Hai, minna! Maaf telat (banget) updatenya!
Oke, langsung saja,
Happy reading, minna!
Nightmare Side
"Back to The (scary) Training"
Shirou mengerem larinya. Ia mulai mengatur nafasnya yang terengah-engah.
Iris kelabu miliknyanya menatap tajam pada sang subjek—Ryou—yang sejak tadi dikejarnya.
"Lelah, Fubuki-san?"
Shirou tersenyum kecil. "Tentu saja tidak," jawabnya—walaupun ia sudah benar-benar kelelahan.
Ryou terkekeh. "Baiklah kalau begitu," ucapnya, tersenyum mengejek.
"Shirou!"
Shirou menoleh, dan mendapati Ryuuji—dengan rambut hijaunya yang kali ini diikat ponytail—sedang melotot ke arahnya.
"Kau tak akan berhasil jika hanya mengejarnya seperti itu! Gunakan teleportasi! Teleportasi!"
Shirou menatap Ryuuji dengan tatapan horor. "Teleportasi?!" tanyanya tak yakin.
Ryuuji mengangguk.
Shirou mengalihkan pandangannya kepada pemuda nekomimi di sebelah Ryuuji yang sedari tadi terus mengamati latihannya dalam diam.
Hiroto tersenyum kecil, berusaha memberi semangat kepada korban Ryou—Shirou maksudnya—yang sudah kurang lebih 2 jam mengejar Ryou itu.
Heran kenapa Shirou harus mengejar-ngejar Ryou sampai seperti itu?
Yah, jawabannya sangat mudah.
Ini adalah salah satu latihan yang diberikan Ryou, Ryuuji, dan Hiroto padanya; menangkap Ryou.
Kalau saja Ryou itu berlari dalam kecepatan manusia normal, Shirou pasti sudah bisa menangkapnya dari tadi.
Sayangnya, Ryou tidak bisa dibilang manusia yang normal. Bayangkan saja, Ryou berlari melebihi kecepatan cheetah—terus menerus tanpa lelah. Menyentuhnya seujung jari saja tidak bisa, apalagi menangkapnya?
Shirou mulai bertekad dalam hati untuk tidak pernah menantang Ryou berlari. Ia pasti kalah telak.
Oke. Sepertinya satu-satunya jalan untuk menangkap Ryou adalah apa yang dikatakan Ryuji; teleportasi.
Shirou mulai menutup matanya, mencoba agar ia berteleportasi. Ia memusatkan pikirannya di satu tempat yang akan menjadi tujuannya—persis seperti apa yang diajarkan Ryuuji dan Hiroto kepadanya.
Shirou membuka kelopak matanya perlahan. Pemandangan di sekitarnya mulai buyar, digantikan oleh pemandangan hitam.
Oh tidak. Shirou lagi-lagi merasa mual. Ia pasti akan menyalahkan Ryuuji kalau saja ia mengeluarkan isi perutnya nanti.
Pemandangan hitam di sekitarnya mulai digantikan dengan pemandangan tempatnya berlatih tadi. Ditambah dengan Ryou yang sekarang berada amat dekat dengannya.
Shirou tersenyum penuh kemenangan. Dengan satu teriakan perang—
"SERAANGG!"
—yang konyol, Shirou melompat ke arah Ryou yang kini menatapnya dengan tatapan terkejut.
Seorang gadis berbaju hitam lusuh menatap pemandangan di hadapannya dengan nanar.
Puluhan balok kayu—yang kelihatan amat sangat berat—tersusun dengan rapi, siap untuk diangkat olehnya dan puluhan penghuni carcere tempatnya dihukum.
Ah, Ichirouta merasa benar-benar tidak yakin bisa mengangkat semua itu. Balok kayu itu pasti lebih berat dari Heigorou—menurutnya—dan ia tak pernah sekalipun mencoba mengangkat Heigorou.
Andai saja dia boleh menggunakan kekuatannya disini, balok-balok itu pasti akan terangkat dengan mudah olehnya.
Sayangnya, ia tidak boleh. Penggunaan kekuatan sangat dilarang disini. Jika ia melanggarnya, sudah dipastikan para ministro akan menambah hukumannya berlipat ganda.
"Hei, kau! Aku tak peduli kalau kau adalah cavali terhebat atau apalah itu! Cepat angkat balok itu, dan taruh ke gudang!"
Ichirouta menatap tajam prajurit—yang dengan semena-mena—menghukumnya itu. Oh, dia benar-benar tak suka julukan 'cavaliere terhebat' disebut-sebut begitu. Bukankah yang mendapat julukan 'cavaliere terhebat' tidak hanya ia saja? Masih ada Mamoru…
…serta Shuuya dan Yuuto. Yah, walaupun pada akhirnya Shuuya dan Yuuto bukanlah anggota Nightmare Side lagi.
Ichirouta mengakui, bahwa ialah yang telah menyebabkan semua itu terjadi. Kalau saja ia tak melakukannya, pasti Shuuya dan Yuuto masih tetap menjadi anggota Nightmare Side. Masih tetap berjuang bersamanya dan Mamoru.
Dan masih tetap menjadi sahabatnya dan Mamoru.
Ichirouta menggeleng pelan, lalu berusaha mengangkat salah satu balok kayu itu sebelum prajurit lain membentaknya lagi.
"Mengerti?"
Dua orang pemuda itu mengangguk. Keduanya lalu membungkuk hormat pada sosok yang sedang duduk di singgasananya, lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
Dua pemuda itu berjalan dalam keheningan. Tak ada yang berbicara—dan tak ada seorang pun dari mereka yang mencoba untuk berbicara.
Salah seorang pemuda berambut putih tulang menundukkan kepalanya. Iris hitam onyx miliknya memandangi lantai, seakan lantai adalah objek paling menarik yang pernah dilihatnya. Pikirannya terus melayang pada satu hal.
'Tempat itu'.
Entah kenapa ia merasa pernah berada di 'tempat itu'. Ia merasa benar-benar mengenal 'tempat itu'. Hanya saja, ia sama sekali tak bisa mengingatnya.
Ya, ia memang tak mengingat masa lalunya. Ketika ia membuka matanya, ia telah berada di tempat ini. Tanpa tahu mengapa.
Sebetulnya ia benar-benar ingin menanyakan semuanya; masa lalunya, peristiwa yang telah dialaminya, serta siapakah dirinya sebenarnya.
Dan ia juga ingin menanyakan segala hal tentang 'tempat itu'. Tempat yang telah terhapus dari ingatannya.
Yah, dia lebih baik menahan semua pertanyaan itu dalam benaknya jika tak ingin kepalanya dipenggal.
"Apa yang kau pikirkan?"
Sebuah suara membuyarkan lamunan sang pemuda onyx. Pemuda itu menoleh ke sampingnya, tempat seorang pemuda berambut dread cokelat yang sedari tadi terus berjalan bersamanya.
Kembali menatap lantai, pemuda onyx menggeleng pelan. "Aku tak memikirkan apa-apa."
Pemuda dread mendengus. "Heh, kau tak bisa membohongiku. Kau terlalu mudah ditebak."
Pemuda onyx hanya terdiam. Dia tahu kalau pemuda di sampingnya ini tak akan bisa dibohongi olehnya. Karena pemuda dread itu pasti tahu apa yang ia pikirkan—
"Kau memikirkan tempat itu lagi, bukan?"
—Bingo. Tepat sekali.
Pemuda dread menghela nafasnya perlahan. "Lebih baik kita mempersiapkan perang selanjutnya, dari pada kau terus-terusan memikirkan hal itu." ucapnya, lalu berjalan meninggalkan pemuda onyx yang menghentikan langkahnya.
Pemuda onyx itu memandang punggung pemuda dread yang semakin lama semakin menjauh darinya.
Dengan sekali helaan nafas, ia mulai melangkah menyusul sang pemuda dread, meninggalkan pikirannya tentang 'tempat itu'.
Hanya untuk sementara.
Shirou merasa ia ingin menangis bahagia sekarang.
Ah, usaha kerasnya ternyata berhasil. Setelah berpuluh kali melakukan teleportasi—sambil menahan mual, tentunya—ia berhasil menangkap Ryou!
"BERHASIL~!" ucapnya, tersenyum puas.
Hiroto dan Ryuuji hanya tersenyum kecil.
Ryou tertawa, lalu melepaskan tangannya dari genggaman Shirou. "Selamat, Fubuki-san!"
"Kau bisa beristirahat sekarang, Shirou. Besok kau akan melanjutkan latihanmu," ucap Hiroto, lalu menepuk kepala Shirou pelan.
Shirou tersenyum, lalu berlari meninggalkan mereka bertiga.
Ia terus berlari, hingga akhirnya sampai ke kamarnya. Dengan perasaan bahagia yang meluap, ia menghempaskan tubuhnya yang penuh luka gores akibat latihan.
Shirou menutup kedua matanya.
Ck, dia merasa sudah berpuluh-puluh tahun tak merasakan tidur di atas kasur dengan tenang dan aman.
…Yah, walaupun sebetulnya ia sama sekali tidak aman. Besok masih ada latihan (mengerikan) yang menunggu untuk menyiksanya.
Shirou sama sekali tak peduli. Yang penting latihan kali ini sudah selesai.
Shirou mulai membuka kedua matanya. Ia menolehkan kepalanya pada benda yang tergeletak tak jauh darinya.
Pedang itu. Pedang bergagang silver, dengan ukiran yang menghiasi mata pisaunya. Pedang yang diambilnya dari gudang senjata.
Awalnya Shirou sama sekali tak tertarik dengan senjata itu—hei, bagaimana caranya ia tertarik dengan sebuah pedang yang tertanam di antara ribuan senjata lainnya?
Tapi entah kenapa, Shirou merasa pedang itu terus memaksanya untuk—setidaknya—menyentuh pedang itu sedikit.
Dan Shirou menurut. Ia menyentuh pedang itu, dan dalam sekejap pedang itu mengeluarkan cahaya. Lucu sekali.
Shirou bangun dari posisinya, lalu berjalan dan mengambil pedang itu. Tangannya mulai mengayunkan pedang itu secara asal—tetapi tetap berusaha agar mata pedang itu tidak menyentuh kulitnya sedikit pun.
Pedang yang sekarang dipegangnya sedikit-banyak mengingatkannya pada pedang yang pernah digunakan Ichirouta saat melawan robot—atau apalah itu—untuk menolongnya.
Shirou duduk perlahan di tempat tidurnya. Helaan nafas meluncur begitu saja dari mulutnya.
Ah, ia benar-benar merindukan Ichirouta. Ia berani bersumpah demi apapun.
Tapi, ia tak bisa mengatakannya—hei, tolong maklumi. Ia tak ingin Kogure atau Mamoru—atau siapapun meledeknya.
Karena itulah, Shirou hanya bisa berdiam diri, berlatih untuk mengisi waktunya menunggu kepulangan Ichirouta.
Shirou kembali menghela nafasnya untuk kesekian kalinya hari ini.
"Ichirouta, kapan kau akan pulang?"
Ichirouta membiarkan tubuhnya terjatuh ke tanah.
Demi apapun, dia benar-benar lelah. Ternyata mengangkat balok-balok kayu itu dapat menguras—nyaris—seluruh tenaganya.
Dulu ia memang sering dihukum disini—dan itu semua karena Mamoru yang berbuat ulah, catat itu. Tetapi Ichirouta, Shuuya, dan Yuuto juga ikut dihukum karena mereka terlibat (secara tidak langsung) dalam aksi Mamoru itu.
Emm… Mungkin Ichirouta bisa dibilang terlalu sering dihukum seperti ini. Sampai berpuluh-puluh kali, malah.
Tapi—kalau Ichirouta boleh jujur—ia tak merasakan benar-benar terbebani ketika dihukum bersama mereka bertiga.
Ya. Ia memang senang kalau mereka bertiga bisa ditahan di penjara bersama, tertawa dalam penjara bersama, dan menjalankan berbagai hukuman bersama.
Dari pada mereka harus berpisah seperti ini. Menempuh jalan yang berbeda. Mereka berdua—Ichirouta dan Mamoru—harus melawan dua sahabat mereka sendiri—Shuuya dan Yuuto.
Melawan sahabat sendiri? Benar-benar tragis.
Ah. Ichirouta baru teringat satu hal. Shirou sama sekali tak mengetahui siapa itu Shuuya atau Yuuto.
Ya, ia memang sengaja meminta agar teman-temannya merahasiakan hal itu. Entah untuk apa.
Pokoknya ia tak ingin Shirou mengetahuinya. Itu saja.
Tapi, Ichirouta tak tahu kapan ia harus menceritakan semuanya pada Shirou—serta apa yang sebenarnya terjadi pada orang tua dan adik kembar Shirou.
Jangan kira keluarga Shirou hanya meninggal karena kecelakaan. Oh, itu adalah suatu kebohongan besar yang ia—serta seluruh anggota Nightmare Side—rahasiakan.
Dan, kebohongan itu dianggap kebenaran oleh Shirou. Apa jadinya jika Shirou kalau itu semua hanya kebohongan belaka?
Ck, Shirou pasti tak akan memaafkannya karena tidak memberitahunya tentang hal yang sebenarnya.
Ichirouta menghela nafas.
Kenapa sih, hidupnya harus selalu dipenuhi masalah?
"Latihan kita sekarang ini adalah tentang bagaimana menghadapi jebakan-jebakan musuh,"
Shirou memandang ketiga orang di hadapannya—Akio, Kakeru, dan Mamoru—dengan bingung.
Bagaimana ia tidak bingung? Ini masih sekitar jam 10 malam, dan mereka bertiga sudah memulai latihannya.
Ah, padahal Shirou mengira hari ini ia bisa tidur dengan tenang. Nasibnya memang benar-benar sial.
"Nih," Mamoru melemparkan segulung kertas pada Shirou.
Shirou menangkapnya, lalu memandangi kertas itu dengan heran. "Apa ini?"
"Untuk latihanmu kali ini, kau akan mencari apa yang ada di dalam peta itu," jelas Kakeru. "Kau tinggal mengikuti petunjuk yang berada di situ, dan kau akan menemukannya."
"Kami akan mengawasimu dari jauh, jadi kau bisa menjalani latihanmu dengan tenang!" Mamoru mengedipkan salah satu matanya. "Selamat berjuang, ya!"
Mereka bertiga lalu berjalan menjauhi Shirou yang masih terdiam di tempatnya sambil memegang gulungan kertas itu.
Perlahan, Shirou membuka ikatan kertas yang di pegangnya dan membacanya.
Dia tertawa kecil. Kertas yang dipegangnya seperti permainan bajak laut anak kecil saja; dengan garis meliuk-liuk dan tanda 'X' yang pasti melambangkan tempat objek yang dicarinya.
Shirou mulai berjalan.
Tiba-tiba saja, ia merasakan pemandangan di sekitarnya menjadi terbalik—
—Oke. Yang terbalik itu bukanlah pemandangan di sekitarnya. Ialah yang sekarang berada dalam posisi terbalik dan menggantung di atas pohon, dengan satu kakinya terikat tali.
Tangan Shirou mencoba menggapai simpul yang mengikat kakinya. Dengan sekuat tenaga, ia melepas simpul itu, membuat tubuhnya terhempas ke tanah.
Shirou merasa dirinya benar-benar sial hari ini.
Dengan menggerutu, ia kembali melangkah.
Belum sepuluh langkah, Shirou merasa kakinya mengenai sesuatu yang benar-benar tipis.
Shirou tersentak. Matanya kemudian menangkap keberadaan sebuah kapak besar…
…yang terayun dari sisi kanan, tepat ke arahnya.
Dengan refleks, Shirou membuat tubuhnya terjatuh ke depan untuk menghindari kapak besar itu.
Dan usahanya berhasil. Kapak besar itu sama sekali tak mengenai tubuhnya.
Tapi sepertinya Dewi Fortuna benar-benar membencinya hari ini. Belum sempat menyeimbangkan tubuhnya agar dapat berdiri dengan sempurna, kakinya sudah tersandung oleh sesuatu—yang benar-benar licin.
Bagus. Sebentar lagi ia akan terjatuh dengan keras di atas tanah yang terdapat banyak batu.
Hei, tunggu sebentar. Shirou merasa janggal dengan batu-batu itu. Ia merasa itu bukan batu seperti yang biasa dilihatnya.
Bentuk batu itu bulat, dan entah kenapa warnanya hitam mengkilap. Tak seperti batu yang pada umumnya berbentuk oval dan berwarna kelabu.
Eh?
Bulat dan hitam?
Oke. Apapun yang berada di tanah itu sama sekali bukan batu, dan tampak berbahaya.
Kabar buruknya, sebentar lagi tubuh Shirou akan mengenai benda itu—
—terlambat. Tubuh Shirou mengenai benda itu. Dan benda yang awalnya ia kira batu itu meledak.
Shirou sadar sekarang. Itu adalah bom.
Heh, dia benar-benar terlambat menyadarinya sekarang.
Dengan penuh rasa kesakitan dan rasa kesal, Shirou berteriak, memecahkan kesunyian seluruh penjuru Nightmare Side.
Tak jauh dari Shirou, tampak tiga pemuda yang sedang duduk di atas pohon, bermaksud untuk mengawasi Shirou.
"Aku tak menyangka bom milikmu benar-benar mengerikan, Kakeru."
"Itu hanya bom api kecil, bukan bom yang menimbulkan luka bakar. Dan aku juga tak menyangka pisangmu itu dapat membuat Shirou masuk ke dalam jebakan, Akio."
"Benar, kan? Pisang itu adalah jebakan paling mengerikan."
"Emm… Lebih baik nanti aku mengingatkan Ryuuji agar jangan meminta pisangmu lagi, Akio."
"Baguslah kalau begitu."
"Hai,"
Ichirouta melambaikan tangannya pada pemuda yang berada di hadapannya. Ia memaksakan dirinya untuk tersenyum, setelah beberapa hari tak melihat pemuda itu.
Dengan tatapan tak percaya, pemuda di hadapan Ichirouta itu membuka mulutnya. "Ichirouta?" tanyanya tak percaya.
"Ya, ini aku." Ichirouta menurunkan tangannya. "Senang bisa pulang dari misi."
Ichirouta tertawa dalam hati. Misi?
Lucu sekali jika kau mengatakan kau sedang menjalankan misi, tapi ternyata kau sedang menjalani hukuman.
Dan—menurut Ichirouta—jika dilihat dari segala aspek, hukuman sama sekali bukan misi.
"Ya, selamat datang!" pemuda itu merentangkan tangannya. "Tapi, kenapa tubuhmu penuh luka?"
Ichirouta tertawa kecil.
Tentu saja tubuhnya penuh luka. Prajurit penjaga carcere itu memiliki sifat kejam. Ya, jika dia melakukan sedikit saja kesalahan, cambukan adalah hadiah yang paling hebat—dalam artian, cambukan adalah hukuman teringan yang ia dapat.
Intinya, banyak hadiah yang akan diberikan oleh prajurit penjaga carcere pada para tahanan.
"Oh ayolah, itu hanya efek dari bertarung ketika misi, Shirou. Kau tak perlu khawatir seperti itu." Ichirouta menghentikan tawanya. "Sedangkan kau? Kenapa bisa babak belur begitu?"
Shirou memandangi pakaiannya yang robek sana-sini. Lalu ia kembali menatap Ichirouta. "Latihan jebakan. Benar-benar mengerikan."
Ichirouta tergelak. "Oh, latihan yang diberikan Akio, Mamoru, dan Kakeru, ya?" tanyanya. "Tapi baguslah kau selamat."
"Tentu saja aku selamat," ucap Shirou. "Aku kan, tak akan mati hanya karena itu, Ichirouta."
"Yah—"
Indera pendengaran Ichirouta menangkap suatu bunyi samar dari jauh. Ia menoleh, dan menemukan kepulan asap membumbung tinggi di langit.
Ichirouta menggigit bibir bawahnya.
Gawat. Ini benar-benar situasi yang gawat.
Sekarang masih jam 2 pagi. Semua orang pasti masih tertidur. Termasuk para cavaliere.
Lalu, bagaimana cara mereka mempertahankan Incubo?
Menarik nafas perlahan, Ichirouta menoleh pada Shirou yang masih memandang kepulan asap itu dengan shock.
"Shirou, segera panggil Fudou, Mamoru, dan Kakeru. Aku akan membunyikan alarm untuk membangunkan cavaliere lain." perintah Ichirouta. "Cepatlah. Kita berada dalam situasi yang genting sekarang."
"A—apa maksudmu dengan 'situasi yang genting'?" tanya Shirou.
Ichirouta memutar matanya. "Tak mengerti? Incubo sedang diserang oleh Scellerato."
Ichirouta membalikkan badannya, lalu berjalan menjauhi Shirou yang tetap terdiam di tempatnya.
"Ini perang pertamamu, Shirou. Berusahalah untuk tidak mati."
To be continue.
Author's curcol:
Saya merasa amat sangat bersalah.
Nih, coba bayangin, saya sudah lebih dari 2 minggu nggak ke fanfiction. net gara-gara PR dan ulangan! #robekkertas
Nggak balas review, nggak balas PM, nggak nge-review fic—
—ARGGHH! Pokoknya saya bener-bener kangen ama fandom ini! #garuktembok
Saya bener-bener berterimakasih sama hari Idul Adha yang telah menyulap hari Jum'at (minggu ini) menjadi hari libur! #tebarconfetti
Ah, Selamat Hari Raya Idul Adha ya, semua! Mohon maaf lahir dan bathin!
Yah, sebagai permintaan maaf (atas ketidak aktifan saya akhir-akhir ini), saya akhirnya meng-update fanfic—yang rasanya sudah terlantar selama kurang lebih sebulan—ini.
Mohon maaf kalau chapter ini nggak terlalu nyambung sama chapter sebelumnya, soalnya saya udah lupa sama jalan ceritanya :9 #dor
Saya bener-bener lupa, bahkan musuh Incubo pun saya lupa namanya. Jadinya saya harus baca ceritanya dari awal =_=
Yah, maafkan saya atas curcol saya yang nggak penting.
Sekarang, balasan review!
Fanny Pitaloka:
Ah iya, aku lupa ngabarin. Maaf ya, Fanny^^
Fuyuka? Hehe~ itu masih jadi rahasia! Lagipula, 'kesana' itu maksudnya apa?
Kazemaru nggak akan meninggal, jadi tenang saja : )
Yah, sekarang chap 7-nya baru update ;D
Thanks for review, ya, Fanny.
Lunlun Caldia:
Halo, Caldia-nee!
Saya nggak bakalan kuat kalau ceritain Ichirouta dicambuk, makanya saya nggak ceritain :9
Senjatanya ketahuan di chap ini^^
Makasih reviewnya, Caldia-nee!
Marcel Vinder:
Yah, begitulah. Ichirouta sama Shirou sama-sama dikurung, satunya dalam penjara, satunya dalam gudang senjata. Istilahnya, senasib :3
Arigatou for review, Marcel-san!
Edogawa Ruffy:
Sebenarnya sih, ada hukuman pukul ._. Cuma nggak saya ceritain :9
Ya, hubungannya masih dirahasiakan :D Tunggu chap-chap selanjutnya, ya^^
Grazie, Edogawa-san!
Sakuyanomia Requephia:
Halo, Sakuyanomia-san!
Ah, pendeskripsian? Enggg… kalau begitu, saya akan coba lebih dideskripsikan lagi! OvO9
Huaaa! Aduh, maaf saya lupa tulis 'to be continue'! Maaf…
Terimakasih atas review dan pujiannya, Sakuyanomia-san!
Squaredoll20:
Ya, Shirou memang perhatian sama Kazemaru! OwOb
Tapi, 'atau' itu maksudnya apa?
Soal mereka bertiga, itu masih rahasia! Yang sabar, yah^^
Kalau peliharaan Someoka jadi capung, saya jadi kasihan. Dan lagi, capung itu nggak akan membantu sama sekali =_=
Hehe, arigatou for review, Squaredoll-san!
(saya bingung mau manggil Aderu atau Nanda, pokoknya makasih, ya! : )
Akhir kata: Review, please?
