*Shirou's POV*
Aku menatap makananku dengan lesu.
Seseorang menepuk bahuku dengan keras. "Pagi, Shirou!"
Aku menoleh, dan mendapati Mamoru dan Hiroto sedang mengambil posisi duduk di sebelahku.
"Pagi, Mamoru, Hiroto," sapaku.
Mamoru mengerutkan dahinya. "Rasanya, dari kemarin sampai hari ini kau selalu lesu. Ada apa? Kau sakit?"
Aku menggeleng.
Mamoru salah. Aku sama sekali tidak merasa sakit. Bahkan tangan kiriku yang patah sudah mulai sembuh –padahal baru 4 hari yang lalu tanganku patah. Mungkin ini berkat obat yang diberi Ichirouta dua hari yang lalu.
Entah kenapa aku selalu teringat Ichirouta. Dia sudah pergi kemarin pagi untuk menjalankan misinya.
Aku menarik nafas. Rasanya sudah bertahun-tahun aku tak bertemu Ichirouta, padahal baru kemarin aku melihatnya terakhir kali.
"Kau merindukan Ichirouta, ya?" celetuk Hiroto.
Tepat sasaran.
Aku menggeleng. "Bukan itu masalahku," kataku mengelak.
100% bohong.
Hiroto mengangkat bahunya. "Terserah. Lebih baik kau selesaikan makananmu. Jam makan pagi akan berakhir sebentar lagi, kau tahu?"
Aku mengangguk, dan memakan makananku secepat yang kubisa.
Nightmare Side
"(Still) Time Off!"
*Ichirouta's POV*
Hukuman untuk cavaliere di prefektur ini sangat sesuai dengan namanya, Incubo –mimpi buruk.
Kemarin, aku dihukum harus membersihkan seluruh penjuru carcere –penjara yang baunya seperti ratusan bunga bangkai yang mekar- sampai bersih.
Sepertinya para ministro –sebutan untuk menteri- itu sudah kehilangan akal warasnya.
Susah? Tentu saja. Bayangkan jika kau membersihkan kandang kuda yang tak pernah dibersihkan bertahun-tahun hanya dengan tisu basah. Kira-kira susahnya seperti itu.
Hari ini, aku dikurung di sebuah penjara.
Bukan. Ini bukan penjara yang biasa dipakai oleh orang awam.
Penjara ini tingginya sama dengan tinggi badanku. Tanganku diborgol ke langit-langit penjara, sehingga aku tak bisa berdiri ataupun duduk. Penjara ini membuatku hanya bisa setengah berdiri, dan itu menyakitkan.
"Hai, Ichirouta."
Aku memandang orang yang sedang duduk di depanku.
Mamoru? Sedang apa dia disini? Bagaimana dia tau aku disini? Dan mengapa dia mau datang kesini? Bukankah dia sudah pernah bilang…
…bahwa dia tak akan pernah mendatangi tempat –yang mempunyai banyak kenangan tentang mereka- ini?
Dari sekian banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh otakku, yang kukatakan malah, "Bajumu kotor."
Mamoru nyengir lebar, seperti biasanya. "Aku kan bisa mencucinya nanti."
"Ingat terakhir kali kau mencuci bajumu? Hasilnya adalah setengah seragam yang habis dilempar ke kawanan serigala," ucapku.
Mamoru menggembungkan pipinya. "Hei, itu bukan hal yang buruk untuk pemula, kan?"
"Kau menghilangkan setengah bagian dari bajumu. Itu yang kau sebut 'bukan hal yang buruk'?" tanyaku dengan nada mengejek.
Mamoru menatapku kesal. Aku tersenyum kecil melihatnya.
"Jadi, bagaimana kau bisa mengetahui aku berada disini?" tanyaku.
"Haruna," jawabnya pendek. Aku mengangguk mengerti. Anak itu memang seorang informatore yang hebat.
"Kenapa kau tidak memberitahukan ini pada kami?" tanya Mamoru.
"Memberitahukan apa?" tanyaku balik.
"Kalau kau dihukum. Kau malah memberitahu kami kalau kau mengerjakan misi."
Aku terdiam. Mamoru terus menatapku, seakan-akan menunggu jawabanku.
"Aku hanya tak ingin membuat kalian khawatir," jawabku.
"Tak ingin membuat kami khawatir? Kau justru membuat Shirou sangat khawatir," ucapnya.
Shirou? Dia mengkhawatirkanku?
"Oh."
Hening.
"Kau tak pergi?" tanyaku. Mamoru menyenderkan badannya ke sel besi yang membatasi kami berdua.
"Tidak. Aku… masih ingin tinggal disini lebih lama lagi," ucapnya lirih.
Hening lagi.
Aku menghela nafas. "Maafkan aku."
Mamoru menatapku dengan tatapan bingung. "Kenapa kau meminta maaf?"
"Kejadian itu…," kataku pelan. "Kau tak bisa melupakannya, kan?"
"Kau juga," jawabnya pendek.
"Tapi itu semua salahku!" aku menaikkan suaraku satu oktaf.
"Kau tidak-"
"Kau selalu bilang bahwa aku tidak bersalah. Padahal dalam hatimu kau menyalahkan aku terus-terusan, bukan?" kataku, mulai memelankan suaraku. "Kalau saja aku tidak melakukan itu, Shuuya dan Yuuto tidak akan-"
"Jangan menyalahkan dirimu. Kita tak pernah tau apa yang terjadi. Kita hanya manusia, sebatas menjalaninya saja," Mamoru memotong perkataanku.
Aku memandangi Mamoru dengan ekspresi bingung. "Sejak kapan kau bisa menjadi bijak seperti itu?"
Mamoru nyengir. "Dari dulu!" katanya sambil menjulurkan lidahnya kepadaku. Aku tertawa.
"Akhirnya kau tertawa juga," kata Mamoru.
Aku menyerngitkan alisku. "Memangnya dari tadi aku tidak tertawa?"
Mamoru mengangkat bahunya. "Seingatku sih, tidak."
Lagi-lagi hening.
"Ichirouta," panggil Mamoru.
Aku menoleh. Mata cokelatnya menatap mataku lekat-lekat.
"Aku tau ini adalah topik yang benar-benar sensitif buatmu," Mamoru menarik nafasnya, lalu menghembuskannya pelan. "Tapi, menurutmu, apa yang sedang dilakukan Shuuya dan Yuuto di sana, ya?"
Aku mengalihkan pandanganku ke langit-langit penjara. "Aku tak tahu. Mungkin mereka sedang merencanakan bagaimana cara meruntuhkan pertahanan Incubo?"
Mamoru tertunduk. "Mungkin kau ada benarnya," katanya sambil tersenyum.
Bukan. Senyumnya beda. Senyum Mamoru… terlalu banyak memancarkan kesedihan.
"Apa tak ada cara untuk mengembalikan mereka?" lirih Mamoru. "Apa tak ada cara untuk mengembalikan teman-teman kita? Seperti Shuuya, Yuuto, dan…," dia menghentikan perkataannya.
Aku sudah menebak siapa yang akan disebut oleh Mamoru selanjutnya.
"… Fuyuka?" tanya Mamoru lirih.
Aku terdiam. Mamoru memang tak pernah menunjukkan kesedihannya di depan orang lain, kecuali padaku. Mamoru memang terlihat seperti anak yang penuh ceria, tapi dia terlalu banyak menanggung kesedihan selama hidupnya. Mamoru memang seperti anak yang penuh dengan harapan, tapi dia sudah terlalu banyak kehilangan harapannya.
Aku tersenyum miris melihat mata cokelat Mamoru yang membendung banyak kesedihan itu.
"Aku bertanya padamu, Ichirouta. Kumohon, jawablah…," ucap Mamoru.
Dia mengucapkan kalimat itu seperti dia sudah kehilangan seluruh harapannya.
Aku terdiam, tak mampu membuka mulutku sedikit pun.
"Ichirouta…," ucap Mamoru lemah.
Tuhan, jika aku tidak dijuluki sebagai cavaliere terhebat, aku pasti sudah menangis melihat kondisi Mamoru yang seperti ini.
"Aku," kataku pelan, "aku tidak tahu."
Hanya itukah kalimat yang bisa dihasilkan mulutku? Sungguh kalimat yang sama sekali tidak ada gunanya.
"Mamoru," panggilku. Mamoru menoleh, menampakkan mata cokelatnya yang dihiasi oleh air mata. Aku memaksakan diriku untuk tersenyum. "Mungkin sebaiknya kau beristirahat. Kau pasti kelelahan."
Aku terlihat seperti sedang mengusir Mamoru.
Mamoru mengusap matanya, lalu berdiri. "Baiklah. Aku pergi dulu, Ichirouta."
"Ya," kataku pelan. "Istirahatlah."
Langkah kaki Mamoru semakin lama tidak terdengar.
"Maafkan aku, Mamoru…"
*Shirou's POV*
Aku menatap gelas yang berada di tanganku dengan serius. "Haruskah aku meminum ini?"
Gadis berambut sebahu yang duduk di depanku mengangguk. "Tentu saja. Obat itu akan mempercepat penyembuhan tangan kirimu. Dengan begitu, kau bisa melanjutkan latihanmu besok."
Aku meminum air yang berada di gelas itu secepat mungkin. Kuharap aku tidak akan bisa merasakan rasa minuman ini.
Salah. Mau diminum secepat atau selambat apapun, minuman hasil racikan Aki tak pernah terasa enak.
Aku terbatuk. Aduh, ini pasti karena aku minum terlalu cepat.
"Kau tak apa?" tanya Aki sambil menyodorkan segelas air. Kuharap ini air putih, tanpa racikan apapun. Aku meminumnya. Untunglah, gelas ini berisi air putih yang murni.
Aku mengatur nafasku. "Aku tak apa."
Aki mengambil gelas yang masih berada digenggamanku sedari tadi, lalu menaruhnya di meja yang ada di sebelahnya.
Hening.
"Ah, aku pergi dulu, Aki," kataku, lalu berjalan keluar, meninggalkan Aki di ruang kesehatan.
Aku menghela nafas. Besok sudah mulai latihan lagi. Kuharap aku tidak akan latihan dengan makhluk aneh lagi. Aku tak mau tanganku patah dua kali.
Sebetulnya, aku tak berharap agar bisa latihan secepatnya. Obat Aki –yang rasa tidak enaknya sudah mencapai level super itu- sepertinya memang sangat –bahkan benar-benar berkhasiat. Entah apa yang ia campurkan dalam obat yang selalu kuminum –dan membuatku tersiksa tiga kali dalam sehari itu. Aku tak tau dan tak-
BRUAAKK!
"Eh?" responku pada peristiwa yang baru saja terjadi. "Yuuki?"
"Shirou?" ucap Yuuki. "Maafkan aku! Aku tak melihat jalan dan akhirnya menabrakmu!"
Aku menatap orang yang berada di depanku. "Kau sedang apa?"
"Aku sedang mengantarkan barang-barang dan –Ah! Kebetulan sekali aku bertemu denganmu disini. Aku boleh minta tolong?" tanyanya.
"Apa?"
"Tolong bawakan barang-barang ini ke ruang bawah tanah, ya?" pintanya sambil menepukkan kedua tangannya, seperti yang biasa kulihat ketika orang berdoa di kuil.
Aku mengerutkan dahiku. "Ruang bawah tanah?"
"Iya! Aku masih punya pekerjaan, jadi tolong, ya!" teriaknya yang sudah berlari, meninggalkanku dengan setumpuk kotak –yang kelihatannya sangat berat di koridor.
Bagus. Aku bahkan tidak tau dimana ruang bawah tanah itu.
Aku mengangkat tumpukan kotak itu, lalu berjalan ke arah ruang rapat. Tadinya aku mau menanyakan pada seseorang di ruang rapat ruang bawah tanah itu berada dimana, sebelum-
"Fubuki-san? Sedang apa?"
Di hadapanku sekarang berdiri Ryou, memandangiku dengan bingung.
Oh, inilah yang namanya 'pucuk dicinta ulam pun tiba'.
"Ryou!" pekikku.
Ryou masih memandangku dengan bingung. "Ada apa, Fubuki-san?"
"Dimana ruang bawah tanah?"
"Eh? Untuk apa kau kesana?" tanya Ryou. Dia mengalihkan pandangannya ke arah kotak yang sedang kubawa. "Oh, Fubuki-san mau mengantarkan barang-barang Megane-san, ya? Ayo kuantar!"
Sebenarnya aku tak tau siapa itu 'Megane', tapi aku hanya mengangguk dan berjalan di belakang Ryou.
Itu-
"Groarrr."
-Dragonman?
"Ah, sepertinya dia menyukaimu setelah latihan pertamamu, Fubuki-san."
Dragonman menjilatiku seakan aku adalah permen lollipop paling enak yang pernah dirasakannya. Butuh 3 menit untuk menunggunya berhenti menjilatiku.
"Dia…menyukaiku?" tanyaku bingung sambil membersihkan liur Dragonman yang ada di seragamku.
"Sepertinya iya. Dia hanya-"
"Kalian sedang apa disini?!"
Sebuah bentakan berhasil menginterupsi percakapan antara aku dan Ryou.
Seseorang -yang tadinya- berada di belakang Dragonman mulai mendekati kami.
Aku nyaris saja terbahak melihat kepalanya jika Ryou tidak mengisyaratkanku untuk diam.
"Kau pasti anak yang mengalahkan umana drago peliharaanku, bukan?" tanya anak yang mempunyai status rambut tak jelas –botak atau berambut?
"Umana…," kataku sambil mengalihkan tatapanku dari rambutnya ke wajahnya –yang tak ada bagusnya sama sekali. "…Drago?"
"Umana drago itu 'Dragonman', yang kau lawan 4 hari yang lalu itu," bisik Ryou.
Aku mengangguk. "Jadi, dia namanya 'Umana drago'?" tanyaku sambil menunjuk Dragonman yang sedang memandangiku.
"Tentu saja! Kau kira kau bisa menamai peliharaanku dengan seenak jidatmu, apa?!" bentaknya.
"Maafkan aku… –ehm, siapa namamu?" tanyaku.
Ia mendengus. "Tanyakan saja pada anak disebelahmu itu," jari telunjuknya mengarah ke Ryou. "Dan sebaiknya cepat, Kakeru sudah menunggu barang-barang itu."
"Terima kasih, Someoka-san."
Setelah mengatakan kalimat yang diiringi dengan tundukan sopan dari Ryou, aku langsung diseret menjauh dari Dragonman dan anak yang botak -atau berambut- tadi.
"Kenapa lama sekali?"
Mata yang dilapisi lensa bening itu terus-terusan menatapku dan Ryou, seakan mamaksa untuk memberikan jawaban paling logis atas hal yang ditanyakannya.
"Tadi Fubuki-san sempat tersesat ketika sedang menuju ke sini," jawab Ryou, yang jelas-jelas menyatakan bahwa keterlambatan ini adalah kesalahanku. Aku men-deathglare Ryou, yang dibalas oleh tatapan meringis miliknya.
Anak berkacamata itu menatapku lekat-lekat. "Kau Fubuki Shirou, anak baru itu, bukan?"
Aku mengangguk.
"Perkenalkan. Namaku Megane Kakeru," ucapnya. "Oh, dan kelihatannya hanya kau yang tidak mempunyai senjata. Sebaiknya kau memilihnya sendiri, di sini, gudang senjata."
Aku baru saja masuk ke ruangan penuh dengan tumpukan benda tajam ini, dan aku harus memilih salah satu diantaranya?
Aku memandangi seluruh penjuru ruangan dengan tatapan horror.
Butuh berapa puluh tahun untuk memilih senjata dari gudang ini?
"Tenang saja. Senjata selalu memilih tuannya," ucapnya.
Aku mengalihkan pandanganku ke arahnya. "Bagaimana kau bisa tau?"
Kakeru membetulkan letak kacamatanya, yang menimbulkan efek 'bercahaya' pada kedua lensanya. "Tentu saja. Karena akulah pembuatnya."
Ia berjalan ke arah pintu, tempat dimana Ryou terus-terusan berdiam diri. Tangannya mulai menggapai gagang pintu, lalu menariknya perlahan.
"Hei!" teriakku sambil berlari ke arah pintu.
"Kau baru boleh keluar sampai kau telah menemukan senjata yang cocok untukmu," katanya.
Dia mulai melanjutkan perkataannya, sebelum-
"Oh, dan terimakasih sudah membawakan barang-baragku. Selamat bersenang-senang!"
BRAAK!
-pintu ditutup dengan kerasnya dan diakhiri dengan bunyi kuncian pintu.
"HEI!"
Bagus. Aku baru akan keluar dari tempat ini setelah berpuluh-puluh tahun kemudian.
-Balasan review-
Marcel Vinder :
Ini saya update : )
Shirou dikejar Dragonman (atau Umana drago, terserah deh mau manggil yang mana) itu adalah salah satu latihan wajib, jadi Shirou –mau nggak mau harus ngejalanin latihan yang satu itu. Yang sabar, ya, Shirou… *nepuk-nepuk punggung Shirou*
Saya setuju banget tuh, sama Marcel-san! Saya memang nggak suka ama Ryuugo.
Soal popcorn pisang… Itu, ada beneran, ya?
Itu 7 jempol? Jempol siapa lagi, tuh, yang dipinjem?
Yuuki judes, ya?
Yuuya dari zaman dulu sampai sekarang memang selalu usil : D
Maksudnya pedangnya itu bisa membekuin apa aja?
Yap, makasih udah review!
Squaredoll20 :
Ini saya update : )
Heheh… Tapi udah tau siapa imperatore-nya, bukan?
Wah… Makasih udah ngingatin saya soal typo itu! Arigatou!
Thanks for review!
Edogawa Ruffy :
Maksudnya kayak jurus 'Wolf Legend', ya? Makasih ya, atas idenya!
Kalau trainingnya Fudou, mudahan ada pisang. Saya juga lagi mikirin.
Nah, Arigatou for review!
Review, please?
