A/N : Halo… Minna! Saya update!
Hem… tanpa basa-basi, met membaca!
*Shirou's POV*
Aku membuka mataku perlahan-lahan.
Mataku melirik jam digital yang berada di sampingku. 06:00 PM.
Setelah beberapa menit tersadar, aku baru menyadari ada seseorang yang tertidur dengan posisi duduk, tepat di sebelahku.
"Eh? Ichirouta? Apa yang –lho, aku dimana?" tanyaku pada diriku sendiri.
Sepertinya suaraku telah mengusik tidur Ichirouta. Dia menguap lebar, lalu menatapku.
"Kau sudah bangun, Shirou? Syukurlah, kukira kau mati tadi," kata Ichirouta pelan.
"Aku belum mati, makasih udah khawatir," jawabku. "Sekarang ini –Aduh!"
Aku meringis, lalu melirik ke tangan kiriku yang terasa sakit. Dan aku baru menyadari kalau sekarang tangan kiriku dibalut perban, dan diletakkan dalam kain yang terikat ke pundakku.
"Tangan kirimu patah, sedangkan tubuhmu luka-luka," kata Ichirouta, lalu menyodorkan segelas air ke arahku. Aku mengambilnya, lalu meminumnya perlahan-
"Oh iya. Air itu sudah dicampur obat racikan Aki, jadi mungkin rasanya sangat aneh," kata Ichirouta datar.
-sebelum akhirnya aku malah menyemburkan air itu ke wajah Ichirouta. Ichirouta diam saja, lalu mengambil tisu yang ada di dekatnya.
Wow. Air ini rasanya –sedikit- manis, asam, asin, kecut, dan pahit. Lain kali aku tidak akan meminum obat racikan orang yang bernama Aki itu.
"Ma-maaf Ichirouta! Aku tidak bermaksud-"
Ichirouta tersenyum kecil. "Ya, ya, aku tau. Dulu, waktu pertama kali meminum obat dari Aki, aku juga melakukan hal yang sama denganmu. Hanya saja sedikit lebih parah."
Ichirouta menyodorkan tisu ke arahku. "Oh ya. Imperatore ingin aku menyampaikan ini kepadamu. Karena kau pingsan 2 hari dan kondisimu seperti ini setelah pertandingan awal yang biasanya diwajibkan untuk seluruh cavaliere, kau diperbolehkan beristirahat selama seminggu."
Aku terbelalak. "Benar?"
Ichirouta mengangguk. "Iya. Masa kami melatihmu ketika kondisimu seperti itu?"
Aku tersenyum. Ini artinya, aku bisa bebas dari latihan itu selama seminggu!
Kuharap, tangan kiriku tak akan sembuh dalam waktu 7 hari.
Nightmare Side
"Time off!"
"So Ichirouta, choose. Truth or dare?"
Jika ada yang bertanya sekarang aku berada dimana, maka kata yang paling tepat untuk ruangan ini adalah ruang rapat. Bukan, bukan ruang rapat yang pertama kali kukunjungi, tapi ruang rapat yang sepertinya hanya dikhususkan untuk cavaliere.
Oh, soal game yang sekarang kami mainkan, kami sekarang sedang bermain 'Truth or dare' yang diusulkan Mamoru. Aku dan Ichirouta yang baru saja sampai di ruang rapat malah langsung diseret oleh orang-orang ini untuk bermain.
Ichirouta terdiam. "Truth."
Anak berambut pink pucat yang tadi baru saja mengenalkan dirinya padaku nyengir lebar ke arah Ichirouta. "Jadi… apa hubunganmu dengan Mamoru? Pacaran, ya?"
Wajah Ichirouta sedikit memerah-
"Pertanyaan macam apa itu! Aku dan Mamoru hanya sahabat, kok! Benar kan, Mamoru?"
-yang entah kenapa membuatku menjadi kesal.
"Ya, kami berempat kan sahabat!" kata Mamoru.
Aku mengerutkan dahiku. "'Kami berempat'? Apa maksudnya? Kan kalian hanya-"
"Aku, Ichirouta, Mamoru dan Hiroto adalah sahabat," Ryuuji memotong pertanyaanku.
Aku memandang Ryuuji dengan curiga.
Hiroto mengangguk. "Ryuuji benar. Oh ya, Ichirouta, kau mau memilih siapa?"
Hiroto jelas-jelas sedang mengalihkan pembicaraan sekarang.
Ichirouta mengangguk pelan. "Fine…," katanya mengamati kami. "I choose Yuuki."
Anak berambut cokelat muda yang sekarang duduk di sebelahku menoleh ke arah Ichirouta. "Aku?"
Ichirouta mengangguk lagi. "Truth or dare?"
Yuuki menopang dagunya. Alisnya berkerut. "Dare," katanya setengah berbisik.
Ichirouta mengeluarkan seringaiannya. Ia beranjak dari tempat duduknya, lalu menghampiri Yuuki dan mendekatkan mulutnya ke telinga Yuuki.
Tiba-tiba saja wajah Yuuki memerah. "Nggak mau! Kenapa aku harus melakukan itu?!"
"Kau memilih dare," Ichirouta tersenyum kecil. "Jadi kau harus melakukannya. Kalau tidak, kau akan meminum vitamin buatan Aki."
Yuuki menunduk. Lalu ia segera mengambil posisi duduk di lantai.
Kami semua –minus Ichirouta hanya memandangi Yuuki dengan tatapan bingung.
Tiba-tiba saja, Yuuki mengangkat kepalanya.
1 detik.
2 detik.
3 detik.
"YUUKI! Kamu imut banget!" jerit Mamoru.
Aku ternganga. Yuuki BENAR-BENAR imut dengan puppy eyes-nya yang mirip dengan Mamoru. Apalagi posisinya mirip dengan anak anjing. Kalau saja dia benar-benar anak anjing, mungkin dia sudah kuambil dan kujadikan peliharaan.
Aku mengalihkan pandanganku dari Yuuki ke arah 'teman-teman satu organisasi'ku.
Haruna, Ryuuji dan Hiroto melongo. Mamoru asyik mengambil foto Yuuki yg masih saja mempertahankan posisinya dengan muka yang memerah. Akio memakukan pandangannya ke arah Yuuki, masih tercengang dengan apa yang dilakukan Yuuki. Ryou, junior Ichirouta, menunjukkan ekspresi 'oh-Tachimukai-senpai-engkau-imut-sekalee' pada Yuuki. Yuuya –anak yang berambut sewarna dengan Haruna- tertawa kencang sambil menunjuk-nunjuk Yuuki. Sedangkan wajah Jousuke berwarna merah, dan menyumbat hidungnya dengan tangannya –yang sepertinya bertujuan untuk mencegah hidungnya mimisan.
"Oke, Yuuki, kau bisa berhenti sekarang," Ichirouta yang sejak tadi hanya senyum-senyum melihat Yuuki. Yuuki segera menghentikan posenya dan segera menghempaskan tubuhnya ke bangku di sebelahku.
Yuuki menghela nafas. "Ampun, itu benar-benar menyebalkan," bisik Yuuki kepadaku. Aku hanya tertawa kecil mendengarnya.
Yuuki menautkan alisnya. "Kenapa? Ada yang salah?"
"Nggak, hanya aja, gayamu itu…," Aku menghentikan tawaku, lalu menatap Yuuki. "Lucu banget, bahkan Jousuke saja sampai menahan mimisan hanya karena melihatmu bergaya seperti itu."
"Ya ampun," katanya pelan. "Itu benar memalukan. Shirou, bunuh aku."
"Baik. Kau mau dibunuh dengan cara apa? Ditebas? Ditembak? Atau di-"
"Hei, Yuuki! Kau mau memilih siapa?"
Dan dengan suksesnya perkataanku dipotong oleh seruan Mamoru.
Yuuki mengedarkan pandangannya. Dan berhenti tepat ke arahku.
"Aku pilih Shirou."
APA?!
"Apa?" tanyaku pelan, berusaha untuk tidak menimbun salju di atas Yuuki.
"Aku memilihmu," kata Yuuki sambil tersenyum. "Truth or dare, Shirou?"
Aku mendengus kesal. "Truth," jawabku asal.
Yuuki terdiam. "Kau suka sama siapa?"
"Eh?" tanyaku balik. "Apa?"
"Kau. Suka. Sama. Siapa?" ulang Yuuki dengan memberi beberapa penekanan pada ucapannya.
Aku terdiam.
"Aku…" kataku pelan.
Semua orang menatapku dengan serius, ditambah ekspresi penasaran.
"Nggak suka sama siapa-siapa, kok!" seruku sambil nyengir.
Yuuki menatapku dengan curiga. "Yang benar?"
"Iya," kataku tenang.
"Kalau begitu, siapa orang yang kau sukai sebagai teman?" tanya Yuuki.
Aku tertawa kecil. "Tentu saja semua orang!"
Yuuki menghela nafas. "Ya sudah, aku terima jawabanmu. Jadi Shirou, kau memilih siapa?"
Aku menunjuk Yuuya.
Yuuya terkejut. "Kenapa harus aku?"
"Karena aku memilihmu," aku memutar jariku. "Jadi, truth or dare, Yuuya?"
"Dare," jawab Yuuya pendek.
"Masukkan tabasco ke minuman Yamino-sama," bisikku.
"Apa?" tanya Kogure. "Kau gila? Kalau Yami-"
"Lakukan. Kau memilih dare, kan?" paksaku.
"Baiklah. Tunggu sebentar," Kogure keluar dari ruang rapat.
"Sudah," ucap Kogure yang memasuki ruang rapat.
"Kalau begitu, kau memilih siapa, Yuuya?" tanya Ryuuji.
Yuuya nyengir ke arah Mamoru. "Aku pilih Endou-san."
"Aku?!" Mamoru menunjuk dirinya sendiri.
Yuuya mengangguk. "Truth or dare, Endou-san?"
Mamoru menggaruk kepalanya. "Aku pilih dare saja."
Yuuya membisikkan sesuatu ke telinga Mamoru.
Mamoru ternganga, mulutnya terbuka lebar. "Kau yakin?" pekik Mamoru. Yuuya mengangguk sambil tersenyum usil.
"Ehm, Yuuya," ucapku yang membuat Yuuya menoleh ke arahku. "Kau benar-benar sudah mengerjakan apa yang aku minta?"
"Sudah kok, tinggal tunggu reaksinya sebentar lagi-"
"KOGURE YUUYA! APA YANG KAU MASUKKAN KE DALAM TEH MILIKKU?!"
Sebuah teriakan berhasil memotong perkataan Yuuya.
"-itu dia. Aku mati sekarang," bisik Yuuya. Dia berpaling ke arah Mamoru yang masih diam dan ternganga di tempatnya.
"Aku menunggu fotonya lho, Endou-san!" seru Yuuya sebelum berlari keluar ruang rapat.
Ichirouta mengerutkan dahinya. "Foto? Foto apa?"
Mamoru menggeleng perlahan. "Foto sesuatu," kata Mamoru perlahan.
Tiba-tiba saja, tangan kananku langsung digenggam oleh Mamoru. "Shirou, temani aku, ya?" ucapnya dengan muka yang memelas + puppy eyes-nya.
"Eh?" tanyaku, tak mengerti.
Tanpa menunggu aku berkata 'tidak' atau 'iya', aku langsung diseret keluar dari ruang rapat oleh Mamoru.
"Jadi, Yuuya menyuruhmu melakukan itu?" tanyaku berusaha mengkonfirmasi apa yang baru saja kudengar.
Mamoru mengangguk dengan lemas. Kasihan sekali dia, siapa suruh pilih dare.
Kami berdua menatap ruangan imperatore. "Jadi, apa yang akan kaulakukan?" tanyaku.
"Kalau tidak salah, imperatore sedang rapat sekarang. Sebentar lagi juga selesai. Ketika imperatore ingin membuka kamarnya, aku akan membuatnya tak-"
Mamoru terdiam. Matanya melotot memandangi objek yang tengah berjalan di koridor. Aku mengikuti arah matanya, dan mataku melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Mamoru.
Sekarang. Imperatore. Berada. Di depan kamarnya.
Tanpa ragu-ragu, tangan Mamoru langsung terangkat. Di tangannya kemudian terkumpul kilat –atau petir- yang kuat. Ia kemudian mengarahkannya ke arah imperatore –yang sepertinya sama sekali tidak mengetahui keberadaan kami disini. Petir yang sedari tadi terkumpul di tangan Mamoru pun mulai menyambar ke arah imperatore, membuat sang pemimpin pingsan.
"Wow. Tak kusangka semudah itu," gumam Mamoru.
Aku mengangkat bahu. "Bukankah lebih baik kau foto sekarang?"
Mamoru mengangguk. "Baiklah," katanya sambil mengeluarkan sebuah kamera. Lalu mengeluarkan satu benda lagi.
Sebuah bando dengan hiasan telinga kelinci di kedua sisinya.
Aku nyaris tertawa kalau saja Mamoru tidak memelototiku, seakan menyuruhku diam.
Mamoru memasangkan benda konyol itu ke kepala imperatore.
Aku terbahak –tentunya dalam hati. Imperatore tampak seperti kelinci-muka-gosong-nyasar.
Mamoru memotret imperatore yang sedang tak sadarkan diri itu. Dia melihat kameranya –kamera Haruna yang dipinjamnya dari tadi, langsung melepas benda konyol yang tadinya hinggap di kepala imperatore, dan langsung menyeretku agar pergi dari situ.
*Ichirouta's POV*
Aku tak tau siapa yang lebih gila. Yuuya atau Mamoru.
Aku memandangi foto yang baru saja Mamoru potret.
Imperatore sedang mengenakan sesuatu berbentuk telinga kelinci berwarna pink di kepalanya dengan wajah yang gosong.
Aku tergelak, diikuti oleh semua orang –minus Mamoru yang meringis dan Shirou yang senyum-senyum sendiri.
"Jadi ini yang disuruh Yuuya? Dia memang benar-benar usil!" seru Haruna yang menghentikan tawanya. "Jika dia bertemu denganku, awas-"
"Kau seharusnya tidak sekeras itu pada Yuuya, Haruna," ucap Yuuki.
"Tapi kan-"
"Hei Ichirouta!" seru seseorang yang baru saja memasuki ruang rapat dengan tiba-tiba.
Aku menatapnya heran. "Ada apa, Kazuya?"
Kazuya menatapku dengan ekspresi khawatir. "Imperatore memanggilmu, sekarang juga."
Aku beranjak dari bangku yang kududuki. "Kalau aku dipanggil karena apa yang telah kalian perbuat, awas saja," kataku sambil melayangkan deathglare pada Mamoru dan Shirou yang hanya meringis, merasa bersalah.
Aku kemudian mengekor Kazuya yang sudah berjalan lebih dulu.
"Anda memanggil saya, imperatore?"
Imperatore memandangiku, seakan-akan menyuruhku memperbaiki sesuatu yang salah.
Aku menghela nafas –sepelan mungkin, tentu saja. Tidak sopan jika menghela nafas di depan atasan, bukan?
"Anda memanggil saya, Kudou-sama?" ulangku.
Im –maksudku Kudou-sama tersenyum ke arahku. "Harus berapa kali kuulangi untuk memerintahkanmu agar memanggilku seperti itu?" tanyanya. "Lagipula kau orang terhormat, bukan?" Kudou-sama mempersilahkanku duduk di hadapannya.
Aku menurut, dan kembali menatap orang yang memanggilku ini. "Itu cerita lama, Kudou-sama. Lagipula saya tidak menyukai status seperti itu."
"Terserah saja," katanya tenang. Senyum yang sejak tadi dipertahankannya perlahan mulai pudar. "Sebelum aku mengatakan sesuatu yang penting, aku akan bertanya dua hal padamu."
"Apa?"
"Pertama, apa yang dilakukan Yuuya pada Yamino?" Kudou-sama menatapku dengan heran. "Dan, apa tujuan Mamoru melakukan hal 'itu' kepadaku?" tanya Kudou-sama, kali ini dengan penuh penekanan.
"Truth or dare," jawabku singkat. Kudou-sama mengangguk, tampak mengerti.
"Jadi, apa yang anda ingin bicarakan denganku, Kudou-sama?" tanyaku.
"Hasil rapat," jawab Kudou-sama. Aku terkejut, tapi langsung menenangkan diriku.
"Hasilnya?" tanyaku.
Kudou-sama menatapku dengan serius. "Para ministro menetapkan bahwa kau harus dihukum, karena kau telah mencelakai Shirou dengan tidak memberinya senjata."
Aku terbelalak. Percayalah, hukuman ala cavaliere Incubo sangat mengerikan.
Aku menundukkan pandanganku. "Baiklah kalau begitu, saya akan jalankan hukuman itu, karena saya telah bersalah," kataku sambil beranjak dari tempat yang tadi kududuki.
"Saya per-"
"Sebelum kau keluar, aku ingin menanyakan sesuatu," kata Kudou-sama, memelankan suaranya. Ekspresinya yang tadi terlihat serius, sekarang berubah menjadi sendu.
"Saat kau menjalankan misimu, apa kau mendapat suatu informasi tentang keberadaannya?" tanya Kudou-sama lirih.
Aku menggeleng pelan. "Saya tidak mendapatkan informasi apapun tentang Fuyuka, ataupun bertemu dengannya," kataku.
Kudou-sama menghela nafas panjang. "Baiklah, kau boleh keluar sekarang."
Aku mengangguk, berjalan keluar dari ruangan Kudou-sama. Pintu otomatis yang tadi terbuka mulai tertutup dengan sendirinya. Aku menyandarkan tubuhku ke dinding.
Besok, aku harus menjalani rentetan hukuman yang pasti akan terasa sangat menyakitkan.
*Shirou's POV*
Jam 11:00 PM.
Aku mencoba tidur, tapi entah kenapa mataku terus-terusan menolak perintah otakku.
Aku mencoba memejamkan mataku. Gagal lagi.
Aku berniat memejamkan mataku lagi sebelum suatu suara yang benar-benar indah memecah kesunyian.
Suara ini… Suara piano?
Aku bangkit dari tempat tidurku, lalu keluar dari kamarku –dengan diam-diam, tentu saja. Aku tak ingin siapapun menyadari aku belum tidur, karena menurut peraturan semua cavaliere harus sudah tidur jam 09:00 PM.
Aku mencoba menebak darimana suara piano –yang sampai sekarang masih terdengar- ini berasal. Aku terus berjalan di koridor, sampai menemukan sebuah ruangan yang bertuliskan 'Music Room'.
Tadinya aku ingin membuka pintu, sebelum tempo musik yang kudengar tadinya bertempo Adagio, sekarang menjadi Allegro.
Aku menempelkan telingaku pada pintu cokelat yang membatasi jarak antara aku dan si pemain piano. Aku menutup mata perlahan, mencoba untuk menghayati setiap nada yang kudengar.
Tiba-tiba saja, musik berhenti. Aku membuka mataku, heran.
Kenapa musiknya berhenti?
"Hei, masuklah. Tidak baik menguping, kau tahu?"
Suara ini terasa familiar. Aku membuka pintu perlahan, mencoba mengingat-ingat suara siapa ini-
"Shirou? Sedang apa kau di sini?"
-oh, iya. Aku ingat. Suara yang tadi kudengar adalah suara Ichirouta. Kenapa aku bisa lupa?
"Aku?" tanyaku sambil menunjuk diriku sendiri.
Ichirouta memutar matanya. "Jadi siapa lagi?"
Aku tersenyum kecil dan menutup pintu. "Aku tak bisa tidur, dan mendengar suara permainan pianomu," kataku menatap Ichirouta yang sedang memutar tubuhnya yang sedari tadi menghadap piano. "Permainanmu bagus sekali! Itu-"
"Ludwig van Beethoven, Symphony no. 9," Ichirouta memotong perkataanku.
Aku mengangguk pelan sambil menduduki sofa yang ada beberapa meter di sebelah piano.
"Kau menyukainya?" tanya Ichirouta. Aku mengangguk, bersemangat. Ichirouta tertawa kecil melihatku. "Mau kumainkan lagi?" tawarnya.
Aku kembali mengangguk.
Ichirouta memulai permainan pianonya, membuatku terhanyut dengan nada-nada yang dimainkannya.
Aku memejamkan mataku lagi. Musik yang dimainkan Ichirouta kemudian bertempo sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Dia terus memainkan pianonya, membuatku mengantuk.
Tidak. Aku berusaha menahan diriku sendiri untuk tidak tertidur. Dan sekarang mataku kembali tidak mau menuruti perintah otakku.
Dan aku sekarang tertidur pulas di sofa yang empuk ini, diiringi oleh permainan Ichirouta yang indah –terlalu indah.
*Ichirouta's POV*
Aku menatap ke arah Shirou yang sekarang tertidur pulas di sofa.
Aku menghela nafas. Sebetulnya anak ini mendengarkan permainanku atau tidak?
Aku menghampirinya, lalu mengguncangkan bahunya. "Hey, Shirou, bangunlah!"
Shirou mengerjapkan matanya. Lalu ia memandangku bingung, lalu bertanya, "Sudah pagi, ya?"
Aku tertawa. "Ini masih malam, Shirou."
Dia terkejut. "Ah, aku masih di rung musik, ya?"
Aku mengangguk. "Oh ya, Shirou, bagaimana caramu mendengar musik yang kumainkan? Ruangan ini harusnya kedap suara."
Shirou menatapku dengan mata kelabunya yang mengantuk. "Aku juga nggak tau," jawabnya sambil menguap.
Aku mengalihkan pandanganku dari Shirou.
"Shirou…," panggilku pelan, bahkan bisa dibilang terlalu pelan. Tapi sepertinya Shirou tetap bisa mendengarnya. Ia menoleh kepadaku.
Aku menghela nafas. "Besok, aku diberi misi."
Bohong.
Sepertinya Shirou sudah membuang rasa kantuk yang tadi menghinggapinya. Sekarang matanya menatapku lekat-lekat.
"Misi? Misi apa? Berapa lama? Kemana? Dengan siapa?" tanya Shirou terus-menerus.
"Ini hanya misi pengawalan pedagang, kok. Biasanya akan memakan waktu 4-5 hari. Dan misi ini harus kulakukan sendiri."
Aku berbohong. Lagi.
"Oh," Shirou menundukkan kepalanya. "Jadi, kapan kau akan berangkat?"
"Besok," jawabku singkat.
Shirou mengangguk, lalu beranjak dari sofa. "Aku pergi ke kamar dulu-" katanya, lalu menguap.
"Ja nee…" kataku melambaikan tangan.
Shirou balas melambaikan tangan. "Semoga misimu menjadi mudah, dan kau cepat kembali," katanya, lalu keluar dari ruang musik.
Aku tersenyum, senyum yang sangat kupaksakan.
Seharusnya kau tak perlu berkata seperti itu, Shirou…
…karena aku yakin misi –hukuman yang akan diberikan padaku tidak akan pernah menjadi mudah.
-Balasan review-
Squaredoll20 :
Ini saya update^^
Benar sekali… Shirou luka parah, sampai nggak bisa latihan untuk sementara waktu.
Ichirouta emang kereennn!
Arigatou for review!
Edogawa Ruffy :
Hai juga, Edogawa-san! *lambai-lambai tangan*
Training berikutnya? Nah, masalahnya saya nggak punya ide apa kekuatan Shirou yang kedua… Ada usul?
Oh, soal training, dugaan Edogawa-san hampir tepat. Bukan setiap orang punya latihan tersendiri buat Shirou, tapi 'beberapa' orang mempunyai latihan khusus untuk Shirou. Contohnya, waktu Shirou melawan Dragonman kemarin, itu adalah training dari Ichirouta dan Ryuugo. Training selanjutnya, akan diberikan oleh beberapa orang. Begitu seterusnya.
Thanks for review : )
Lunlun. caldia :
Haloo…. Caldia-san!
Makasih atas pujiannya^^
Salam kenal juga, Caldia-san…
Arigatou for review, ya!
Review, please?
