A/N : Halo lagi, minna! Maaf saya telat update, ini gara-gara pr yang menumpuk di bulan Ramadhan… Saya aja sampai heran, kenapa bulan puasa malah banyak pr, sih?

Ok, lupakan saja curhatan saya di atas.

Jadi, selamat membaca, minna!


*Shirou's POV*

Aku memakai seragamku dengan malas-malasan.

Hari ini, hari kedua aku sampai di markas Nightmare Side ini. Tapi aku sama sekali tidak bersemangat.

Kenapa? Jawabannya mudah.

Hari ini, mereka akan melatihku.

Dengan memprediksikan arti cengiran yang mereka tunjukkan kemarin, aku dapat menyimpulkan satu hal.

Latihan = Siksaan = Menyeramkan = Patah tulang = Masuk rumah sakit = End.

Oke, itu berlebihan. Sangat berlebihan.

Tidak mungkin hari ini menyeramkan seperti yang kubayangkan, kan?


Nightmare Side

"Training Part 1"


Aku mempunyai dua pilihan. Diam disini atau kabur.

Pilihan kedua? Tidak, itu pilihan yang buruk. Mereka bisa saja menangkapku, dan menghukumku. Lagipula aku nggak tega jika Ichirouta menanggung hukuman yang sama hanya karena aku kabur. Tidak, tidak, aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi pada Ichirouta.

Pilihan pertama? Itu juga merupakan pilihan yang buruk. Jika tidak cepat kabur, aku yakin aku pasti akan disiksa oleh 'teman-teman satu organisasi'ku yang... bisa dibilang mencurigakan.

"-lemah terhadap air. Hei, kau mendengarkan tidak, Shirou?"

"Eh, apa?" tanyaku yang baru saja tersadar dari lamunanku.

Ichirouta memutar matanya. "Oh ayolah, setelah aku menjelaskan panjang lebar, kau sama sekali tidak mendengarkan?"

Aku menggeleng dengan senyum innocent.

Ichirouta mendengus kesal. "Baiklah, sekarang dengarkan. Lima elemen dasar itu terdiri dari air, tanah, api, udara-"

"Kayak Avatar," komentarku.

Ichirouta mengerutkan dahinya, berusaha mengingat sesuatu. "Oh, 'Avatar The Legend Of Aang' itu? Memang mirip, hanya saja itu ada empat elemen."

Dia tau Avatar? Sebenarnya ia sudah berteleportasi ke zaman apa saja, sih?

"Hanya saja elemen dasar kita ada lima, yaitu air, tanah, api,udara dan petir," jelasnya lagi.

Aku mengangguk pelan, mencoba meresapi apapun teori yang diberikan Ichirouta ini.

"Oh, iya. Kau harus belajar hukum lima elemen, Shirou."

"Hukum lima elemen?" tanyaku.

"Ya," ucapnya. "Setiap elemen pasti lemah terhadap satu elemen lainnya, dan pasti dapat mengalahkan satu elemen lainnya."

"Maksudmu?" aku masih tak mengerti.

Ichirouta memainkan tangannya-

"Misalnya api,"

-dan tiba-tiba seberkas api muncul di tangan kanannya.

"Tidak panas, tuh?" tanyaku. Pertanyaan yang benar-benar konyol.

Dan Ichirouta telah meyakinkanku bahwa pertanyaanku tadi memang konyol dengan memutar matanya. "Mau coba?" katanya menawarkan.

"Nggak, makasih," aku menggeleng. "Aku masih mau punya tangan yang sempurna."

Ichirouta mengangkat bahu. "Terserah kau."

"Jadi, apa yang akan kau tunjukkan?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.

"Oh ya- aku lupa. Api," dia mengangkat tangan kanannya. "lemah terhadap air-" tangan kirinya mengontrol air agar mengenai api dan memadamkannya.

Tangan kanannya mulai memunculkan api lagi, hanya saja api ini masih lebih kecil dari yang tadi dimunculkannya. Tangan kirinya mulai membuat sejenis tornado kecil. Lalu ia mengarahkan api itu ke tornado mini yang ada di tangan kirinya.

"-dan dapat mengalahkan angin." Api itu mulai membesar, dan akhirnya mengalahkan torado mini.

"Lalu, elemen yang lain?" tanyaku.

"Udara lemah terhadap api, dan menang dari petir. Petir lemah terhadap udara,dan menang dari tanah. Tanah lemah terhadap petir, dan menang dari air. Air lemah terhadap tanah, dan menang dari air," jelas Ichirouta. "Setidaknya itu dasarnya."

"Wow," gumamku. "Rumit banget."

"Yah… memang butuh waktu untuk memahaminya," ucapnya. "Tapi sebentar lagi kau harus segera pergi ke sana."

Eh?

"Apa maksudmu dengan 'sebentar lagi kau harus kesana'?" tanyaku bingung.

Ichirouta membuka pintu ruangan ini, dan mengabaikan pertanyaanku. "Ayo ikut aku, semuanya sudah menunggu."

Semuanya? Sudah menunggu? Apa maksudnya?

Sebelum aku sempat bertanya lagi, Ichirouta sudah pergi. Aku tak punya pilihan lain selain mengikutinya.


Jadi, ini yang Ichirouta maksud dengan 'semua sudah menunggu'?

Jika aku benar, berarti hari ini memang menyeramkan seperti apa yang kubayangkan.

"Hei, Shirou! Fokus! Hewan itu akan membunuhmu jika kau tak waspada!"

Ahaha. Benar, Mamoru. Iya, aku harus fokus. Bagaimana jika kita mencoba bertukar tempat sekarang, dan apakah kau bisa fokus melawan makhluk yang tak jelas asal-usulnya ini?!

Aku menghela nafas. Seharusnya aku kabur saja tadi.

Lamunanku dibuyarkan oleh makhluk-tak-jelas-asal-usulnya yang sekarang sedang mengejarku. Makhluk itu menyemburkan nafasnya yang asli terbuat dari api 150%. Panas terjamin.

Aku melompat, lalu berlari ke arah bebatuan yang berada paling dekat denganku.

"Semangat, Shirou!" seru Ichirouta dari bangku penonton.

Bangku penonton? Yap, benar. Aku sekarang sedang berada di suatu tempat yang mirip stadion, dengan dikejar makhluk yang dari kepala sampai pinggangnya adalah manusia dan pinggang sampai kakinya dilapisi kulit hijau penuh sisik hijau.

Kenapa aku bisa berada disini? Jawabannya simple. Aku disini untuk latihan, setidaknya itu yang dikatakan Ichirouta. Dengan senyum pula. Apa dia kira ini menyenangkan?

Makhluk yang pastinya bukan manusia itu mengepalkan tangannya, lalu memukulnya kuat-kuat ke tanah. Hasilnya? Batu-batu di sekitarku mulai hancur, dan aku harus mencari tempat sembunyi lagi.

Makhluk itu melihatku, lalu menarik nafas dalam-dalam. Oh tidak. Ini bukan hal yang bagus. Makhluk ini mengingatkanku pada seekor serigala yang akan meniup rumah sampai roboh.

Dan sepertinya makhluk ini akan melakukan sesuatu yang sama.

Setelah pipinya penuh dengan udara, dia mulai bersiap meniup.

Aku panik. Panik. Panik dengan kapital P.

Dia meniupkan segala udara yang ada di mulutnya. Dan tubuhku langsung terhempas ke dinding. Duh, rupanya terhempas ke dinding itu sakit sekali.

Aku mencoba berdiri. Tulang belakangku rasanya mau hancur berkeping-keping.

Aku menegakkan tubuhku, bersikap seperti orang yang kuat.

"Hei, umm… Dragonman!" Aku jadi sweatdrop sendiri dengan nama yang kubuat untuk makhluk setengah manusia ini.

Kenapa aku menamainya Dragonman? Yah, badannya –maksudku setengah badannya terlihat seperti naga, jadi nama itu langsung terlintas di kepalaku. Semoga makhluk ini suka nama barunya.

Kemudian, jari telunjukku mengarah kepada Dragonman. "Cuma segitu kemampuanmu? Payah!"

Astaga. Kenapa aku mengucapkan kalimat itu? Itu memang menunjukkan bahwa aku ini adalah orang yang benar-benar kuat. Dan aku suka itu. Hanya saja… aku bahkan tidak bisa melakukan apa-apa! Sepertinya kalimatku tadi harus kuucapkan pada diriku sendiri.

Kabar buruk : Dragonman sepertinya membenci nama panggilan yang kubuat dan ejekanku tadi. Dia mengamuk. Matanya yang penuh kebencian itu ditujukan padaku. Dia mengayunkan tangannya, dan tampak listrik-listrik di sekitar tubuhnya.

Huh… Syukurlah. Dragonman itu sekarang tersetrum listrik yang entah darimana asalnya.

Eh, sebentar. Dragonman sama sekali tidak tersetrum. Listrik-listrik itu bergerak dengan perintah tangan Dragonman.

Kabar buruk (lagi) : sebentar lagi aku akan disetrum oleh listrik sebesar 12000 volt.

Oke. Sekarang aku benar-benar panik.

Siapa saja, tolong aku.


*Ichirouta's POV*

"Kenapa dia harus memanggilnya Dragonman, sih?"

"Memangnya kenapa, Ryuugo? Kau keberatan?" kataku sambil melirik orang yang sekarang duduk di sebelahku.

Anak tak jelas apakah ia botak atau berambut itu mengerutkan keningnya sambil memandangi Shirou yang mencoba untuk menghindar dari salah satu naga peliharaannya itu. "Namanya kan, Umana drago, siapa yang menyuruh anak itu memanggilnya Dragonman?"

"Dragonman? Nama yang tidak jelek juga untuk peliharaanmu yang jelek."

Suara itu dengan suksesnya membuat Ryuugo mengeluarkan aura pembunuh andalannya.

Aku menoleh ke asal suara. "Hei, Jousuke? Kemana saja kau? Aku tidak melihatmu kemarin."

Dia menoleh ke arahku dengan bingung. "Kau tak ingat? Aku, Yuuki dan Yuuya kan diberi tugas mengawal para pedagang."

Aku menepuk kepalaku pelan. "Oh, iya. Lupa."

"Hei! Kenapa aku yang ganteng dan keren ini diabaikan?!" protes Ryuugo.

Kami semua –minus Ryuugo memasang mimik mau muntah.

"R-ra-rasanya aku mau ke toilet dulu," gumam Heigorou pelan sambil menutup mulutnya. Kayaknya dia benar-benar mau muntah.

"Silahkan," kataku.

Mamoru mendekatkan mulutnya ke telingaku. "Aku heran kenapa dia menyebut dirinya 'ganteng dan keren', padahal mukanya item, jelek, ceking, bulukan-"

"Iya, iya, aku setuju denganmu. Dia memang…" aku mencoba mencari kata yang tepat. "Narsis."

"Aku setuju," Mamoru mengiyakan perkataanku. "Terlalu narsis, malahan."

"Halo, teman-teman?"

Aku dan Mamoru menoleh ke asal suara. Tampak Akio yang sepertinya telah menghilangkan mimik-mau-muntahnya sedang menikmati popcorn-nya. Kuharap itu bukan popcorn rasa pisang lagi. Aku sudah kapok memakan popcorn pisang buatan Akio sekali. Dan kuharap aku tidak memakannya lagi.

"Bisakah kalian nikmati acaranya?" katanya sambil mengambil beberapa popcorn untuk dimasukkan dalam mulutnya.

Aku menepuk kepalaku. Ya ampun, bagaimana aku bisa lupa?

Kualihkan pandanganku ke arah arena. Sekarang tubuh Shirou dipenuhi luka, dan nafasnya terengah-engah.

"Wah, sepertinya sebentar lagi kau akan kedatangan pasien, Aki," ucap Hiroto yang duduk di depanku.

Aki tersenyum kecil. "Ya, mungkin kau benar, Hiroto. Kuharap lukanya tidak parah."

Aku mengalihkan pandanganku ke arah Shirou. Umana drago masih mengejarnya. Sekarang dia menyemburkan nafas apinya.

Shirou terus berlari cepat, yang entah kenapa kecepatan larinya tidak menurun sedari tadi. Dia menghindar, berlindung di balik batu, dan kadang-kadang melompat tinggi.

"Ummm… Kazemaru-san?"

Aku menoleh dan mendapati Ryou sedang meremas tangannya. Dia selalu melakukan itu waktu ia gelisah.

"Ada apa, Ryou?" tanyaku.

"Apa Kazemaru-san tidak melupakan sesuatu?"

Aku mengerutkan kening mendengar pertanyaan Ryou. Benar juga. Aku merasa melupakan sesuatu. Tapi apa?

"Senjata?" tanya Ryou dengan volume suara yang sangat kecil.

Sepertinya perlu beberapa saat untuk otakku agar dapat mencerna kata yang dikeluarkan Ryou tadi.

Mataku terbelalak. Ya ampun. Aku melupakan hal yang satu itu.

"KENAPA AKU BISA LUPA MEMBERINYA SENJATA?" kataku sambil mengacak-acak rambutku.

Aku mulai beranjak dari tempat dudukku. Sebelum aku sempat berlari, Ryuugo menarik tanganku. Aku menarik tanganku balik. Sial. Genggaman tangannya benar-benar kuat, bahkan lebih kuat dari pada genggamanku.

"Kau ingin pergi ke gudang senjata, kan?" tanyanya.

Aku mengangguk cepat.

"Sebelum kau kembali, mungkin anak itu sudah mati," ucapnya.

Aku memelototinya. "Tapi-"

"Walaupun kau menggunakan larimu yang sama cepatnya dengan Ryou, tetap saja kau tak akan sempat," potongnya.

Aku menarik tanganku dari genggamannya. Lepas. Aku menghempaskan tubuhku di bangku dan mulai menopang daguku sambil menatap Shirou yang masih berusaha sembunyi. Darah segar mengalir dari kepalanya. Sepertinya tangan kirinya patah. Wajah serta tubuhnya penuh luka.

Ayolah… Apa yang bisa kuperbuat?

Aku terus memutar otakku. Percayalah, memutar otak lebih sulit daripada memutar tutup botol tabasco yang sering digunakan Yuuya.

Eh? Kenapa tidak kupikirkan dari tadi?

Aku segera melepas jepitan rambut kesayanganku.

"Shirou!" teriakku. Shirou menoleh.

Aku mengangkat tanganku, yang sudah bersiap untuk melemparkan benda ini. "Tangkap!"

Dan akhirnya jepit rambutku melayang beberapa saat di udara, sebelum akhirnya berubah menjadi pedang-

"Semoga berhasil," bisikku.

-dan mengarah tepat ke wajah Shirou.


*Shirou's POV*

Terkadang Ichirouta bisa seperti orang sakit jiwa.

Apa dia tidak sadar, kalau pedangnya itu bisa saja menembus kepalaku?

Dan entah bagaimana caranya, aku dapat menangkap pedang itu sebelum menyentuh wajahku.

Sebentar. Sepertinya ada yang berbeda dengan pedang ini. Terakhir kali aku melihat pedang ini, rasanya warna gagangnya berwarna coklat madu. Sekarang, gagangnya berwarna abu-abu gelap.

Rupanya Dragonman tidak megizinkanku untuk mengamati perubahan pedang Ichirouta. Dia lagi-lagi menghancurkan batu yang kujadikan tempat berlindung.

Aku kembali berlari, dan dia kembali mengejarku. Dia terus-terusan mengeluarkan nafas apinya, hingga nafasnya sedikit mengenai seragam berwarna putih yang kupakai.

Aku harus mencari tempat berlindung terdekat. Segera.

Dan untuk kesekian kalinya, aku kembali bersembunyi.

Ayolah, Shirou. Makhluk ini pasti punya titik lemah, kan?

Aku mengamati Dragonman. Kira-kira dimanakah titik lemah manusia naga dengan berat lebih dari 3 ton ini?

Kira-kira ada 3 pilihan.

Pilihan pertama, matanya. Itu pilihan yang bagus. Jika aku menusuk matanya, makhluk ini tidak akan bisa melihatku. Aku bisa saja melompat tinggi dan menusuk matanya, dengan resiko aku akan gosong sebelum sempat mengayunkan pedang Ichirouta. Pilihan pertama, mungkin akan lebih baik kalau dicoret.

Pilihan kedua, lidahnya. Lidah adalah bagian –yang kelihatannya- paling lunak. Jika aku menusuk bagian itu, kemungkinan besar Dragonman bisa pingsan saking sakitnya. Dengan resiko badanku akan remuk di tangannya. Pilihan kedua, masih dipertanyakan.

Pilihan ketiga, dadanya. Aku bisa saja menusuk menusuk dadanya, dan Dragonman akan mati. Resikonya… mungkin saja sebelum aku sempat melakukan apa yang kuinginkan, dia sudah membunuhku dengan listrik 12000 volt-nya itu. Pilihan ketiga, diragukan.

Sebelum sempat menentukan dimanakah titik lemah Dragonman, dia sudah menyerangku duluan. Aku melompat ke belakang mencoba menghindar. Dragonman mulai menghirup nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskan udara yang sangat kencang ke arahku. Aku terlempar lagi, tapi kali ini aku dapat mendarat dengan sempurna, tepat sebelum punggungku menyentuh tembok stadion ini.

Aku memperhatikan mulutnya. Berasap. Sebentar lagi, dia pasti akan menyemburkan nafas api andalannya.

Dugaanku tepat. Dia memang meyemburkan nafas apinya.

Tiba-tiba saja, perutku merasakan sensasi –seperti tarikan yang benar-benar kuat, sampai-sampai perutku bisa saja terpisah dari bagian tubuhku yang lainnya.

Tanganku mulai bergerak tak tentu arah. Perutku semakin sakit. Pandanganku berkunang-kunang, membuatku tak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang kulakukan.

Sensasi dingin langsung menjalar di seluruh tubuhku. Rasanya… aku pernah mengalami ini.

Ya. Aku memang pernah mengalami ini. Tapi kapan?

Aku mulai menggosok mataku dengan punggung tangan kiriku yang memegang pedang Ichirouta. Mataku langsung disambut oleh pemandangan putih-

-tunggu. Ini salju?

Oh, iya. Sekarang aku ingat. Aku pernah melakukan ini saat kepala Ichirouta hampir saja dicakar oleh anak yang bernama Jirou itu. Dinding salju itu. Sama dengan apa yang ada di hadapanku.

Kesimpulan : Jadi, aku bisa mengendalikan salju?

Aku mencoba menggerakkan jari tangan kananku yang sedari tadi terdiam. Aku memutar tanganku, lalu menghempaskan tanganku ke bawah, seakan-akan aku sedang memukul sesuatu.

Ternyata, salju itu menurut. Sekarang, Dragonman sedang terbenam di tumpukan salju yang kubuat. Aku menghembuskan nafas lega. Sekarang aku aman.

Ternyata pendapatku sangat berlawanan dengan kenyataan.

Dragonman mulai melelehkan tumpukan salju yang dengan susah payah kubuat. Seluruh tubuhnya dikelilingi listrik, nafasnya berbau persis seperti kebakaran hutan, dan dia mengepalkan tangannya, seakan-akan ingin meninjuku hingga terpental sejauh mungkin.

Dia menyerang. Listrik-listrik yang mengelilingi tubuhnya mulai menyambar ke arahku. Aku memunculkan salju, yang melindungi tubuhku dari sengatan listrik. Aku menggerakkan salju itu memutari badan Dragonman. Setelah salju mengelilingi tubuhnya, aku segera mengepalkan tanganku. Salju kembali menuruti perintahku, menyelimuti tubuh Dragonman dengan selimut-salju-dijamin-dinginnya.

Listrik di sekitar tubuh Dragonman mulai menghilang. Badannya menggigil, sepertinya ia kedinginan.

Dragonman menatapku tajam, seolah mengisyaratkan dia akan membunuhku sebentar lagi. Bagus sekali, aku sudah membuatnya benar-benar marah sekarang.

Dia membuka mulutnya lebar-lebar. Api mulai berkumpul di kerongkongannya, tapi dia masih menahannya, seakan-akan…

…dia akan mengeluarkan nafas api terbaik yang dia punya.

Glekh. Dia akan membuatku jadi 'Fubuki Shirou gosong' sebentar lagi.

Benar saja, dia menyemburkan nafas api yang 10 kali lipat lebih besar dari yang sedari tadi ia keluarkan.

Refleksku mulai mengambil alih. Tanganku mulai menggerakkan salju, mencoba membuat dinding salju yang kokoh.

Seluruh tubuhku seakan-akan membeku. Kemudian, tubuhku langsung dikejutkan oleh panas dari nafas api Dragonman. Dingin, lalu panas. Keduanya seakan saling berperang di dalam tubuhku.

Sakit. Tubuhku seakan-akan dibekukan dalam freezer, lalu dilemparkan ke dalam air yang mendidih. Begitu terus, tidak ada jeda sedikitpun. Jika ini tidak berhenti, badanku mungkin akan meledak.

Tahan. Kumohon, tubuh, tahanlah.

Panas di tubuhku mulai hilang perlahan-lahan. Kuharap ini artinya nafas api Dragonman mulai melemah.

Panas di tubuhku menghilang. Aku mulai melepaskan kendaliku pada dinding salju yang berada di depanku, membiarkannya meleleh.

Aku bisa melihat Dragonman sedang kelelahan sekarang.

Bagus. Ini kesempatanku. Sekarang atau tidak sama sekali.

Aku mulai memindahkan pedang Ichirouta yang sejak tadi berada di tangan kiriku ke tangan kananku. Aku berlari ke arah Dragonman yang terlihat sedang mengatur nafasnya. Ia melihatku, tapi sepertinya ia terlalu kelelahan untuk bergerak. Baguslah kalau begitu.

Aku melompat setinggi yang kubisa. Kemudian, kakiku mendarat tepat di atas kepala Dragonman. Aku mengangkat pedang Ichirouta tinggi-tinggi, bersiap untuk membunuh-

-tunggu sebentar. Aku tidak bisa membunuhnya. Bukankah Dragonman juga makhluk hidup, seperti manusia? Kenapa aku berniat membunuhnya? Dia tidak bersalah apa-apa. Dia tidak boleh dibunuh.

Aku menurunkan pedang Ichirouta, mengurungkan niatku untuk menusuk kepalanya.

Sepertinya Dragonman mulai merasakan ada pengganggu yang berada di kepalanya. Ia menyapukan tangannya ke atas kepalanya, menjatuhkan aku yang sejak tadi terdiam.

Badanku terhempas ke tanah dengan keras.

Aduh. Jatuh dari kepala Dragonman itu sakit banget. Aku mencoba berdiri, tapi sepertinya kakiku tidak bisa menopang tubuhku lagi. Mataku mulai berkunang-kunang, kepalaku terasa sakit sekali, dan seluruh tubuhku terasa nyeri.

Aku merasakan tubuhku jatuh. Sebelum aku sempat menutup mataku-

"Shirou! Kau tak apa?!"

-aku mendengar teriakan Ichirouta. Dia berlari ke arahku.

Aku hanya bisa tersenyum kecil, sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya.


-Ini dia… Balasan Review!-

Fanny Pitaloka :

Ini saya update ^^

Masalah siapa imperatore itu… Saya belum menetapkan pilihan. Tapi tenang aja, nanti pasti saya kasih tau deh, siapa imperatore itu sebenarnya.

But, thanks for review!

Marcel Vinder :

Makasih atas pujiannya, Marcel-san!

Chara FFI, ya? Rencananya saya mau munculin mereka sedikit di chapter-chapter selanjutya, tapi saya belum tau mereka jadi baik atau jahat. Maklum, belum mikir sampai sana.

Makasih udah review, Macel-san : )

Edogawa Ruffy :

Nggak apa kalau baru review di chap ke-3, saya nggak keberatan, kok.

Soal Kidou, mungkin dia seperti berkhianat, padahal nggak.

… Nggak ngerti, ya? Tenang aja, nanti kita akan ketemu dengan Kidou, kok. Hanya saja saya masih bingung mau munculin dia di chapter berapa.

Arigatou for review! ^^

Mori Kousuke18 :

Halo juga, Mori-san! Nggak apa review telat, saya nggak keberatan.

Makasih atas pujiannya, Mori-san!

Saya nggak tau Ryuuji belajar ama siapa untuk nyolong pisang, mungkin dia autodidak.

Pokoknya, makasih reviewnya, Mori-san!

Kuroka :

Nggak apa-apa kok, saya nggak pernah keberatan kalau telat review.

Iya, Yamino Kageto a.k.a Shadow yang itu…

Midorikawa yang disini saya jadiin rambutnya yang kayak di IE GO, itu lho….

Kalau Hiroto-nya memang saya jadiin gaya rambutnya yang kayak di FFI.

Nama istilahnya keren? Makasih, saya kira banyak yang nggak ngerti.

Endou muntah 4 jam? Oh, itu sebenernya saya mau ngebuat dia muntah 1 jam. Hanya saja, berhubung saya adalah orang yang kejam, saya ubah aja jadi 4 jam.

Hiroto memang orang jadul, tapi penampilannya nggak jadul sama sekali, kok!

Bisa saja! Saya bisa ngebuat adegan Ichirouta sama Sakuma berantem sebanyak-banyaknya, kok.

Gouenji? Saya masih sembunyikan dia, tapi nanti juga muncul, kok.

Makasih udah review, Kuroka-san!

Btw, update Tamanegigatari-nya ya! Saya suka banget ama ceritanya!

Squaredoll20 :

Makasih atas pujian dan dukungannya! ^^

Yap, saya udah update.

Arigatou udah review!


So… Review, please?