A/N : Halo minna! Kini saya hadir bersama chapter 3. Mungkin di chapter ini anda tidak akan mendengar perkelahian, kejar-kejaran bagai Tom and Jerry, ataupun aksi-aksi mengangkan lainnya. Tapi, disini akan terungkap beberapa hal *spoiler lewat*.
Selamat membaca, semuanya!
*Shirou's POV*
"Nih," kata seseorang berambut coklat dengan tanduk –atau apalah namanya- di kedua sisi kepalanya. Mata coklatnya yang ramah menatapku yang sedang mengamati benda yang ada di tangannya.
"Baju? Untukku?" tanyaku heran.
"Sebetulnya, ini bukan untukmu. Ini baju –lebih tepatnya seragamku. Kau bisa memakainya, untuk sementara ini. Oh ya, ganti baju di kamarku saja," katanya, sambil membuka pintu kamarnya.
Aku terkejut. "Eh, tidak apa-apa?"
Dia tertawa. "Tentu saja! Aku tidak keberatan, kok," ucapnya sambil nyengir ke arahku.
Aku hanya mengangguk. Aku mulai masuk dan menutup pintu.
.
.
.
Demi Kami-sama! Ini kamar atau tempat pengolahan sampah?
Sampah berserakan, baju berantakan, dan tempat tidurnya yang acak-acakan. Apa anak tadi tidak pernah sekalipun membersihkan kamarnya?
Aku mengganti seragam Hakuren yang sedari tadi masih kukenakan dengan seragam yang diberi oleh anak tadi, sambil berusaha untuk mengabaikan kondisi kamar ini.
Lain kali, aku tidak akan pernah mau berkunjung kesini.
Nightmare Side
" The Explanation"
"Wah…. Itu cocok sekali untukmu!" sambut anak berambut coklat itu setelah aku keluar dari kamarnya.
Aku hanya tersenyum kecil.
Anak itu mungkin akan terus mengomentari bajuku hingga 1 jam ke depan, kalau saja Ichirouta tidak menghentikan anak itu. "Hei, kita telat 25 menit 32 detik untuk rapat, kalian tau?"
"Ichirouta!" anak berambut coklat itu menatap Ichirouta dengan puppy eyes-nya. "Bisakah kau tidak usah mengingatkanku soal itu?" tanyanya sambil menggembungkan pipinya seperti anak kecil yang ngambek gara-gara tidak dikasih permen.
Aduh… Anak ini benar-benar imut!
"Kau pasti mau bolos rapat lagi. Aku berkali-kali dimarahi imperatore, tahu!" Ichirouta menarik baju si anak berambut coklat. Anak itu hanya bisa merengut.
Dan saat merengut, anak itu masih saja imut.
"Ayo Shirou, kau juga disuruh ikut," kata Ichirouta.
Aku mengangguk.
"Oh ya, Shirou!" anak rambut coklat itu berteriak. Sekarang bajunya sudah terlepas dari pegangan Ichirouta. "Kau hebat juga! Pertama kali berteleportasi, tapi kau sama sekali tidak muntah-"
Dan omongan anak itu terpotong dengan celetukan Ichirouta, "Memang tidak muntah, tapi pingsan. Itu lebih aneh lagi."
Dan dia berhasil membuatku memberi deathglare gratis padanya. Dia hanya senyum-senyum saja.
"Tapi tetap saja," kata anak rambut coklat itu melanjutkan, "aku saja waktu pertama kali teleportasi sampai muntah-muntah 4 jam di kamar mandi."
Aku melongo. 4 jam di kamar mandi? Anak ini pasti bercanda.
"Hei, Mamoru. Dia bahkan belum mengenalmu, tahu," kata Ichirouta, masih tersenyum seperti tadi.
"Oh iya, ya… Aku lupa memperkenalkan diri," kata anak rambut coklat itu sambil menggaruk kepalanya. "Namaku Endou Mamoru, panggil saja Mamoru, salam kenal!" dia mengulurkan tangannya ke arahku.
Aku menjabat tangannya. "Fubuki Shirou, salam kenal."
Setelah itu, Mamoru tetap saja berceloteh tentang betapa malasnya dia rapat, makanan kesukaannya, bahkan tentang binatang yang seringkali 'mampir' ke kamarnya.
"Kita sampai," Ichirouta menunjuk sebuah pintu yang ukurannya benar-benar besar. "Cobalah untuk menjaga sikapmu, Shirou, Mamoru." Dan Ichirouta membuka pintu.
"Ah, akhirnya datang juga cavaliere terbaik kita," kata seseorang dengan nada yang mengejek.
"Terimakasih atas pujian anda, Yamino-sama," kata Ichirouta dengan menekankan kata 'pujian'.
"Sama-sama," jawab suara yang dipanggil Yamino-sama oleh Ichirouta.
Ichirouta pun mulai duduk. Dia mengisyaratkanku untuk duduk di sebelahnya. Aku mengangguk, lalu duduk. Mamoru tadi sudah duduk di sebelah seseorang yang berambut merah, dengan mata hijau emerald.
"Ah~" kata seseorang yang berada di sebelahku. "Kita sepertinya akan menyaksikan perdebatan lagi, ya?"
Aku menoleh, dan mendapati seseorang yang rambutnya…
…astaga. Itu style rambut yang benar-benar aneh. Setengah berambut, setengah botak. Style abad berapa, tuh?
Ia sepertinya menyadariku sedang mengamati rambutnya. Ia lalu tertawa, "Oi, oi, kau tak usah mengamati rambutku seperti itu!" katanya.
Suasana pun hening sejenak.
"Jadi, kita bisa memulai rapatnya," sebuah suara yang kedengaran ramah memecah keheningan. "Jadi, prisma-"
"Maaf imperatore, anak itu punya nama," ujar Ichirouta memotong ucapan orang yang dia panggil imperatore –yang tampaknya adalah pemimpin rapat ini. "Namanya Fubuki Shirou."
"Heh! Kau memotong ucapan imperatore hanya untuk hal itu?" Yamino-sama tertawa mengejek pada Ichirouta.
"Keberatan, Yamino-sama?" tanya Ichirouta dengan nada yang tenang.
"Ten-"
"Ichirouta ada benarnya juga. Jika dia mempunyai nama, bukankah kita harus memangilnya dengan namanya?" sang imperatore memotong perkataan Yamino-sama. Yamino-sama hanya bisa terdiam.
"Jadi, mau kita apakan pri-"
"Ehem," Ichirouta berdehem, mengisyaratkan orang itu untuk memperbaiki perkataannya.
"Maksudku, anak bernama 'Fubuki Shirou' ini?" kata seseorang yang duduk di sebelah Yamino-sama.
"Tentu saja kita lindungi, Matsuno-sama," kata Ichirouta menatap tajam orang yang baru saja memberikan pertanyaan itu.
"Aku tau, tapi bagaimana cara-"
Dan perkataan Matsuno-sama sukses terpotong oleh suara Yamino-sama, "Bagaimana kalau kita ambil saja prisma di vetro itu dari tubuhnya? Lalu kita akan menyimpan benda itu di tempat yang aman. Mudah bukan?"
Oke. Sebenarnya mereka itu membicarakan apa, sih?
"Tapi jika kita mengambil prisma di vetro dari tubuh anak ini, maka anak ini akan mati!" sahut gadis berambut biru dan memakai kacamata yang duduk di sebelah Ichirouta.
"Bukankah prisma itu lebih penting, Haruna?" tanya Yamino-sama pada gadis berkacamata itu.
"Tapi tetap saja, Yamino-sama," Ichirouta mulai mengisyaratkan gadis itu untuk tenang. "Kita juga harus memikirkan Fubuki Shirou. Kita tidak boleh gegabah. Sesuai kata Haruna, anak ini akan mati jika kita mengambil prisma itu dari tubuhnya," katanya sambil menunjuk ke arahku.
Heh? Mereka ingin membunuhku? Yang benar saja!
Ichirouta melanjutkan, "bukankah lebih baik kita melatihnya agar ia bisa melindungi dirinya sendiri? Saya rasa cara ini lebih efektif dan efisien daripada cara yang dikemukakan oleh Yamino-sama. Karena, jika kita membunuh anak ini, kita belum tentu bisa melindungi prisma di vetro agar tidak diambil oleh mereka."
Hhhhh….. Aku sebenarnya tidak tau apa-apa, tapi sepertinya cara Ichirouta lebih baik daripada dibunuh.
"Melatihnya? Kenapa kita harus melatihnya?" tanya Yamino-sama dengan kesal.
"Karena saya melihat adanya potensi dari Fubuki Shirou," ucap Ichirouta sambil menyunggingkan senyumnya. "Dia bisa berguna untuk kita, bukankah begitu?"
"Kau benar, Ichirouta," kata imperatore sambil menatap ke arahku. "Jadi bagaimana, saudara-saudara sekalian? Apakah kalian setuju dengan apa yang dikatakan Ichirouta?"
Semua orang –minus aku, Ichirouta, Yamino-sama, dan imperatore mengangguk, menyetujui ucapan Ichirouta.
"Tapi siapa yang akan jadi penanggung jawab anak ini jika ia berbuat macam-macam?" tanya Yamino-sama, mungkin dia lebih berharap aku dibunuh.
"Kau tak perlu khawatir, Yamino-sama. Akulah penanggung jawabnya," Ichirouta menjawab dengan tenang, tapi sepertinya perkataannya itu membuat semua orang tercengang, termasuk anak setengah botak disebelahku ini.
"Kau yakin, Kazemaru Ichirouta?" tanya imperatore –yang bahkan ikut-ikutan tercengang- sambil menatap Ichirouta lekat-lekat.
Ichhirouta masih tersenyum, lalu mengangguk.
"Tentu saja," katanya. "Dengan begitu, rapat ini selesai, bukan?"
"Ya. Dengan selesainya rapat ini, hari ini akan kutetapkan Fubuki Shirou menjadi anggota kita," imperatore beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan ke arahku.
Sang imperatore menepuk kepalaku pelan. "Selamat datang, Fubuki Shirou," bisiknya.
Aku hanya bisa bengong melihat sikapnya.
Kemudian Ichirouta menjentikkan jarinya beberapa centi di depan mukaku. Aku terkejut, lalu menatap ke arahnya.
"Kau kenapa? Bingung ya? Ada pertanyaan?"
Ichirouta, tolonglah. Kau sudah tau hari ini aku mengalami hal yang sangat banyak, tanpa mendapat penjelasan sedikit pun. Tentu saja aku punya pertanyaan, pertanyaan yang sangat banyak.
Aku memutuskan untuk menanyakan satu pertanyaan yang tadi sempat terlintas di benakku.
"Apa maksudnya," aku terdiam sejenak, lalu melanjutkan, "kau akan jadi penanggung jawabku?"
Ichirouta terlihat mengerutkan keningnya, lalu menjawab pertanyaanku-
"Oh. 'Penanggung jawab' itu maksudnya, jika kau melakukan pelanggaran, berbuat kericuhan, atau bahkan mengkhianati kawan-kawanmu," Ichirouta menatapku sambil tersenyum kecil, "aku akan ikut dihukum, bahkan jika kau dihukum mati sekalipun."
-dengan santai, seperti tidak mengkhawatirkan apa-apa.
Aku terdiam, tak dapat mengucapkan sepatah kata pun.
"Yamino-sama? Dia orangnya sangat menyebalkan, kau tau. Jangan pernah mencoba untuk berurusan dengannya. Yah, kecuali kau memiliki argumen sehebat Ichirouta."
Ichirouta memutar matanya, lalu menatap lurus pada anak yang sekarang sedang asyik memakan pisang di hadapanku.
"Dia bertanya kepadaku, Akio. Kau ini langsung saja menjawab, dengan mulut penuh pisang, pula," Ichirouta sambil menyuapkan nasi kemulutnya. "Dan kau bahkan belum berkenalan dengan Shirou."
Anak yang dipanggil Akio itu menepuk kepalanya di sisi yang tidak botak, lalu tertawa kecil.
"Ah iya~ Aku lupa. Fudou Akio, salam kenal!" Dia mengulurkan tangannya kepadaku.
Aku menyambut uluran tangannya.
"Jadi… Aku mempunyai pertanyaan lagi. Sebetulnya apa yang terjadi padaku? Kenapa mereka mengejarku? Tapi pertanyaan yang paling penting…," aku mengambil nafas sejenak. "… Ini dimana?"
Akio melirik Ichirouta. "Kau belum memberitahunya?"
"Belum," jawab Ichirouta.
"Seharusnya kau memberitahunya, Ichirouta…" Tiba-tiba saja ada yang menjawabnya. Aku menoleh ke asal suara, dan mendapati seorang anak berambut hijau yang sedang memakan makanannya duduk disebelah Akio. Rambutnya mengingatkan aku pada ice cream green tea yang kadang-kadang kubeli.
"Aku tahu, Ryuuji. Tapi mereka sudah mengejar Shirou, padahal aku baru saja pindah ke sekolah itu. Kapan aku sempat memberitahunya?"
Ryuuji mengangkat bahunya, lalu pandangannya beralih ke arahku. "Hai, Shirou! Namaku Midorikawa Ryuuji, panggil saja Ryuuji salam kenal!"
Aku mengangguk.
"Jadi, ini dimana?" aku mengulang pertanyaanku.
Ichirouta mulai menarik nafasnya, lalu berkata, "Kita ada di markas. Markas Nightmare Side."
"Nightmare Side?" tanyaku lagi.
"Kami organisasi yang bergerak di bawah kuasa pemerintah. Yah, seperti tentara, menurutku," Ryuuji meminum green tea-nya yang sejak tadi belum diminumnya. "Dan kau telah menjadi salah satu dari kami."
Aku sebenarnya tidak terlalu mengerti dengan ucapan Ryuuji, tapi nyatanya aku mengangguk seakan aku sudah benar-benar mengerti atas penjelasannya.
"Yang tadi mengejarku? Anak yang bernama Jirou itu… siapa dia?" tanyaku lagi.
"Sepertinya aku harus menceritakan ini padamu." Ichirouta sedikit merubah posisi duduknya. "Negara ini, Spettro, dibagi menjadi dua prefektur. Scellerato dan Incubo. Scel-"
"Spettro? Scellerato? Incubo? K-kita tidak berada di Hokkaido? Kenapa bisa?" tanyaku, memotong kalimat Ichirouta.
Kurasa memutar mata adalah salah satu dari kebiasaan Ichirouta. Buktinya? Sekarang, Ichirouta lagi-lagi memutar matanya, mukanya kelihatan kesal.
"Ini masih di Jepang, kok. Hanya saja beda dari zaman tempat tinggalmu," celetuk seseorang yang entah kapan sudah berada di sampingku.
"Beda zaman?" Aku menoleh, dan mendapati seorang anak berambut merah dengan style rambut berbentuk nekomimi. Di sebelahnya sudah ada Mamoru yang sibuk memakan spaghetti-nya.
"Iya, beda zaman. Jika di tempatmu tinggal masih tahun 2012," anak berambut merah nekomimi dengan mata hijau emerald itu menatapku, "disini, sekarang tahun 3278."
Jika mulut ku bisa mengannga selebar mungkin, maka aku sudah membuka mulutku 4 kali lebih besar dari ukuran tubuhku.
Begini. 3278 – 2012 = 2516 tahun.
Ya ampun.
Ya ampun.
Ya ampun.
Berarti sekarang aku telah melewati waktu lebih dari 2 abad.
Wow.
"Kau jangan khawatir, Hiroto saja berasal dari tahun 1398," ucap Akio sambil menunjuk anak berambut merah nekomimi itu dengan kulit pisangnya.
"Tetapi, ada juga yang berasal dari masa depan," kata Ryuuji sambil mengambil pisang yang tergeletak di hadapan Akio.
Kalau saja lirikan manusia dapat membunuh, aku yakin Ryuuji sudah mati oleh lirikan penuh aura membunuh dari sang empunya pisang, siapa lagi kalau bukan Akio.
"Siapa?" tanyaku lagi.
"Yaa… Contohnya aku, berasal dari tahun 5084," Mamoru yang sejak tadi diam, mulai bersuara. "Atau Ryuuji, dia berasal dari tahun 4761. Atau Haruna dan kakak-"
"Ehm. Aku harap anda tidak bicara yang aneh-aneh pada Fubuki-san, Endou-san," kata seseorang, berada di sebelah Ichirouta.
Hei. Sejak kapan gadis itu berada di sana? Bukankah itu gadis yang duduk di sebelah Ichirouta waktu rapat-pemutusan-apakah-aku-mati-atau-tidak? Kenapa aku sama sekali tidak menyadari keberadaannya.
"Aku sedari tadi sudah berada disini, Fubuki Shirou. Namaku Otonashi Haruna, salam kenal."
Hei… Gadis ini bisa membaca pikiranku? Dia esper?
"Aku bukan seorang esper, Fubuki-san," dia menjawab pertanyaanku yang tadi terngiang di otakku.
"Ehem," Ichirouta menghentikan perdebatan kecil aku dan Haruna. "Kau tak perlu heran, Shirou. Haruna dapat menyembunyikan aura keberadaannya dengan baik, meniru rupa seseorang, dan dapat membaca pikiran orang. Karena itulah Haruna sangat berbakat menjadi informatore."
Aku mengerutkan dahiku. Oke. Prisma di vetro. Imperatore. Cavaliere. Dan sekarang informatore. Sebetulnya apa maksudnya?
Sebelum sempat menanyakan semua itu, Ichirouta sudah memulai 'dongeng'nya.
"Jadi, kembali ke masalah sebelumnya. Spettro dibagi menjadi dua prefektur-"
"Sebentar," kataku, lagi-lagi memotong ucapan Ichirouta. Ichirouta kembali memutar matanya. "Kalau ini masih di Jepang, kenapa namanya berubah menjadi Spettro?"
"Pertanyaan bagus," sahut Akio yang masih saja memakan pisang.
Aku heran, sebenarnya Akio makan berapa pisang dalam sehari, sih?
"Di tahun 2051, Jepang mengalami ledakan bom atom. Ini bukan seperti ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 yang disebabkan oleh Amerika yang membom mereka. Ini lebih seperti… kesalahan Jepang sendiri," jelas Fudou.
"Kesalahan Jepang sendiri? Apa maksudmu?" tanyaku.
"Mereka membuat bom atom, dan tidak sengaja meledakkannya. Ledakan itu sangat dahsyat, sampai-sampai seluruh warga yang tinggal di Jepang tewas dalam kejadian tragis itu. Selama 35 tahun di Jepang tidak ada kehidupan, hingga akhirnya ada seseorang yang datang. Orang itu lalu mendirikan negara di Jepang, yang sekarang disebut Spettro." Akio menghembuskan nafasnya, bersyukur penjelasannya sudah selesai.
"Spettro awalnya adalah negara yang benar-benar makmur. Akan tetapi, karena suatu perkara, Spettro dibagi menjadi dua prefektur, yaitu Scellerato dan Incubo. Scellerato adalah kerajaan yang sangat bengis," Ichirouta menekankan kata 'sangat bengis' dalam ucapannya.
"Mereka memulai perperangan ini 38 tahun yang lalu. Membunuh penduduk yang sama sekali tidak tau apa-apa. Mengambil beberapa penduduk untuk dijadikan budak, disuruh bekerja siang dan malam, memberi makanan busuk untuk mereka perebutkan. Dan jika ada yang sudah tidak sanggup bekerja lagi…," Ichirouta mengatur nafasnya yang terdengar sedikit tidak beraturan. "…mereka akan dicambuk sampai badan mereka berlumuran darah. Dan sebagai hukuman terakhir, mereka akan membakar budak itu di depan para budak yang lain."
Tubuh Ichirouta bergetar sedikit. Jika diperhatikan dengan amat sangat teliti, matanya sudah berkaca-kaca.
"Jadi, karena itulah, kami memihak Incubo. Kami membentuk sebuah organisasi yang bergerak di bawah pemerintah, yaitu 'Nightmare Side' ini. Kami juga mengumpulkan anggota baru untuk direkrut menjadi cavaliere," jelas Ichirouta, yang sudah kelihatan lebih tenang.
"Scellerato juga melakukan hal yang sama dengan kami. Hanya saja… mereka lebih terlihat seperti 'memaksa', bukan 'merekrut'," Hiroto menyambung kalimat Ichirouta. "Mereka mempunyai berbagai cara licik untuk mendapatkan kemenangan. Salah satunya memiliki prisma di vetro, yang tersimpan dalam tubuhmu. Itulah kenapa dirimu diincar oleh mereka."
"Memangnya apa yang spesial dengan 'prisma-yang-nyasar-ke-tubuhku' ini?" tanyaku.
"Prisma di vetro itu bermakna prisma kaca. Prisma itu merefleksikan kekuatan. Jika kau memiliki dan dapat menggunakannya dengan baik, itu membuatmu berpuluh kali lipat kuatnya," jelas Ryuuji yang sudah berhenti 'mencuri' pisang Akio karena terus-terusan dihadiahi deathglare.
"Lalu," ucapku dengan nada suara yang bergetar, "kalian akan menggunakan prisma itu untuk melawan mereka? Kalian akan membunuhku seperti yang dikatakan Yamino-sama?"
Tiba-tiba saja sebuah tangan mendarat tepat di bahuku. Aku melihat sang pemilik tangan itu, Ichirouta, tersenyum lembut ke arahku. "Tenang saja. Kami tidak akan pernah menyakiti sahabat kami sendiri."
Mau tak mau aku ikut tersenyum mendengar kalimat Ichirouta. Dan keheningan mulai merajarela lagi.
"Oh ya, ada dua pertanyaan lagi," kataku, memecah keheningan. Mereka semua menatapku dengan bingung –minus Haruna yang tetap saja berwajah datar.
"Pertama. Apa maksud kalian dengan Imperatore, cavaliere, dan informatore itu?"
Ichirouta mulai menjawab. "Itu sejenis-"
"Itu sejenis nama keren!" seru Mamoru, membuat Ichirouta melakukan headbang di meja.
Kasihan sekali Ichirouta, rasanya sudah berkali-kali omongannya dipotong.
Haruna menghembuskan nafasnya melihat Ichirouta yang masih meletakkan kepalanya di atas meja, lalu menjawab pertanyaanku, "Endou-san ada benarnya. Itu hanya istilah disini, tidak berarti apa-apa. Imperatore itu maksudnya 'Kaisar'. Sebutan yang kita pakai pada pemimpin rapat tadi. Cavaliere itu ksatria, sebutan yang ditujukan kepada kita. Sedangkan informatore itu adalah skill milikku, yang berarti seorang informan, pencari informasi."
Aku hanya mengangguk. "Pertanyaan kedua. Kalian tadi memutuskan untuk melatihku. Kapan dan bagaimana aku dilatih?"
Ichirouta tiba-tiba saja mengangkat kepalanya dari meja dengan kecepatan cahaya. Hiroto yang dari tadi hanya terdiam dan Haruna –sang gadis nyaris tanpa ekspresi- membelalakkan matanya. Akio yang masih memakan pisangnya mulai menghentikan kegiatannya. Ryuuji dan Mamoru cengo.
"Ada yang salah dengan pertanyaanku, ya?" tanyaku pelan.
Dan ekspresi mereka yang tadinya beraneka ragam kemudian menjadi satu kesatuan. Mau menebak ekspresi apa yang mereka keluarkan dengan kompak melebihi kekompakan Teletubbies?
Cengiran.
Bukan, bukan. Itu bukan cengiran biasa. Tapi cengiran dengan bermacam niat licik dan keji di dalamnya.
"Nggak kok, Shirou. Pertanyaanmu nggak salah," jawab Mamoru.
"Kau akan dilatih besok, dan percayalah, latihanmu pasti akan menyenangkan, Shirou," jawab Ichirouta dengan tetap mempertahankan cengirannya.
Dia mengatakan jawaban untuk pertanyaanku itu seperti, 'Kau akan dilatih besok, dan percayalah, latihanmu pasti akan menyiksamu, Shirou'.
Aura menyeramkan mulai memenuhi kantin ini.
Glekh. Besok pasti akan menjadi hari yang menyeramkan bagiku.
To Be Continued
-Balasan review-
Muhammad Ilham :
Ennggg…. Makasih untuk reviewnya, walaupun hanya tanda tanya. Bingung, ya? Lain kali kalau bingung tanya aja… Saya nggak keberatan. Maaf saya baru balas reviewnya sekarang, soalnya saya baru sadar ada review anda setelah update chapter ke-2…
Fanny Pitaloka :
Ini saya update, makasih udah review : )
Draco de Laviathan :
Iya, Jirou memang hebat, tapi saya nggak tau kenapa saya biarin Ichirouta naruh dia di salju sendirian… Saya nggak tau.
Saya juga kasihan tuh, sama Fubuki. Saya jadi bikin dia pusing-pusing gitu….
Makasih udah review, Draco-san!
Kuroka :
Makasih atas pujiannya terhadap Kazemaru, Kuroka-san!
Soal Genda… Itu rahasia, soalnya nanti nggak seru kalau dikasih tau ; )
Kidou… di cerita ini, saya bikin dia jadi *****….
Maaf kalau balasan review untuk Kuroka-san ini penuh dengan rahasia, tapi terimakasih untuk reviewnya!
Mori Kousuke18 :
Halo juga, Mori-san!
Terimakasih atas pujiannya!
Soal Muhammad Ilham, dia itu teman (berantem) saya di facebook.
Kenapa dia hanya bilang '?' saja, saya juga nggak tau apa maksudnya.
Makasih udah review, Mori-san!
4869fans-nikazemaru :
Maaf saya sudah membuat Kazemaru jadi cewek! Lain kali, saya akan buat Kazemaru jadi cowok tulen!
Baguslah Fubuki bisa kelihatan gentleman… Saya kira dia nggak kelihatan gentleman disini.
Terimakasih buat pujian dan review-nya….
Review, please?
