Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

Warning : OCC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan.

Genre : Fantasy-Tragedy

Normal POV

Don't Like Don't Read

~Stories~

.

.

.

Kediaman Uchiha.

Pagar rumah Sasuke tidak terkunci, Naruto menjalankan motornya sampai di depan teras rumah Sasuke. Rumah Sasuke tampak sepi, di pagarnya pun tidak ada yang menjaga, di halaman tidak ada pelayan yang berlalu-lalang seperti biasanya, berkali-kali Naruto mengetuk dan membunyikan bel, namun tidak ada yang membukakan pintu, Naruto berjalan menuju halaman belakang dan berniat masuk melalui dapur, saat memegang gagang pintu dapur, seseorang tiba-tiba memukul Naruto dari belakang.

"Dasar pencuri!"kata seorang kakek-kakek tua sambil memegang sapu sebagai tamengnya.

"Tu-tunggu dulu, aku bukan pencuri"

"Lalu? Kau siapa? Berani-beraninya masuk ke rumah orang tanpa ijin"

"Aku temannya Sasuke, yang punya rumah ini"

Kakek-kakek itu menjadi tenang dan menurunkan sapunya.

"Tuan muda Uchiha yaa, aku pikir kau pencuri, hahaha"

"Kenapa tempat ini sepi sekali?"

"Aku tidak tahu, rumah ini sudah lama di tinggalkan Tuan besar Uchiha serta anak-anaknya, sebaiknya kau pulang"

"APA...! Jadi, mereka sekarang dimana?"

"Aku juga tidak tahu, setelah mereka pergi, tuan besar Uchiha menyuruhku untuk menjaga rumah ini"

"Apa dia tidak memberitahu alamatnya yang sekarang?"

"Tidak, mereka tidak memberitahuku"

"Hmm, terima kasih" Kata Naruto dan pamit pulang.

Saat dijalanan Naruto masih memikirkan kata-kata Kakek-kakek tua itu, sepertinya ada hal yang disembunyikan, Sasuke pindah rumah dan dia tidak memberitahukannya, ponsel Sasuke pun tidak bisa dihubungi, Naruto merasa hanya Sakura yang tahu sesuatu, namun kalimat Sakura saat mereka menelpon juga tidak memberikan titik terang Sasuke sekarang berada dimana. Naruto semakin penasaran apa yang telah terjadi dengan Sasuke.

.

.

.

Keesokkan harinya.

Seorang gadis dengan rambut soft pinknya hanya memandangi tempat dimana sekarang dia berada, sebagian gedung tempat itu hancur, taman yang dulunya penuh dengan bunga-bunga rusak dan mati.

"Lama tidak jumpa yaa,Sakura-chan"

Sakura berbalik dan mendapati seorang lelaki dengan rambut blondenya sambil nyengir.

"Naruto"

"Aku senang bisa melihatmu kembali"

"Aku juga"

"Waah, tempat ini betul-betul rusak yaa" Kata Naruto sambil memandangi setiap sudut sekolah mereka yang sudah hancur akibat pertempuran R.

"Iya" kata Sakura dan juga melihat sekeliling tempat itu.

"Sakura-chan"

"Ada apa?"

"Sasuke, apa tidak ada kabar darinya?"

Mendengar kata-kata Naruto Sakura hanya tertunduk lesu, matanya tidak bisa menatap Naruto.


Flashback

Saat Sakura sedang membereskan barang-barang Sasuke, Sasuke berjalan dan duduk di samping Sakura.

"Jika Naruto mencariku, katakan saja, kau tidak tahu apa-apa"

"Eh? Kenapa? Dia akan khawatir padamu?"

"Aku tidak ingin dia tahu masalah yang telah tejadi dirumahku"

"Tapi, kalian itu-"

"-Yaah, aku tahu, aku hanya ingin dia tidak mencampuri masalahku, walaupun dia sahabatku sekalipun"

Sakura hanya terdiam dan tidak berkomentar apapun.

End FlashBack


"Ada apa Sakura-chan?" tanya Naruto, melihat Sakura hanya terdiam.

"A-aku tidak apa-apa"

"Katakan saja jika terjadi sesuatu"

"Tidak ada"

"Apa Sasuke mencampakanmu?"

"Hee... bukan begitu, kami baik-baik saja"

"Lalu, kenapa dia pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun pada kita?"

Sakura lagi-lagi terdiam, Sakura sudah terlanjur memegang janji untuk tidak menceritakan apapun kepada Naruto.

Perlahan Naruto menggerakkan kedua tangannya dan memegang bahu Sakura, matanya tertuju pada mata Sakura.

"Tolong katakan sesuatu Sakura-chan, apa kau tahu Sasuke dimana?"

Sakura mengalihkan pandangnya, tidak ingin menatap langsung kearah Naruto.

"Aku tidak tahu apa-apa"

Naruto langsung memeluk Sakura " Aku sangat khawatir padamu dan Sasuke, kalian berdua tiba-tiba menghilang dari sisiku, aku tidak ingin kehilangan kalian berdua"

Lagi-lagi Sakura tidak mengucapkan apa-apa dan hanya membalas pelukkan Naruto "Maaf, Naruto" Kata Sakura dalam hati.

"Apa mau aku antar pulang?" Tawar Naruto.

"Tidak perlu, aku ingin pulang sendiri saja"

"Hee, apa-apaan kau, cepat naik, akan aku antar kerumahmu, hari sudah sore"

"Kau ini tetap keras kepala, aku bisa pulang sendiri"

"Ayolah, akan aku antar"

Triiit...triiiiitt...

Too-san calling

"Ada apa, Too-san?" Kata Naruto.

"Segera ke markas dan lakukan uji pakai lagi"

"Apa! Sekarang?"

"Iya, cepatlah"

"Tapi-"

Tuuut...tuuuut...

"Ada apa Naruto?"

"Too-san menyuruhku ke markas Uzumaki"

"Ya sudah, pergilah"

"Tapi, aku ingin mengantarmu"

"Aku bisa pulang sendiri" kata Sakura sambil tersenyum.

"Baiklah, kau hati-hati dijalan yaa"

"Iya, Dah"

Naruto menarik gas motornya dan segera melaju kearah jalanan.


Setelah sampai dipusat berbelanja, Sakura menunggu Sasuke di tepi jalan sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang, pusat berbelanja di negera Konoha ini sangat ramai dengan aktivitas orang pada pagi hari hingga malamnya, tidak jarang tempat itu tidak pernah sunyi oleh keramaian, toko-toko dengan beraneka barang-barang dan cafe-cafe yang tertata rapi di sepanjang jalan.

"Merindukanku?" Kata seseorang yang tiba-tiba memeluk Sakura dari belakang.

"Hentikan, disini banyak orang" kata Sakura dengan wajahnya yang memerah.

Sasuke melepaskan pelukkannya dan berdiri disamping Sakura "Apa mau ke sebuah cafe?"

"Mau, kita ke cafe yang sana yaa" Pinta Sakura menunjuk sebuah cafe yang terkenal dengan kuenya yang enak-enak.

"Aku tidak suka makan yang manis-manis"

"Aku tahu itu, makanya kita kesana, ada kue yang rasanya kayak tomat loh" kata Sakura.

"Kau menang, kita kesana"

Setelah memesan sebuah kue dan minuman, Sakura menceritakan pertemuannya hari ini dengan Naruto, Sasuke hanya mendengar semua cerita Sakura tanpa berkomentar, meja mereka yang dekat dengan jendela, membuat Sasuke menopang dagunya dan terus menetap keluar jendela.

"Ini pesanan anda" kata seorang pelayan dengan ramah dan menaruh pesanan Sasuke dan Sakura "selamat menikmati" sambungnya dan melangkahkan kaki.

"Ngomong-ngomong, apa yang mau kau bicarakan?" tanya Sakura sambil memakan sesuap kue coklatnya dengan krim putih dan sebuah stoberi di atasnya.

"Setelah makan ini akan aku ceritakan"

"Kenapa tidak sekarang saja?"

"Tidak, selesaikan makanmu dulu"

"Iya"

Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah keluar dari cafe dan berjalan menuju sebuah pantai yang tidak jauh dari pusat berbelanja itu.

Tibalah mereka di pantai, pantai yang tidak begitu ramai di sore hari, hanya ada beberapa orang yang berjalan di pesisir pantai itu dan anak-anak kecil bermain air, Sasuke dan Sakura berdiri di pagar pembatas antara pasir pantai dan jalan beraspal.

"Too-san akan mengajakku pergi ke sebuah pulau tempat salah satu perusahaannya, dia memintaku untuk mengembangkan perusahaannya di sana" kata Sasuke.

"Hmm, Jadi, kau akan pergi lama?" kata Sakura dan sedikit menundukkan wajahnya.

"Hn, dan aku tidak tahu kapan aku bisa kembali lagi ke Konoha"

Sakura tambah menundukkan wajahnya, kemudian mengangkat wajahnya sambil terseyum "Itu berita yang bagus, kau jadi punya tujuan sekarang" kata Sakura dengan senyumnya yang sepertinya di paksa.

Sasuke tidak mengucapkan apa-apapun dan hanya terdiam menatap Sakura,

"Ada apa?" Tanya Sakura.

"Bagaimana perasaanmu saat aku pergi?"

Sakura terkejut mendengar pertanyaan Sasuke, wajahnya kembali menunduk dan tidak berani menatap mata Sasuke yang memintanya untuk jujur.

"Aku harus mendukung apapun yang kau lakukan"

"Bukan jawaban itu yang aku minta, jawab dengan jujur"

Sakura terdiam cukup lama, sambil menarik napas dan menghembuskannya perlahan, Sakura mulai berbicara " Tentu saja aku akan merasa kehilanganmu, tapi... tapi itu adalah masa depanmu, kau harus mengikutinya, walaupun kita akan terpisah dan tidak akan bertemu lagi, tidak masalah buatku"

Tangan yang kekar menariknya dalam pelukkan, Sakura lagi-lagi terdiam, Sakura tidak bisa melanjutkkan kata-katanya saat berada di pelukan Sasuke.

"Aku akan kembali, aku janji itu" kata Sasuke, mengeratkan pelukkannya. Sakura hanya mengangguk dan memeluk Sasuke.

Hari sudah malam, Sasuke mengantar Sakura pulang, sesampainya di depan gerbang rumah Sakura.

"Tunggu sebentar" Kata Sasuke.

Sakura yang baru turun dari motor Sasuke, berdiri dan menunggu Sasuke yang sedang sibuk mencari sesuatu, setelah mendapatkan sebuah benda perak dengan beberapa hiasan.

"Ini untukmu" kata Sasuke sambil melingkarkan sebuah gelang perak dengan Hiasan peraknya berlambangkan marga Uchiha 'kipas' dan bunga Sakura.

"Indah sekali" Kata Sakura sambil memperhatikan hiasan yang ada di gelang itu.

"Jika aku kembali, benda itu harus selalu ada di pergelanganmu"

"Tentu, terima kasih Sasuke-kun" Kata Sakura.

"Hn" ucap Sasuke sambil membelai lembut puncuk kepala Sakura.

"Jaga dirimu"

"Pasti, kau juga"

Sakura mengangguk. Kemudian Sasuke mencium sepintas bibir Sakura dan melajukan motornya ke jalanan, Sakura melambaikan tangannya dengan wajahnya yang sedang memerah.

.

.

.

"Naruto, ayo cepat bangun" Bisik Minato saat di kamar Naruto.

"Hoaam, ada apa Too-san, ini belum pagi, bangunnnya nanti saja" Kata Naruto dalam keadaan setengah sadar bangun dan kembali tidur.

"Dasar anak ini, ayo cepat" Kata Minato dan memaksanya bangkit dari kasurnya, sesampainya di lantai 1, Kushina juga sudah bersiap-siap.

"Kaa-san, ada apa ini? Kenapa aku harus bangun jam segini?" kata Naruto, bingung dengan sikap kedua orang tuanya.

"Ssshht, pelankan suaramu, ayo cepat pergi" Kata Kushina, Naruto yang masih bingung hanya mematung dan di dorong Minato agar cepat mengikuti Kushina, sesampainya di kamar Orang tuanya, Minato dan Kushina menyuruh Naruto merangkak di bawah ranjang mereka, Naruto mengikuti saja kata-kata orang tuanya, saat sampai di tengah-tengah ranjang, Minato menyuruh Naruto menarik seutas tali yang ada disitu dan terbukalah sebuah jalan rahasia, Naruto masuk duluan dan disusul Kushina kemudian Minato, jalan rahasia itu seperti sebuah lorong kecil yang hanya bisa di lewati satu-persatu, Naruto jalan pertama dan di belakangnya ada Kushina dan di belakang lagi ada Minato.

"Kaa-san, ada apa sebenarnya ini? Kenapa kita harus melewati lorong yang aneh ini?"

"Diamlah dan tetap jalan" kata Kushina.

"Nanti kami akan menjelaskan semuanya" Kata Minato.

Naruto dengan mukanya yang kusut karena tidurnya di ganggu berjalan perlahan-lahan, tiba-tiba terdengar sebuah ledakan besar dari ujung lorong saat mereka masuk tadi. Naruto berhenti berjalan dan berbalik.

"Suara apa itu?" Tanya Naruto.

"Kenapa berhenti, ayo cepat jalan" kata Kushina.

"Kaa-san cerewet sekali"

"Apa! Kau ingin aku pukul, ha!"

"Hei kalian berdua sudahlah"


Di kediaman Uzumaki, hanya terlihat puing-puing sisa dari ledakan tadi, rumah Naruto hancur berantakan, masih terdapat beberapa asap di beberapa tempat, terlihat beberapa orang sedang membongkar-bongkar puing-puing itu.

"Lapor, kami tidak menemukan apapun, satupun mayat juga tidak ada, para pelayannya juga tidak ada, rumah ini kosong"

"Sepertinya mereka sudah tahu sejak awal, cepat kosongkan tempat itu" kata sebuah suara melalui telepon genggam.

Mereka bergegas menaiki sebuah mobil dan meninggalkan tempat itu.

.

.

.

Sesampainya di sebuah ruangan, Naruto langsung berbaring di kasur yang ada diruangan itu.

"Aku ngantuk sekali, apa ini ruangan rahasia Too-san dan Kaa-san?" tanya Naruto sambil berbaring dan menatap kedua orang tuanya yang tengah duduk di salah satu sofa, ruangan itu lumayan kecil, hanya ada satu buah kasur dan sofa panjang.

"Ini tempat buat kita melarikan diri jika terjadi sesuatu dirumah"Kata Kushina.

"Suara yang kau dengar tadi adalah suara ledakan dari rumah kita" kata Minato.

"Apa! Rumah kita meledak? Kenapa seperti itu? Lalu, kita akan tinggal dimana?" Kata Naruto dengan tatapannya yang begitu kaget.

"Sepertinya ada yang merencanakan hal ini, mereka berniat membunuh kita, motifnya sendiri aku tidak tahu, untuk sementara kita akan tinggal di Villa yang ada di bukit" ucap Minato.

"Bagaimana dengan semua pelayan? Apa mereka di biarkan tetap dirumah?"

"Mereka semua aman, Pintu rahasia ada dua yang satu berada di ruangan salah satu kamar pelayan, mereka semua sudah lebih dulu keluar, dan sekarang mereka akan di antar ke Villa.

"Merepotkan saja, Rumah kita diledakkan begitu saja, awas saja kalau aku tahu pelakunya" kata Kushina.

"Tenanglah Kushina" kata Minato.


"Ini adalah ruangan Tuan, ruangan ini sudah didesain agar Tuan tetap nyaman" Kata seorang gadis kepada Sasuke.

Pintu ruangan itu bergeser dengan sendirinya dan terlihat di dalamnya, sebuah ruangan yang sangat luas, terdapat sebuah tempat tidur yang lumayan besar berada di sudut ruangan itu, terdapat 2 buah sofa dengan beralaskan karpet coklat, di sudut lainnya terdapat sebuah pintu, dan di dalamnya adalah kamar mandi, sebuah lemari yang cukup besar dan agak panjang, di dalamnya tertata rapi pakaian sasuke, disudut lainnya terdapat kulkas yang cukup besar dengan dua pintu. Sebuah jendela yang langsung mengarah kearah laut.

"Jika anda butuh sesuatu segera tekan ponsel yang ada didinding itu" Kata gadis itu dan menunjukkan sebuah ponsel bergantung yang ada dinding.

"Hn" ucap Sasuke dan gadis itu segera pergi.

Sasuke berjalan menuju jendela dan menatap keluar "Apa maksud Too-san, mengirimku ketempat seperti ini?" kata Sasuke dan tetap menatap laut lepas.


Triit...triittt...

Itachi-Nii calling.

"Ada apa?"

"Kau sekarang ada dimana?"

"Sebuah pulau"

"Ternyata Too-san betul-betul mengajakmu ketempat itu"

"Apa maksudnya dengan tempat itu?"

"Pulau itu adalah tempat mengembangkan senjata, Too-san sengaja membeli pulau itu untuk merakit senjata, dan asal kau tahu saja di tempat itu Too-san menyimpan data rahasianya yang dicari oleh banyak orang"

Tiba-tiba Sasuke mengingat Kaa-sannya dan orang-orang yang datang mencari data rahasia itu.

"Aku tidak mengerti"

"Ceritanya sangat panjang, nanti saja saat kita bertemu akan aku jelaskan semuanya"

"Aku ingin sekarang"

"Maaf, Sasuke, sekarang aku sedang sibuk, ceritanya nanti saja, dah"

"Tunggu"

Tuuut...tuuut...

Sasuke hanya berdecak kesal dan melempar ponselnya ke kasur.

.

.

.

Beberapa minggu setelah Sasuke tinggal di pulau itu, Fugaku mengajaknya kesebuah gedung yang sangat besar dan luas. Saat memasuki gedung itu, beberapa orag terlihat sibuk dan berjalan-jalan di dalam gedung itu, beberapa ada yang memakai pakaian serba putih, dan ada yang memakai baju tukang mekanik berwarna biru dengan lambang Uchiha 'Kipas merah dibagian atas dan putih pada bagian bawah' pada belakang baju mereka, Sasuke hanya terdiam mengikuti Fugaku sambil sesekali memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang.

Setelah menaiki lif yang turun kebawah, Sasuke di ajak di sebuah tempat yang terdapat banyak R 'Robot' Ukurannya yang sangat besar, dan tertata rapi di ruangan itu, masing-masing R bertuliskan 01 hingga 20, cukup banyak, namun ruangan itu hanya dilewati dan masuklah Sasuke diruangan yang hanya terdapat satu R, Pada lenganya bertuliskan R-Zero.

"Bagaimana menurutmu?" Tanya Fugaku.

Sasuke masih tidak berbicara dan hanya memperhatikan Robot itu "Biasa saja" Ucap Sasuke asal.

"Hahaha, memang kalau hanya dilihat akan biasa saja, tapi ini adalah R tipe yang berbeda dengan R yang kau lihat tadi, R ini sudah didesain dapat bergerak cepat dan kekuatan tempurnya sangat stabil, mesinnya juga dibuat khusus, musuh dengan tipe bagaimanapun, dengan R ini tidak akan terkalahkan" Kata Fugaku, menjelaskan tiap inci R ini dengan bangga.

"Langsung saja intinya" Kata Sasuke mulai bosan dengan penjelasan Too-sannya.

"Aku ingin kau menjadi pilot R-Zero ini"

"Bagaimana jika aku tidak mau?"

"Hmm, aku tidak bisa memaksamu, aku hanya ingin mempercayakan senjata rahasia ini kepadamu, sudah bertahun-tahun aku mengembangkan R-Zero ini dan mencari orang yang tepat sebagai pilotnya"

Sasuke hanya terdiam dan memperhatikan R-Zero.

"Kau bisa mencari orang yang membunuh Mikoto" sambung Fugaku.

Mendengar nama kaa-sannya Sasuke sedikit terkejut namun tetap dengan wajah datarnya tidak memperlihat dirinya sedang marah mendengar kata-kata Too-sannya.

"Akan aku pikirkan" Kata Sasuke dan meninggalkan tempat itu, mencari udarah segar di lantai paling atas di gedung itu.

"Aku mengandalkanmu, Sasuke"

Fugaku yang melihat Anaknya itu hanya tersenyum puas menggunakan nama Istrinya untuk memancing Sasuke.

Peperangan semakin sengit, setiap ada pengiriman senjata, sejumlah R-wing segera menghentikan transaksi pengiriman senjata itu. Tidak menutup kemungkinan terjadi adu tembak dan pertempuran Robot antar mereka, pasukan Uzumaki dan pasukan Uchiha, tidak ada yang mau mengalah atau mengibarkan bendera putih, warga yang dilindungi pemerintahan Uzumaki tidak luput dari peperangan ini, mereka di bunuh secara membabi-buta.

Minato yang sudah sangat kesal dengan tingkah Fugaku dan beberapa orang yang tergabung di dalamnya, mereka seakan-akan menginginkan negara damai dengan cara peperangan.

Naruto yang sudah menjadi pilot handal menjadi kekuatan utama dalam pasukan Uzumaki, sedangkan Sasuke yang ditempatkan di pasukan sebelah selatan menjadi pilot utama dan berhasil menduduki beberapa tempat sebagai hasil dari pertempurannya.

Selama itu Sasuke dan Naruto belum bertemu dalam satu medan tempur, Sasuke juga masih mencari-cari pelaku yang membunuh Kaa-sannya, Fugaku mengatakan pada Sasuke, Dia mencurigai orang-orang yang tergabung dalam R-Wing adalah pembunuh Mikoto, hal itulah yang menjadi pemicuh Sasuke bersedia menjadi pilot R-Zero.


"Sakura" Panggil seseorang.

"..."

"Sakura" nama itu terulang dimulut orang itu.

"Eh, i-iya, ada apa Chiyo Baa-san?"

"Lagi-lagi melamun, kenapa akhir-akhir ini kau melamun?"

"Melamun? Ti-tidak, aku tidak melamun"

"Jelas-jelas kau tadi melamun" Kata Nenek Chiyo sambil menyentil pelan jidat Sakura.

"Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi"

"Apa kau merindukan Sasuke?"

"Iya, tapi aku sudah memegang janji, dan aku akan tetap menunggunya"

"Gadis yang baik, Sasuke beruntung mendapatkanmu"

Sakura hanya tertunduk dengan semburat merah menghiasai wajah putihnya.

"Naruto, tumben dia tidak terlihat" tanya nenek Chiyo.

"Naruto sedang sibuk menjadi pilot untuk melindungi negera ini, kemarin lalu aku sempat bertemu dan dia bilang dia sekarang adalah seorang pilot R-wing, Oh iya, jika Pemerintahan Uzumaki yang mengendalikan semua R-wing, maka yang jadi lawan mereka, siapa?"

"Akhirnya kau menanyakan hal ini juga" Kata Nenek Chiyo sambil berjalan menduduki sebuah sofa.

"Apa maksudnya?" Tanya Sakura sedikit bingung dengan kata-kata Nenek Chiyo dan berjalan duduk di samping Nenek Chiyo.

"Kau sama sekali tidak tahu siapa yang mereka lawan,kan?"

Sakura mengangguk pasti dan alisnya mengirut seakan-akan bertambah bingung.

"Yang mereka lawan itu adalah... Pasukan pemberontak Uchiha"

Kaget, itulah ekspresi yang sekarang terlihat dari wajah Sakura, Sakura masih terdiam cukup lama.

"I-ini tidak mungkin"

"Maaf, tidak memberitahukanmu sebelumnya, aku memiliki mata-mata yang ada di pasukan pemberontak, dan setelah diselidiki mereka adalah Uchiha dengan beberapa orang yang terlibat didalamnya, antara lain Orochimaru, Madara, akatsuki dan beberapa orang lainnya yang sangat berpengaruh di negara ini"

"Naruto, Sasuke, Apa mereka tahu hal ini?"

"Sepertinya tidak, mereka tidak tahu sama sekali"

"Aku harus menghubungi mereka" Kata Sakura dan bergegas menelpon Naruto, namun nomor Naruto tidak bisa dihubungi, begitu juga Sasuke.

"Bagaimana?" Tanya Nenek Chiyo.

"Tidak bisa, mereka berdua tidak bisa dihubungi, Mereka berdua harus diberitahukan segera!"

"Itu mustahil, sistem keamanan mereka di jaga ketat, dan tidak sembarang orang bisa masuk, sedangkan Sasuke, mata-mataku hanya mampu berada di gedung perusahaan Uchiha, Sasuke sekarang berada di sebuah pulau yang belum bisa di lacak dengan radar pemantau"

"Apa yang harus aku lakukan? Jika begini terus, mereka... Hiks.." Air mata Sakura mulai mengalir, Sakura tidak bisa membayangkan jika mereka berdua bertemu di medan perang. Nenek Chiyo merangkul Sakura dan mencoba menenangkannya.

"Pergilah ke dermaga di sebelah selatan negara Konoha, kau mungkin bisa bertemu dengan Sasuke" Kata Nenek Chiyo.

Sakura yang mendengar hal itu bergegas mengemas barang-barangnya dan bergegas ketempat yang nenek Chiyo katakan, setelah berpamitan, supir pribadi Nenek Chiyo segara mengantar Sakura.


"Pilot Sasuke, siap!" ucap Sasuke dan R-zero melaju di lintas tempat keluar, Sasuke menerbangkan R-zeronya dengan cepat menuju dermaga,

Beberapa menit Sasuke sudah Sampai di dermaga dan dengan segera menembaki beberapa R wing yang ada di situ, R-01 dan R-02 rusak parah, Sasuke yang datang dengan R-10, R-15, dan R-06 segera membawa teman-teman mereka yang terluka, Sementara yang lain masih menyelamatkan yang masih hidup, Sasuke menyerang R-wing, pergerakan R-wing lebih lambang dari Sasuke, Sasuke dengan R-zeronya yang memiliki sistem cepat bergerak, memudahkan Sasuke untuk menghancurkan R-wing yang ada di hadapannya.

Tinggal 2 R-wing yang masih bersembunyi di puing-puing dermaga, Sasuke dengan kosentari menatap layar R-zeronya dan mencari musuh yang masih bersembunyi, layar R-zero menangkap seseorang yang sedang berlari, Sasuke menatap kaget ke arah layar zero, seorang gadis berambut soft pink berlari menuju seekor kucing kecil yang terhimpit reruntuhan.

"Tenanglah, aku akan menolongmu" Kata gadis itu dan mencoba mengangkat reruntuhan dari kaki kucing itu.

Sasuke yang masih fokus menatap Sakura, tiba-tiba alarm musuh dari R-zero berbunyi, sebuah R-wing menembaki R-zero, dengan cepat R-zero bergerak menghindar, namun tembakkan itu mengenai bangunan yang lain, bangunan itu tepat berada di atas gadis berambut soft pink itu.

"LARI SAKURA...!" Teriak Sasuke dari dalam R-zero.

Reruntuhan bangunan itu jatuh ke jalanan dan menipa apapun. Tanda-tanda kehidupan dari gadis pink itu tidak terlacak di layar R-zero.

"SAKURAAA...!" teriak Sasuke dan dengan wajah yang begitu marah, Sasuke menggerakkan R-zero dengan cepat dan membunuh R-wing yang tersisa, hanya hitungan detik semua musuh di lumpuhkan Sasuke.

Beberapa menit setelah evekuasi, Sasuke segera turun dari R-zero dan berlari kearah reruntuhan yang menimpa Sakura, berharap mendapatkan gadis itu masih hidup. Beberapa reruntuhan yang Sasuke angkat tidak juga menampakkan Sakura, hampir seluruh tempat itu Sasuke perhatikan dan mencari-cari sosok orang yang sedang dia cari, namun hasilnya tidak ada, Sasuke tidak juga menemukan tubuh Sakura.

Sasuke duduk di reruntuhan itu sambil menundukkan wajahnya, hatinya sekarang sedang sakit melihat orang yang sangat di sayanginya mati dihadapannya. Dari arah kejauhan sebuah benda bersinar dan membuat Sasuke tergerak untuk mengambilnya, terlihat sebuah gelang perak dengan lambang kipas dan bunga sakura.

"Arrrrgggghhh... Sakuraaaaaa!"

.

.

.

Seseorang tiba-tiba membuka matanya, seakan-akan sedang mendapat mimpi yang sangat buruk, tubuhnya masih agak Sakit, orang itu hanya terbaring dan sebuah perban terlilit di kepalanya.

"Aku dimana?" tanyanya, entah kepada siapa, ruangan yang bercat putih itu tampak sepi dan hanya ada hembusan angin dari arah jendela yang terbuka lebar yang membuat kain gordennya bergerak.

Gadis itu kemudian bangun dan turun dari tampat berbaringnya. Gadis itu berjalan menghampiri jendela dan duduk di sisi jendela yang agak luas sehingga bisa menjadi tempat duduk.

"Kau sudah bangun?" tanya seorang lelaki dengan mata onyxnya, gadis itu berbalik dan melihat kearah suara yang sepertinya tertuju padanya. Mata gadis itu membulat melihat sosok yang sedang berdiri di pintu, detik kemudian gadis itu tersenyum lembut di hadapan lelaki itu.

.

.

.

Sasuke dengan sikap yang sangat emosi menuruni R-zeronya dan berjalan cepat tanpa mempedulikan pilot-pilot yang lain memanggilnya.

"Wow, kau hebat sekali, bisa mengalahkan semua R-wing dengan hitungan detik" kata Suigetsu.

"Jangan menggangguku" Kata Sasuke dan menatap Suigetsu dengan tatapan seperti ingin membunuhnya jika dia berbicara sekali lagi.

"Oke, oke" kata Suigetsu dan membiarkan Sasuke berjalan dengan cepat menuju tempat ruangannya.

Suigetsu berjalan menuju tempat cek R-zero, melihat seorang gadis dengan rambut merahnya dan pakaiannya yang serba putih sedang menulis-nulis sesuatu di beberapa lembar kertas yang tengah di pegangnya.

"Oi, Karin, ada apa dengan Sasuke?" Tanya Suigetsu.

Suigetsu adalah salah satu pilot handal yang ada di Uchiha, namun sikapnya yang selalu seenaknya membuat Karin, yaitu gadis yang bertugas sebagai pengecek setiap R di uchiha, tidak terlalu akrab dengan Suigetsu.

"Mau apa kau kemari?" tanya Karin sinis.

"Apa kau tidak melihat Sasuke tadi, sepertinya dia sedang kesal"

"Aku tida tahu dan aku tidak peduli dengan apapun yang terjadi dengan tuan muda"

"Ahk, kau sok mengucapkan tuan muda, biasanya kau memanggilnya dengan namanya, Sasuke"

"Itu bukan urusanmu"

"Sudahlah, aku kesini tidak mau bertengkar denganmu, aku akan cari tahu sendiri, dah" kata Suigetsu dan berjalan meninggalkan tempat itu.

.

.

.

Berkali-kali Sasuke menatap gelang milik Sakura, perasaannya sekarang sedang kacau dan hatinya serasa teriris, Sakura yang mati tepat di hadapannya membuatnya sedikit shock. Beberapa hari ini Sasuke tidak juga keluar dari kamarnya dan hanya mengurung diri, Setiap panggilan untuk bertugas pun tidak dipedulikannya, Sasuke memilih sendiri dan tidak ingin di ganggu siapapun.

Tok...Tok...

Sasuke hanya duduk termenung di kasurnya dan tidak juga beranjak dari tempatnya walaupun seseorang mengetuk pintunya cukup lama.

"Sasuke, buka pintunya" Teriak Fugaku.

Dengan malas Sasuke menuruni kasurnya dan membukakan pintu.

"Aku ingin bicara denganmu" Kata Fugaku.

Sasuke berjalan menghampiri sofa yang ada diruangannya dan Fugaku berjalan mengampiri sofa yang lain dan duduk.

"Ada apa?" Tanya Sasuke tanpa menatap Ayahnya.

"Karin memberitahukanku kalau kau tidak mau keluar kamar bahkan menjalankan R, ada apa denganmu? Apa yang sedang mengganggumu?"

"Itu bukan urusan Too-san" jawab Sasuke cuek.

"Katakan sesuatu, kau bukan anak kecil lagi yang terus-terusan menyembunyikan masalahmu"

"..."

"Aku dengar kau melihat Sakura ditengah pertempuran dan mati tertindih reruntuhan akibat tembakan R musuh yang meleset"

"Dari mana Too-san tahu?"

"Dari salah satu prajurit yang bersamamu saat di dermaga, kau menyuruhnya membantumu mencari mayat gadis berambut soft pink, namun sayang, gadis yang kau sebutkan itu tidak ditemukannya, jadi apa kau tidak sedang berhalusinasi saat itu?" tanya Fugaku, membuat Sasuke terkejut dan menatapnya dengan tatapan yang sangat kaget.

"Tidak mungkin! Aku jelas-jelas melihatnya, dia berada disana, di dermaga dan menolong seekor kucing!"

"Sasuke dengarkan aku, ini adalah peperangan kau bisa saja menemui Sakura saat perang ini usai"

"Aku tidak bohong! Sakura berada disana! Ini buktinya" Kata Sasuke sambil memperlihatkan sebuah gelang yang berlambangkan kipas dan bunga sakura "Ini milik Sakura, aku menemukannya di dekat reruntuhan" Tambah Sasuke meyakinkan Ayahnya kalau Sakura benar-benar berada disana.

"Baiklah aku percaya, tapi, apa kau akan tetap seperti ini terus? Mengurung diri dan mengutuk dirimu sendiri yang tidak mampu melindungi Sakura"

Sasuke hanya terdiam dan tidak menatap Ayahnya. Fugaku kemudian berjalan menuju pintu keluar.

"Berhentilah memikirkan orang yang sudah tidak ada dan keluarlah, aku membutuhkan dirimu, nak" Kata Fugaku dan keluar dari kamar Sasuke.


Apa ini akan menjadi akhirnya ?

Kita dipertemukan kembali,

Apa kau masih tetap sahabatku?

Aku memilih diam dan tidak akan menjawab apapun,

.

Masing-masing dari mereka keluardari R, hanya ada tatapan kosong dari cowok berambut raven itu.

"Akhirnya kita bertemu kembali, aku senang bisa melihatmu baik-baik saja" Kata Naruto sambil menatap Sasuke yang berdiri jauh didepannya di atas R-Zeronya. Sasuke masih terdiam dan menatap Naruto dengan tatapan dingin "Kembalilah ke Konoha, dan kita akan bersenang-senang seperti dulu, kembali seperti dulu saat di sekolah, Kau, aku dan Saku-"

"-Sakura sudah mati" tegas Sasuke, Naruto tiba-tiba kaget mendengar kata-kata Sasuke.

"A-apa maksudmu?"

"Sakura sudah mati" Sasuke mengulang kalimatnya sambil menundukkan kepalanya.

"Mati? Siapa? Siapa yang membunuhnya?"

"R-Wing"

Lagi-lagi Naruto terkejut, seakan-akan terasa sesak didada Naruto mendengar R tipe Wing yang telah membunuh Sakura.

"Kau bohong, mana mungkin R-Wing yang melakukan itu!"

"Aku sendiri yang melihatnya, Kalian sama saja, kenapa kalian selalu merebut orang yang aku sayangi, ha!" Wajah Sasuke berubah menjadi sedikit marah.

"Merebut? Merebut apa? Aku sama sekali tidak mengerti" Kata Naruto semakin bingung dengan tiap kalimat Sasuke.

"Kalian telah membunuh Kaa-sanku dan kalian telah membunuh Sakura! Jangan pura-pura bodoh!"

"Kalian? Kalian siapa?"

"Aku sudah mendapat banyak informasi, kaki tangan Ayahmu, mereka yang telah datang ke rumahku dan membunuh seluruh orang yang ada di rumahku, dan hanya aku yang selamat, sekarang mereka membunuh Sakura, apa kau tidak tahu semua itu Naruto! Kau tidak tahu apa yang Ayahmu lakukan, kau hanya dijadikan sebagai bonekanya! Ikutlah denganku dan kita akan menghancurkan orang-orang yang akan menghalangi kita"

"Kau salah! Bukan seperti itu, Too-sanku tidak ada hubungannya dengan mereka, dan yang kau anggap sebagai boneka itu, adalah kau, Kau Sasuke, Ayahmu yan menjadikanmu boneka"

"Diam! Aku tidak butuh alasanmu, dan aku bukan boneka Too-sanku, aku bergerak sesuai keinginanku"

Keadaan di antara Sasuke dan Naruto tidak ada kata penyelesaian, mereka berdua sama-sama mengeluarkan pernyataan dan hanya membuat Sasuke semakin kesal, menurutnya kata-kata Naruto hanya sebuah kata-kata yang tidak benar.

"Sadarlah Sasuke!"

Sasuke tidak mempedulikan kalimat Naruto dan kembali masuk ke dalam Rnya dan segera menjalankannya, Naruto yang tidak tinggal diam juga kembali masuk, dalam hitungan detik masing-masing dari mereka sudah melancarkan serang dari R mereka.

.

.

.

"Aku harus menghentikan mereka" Kata seorang gadis berambut soft pink saat berada di ruang tamu bersama cowok bermata onyx.

"Percuma, sekarang mereka sedang bertempur, jika kau mendengkat, itu artinya kau tidak sayang nyawamu" kata cowok bermata onyx itu.

"Tapi, mereka... mereka... hiks..." gadis berambut soft pink itu hanya menutup mulutnya dan air mata mengalir deras di pelupuk matanya.

"Tenanglah, aku yakin Naruto akan membawa kembali pulang Sasuke, tanpa ada yang kehilangannya nyawa" Kata Itachi sambil tersenyum.

.

.

.

Sudah berkali-kali mereka berdua mengerluarkan serangan namun kekuatan di antara mereka seimbang, Sasuke pun tidak mau kalah dan cepat menggerakkan R-Zeronya. Naruto masih tetap menangkis setiap serangan Sasuke.

"Ada apa Naruto? Apa kau sudah tidak punya kekuatan lagi, ha!" Kata Sasuke dengan nada menyombongkan diri.

"Aku tidak ingin melukaimu, kau harus pulang ke Konoha, apapun yang terjadi"

"Diam kau! Aku tetap akan mengalahkamu, disini, sekarang juga, dan negara ini akan lebih damai tanpa kalian, klan Uzumaki!"

Sasuke semakin cepat menyerang R-Wing, Naruto yang tadinya hanya menangkis kini membalas semua serangan Sasuke, Kekuatan mereka berimbang.


Aku tidak akan menyalahkanmu,

Kau selalu benar kawan,

Namun jalanmu salah,

Aku akan membawamu kembali,

Pasti,

Dan kata sahabat itu, akan aku dengar kembali.

.

.

.

Tembakan demi tembakan keluar dari R-Zero dan R-Wing, kekuatan mereka betul-betul hebat, R tipe lain dari klan Uchiha dan klan Uzumaki sudah tidak ada yang bisa bergerak lagi, hanya tinggal Naruto dan Sasuke yang tetap pada posisi perang.

Serangan Sasuke tiba-tiba meleset dan Naruto tidak tinggal diam, Naruto segera menghunuskan pedang dari R-wingnya dan menembus R-Zero, Sasuke yang berada di dalam sangat terkejut mendapati kerusakan pada R-Zeronya, Sasuke bergegas menarik R-Zero dan menembak R-Wing, Namun R-Wing segera menghindar dan kembali mengayunkan pedangnya dan memotong tangan R-Zero yang memegang senjata. R-Zero berhenti dan tidak bergerak.

"Sasuke, Aku tidak ingin melakukan peperangan ini, aku tidak ingin melukai siapapun, sebaiknya kita berhenti saja, aku tidak ingin melukaimu" Kata Naruto.

R-Zero sama sekali tidak bergerak dan Sasuke yang berada didalamnya hanya terdiam dan menundukkan wajahnya.

"Apa yang kalian lakukan! seharusnya kalian mati!" Kata seseorang yang tiba-tiba muncul dengan R tipe lain dan menyerang Naruto.

Sasuke segera menatap layar R-Zero dan melihat Naruto yang sedang di serang, namun Naruto segera menghindar. Tiba-tiba R itu bergerak dan menuju R-Zero, Naruto yang melihatnya dengan segera R-wing menembak R itu dan bergegas berdiri di hadapan R-Zero.

"Apa kau baik-baik saja Sasuke?" Tanya Naruto.

"Hn"

"Ada apa ini? Kenapa kalian tidak saling menyerang" Kata orang itu lagi.

"Siapa kau?" Tanya Naruto.

"Aku? Aku adalah orang yang akan menguasai Negara ini"

"Apa maksudmu?"

"Aku tidak ada waktu untuk berbicara dengan kalian!"

Dengan segera R tanpa identitas itu segera melawan R-zero dan R-wing, Sasuke dan Naruto yang tadinya menyerang satu sama lain, kini bekerja sama dan mewalan R itu.

R-Zero yang sudah kehilangan lengannya satu hanya bisa menggunakan lengan yang satunya, namun hal itu membuat pergerakan R-Zero menurun.

"Matilah kalia berdua!" kata seseorang yang mengendalikan R tanpa identitas itu dan segera mengeluarkan tembakannya yang begitu kuat hingga radiasinya dapat merusak daerah disekelilingnya. R-wing dapat menahan itu namun tidak dengan R-zero yang sudah mencapai batas dan mengalami banyak kerusakan.

Duuaaarrrrrr...!

"SASUKE...!" teriak Naruto.

R-zero yang meledak tepat di hadapan Naruto, membuat Naruto semakin marah dan menyerang R tanpa identitas itu.

Keadaan memburuk R tanpa rahasia itu semakin kuat dan R-wing hampir tidak bisa mengalahkannya.

"Kau juga akan menyusulnya! Hahahaha" Kata orang itu kepada Naruto yang berada didalam R-wing. Namun Tiba-tiba dari arah belakang sebuah R dengan corak putih dan terdapat lambang Uchiha dibelakangnya, menebas dengan sekali ayungan pada R tanpa identitas.

Duuaaarr...!

"Kau tidak apa-apa?" Kata seseorang yang langsung keluar dari R putih. Naruto yang sudah kelelahan hanya terseyum menatap orang itu, orang yang bermata sama dengan Sasuke, Uchiha Itachi.

.

.

.

Diketahui R tanpa identitas itu adalah R-zero 01, dan yang mengendalikannya adalah Kabuto yang sebenarnya adalah salah satu penasehat dari Minato namun bekerja sama merancang R-zero bersama Fugaku, Kabuto ingin mengambil alih kekuasaan Minato dengan cara membuat Fugaku melawan Minato, namun semua rencana Kabuto gagal, dia mati dalam pertempuran melawan Naruto dan Itachi yang menghancurkan R-zero 01.

Fugaku memilih untuk menghentikan penyerangan dan memilih ditahan, karena Fugaku merasa dia sudah diperalat oleh Kabuto dan Fugaku sangat membenci Kabuto yang menjadi dalang penyerangan dirumahnya dan membunuh istrinya.

Minato yang merasa peperangan dimenangkan oleh klannya, tidak langsung menahan Fugaku, dia memilih untuk menjalankan kerja sama dengan Fugaku.

Semuanya kembali damai dan warga Konoha saling membantu dan kembali membangun negara Konoha seperti dulu.

Karin dan Suigetsu yang bekerja pada Fugaku adalah mata-mata dari klan Uzumaki namun mereka lebih bekerja pada Nenek Chiyo, mereka berdua kembali pada posisi mereka yaitu sebagai staf keamanan di pemerintahan Uzumaki.

.

.

.

"Hei... aku sudah bilang padamu, kalau aku tidak akan kalah! Kau dengar itu!" kata seorang bocah dengan mata birunya.

"Bodoh, kau akan tetap kalah" ucap bocah yang bermata onxy.

Mereka berdua saling mengeluarkan kepalan tangan mereka...

Perlahan seseorang yang berbaring diatas kasurnya yang serba putih, membuka matanya dan menatap disekililingnya.

"Ini...?" gumamnya dalam hati dan merasakan tangannya memegang helaian rambut. Di allihkan padangannya dan menatap seorang gadis tengah tertidur dengan posisi duduk di kursi dan membaringkan kepalanya pada sisi ranjang.

"Sa-Sakura?" Tatapannya kini melebar dan memaksa tubuhnya untuk bangun, namun rasa perih dan nyeri disekujur tubuhnya membuatnya tidak dapat bangun dan hanya sedikit bergerak.

Gadis berambut soft pink yang sejak tadi tertidur segera bangkit dari tidur nyenyaknya dan mendapati seseorang yang sedang menatapnya dengan tatapan yang begitu pilu, seakan ingin memberitahukan bahwa dia sangat merindukannya.

"Sa-Sasuke, jangan bangun dulu" Kata Sakura, dan memperbaiki selimut Sasuke yang sedikit berantakan akibat usaha Sasuke untuk memaksa dirinya bangun.

"Aku dimana?"

"Ini dirumah Sakit Konoha, kata dokter Tsunade kau tidak boleh banyak bergerak karena lukamu saat ledakan R-Zero" Kata Sakura dan kembali duduk. Sasuke terdiam dan mengingat saat R-Zero yang dia kendalikan meledak akibat serangan tembakan nuklir dari R tanpa idenitas.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Sasuke.

"Aku? Aku tidak apa-apa, seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu"

"Tapi, saat didermaga?"

"Kau melihatku? Huft.. hampir saja aku mati, untung Itachi-nii menolongku, dia yang membawaku saat aku terluka parah"

Sasuke lagi-lagi terdiam, ada banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan Sakura, Itachi, Naruto, dan semua kekacauan yang telah terjadi di Konoha.

"Ada banyak hal ingin aku bicarakan" ucap Sasuke.

"Bicaranya nanti saja, setelah kau sembuh" kata Sakura sambil tersenyum.

Sasuke kemudian bangkit perlahan dan duduk "Aku kembali" ucap Sasuke sambil menatap Sakura dan melingkarkan gelang milik Sakura.

Sakura hanya tersenyum dan meneteskan air matanya dan memeluk erat Sasuke "Selamat datang kembali, Sasuke, hiks.." kata Sakura disela tangisnya, dan Sasuke membalas pelukan Sakura.

Naruto yang baru masuk kedalam ruangan rawat Sasuke hanya tersenyum menatap Sasuke dan Sakura, Sasuke yang merasa kedatangan Naruto mengalihkan padanganya dan menatap Naruto sambil mengangguk, mengisyaratkan kepada Naruto bahwa dia telah kembali. Naruto membalasnya dengan memasang cengirannya.

.

.

.

Kita bertemu kembali, kawan

Aku sudah siapkan tempat dan kedudukan untukmu,

Disini,

Di sampingku,

Dan kedudukanmu adalah...

Sahabat terbaikku.


~END~

Huuuaa..., maaf...maaf..., author abal-abal yang ngga bakat buat cerita ini menulis cerita fanfic dengan seenaknya *dibuang berramai-ramai. XD

Maaf, ngga tahu kenapa ceritanya jadi begini. *terharu

Ngga tahu mau ngomong apa lagi.

Akhir kata, mohon di review yaaa. *onegai