A/N : Halo semua…. Saya balik lagi dengan chapter 2.

Oh iya, ada perbaikan untuk chapter 1, yaitu:

"Aku menoleh, dan mendapati seorang gadis berambut sedang berdiri dengan…."

Itu harusnya:

"Aku menoleh, dan mendapati seorang gadis berambut biru sedang berdiri dengan…"

Maaf, saya kurang teliti…. Saya usahain nggak terulang lagi.

By the way, Selamat membaca, minna!


*Shirou's POV*

"Ini lapa-" perkataanku tiba-tiba terputus dengan-

DHUAAR!

-suara ledakan itu.

Aneh. Bagaimana caranya gerbang sekolahku bisa meledak?

Sebelum sempat memikirkan jawabannya, tanganku sudah digenggam kuat-kuat oleh Ichirouta. Mukanya pucat, -nyaris- seperti orang mati. Tangannya dingin, seperti habis bermain perang-perangan salju tanpa memakai sarung tangan.

Tiba-tiba saja dia menarikku, berlari melewati anak-anak yang masih terpana atas insiden ledakan gerbang sekolah itu.

Ichirouta terus berlari. Wajahnya diselimuti ragu, takut, khawatir, dan segala macam ekspresi lainnya yang tak bisa –dan tidak sempat- kusebutkan.

Ichirouta, sebenarnya apa yang terjadi?


Nightmare Side

"Runaway"


Lain kali, sebaiknya aku ingatkan diriku sendiri untuk tidak membiarkan tanganku digenggam oleh Ichirouta.

Kalau tidak, mungkin tulang pergelangan tanganku sudah divonis retak oleh dokter setelah 10 menit ia menggenggam tanganku.

Percayalah, genggaman tangan Ichirouta itu sepertinya mampu mencekik gorilla sampai mati dalam jangka waktu 3 detik.

Tapi sepertinya sekarang bukan saatnya aku memikirkan itu.

"Ichirouta, kau kenapa, sih?" tanyaku.

Dia diam dan masih tetap menggenggam serta menarik tanganku.

"Shirou, katamu pintu biru tua di kantin itu tidak pernah dikunci, kan?" Ichirouta mulai membuka suaranya.

"Ya. Memangnya ada apa?" Aku mulai kelelahan mengikuti larian Ichirouta.

Dia tidak menggubris pertanyaanku. Dia berlari –dan masih menggenggam tanganku- melewati meja-meja kantin, dan menuju ke arah pintu biru tua yang terletak di ujung kantin.

Aku tak pernah menyukai pintu itu.

Senior-senior berandalan itu terus saja mengancamku –dan temanku- agar tidak memberitahu soal mereka yang bolos. Mereka dengan seenaknya membolos dari sekolah melalui pintu itu. Dan kami, para junior, harus menerima resiko yang mereka buat.

Dan kenapa sekarang Ichirouta malah membawaku ke pintu ini?

"Hei, Ichirouta! Kau tak berniat mengajakku membolos, kan? Setelah ini masih ada pela-"

"Kita tidak membolos," katanya dengan nada yang dingin. "Lagipula, jika kau masih berada di sekolah ini, kau mungkin tidak akan bisa belajar karena mereka akan menangkapmu."

Menangkapku? Apa maksudnya?

Dan setelah keluar, kami disambut oleh kira-kira selusin…

… robot?

Aku mencubit pipiku, berharap itu tidak terasa sakit.

Ups. Dugaanku salah. Cubitan itu terasa sakit, yang berarti ini bukan mimpi.

Berarti, yang dihadapanku ini…

Yap. Berarti itu benar-benar robot.

Ichirouta segera menarik tanganku, lagi-lagi memaksaku berlari.

Sepertinya robot itu mempunyai respon yang benar-benar lambat. Mereka bahkan tidak menyadari kami berlari.

Walaupun begitu, Ichirouta tetap saja mengajakku berlari sambil bergumam tentang robot level satu atau apalah itu.

Sepertinya hari ini tidak akan menjadi hari yang baik, bagiku ataupun bagi Ichirouta.


"Kau tak apa?" Ichirouta menatapku yang baru saja terjatuh.

Aku tak menjawab. Nafasku masih memburu. Aku mencoba berdiri.

Seketika, kakiku merasakan sakit yang luar biasa.

Aku menahan diriku untuk tidak meringis kesakitan, dan tetap mempertahankan kakiku agar terus menopang tubuhku.

Aku membersihkan salju yang menempel di seragamku, masih tetap menahan nyeri di kakiku.

Aku menatap Ichirouta, kesal. "Di tengah musim salju begini, buat apa kau menyeretku keluar dari sekolah? Dan sebetulnya apa yang terjadi?" tanyaku dengan penekanan di 3 kata terakhir.

Ichirouta mengalihkan tatapannya ke salju yang terhampar di belakangku.

"Nanti kujelaskan. Aku janji. Sekarang lebih baik kita berlari lagi." Ichirouta kembali menarik tanganku.

Aku hanya bisa mengikutinya berlari. Nyeri di kakiku semakin parah.

Aku tak kuat. Kujatuhkan badanku ke atas salju yang menyelimuti tanah tempatku berdiri.

"Fubuki, ada apa? Cepatlah, mereka sudah berjarak 655,43 meter dari tempat kita berdiri."

Heh? Bagaimana caranya ia mengetahui jarak robot-robot itu dengan tepat?

Aku mengabaikan pertanyaan yang tadi melintas dikepalaku.

Ichirouta menurunkan tubuhnya, memegang kaki kananku. Dan itu membuat kakiku kesakitan 5 kali lipat dari yang tadi kurasakan.

"Kakimu keseleo," katanya dengan muka sedatar tembok.

Ya ampun, Ichirouta. Ekspresimu datar sekali.

Tiba-tiba saja, dia mengangkat tubuhku, menggendongku di punggungnya, dan mulai berlari.

"Hei!" aku memberontak.

"Diamlah. 503,8 meter lagi ada tempat dimana kau bisa bersembunyi," katanya.


Ichirouta menurunkan tubuhku di balik semak-semak.

"Diamlah disini," katanya, lalu berlari menjauhi semak-semak.

Aku menatap punggungnya yang menjauh dan…

…aku dikejutkan oleh sekumpulan robot –yang kira-kira besarnya tiga kali lipat dari ukuran tubuhku- sudah berada di hadapan Ichirouta.

Sebetulnya yang lebih mengejutkanku itu adalah… Ichirouta.

Dia tersenyum, seakan mengejek robot-robot itu. Tangannya melepas jepitan rambutnya yang sejak tadi terpasang di rambutnya. Dia melempar jepitan itu ke udara, dan sekejap, jepitan itu berubah menjadi…

…pedang? Aku mengusap-usap mataku dengan kedua tanganku. Aku pasti salah lihat.

Tidak. Aku tidak salah lihat. Itu memang pedang.

Kalau dideskripsikan, besi pedangnya berwarna silver, dengan ujung pedang yang datar. Gagangnya terbuat dali kulit berwarna cokelat madu, senada dengan warna matanya. Pedang itu dihiasi dengan pita berwarna biru turquoise yang terikat di ujung gagangnya.

Senyumannya mulai berubah menjadi seringai. Dia segera menerjang robot yang berada di depannya. Robot itu kehilangan keseimbangannya. Ichirouta mengayunkan pedangnya, dan tubuh robot itu terbelah dua.

Ichirouta mulai berlari ke arah robot yang lain. Dia mengayunkan pedangnya, dan dua robot yang berada di depannya terpotong menjadi beberapa bagian.

Robot yang tersisa merubah kedua tangan besinya menjadi senjata, dan mulai menembak Ichirouta.

Sebetulnya aku hendak berteriak memperingatkannya, tapi suaraku tertahan di tenggorokanku. Syaraf pita suaraku mulai tidak beres rupanya.

Ichirouta menghindar dari tembakan-tembakan itu. Dia berlari ke salah robot, dan hasilnya adalah robot yang malang itu terkena tembakan teman sesama robot-nya. Ichirouta menggunakan robot yang terkena tembakan itu sebagai pijakan, dan melompat. Dia bersalto di udara, lalu disekitar tubuhnya mulai muncul… angin?

Sepertinya angin itu lebih terlihat seperti angin ribut atau tornado daripada angin biasa. Tornado itu mulai menyerang robot-robot yang tersisa.

Robot-robot yang berada di bawahnya mulai mengalami kerusakan yang bisa dibilang parah, mungkin?

Ada robot yang di sekitar kepalanya mulai keluar listrik, ada yang tubuhnya terpotong-potong, menampakkan kabel-kabel yang berantakan di kepalanya. Ada juga yang tubuhnya hancur, sehingga aku tidak bisa mengingat bagaimana bentuk aslinya.

Andai robot itu manusia, aku yakin aku pasti mencari toilet terdekat untuk muntah.

"Heh. Rupanya kau disini, Ichirouta." Suara itu membuyarkan lamunanku.

Seseorang berambut hijau pucat, dengan eye patch yang tidak bisa menyembunyikan bola mata kanannya yang berwarna hitam dengan iris coklat itu berjalan perlahan ke arah Ichirouta.

Kedua mata coklatnya menatap Ichirouta tajam. "Dimana kau sembunyikan anak itu, Ichirouta?" tanyanya dengan nada yang tenang, dan terasa… mengancam.

Ichirouta mengeratkan pegangannya pada gagang pedangnya. "Siapa yang kaumaksud?"

"Anak itu. Yang menyimpan prisma di vetro. Kau menyembunyikannya, bukan?"

Prisma di vetro? Apa itu?

"Huh." Ichirouta mulai menggerakkan pedangnya, hingga ujung pedangnya berada beberapa centi dari wajah anak eye patch itu. "Kau tak akan mendapatkannya, Jirou. Kalau kau mau anak itu, lewati dulu mayatku."

Anak yang dipanggil Jirou oleh Ichirouta itu tersenyum meremehkan.

"Dengan senang hati," kata Jirou. Dia menyilangkan kedua tangannya di dada. Kukira dia mau meniru Ultraman yang biasa kutonton.

Rupanya orang seseram Jirou bisa berpose konyol seperti Ultraman.

Tiba-tiba, keluar besi-

-bukan. Yang keluar dari lengannya itu sama sekali bukan besi biasa.

Itu lebih mirip cakar yang ada di X-men, hanya saya sedikit berbeda.

Sedetik kemudian, pecahlah pertarungan sengit antara Ichirouta dan Jirou.

Jirou mencoba menusuk pinggang Ichirouta. Ichirouta menghindar, lalu menjegal kaki Jirou. Jirou terjatuh, tapi sebelum tubuhnya terhempas ke tanah, ia menggunakan tangannya sebagai tumpuan untuk bersalto ke belakang.

Ichirouta mengayunkan pedangnya ke kepala Jirou. Jirou menahan pedang itu dengan cakar besinya. Mereka bertahan dengan posisi seperti itu selama beberapa detik sebelum Ichirouta melonggarkan serangannya, dan memberi kesempatan pada Jirou untuk menyerangnya.

Dan terlukislah luka berbentuk cakar di wajah Ichirouta.

"Mana kekuatanmu, Ichirouta? Bukankah katanya kau adalah cavaliere terkuat? Kenapa kau tidak pakai kekuatanmu itu?" ucap Jirou dengan senyum mengejek.

"Buat apa aku memakai kekuatanku," Ichirouta tersenyum simpul, "kalau lawanku adalah kau?"

Jirou mulai menerjang Ichirouta. "Jadi kau meremehkanku, ya?" tanyanya, sambil mencoba mencakar Ichirouta.

Dengan mudahnya Ichirouta menggagalkan serangan Jirou. "Iya. Memangnya kenapa?"

"Beraninya kau!" teriak Jirou.

Dalam sekejap, Jirou sudah berada di belakang Ichirouta.

Sebelum Ichirouta sempat menoleh, Jirou sudah mengayunkan cakarnya ke belakang Ichirouta.

Jarak pedang itu sudah 5 centi dari kepala Ichirouta.

4 centi.

3 centi.

Dan tanganku bergerak tanpa menunggu persetujuan dari otakku.


*Ichirouta's POV*

"Akhirnya kau mengeluarkan kekuatanmu juga," kata Jirou, yang sekarang sedang berada dibelakangku.

Aku terkejut, dan berbalik ke belakang.

Di hadapanku sekarang, berdiri sebuah dinding salju yang memisahkan aku dan Jirou.

Ralat. Dinding salju itu memisahkan kepalaku –yang notabenenya nyaris mengalami pendarahan yang disebabkan oleh pemuda eye patch ini- dan cakar besi Jirou.

Sebentar. Tadi Jirou bilang aku sudah mengeluarkan kekuatanku…

Maksudnya dinding salju ini? Hei Jirou, asalkan kau tau, salju itu bukan kekuatanku.

Kalau bukan kekuatanku, jadi kekuatan siapa ini?

Aku memperhatikan sekelilingku. Tidak ada yang aneh.

Itu menurutku, sebelum aku menemukan…

…Shirou yang sedang mengangkat tangannya.

Sebetulnya mengangkat tangan bukanlah hal yang aneh, tapi jika dalam keadaan seperti ini, ditambah dengan matanya yang menatap dinding salju itu lekat-lekat seakan dia sedang memerintahkan salju itu untuk tetap berdiri kokoh seperti sekarang, menurutku itu aneh.

Jadi Shirou bisa mengendalikan salju?

Yah, mungkin saja.

Lama kelamaan, dinding salju dibelakangku mulai mencair. Aku melirik ke arah Shirou. Tangannya tidak terangkat seperti tadi. Raut wajahnya menunjukkan dia benar-benar lelah.

Atau dari awal mukanya sudah seperti orang yang kelelahan?

Lagi-lagi aku mengeluarkan pertanyaan yang aneh.

Ah, sebaiknya aku fokus pada pertarungan ini.

Aku mengumpulkan kesadaranku, dan menemukan dinding salju itu benar-benar sudah menghilang.

Tampaklah seorang Sakuma Jirou yang tersenyum kecil. "Kalau kau sudah mulai serius, maka aku juga akan serius, Ichirouta."

Jirou bersiul. Dari tanah yang diselimuti salju, muncullah beberapa penguin berwarna merah. Dulu, ketika pertama kali melawannya, aku sempat bingung. Memangnya ada penguin warna merah, ya?

"Emperor Penguin!" teriaknya. Dan sekelompok penguin itu mulai mengarahkan paruhnya yang runcing ke arahku.

Aku mengayunkan pedangku, lalu berteriak, "Wind Blade!"

Dan penguin-penguin yang lucu itu pun hancur menjadi debu.

Heh. Kenapa aku mulai bersikap seperti Yuuto google-esper-nanas maniak penguin itu?

Tiba-tiba, kepalaku terasa sakit. Jangan, Ichirouta. Jangan mengenang peristiwa mengerikan itu di sini.

"Heh. Ternyata kau hebat juga," kata Jirou membuyarkan lamunanku, kemudian berlari ke arahku. Dia mulai menyerangku, dan aku menghindar.

"Walaupun kau hebat, tapi kau masih mempunyai celah yang sangat besar," bisiknya, lalu mengayunkan cakarnya ke arah perutku, sehingga aku merasakan darahku membasahi baju seragam Hakuren yang masih kukenakan.

Dia tersenyum penuh kemenangan, menganggap aku sudah kalah.

Aku hanya tersenyum kecil melihat senyum penuh kemenangan miliknya.

Dasar sombong. Kau sudah masuk dalam perangkapku, tahu!

Aku mulai menyentuh sikunya. Sebetulnya bukan menyentuh, tapi bisa dibilang 'melumpuhkan' atau semacamnya.

Sebelum dia sempat melawan, aku sudah melumpuhkan semua sendinya, dan itu membuatnya tidak bisa bergerak lagi.

"He-hei, a…was kau, Ichirouta!" erang Jirou.

"Semakin kau mencoba untuk bergerak, tubuhmu akan semakin sakit, lho~" aku tersenyum mengejek kepadanya yang terbaring di salju tanpa bisa melakukan apa-apa. Ia hanya menggeram, dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Aku mengangkat tubuh Jirou, lalu membawanya bangku taman.

"Kau disini saja, aku harap kau tidak kedinginan," kataku sambil menyelimutinya memakai kardus yang tadi kutemukan.

Dia hanya diam, dan tidak berkomentar apa-apa.

Aku pun berlari meninggalkannya, menuju semak-semak tempat Shirou bersembunyi tadi.


*Shirou's POV*

"Hei Shirou, kau tak apa?" suara seseorang membuyarkan lamunanku.

"Eh, Ichirouta? Apa yang terjadi? Sedang apa kau disini? Dimana orang yang bernama Jirou tadi?" aku bertanya tanpa jeda pada Ichirouta.

"Tenang saja, dia sudah pergi," jawab Ichirouta tenang.

Aku menangguk pelan, sebelum pandanganku tertuju pada perut Ichirouta.

Sweaternya yang berwarna coklat sudah dihiasi dengan warna merah.

"Itu kenapa?" pekikku, menunjuk ke arah sweater Ichirouta.

Dia melihat sweaternya, lalu mengalihkan tatapannya ke arahku.

"Itu cuma terluka, kok. Tenang saja," jawabnya.

"Lukamu harus diobati! Ayo-"

Omonganku dipotong oleh ucapan Ichirouta, "Tidak usah. Lebih baik kita segera pergi dari sini."

Dia mulai menarik tanganku, menyuruhku berlari, seakan melupakan soal kakiku yang keseleo tadi.

Dia memandangku, yang masih terduduk. Dia lalu menepuk kepalanya, dan berkata, "Ups. Aku lupa. Kakimu keseleo, ya? Maaf."

Oh ayolah, Ichirouta. Kau itu memang lupa atau sengaja mengejekku?

"Oh ya, tadi kau kugendong, ya? Ya sudah, sepertinya kakimu tidak bisa digerakkan, jadi aku-"

Sebelum dia sempat melanjutkan kalimatnya, aku sudah menggelengkan kepalaku.

"Tidak, tidak! Tidak usah! Aku bisa berjalan sendiri," kataku cepat.

Dia tertawa kecil. "Tenang saja. 'Kawasan aman berteleportasi' sudah dekat. Paling sekitar 10,39 meter lagi."

Aku mulai berdiri. "Kawasan aman berteleportasi?"

"Iya," jawabnya, dan mulai berjalan. Aku mengikutinya.

Aneh, Ichirouta hanya berjalan, dan tidak berlari seperti tadi. Wajahnya terlihat rileks, seakan-akan luka di wajah dan perutnya tidak memproduksi rasa sakit sama sekali.

"Kau tidak terburu-buru lagi. Apa ini berarti kita sudah aman?" tanyaku berupaya menghilangkan keheningan.

Dia menoleh ke arahku. "Sementara ini. Aku tidak merasakan adanya hawa musuh, jadi kupikir aku bisa rileks sekarang."

Aku mengangguk, dan keheningan kembali datang.

Tiba-tiba, Ichirouta menghentikan langkahnya di sebuah pohon yang bagian atasnya terselimuti salju.

"Nah, kita sampai," katanya, lalu memegang tanganku. "Harap tahan isi perutmu, karena orang yang baru pertama kali berteleportasi seringkali muntah sesampai di tempat tujuannya."

"Eh?" kataku, dan pemandangan di sekitarku mulai menjadi gelap.

Ugh. Kepalaku mulai pusing, badanku serasa mau hancur, paru-paruku seakan kelebihan muatan dan akan meledak sebentar lagi, jantungku berdetak dengan kecepatan di atas rata-rata detakan jantung yang normal, sedangkan perutku terasa seperti sedang diblender dengan kecepatan maksimum.

Catatan batin : Setelah ini, aku harus segera pergi ke toilet.

Samar-samar, terlihat bayangan sebuah… bangunan.

Bangunan itu tampak seperti asrama, dan tampak seperti istana. Aku juga tak bisa mendeskripsikan dengan jelas bagaimana bentuk bangunan itu, karena pandanganku mulai mengabur.

"Nah, Shirou," Ichirouta mulai melepaskan pegangannya dari tanganku. "Selamat datang di-"

Sebelum Ichirouta menyelesaikan kalimatnya, pandanganku berubah menjadi gelap.

To be Continued


A/N : Di chapter ini, maaf kalau bagian bertarungnya susah dimengerti, sekali lagi maaf… Kalau mau dikritik silahkan…

-Balasan Review-

Fanny Pitaloka-san : Arigatou, Fanny-san…

Kuroka-san : Arigatou, Kuroka-san!

Draco-san : Makasih atas sambutannya, Draco-san! Ini saya udah update : ]


Review, please?