, dan Kurapika yang mendapat laporan seperti itu, tanpa berpikir panjang, langsung saja keluar dari mobil yang ditumpanginya, ia bahkan tidak menghiraukan Leorio yang mencoba menghentikannya, melihat keadaan ini, akhirnya Gon ikut turun demi mencegah kelakuan gegabah yang bisa dilakukan gadis (pemuda dalam pandangannya) itu dalam keadaan segenting ini.
"Danchou, kita diikuti", ujar Shizuku tiba-tiba, meski gadis berkacamata itu tidak sedikitpun menurunkan kecepatan berlarinya,
"Machi, apa pendapatmu tentang orang-orang yang mengejar kita?", tanya Kuroro dingin seperti biasanya, Machi berpikir sebentar tanpa menghentikan gerakan kakinya,
"Mereka juga memiliki hubungan dengan si pengguna rantai", jawab Machi singkat, Kuroro terdiam sejenak sambil berpikir dan berlari,
"Baiklah, kalau begitu, Nobunaga, Paku, dan Koltopi, kalian kejar mata merah itu, Shizuku, Machi, kalian ikut aku", ujar Kuroro datar, nada suaranya terdengar seperti perintah,
"Baiklah", kata Pakunoda dan Koltopi secara serentak sambil mempercepat lari mereka,
"Kalau orang yang dibelakang itu ternyata si pengguna rantai, kabari aku!", seru Nobunaga sambil menjajari langkah kedua rekannya yang telah pergi lebih dahulu.
Tak lama kemudian Kuroro dan kedua bawahannya itu sedikit memperlambat gerakkan mereka dan menghentikan lari mereka secara mendadak, sadar mereka telah diketahui, Gon dan Kurapika (yang menyamar dengan mengenakan wig panjang berwarna coklat dan kacamata besar) yang melihat hal ini sedikit terkejut, mereka pun segera berpencar dan melompat kedua arah yang berbeda,
"Dimana mereka?", tanya Kuroro dengan nada dingin seperti biasanya,
"Satu di gang dan yang lainnya ditempat sampah", jawab Machi singkat,
"Gunakan Gyo", perintah sang pimpinan itu kepada kedua anggotanya, dan seketika, mata kedua wanita itu dipenuhi dengan Nen,
"Keluarlah, kami tahu kalian disana", ujar pemuda itu dengan suara datarnya, sambil mengesturkan kepada kedua wanita itu untuk mengikutinya menuju ketempat persembunyian kedua orang itu.
Sementara itu, Gon yang memperhatikan Kurapika yang berada diseberangnya merasa harus bertindak, apalagi saat ia melihat rantai-rantai itu ditangan sahabatnya itu,
Jangan Kurapika.., pikir pemuda bermata coklat itu, ia pun memejamkan matanya sebentar, lalu melaju kedepan,
"Maaf, aku tak'kan mengikuti lagi", ujar Gon sambil berdiri dihadapan ketiga orang itu dengan gestur menyerah,
Apa yang kau lakukan, Gon.., Kurapika bertanya-tanya dalam hati, dan tiba-tiba saja sepasang tangan menariknya kebelakang, sementara seorang pemuda berambut putih berjalan didepannya, menuju ke jalan raya tempat ketiga Ryodan itu berdiri.
"APA YANG KAU LAKUKAN?", seru Kurapika penuh amarah, ia sekarang sedang berada di mobil yang dikemudikan oleh Leorio dengan aman, sementara Senritsu menatap mata biru gadis itu dengan serius,
"Kau hanya membuat dirimu dalam bahaya, Kurapika!", balas Senritsu, dengan nada khawatir yang tersirat dalam nada marahnya, mengetahui yang dihadapinya adalah gadis keras kepala macam Kurapika,
"Oh, jadi menurutmu tidak apa-apa kalau itu mereka berdua? Senritsu, mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan..", jawab Kurapika marah, namun nadanya terdengar melunak diakhir kalimat, ia benar-benar mengkhawatirkan kedua anak itu,
"Kurapika, mereka berdua mengorbankan diri untukmu, kalau sampai tadi kau yang tertangkap, siapa lagi yang bisa menghentikan Laba-laba?", sahut Senritsu cukup keras, Kurapika membelalakkan matanya terkejut, dan gadis itu terdiam seperti kehabisan kata-kata, Senritsu benar, ia sudah bertindak bodoh dan mengorbankan kedua temannya yang berharga itu,
"Sekarang, dinginkan dulu kepalamu", perintah wanita itu, Kurapika pun menunduk sambil mengepalkan tangannya dengan geram.
Rencana dadakan pun dibuat, Kurapika menyuruh Leorio untuk menunggu di lobi dalam hotel dan memberitahu Gon dan Killua tentang rencana mereka melalui kata kunci, sementara Kurapika menyamar menjadi salah satu resepsionis hotel itu, menggantikan salah satu resepsionis yang terpaksa di buat tak sadarkan diri oleh gadis berambut pirang itu.
Sayangnya rencana yang dadakan yang rapi itu gagal, karena kedua anak itu tidak berhasil melepaskan diri dari ikatan benang Machi, Kurapika yang sadar akan hal tersebut segera menjalankan rencana cadangannya, ia menangkap Kuroro dengan menggunakan chain-jail, dan meninggalkan surat ancaman untuk Pakunoda.
"Pakunoda, ini untukmu", ujar Nobunaga sambil melemparkan kertas itu, Paku pun membacanya sambil sedikit menelusuri memori surat tersebut.
"Berani mengungkapkan memori kedua anak itu, Danchou kalian akan kubunuh"
Kurapika sedikit merasa kesal dengan kenyataan bahwa ia tidak berhasil menolong kedua sahabatnya itu, namun ia berharap dengan orang yang kini berada disampingnya, ia dapat memutarbalikkan keadaan.
Gadis itu sedang berusaha menenangkan dirinya dengan tetap mempertahankan posisinya, duduk dengan manis dan tatapan mata yang lurus kedepan, namun tanpa disangka-sangka sang pemimpin Laba-laba justru berniat mengusiknya,
"Apa yang kau lihat?", desis gadis itu tanpa menoleh, sebuah seringai tipis muncul diwajah pemuda itu,
"Aku tak menyangka, bahwa pengguna rantai yang selama ini kami cari, adalah seorang wanita", jawabnya dengan nada angkuh yang terdengar sangat mengesalkan ditelinga gadis itu, lalu dengan menggunakan tangan kirinya yang bebas, ia pun menarik wignya dan menghapus lipstick peach pink yang sempat mewarnai bibirnya dengan kasar, kemudian ia menoleh pada pemuda itu dengan mata birunya yang sudah berubah menjadi merah (untuk dapat mengakses 'Emperor Time' mata Kurapika harus merah),
"Aku tidak ingat pernah mengatakan kalau aku seorang perempuan, jangan sembarangan berasumsi!", Kurapika berujar penuh emosi, hampir terdengar seperti bentakan, dan melihat seperti apa si pengguna rantai membuat Kuroro kehabisan kata-kata, karena ia terlihat sangat mirip dengan gadis kecil yang pernah dikenalnya, dan rasa penasaran benar-benar menguasainya hingga ia tidak dapat memikirkan cara lain untuk memastikan dugaannya, dan tanpa diduga-duga olehnya, gadis itupun sedikit lengah, sehingga pemuda itu berhasil menciumnya, dan tentu saja Kuroro menjadi sangat terkejut, seperti halnya Kurapika, yang langsung menarik tubuhnya menjauh dari pemuda itu dalam beberapa detik selanjutnya,
"Apa yang kaulakukan?", pekik gadis itu keras, wajahnya menunjukkan emosi yang mendalam dan penuh dengan amarah, meski semburat merah tipis terlihat mewarnai pipinya, Kuroro tersenyum melihatnya, sebuah senyuman yang terlihat seperti sebuah rasa bangga, karena ia berhasil memastikan semuanya,
"Hn, apa ya, mungkin yang kulakukan adalah..tidak membuat asumsi-", katanya datar dengan maksud menggoda gadis itu,
"Lagipula, kalau kau memang laki-laki, kau tidak akan blushing begitu", lanjutnya, yang tentu saja memancing amarah gadis itu hingga ia mengepalkan tangannya dan melayangkan tinjunya kearah wajah sang pemuda, beberapa kali untuk menenangkan dirinya.
Pada saat yang sama, di Hotel Wistakle sendiri, terlihat beberapa orang Ryodan datang, setelah mendengar kabar bahwa pimpinan mereka tertangkap,
"He! Kalian lagi!", seru Nobunaga saat melihat Gon dan Kilua yang terikat oleh benang Machi,
"Apa yang sebenarnya terjadi?", tanya Phinks geram ,
"Sesaat tadi ruangan menjadi gelap, lalu kedua anak ini berusaha melepaskan diri, dan saat lampu menyala, Danchou sudah menghilang", jawab salah seorang diantara anggota yang berada disana sejak tadi, Pakunoda.
Tak lama berselang, tibalah Shalnark, yang datang bersama Mocha,
"Gon! Killua!", seru Mocha dengan nada gembira, sementara kedua anak itu saling tatap-menatap dengan wajah bertanya-tanya,
"Apa kau sandera mereka juga?", tanya Gon polos, Mocha hanya menghela nafas pendek,
"Bukan, sebenarnya...aku adik Danchou mereka", jawab bocah berambut hitam itu dengan nada sendu, ia merasa bahwa setelah ini kedua teman hunter-nya itu akan membencinya,
"Oh, begitu ya", sahut Gon tanpa terdengar marah, sepertinya ia bisa menerima kenyataan itu, sementara Killua terlihat sedikit kesal karena hal tersebut,
"Hn, pantas saja kau datang dengan anggota Genei Ryodan sebagai pengawalmu", ujar pemuda berambut putih itu dengan nada sinis, mengingat kehadiran pemuda berambut pirang pasir yang saat ini juga datang bersamanya, Shalnark.
Mendengar hal ini, Machi hampir saja memutilasi kedua anak itu dengan mengeratkan ikatan benangnya, tapi pemuda bertubuh kecil itu menghentikannya,
"Mereka..temanku, jangan sakiti mereka lebih dari ini", ujar Mocha sendu, sepertinya ia cukup terpukul dengan kata-kata Killua barusan,
"Baiklah", jawab Machi singkat.
Sementara mereka sedang berdebat mengenai apa yang akan mereka lakukan setelah ini, tiba-tiba terdengar dering telpon dari ponsel milik Phinks,
"Dari Danchou", ujarnya singkat, yang langsung saja membuat perhatian terpusat kepadanya,
"Angkatlah", ujar seorang pria dengan penutup mulut bernama Feitan,
"Baiklah..ngg..Hallo?", sapa Phinks pada penelpon diujung sana,
"Apa sandera baik-baik saja? Aku ingin bicara dengan salah satu diantara mereka", jawab Kurapika dengan nada dingin dan mengancam, Phinks hanya mengangkat bahunya,
"Baiklah", ujarnya singkat, lalu ia berjalan kearah kedua sandera itu dan menempelkan ponsel itu ketelinga Gon,
"Ini, telpon dari mama", ujarnya setengah mengejek, Mocha yang mendengar hal ini tersenyum geli, karena ia tahu bahwa orang yang sedang berbicara itu benarlah seorang gadis yang sedang menyamar menjadi seorang laki-laki,
"Hallo, Kurapika?", sapa Gon dengan nada tenang, tanpa menyadari bahwa hal ini ternyata berdampak pada salah satu anggota Ryodan yang lain,
Apa? Kurapika?, tanya Shalnark dalam hati, ia terlihat sedikit tersentak.
Lalu ponsel itu kembali ke tangan Phinks, dan Kurapika pun memulai negosiasinya,
"Aku akan mengajukan 2 syarat, yang pertama, jangan menyakiti sandera, yang kedua, kuperintahkan pada kalian untuk kembali ke markas kalian, kalau kau tidak melaksanakan salah satunya, akan kubunuh Danchou kalian", papar gadis itu sambil mengancam, namun tanpa bertanya-tanya pada rekannya, Phinks bicara seenaknya,
"Akh, maaf, mengenai syarat yang pertama, temanmu disini sudah mengalami patah tangan dan kaki, lalu salah satu dari mereka juga mengalami retak di bagian kepala sebelum kami datang", ujar pria tanpa alis itu santai, yang ternyata membuat Kurapika marah,
"Kalau begitu negosiasi dibatalkan!", seru gadis itu sambil menutup telponnya,
"Sial, dia memutus telponnya, dasar orang yang tidak punya selera humor", ujar Phinks setengah menggerutu, yang langsung mendapat sambutan berupa pukulan dikepala, oleh dua orang rekannya, "
Telpon lagi", ujar salah seorang diantara mereka yang bernama Feitan,
"Baik, baik, aku telpon lagi", keluh Phinks dengan nada pasrah,
"Oh, hallo, maaf, tadi aku hahya bercanda", ujarnya pada Kurapika,
"Baiklah, aku ingin bicara dengan yang bernama Pakunoda", jawab suara itu, Phinks pun menghela nafas berat, lalu melemparkan ponsel tersebut pada Pakunoda,
"Paku, dia ingin bicara denganmu", katanya, lalu Kurapika pun memberi pengarahan pada Pakunoda mengenai teknis pertukaran sandera yang ia rencanakan.
Seusai memberi pengarah pada Pakunoda, gadis itu menutup telponnya, dan menoleh pada pria berambut hitam yang berada didekatnya,
"Kurapika, maaf", ujar pemuda itu entah untuk yang keberapa kalinya sejak mereka tiba di sebuah ruangan dalam balon angkasa ini, Kurapika masih berdiri membelakanginya dengan rantainya masih mengikat pemuda itu, airmata menetes dari sudut mata gadis berambut pirang itu,
"Aku...tidak...bisa memaafkanmu", jawab gadis itu dengan suara yang terdengar bergetar,
"Kenapa, Kurapika?", tanya pemuda itu, berusaha mendesak sang gadis, Kurapika sendiri hanya menghela nafasnya dengan berat dan berbalik menghadap pemuda itu setelah menghapus airmata dipipinya,
"Karena, sekalipun aku memaafkanmu, itu tidak akan membuat nenekku kembali, kan?", jawab Kurapika dengan suara yang semakin penuh dengan kesedihan, airmata tampak menggenangi matanya, dan membuat mata biru gadis itu terlihat berkaca-kaca, ia bahkan tidak sadar bahwa dalam keadaaan seperti itu, ia telah melepaskan rantai yang mengikat sang pemuda,
"Kau tahu aku tidak pernah bermaksud menyakitimu..", Kuroro berujar sendu,
"Ini hanya sebuah kesalahpahaman, aku tidak tahu bahwa itu keluargamu, dan..klien-klien itu bahkan mencegah Shalnark memberitahuku", ia berkata lagi, Kurapika mengernyitkan dahinya,
"Apa maksudmu dengan 'klien-klien itu mencegah Shalnark memberitahumu', apa yang mereka lakukan, pada..sepupuku itu?", Kurapika balik bertanya dengan nada marah tersirat dibalik suaranya yang bergetar sedih,
"Mereka menculiknya, dan baru melepaskannya saat semua telah terjadi", ujar Kuroro, ia tidak tahu lagi mesti berkata apa selain memberitahu Kurapika yang sejujurnya,
"Hah? Mereka sampai berbuat seperti itu! Bagaimana mungkin kau tidak tahu kalau bukan karena kau setuju?", seru gadis itu lantang, ia mulai menangis,
"Kau tidak mengerti bagaimana perasaanku saat itu, aku melihat..", ujar Kurapika sendu, airmatanya masih berjatuhan dipipi dan dagunya, Kuroro berusaha untuk mempersempit jarak diantara mereka agar ia bisa memeluknya, sungguh, ia tidak bisa melihat Kurapika seperti ini,
"Apa? Apa yang kau lihat?", tanya pemuda itu penasaran, dan Kurapika hampir saja menjawab 'kau' seandainya Leorio tidak membuka pintu dan menginterupsi,
"Kita sudah sampai, Kurapika", ia berujar dari balik pintu yang terbuka sedikit itu,
"Ya, aku akan kesana sebentar lagi", jawab Kurapika dingin, lalu ia kembali menoleh pada Kuroro,
"Lebih baik kau pergi, dan kita berpisah karena aku sudah pernah mati di hidupmu", ujar Kurapika sendu, sambil menghapus airmata diwajahnya,
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu pergi untuk kedua kalinya", jawab Kuroro sambil mendekat kearah gadis itu dan menciumnya lagi dengan begitu lembut sambil mendekapnya, Kurapika yang sempat memberontakpun akhirnya menyerah, membiarkan momen indah itu menghapus seluruh gemuruh dendam yang menguasainya selama 5 tahun terakhir ini, namun saat keduanya berhenti untuk mengambil nafas, gadis itu segera kembali kealam nyata dan pikirannya yang sesungguhnya, ia menggigit bibir bawahnya dengan penuh rasa sesal,
"Anggap saja itu yang tadi tidak pernah ada", katanya sambil kembali memanggil rantainya untuk mengikat pemuda itu.
Sesampainya mereka di koridor balon angkasa itu, Kuroro menatap rekannya yang bernama Pakunoda itu dengan pandangan hampa, ia terlihat basah karena derai hujan dan sorot matanya menampakkan kekhawatiran,
"Kita lakukan pertukarannya", ujar Kurapika dingin, ia melepaskan ikatan rantainya dan membiarkan Kuroro berjalan pergi, sambil menghela nafas demi menenangkan pikiran dan emosinya, lalu saat melihat kedua temannya itu semakin mendekat kearahnya, wajahnya terlihat senang, sebuah senyuman terukir diwajahnya.
Pakunoda membiarkan kedua anak itu pergi, dan melihat sang pimpinan berjalan kearahnya dengan sebuah sorot kecewa terlihat dimatanya yang gelap,
Mungkin ia tidak menyukainya, tapi..kami masih membutuhkanmu..Danchou, pikir wanita itu, tanpa tahu bahwa sorot mata itu tidak tertuju pada Laba-laba, karena ia sama sekali tidak memikirkan itu, melainkan pada dirinya sendiri, dan takdir yang telah membuat ia melakukan sebuah kesalahan besar, membantai Suku Kuruta, membuat gadis yang pernah menjadi bagian paling terang dalam hidupnya itu menghilang, dan mungkin saja ia tidak akan pernah kembali lagi.
Jadi, saat kedua Laba-laba itu berjalan bersisian menuju ke markas mereka, tak satu kata pun terucap diantara keduanya, karena sementara sang wanita merasa bingung, sang pemuda merasa kecewa dan penuh sesal.
Did you regret
Ever standing by my side
Did you forget
What we were feeling inside
Now I'm left, to forget
About us
A/N: so, this is the end of this fic.
I hope you all satisfied, and enjoy reading it,
Like the time I've spent writing it.
End words,
Don't forget to review~
And see you again in the next fic
.
p.s. the sixth one failed to being the longest, because this one is longer, and so, this is the longest chapter throughout the story~
tschus~
